Bincang Seni Bersama Dosen Umuslim Sambil Bersilaturahmi

Pada Minggu siang (11/2) tiga orang Dosen Umuslim, Teuku Cut Mahmud Aziz, Rokhmat Hidayat, dan Teuku Rafli Abdillah berkunjung ke rumah Wakil Rektor IV Umuslim, Dr. Sujiman A Musa, MA di Kota Lhokseumawe. Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi dan juga ingin melihat lukisan-lukisan hasil karya Bapak Sujiman. 

Ketika saya tanyakan pendapat mereka tentang karya-karya Bapak Sujiman, mereka mengapresiasikan dengan sangat baik. Kata mereka, “Walaupun kami bukan pelukis, mereka mengatakan karya putra Aceh perlu untuk diperhatikan dan dipromosi. Kita orang Aceh harus bangga memiliki seniman seperti Bapak Sujiman.”

Mereka mengakui mengagumi sosok Bapak Sujiman, sebagai mantan Kepala Dinas Kebudayaan Aceh yang juga adalah seorang pelukis dan penulis buku. Bapak Sujiman juga memperlihatkan buku-buku yang pernah beliua tulis termasuk 7 buku tentang Aceh yang pernah beliau persiapkan bersama tim sewaktu beliau masih bertugas sebagai Kepala Dinas Kebudayaan.

Sebelum berbincang-bincang lama, Bunda (panggilan akrab untuk istri Bapak Sujiman) mempersilahkan para tamu untuk makan siang. Tergambar suasana yang begitu akrab dan ramah. Ketiga dosen ini terlihat terhanyut mendengar cerita dari pengalaman Bapak Sujiman yang terperangkap di dalam mobil ketika terjadi tsunami. Di tengah mobil terombang-ambing  karena hempasan air, tiba-tiba beliau berzikir dan seketika terbuka kaca mobil bagian tengah. Dari sana beliau keluar dan membantu menarik beberapa orang. Namun ada yang tertinggal yang duduk di bangku belakang, yang akhirnya meninggal termasuk salah satunya anak kesayangan beliau serta istri. Sebuah pengalaman yang cukup bermakna dan menjadi pelajaran bagi kita semua.

Itulah kehidupan, terkadang seni (Art) baik berupa tulisan, lukisan atau bentuk apa saja dapat saja tercipta mengikuti mood sang pelukis , penulis atau sang kreatornya. Keadaan sekarang dengan keadaan sebelumnya belum tentu dapat memiliki nilai yang sama baik secara art ataupun estetika . Karena penciptaan sesuatu yang bernilai seni tak begitu saja dapat kita paksakan kepada sang kreator. Melainkan dapat tercipta berdasarkan suasana hati dan perasaan seseorang.

Perbincangan kami bertambah semarak ketika muncul seseorang yang selalu memegang Video Camera di kampus Umuslim datang ke rumah Pak Sujiman bersama sang istri. Ternyata beliau seorang yang menyenangi Sastra dan rajin menulis puisi dan membacakannya di depan khalayak bila ada event yang sesuai. Ternyata pertemuan hari ini menambah wawasan kami berbicara tentang seni dan kebudayaan. Semoga generasi Aceh mendatang tak akan melupakan apa yang pernah dilakukan pendahulu-pendahulu, baik berupa apa saja yang dapat kita aplikasikan demi kemaslahatan orang banyak. Perbincangan kali ini diakhiri dengan sungging senyum dan begitu banyak harapan, semoga kehidupan kita akan lebih banyak memberi manfaat bagi orang banyak dan generasi kita mendatang.(al)