Kunjungan Ketua Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Jajaran BKKBN ke Umuslim

Kampus Ampon Chiek Peusangan, Jum’at (10/4) Koalisi Indonesia untuk Kependudukan (KK) untuk Provinsi Aceh baru saja terbentuk yang diketuai oleh Dr. Saiful Mahdi, Dosen MIPA Universitas Syiah Kuala yang juga merupakan Direktur ICAIOS. Tidak lama setelah ditetapkan sebagai Ketua KK Provinsi Aceh, Dr. Saiful pada Kamis (9/4) , melantik Ketua KK untuk Kabupaten Aceh Utara dan Lhokseumawe. Dalam perjalanan kembali ke Banda, Dr. Saiful dan pejabat dari BKKBN Provinsi Aceh mampir ke Umuslim untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan program-program BKKBN dan KK. Kedatangan mereka diterima langsung oleh Rektor, Wakil Rektor, jajaran dekan dan kepala unit serta para dosen.

Rektor menyampaikan kata pengantar dengan menyambut baik kedatangan Ketua KK dan jajaran BKKBN Provinsi. Umuslim siap untuk bekerjasama sebagai bentuk dukungan dan mensukseskan program-program pemerintah. Yang mana kata beliau, pada pemerintahan Orde Baru, Program KB dan kependudukan cukup terdengar dan berhasil namun saat ini seperti tidak terdengar lagi. Diharapkan dengan penjajakan kerjasama ini, banyak kegiatan kependudukan yang dapat dibangkitkan kembali.

Ibu Irma selaku Kabid Program Kependudukan BKKBN memperkenalkan program-program BKKBN dengan menjelaskan bahwa BKKBN tidak lagi sebagai lembaga vertikal. SKPD KB yang ada di daerah, tidak lagi berkoordinasi langsung dengan provinsi karena sejak otonomi daerah, SKPD-SKPD tersebut berada di bawah koordinasi pemerintah daerah setempat dan menjadi mitra BKKBN. BKKBN sangat menharapkan dukungan pihak universitas dalam mensukseskan program-program pemerintah di bidang kependudukan. Karena membicarakan kependudukan tidak hanya pada persoalan KB semata tapi cukup luas permasalahannya.

Dr. Saiful Mahdi memperjelas kepada kita semua tentang posisi ilmu demografi sebagai sebuah disiplin keilmuan dan pengkajiannya harus dilihat dengan berbagai disiplin dan pendekatan keilmuwan dan lintas sektoral. Bahkan dalam penelitian kita membutuh metode etnografi antropologi. Permasalahan sosial di masyarakat begitu kompleks dan sangat tidak mungkin diselesaikan dengan satu pendekatan ilmu saja. Fokus program dan kerja KK harus berangkat dari kondisi sosial yang ada di Aceh. Berdasarkan angka statistik dari Dinas Kesehatan Aceh, kondisi bayi di Aceh sangat mengkhawatirkan. Setiap 10 tahun bayi yang lahir di Aceh berkurang 10 cm. Hal ini tentunya berkaitan dengan asupan gizi. Bila dilihat dari pilihan utama konsumsi orang Aceh, pilihan tertinggi ada pada makanan instan terutama di kalangan mahasiswa, mie instan menjadi pilihan favorit. Secara umum orang Aceh membelanjakan uang untuk keperluan, pertama untuk membeli beras atau jenis padi-padian, kedua untuk makanan dan manuman instan, ketiga untuk ikan, dan yang keempat untuk membeli tembakau/ rokok dan sirih. Dari data-data ini maka Aceh ke depannya akan melahirkan generasi-generasi cebol dan bodoh. Untuk itu, beliau sangat mengharapkan dukungan para intelektual Umuslim secara bersama-sama memikirkan dan merancang program untuk membantu pemerintah dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan yang langsung terarah bagi kebutuhan masyarakat. Untuk KK Kabupaten Bireuen, beliau mengharapkan kepada Rektor untuk dapat mencalonkan akademisi Umuslim untuk menjadi ketua KK Kabupaten Bireuen. Beliau mengibaratkan Umuslim sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya para pemikir dan intelektual Aceh.

Mendengar hal ini, Rektor sangat apresiasi dan insya Allah dalam minggu depan telah ada calon Ketua KK untuk Bireuen dan dapat segera dilantik oleh Ketua KK Provinsi Aceh yang rencananya akan dihadiri oleh Bupati Bireuen dan jajaran muspida TK II. Dan rencananya antara tanggal 21-24 April Deputi Kependudukan Menko Kesra berencana hadir ke Umuslim, untuk memberikan kuliah umum. Akan menjadi lengkap ketika Deputi hadir, Ketua KK untuk Bireuen telah dilantik. (al-PC)