Talkshow Pengembangan Minat dan Budaya Baca di Sekdakab Bireuen

Bireuen, Selasa  (26/8)  di Gedung Sekdakab Bireuen diselengarakan acara “Roadshow Pengembangan Minat dan Budaya Baca” yang diorganisir oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh. Acara ini adalah bagian dari even Lomba Bercerita bagi siswa/i Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Negeri dan Swasta Tingkat Provinsi Aceh, Story Telling, Road Show, dan Pameran Buku,  yang digelar pada 23-26 Agustus 2015 di Kabupaten Bireuen. Wakil Gubernur Tgk. H. Muzakkir Manaf yang langsung membuka acara tersebut di Meuligo Bupati Bireuen pada hari Senin, 24 Agustus 2015.

Roadshow Pengembangan Minat dan Budaya Baca ini diadakan dalam bentuk Talkshow dengan menghadirkan empat narasumber, yaitu Drs. Anas M Adam, MPd (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh) yang mewakili Perpustakaan dan Arsip; M Arif Andepa (Wakil Ketua II DPRK Bireuen) yang mewakili budayawan; Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil, M.A (Dosen Universitas Almuslim), mewakili akademisi; dan  Drs. Nasrul Yuliansyah,M.Pd (Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Bireuen) yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Umumnya peserta yang hadir kalangan pelajar dari tingkat SD hingga SMA se-Provinsi Aceh (umumnya dari Kabupaten Bireuen) yang didampingi para guru. Selain itu yang hadir dari kalangan pemerhati pendidikan, wartawan, dan para pegawai di lingkup Pemda Kabupaten Bireuen.

Karena berbentuk talkshow, acara dilakukan dalam bentuk tanya-jawab dari MC yang merangkap moderator dan juga peserta ke para narasumber sehingga suasana terlihat lebih cair dan asyik. Keempat narasumber menyampaikan pendapat dan pandangannya dengan cara santai dan tidak kaku atau serius dengan bahasa yang mudah dicerna. Bapak Anas M Adam menceritakan dan sharing pengalaman selaku Ayah/orangtua dan juga Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Aceh, bagaimana beliau mendidik anak dengan membeli bahan-bahan bacaan dan tanpa beliau sadari, anak berkembang dengan pesat dan cinta dengan buku. Di usia 5 tahun sudah masuk SD dan terus berprestasi di sekolah. Saat ini pada usia 21 tahun anak beliau menempuh pendidikan tingkat Master di Universitas Manchester Inggris. Beliau memotivasi anak-anak untuk gemar membaca dan mau menyisihkan sedikit uang jajannya untuk menabung membeli buku. Beliau berpesan, kalau menggunakan internet, gunakanlah pada hal-hal yang positif dan jangan nonton film yang tidak benar karena dapat merusak sel otak kita. Selaku Kepada Perpustakaan dan Arsip Provinsi Aceh, beliau akan terus berupaya menyediakan fasilitas dan prasarana bagi pengembangan perpustakaan di desa-desa di seluruh Provinsi Aceh agar akses bacaan akan mudah didapat di desa-desa.

Narasumber kedua, Bapak M Arif Andepa yang sangat dikenal di Aceh sebagai budayawan dan penyair, menceritakan masa lalu beliau yang kurang baik artinya banyak membuang waktu dan tidak serius belajar. Bersama teman-temannya agar dapat dikatakan preman, dengan bangganya kebut-kebutan di jalan. Akhirnya beliau sadar bahwa cara hidup seperti itu sangat tidak baik dan merugikan diri sendiri. Beliau bertekad untuk hidup lebih baik. Beliau serius belajar hingga perguruan tinggi. Karena berasal dari keluarga sederhana, sambil kuliah, untuk hidup dan biaya kuliah, ia terpaksa kerja sebagai buruh kasar, ngecor rumah orang. Beliau menanamkan semangat ke para pelajar untuk giat belajar dan membaca. Kemiskinan dapat memacu kita untuk berhasil dalam hidup, imbuhnya. Jangan bangga dengan harta orangtua tapi banggalah dengan harta yang didapat dari jerih payah sendiri. Pengalaman mendidik anak, dishare juga ke para peserta. Anak harus dididik dengan nilai-nilai etika dan moral dan harus memiliki prinsip dalam hidup. Beliau sempat membaca sebuah puisi tentang keprihatinan melihat kondisi Aceh saat ini.

Narasumber ketika, disampaikan oleh seorang akademisi, Teuku Cut Mahmud Aziz. Beliau menyampaikan betapa khawatirnya beliau membayangkan masa depan Aceh kedepan dengan melihat kondisi umum minat baca kalangan mahasiswa yang sangat minim. Mahasiswa lebih senang menggunakan laptop untuk facebook atau main game, sedikit yang mau mengakses e-book, e-jurnal, dan berita-berita yang bermanfaat. Beliau mengatakan bahwa keberadaan di Aceh menggambarkan dunia yang berbeda karena sebelumnya beliau menetap 20 tahun di Yogyakarta dan pengalaman beliau ketika kuliah dan riset di luar negeri. Perbedaan gambaran ini lebih membuka mata beliau dalam melihat kondisi generasi muda Aceh terutama yang ada di Bireuen. Metode yang beliau lakukan agar mahasiswa membaca adalah dengan mewajibkan para mahasiswa untuk menjadi anggota perpustakaan Bireuen. Kemudian mewajibkan membaca satu chapter/ Bab untuk kuliah pada minggu berikutnya, serta untuk semester ini para mahasiswa akan diwajibkan – ditambah- dengan membaca novel-novel inspiratif. Ada pertanyaan yang beliau ajukan, apa perbedaan antara kaya dan pintar? Kalau kaya tidak harus selalu melalui proses. Orang miskin tiba-tiba besok bisa jadi kaya karena dapat undian. Namun untuk menjadi pintar butuh proses yang panjang. Tidak akan bisa dan tidak akan pernah tiba-tiba orang menjadi pintar!

Narasumber terakhir, Bapak Nasrul Yuliansyah mengatakan minat baca kalangan pelajar masih sangat rendah. Diperlukan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seperti ini secara berkelanjutan untuk meningkatkan semangat kalangan pelajar untuk membaca. Para pelajar harus aktif di sekolah terutama dalam membuat mading atau majalah dinding. Dengan membaca siswa akan mau dan aktif untuk berdiskusi. Beliau akan berupaya untuk meningkatkan fasilitas dan ketersediaan buku di perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Acara ini diselingi dengan penampilan siswa/i membaca puisi. Hebatnya yang membaca puisi adalah seorang siswi sekolah luar biasa dan seorang siswa yang untuk duduk di bangku di panggung harus digendong oleh gurunya. Puisi yang dibaca sangat menarik dan menyentuh hati. Pada pembukaan dan penutupan diisi dengan tarian dari anak-anak SD di lingkup Kabupaten Bireuen. Ada penarikan undian dan pembagian hadiah tas sekolah. Acara talkshow ini terbilang sukses dan meriah. (al-poncut)