Pesantren Terpadu Almuslim Diresmikan Oleh Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh

Peusangan, Minggu (30/8) Pesantren Terpadu Almuslim Peusangan di bawah naungan Yayasan Almuslim Peusangan yaitu sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1929 dengan nama awal ‘Jamiatul Muslim’.

Lembaga pendidikan yang didirikan oleh perpaduan antara ‘ulama’ dan ‘umara’ yaitu Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap dan Ampon Chiek Peusangan Tgk. Moh. Djohan Alamsjahyang melahirkan begitu banyak tokoh walaupun lembaga ini jauh dari hingar bingar kota besar.

Drs.Muhammad Daud Pakeh sebagai Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh¬† pada acara peresmian Pesantren Terpadu¬† Almuslim Peusangan berujar; “Harapan kami dengan lahirnya Pesantren Terpadu Almuslim ini akan dapat mengembalikan marwah kejayaan masa lalu, dan juga akan dapat mengangkat kembali marwah Provinsi Aceh yang dikenal dengan daerah Serambi Mekah serta daerah yang melaksanakan Syariat Islam, karena kondisi hari ini Aceh masih sangat tertinggal dalam hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas yang bernuansa keislaman, seperti misalnya bidang STQ Tingkat Nasional kita yang baru lalu kita masih kalah dengan provinsi Papua.”

Acara yang turut dihadiri kepala Badan Dayah Provinsi Aceh Dr.Bustami Usman, pembina Pesantren Terpadu Almuslim Prof.Rusdi Ali Muhammad, tokoh politik, anggota DPRA Ir,Saifuddin Muhammad, Fauziah M,Daud dan para anggota DPRK Bireuen, kepala Dinas dan unsur Forkopimda Bireuen, wali santri, ulama, Tgk imum, Geuchiek dan tokoh masyarakat dalam Kecamatan Peusangan Lama.

Sementara Ketua YAP H. Yusri Abdullah, S. Sos mengatakan, pendirian pesantren ini merupakan tindak lanjut daripada amanah musyawarah YAP, dan pendirian ini diambil lokasi pada tanah dasar wakaf Ampon Chiek Peusangan.

Pada kesempatan acara ini turut ditampilkan kebolehan pidato dalam Bahasa Arab, Inggris, Nasyid, serta puisi walaupun pada kenyataannya santri baru belajar lebih kurang satu bulan. Sebelum acara makan siang bersama para tamu dan undangan berkesempatan meninjau ruangan tidur dan belajar yang full AC. Satu kamar dihuni 16 orang santri dengan 4 kamar mandi, berarti dengan rasio per 4 orang 1 kamar mandi.

“Dalam tahap awal ini kami baru menerima santri putri untuk Tingkat Tsanawiyah, ke depannya insya Allah ada kelanjutan santri putra dan tingkat yang lebih tinggi lagi seperti ‘Aliyah,” demikian ungkap Ketua Yayasan Almuslim Peusangan H. Yusri Abdullah, S.Sos. (al)