Situs Kerajaan Jeumpa Yang Semakin Terkikis

Bireuen, Kamis (05/05), dalam Pembelajaran Etnografi dan Sejarah, Dosen FISIP Universitas Almuslim, Teuku Cut Mahmud Aziz mengajak mahasiswa FISIP semester II, Prodi Administrasi Negara mengikuti kuliah lapangan di Desa Blang Seupeung di Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Desa ini diyakini banyak orang dahulunya merupakan lokasi keberadaan Kerajaan Jeumpa, sebagai salah satu kerajaan besar dan tertua di Provinsi Aceh, yang berdiri pada abad ke-7 atau 8 Masehi atau ada yang berpendapat pada abad ke-13 Masehi. 

Ada yang berpendapat awalnya Daerah Bireuen dikenal dengan sebutan Daerah Jeumpa. Jeumpa, yang berarti bungong jeumpa (bunga jeumpa), merupakan bunga yang terkenal di Provinsi Aceh. Saking populernya, bungong jeumpa dijadikan maskot flora, tugu resmi di Kabupaten Bireuen, dan dijadikan lambang resmi SMA Negeri 1 Banda Aceh (jeumpa puteh). Dalam kebudayaan, bungong jeumpa menjadi salah satu unsur dan simbol penting dalam tradisi Aceh (Hermaliza, 2013).

Teuku Cut memberi tugas kepada mahasiswa, yang dibagi ke dalam lima kelompok untuk melakukan observasi dari mulai memasuki Desa Blang Seupeung, menziarahi Makam Raja Jeumpa, hingga berakhir pada lokasi Pintoe Cermen (Pintu Cermin) yang saat ini, lokasinya telah didirikan SMP Negeri 3 Jeumpa, Jalan Kuta Jeumpa, Pintoe Cermen. Pintoe Cermen diduga sebagai pintu masuk ke area benteng kerajaan. Dinamakan Pintoe Cermen karena pintunya bercahaya seperti cermin. Tanahnya mengandung bebatuan kaca. Dalam melakukan observasi mahasiswa diminta untuk dapat melakukan interview kepada orang yang ditemui. Kelima kelompok ini diminta menulis apa yang diamati dan didapat di lapangan, yang kemudian mereka presentasikan dan diskusikan. Di lapangan mereka dapat belajar mengenal situs sejarah dan benda-benda artefak yang dikaitkan dengan penjelasan geografi sejarah.

Teuku Cut menjelaskan, secara garis besar ada dua pendapat yang berbeda tentang asal mula Kerajaan Jeumpa. Pendapat pertama mengemukakan bahwa Kerajaan Jeumpa merupakan kerajaan yang berasal dari Aceh (Kabupaten Bireuen), sedangkan pendapat yang kedua mengemukakan bahwa Kerajaan Jeumpa adalah kerajaan yang berada di Wilayah Vietnam bagian selatan, dekat Kamboja. Yang mendukung pendapat pertama, salah satunya adalah Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di Singapura. Ia menulis dalam bukunya “The History of Java, From the Earliest Traditions Till the Establisment of Mahomedanism”, yang menerangkan bahwa nama Champa berasal dari daerah atau kerajaan yang terletak di Aceh. Masyarakat Aceh mengenalnya dengan sebutan ”Jeumpa”, yang lokasinya diyakini berada di Kabupaten Bireuen.

Namun, hal yang menyedihkan, adalah ketika mengenalkan situs Kerajaan Jeumpa kepada mahasiswa, mereka dihadapkan dengan situasi yang prihatin. Lokasi yang diyakini sebagai benteng kerajaan, yang saat ini telah didirikan bangunan sekolah SMP Negeri 3 Jeumpa mengalami perluasan halaman sekolah. Perluasan ini dilakukan dengan mengeruk bukit Pintoe Cermen yang jelas-jelas berdampak pada situs Kerajaan Jeumpa yang semakin terkikis. Dihadapkan dengan situasi ini, Teuku Cut menerangkan, bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Namun, dalam memilih lokasi pembangunan sekolah, tentu masih ada pilihan lokasi yang lain yang tidak harus memilih lokasi yang sangat bersejarah seperti di tempat ini. “Kalau situs ini rusak bagaimana kita dapat menggantikannya? Bagimana nantinya kita menjelaskan kepada generasi muda bahwa dahulunya di tempat ini merupakan bagian dari situs sejarah Kerajaan Jeumpa?”, demikian pernyataan Teuku Cut. Ungkapnya lagi,” Kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu  menginisiasi, membangun komunikasi dengan dinas terkait agar pengerukan bukit demi pelebaran halaman sekolah tidak kembali terjadi.” Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah? (Faranova-al)