Bertemu Prof. Bilveer Signh, Profesor Ilmu Politik National University of Singapore

Banda Aceh, Rabu-Kamis (22-23/06), Teuku Cut Mahmud Aziz, Dosen FISIP Umuslim berada di Banda Aceh dalam rangka tugas dari Umuslim untuk menemui Prof. Bilveer Singh. Rencana awal ke Banda Aceh bersama Bapak Nurdin Abdul Rahman, Direktur Kantor Urusan Internasional (KUI) Umuslim, namun beliau berhalangan. Prof. Bilveer Signh adalah Profesor Ilmu Politik di Departemen Ilmu Politik National University of Singapore (NUS). Ia juga seorang Adjunct Senior Fellow at the Centre of Excellence for National Security (CENS) di S. Rajaratnam School of International (RSIS), NTU-Singapore. Prof. Bilveer merupakan salah seorang dosen pembimbing disertasi S3 Komjen. Pol. Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D yang akan dilantik Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat menjadi Kapolri RI, sewaktu Komjen Tito Karnavian mengambil S3 di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), NTU.

Prof. Bilveer Signh, orang yang ramah dan penuh persahabatan. Sebelum mengantar Prof. Bilveer melihat sudut Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, Teuku Cut dan Prof. Bilveer terlibat diskusi serius berjam-jam lamanya membahas berbagai topik dan juga pembahasan penjajakan kerjasama dengan Umuslim. Secara umum, ada tiga topik pembicaraan, yang pertama mengenai output dan kelanjutan dari International Conference on Prospects and Promotion of Trade, Intercommunication and Historical Ties: Andaman-Nicobar Island (ANI) and Weh Island-Sabang (Aceh, Indonesia) yang dihelat di Umuslim pada bulan April yang lalu. Dalam rangka kelanjutan hasil konferensi, Umuslim ke depannya ingin lebih berperan, tidak hanya di Aceh tapi juga tingkat Nasional dalam rangka membangun network dan kerjasama antara Aceh/ Indonesia dan India. Letak geografis Aceh yang berdekatan dengan India dapat menjadi jembatan dalam membangun kembali hubungan erat antara Indonesia dan India. Prof. Bilveer menyatakan siap membantu Umuslim. Yang kedua membahas tentang kerjasama riset kolaboratif antara peneliti Umuslim, NUS, dan Srilangka, dan yang ketiga adalah belajar untuk ‘melihat India’ (India bangian utara dan India bagian selatan), dan kejelian membaca dinamika politik dan budaya yang ada di India, sebagai entry point membangun kerjasama. Mendengar paparan beliau, seperti mengikuti kuliah S3, banyak sekali ilmu yang diperoleh. Kami juga diskusi tentang Aceh pasca MoU Helsinki, Politik ASEAN, pasang surut hubungan antara India dan Indonesia, budaya dan tradisi India dan signh, dan India perantauan, serta posisi strategis Bireuen sebagai segitiga emas ekonomi Aceh.

Pada hari Kamis sore, acara berbuka puasa di Bunda Seafood di kawasan Uleelheu. Prof. Bilveer seorang pecinta kuliner. Katanya selama di Aceh, beliau telah mencicipi kari kambing. Kari bukan makanan asing bagi beliau karena sejarah kuliner kari yang ada di Aceh dan Asia Tenggara, asalnya dari daratan India. Setelah mencicipi masakan seafood di Restoran Bunda Seafood, beliau mengatakan ”mantap!”. Kita hari ini selebrasi, saya baru menjadi kakek. Cucu pertama saya baru lahir 4 hari yang lalu”. “Selamat Prof. Bilveer Signh!” (al)