Musibah Sakit dan Jaminan Kesehatan

Lhokseumawe, Senin (25/07)Suasana ruangan kantor terasa agak terasa sunyi karena atasan tidak hadir karena ada acara pernikahan, awalnya kami berdua dengan kabag, sedangkan bagian administrasi/sekretaris tidak hadir karena anak dalam keadaan sakit. Sementara rekan lainnya menyusul menjelang tengah hari baru hadir.

Aku asyik bekerja mengedit video profile untuk persiapan pertemuan alumni dan wisuda, karena Wakil Rektor Bidang Akademis meminta tolong kepadaku, dan dengan senang hati kukerjakan, sehingga nasi bungkus yang dibeli masih terletak di atas meja karena keasyikan bekerja.

Setelah shalat zhuhur kulanjutkan makan siang dan bekerja, tiba-tiba handphoneku berdering…Di seberang sana adik istriku dengan suara cemas, mengharapkan kukembali karena istriku dalam keadaan yang menghawatirkan.

Kukemasi barang-barang bawaanku, kuambil jaket, kemudian mohon izin untuk meninggalkan pekerjaan. Kuturuni tangga kantor dengan penuh doa agar istriku diberikan Allh swt kekuatan dan ketabahan. Lalu berlari-lari kecil ke persimpangan jalan menanti datangya mini bus antar kota. Kutelpon anakku nomor dua agar menantiku di persimpangan hotel arah masuk ke kotaku.

Hampir satu jam barulah tiba, setelah membayar ongkos mini bus antar kota kuseberangi jalan dengan terburu-buru. Rupanya anakku sudah ada di sampingku, dan kamipun langsung berangkat menuju ke rumah.

Sesampainya di rumah kutemui istriku dalam keadaan memprihatinkan, kepala terlalu sakit, badan menggigil sehingga terlihat begitu menderita. Rupanya dia tak sanggup lagi menahan sakitnya, dia minta agar aku segera membawa ke rumah sakit.

Kalau uang jangan ditanya, jaminan kesehatan apalagi, karena aku hanya seorang staf biasa yang tak memperoleh jaminan kesehatan seperti kebanyakan pekerja. Mungkin perhitungannya kalau dibayarkan ke jaminan kesehatan gaji cuma seberapa sepertinya tak layak dan tak mungkin.

Teringat aku akan jaminan kesehatan yang diurus oleh perangkat desa tempatku tinggal terdahulu. Kucoba telpon adik bungsuku meminta informasi mengenai rumah sakit yang mau menerima. Ternyata adikku di luar kota dan disarankan untuk masuk di rumah sakit swasta di dalam kotaku .

Bagaimana membawa istriku yang sudah gawat darurat, akhirnya kuputuskan menelpon atasanku untuk meminjam mobil dinasnya. Ternyata mobil dinasnya dipakai untuk keperluan pribadi keluarga. Hampir aku kehilangan akal, karena keadaan yang tak memungkinkan membawa istriku dengan sepeda motor.

Adik istriku berinisiatif meminjam mobil tetangga depan rumah, alhamdulillah sampailah istriku di rumah sakit yang dituju. Persoalan baru muncul untuk nasib ‘orang kecil’ sepertiku di negeri tercinta ini. Dikatakan petugas bahwa ruangan untuk fasilitas jaminan kesehatan yang dikeluarkan untuk orang desa sepertiku sudah penuh. “Kalau mau dirawat Bapak dapat memilih ruangan VIP yang masih ada, tapi dengan catatan pembayaran dianggap sebagai pasien umum…,” tegas petugas.

Hatiku ketar-ketir, kuiyakan aku tak mampu, kutolak istriku dalam keadaan gawat darurat, akhirnya kumohon untuk diberikan pertolongan pertama di IGD. Alhamdulillah petugasnya masih memiliki nurani, dan istriku langsung diinfus. Aku berurusan dengan petugas, kuterangkan bahwa kubawa ke rumah sakit ini setelah ada konfirmasi bahwa ada ruangan.

Kemudian kucoba kembali menelpon adikku mengatakan bahwa tidak ada ruang perawatan. Adikku berjanji menelpon orang yang sudah dihubunginya terdahulu.

Sekali lagi Allah masih memberikan pertolongannya, petugas mengatakan ada ruang perawatan yang kosong tapi harus sabar menunggu pasien keluar, dan istri Bapak sementara di ruang IGD lebih dulu.

Aku tak membantah, semoga ini merupakan anugrah atas kesabaran yang diberikan Allah swt kepada hambaNya. Akhirnya dirawatlah istriku dengan fasilitas yang disediakan oleh negeri tercinta ini…Mudah-mudahan lebih banyak lagi orang yang tertolong tanpa membedakan siapa dia….Aamiin… (al)