Sudah Saatnya Bireuen Memiliki Dewan Heritage Daerah (DHD)

Kampus Universitas Almuslim-Matangglumpangdua, Jumat (23/09), Kabupaten Bireuen kaya dengan objek peninggalan sejarah yang di beberapa lokasi telah dijadikan tempat wisata. Namun masih banyak lagi tempat dan lokasi sejarah yang belum terawat dan terabaikan bahkan terancam hilang sehingga menjadi keprihatinan kita bersama. Jika ini dikelola dengan baik maka akan berdampak pada sektor pariwisata dan pendapatan ekonomi daerah. Untuk mengetahui lebih lanjut akan hal ini, kami menyempatkan diri untuk bertemu, bertanya, dan berdiskusi dengan Teuku Cut Mahmud Aziz, pemerhati sejarah dan budaya yang juga adalah Dosen Universitas Almuslim.

Menurut Teuku Cut Mahmud Aziz, dalam menyikapi hal ini, Pemerintah Daerah Bireuen perlu bekerjasama secara intens dengan peneliti di perguruan tinggi, dengan melibatkan pakar dari Provinsi dan/atau Nasional untuk melakukan pengkajian, pemetaan, dan restorasi berbagai tempat sejarah sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya (warisan budaya yang bersifat kebendaan). Ia menambahkan, selama ini banyak orang yang menganggap sejarah hanya berurusan dengan masa lalu, dan menganggapnya tidak berdampak besar bagi perekonomian daerah. Kita sering melihat tempat-tempat sejarah yang dirusak atau terabaikan. Bangunan klasik dengan mudahnya diganti dengan bangunan modern. Pemerintah terkesan mengabaikan sejarah. Sejarah atau budaya menjadi penting dan dihargai ketika memperingati hari-hari besar sejarah atau budaya dengan menyelenggarakan berbagai festival kebudayaan, tapi setelah itu, kita melupakannya kembali.

Waktu terjadi krisis ekonomi global, dengan merujuk Businessnews.co.id 2014, pertumbuhan industri pariwisata Indonesia tahun 2014 melebihi angka pertumbuhan ekonomi Nasional, yakni mencapai 9,39%, yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sektor pariwisata terbukti ampuh dalam menciptakan ketahanan ekonomi Nasional. Kalau pariwisata di Bireuen tumbuh pesat maka ia akan menjelma menjadi industri yang akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat dan menyerap banyak tenaga kerja. Untuk mencapai keberhasilan di sektor pariwisata, maka objek sejarah dan budaya harus dilindungi dan dilestarikan.

Untuk melibatkan keterikatan kuat dan tanggung daerah dalam melindungi dan melestarikan peninggalan sejarah dan budaya baik itu berupa pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana, pemerintah Daerah Bireuen perlu melakukan terobosan progresif, menginisiasi pembentukan Dewan Heritage Daerah (DHD). Sebenarnya DHD ini bukan hanya untuk Bireuen tapi juga untuk kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Aceh.

Dari berita di harian Serambi Indonesia (September 2016), kita patut apresiasi atas upaya yang telah dilakukan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh dan Dinas Kebudayaan Aceh yang mana akhirnya delapan budaya tak benda Aceh, yaitu Makmeugang, Tari Guel, Nandong, Pacu Kude, Tari Menatakhen Hinei, Canang Kayu, Meracu, dan Likok Pulo ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia 2016 oleh Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kita dapat melakukan hal yang sama, jika DHD ada di Bireuen, maka kita akan melakukan upaya pengkajian, pemetaan, restorasi, perlindungan, dan pelestarian akan budaya benda dan budaya tak benda yang ada di lingkup Kabupaten Bireuen, yang bila dilakukan dengan keseriusan dan kerja keras maka akan menjelma menjadi industri pariwisata. Maka untuk itu, sudah saatnya Bireuen memiliki DHD.(Seperti yang dilaporkan Bilal Faranov & Maulida kepada al)