“Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh”, Sebuah Karya Buku Yang Layak Menjadi Rujukan Pemerintah Daerah

Kabupaten Bireuen, Ahad (25/09), Dua akademisi Universitas Almuslim, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si dan Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil, M.A telah merampungkan penulisan buku yang berjudul “Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh.” Buku ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun tahun 2014 dengan mengumpulkan data di 5 Kabupaten, yaitu Kabupaten Bireuen, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Pidie Jaya. 

Pada bagian pertama buku ini mengulas Bireuen dalam lintasan sejarah sebagai gateway dalam mengamati, mengkaji, dan menganalisa potensi dan keanekaragaman sumber daya alam dan ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang bersangkutan. Kita sering membanggakan kebesaran sejarah masa lampau tapi tidak mampu menempatkan porsi sejarah sebagai bagian dari heritage (warisan atau pusaka) dan sumber pendapatan ekonomi daerah. 

Bagian kedua membahas potensi ekonomi yang ada di Kabupaten Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Utara. Komoditi-komoditi unggulan yang terdistribusi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan dan kelautan menjadi fokus kajian dan analisa. Demikian pula, pada bagian ketiga yang membahas potensi ekonomi Bireuen pada sektor-sektor yang disebutkan di atas dengan tambahan penjelasan pada objek sejarah dan wisata. Penulis menggunakan acuan dan variabel yang bersumber dari Indonesia Investment Coordinating Board dan Badan Pusat Statistik (BPS). 

Bagian keempat, membangun argumentasi Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh; membangun ekonomi Bireuen berbasis riset, UMKM, dan Entrepreneurship; dan menginisiasi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Secara kultural dan sosiologis, proses transformasi dan kemajuan akan berhasil dan tepat sasaran, jika dimulai dengan adanya perubahan paradigma atau cara pandang dalam melihat dunia. Untuk itu, Pemerintah Daerah harus mampu memprediksi potensi dan keberlangsungan pendapatan daerah, cerdas, kreatif, dan inovatif dalam menangkap peluang dan mengelola sumber-sumber pendapatan daerah dan juga potensi ekonomi yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Aceh Utara. Karena secara geografis, keempat daerah ini menyanggah Kabupaten Bireuen yang menjadi lokus bagi segitigas emas ekonomi Aceh. Bireuen menjadi Kota Transit yang menghubungkan dan sekaligus berfungsi memberi layanan kepada sejumlah kabupaten dan kota lain di pantai timur serta kabupaten-kabupaten di pedalaman Aceh (Prof. Nazaruddin Sjamsuddin). Selain itu, buku ini merangkum ide, pemikiran, gagasan, formula, strategi, dan yang terpenting mengajak pembaca untuk mengetahui dari mana kita mulai untuk memajukan Bireuen. Pada akhir buku ini pembaca diajak untuk berimajinasi akan bentuk dan masa depan Bireuen yang kita dambakan.

Dalam pengantar buku (sekapur sirih), Prof. Nazaruddin Sjamsuddin, M.A, Ph.D, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia yang merupakan putra Aceh kelahiran Bireuen, selain Nezar Patria (Tokoh Pers Nasional, Putra Aceh), mengemukakan Buku ini sebenarnya ingin menyampaikan pesan bisnis, baik kepada warga di Kabupaten Bireuen maupun masyarakat di luarnya. Pesannya adalah “Ini Bireuen dan ini potensinya. Apa yang Anda mau dan bisa lakukan?”. Pesan ini sungguh menantang dan sekaligus juga memberi harapan. Ditambahkan Fachrizal A Halim, Ph.D, Dosen di College of Arts and Science, University of Saskatchewan, Canada yang memberikan endorsement, “Buku ini merupakan rujukan yang penting, bukan saja bagi calon penanam modal (investor) dan pengambil kebijakan, akan tetapi juga bagi masyarakat Aceh pada umum-nya.” Buku ini layak menjadi rujukan, tidak hanya bagi Pemerintah Daerah Bireuen dan kalangan investor, namun juga penting bagi kalangan akademisi & peneliti, entrepreneur, dan stakeholders serta Pemerintah Daerah di seluruh Provinsi Aceh. Selamat Membaca! (Popon, al)