Seperti Menemukan Negeri Sendiri di Negeri Orang

Oleh BILLAL FARANOV, Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang ikut pertukaran mahasiswa di Nagoya Gakuin University Jepang,  melaporkan dari Jepang

JEPANG dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Sistem pendidikannya yang berbasis teknologi menjadikan Jepang sebagai salah satu negara tujuan yang difavoritkan pelajar Indonesia. Berdasarkan survei Japan Student Services Organization (Jasso) tahun 2017, terhitung 4.630 pelajar Indonesia yang studi di Jepang. Rinciannya, 3.670 pelajar di institusi pendidikan tinggi dan sejenisnya, 960 orang lagi di institusi pendidikan bahasa Jepang.

Indonesia berada pada peringkat keenam sebagai penyumbang pelajar ke Jepang di bawah Tiongkok, Vietnam, Nepal, Korea Selatan, dan Taiwan. Saya dan rekan saya, Alfurqan Ismail, dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tahun ini (2018) terpilih mewakili Universitas Almuslim sekaligus Indonesia pada program pertukaran mahasiswa ke Nagoya Gakuin University (NGU). Saya bisa menuntut ilmu di Jepang karena mengikuti program pertukaran mahasiswa, sebagai wujud implementasi dari hasil penandatanganan kerja sama (MoU) antara Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen-Aceh dengan NGU Jepang.

 

Keberangkatan kami ini bagi Umuslim merupakan gelombang kedua, setelah gelombang pertama tahun lalu mahasiswa yang dikirim sudah menyelesaikan studinya satu tahun, baik mahasiswa Umuslim di NGU, maupun mahasiswa Jepang yang kuliah di Umuslim beberapa waktu lalu.  NGU adalah universitas yang terletak di Nagoya, kota keempat terbesar di Jepang setelah Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Di NGU saya dan Alfurqan berasal dari Umuslim Almuslim menjadi mahasiswa internasional bersama mahasiswa asing lainnya dari Amerika Serikat, Kanada, Taiwan, Nepal, Tiongkok, Korea Selatan, dan lainnya. 

Sudah lebih bulan kami mengikuti kuliah di NGU Jepang. Banyak sisi positif yang kami dapatkan dan bermanfaat jika diterapkan di Indonesia. Pada hari opening ceremony bagi mahasiswa internasional, saya dan rekan saya mengenakan baju batik dengan motif pintoe Aceh. Hal ini sekaligus untuk mempromosikan kekayaan budaya Nusantara, khususnya Aceh, kepada mahasiswa dari berbagai negara. Saya dan Alfurqan juga mengundang beberapa mahasiswa asing ke kamar kami untuk mencicipi masakan Indonesia. Saat itu kami memasak rendang, sambal goreng dan nasi goreng. Nah, semua masakan kami ludes disantap dengan lahap oleh seluruh mahasiswa asing itu. Bagi yang penasaran, kebetulan momen tersebut saya abadikan di channel Youtube saya (Bilal Faranov). Silakan intip!

Walau baru beberapa minggu berada di Negeri Matahari Terbit ini, tapi sudah banyak pengalaman bermanfaat yang kami dapatkan. Pertama, mengenai kedisiplinan. Pada hari pertama masuk kuliah, saya takjub atas antusiasme mahasiswa internasional dan mahasiswa Jepang dalam belajar. Mereka sudah berada di kelas 10 menit sebelum kelas dimulai. Di jadwal, kelas dimulai pukul 09.10 waktu setempat, sedangkan dosen dan mahasiswa lainnya sudah berada di kelas sejak pukul 09.00. Pada hari itu mereka menunggu saya yang tiba tepat pukul 09.10. Saya pikir, sayalah yang paling on time, tapi kenyataannya berkata lain. Nah, sejak hari itu, saya bertekad untuk sampai di kelas minimal sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai.

Di Jepang, on time itu sudah menjadi sebuah kontrak sosial, sehingga dalam kesehariannya terbukti orang Jepang sangat disiplin waktu. Ini contoh baik dari masyarakat yang maju. Itu menandakan mereka menghargai waktu dan menghargai orang yang telah menunggu. Saya berjanji di dalam hati akan menerapkan hal positif ini sepulang ke Indonesia nantinya.Kedua, transportasi mahasiswa ke kampus, hanya ada dua pilihan, yaitu bersepeda atau naik subway (kereta api listrik).

Di kampus ini tersedia lahan parkir sepeda yang sangat luas. Tak heran jika setiap pagi lingkungan kampus penuh dengan lalu-lalang mahasiswa yang bersepeda. Sedangkan subway atau meitetsu adalah solusi bagi mahasiswa yang datang dari luar Nagoya, misalnya, dari Okazaki atau Gifu yang jaraknya satu jam perjalanan. Mereka turun di Stasiun Hibino, stasiun terdekat ke NGU. Untuk mahasiswa internasional, disediakan sepeda yang dapat dipinjam sehari penuh. Itulah yang kami manfaatkan untuk mencari masjid. Kebetulan rommate saya seorang muslim, namanya Walid. Dia mahasiswa sastra Jepang dari Memphis University, Amerika Serikat. Saya dan Alfurqan mengajak Walid bersepeda untuk mencari masjid. Setelah ditelusuri dengan Google Map, kami harus menempuh jarak sekitar 7 km.

Syukur Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan–karena kami sempat salah jalan–tibalah kami di Nagoya Port Masjid. Kami tunaikan shalat Magrib dan Isya berjamaah di masjid ini. Saat itu yang shalat sekitar 65 orang, sedangkan luas masjid tersebut bisa menampung 300 jamaah (12 saf). Di seberang Masjid Nagoya Port terdapat toko kelontong halal, milik seorang muslim asal Pakistan. Di toko ini tersedia berbagai makanan, terutama daging sapi, ayam, dan bumbu masakan halal dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Sudah halal, harganya pun terjangkau, kami seperti menemukan negeri sendiri di negeri orang lain, karena banyak makanan yang dijual sesuai dengan kebutuhan kami, yaitu halal dan barang-barangnya juga banyak yang bercorak Nusantara. Sewaktu saya perkenalkan diri bahwa kami berasal dari Indonesia, beliau langsung mengatakan bahwa mi instan asal Indonesia merupakan barang paling laku di toko beliau. Setelah berbicang, akhirnya kami beli daging ayam segar dan bumbu masak produk Indonesia dan berbagai kebutuhan lainnya yang halalan thayibah untuk dibawa pulang ke asrama.

Pengalaman menarik ketiga bagi saya adalah mahasiswa yang kuliah sambil kerja. Sekitar 97% mahasiswa di Jepang bekerja paruh waktu atau part time job. Istilahnya, arubaito, saya sempat bertanya kepada teman saya asal Kota Okazaki tentang arubaito. Di Jepang pemerintah membuat regulasi part time job minimal 28 jam perminggu. Bagi mahasiswa asing seperti saya diberikan Id atau KTP Jepang dari pihak imigrasi untuk izin kerja di Jepang. Part time job memang sebuah solusi untuk survive di Jepang. Namun, untuk mendapat part time job harus menjalani proses panjang, seperti interview dan tes dalam bahasa Jepang.

Walaupun begitu, pihak universitas juga memberi kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk mengajarkan bahasa ibu setiap mahasiswa internasional. Misalnya, saya mengajar bahasa Indonesia kepada mahasiswa Jepang yang tertarik untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Pihak universitas akan menyesuaikan jadwal kuliah dengan kegiatan kerja saya. Kami juga diberi kesempatan setiap minggu mengunjungi SD dan SMP di Jepang untuk memperkenalkan budaya Indonesia

 

Cerita ini pernah tayang sebagai citizen reporter  Harian Serambi Indonesia ,Rabu, 31 Oktober 2018