Rektor Umuslim Lepas Tim MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional XV Tahun 2017 ke Malang

Kampus Umuslim, Selasa (25/07) Acara pelepasan dan haflah tim MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional XV Tahun 2017 yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya Malang, berlangsung di Aula MA Jangka yang dihadiri oleh Ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri Abdullah, S.Sos, para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan III di lingkup Umuslim

"Kami berharap keberangkatan Tim MTQ Umuslim dalam mengikuti MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional XV di Malang akan membuahkan hasil seperti apa yang kita harapkan, kepada anak-anak agar menjaga kesehatan agar tampil prima", harap Wakil Rektor III Ir. Saiful Hurri, M.Si.

Adapun peserta MTQ Nasional Tingkat Mahasiswa XV sbb;

Agung Hidayatullah Fikom (Tilawatil Putra), Nurlaili FKIP (Tilawah Putri, Rahmad Hidayat FISIP (Tartil Putra), serta Muliatul Jannah DIII Kebidanan (Tartil Putri)

Kemudian Tim beraudiensi ke Rektor Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si didampingi dewan pelatih serta pembina, Kabag Kemahasiswaan Sayed Fajri, SH, Kabag Humas Zulkifli, M.Kom. "Mohon maaf ketidak hadiran saya acara haflah karena baru tiba dari luar kota, tapi saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Tgk.H. Nurdin dan kawan-kawan yang begitu sungguh-sungguh melatih serta membina anak-anak kami, mudah-mudahan memberikan yang terbaik buat kita semua", ujar Rektor Umuslim. (al)

 

Upaya Suku Siam Pertahankan Islam

Saya merupakan salah seorang mahasiswa yang dikirim kampus untuk mengikuti program PPL-KKM di Thailand Selatan. Program ini merupakan KKM Internasional, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.

Kegiatan ini bertujuan untuk pengabdian dalam usaha mengembangkan wawasan, baik wawasan keislaman maupun sosial budaya mahasiswa Indonesia dengan masyarakat, khususnya masyarakat muslim di kawasan Thailand Selatan.

Dalam kegiatan ini Indonesia diwakili oleh 12 perguruan tinggi dengan jumlah peserta 72 mahasiswa. Bagi Universitas Almuslim, Bireuen, merupakan angkatan kedua mengikuti program ini, setelah angkatan pertama dengan jumlah tujuh orang dianggap sukses dalam pengabdiannya. Pada angkatan kedua ini, kami dari Umuslim hanya lima orang. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program ini dan melaksanakan pengabdian selama lima bulan, terhitung Mei hingga Oktober 2017.

Saya kebetulan ditempatkan di Songkla bersama kawan dari Tangerang dan Banten. Saya kagum pada masyarakat Thailand Selatan, khususnya suku Siam, karena mereka sangat kuat dalam mempertahankan keislaman walaupun Islam merupakan agama minoritas di sini. Ketika pertama sekali saya shalat berjamaah di Thailand, saya terkejut melihat jamaah shalat Subuh di masjidnya seperti jamaah shalat Jumat di Aceh. Cuma bedanya shalat Subuh di saf belakang dipenuhi oleh kaum hawa.

Ketika saya ke luar mesjid saya lihat tidak ada satu pun kendaraan roda dua yang terkunci, saya sangat terkejut dan bertanya kepada seorang ustaz yang kebetulan beliau bisa berbahasa Inggris, kenapa kendaraan di sini dibiarkan tidak terkunci. Tidakkah mereka khawatir akan kehilangan kendaraannya?

Dengan tersenyum ustaz itu menjawab, sudah 65 tahun saya di sini, tapi belum sekalipun kendaraan jamaah masjid hilang. Saya terkejut begitu ikhlasnya mereka melaksanakan dan mengamalkan ajaran Islam. Selama di Thailand saya ditempatkan di Songkla, Hatyai, tepatnya di sekolah Songserm Witaya School. Saya tinggal di sebuah rumah yang diberikan oleh pihak sekolah. Letaknya hanya 50 meter dari sekolah. Sekolah islam ini memiliki 800 siswa-siswi dengan tenaga pengajar sebanyak 50 orang. Sekolah ini benar-benar menerapkan sistem syariat Islam walau letaknya di tengah-tengah umat Budha. Peraturannya sangat ketat, semua siswa dan siswi diwajibkan berdisiplin tinggi. Terbukti, saya tak sekali pun menemukan siswa yang datang terlambat, meski sekolah dimulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00.

Saya mengajar dua mata pelajaran, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Saya temukan beberapa perbedaan antara sekolah Thailand dengan sekolah di Indonesia. Di sekolah di sini setiap paginya siswa-siswi diharuskan shalat duha dua rakaat, mengaji bersama sampai pukul 10 pagi. Setelah itu, barulah proses belajar-mengajar dimulai.

Selain itu, semua guru di sini harus bisa baca Quran dan harus mampu mengajari siswa membaca Alquran. Alhamdulillah, saya tak mengalami kesulitan karena sebelum berangkat salah satu syarat untuk dikirim ke Thailand ini adalah bisa membaca Quran. Bukan itu saja, sekolah juga mengharuskan pelajar untuk shalat berjamaah pada waktu Zuhur dan Asar. Setelah itu baru siswa diperbolehkan pulang ke rumahnya.

Selain beberapa hal di atas ada hal yang membuat saya kagum yakni siswa dan siswi sangat sopan dalam berpakaian. Semua siswa memakai jubah setiap hari dan juga memakai peci, sedangkan siswi memakai pakaian syar’i dengan jilbab yang panjangnya sampai ke lutut. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, karena para wanita muslim bukan hanya sekadar memakai jilbab tapi juga menutup aurat.

Pihak sekolah di sini juga memisahkan kantin untuk siswa dan siswi. Jadi, saya tidak sekalipun menemukan siswa dan siswi duduk nongkrong seperti lazimnya di Indonesia, Aceh khususnya, dalam alasan apa pun, baik saat mengerjakan tugas, makan bareng, atau hanya duduk bertukar cerita. Mereka hanya bersama ketika di dalam kelas, itu pun karena ketatnya pengawasan dari para guru.

Selain itu pihak sekolah juga melarang keras siswa dan sisiwinya menggunakan hp selama proses belajar-mengajar berlangsung. Jika kedapatan mereka akan dihukum dengan tegas oleh pihak sekolah,

Dalam pandangan saya ini merupakan sesuatu yang sangat mulia, karena guru-guru di sini telah menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini kepada siswa dan siswinya, karena para guru sadar bahwa siswa dan siswi yang sedang menuntut ilmu di bangku SMP dan SMA adalah pemimpin umat Islam di masa mendatang. Mereka adalah generasi penerus umat Islam, khsususnya di Thailand Selatan dan umumnya di seluruh dunia. Jadi, jangan sampai jiwa mereka dirasuki dan dipengaruhi oleh hal-hal negatif, apalagi sampai terpengaruh gaya hidup westernisasi. Andai saja siswa dan siswi di sini hidup dalam gaya kebarat-baratan, sungguh Islam di Thailand Selatan tinggal cerita saja, seperti halnya Oslam di Spanyol yang hancur tahun 1429, namun bedanya kehancuran Islam pada zaman dulu diperangi dengan senjata, sedangankan kita yang hidup di akhir zaman kini berperang melawan majunya gaya hidup kebarat-baratan.

Laporan ARIEF SAPUTRA dari Bangkok, Mahasiswa Universitas Almuslim, Bireuen, peserta PPL-KKM di Thailand.

 

Berkah Ramadhan di Thailand

RAMADHAN ini merupakan Ramadhan yang tak bisa saya lupakan karena saya menjalaninya di negara orang yang mayoritas penduduknya non-Islam.

Seperti diketahui, Thailand adalah sebuah negara di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk muslimnya tak lebih dari 10 persen. Sedangkan pemeluk agama yang mayoritas di Negeri Gajah Putih ini adalah Budha, sedangkan pemeluk Islam nomor dua terbanyak jumlahnya di Thailand.

Melaksanakan berbagai ibadah sesuai perintah agama tentunya menjadi suatu problema tersendiri bagi saya selama berada di sini. Apalagi saya berasal dari Aceh (Indonesia), bukan dari penduduk asli. Tapi alhamdulillah, hal itu tidak menjadi halangan bagi saya dalam menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan ini.

Saya adalah mahasiswi Universitas Almuslim Peusangan Bireuen yang dikirim untuk melaksanakan Program Praktik Lapangan-Kuliah Kerja Mahasiswa (PPL-KKM). Jumlah kami dari Kampus Umuslim sebanyak lima orang. Kami melaksanakan pengabdian di sejumlah sekolah dan pesantren di Thailand Selatan selama lima bulan.

Peserta PPL-KKM ini semuanya 72 orang, berasal dari 12 perguruan tinggi se-Indonesia. Di Thailand, kami ditempatkan tersebar di sejumlah lokasi. Saya kebetulan ditempatkan di salah satu provinsi di Thailand Selatan, yaitu Provinsi Songkhla. Provinsi ini mayoritas penduduknya Budha dan merupakan provinsi yang terbanyak penganut Budhanya dibanding provinsi lain di Thailand Selatan.

Saya ditempatkan di Miftahuddeen School, Nathawee, Songkhla, Thailand. Saya mengajar di sini pelajaran bahasa Inggris dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Sekolah ini aktif hanya hari Senin sampai Jumat, sedangkan hari Sabtu dan Minggu libur. Jadwal masuknya dimulai pukul 07.30 sampai 16.30 WIB.

Di Miftahuddeen School hanya ada tiga guru yang bisa berbahasa Inggris dan Melayu, yaitu poo (kepala sekolah), kemudian guru pembimbing saya, dan satu lagi guru lulusan sebuah universitas di Malaysia. Jadi, selama saya melaksanakan pengabdian saya tidak begitu susah dengan bahasa karena saya bisa berkomunikasi dengan tiga guru tersebut. Sedangkan dengan guru lain saya hanya melempar senyum saja ketika berjumpa, karena mereka rata-rata tak paham bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Dalam interaksi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Thai (Siam).

Di daerah saya tinggal selama Ramadhan, warung atau kedai penjual makanan, tetap terbuka seperti hari biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa sekarang sedang memasuki bulan Ramadhan. Hanya ketika agak sore mulai muncul warga yang jualan takjil Ramadhan.

Jumlah masjid di Provinsi Songkhla juga sangat sedikit. Bahasa yang digunakan masyarakat di provinsi ini hanya bahasa Thai, tidak seperti Provinsi Narathiwat, Yala, Pattani, mereka bisa bahasa Melayu, bahkan bisa berbahasa Inggris.

Letak geografis Songkhla sangat jauh dari ibu kota Thailand (Bangkok). Jika kita ingin pergi dari Songkhla ke Bangkok naik kereta api, maka butuh waktu sekitar sepuluh jam lebih. Tapi di Songkhla juga terdapat Kantor Konsulat Republik Indonesia atau KRI. Saat pertama tiba di Thailand, kepada kami telah diperkenalkan kantor tersebut. Di sinilah tempat berkumpulnya orang Indonesia di Thailand Selatan.

Sebagai kegiatan rutin di kantor itu diadakan berbagai kegiatan yang merupakan kebiasaan masyarakat di Tanah Air, seperti buka puasa bersama, shalat Idul Fitri, dan memperingati hari-hari besar seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Meskipun di provinsi ini mayoritas Budha, namun jika kita ingin mencari makanan halal, baik yang siap saji maupun bahan mentah, itu sangatlah mudah. Saya setiap sore menjelang buka puasa, sering membeli makanan di kedai muslim di pinggir jalan. Setiap kali saya ingin membeli, saya perhatikan dulu penjual dan pelanggan lain yang membeli tersebut memakai jilbab. Setelah itu baru saya sapa dengan ucapan Assalamualaikum. Ini saya lakukan untuk menghindari keraguan saya terhadap penjual makanan tersebut.

Kemudian, tantangan selama menjalankan puasa di negeri orang tersebut merupakan pengalaman pertama bagi saya menjalankan ibadah puasa di tengah masyarakat nonmuslim. Tantangan kedua adalah terjadinya perubahan cuaca yang sering berubah drastis, pagi sampai sore cuaca biasanya sangat panas, namun tiba-tiba malam hari bisa hujan deras dan dingin sekali. Ini menjadi tantangan, karena saya menjalaninya jauh dari orang tua dan saudara lain.

Selain itu, pengalaman lain yang saya perhatikan terhadap budaya yang ada di daerah Songkla Thailand ini. Yaitu budaya mengaji sebelum berbuka puasa, setiap masjid memiliki jadwal pengajian tersendiri dengan kitab-kitab yang berbeda. Selain itu, selama saya berada di Thailand pada Ramadhan ini tidak ada budaya tadarus pascashalat Tarawih dan Witir ataupun setelah shalat Subuh di masjid dengan menggunakan alat pengeras suara. Itulah hal-hal beda yang saya rasakan saat puasa di sini. 

Laporan HAJRIANI APRILLIA, mahasiswi Universitas Almuslim Bireuen, peserta PPL-KKM di Thailand, dari Bangkok (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Pemerintahan Mahasiswa Menggelar Festival Kebudayaan Umuslim 2017 (FKU 2017)

Kampus Umuslim, Jum'at (07/04) Pemerintahan Mahasiswa Menggelar Festival Kebudayaan Umuslim 2017 (FKU 2017)dengan tema "Memacu Semangat Generasi Muda Berbakat dan Berbudaya Melalui Festival Kebudayaan"

Menurut Basyir selaku Ketua Panitia mengungkapkan ada beberapa lomba yang dapat diikuti, antara lain :

1. lomba menulis opini (umum, siswa, mahasiswa)

2. lomba membaca puisi (siswa, mahasiswa)

3. lomba fotografi (umum, siswa, mahasiswa)

4. lomba peuget reungkan (siswa, mahasiswa)

5. lomba seumapa (siswa, mahasiswa)

6. lomba permainan tradisional

- cakceng (siswa, mahasiswa)

- engklek (siswa, mahasiswa)

- congklak (siswa, mahasiswa)

- bola sarung (mahasiswa)

- tarik tambang (mahasiswa)

- galah (mahasiswa)

- bakiak/papan sandal (siswa)

7. Duta mahasiswa 

8. Fashion show tingkat taman kanak-kanak

Sementara itu Presiden Mahasiswa Umuslim Nyak Raka Najmi menambahkan bahwa Festival Kebudayaan Umuslim ini terbuka untuk umum dan mendapat dukungan dari pihak Rektorat beserta jajarannya. (al)