Kemenristek Dikti sosialisasi HKI di Umuslim

Kampus Umuslim- Jum'at (30/09) Direktorat pengelolaan kekayaan intelektual Kemenristek Dikti Jakarta mengirimkan dua orang stafnya untuk mensosialisasikan tentang berbagai hal dan regulasi terbaru yang berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) hasil penelitian dosen dan mahasiswa, sosialisasi digelar di  ruang rapat pusat administrasi Universitas Almuslim.

Ketua Lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) Umuslim Dr.H.Hambali,MP.d  mengatakan tujuan sosialisasi ini untuk memberikan informasi bagi dosen dan mahasiswa tentang hak paten hasil penelitian yang pernah dilaksanakan dosen dan mahasiswa.

Dr.H. Hambali, M.Pd didampingi Ir.Muhammad, MT menyebutkan bahwa Umuslim  telah mendirikan sentra Hak Kekayaan Intelektual  sejak 2012 lalu, yang bertujuan untuk membantu para peneliti agar bisa mendapatkan informasi dan fasilitasi dalam  mendapatkan hak paten setiap hasil penelitiannya.

Sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi  sekarang setiap hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat akan diupayakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), karena banyak hasil penelitian yang berpotensi paten tetapi belum didaftarkan untuk memperoleh hak paten.

Bahkan sekarang pemerintah juga akan memberikan insentif berbentuk bantuan hibah dan anugerah Kekayaan intelektual Luar biasa (AKIL) bagi dosen peneliti yang memiliki penemuan dan inovasi luar biasa.

Acara sosialisasi HKI tersebut diikuti sebanyak 65 dosen peneliti Universitas Almuslim (Umuslim)  dengan pemateri dari Direktorat pengelolaan kekayaan intelektual Kemenristek Dikti Jakarta yaitu Nur Masyitah Syam dan Fajar Perkasa. (al-zul)

 

Dosen Umuslim Membimbing Mahasiswa Jepang

Matangglumpangdua-Peusangan, Selasa (27/09) bertempat di Kampus Ampon Chik Peusangan-Universitas Almuslim (Umuslim), Dosen Umuslim memberikan bimbingan pembelajaran dalam matakuliah Pengantar Antropologi-Sosiologi kepada Kaito Fukagawa, mahasiswa Gakuin University di Jepang yang ikut program pertukaran mahasiswa dengan Umuslim. Bimbingan ini diberikan dalam bentuk kuliah tambahan yang dilakukan secara volunteer sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian dari Universitas Almuslim. Dalam pertemuan dengan Kaito, sahabatnya yang bernama Natsuko Mizutani yang satu universitas dengannya yang juga ikut dalam program pertukaran mahasiswa, namun tidak mengambil matakuliah ini, juga ikut serta untuk ikut belajar.

Mahasiswa S-1 di universtas di Jepang dikenal sebagai mahasiswa yang pemalu, dan bukan hanya Jepang tapi umumnya pelajar dan mahasiswa di Negara-negara Asia, yang bila dibandingkan dengan pelajar dan mahasiswa di Eropa, Amerika, atau Australia, pelajar dan mahasiswa di Asia tidak begitu aktif.  Cerita ini didapatkan dari teman yang kuliah S-3 di Jepang, mahasiswa S-3 di sana diberi tugas untuk menjadi mentor mahasiswa S-1. Mentornya dalam hal bagaimana memotivasi mahasiswa S-1 untuk tidak malu di dalam rungan kuliah dan berani bertanya. Dosen-dosen di sana juga agak bingung mengapa mahasiswanya memiliki perasaan malu yang berlebihan.

Dari cerita ini, teringat apa yang saya alami jelas Poncut waktu kuliah di salah satu universitas di Italia, umumnya teman-teman sekelas dengan saya yang dari Asia, yakni dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Mongolia umumnya tidak aktif di dalam ruang kuliah. Mereka malu untuk bertanya atau memberi pendapat apalagi kalau diskusi atau berdebat. Yang lucunya, kami dari Asia semuanya duduk berdekatan/ berderet tanpa sebelumnya saling mengenal. Secara psikologis ini seperti bentuk kesadaran sebagai orang Asia yang merasa senasib, begitulah kira-kira. Selalu kami berkumpul bersama ketika di dalam ruang kuliah, berpisah dengan kelompok mahasiswa yang berasal dari Eropa, Amerika, Kanada, Israel, dan Australia. Tapi kalau di luar ruang kuliah, kami semuanya akrab dan berbaur, tapi ketika di ruang kuliah sudah kembali beda. Prof. Maffei pernah mengomentari, “Saya benar-benar heran mengamati mahasiswa dari Asia, setiap tahun saya perhatikan semuanya seperti ini. Duduk bersama dan selalu diam!”. Waktu itu, yang dari Asia yang paling aktif bicara dan memberi pendapat, kalau tidak saya dari Indonesia, teman perempuan dari Mongolia. Saya sering memotivasi teman-teman dari Asia, “Kita/ kalian harus aktif, kita dari Asia harus tunjukkan bahwa kita aktif. Jangan diam, malu dengan teman-teman negara barat. Teman-teman harus bertanya dan berikan pendapat.” Mereka mengatakan iya saja, setelah itu kembali seperti semula. Benar-benar pemalu!

Kalau kita perhatikan Kaito dan Natsuko, mereka tergolong mahasiswa yang aktif. Mereka akrab dan ramah dengan siapapun. Kendala bahasa yang menyebabkan mereka butuh perhatian khusus agar pembelajaran yang mereka dapatkan di universitas dapat berjalan lancar. Saya tanya kepada Kaito,”Apakah Kaito mau kuliah dengan saya, kuliah tambahan? Saya ingin Kaito pintar, mengerti apa yang saya sampaikan di ruang kuliah. Saya ingin nilai Kaito the best dan mengerti pelajaran.” Ia menjawab,”Mau, terima kasih, terima kasih!” Lalu saya tambahkan,”Untuk mendapatkan nilai yang baik, Kaito mesti belajar tambahan agar memahami dengan jelas apa yang saya sampaikan. Kuliah tambahan ini akan saya berikan 14 pertemuan atau lebih, apakah Kaito mau?” Katanya,”Mau-mau, terimakasih banyak Pak Poncut! terimakasih banyak Pak Poncut!”. “Kalau Kaito dapat nilai baik, Kaito akan senang”. Dalam hati saya, tentu orangtua dan dosen-dosennya pun pasti akan senang dan bangga. “Kaito tidak boleh malu untuk bertanya kalau tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Tunjuk tangan dan tanya! Saya akan gunakan pelan-pelan bahasa Indonesia dan Inggris serta menjelaskannya dengan memperlihatkan gambar dan film dokumenter. Kami di universitas akan memberikan yang terbaik untuk mahasiswa kami!”

Sebelumnya Ibu Khairul Hasni selaku anggota tim panitia dalam program Pertukaran Mahasiswa menyampaikan kepada saya untuk bersedia membantu membimbing pembelajaran kepada mahasiswa Jepang agar mereka benar-benar bisa memahami apa yang disampaikan dosen. Saya setuju, dan siap untuk membantunya, karena ini salah satu bentuk pengabdian dari para akademisi di Universitas Almuslim untuk memberikan yang terbaik untuk mahasiswa.(al-poncut)

 

 

Penjemputan Mahasiswa KKM Umuslim

Mahasiwa KKM Angkatan XV Semester PendekTahun Akademik 2015-2016, mengakhiri masa kuliah kerja mahasiwa yang berlangsung selama 45 hari. Acara serah terima atau penyerahan kembali mahasiswa dari Pemerintah Bireuen dilaksanaknakan di halaman kantor pemerintahan Bireuen Kamis  (22/09)  sekitar pukul 15.00 WIB.

Dari Pemerintah Bireuen diwakili oleh  Sekda Kabupaten Bireuen Ir.Zulkifli,Sp, sementara dari pihak Universitas Almuslim diwakili oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Bapak Drs.Marwan Hamid, M.Pd. Pada kesempatan ini kedua belah berharap adanya kesinambungan kerjasama di bidang pemberdayaan masyarakat di wilayah Bireuen.

Dari pihak Pemerintah Bireuen berharap, di masa yang akan datang Universitas Almuslim dapat memberdayakan para intelektualnya untuk membantu masyarakat Bireuen di segala bidang. Apalagi program Web Desa yang sudah dipelopori mahasiswa KKM . Di samping program penanaman kurma yang dilakukan di daerah mahasiwa Umuslim KKM.

Bapak Drs,Marwan Hamid, M.Pd, yang mewakili pimpinan Universitas Almuslim mengajak semua pihak agar web desa yang telah dirintis dapat dilanjutkan sehingga promosi tentang potensi desa dapat diekspose secara lebih terbuka. Sehingga diharapkan akan membantu pergerakan perekonomian desa. Acara ini dihadiri  Wakil Rektor, Dekan, dosen pendamping, supervisor, Ketua Bapel KKM, dan pejabat di lingkungan Setdakab Bireuen. (al)

 

Subcategories