Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Bank Indonesia dirikan BI Corner di Umuslim

     

     

    Peusangan- Bank Indonesia Lhokseumawe dirikan BI Corner di perpustakaan Universitas Almuslim Peusangan, Bantuan pojok baca (BI Corner ) tersebut , diresmikan penggunaannya oleh Bupati Bireuen yang diwakili Sekretaris Daerah Bireuen Ir.Zulkifli, Sp, Kamis (6/12) di perpustakaan Induk kampus umuslim.

    Sekda Bireuen Ir Zulkifli,Sp dalam sambutannya saat peresmian, menyambut baik atas program Bank Indonesia Corner dan E-Almuslim (perpustakaan digital Universitas Almuslim), harapannya dengan bantuan sistem digital ini dapat  memudahkan dan praktis bagi mahasiswa  mencari bahan bacaan. Dengan adanya bantuan beberapa perangkat perpustakaan elektronik dari Bank Indonesia Lhokseumawe ini agar dapat dimanfaatkan dengan baik, "Terimakasih kepada Bank Indonesia yang telah berperan aktif membantu perpustakaan”, harap Sekda.

    Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yufrizal dalam sambutannya mengatakan bahwa BI Corner di Universitas Almuslim Peusangan merupakan BI Corner kedua, setelah sebelumnya sudah ada di perpustakaan daerah Kabupaten Bireuen.

    "Kami berharap pojok baca ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa di Universitas Almuslim dalam meningkatkan minat baca dan kegiatan akademik" ujar Yufrizal.

    Rektor Universitas Almuslim Peusangan Dr H Amiruddin Idris, SE.,MSi menyambut baik dan berterimakasih atas bantuan pojok baca (BI Corner),  Kami mengapresiasi kepedulianBank Indonesia Lhokseumawe  yang mendirikan BI Corner di perpustakaan Umuslim.

    Harapannya semoga dengan bantuan  BI Corner dari Bank Indonesia Lhoksemawe ini,akan mempermudah dan bermanfaat bagi mahasiswa dalam  kebutuhan referensi untuk membantu menyelesaikan kuliah, ungkap Rektor Umuslim.

    Semoga bantuan ini  dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan semangat literasi di kalangan mahasiswa dan masyarakat khususnya dalam hal mendapatkan buku dan berbagai pengetahuan lainnya melalui perangkat berbasis IT,  menghadapi era digital  saat ini, jelas H.Amiruddin Idris (HUMAS)

     

    Foto : Hery Gustami

  • Amazing Istanbul

    KHAIRUL HASNI,Dosen Prodi Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang menempuh program doktor (S3) bidang HI di Ritsumeikan University Kyoto Japan, melaporkan dari Istanbul, Turki.

     

    Datang ke Turki, negeri yang penuh sejarah ini, merupakan pengalaman pertama bagi saya. Tujuan saya ke sini dalam rangka mengikuti International Conference on Islam and Islamic Studies, kegiatan yang difasilitasi oleh World Academy of Science, Engineering and Technology Turkiye. Ikut konferensi internasional merupakan salah satu syarat bagi kami untuk menyelesaikan program doktoral (S3).

    Seusai konferensi, saya berkesempatan melihat suasana Kota Istanbul yang relatif sibuk dengan berbagai bisnis dan dipenuhi turis mancanegara. Yang paling banyak dikunjungi adalah Istanbul, provinsi yang terletak di Turki barat laut. Tepatnya di wilayah Marmara. Luasnya 5.343 kilometer persegi dan jumlah penduduknya 81.916.871 jiwa (data 2018, worldomater).

    Istanbul kaya akan sejarah, mulai dari kebangkitan kekaisaran Yunani dan pendirian Byzantium hingga perubahan budaya dari Yunani ke Romawi dan pembentukan Konstantinopel (bahasa Turki: Kostantiniyye atau stanbul) hingga abad ke-20.

    Sekitar 470 tahun lalu Istanbul merupakan ibu kota Turki. Saat ini tidak lagi, tetapi kota ini tetap menjadi pelabuhan utama dan pusat komersial yang paling penting di Turki.

    Ibu kota Turki saat ini adalah Ankara, kota terbesar kedua di Turki. Negara ini terdiri atas 81 provinsi. Masing-masing memiliki gubernur yang ditunjuk oleh presiden dan dewan terpilih. Mayoritas penduduk Turki menganut Islam dengan persentase mencapai 99,8% dari total penduduknya. Muslim di Turki pengikut paham Sunni. Yang ikut Syi’ah kecil jumlahnya.

    Selain berwisata, saya juga belajar mengenai sejarah Turki yang menarik. Banyak desain bangunan lama yang bernilai history telah dijadikan tempat wisata dan dipelihara dengan baik. Saat mempelajari sejarah Turki, saya juga ingin tahu sosok Edorgan di mata masyarakatnya.

    Bahasa yang digunakan masyarakat Turki adalah bahasa Turki, Arab, dan Inggris. Kebanyakan dari mereka lebih mahir berbahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris.

    Perjalanan ke Istanbul tidaklah terlalu rumit, karena visanya bisa diurus secara online. Fasilitas hotelnya sangat banyak yang juga mudah didapat secara online. Menurut data Kementerian Pariwisata Turki, 32,4 juta wisatawan asing berkunjung ke Turki sepanjang 2017, Jerman 3,5 juta wisatawan, disusul Iran dengan 2,5 juta wisatawan.

    Saya juga beberapa kali bertemu pengungsi Suriah yang meminta bantuan untuk beberapa kebutuhannya. Pemerintah Turki telah membantu 3.272.150 pengungsi Suriah yang ditempatkan pada perumahan di hampir setiap kota di Turki , terutama di wilayah perbatasan. Menurut orang yang saya ajak berbincang-bincang, Turki telah memberikan pelayanan umum kepada pengungsi Suriah mencakup bantuan pendidikan, kesehatan, keamanan, dan juga biaya hidup.

    Kunjungan lainnya yang menarik bagi saya adalah melihat masjid-masjid yang dibangun dengan indah menakjubkan. Ada tujuh masjid terindah serta bersejarah di Turki, yaitu Masjid Hagia Shopia, Masjid Bayazid II, Masjid Sulaiman, Masjid Biru (Blue Mosque), Masjid Yeni Valide Camii, Masjid Ortakoy Camii, Masjid Dolmabahce, dan ada 82.693 masjid lainnya di Turki.

    Saya berkunjung ke Masjid Sultan Ahmed yang dipadati turis asing. Masjid Sultan Ahmed juga dikenal sebagai Blue Mosque (Turki: Sultan Ahmet Camii). Blue Mosque adalah masjid bersejarah di Istanbul. Masjid ini terus berfungsi sebagai masjid. Rasanya tak pernah berhenti orang berkunjung ke sini. Blue Mosque dibangun antara tahun 1609-1616 selama pemerintahan Sultan Ahmed. Ubin biru yang dilukis dengan tangan menghiasi dinding interior masjid dan pada malam hari masjid dipenuhi warna biru sebagai lampu membingkai lima kubah utama masjid, enam menara, dan delapan kubah sekunder.

    Blue Mosque adalah salah satu tempat bersejarah paling ikonik di Istanbul dan merupakan bagian penting dari cakrawala kota dengan enam menara yang megah. Di sisi atas terdapat rantai besar dan area atas terdiri dari 20.000 ubin keramik yang masing-masing memiliki 60 desain tulip. Di bagian bawah terdapat 200 kaca patri. Pada tingkat yang lebih rendah dan di setiap dermaga, bagian dalam masjid dilapisi lebih dari 20.000 ubin keramik buatan tangan znik, dibuat di znik (Nicaea kuno) di lebih dari 50 desain tulip yang berbeda-beda. Ubin di tingkat yang lebih rendah adalah desain tradisional, di tingkat galeri desain mereka menjadi flamboyan dengan representasi bunga, buah, dan cypress. Sebagian besar pengunjung berasal dari negara Islam, sedangkan yang nonmuslim diberikan hijab/kerudung untuk penutup kepala bila memasuki area masjid.

    Bagi saya, tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan semua kehebatan itu, kecuali Amazing Istanbul!

    Sisi lain yang menarik untuk dipelajari dalam perspektif politik dan pembangunan adalah Turki saat ini banyak berubah dan pembangunanya begitu cepat. Pada tahun 1924, Presiden Turki pertama Mustafa Kemal Ataturk menempatkan serangkaian reformasi politik, sosial, dan budaya yang pada akhirnya akan mengubah Kekaisaran Ottoman sebelumnya menjadi negara sekuler. Namun, lebih dari 90 tahun berlalu Turki tak sepenuhnya sekuler. Masih ada beberapa pengaruh agama. Pemerintahan Turki diatur dalam konstitusi yang disahkan tahun 1982. Konstitusi ini memberi bentuk pemerintahan parlementer yang terdiri atas presiden, perdana menteri, dan legislatif, Majelis Nasional Agung, dan legislator dipilih rakyat untuk masa jabatan lima tahun.

    Saat ini Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, telah menjabat dua periode, karena terpilih lagi pada Pemilu 2018. Karier Erdogan sebelum menjabat Presiden Turki dimulai dari Perdana Menteri dari 2003 hingga 2014, dan sebagai Wali Kota Istanbul dari 1994 hingga 1998. Pada tahun 2001 Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan terpilih sebagai Presiden pada tahun 2014. Presiden Erdogan berasal dari politik islamis dan demokrat konservatif, serta mempromosikan kebijakan ekonomi sosial konservatif dan liberal dalam pemerintahannya. Di masanya, pembangunan ekonomi dan infrasturktur yang berkembang di Turki sangat singnifikan perubahannya. Pertumbuhan tahunan rata-rata dalam PDB per kapita adalah 3,6%. Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) riil antara 2002 dan 2012 lebih tinggi daripada skor dari negara-negara maju. Sehingga, timbul sebutan nama “Turki baru” di bawah kekuasaan Presiden Erdogan telah berhasil meningkatkan ekonomi yang besar. Dari awalnya ranking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10% per tahun. Di masa pemerintahan Erdogan pula Turki telah masuk ke dalam 20 negara besar terkuat di dunia (G-20).

    Setelah memenangkan masa jabatan keduanya sebagai presiden pada bulan Juni, Presiden Erdogan mengokohkan penciptaan rezim politik baru. Erdogan juga telah menggunakan keadaan darurat dua tahun terakhir, sehingga membuat kewalahan masyarakat dalam mengikuti berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang dilakukannya, karena banyak kebijakan yang sewaktu-waktu berubah. Namun, rakyatnya tetap mengikuti kebijakan itu dan ikut aktif menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemerintahan otoriter yang mereka rasakan saat ini.

     

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 20/12/2018/ dengan judul : Amazing-istanbul 

  • Asyiknya Malam Pertama di Amor

    Oleh : ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim Peusangan

    Reportase ini berisi pengalaman saya saat menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) pada program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, di Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.

    Saat jadi DPL sekaligus pendamping rombongan saya berangkat bersama mahasiswa ke lokasi pengabdian. Seusai acara pelepasan di Kantor Bupati Bener Meriah, kami naik bus Cenderawasih ke kecamatan yang dituju. Setelah mendapat aba-aba dari Kepala Bapel KKM Umuslim, Drs Syarkawi MEd, bus yang penuh penumpang itu bergerak meninggalkan Kantor Bupati Bener Meriah menuju Kecamatan Mesidah.

    Sesampai di Simpang Tiga Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah, kami berhenti untuk makan siang dan shalat Zuhur. Sebelum berangkat, Camat Mesidah berpesan agar semua penumpang makan siang terlebih dahulu, karena di daerah Mesidah tak ada warung. Maklum, wilayahnya masih terisolir dan terpencil jauh ke pelosok gunung.

    Lokasi saya DPL ini berada di Kecamatan Mesidah, salah satu kecamatan baru di Bener Meriah. Ibu kotanya Wer Tingkem. Kecamatan ini hasil pemekaran dari Kecamatan Syiah Utama. Luasnya lebih kurang 286,80 km2. Mata pencaharian penduduknya berkebun kopi dan sayuran-sayuran. Kawasan ini termasuk salah satu kecamatan yang masih tertinggal.

    Setelah makan siang dan istirahat di warkop Simpang Tiga Redelong, kami lanjutkan perjalanan ke Mesidah melewati Pondok Baru. Kondisi jalannya masih mulus. Setelah melewati Pondok Baru tampak aspal di beberapa titik keriting dan terkelupas. Selama lebih kurang 35 menit dari Pondok Baru, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Angin yang sejuk dari AC alam menusuk masuk melalui jendela bus yang mulai keropos. Para mahasiswa yang mengenakan jaket almamater mulai merasa kedinginan.

    Dari Pondok Baru ke Mesidah hanya ada satu akses jalan. Kanan kirinya dibatasi tebing dan hamparan kebun kopi. Rombongan kami harus melewati titi yang diberi nama Titi Kanis. Mirip jembatan bailey yang dibangun TNI. Jalannya menurun dan sangat curam. Semua penumpang disuruh turun sopir dari bus. Kami berjalan kaki sekitar 15 menit sampai melewati Titi Kanis.

    Lokasi titi ini sangat angker, jauh dari perkampungan penduduk, apalagi kalau hujan, jalannya licin. Selain sepi, kawasan ini juga sering berkabut. Suara gesekan pohon bambu yang tumbuh lebat di sepanjang alur titi menambah kesan angker. Untung kami tak lewat malam hari di titi ini.

    Memasuki wilayah Mesidah memang sangat kontras bedanya dengan wilayah pesisir Aceh yang hingga tengah malam pun warung kopi atau kafe masih buka. D sepanjang jalan menuju Mesidah ini yang ada hanyalah hamparan rimbunya tanaman kopi diselinggi pohon lamtoro gung, labu jepang, dan alpukat. Lebih kurang satu jam perjalanan, sampailah kami di Kantor Camat Mesidah. Kami sudah ditunggu masing-masing reje (kepala kampung). 

    Raut wajah penumpang bus yang tadinya ceria kini berubah lesu tanda kecapaian. Setelah acara perkenalan dengan para reje, mahasiswa pun dibawa ke lokasi penempatan masing-masing oleh sang reje.

    Tibalah giliran kelompok mahasiswa yang ditempatkan di Amor. Kampung ini berada di Kemukiman Tungkuh Tige, terdiri atas tiga dusun: Jeroh Miko, Musara Ate, dan Simpang Tulu. Kampung ini bertetangga dengan Cemparan Lama, Cemparan Jaya, Buntul Gayo, dan Gunung Sayang. Luasnya lebih kurang 11,32 km2.

    Mahasiswa KKM yang ditempatkan di Amor berjumlah sepuluh orang(tiga cowok, tujuh cewek). Sebagai DPL saya mengantar mereka sampai ke lokasi. Dari kantor camat saya naik minibus L300 pikap 4 gerdang yang telah disiapkan reje. Perjalanan ke Kampung Amor teryata lebih gawat lagi. Jalannya masih beralas tanah dan berlubang. Aspalnya keriting dan banyak yang terkelupas. Topografinya mendaki, menurun, dan banyak sekali jurang di sepanjang perjalanan.

    Sesampai di lokasi penempatan, yakni di kantor reje, hujan rintik-rintik. Langit pun mulai ditutupi kabut putih. Jarum jam menunjukan pukul 18.00 WIB lewat. Suara petir menggelegar. Sesekali angin bertiup kencang. Udara dingin mulai menusuk setiap relung tubuh, sehingga sore itu pun giliran mandi sore terlewatkan begitu saja. Dan, karena situasi semakin gelap akhirnya saya putuskan untuk bermalam di Amor. Tak mungkin lagi saya kembali ke Bireuen.

    Bakda shalat Isya, kami tak langsung tidur, melainkan duduk berbincang bersama Pak Reje, Ibu Reje, dan beberapa tokoh masyarakat. Sambil kami memperkenalkan diri satu per satu, reje dan warga setempat menjamu kami dengan kopi panas, gorengan, dan bakong ijo (tembakau khas Amor) persembahan warga. Beberapa warga bahkan memimjamkan kami peralatan masak dan alas tidur. Semua ini makin menambah kehangatan persaudaraan pada pertemuan pertama kami di Amor, nama yang diadopsi dari nama Dewa Asmara dalam mitologi Yunani.

    Perasaan capek sejak siang kini berubah menjadi kehangatan karena kami disambut penuh kekeluargaan di malam yang dingin ini. Tanpa terasa perbincangan pada malam pertama di Amor memakan waktu hampir tiga jam. Perbincangan yang mengasyikkan dan menghanyutkan. Jarum jam terus berjalan, embusan angin dingin tak kunjung berhenti. Persahabatan yang baru terjalin pun terus mengeluarkan aroma harum, seharum wanginya aroma seduhan kopi Gayo. Malam pun semakin larut, hawa dingin terus merangsek ke setiap kain yang membalut tubuh kami.

    Malam pertama di Amor menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mahasiswa yang ditempatkan di kampung ini. Ada anggota kelompok mahasiswa yang tak bisa memejamkan mata malam itu karena tidak terbiasa dengan dinginnya malam hari, meskipun balutan selimut dan jaket begitu tebal menutupi seluruh tubuh. Dinginnya udara Amor malam itu membuat tubuh terasa membeku.

    Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 24.00 lewat, akhirnya Pak Reje dan beberapa warga pamit pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kami juga beristirahat dan bergegas untuk bobok, tanpa menghiraukan segala aksesori yang ada pada pakaian dan tubuh. Masing-masing kami merebahkan badan di atas tikar dan ambal yang diberikan reje. Lokasi tidurnya pun sudah dikapling-kapling. Mahasiswi tidur di dalam ruang kantor yang telah disulap jadi kamar bercorak minimalis alami, sedangkan mahasiswa tidur di balai depan kantor yang menjadi istana sementara bagi peserta KKM Umuslim.

    Alas tidur hanya lembaran tikar dan ambal, sedangkan bantal disulap dari gumpalan kain dan tas yang dibentuk menyerupai bantal. Semua perlengkapan tersebut seakan-akan pelaminan kasab emas yang dipakai saat prosesi pesta adat perkawinan untuk dipersembahkan kepada seorang permaisuri. Beralaskan tikar dan ambal sederhana sebagai pengganti springbed, tanpa terasa proses perjalanan bobok malam pertama ditemani embusan angin malam puncak Amor begitu kencang, sempat mengkhawatirkan ternganggunya perjalanan tidur kami. Kondisi itu ternyata bukan hambatan, buktinya semua kami akhirnya tertidur di puncak Amor.

    Subuhnya cuaca terasa semakin dingin. Kokok ayam dan gonggongan anjing di pagi itu tidak terdengar. Saat satu per satu kami bangun untuk shalat Subuh, badan rasannya sangat berat bangkit dari tempat tidur. Suhu dingin bagai memenjara kami di tempat tidur. Tapi saya pikir, ini pasti ulah iblis yang menggoda kami agar lalai dari kewajiban shalat Subuh.

    Akhirnya, dengan “tendangan 12 pas” saya bangkit mengalahkan godaan iblis dan langsung bergerak ke kamar mandi untuk berwudhuk. Saat semuanya bangun dari tempat tidur saya perhatikan hampir semua mahasiswa mengenakan dua lapis jaket, seperti gaya orang hendak ke kebun. Di leher mereka terlilit kain sarung, bagaikan syal.

    Setelah shalat Subuh dan sarapan pagi, saya akhirnya pamit untuk kembali ke Bireuen. Saya tinggalkan para mahasiswa Umuslim untuk melaksanakan KKM selama 29 hari ke depan di Kampung Amor dan sekitarnya. Saya bayangkan, bukan tantangan kerja nyata di siang hari yang berat bagi mereka, tapi justru sergapan hawa dingin di malam hari yang justru lebih berat.

    Semoga semua mahasiswa kami mampu bertahan di Amor, desa dengan perlambang cinta yang membara, tapi dilingkupi udara yang demikian dinginnya. Nah, Anda ingin menikmati dinginnya cuaca di gunung yang perawan dan suasana pagi dengan mulut berasap? Silakan datang ke Amor.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 22/04/2019 di Rubrik Jurnalisme Warga dengan judul Asyiknya-malam-pertama-di-Amor.

     

  • Asyiknya Menari ‘Likok Pulo’ di Solo

     

     

    OLEH NATSUKO MIZUTANI, mahasiswi asal Jepang, peserta program Darmasiswa di UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Solo, Jawa Tengah

    SAYA sedang berada di Solo, Jawa Tengah. Hadir ke sini dari Banda Aceh dalam rangka acara penutupan Program Darmasiswa Tahun Akademik 2018/2019 yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI)Solo. Peserta kegiatan ini mahasiswa dari seluruh dunia yang sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas seluruh Indonesia selama sepuluh bulan.

    Program Darmasiswa adalah program tahunan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas di Indonesia.

    Saya ikut Darmasiswa karena beberapa alasan. Pertama, ingin belajar bahasa Indonesia. Sebelumnya saya sudah belajar bahasa Indonesia dua tahun enam bulan di Jepang, dan setahun lagi saya belajar di Aceh saat ikut pertukaran pelajar kerja sama Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Bireuen.

    Pada akhir program Darmasiswa, peserta disuruh tampilkan berbagai budaya daerah Indonesia. Kami yang mengikuti program ini di UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menampilkan tarian Aceh, likok pulo. Tarian tradisional Aceh ini kami tampilkan di hadapan perwakilan dari negara lain, peserta program Darmasiswa se-Indonesia, juga pejabat lainnya.

    Tim tarian kami hanya empat orang, saya Natsuko Mizutani asal Jepang bersama Toyly Ashyev dari Turkmenistan (Asia Tengah) yang belajar di UIN Ar-Raniry, sedangkan Alagie Salieu Nankeyasal dari Gambia dan Nooreena Makeji asal Thailand belajar di Unsyiah. Walau hanya empat orang, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menarikan likok pulo.

    Sebelum pementasan di Solo, kami berlatih tarian ini sejak Maret 2019. Latihan seminggu dua kali, dipandu seorang guru dari Prodi Sendratasik FKIP Unsyiah. Saking senangnya, pada bulan puasa lalu pun kami tetap latihan.

    Saat tampil berbusana Aceh, saya memakai pakaian yang cukup sopan, pakai hijab, dibalut pakaian Aceh bersulam benang emas. Yang laki-lakinya memakai kopiah dan selipkan rencong di pingang. Gagah sekali mereka.

    Saya sangat tertarik dan senang bisa belajar likok pulo, tarian Aceh yang sangat khas. Gerakannya unik sekali. Untuk memainkan tarian ini kita harus benar-benar fokus dan kuat fisik karena gerakannya tak boleh berhenti sebelum ada aba-aba dari syeh. Gerakannya cepat dan payah, apalagi saya dan teman masih agak kaku, tetapi saya sangat senang. Para penari duduk berlutut dengan sopan, berbanjar dengan sandaran bahu sejajar, gerakannya dimulai pelan, lama-lama begitu cepat, dan serentak.

    Likok pulo ini banyak sekali gerakannya. Semua badan harus bergerak, seperti geleng kepala, tangan, badan, ada yang gerak ke atas, ke samping, juga seperti gerakan senam ke atas kepala

    Bagi saya, bagian tersusah dari tarian ini adalah pada syairnya, karena harus diucapkan dalam bahasa Aceh. Sangat sulit lidah kami mengucapkan syair sesuai yang telah kami tulis di kertas.

    Saat syair dimulai, rasanya semangat untuk bergerak langsung timbul, bersemangat melakukan berbagai gerakan, awal-awal lambat kemudian tiba-tiba cepat, dinamis, dan bersemangat sekali. Sangat asyik menarikannya. Saya tak bisa melupakan tarian ini.

    Saat kami persembahkan tarian itu pada acara perpisahan di Solo, semua yang hadir bertepuk tangan. Penonton sangat senang dan suka tarian yang kami tampilkan. Pokoknya, saya asyik sekali menarikan tarian ini. Sangat berkesan. Tarian ini benar-benar tidak saya jumpai di negara lain.

    Walau permainan dan gerakan kami masih janggal dan banyak salah-salah, kami harapkan orang Aceh maklum, karena kami latihan hanya beberapa minggu saja. Semoga satu waktu nanti saya dan kawan-kawan bisa belajar lebih mahir lagi dalam menarikan likok pulo.

    Di Solo kami berjumpa kawan-kawan seluruh dunia. Meski kami belajar bahasa di universitas yang berbeda di Indonesia, tapi dengan adanya acara tersebut kami bisa mengenal satu sama lain.

    Begitu juga dengan teman satu grup yang dari Aceh, walau belajar di fakultas berbeda, ada dari UIN-Ar Raniry dan Unsyiah, tetapi saat tampil membawa tarian kami kompak dan akrab, karena kami belajar dan latihan tarian secara bersama.

    Sebelumnya, saat ikut kuliah di Umuslim Bireuen saya juga pernah belajar tarian saman (ratoh jaroe) dengan teman-teman di sanggar Umuslim. Tariannya juga sangat membutuhkan gerakan cepat, tapi mengasyikkan. Gerakan tarian ini harus seragam dan kompak, kalau tidak bakal bentrok gerakan sesama penari dan tariannya jadi tak bagus dipandang mata.

    Selain tertarik pada tariannya, saya juga tertarik pada Aceh. Sudah empat kali saya ke Aceh. Pertama, saya datang belajar di Umuslim Matangglumpang Dua. Saya tahu Indonesia cuma Aceh saja. Waktu penutupan program Darmasiswa kemarin, itulah pertama kali saya keSolo. Saya sudah hampir dua tahun tinggal di Aceh. Ke Solo rasanya agak aneh, karena saya baru tahu bahwa Solo juga bagian dari Indonesia. Saya pikir, Indonesia itu hanya Aceh dan budaya Aceh saja. Pengalaman ke Solo kemarin rasanya saya seperti jalan-jalan ke luar negeri. Hehehe.

    Bagi saya, itu sangat berharga dan menyenangkan karena saya semakin tahu tentang Indonesia, bertemu teman-teman berbagai negara, menampilkan tarian dan budaya dari daerah tempat mereka belajar selama di Indonesia.

    Dalam waktu bersamaan merasa senang sekaligus sedih, karena akan berpisah dengan teman-teman dan kami akan pulang ke negara masing-masing. Saya kembali ke Jepang pada 15 Juli 2019. Rasanya sangat berat bagi saya meninggalkan Aceh. Aceh sangat terkesan bagi hidup saya, sulit melupakannya. Saya ingin berlama-lama di sini, saya mau kembali lagi ke sini, tapi tak tahu kapan

    Aceh telah memberikan banyak ilmu dan kenangan bagi saya, banyak teman dan saudara saya di aceh. Arang aceh sangat baik dan ramah, semua senang dan sayang pada saya. Selama tinggal di Aceh saya dibantu oleh Kantor Pusat Layanan Internasional UIN Ar-Raniry dan Office International Affair (OIA) Unsyiah baik dari segi akademik maupun nonakademik. Begitu juga saat saya kuliah dua semester di Umuslim, saya dibantu Kantor Urusan Internasional Umuslim.

    Terima kasih semuanya dan terima kasih Serambi Indonesia yang telah memuat tulisan saya. Saya akan kembali ke Jepang, mungkin nanti akan saya coba tulis lagi pengalaman saat saya di Jepang.

    Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Kemendikbud RI, KBRI Tokyo, Osaka, Kantor Imigrasi Kelas I Banda Aceh, UIN Ar-Raniry, Unsyiah, dan Umuslim, dosen, ibu angkat, kawan-kawan, dan orang tua teman yang tidak bisa sebutkan satu per satu yang telah membantu dan menjadi teman baik dan orang tua angkat saya, serta mau mengajarkan berbagai hal dan ilmu kepada saya selama di Aceh.

    Agustus mendatang dua orang teman saya dari Nagoya Gakuin University Jepang akan kuliah di Universitas Almuslim Bireuen selama setahun dalam program pertukaran pelajar. Saya mohon mereka dibantu, agar kawan saya juga sukses belajar dan betah seperti saya di Aceh. Saya berharap kita dapat berjumpa kembali di lain waktu. Teurimong gaseh, arigatou

     

    Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com/2019/07/05/ dengam judul Asyiknya menari likok pulo di solo

     

     

  • Asyiknya menyesuri sungai Kahayan

    RAHMAD, S.Sos., M.AP., Dosen FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah

    Kampus tempat saya mengajar menugaskan saya ikut mendampingi mahasiswa Universitas Almuslim bersama rombongan mahasiswa Aceh lainnya ikut kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangka Raya. Nah, kota ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, mulai dari presiden hingga rakyat biasa, karena termasuk salah satu calon lokasi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, jika jadi dipindah dari DKI Jakarta.

    Kami bersama rombongan mahasiswa dari Aceh tiba dengan selamat dan pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Tjilik Riwut sekitar pukul 09.15 WIT,

    Perjalanan panjang yang begitu melelahkan ini terasa mengasyikkan, dimulai dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh transit sebentar di Bandara Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bandara Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah.

    Sesampai di Palangka Raya kami disambut oleh panitia yang sudah menunggu, selanjutnya kami diantar ke tempat penginapan yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

    Suasana perjalanan kami ke penginapan begitu semarak karena sepanjang jalan dihiasi berbagai spanduk dan umbul-umbul selamat datang. Begitu juga dengan keramahtamahan masyarakat dalam menyambut tamu yang datang. Mereka begitu hangat dan bersahabat.

    Walaupun lamanya perjalanan yang saya tempuh membuat tubuh ini terasa sangat lelah, tapi sesampai di kota ini rasa capek hilang seketika sehingga tidak membuat saya terus beristirahat di penginapan, melainkan terus mencari beberapa lokasi untuk cuci mata di seputaran Kota Palangka Raya.

     Salah satu objek yang saya prioritaskan untuk dikunjungi adalah sebuah sungai terkenal di kota ini, yakni Sungai Kahayan. Sungai ini dekat saja dari tempat saya menginap.

    Banyak informasi yang disampaikan warga di seputaran sungai ini dan sangat bermanfaat bagi saya. Setelah mendapat informasi tersebut saya pun langsung mencari perahu kecil (kelotok) yang selalu siaga bagi para wisatawan yang ingin menyusuri sungai sambil menikmati pemandangan lebatnya hutan di sepanjang aliran sungai tersebut.

    Alhasil, dengan menumpang perahu saya mengikuti perjalanan menyusuri Sungai Kahayan. Sepanjang perjalanan menyelusuri sungai yang membelah Kota Pelangka Raya tersebut, saya juga terkesima oleh pemandangan hutan yang begitu lebat dan hijau, juga dihiasi pemandangan rumah-rumah apung warga di sekitar sungai yang masih sangat sederhana dan sangat kental dimensi tradisionilnya. Jauh sekali berbeda dengan permukiman warga di kota besar.

    Suasana berbeda begitu terasa ketika saya naik perahu kelotok sambil mendengar cerita dan menikmati pemandangan. Kejar-kejaran perahu kelotok ditambah lebatnya hutan di sepanjang aliran Sungai Kahayan membuat wisata sungai ini sangat menarik.

    Sangat banyak perahu kelotok yang menyusuri aliran Sungai Kahayan yang airnya jernih. Sungai ini luasnya mencapai 81.48 kilometer persegi, panjang 600 kilometer, lebar 500 meter, dan kedalaman rata-rata 7 meter. Sungai yang membelah Kota Palangka Raya ini juga sering disebut dengan Sungai Biaju Besar atau Sungai Dayak Besar.

    Sungai Kahayan memiliki bentuk unik karena terlihat seperti teluk yang menjorok ke dalam. Alur sungainya sangat dalam, sedimentasi di mulut sungai menyebabkan pendangkalan di sekeliling sungai. Saat melakukan wisata susur Sungai Kahayan kita tak hanya bisa menikmati pemandangan alam yang indah. Wisatawan juga bisa melihat kehidupan suku Dayak yang mendiami sepanjang alur sungai ini dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi nenek moyangnya.

    Setelah menyusuri Sungai Kahayan hampir seharian, malamnya kami diterima secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Tengah di kediamannya. Dalam jamuan makan malam tersebut kepada kami dihidangkan kuliner khas Kalimantan Tengah. Salah satunya adalah wadi ikan patin.

    Dalam pidato pembukaan pak Gubernur mengatakan, apa pun alasan dan destinasi yang dituju selama di Palangka Raya akan lebih lengkap jika kita mencicipi kuliner khas Palangka Raya yang terkenal dengan rasanya yang gurih, yaitu wadi patin. Saat saya cicipi, wadi ikan patin itu memang luar biasa cita rasanya. Gurih, asam, dan asin berpadu jadi satu.

    Wadi patin merupakan fermentasi ikan patin yang sering menjadi hidangan istimewa masyarakat Palangka Raya saat menyambut tamu luar yang datang ke kota tersebut.

    Meskipun ada rasa asam dan asinnya, hidangan ini sangat khas dan segar. Apalagi dihidangkan dengan sambal serai dan dimasak dengan cara digoreng atau dikukus (steam).

    Palangka Raya adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah yang luasnya 2.400 km2 dan berpenduduk 258.156 jiwa. Palangka Raya merupakan sebuah kota yang indah dengan beragamnya budaya serta keindahan alamnya.

    Sungai Kahayan yang mengalir membelah kota tersebut memberikan suatu pemandagan khas daerah tropis, dengan keberadaan sungai yang telah memberi warna Kota Palangka Raya telah dimanfaatkan sebagai destinasi wisata air dan telah memberikan dampak dalam peningkatan dan menggeliatkan roda perekonomian dan kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

    Sektor wisata di Palangka Raya saat ini memang sedang berbenah dan mereka bersiap menjadi salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

    Di sisi lain, sebutan Palangka Raya sebagai kota ratusan sungai membuat saya bertanya-tanya ada apa dengan kota tersebut. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Tjilik Riwut, saya merasakan ada hal yang beda, karena hampir semua daerah mereka menggunakan transportasi air, semisal kelotok.

    Jika kita datang ke Jakarta maka kita akan melihat kemacetan di mana-mana. Namun suasana itu tidak ditemukan di Kota Palangka Raya. Jalanannya lengang dan bebas macet.

     Sebenarnya wacana Palangka Raya sebagai ibu kota negara bukanlah hal yang baru. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada tahun 1957, bahkan sudah mempersiapakan perencanaan yang matang saat itu Palangka Raya sabagai ibu kota negara. Hal tersebut dibuktikan dengan tugu yang letaknya dekat dengan jembatan Kahayan.

     Dalam buku berjudul Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangka Raya karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan Indonesia.

    Ada berbagai alasan munculnya wacana pemindahan pusat pemerintahan oleh Presiden Joko Widodo, bahkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah mewacanakannya.

    Ada beberapa alasan mereka memilih kota tersebut sebagai salah satu calon ibu kota RI. Pertama, wilayah Palangka Raya merupakan daerah yang berada di titik tengah wilayah Indonesia, kemudian daerah tersebut tidak memiliki gunung berapi yang aktif dan tidak bersentuhan dengan lautan lepas sehingga tidak rentan terhadap ancaman gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Kalimantan merupakan pulau besar yang paling aman di Indonesia, tidak seperti Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia yang rentan gempa setiap tahunnya.

    Kalimantan juga mempunyai luas wilayah hutan dan jumlah sungai yang banyak sehingga menjadikan Palangka Raya relatif aman dari terjangan banjir. Tetapi apa pun alasan yang telah dipublikasi tersebut, jadi tidaknya kota tersebut ditetapkan sebagai ibu kota negara mari kita tunggu hasil survei dan penetapan secara resmi oleh pemerintah.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.comtanggal 16/05/2016 dengan judul Asyiknya Menyusuri Sungai Kahayan.

     

  • Belajar penerapan Syariat Islam di Negara Qatar

    OLEH KHAIRUL HASNI, Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim  (Umuslim) Peusangan, Bireuen, sedang menempuh program doktor Hubungan Internasional di Ritsumeikan University Kyoto Japan, melaporkan dari Qatar

    QATAR merupakan negara penghasil minyak dengan pendapatan per kapita tertinggi. Ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga di dunia. Negara ini tidak mengenakan pajak penghasilan terhadap warganya. Tingkat pajaknya pun terendah di dunia. Dengan jumlah penduduk 2,27 juta, Qatar menduduki peringkat salah satu negara terkaya di dunia.

    Kehadiran saya ke negara Qatar  pertama untuk mempelajari berbagai hal tentang pelaksanaan syariat islam di negeri kaya minyak, kedua saya gunakan untuk bertemu beberapa keluarga dan sahabat yang sedang bekerja dan study di negeri tersebut.

    Saat pertama sekali tiba di Qatar, saya saksikan banyak orang asing (ekspatriat) yang melayani orang asing di airport maupun di pusat layanan transportasi. Hampir semua yang bekerja adalah orang asing. Jumlah pekerja asing sekitar 88% dari penduduk Qatar dan orang India merupakan komunitas terbesar di sini, disusul Nepal, Bangladesh, Filipina, Mesir, Sri Lanka, Pakistan, dan Indonesia.

    Negara ini sangat mengandalkan tenaga asing untuk pertumbuhan ekonominya. Pekerja migran mencapai 86% dari total penduduk dan mencapai 94% dari total angkatan kerja.

    Di Qatar, 90% orang dapat dan mengerti bahasa Inggris. Jadi, Anda tidak perlu cemas jika tak bisa berbahasa Arab di sini, karena sebagian besar mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

    Walaupun orang asing mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi di Qatar, tapi banyak masalah juga dengan pekerja migran, yaitu pemotongan gaji, pembatasan gerak, penahanan sewenang-wenang, dan pelecehan fisik, mental, dan seksual. Itu karena, di Qatar belum ada aturan khusus yang mengatur tentang ini.

    Di sisi lain, perempuan Qatar cenderung memilih pekerjaan di pemerintahan, khususnya di kementerian pendidikan, kesehatan, dan urusan sosial. Posisi tingkat tinggi dipegang terutama oleh laki-laki. Tapi kehadiran tenaga kerja asing telah menempatkan lebih banyak perempuan di ranah publik. Selain itu perempuan asing sebagian besar dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, guru, perawat, dan pekerja administrasi.

    Berkunjung ke Qatar kali ini membuat saya juga berkesempatan untuk belajar tentang pelaksanaan syariat Islam. Qatar merupakan negara yang mayoritas penduduknya (76%) muslim. Hukum syariah diterapkan pada hukum yang berkaitan dengan hukum keluarga, warisan, dan beberapa tindakan kriminal (termasuk perzinahan, perampokan, dan pembunuhan).

    Sangat menarik melihat implementasi syariat Islam di negara ini. Qatar menganut sistem hukum campuran antara hukum sipil dan hukum syariat. Jika terdakwa seorang muslim maka hanya pengadilan syariahlah yang memiliki yurisdiksi atas kejahatannya.

    Selain itu, beberapa poin sempat saya catat selama di Qatar. Pertama, dalam perspektif perbankan, Pemerintah Qatar telah menjadi pemain terkemuka di sektor perbankan Islam sejak awal 1980-an, ketika bank pertamanya yang berbasis syariah dibuka untuk bisnis.

    Kedua, dalam pelaksanaan syariat Islam tahun 2014, Qatar meluncurkan kampanye kesopanan untuk mengingatkan wisatawan tentang kode busana sederhana di publik. Saya melihat orang asing yang bekerja di swalayan tidak diharuskan untuk berbusana muslim. Yang penting, mereka mengenakan pakaian yang sopan sesuai aturan yang telah ditetapkan.

    Ketiga, negara ini membuka space bagi nonmuslim. Contohnya, minuman beralkohol yang legal diperjualbelikan di sebagian Qatar. Misalnya, beberapa hotel bintang lima diperbolehkan menjual alkohol kepada konsumen nonmuslim.

    Ada sejumlah peraturan yang mengatur konsumsi alkohol. Muslim tidak diizinkan mengonsumsi alkohol di Qatar. Apabila tertangkap mengonsumsi alkohol maka dapat dicambuk atau dideportasi. Namun, muslim yang dipidana karena alkohol bisa mendapatkan pengurangan hukuman beberapa bulan apabila dia mampu menghafal Alquran saat dipenjara.

    Suatu hal yang luar biasa, Qatari (sebutan untuk orang Qatar), khususnya yang kaya, mereka umumnya membangun masjid di samping rumah mereka. Siapa saja dapat datang untuk beribadah di situ. Boleh dikatakan negara ini adalah negara seribu masjid. Apalagi di sini, shalat jamaah wajib dilakukan di lingkungan masjid.

    Kehadiran pekerja asing juga ikut memengaruhi kehidupan masyarakat Qatari. Misalnya, makanan khas Qatar telah dipengaruhi oleh hubungan dekat ke Iran dan India. Wajar kalau makanan khas Qatar juga telah dipengaruhi oleh cita rasa kedua negara itu.

    Terus terang, ada perasaan yang sangat nyaman karena makanan yang tersedia itu adalah halal. Saya sangat terkesan dengan cita rasa makanan di Qatar, tapi sayang belum semuanya saya coba.

     

    Cerita ini pernah tayang dihttp://aceh.tribunnews.com pada tanggal 19/11/2018/ dengan judul : Menghafal-quran-hukuman-dikurangi

     

  • Catatan Gadis Yahudi yang Lahir di Banda Aceh

    OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

    SEBAGAI peneliti yang pernah bergelut dalam kajian Sejarah Yahudi di Indonesia, saya ingin mengisahkan cerita melalui satu catatan harian seorang anak Yahudi bernama Clara Bolchover Nisse yang lahir di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Ia bersama orang tuanya menetap di Desa Blower (sekarang Gampong Sukaramai), Banda Aceh. Pamannya, Adolf/Adolphe Bolchover adalah orang yang menghibahkan tanahnya untuk lokasi perkuburan Yahudi di Kerkoff. Catatan harian ini diberikan kepada saya oleh keluarga besar Bolchover di Inggris yang khusus datang ke Banda Aceh. Arsip ini saya simpan sebagai bagian dari draf buku yang sedang saya tulis tentang Sejarah Yahudi di Aceh.

    Catatan harian ini ditulis dalam bahasa Inggris. Dari catatan ini setidaknya memberikan gambaran tentang situasi Kota Banda Aceh di masa Hindia Belanda sebelum 1912. Catatan ini saya terjemahkan yang petikannya sebagai berikut:

    Pertama, izinkan saya (Clara Bolchover Nisse) memberi Anda gambaran di mana saya dilahirkan. Koetaradja berada di timur laut dari Pulau Sumatra dan diperintah oleh Belanda yang memiliki garnisun di kota dengan sejumlah fasilitas medis dan bisnis. Gubernur pulau itu tinggal di sana dan sejumlah pemilik kebun karet dan kelapa mempekerjakan orang Cina. Orang Melayu sebagian besar merawat tanah mereka yang kecil untuk menanam sereal atau tanaman biji-bijian dan sayuran dan suka memancing di sungai dan laut. Semua rumah dan bangunan berada di atas panggung sehingga air tak membanjiri mereka ketika musim hujan.

    Karena berada sedikit di arah utara khatulistiwa maka keadaan lingkungan terasa sangat panas dan lembab. Di Krueng Aceh banyak buaya, termasuk yang berukuran besar. Para wanita yang mencuci pakaian di pinggir sungai haruslah ekstrahati-hati. Banyak juga ular berukuran besar seperti boa pembelit (boa-constrictor), laba-laba, dan kalajengking yang menakutkan. Harimau berukuran besar berkembang biak di sana, tapi singa tak ada. Ayah saya datang ke Sumatra untuk bergabung dengan dua saudara lelakinya terkait dengan apa yang dikenal sebagai Skema Kolonisasi Belanda (mengikuti program naturalisasi). Ia datang dari Rumania dan tak mengikutsertakan ibu saya untuk bergabung dengannya sampai dia berhasil mencari nafkah dari hasil perkebunan kelapa, tidak termasuk usaha pengolahan limbah kelapa.

    Ibuku tak terlalu senang ketika datang ke Koetaradja. Dia merasa menderita karena sering terkena biang keringat dan tak pernah dalam kondisi sehat. Saya memiliki saudara kembar dan dua saudara laki-laki. Kami dilahirkan berselang tiga tahun. Ada “Ayah” (sebutan untuk orang yang menjaga kami) dan dia adalah orang-orang yang berhati lembut.

    Orang yang saya ingat sebagian besar adalah: 1) Juru masak kami, orang Cina yang biasa mengamuk setiap enam bulan sekali sambil berlarian, mengayun-ayunkan pisau dapur ukuran besar; 2) Sebuah keluarga Spanyol yang memelihara kuda yang mereka datangkan dari pulau terluar. Saya anak yang nakal dan memberanikan diri naik ke atas kuda tanpa seizin pemiliknya. Setelah naik di atasnya, kuda itu mengempaskan saya ke tumpukan sampah. Lengan dan lutut saya terluka; 3) Seorang pria besar bernama Kugelman, suaranya sangat keras yang membuat kami sedikit takut, tapi berhasil menghibur kami dengan memberi kami banyak permen dan hadiah.

    Tentu saja ada banyak kejadian yang masih kami ingat. Misalnya, ketika kami menemukan buaya dan ular air di beranda rumah setelah hujan deras dan angin kencang. Di musim hujan, kami pun berkeliling menggunakan perahu untuk mengunjungi teman dan tetangga kami.

    Ketika saya berusia lima tahun, ibu saya meninggal dan diputuskan bahwa kami harus pindah ke biara (Sekolah Jesuit) di Kota Penang, Malaya. Jaraknya sekitar 300 mil dari Koetaradja, melintasi laut, dan butuh waktu tiga hari dengan kapal untuk tiba di sana. Semuanya dalam kondisi bingung dan ketika kami turun dari kapal, kami dijemput dengan becak dan dibawa ke biara yang berada di ujung Quay St. Itu adalah bangunan ukuran besar dan ada 400 anak yang tinggal di sana. Kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak orang Eropa dan Cina yang memiliki orang tua yang mampu membayar. Ada sekitar 50 orang jumlah kami, sedangkan siswa laki-laki tinggal bersama para biarawan di biara terdekat.

    Kelompok kedua adalah golongan peranakan (berdarah campuran), sedangkan kelompok terbesar adalah anak-anak pribumi yang ditempatkan di gedung terpisah. Kami memiliki sedikit komunikasi dengan mereka. Mereka tidak dibenarkan berbicara dengan kami dan kalau ketahuan akan dihukum.

    Para biarawati cukup baik kepada kami, kecuali ada beberapa yang kurang ramah. Salah satunya yang mengajari kami bermain piano dan untuk setiap nada salah yang kami mainkan, ia mengetuk jari pada sendi kami dengan tongkat yang tajam. Namanya Sister Josephine dan kami membencinya. Kami menjulukinya “Sister Pin” karena dia sangat kurus dan memiliki dagu dan hidung yang panjang. Ada juga hukuman lain, dihukum dengan berlutut di lantai batu selama beberapa jam tanpa memalingkan kepala dari dinding. Ada pun sanksi lain yang tak begitu kami pedulikan adalah enam cambukan di setiap pipi dan tangan. Paling tidak, lebih dari itu, kami menunjukkan bekas luka kepada teman-teman kami.

    Kami semua mengenakan pakaian katun yang sama seperti baju tidur yang diikatkan di pergelangan kaki, tangan, dan leher. Dan ketika ke luar rumah, kami harus mengenakan topi jerami kerucut yang lebar seperti yang dikenakan para pekerja. Semua ini untuk mencegah sengatan matahari. Pada hari Minggu kami harus pergi ke gereja, karena itu kami memiliki gaun berenda putih dan topi yang cantik. Dan kami diizinkan bermain di halaman yang memiliki air pancur. Air pancur ini mengingatkan saya--setiap Jumat pagi dini hari--semua anak dari ketiga ordo harus antre. Kami semua mendekati sebuah meja di mana seorang biarawati menahan hidung kami dan yang lain menuangkan sesendok minyak kastor (minyak jarak). Ugh! Tapi kami semua berusaha menahan napas dan setelah itu berlari ke air pancur untuk meminum airnya. Bau minyaknya membuat kami mual.

    Halaman biara dalam keadaan tertutup dan berada di dekat pantai. Kami terkadang diizinkan main ke pantai, tapi jarang yang berani mandi di sana. Soalnya, masih begitu banyak hiu pemangsa manusia di perairan dan ada beberapa kejadian mengerikan yang dialami anak laki-laki yang berenang terlalu ke tengah.

    Ayah saya biasanya datang setiap tiga bulan sekali untuk menjenguk kami. Kami sangat senang ketika ayah mengunjungi kami karena kami bisa menginap bersamanya di Raffles Hotel yang memiliki taman-taman yang indah.

    Nah, demikianlah isi catatan Clara Bolchover Nisse (Nisse, nama suaminya). Ia meninggal 28 tahun lalu di Inggris, sedangkan ibunya Deborah Bolchover meninggal di Koetaradja tahun 1908 dan dikebumikan di Kerkoff. Demikian juga Adolf Bolchover yang meninggal tahun 1897 juga dikebumikan di Kerkoff.

    Keluarga besarnya menyampaikan terima kasih karena saya telah berhasil meyakinkan mereka untuk memugar kuburan keluarga Bolchover di Kerkoff. Mereka juga baru tahu bahwa nama Bolchover menjadi cikal bakal nama Gampong Blower (Belowor) di Banda Aceh. Mereka mengatakan jika suatu saat mengunjungi Inggris, silakan menghubungi dan menginap di rumah mereka. “Kamu punya rumah di sana. Rumah kami juga rumah kamu,” demikian kira-kira ungkapannya. Saya menyampaikan terima kasih atas perhatian mereka dan semoga suatu saat bisa bertemu dengan keluarga yang punya kenangan dengan Aceh ini

     

    Cerita ini sudah pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 28/05/2019/ dengan judul Catatan gadis yahudi yang lahir di Banda Aceh.

  • Cerita Unik di Bilik TPS

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen di Universitas Almuslim Peusangan.

    Tahun 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif digabungkan pelaksanaannya secara serentak. Untuk pertama kalinya pula pemilih harus mencoblos lima surat suara ketika berada di bilik tempat pemungutan suara (TPS).

    Persaingan antarkandidat pun menjadi sangat ketat, khususnya di antara calon anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah (DPD) yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karenanya, pesertapemilu harus aktif menyusun strategi dan trik untuk merangkul sebanyak-banyaknya pendukung, mulai dari pemilih pemula, mahasiswa, perempuan, bahkan manula.

    Suatu pemandangan yang tak pernah kita temui pada tahun sebelumnya adalah begitu banyaknya foto yang terpampang di sepanjang jalan raya, lorong, bahkan di jalan setapak, apalagi ruang terbuka, sehingga pajangan foto tersebut mampu mengalahkan iklan komersial lainnya.

    Foto peserta, baik pilpres maupun pileg, bertaburan layaknya iklan terbuka, mulai dari yang kecil, sedang, bahkan dalam bentuk baliho besar. Penuh warna-warni, ditambah lagi dengan lambaian bendera dan umbul-umbul partai dalam berbagai ukuran di sepanjang jalan yang kita lewati. Semua itu semakin menambah semaraknya pesta demokrasi tahun ini. Nah, pemandangan yang unik itu kini telah menjadi kenangan.

    Pagi itu, Rabu,17 April 2019, seperti biasa tugas saya pada hari libur adalah membersihkan rumah dan menyiram bunga di taman, sementara itu banyak orang kampung mulai dari remaja dan emak-emak melewati jalan di depan rumah kami. Saya lirik jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saya tanya seseorang, “Mau ke mana pagi-pagi sekali?” Dia sahut, “Mau cepat-cepat ke TPS, takut nanti terlambat dan masih banyak tugas di rumah yang belum selesai.” Ya, hari itu adalah puncak pesta demokrasi yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia.

    Tepat pukul 09.00 WIB saya dan suami melangkah ke lokasi pelaksanaan pemilu di halaman masjid desa tempat tinggal kami. Ada delapan TPS yang tersedia. Saya memilih di TPS 8 sesuai surat pemberitahuan pemungutan suara yang dibagikan sebelumnya.

    Sebelum masuk ke TPS, saya sempat melihat beraneka ragam tingkah polah pemilih yang akan memberikan suaranya. Ada yang berdiskusi, ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang berpakaian modis dan berdandan layaknya seperti orang yang hendak ke pesta. Ada juga pemilih yang pakai pakaian ke sawah karena sepulang coblos dia berniat langsung ke sawah.

    Pesta demokrasi tahun 2019 ini sungguh berbeda dari tahun sebelumnya. Selain untuk memenuhi hak pilih, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Ada yang lima tahun lalu bertemu di TPS, baru saat ini bertemu kembali di tempat yang sama. Itu karena ada warga yang sudah beberapa lama pindah tempat tinggal, tapi saat pemilu mereka pulang kampung untuk memilih karena kartu keluarga (KK)-nya masih terdaftar di kampung asal.

    Antusiasme masyarakat bukan hanya dari kalangan yang telah memiliki hak memberikan suara, tetapi juga turut diramaikan oleh anak anak dan para pedagang yang menjajakan makanan ringan di lokasi pencoblosan. Bahkan terjadi perbincangan antara pedagang dan anak anak tentang siapa yang dipilih.

    Banyak cerita unik yang terjadi di luar TPS. Tapi yang paling seru justru di bilik TPS. Sambil menunggu giliran saya sempat mendengar dialog orang-orang yang ada di dekat bilik. Ada yang bertanya siapa yang kita pilih. Ada yang menunjuk langsung ke foto caleg, “Pilih yang ini!” Ada yang berdiskusi menyamakan pilihan. Ada pula nenek yang dipapah oleh keluarganya ke dalam bilik suara. Cucunya bertanya siapa yang akan dia pilih. “Terserah pilih siapa saja,” kata nenek tersebut. Akhirnya keluargalah yang mencoblos sesuai pilihan hatinya. Di dalam hati saya berkata, andaikan ada lagi orang seperti itu mungkin akan saya giring semua ke kandidat pilihan saya. Hehehe.

    Cerita berikutnya berasal dari TPS lain. Ada pemilih yang setelah masuk ke bilik TPS hanya tiga menit sudah selesai dan mengembalikan tiga kertas suara kepada petugas. Alasan dia yang disampaikan dalam bahasa Aceh cukup menarik. Intinya, di antara calon tidak ada yang dia kenal, kecuali calon presiden karena sering dia lihat di TV dan seorang calon anggota DPD yang kebetulan pernah dia tonton membintangi beberapa film komedi Aceh.

    Petugas tersenyum dan memberi arahan kepadanya untuk tetap memilih tiga calon lagi, tapi si pemilih tadi bersikukuh untuk tidak memberi suara kepada orang yang tidak dia kenal. Alhasil, dia hanya memilih calon presiden dan calon anggota DPD RI.

    Ada juga pemilih yang marah karena lebih dulu datang tapi lambat masuk bilik. Akhirnya, panitia dengan sigap memberlakukan sistem antrean dengan menyusun kursi. Siapa yang duduk paling dekat dengan bilik TPS dialah pemilih berikutnya yang berhak masuk bilik.

    Di TPS tempat saya memilih ada lima bilik yang disediakan panitia. Tiba giliran saya untuk masuk ke bilik 1 dan memberikan suara untuk kandidat yang saya sukai. Karena besarnya kartu suara, saya butuh waktu lama untuk membukanya. Sementara itu, di luar sebelum masuk bilik sempat saya dengar ada penawaran kandidat yang dijagokan akan membawa perubahan, tapi tetangga di samping saya tak mau memilih sosok yang dia tawarkan. “Aku punya pilihan sendiri,” katanya bernada lantang.

    Dengan semangat saya memasukkan surat suara ke masing-masing kotak, sambil berlalu dari TPS. Harapan saya di dalam hati semoga banyak pemilih yang memilih kandidat yang saya pilih.

    Dari hasil diskusi dengan beberapa ibu-ibu di luar TPS, mereka mengeluh karena kartu suara yang terlalu besar untuk calon legislatif dari 20 partai peserta pemilu. Butuh waktu lama untuk membuka dan membacanya. Juga sulit untuk mengenal calon yang akan dipilih karena hanya tertera namanya saja dengan kolom untuk mencoblos yang sangat kecil. Jadi, harus sangat hati-hati, apalagi paku pencoblosnya terlalu besar.

    Ke depan, diperlukan peran optimal KPU/KIP, mahasiswa, pelajar, masyarakat, partai, dan semua pihak untuk menyosialisasikan tata cara pencoblosan sehingga tak banyak lagi pemilih yang terbingung-bingung atau galau lama di bilik TPS.

    Perhelatan besar pesta demokrasi telah usai, mari kita tunggu pengumuman hasil rekapitulasi suara oleh KIP dan kemudian KPU sehingga jelas siapa yang akan memimpin Indonesia dan siapa pula yang menjadi wakil kita di DPR, DPD, maupun DPRA dan DPRK untuk lima tahun ke depan. Mari kita hentikan spekulasi atau prediksi-prediksi yang tak berdasarkan fakta. Ayo tangkal berbagai rumor dan hoaks yang dapat memecah belah persatuan dan memutus silaturahmi di antara kita. Siapa pun yang terpilih hendaknya mampu menjalankan mandat dari rakyat untuk mewujudkan Indonesia dan Aceh ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 24/04/2019/ dengan judul Cerita unik dibilik TPS.

     

  • DOSEN UMUSLIM BERI KULIAH DI MALAYSIA

      

    Peusangan-Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Hakim Muttaqim,B.Soc.Sc.,M.Ec.Dev di undang secara khusus menjadi dosen tamu  di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

    Kehadiran dosen fakultas ekonomi umuslim ke negeri jiran tersebut, memenuhi  undangan Fakulti Pengurusan Hotel dan Pelancongan, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia Puncak Alam, Selangor Malaysia.

    Hakim Muttaqim  memberikan materi kuliah kepada mahasiswa UiTM tentang peningkatan ekonomi dan wisata halal, kegiatannya berlangsung di kampus utama UiTM Puncak Alam, Selangor Malaysia,pada  Selasa dan Rabu (19-20 /3). 

    Selain Hakim Muttaqim dalam perkuliahan  tersebut juga ikut Dr. Mohd Raziff Jamaluddin selaku Timbalan Dekan bidang riset dan jaringan UiTM.

    Dalam pertemuan tersebut dosen Malaysia ini menyatakan bahwa UiTM sangat senang dengan adanya kolaborasi dalam pengembangan kedua intitusi ini, kedepannya akan di fokuskan kerjasama riset dan publikasi.

    Di sela-sela kegiatan memberi kuliah Dekan FE Universitas Almuslim,  juga menjajaki kerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia..

    Apalagi  Universitas Almuslim yang telah dinobatkan sebagai PTS katagori Universitas terbaik di Aceh, terus membuka diri bekerjasama dengan mengirimkan dosen dan mahasiswanya kebeberapa perguruan tinggi di luar negeri, jelas Hakim Muttaqim.

    Sementara itu,penyelidik UiTM,Prof Madya Dr. Mohd Hafiz Hanafiah menyambut baik rintisan kerjasama ini, menurutnya  ini akan memperkuat jaringan yang baik dengan kampus di Indonesia khususnya bidang kolaborasi riset dan publikasi International dengan dosen Universitas Almuslim Bireuen di masa depan.(HUMAS)

     

     

  • Dosen Umuslim di undang ke Kepulauan Riau.

     

    Peusangan-Salah seorang dosen prodi Peternakan fakultas pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan kabupaten Bireuen provinsi Aceh  drh Zulfikar, MSi, hadir ke Provinsi Riau untuk menjadi pemateri pada kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau.

    Hadirnya drh.Zulfikar,MSi dosen program studi Peternakan Universitas Almuslim di kabupaten yang mempunyai Motto " Azam di pasak, Amanah di tegak"  ini  memenuhi undangan  dari Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau, sebagai  pemateri pada pelatihan bidang peternakan dan kesehatan hewan  yang digelar di Hotel Gembira Tanjung Batu pulau Tanjung Baru Karimun pada tanggal 24-27/3.

    Di undangannya dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan tersebut untuk memberikan pelatihan kepada 50 peserta  yang  terdiri dari peternak dan petugas kesehatan hewan di Wilayah kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun Kepulauan Riau selama tiga hari. 

    Menurut informasi dari Drh Zulfikar,MSi, dirinya diminta untuk memberikan materi tentang teknis pencegahan penyakit dan manajemen pemeliharaan hewan besar dan kecil, selain dirinya sebagai narasumber yang berasal dari kampus,  juga hadir drh. Topan dari Dinas Peternakan Provinsi Aceh didampingin drh. Syauqi Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan hewam Dinas Pangan dan Pertanian kabupaten Karimun Kepulauan Riau, ujar kandidat  doktor bidang pengelolaan sumberdaya dan lingkungan  Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.(HUMAS)

     

     

  • Dosen Fikom Umuslim latih siswa SMK

     

    Peusangan-Sebanyak 40 siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Peusangan mendapat pelatihan ilmu bidang bahasa pemrograman Java dan pelatihan Desain Kemasan dari sejumlah dosen Fikom umuslim yang melakukan pengabdian di laboratorium multi media sekolah setempat, Selasa (27/11).

    Kegiatan yang mendapat apresiasi dari kepala sekolah SMK 2 Ermawati,M.Kom dan   antusias para siswa sekolah SMK tersebut merupakan suatu program yang dirancang beberapa dosen untuk bebagi ilmu secara langsung kepada para pelajar SMK yang ada di kabupaten Bireuen.

    Kepala sekolah SMKN 2 Peusangan Ermawati,M.Kom yang didampinggi kepala jurusan Desain dan Grafika  Mukhtar,M.Kom mengucapkan terimakasih atas dipilihnya sekolah mereka untuk lokasi pengabdian  dosen fikom Universitas Almuslim untuk  memberikan ilmu kepada anak didiknya, “Ini sangat bermanfaat bagi siswa, kami harapkan agar ada kelanjutan dari pengabdian hari ini “ ungkap Ermawati sambil menyalami pemateri.

    Menurut Mukhtar ada 40 siswa yang mengikuti pelatihan ini, dibagi  dua materi yaitu bidang pemrograman dan desain grafis, ini sangat bermanfaat bagi anak didiknya karena selama ini belum pernah mereka ajarkan ilmu ini secara mendetail, apalagi diajarkan oleh tenaga yang sangat komponten, jelas Mukhtar, M.Kom.

    Menurut salah seorang pemateri T Rafli A. S.Sn, M.Sn, bahwa program yang mereka lakukan ini merupakan  sebuah pengabdian, kami  dari dosen ingin memberikan sedikit ilmu baru yang bermanfaat bagi adik-adik dari  SMK 2 peusangan, ungkap pemegang sertifikat kompetensi bidang Desain Multimedia dari Badan Nasional sertifikasi Profesi ini.

    Menurut T Rafli A. S.Sn, M.Sn  tim pengabdian ini dibagi dua grup terdiri untuk materi Desain Kemasan T.Rafli A, S.Sn, M.Sn,  Riyadhul Fajri,M.Kom, Imam Muslem R,M.Kom, Zulkifli,M.Kom,T.M.Johan,MT, sedangkan untuk materi pemograman Java Dasril Azmi,M.Kom, Dedy Armiady, Sri winar,M.Kom, Iqbal,Mcs dan Fitri Rizani,M.Kom.(HUMAS)

     

     

     

  • Dosen Umuslim akan Mengajak Mahasiswa HI Kuliah di Singapura

    Kampus Umuslim, Kamis (09/11) Dosen Prodi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Almuslim dalam arahannya kepada Mahasiswa Prodi HI Semester I, yang nantinya pada Semester V akan mengambil Mata Kuliah yang berkaitan dengan Indian Ocean, maka pertemuan kuliah terakhirnya akan diselesaikan di Singapura, dengan mengikuti satu diskusi Interasional di salah satu lembaga riset terkemuka di dunia. Mengenai biaya, telah memiliki solusi bersama dan disepakati.

    Di samping mengikuti forum diskusi yang akan dihadiri kalangan diplomatik atau Kedutaan Besar dan pakar hubungan Internasional, mereka juga akan mengunjungi beberapa lembaga Internasional seperti ASEM, APEC, dan lainnya. Dua orang mahasiswa akan dipilih untuk presentasi di depan mahasiswa Global Studies di Singapura. Hal ini akan dilakukan jika para mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut mampu berbahasa Inggris dan menguasai materi yang berkaitan dengan Samudera Hindia (India Ocean).

    Menurut Poncut (T. Mahmud Azis, S.Fil., MA), hal ini penting untuk memacu mahasiswa untuk mau belajar, memperdalam ilmunya, dan menguasai bahasa Inggris. Kalau kita menguasai bahasa Inggris maka akan muncul konfidensi kita dalam berkomunikasi dengan orang asing. Kita tidak akan minder. Apalagi di sana mereka akan mengikuti diskusi penting dengan orang-orang penting dan mesti aktif untuk bertanya. Beliau berjanji kepada mahasiswa untuk mengorganisir kegiatan yang terbaik untuk mereka selama di Singapura. Mereka adalah generasi harapan bangsa dan harapan bagi masa depan Indonesia. (PIP Umuslim)

  • Dosen Umuslim lakukan Pengabdian di Desa Kuala Pusong Kapal, Aceh Tamiang

     

     Dosen Umuslim melakukan pengabdian masyarakat tentang pelatihan dan pendampingan penerapan Sistem Good Manufacturing Practice (GMP) atau cara pengolahan dan produksi pangan yang baik pada produksi terasi  UKM Camar Laut Desa Pusong Kapal Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang. 

    Kegiatan Pelatihan dilakukan tim pengabdian Dosen Universitas Almuslim (Umuslim)  diikuti  40 peserta masyarakat pembuat terasi di Desa Kuala Pusong Kapal Seruway, melibatkan  dosen dari berbagai disiplin ilmu,  Zara Yunizar, M. Kom, Dewi Maritalia, M.Kes dan Sonny M. Ikhsan, SE., M, Si, pada hari Kams tanggal11 Juli 2019.

    Menurut ketua tim penelitian Rindhira Humairani, S.Pi.,MSi bahwa kegiatan pengabdian masyarakat merupakan rangkaian dari Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) yang merupakan hibah multi tahun Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) yang didanai kemenristek dikti.

    Menurutnya dengan kegiatan ini  diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis usaha terasi sebagai produk unggulan daerah.

    Materi pelatihan disampikan   Baihaqi, SPT.,M.Si (Dosen Teknologi Industri Pertanian) tentang GMP, tujuan GMP, ruang lingkup, system pengendalian hama, hygiene karyawan, peralatan dan pakaian kerja.

    Menurutnya sebelum mengikuti pelatihan, peserta diminta untuk mengisi kuesioner tentang proses pengolahan terasi yang  dilakukan selama ini untuk mengetahui apakah sudah sesuai GMP atau belum.

    Pelatihan mendapat sambutan bagus dari masyarakat karena selama ini belum pernah dilakukan pelatihan tentang proses pengolahan terasi yang baik dan benar di desa mereka, padahal Desa Kuala Pusong kapal merupakan produsen terasi udang rebon (udang sabee) yang sudah sangat  dikenal masyarakat(Humas) 

  • Fak.Pertanian Umuslim MoU dengan FP Unsyiah dan Unimal

    Peusangan-Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen melakukan penandatanganan naskah kerjasama (MoU) dengan fakultas Pertanian  Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, (20/12/2018). 

    Penandatangan naskah kerjasama tersebut  dilakukan masing-masing dekan fakultas ketiga perguruan tinggi tersebut, Fakultas Pertanian Umuslim dilakukan Dekan Fakultas Pertanian Umuslim Ir.TM.Nur, MSi sedangkan Unsyiah dilakukan Prof.Dr. Samadi., M.Sc selaku Dekan FP Unsyiah kemudian  sebelum dilakukan penandatanganan dengan  Unsyiah,  juga telah dilakukan MoU dengan Fakultas pertanian Unimal Lhokseumawe, yang penandatanganan naskah kerjasama dilakukan  Dekan FP Unimal Dr. Mawardati, M.Si dan Dekan FP Umuslim Ir. T.M.Nur, MSi. 

    Wakil dekan I Fakultas Pertanian Umuslim Drh.Zulfikar,MSi menjelaskan  tujuan dilakukan penandatanganan kerjasama ini untuk meningkatkan jaringan kerja sama antar Universitas khususnya Fakultas Pertanian dalam bidang penelitian, pengajaran, pengabdian masyarakat dan kemahasiswaan. 

    Saat penandatanganan kerjasama  turut  disaksikan wakil Dekan FP Unsyiah, wakil rektor I Umuslim Dr. Hambali., M.Pd, Ka.Prodi Kehutanan Umuslim Dr.Ir.OK Hasnanda Syahputra,MP dan beberapa ka.prodi dalam lingkup Fakultas Pertanian Universitas Almuslim, ungkap Drh.Zulfikar, MSi.(HUMAS)

     

     

    Foto : Ramadhan

  • Family Gathering Keluarga Besar Universitas Almuslim di Laot Jangka

     

     Dalam rangka  meningkatkan kebersamaan dan kekeluargaan Civitas Akademika Universitas Almuslim ( Umuslim) Peusangan melaksanakan Family Gathering (Hari Keluarga), bertempat di  taman wisata Laot Jangka Kecamatan Jangka, Sabtu (10/11/2018).

    Acara di awali dengan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang meyampaiakan bahwa, kegiatan hari libur ini kita manfaatkan untuk menjadi hari keluarga, sebagai wujud kebersamaan dan kekeluargaan antara Rektorat, Dekanat, Dosen, karyawan dan seluruh staff yang bekerja di kampus Umuslim.

    Walaupun kegiatan ini tidak sering diadakan, tetapi pertemuan keluarga hari ini, hendaknya dapat dijadikan momen yang bermanfaat, berkesan dan dapat mempererat kebersamaan sesama keluarga besar umuslim beserta keluarga, sehingga akan dapat  menumbuhkan iklim kerja yang produktif dan kondusif di lingkungan kampus dalam upaya mengembalikan dan meningkatkan kejayaan kampus  masa yang akan datang, Ujar H.Amiruddin Idris.

    “Acara keluarga ini untuk  menjaga hubungan kekeluargaan dan kebersamaan keluarga besar Universitas Almuslim “ Jelas H.Amiruddin Idris lagi.

    Suasana acara Family Gathering  di kemas dalam bentuk  rekreasi keluarga, di lakukan dalam suasana penuh kekeluargaan, keakraban, kebersamaan dan penuh kegembiraan.

    Kegiatan dengan jamuan  hidangan menu kari kambing kuah “Belanggong” ala chief Tgk Rahmad Tanoh Abee,  ikan Bandeng bakar, ditambah aneka kue dan buah-buahan, plus minuman poligami segar,  telah menambah hangatnya  suasana “Hari keluarga umuslim di Laot Jangka” sehingga suasana kecapekan diruangan kampus, terasa larut dalam kegembiraan di hamparan laut selat malaka.

    Suasana kehangatan di hari keluarga ini, benar-benar memberi satu kesan yang perlu terus dikenang, tetesan rujak manis telah memaniskan suasana persaudaraan, apalagi dengan  santapan kari kuah belangong, hirupan jus poligami   dan keceriaan bocah-bocah yang ikut menikmati hari keluarga, ditambah hembusan sepoi angin laut selat malaka, yang menusuk sampai  pori-pori kulit ari  sekujur  tubuh keluarga besar Universitas Almuslim, memberikan kesejukan, kebahagiaan dan  kenangan tersendiri di Family Gathering ini.

    Tetapi Kemesraan itu terus berlalu seiring  berkumandangnya suara Azan Zhuhur dari puncak mesjid di pesisir kawasan wilayah minapolitan kabupaten Bireuen.

    Selain dihadiri Rektor dan isteri serta keluarga besar Universitas Almuslim, acara tersebut juga ikut dihadiri  Ketua Yayasan Almuslim Peusangan beserta keluarga dan juga beberapa guru dari  Pesantren Terpadu Almuslim,  acara ditutup dengan pembacaan Doa.(Humas)

     

     

     

     

  • Fisip umuslim gelar buka puasa bersama

     Peusangan-Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (Fisip) Universitas Almuslim (Umuslim) mengelar acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi, yang di gelar kampus timur, Senin, (20/5)

    Menurut ketua Bem Fisip Husnul Fuadi, kegiatan ini dalam rangka mempererat silaturahmi antara rektorat, dekanat, mahasiswa dan alumni, Insya Allah bulan depan kami juga akan mengelar beberapa kegiatan lain dalam rangka promosi fakultas Ilmu sosial dan politik kepada adik-adik SMA dan masyarakat secara umum ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut mewakili Alumni disampaikan Munazir Nurdin atau lebih populer  "Boh Manok" mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara silaturahmi ini, semoga dengan  jumlah alumni yang sudah sukses di Fisip akan dapat memajukan fakultas ini kedepan, ungkap anggota DPRK Bireuen terpilih ini.

     Turut menyampaikan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengukapkan  rasa bahagia atas silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama yang di gelar mahasiswa Fisip, semoga kebersamaan dan kekeluargaan ini dapat mempererat  ukhuwah diantara civitas akademika umuslim. 

    Walaupun kita berada di kampung tetapi dengan kekompakan semua pihak baik rektorat, dekanat, alumni dan mahasiswa akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa bagi kampus  dalam menata pengembangan kampus dimasa yang akan datang, papar H.Amiruddin Idris.

    Hadir  dalam buka puasa tersebut Ketua Yayasan, Rektor, wakil rektor, dosen alumni, mahasiswa dan  tokoh masyarakat seputaran kampus, acara buka bersama diakhiri dengan menyantap kuah belangong dan shalat magrib berjamaah.

    Sehari sebelumnya Fakultas Ekonomi Umuslim juga  menggelar acara serupa, yang  dihadiri  Civitas Akademika,  dosen, alumni , ormawa dan mahasiswa.(HUMAS)

     

  • Fkip Umuslim menangkan dua hibah dari Kemenristekdikti

     

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim Peusangan berhasil memenangkan dua hibah dari  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), hibah tersebut yaitu  bidang program bantuan pembelajaran berpusat mahasiswa atau Student Center Learning (SCL) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS).

    Kepastian berhasilnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim memenangkan hibah tersebut disampaikan Dekan FKIP Universitas Almuslim M.Taufiq,MPd, Jumat (14/5), berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Nomor: B/358/B2.1/PB.01.00/2019 tanggal 27 Mei 2019 dan Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019. 

    Menurut M.Taufiq tujuan program hibah SCL, untuk meningkatkan kualitas dosen dalam mengajar, nantinya mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, kreativitas, literasi digital, problem solving, dan self directed learning.

    Pada program hibah SCL berbasis TIK melibatkan 18 dosen dari 9 program studi dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim. 

    Semua  dosen tersebut merupakan pengampu sembilan mata kuliah yang direncanakan pada program hibah tersebut. Kesembilan mata kuliah tersebut masih disampaikan melalui perkuliahan tatap muka, namun melalui program SCL berbasis TIK, mata kuliah tersebut akan disampaikan menggunakan pendekatan Blended Learning.

    Nantinya dari program hibah ini  akan menghasilkan sembilan suntingan/kompilasi video aktivitas pembelajaran di kelas, implementasi mata kuliah pada sembilan  program studi yang memanfaatkan TIK menggunkan metode SCL dan nantinya akan adanya sembilan Artikel yang dipublikasikan pada jurnal Nasional.

    M.Taufiq mengharapkan melalui hibah SCL berbasis TIK ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran dosen pada era Revolusi Industri 4.0. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi sosial seluruh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim, semoga kedepan  program hibah SCL berbasis TIK ini dapat diperluas pada program studi-program studi lain dalam lingkup Universtas Almuslim.

    Menurut  M.Taufiq  bahwa yang menangkan hibah SCL berbasis TIK ini hanya 11 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, untuk pulau Sumatera hanya ada dua perguruan tinggi yang lolos, satu di Bengkulu dan satu Universitas Almuslim di Aceh, ini merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan ungkap M.Taufiq terharu.

    Sebelumnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim juga telah ditetapkan sebagai pemenang Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS), hal ini sesuai surat Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019.

    Menurut Dekan Fkip program Hibah PDS sistemnya  mengirimkan dosen untuk melaksanakan pembelajran di sekolah serta mengimplementasikannya di perguruan tinggi, sedangkan Hibah SCL berbasis TIK lebih menekakann pada peningkatan kemampuan dosen dalam melaksanakan pembelajaran pada era revolusi 4.0. 

    Kegiatan SCL berbasis TIK sejalan dengan implementasi E-Learning di Universitas Almuslim yang telah dimulai pada semester ganjil tahun akademik 2016/2017 sesuai dengan SK Rektor Nomor 776/SK/Umuslim/PG.2016 tanggal 24 Juni 2016, jelasnya.(HUMAS)

     

  • FKU Umuslim Berakhir, ini dia juaranya

     

    Peusangan- Penutupan kegiatan  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) berlangsung semarak  ditandai dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang dan diiringi nyanyian lagu perpisahan dan lambaian bendera peserta kegiatan seperti dari Bem,HMJ,UKM, mereka mengucapkan sayonara dan bersalaman penuh persahabatan.

    Festival Kebudayaan Umuslim (FKU), yang pembukaannya menampilkan berbagai kesenian termasuk tarian nusantara hasil koreografer mahasiswa umuslim, dimana tarian ini dimainkan seratusan mahasiswa yang berasal dari Universitas Almuslim,Universitas Pakuan Bogor dan mahasiswi dari Nagoya Gakuin university (NGU) Jepang, Selain melibatkan mahasiswa umuslim dan  beberapa  perguruan tinggi dan sekolah menengah atas seputaran kabupaten Bireuen, Festival Kebudayaan yang merupakan ajang tahunan tersebut  juga  ikut  hadir penyair nasional Fikar W.Eda dan pegiat seni Apa Kaoy.

    Wakil Rektor III Umuslim Ir.Saiful Hurry,MSi saat pidato penutupan menyampaikan apresiasi kepada panitia atas kesuksesan pelaksanaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) yang ke 3, pihaknya berharap untuk kedepan agar kegiatannya dapat ditingkatkan lagi baik bidang kreativitas maupun kualitasnya, dan pesertanya juga  lebih luas lagi, dengan mengundang peserta dari berbagai daerah dan perguruan tinggi yang lebih banyak lagi, harap Saiful Hurry

    Ketua Pema Andy Maulana bersyukur atas suksesnya FKU ini, ajang ini merupakan tempat terjalin silaturahmi antara seluruh civitas akademika, mahasiswa dan beberapa kampus lain.

    Adapun pemenang dalam kegiatan tersebut : Bidang Vokal Solo Pria, juara I, M.Iqbal ( F.Teknik umuslim),juara 2. Rizki Alkausar (SMA 1 Bireuen), 3.Rahmat (IAI Almuslim), Vokal Solo Wanita, juara I,  Mauliza Sari (SMA 1 Bireuen), juara 2 Azizah (Lhokseumawe), juara 3 Jauza (Lhokseumawe), Harapan I Cut Vita Aryana (Unimal Lhokseumawe), Harapan 2 Ocha Febri Riyanti (Kebidanan Umuslim).

    Kemudian bidang lomba Bola Sarung juara I Fakultas Ekonomi Umuslim, Juara 2 KSR-PMI, cabang Cakceng, tingkat SMA, Juara I Amanda Melani (SMA 2 Peusangan), Juara 2 Nuraida (SMK 1 Peusangan), Caceng mahasiswa, Juara I Intan Fajarna (Fisip), Juara 2 Mursyida (FKIP), Lomba Dodaidi mahasiswa Juara I Safira Amalia ( Unimal Lhokseumawe),Juara 2 Nurliza (EKP Umuslim), Dodaidi siswa Juara I Maulizar Sari (SMA I Bireuen), Juara 2 Liza Maiviza (MAN 3  Bireuen).

    Dilanjutkan dengan lomba  Stand peserta pameran kreativitas, Stand  terbaik diraih UKM Alaska, Stand terfavorit Fakultas Teknik , Duta mahasiswa Juara I Agam, Achdan ( Fisip umuslim), Inong Puja (Fisip), juara 2.Agam. M.Nizar (Teknik), Inong. Tiara (Fisip), Fotografi Juara I Salman, juara 2. Khaitami.

    Lomba opini Juara 1 Naila Zafira ( Fkip umuslim), Juara 2. Azzura (Fisip), Lomba Tarik tambang Putra, Juara I Bem Teknik, Juara 2.Bem Fisip, tarika tambang  Putri Juara I HMJ Bahasa Indonesia, Juara 2 HMJ EKP, Fashion show, Juara I TK juara I Izzatus safira (TK Ar Reza), Juara 2.Syahira (RA At Taqwa), Baca Puisi, mahasiswa Juara I Nurul Yana (Fkip), Juara 2 Syahrizal (Teknik), Baca Puisi, siswa Juara I Asmaul Husna (SMA I Bireuen), Juara 2.Saumi Naila (Pesantren Almuslim),permainan Congklak Mahasiswa Juara I Israimi (Fkip), Juara 2 Khairunnisak (Teknik), Congklak siswa Juara I Merry ( SMPS Ummul Ayman), Juara 2 Ikwani (MAN 7 Bireuen).(Humas)

     

     

     

     

  • Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu sekolah.” Ya, waktu itu ada Pendidikan Guru Agama (PGA) Almuslim dan Pesantren Almuslim. Dulunya, Almuslim itu dikenal dan ditakuti serdadu Belanda, karena memiliki tokoh pejuang yang juga pendiri Almuslim, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Chik Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Ammad, dan sederet tokoh lainnya.

    Sejarah awal Almuslim dimulai tahun 1929. Saat itu, ulama dan ulee balang di Peusangan mendirikan organisasi sosial bernama Jamiatul Muslim (saat ini namanya Yayasan Almuslim Peusangan). Yayasan ini tergolong unik, berbeda dengan yayasan lain di Indonesia bahkan dunia, yakni milik masyarakat Kecamatan Peusangan lama (sebelum pemekaran), setelah pemekaran jadi empat kecamatan: Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Jangka. Setiap lima tahun sekali para keuchik, imum gampong, dan imum mukim dalam empat kecamatan itu bermusyawarah memilih ketua yayasan.

    Yayasan ini sempat hilang dalam peredaran, kemudian tahun ‘70-an atas inisiatif almarhum M. A. Jangka, saat itu Camat Peusangan, bersama beberapa tokoh pendidikan, pemerintahan, tokoh masyarakat, mereka bermusyawarah untuk menghidupkan kembali yayasan ini.

    Pelan tapi pasti yayasan terus bergerak, dimulai dengan mendirikan beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah, kemudian 14 Zulkaidah 1406 H bertepatan dengan 1 Agustus 1985 didirikanlah Perguruan Tinggi Almuslim (PTA) yang membawahi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK), tetapi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang merupakan cikal bakal lahirnya  Institut Agama Islam (IAI) Almuslim sekarang kampusnya berlokasi di Paya Lipah Kecamatan Peusangan, jaraknya  lebih kurang 3 kilometer arah barat  dari kampus Universitas Almuslim, sedangkan lokasi gedung tua Almuslim sekarang telah menjadi kantor yayasan almuslim peusangan (YAP) dan pusat administrasi Pesantren Almuslim Peusangan.

    Saya bergabung dengan Almuslim tahun 1992, setelah lulus SMEA Peusangan dan menjadi staf tata usaha. Saat itu, gedung kuliah sangat terbatas, masih semipermanen. Biro rektor dulunya berada di Gedung Sekretariat Pesantren Terpadu Almuslim sekarang. Gedung ini merupakan gedung tua yang direhab atas bantuan PT Arun NGL Co Lhokseumawe.

    Gedung ini sangat kokoh karena dibangun dengan batu bata yang disusun mendatar. Beberapa kali gempa tidak ada yang retak. Gedung ini menjadi saksi bisu saat konflik berkecamuk di Aceh. Saat konflik pernah saya dan teman harus tiarap di lantai menghindari peluru karena terjadi baku tembak di seputaran kampus.

    Gedung ini bersebelahan dengan Markas Koramil Peusangan, tentunya menjadi sasaran bom atau peluru pihak GAM. Kami yang sedang bekerja terkena imbasnya. Saya ingat waktu itu, laki-laki diminta berbaris di halaman gedung, sedangkan perempuan tetap berada di dalam ruangan.

    Suasana sangat mencekam, kami tak bersuara, lutut kami gemetar. Air mata membasahi pipi mengenang suasana tersebut. Saat itu hanya doa yang yang terbetik di dalam hati, perasaan penuh tanda tanya: Masih adakah kesempatan untuk menghirup udara esok hari? Dengan hati gundah, akhirnya rekan-rekan yang diminta berbaris kembali ke ruangan, semua memiliki kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Gedung tua itu benar-benar jadi saksi bisu perjalanan proses pendidikan tinggi di Almuslim. Gedung tua ini juga berperan dalam sejarah berdirinya Kabupaten Bireuen, saat detik-detik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen perdana. Semua yang ikut dalam rapat tersebut tidur beralaskan tikar sederhana, menunggu hasil keputusan esok harinya.

    Selain itu, banyak juga tamu luar negeri, pejabat tinggi, mulai dari pejabat pusat, provinsi, kabupaten, dan pimpinan proyek vital datang ke gedung tua ini dan dijamu di ruangan tersebut.

    Pada 15 Januari 2003 Universitas Almuslim (Umuslim) lahir sebagai hasil peleburan beberapa sekolah tinggi dan akademi dalam lingkup Perguruan Tinggi Almuslim, diresmikan oleh Gubernur Aceh waktu itu, Ir Abdullah Puteh MSi. Saat peresmian, gedung tua itu merupakan gedung utama biro rektor dan area utama lokasi peresmian.

    Saya ingat, setelah acara peresmian Umuslim, Gubernur Aceh melanjutkan perjalanan dinas ke Kecamatan Makmur. Eh, di dalam perjalanan tiba-tiba rombongan gubernur diserang pihak sipil bersenjata. Dalam rombongan ada Ibu Marlinda, istri Gubernur Abdullah Puteh dan istri Pak Amiruddin Idris (Rektor pertama Umuslim yang juga Wakil Bupati Bireuen). Saat rombongan kembali, istri rektor menceritakan kronologis kejadian, mereka diselamatkan aparat keamanan dan dipakaikan rompi antipeluru. Dalam kejadian itu sempat tertembak seorang perwira polisi. Suasananya sangat mencekam. Saya dan rekan-rekan mendengarnya saja merinding ketakutan.

    Alhamdulilah, perjalanan Umuslim yang dimulai dari pahit getir semasa penjajahan Belanda dan diresmikan di tengah kondisi konflik, tetap bertekad bulat mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Tahun 2002, universitas mengalamai perkembangan signifikaan saat Rektor Umuslim, Amiruddin Idris menjabat Wakil Bupati Bireuen periode 2002-2007. Banyak bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, diberikan untuk Universitas Almuslim. Sejak saat itulah banyak gedung perkuliahan yang terbuat dari papan atau yang semipermanen berubah menjadi gedung permanen. Termasuk penambahan beberapa mebel dan lab. Kampus Umuslim pun mulai menampakkan wajah sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesungguhnya.

    Saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh, baik PTN maupun PTS sempat lumpuh, banyak dosen dan mahasiswa meninggal. Nah, saat itu Umuslim ikut menampung mahasiswa yang selamat. Sampai-sampai jumlah mahasiswa tak sebanding dengan jumlah ruang kuliah dan kursi. Rektor Umuslim, H Amiruddin Idris lalu memohon bantuan kepada beberapa donatur untuk membantu Umuslim. Salah satu lembaga yang mengulurkan bantuan dari Italian Goverment, perwakilan negara Italia. Hasilnya, bisa dibangun gedung perkuliahan bertingkat, perumahan dosen, sarana ibadah, fasilitas laboratorium, dan pengembangan sumber daya manusia dengan memberikan beasiswa untuk lanjutan studi dosen.

    Tahun 2007, tercatat sebagai tahun puncak perkembangan Umuslim. Banyak calon mahasiswa masuk dengan persaingan ketat, ditambah dengan adanya kepercayaan pemerintah pusat melalui Kementerian Dikti sebagai pelaksana Program Pendidikan Guru dalam Jabatan di Provinsi Aceh, sehingga mahasiswanya mencapai 20.000 orang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, puluhan program hibah dari Dikti pun berhasil dimenangkan.

    Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, manajemen kampus berupaya mencari network penggalangan dana untuk membangun gedung baru. Lalu rektorat bersama yayasan bermusyawarah dengan keluarga Ampon Chiek Peusangan untuk memanfaatkan gedung bersejarah milik Ulee Balang Peusangan (rumoh geudong milik Ampon Chiek Peusangan) sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran. Dengan catatan gedung itu tidak boleh diubah bentuknya, tetap sebagai rumoh geudong. Kini kawasan ini dikenal sebagai Kampus Ampon Chik Peusangan, Universitas Almuslim yang berlokasi di depan Masjid Besar Peusangan.

    Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi dan memperluas jalinan kerja sama untuk mengabdi mencerdaskan anak negeri, mengikuti berbagai regulasi yang terus bergulir sesuai kondisi. Sekarang, puluhan dosen sedang menyelesaikan studi S3 di dalam maupun luar negeri. Setiap tahun pula Kampus NGU Jepang mengirim mahasiswanya untuk belajar di Umuslim, begitu pula sebaliknya. Umuslim juga rutin mengirim mahasiswa PPL-KKM ke Thailand dan Malaysia.

    Kesungguhan, jalinan kerja sama, dan kekompakan telah mengantarkan Umuslim menjadi Universitas Swasta Terbaik Se-Aceh Tahun 2018, sebagaimana ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIII Aceh. Alhamdulillah. Umuslim terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat Aceh dan bangsa.

     

    Tulisan ini telah pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 11/7/2019/ dengan judul Gedung tua almuslim saksi bisu saat konflik.

  • Hari Kedua Umuslim wisuda 299 lulusan dan 34 orang raih Cumlaude

     

     

     

     

      Peusangan-Pelaksanaan rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana (S1) dan ahli madya  Universitas Almuslim, pada hari kedua  mewisuda sebanyak 299 lulusan dengan rincian 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP), Diploma III Kebidanan 44 lulusan dan  sebanyak 34 lulusan  meraih  prediket  cumlaude.

    Selain  prosesi wisuda lulusan Diploma III Kebidanan juga disumpah, Acara penyumpahan dipimpin Sekretaris Dinas Kesehatan Bireuen Dr.Irwan A.Gani berlangsung di Auditorium Akademic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Minggu (2/12/2018).

    Sebelum kata-kata sumpah di ucapkan oleh lulusan Diploma III Kebidanan, mereka terlebih dahulu di wisuda bersamaan dengan 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP). Jadi keselurahan yang di wisuda pada hari kedua sebanyak 299 orang dengan rincian, Diploma III Kebidanan 44 orang dan FKIP 255 orang, dari sejumlah lulusan tersebut sebanyak 34 orang  meraih  prediket lulusan  cumlaude

    Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE,M.Si  dalam pidatonya menyampaikan, sekarang di era revolusi industri 4.0, banyak regulasi yang menuntut guru dan bidan harus kompeten. Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Kebidanan.

    Para lulusan kependidikan  dan Kebidanan yang di wisuda hari ini, harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensi agar bisa menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0.

    Sekarang Guru setelah selesai S1, belum diakui sebagai guru, tetapi masih dituntut lagi untukmengikuti Program Profesi Guru (PPG), begitu juga  bagi lulusan Diploma III kebidanan, setelah tamat tidak langsung bisa bekerja tetapi mereka harus lulus Uji kompetensi untuk memperoleh STR.

    Sekarang Umuslim sedang berjuang untuk bisa menyelenggarakan Pelaksanaan PPG dimasa yang akan datang, sehingga lulusan siap menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0 ini, ujar Rektor Umuslim.

    Kepada lulusan jangan berputus asa, jangan hanya bermimpi jadi PNS, teruslah belajar meningkatkan kompetensi keahlian karena masih banyak peluang lain yang bisa saudara lakukan. Apapun dan dimanapun yang kita lakukan merupakan wujud dari pengabdian seorang lulusan, jelas  H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja kembali dari Pulau Andaman dan Nikobar India.

    Menurutnya menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi  seperti pengembangan Cyber university, penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal Teknologi Informasi, Kecerdasan buatan, sistem siber (Cyber System),  untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil.

    “Demikian pula bagi lulusan Diploma III Kebidanan, tidak boleh luput dari kemampuan keunggulan menguasai teknologi dan bahasa, hal ini karena perkembangan ilmu kedokteran yang begitu pesat dan tersebar cepat dengan berbagai penemuan baru,” ungkapnya.

    Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan Universitas Almuslim menghadapi Revolusi Industri 4.0.yaitu  program inovasi sistem pembelajaran pendidikan online learning (Cyber University).

    Program  Cyber University  nantinya diharapkan menjadi solusi bagi Universitas Almuslim dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital yang semakin berkembang.

    “Baru saja kampus ini menyelesaikan  program   Pendidikan Jarak Jauh dan Hibah Sistem Pembelajaran Daring Indonesia  (SPADA Indonesia) yang bertujuan untuk meningkatkan akses belajar mahasiswa dari dosen-dosen PTN dan PTS di seluruh Indonesia, dimana mahasiswa  mendapat pembelajaran secara Daring (online),” ungkap Rektor Universitas Almuslim.

    Hadir dan ikut memberikan  sambutan pada wisuda Umuslim hari kedua,  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan  Tinggi  (LLDiKTI) XIII Aceh, Prof Faisal A.Rani,SH,M.Hum dan ketua Pembina Yayasan Almuslim yang juga Anggota DPR RI, Drs Anwar Idris. Kemudian dilanjutkan dengan  orasi ilmiah disampaikan Prof Djufri, M.Si, Dekan FKIP Unsyiah dengan tema tantangan Guru masa depan..(HUMAS)