Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Fakultas Teknik gelar futsal Mortar Cup III

    Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (Himateksu) Fakultas Teknik (FT) Universitas Almuslim mengelar  turnamen futsal Mortar Cup III diikuti  oleh semua mahasiswa Prodi Teknik Sipil yang tersebar di 7 club futsal.


    Turnamen bertema : "Bergerak Dengan Kreatifitas Bersama Dalam Prioritas" ini, diadakan selama dua hari, 23 hingga 24 Desember 2019, berlokasi di arena futsal WK, kawasan Matangglumpangdua, Bireuen.

    Ketua panitia turnamen futsal Mortar Cup, Putra Arief Fonna, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan olah raga rutin tahunan yang dilaksanakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himateksu, yang juga melibatkan pengurus periode sebelumnya.

    Dalam sambutannya Wakil dekan Bidang kemahasiswaan FT Umuslim, Muhammad Yanis, ST., MT mengharapkan turnamen ini menjadi ajang kebersamaan civitas akademika khususnya FT Umuslim.

    "Turnamen futsal ini harus mampu memelihara semangat kebersamaan serta memelihara tingkat kesegaran mental dan kebugaran fisik mahasiswa dari rutinitas sehari - hari," kata Yanis.

    Yanis menutup sambutannya dengan harapan kedepannya juga akan dilibatkan alumni - alumni FT yang tersebar di seluruh wilayah Aceh, sebagai ajang temu ramah mahasiswa dan alumni dalam wadah olah raga.

    Pertandingan pertama langsung mempertemukan antara tim dari Teknik Sipil Angkatan 2016 berhadapan dengan tim dari Teknik sipil Angkatan 2015.

    Sejak menit awal, kedua tim saling melakukan penyerangan. Namun Angkatan 2015 unggul lebih dulu setelah berhasil membobol gawang Angkatan 2016 pada pertengahan babak pertama, 1-0 untuk kemenangan Angkatan 2015 tidak berubah sampai turun minum. Memasuki akhir babak kedua, angkatan 2016 berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sehingga pertandingan pun berakhir imbang.(HUMAS)

  • Family Gathering Keluarga Besar Universitas Almuslim di Laot Jangka

     

     Dalam rangka  meningkatkan kebersamaan dan kekeluargaan Civitas Akademika Universitas Almuslim ( Umuslim) Peusangan melaksanakan Family Gathering (Hari Keluarga), bertempat di  taman wisata Laot Jangka Kecamatan Jangka, Sabtu (10/11/2018).

    Acara di awali dengan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang meyampaiakan bahwa, kegiatan hari libur ini kita manfaatkan untuk menjadi hari keluarga, sebagai wujud kebersamaan dan kekeluargaan antara Rektorat, Dekanat, Dosen, karyawan dan seluruh staff yang bekerja di kampus Umuslim.

    Walaupun kegiatan ini tidak sering diadakan, tetapi pertemuan keluarga hari ini, hendaknya dapat dijadikan momen yang bermanfaat, berkesan dan dapat mempererat kebersamaan sesama keluarga besar umuslim beserta keluarga, sehingga akan dapat  menumbuhkan iklim kerja yang produktif dan kondusif di lingkungan kampus dalam upaya mengembalikan dan meningkatkan kejayaan kampus  masa yang akan datang, Ujar H.Amiruddin Idris.

    “Acara keluarga ini untuk  menjaga hubungan kekeluargaan dan kebersamaan keluarga besar Universitas Almuslim “ Jelas H.Amiruddin Idris lagi.

    Suasana acara Family Gathering  di kemas dalam bentuk  rekreasi keluarga, di lakukan dalam suasana penuh kekeluargaan, keakraban, kebersamaan dan penuh kegembiraan.

    Kegiatan dengan jamuan  hidangan menu kari kambing kuah “Belanggong” ala chief Tgk Rahmad Tanoh Abee,  ikan Bandeng bakar, ditambah aneka kue dan buah-buahan, plus minuman poligami segar,  telah menambah hangatnya  suasana “Hari keluarga umuslim di Laot Jangka” sehingga suasana kecapekan diruangan kampus, terasa larut dalam kegembiraan di hamparan laut selat malaka.

    Suasana kehangatan di hari keluarga ini, benar-benar memberi satu kesan yang perlu terus dikenang, tetesan rujak manis telah memaniskan suasana persaudaraan, apalagi dengan  santapan kari kuah belangong, hirupan jus poligami   dan keceriaan bocah-bocah yang ikut menikmati hari keluarga, ditambah hembusan sepoi angin laut selat malaka, yang menusuk sampai  pori-pori kulit ari  sekujur  tubuh keluarga besar Universitas Almuslim, memberikan kesejukan, kebahagiaan dan  kenangan tersendiri di Family Gathering ini.

    Tetapi Kemesraan itu terus berlalu seiring  berkumandangnya suara Azan Zhuhur dari puncak mesjid di pesisir kawasan wilayah minapolitan kabupaten Bireuen.

    Selain dihadiri Rektor dan isteri serta keluarga besar Universitas Almuslim, acara tersebut juga ikut dihadiri  Ketua Yayasan Almuslim Peusangan beserta keluarga dan juga beberapa guru dari  Pesantren Terpadu Almuslim,  acara ditutup dengan pembacaan Doa.(Humas)

     

     

     

     

  • Fenomena Warkop Gampong di Era Milenial

     

    OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

    KEBIASAAN masyarakat Aceh minum kopi di warung kopi (warkop) sudah menjadi tradisi secara turun-temurun dan mengakar di kalangan masyarakat. Kalau kita berkeliling ke setiap gampong di Aceh, seakan tak ada gampong yang tidak ada warkop.
    Hampir semua sudut gampong pasti ada warkop, minimal satu gampong punya satu bahkan lebih, meski dekorasi dan arsitekturnya berbentuk warkop sederhana atau tradisional.

    Karena kondisi yang seperti itu sampai-sampai ada pendapat bahwa orang Aceh itu pemalas atau tak produktif, karena setiap waktu asyik nongkrong di warkop.
    Ada juga pendapat warkop merupakan  tempat menggali ide dan mendapatkan berbagai informasi, ruang untuk bersilaturahmi, berdiskusi,  dan membahas sesuatu yang terkadang memang penting sambil meneguk kopi, sehingga banyak orang menjadikan warkop sebagai ruang publik yang multifungsi.
    Bentuk warkop gampong di Aceh umumnya sederhana dan  tradisional, mulai dari fasilitas meja kursi hingga peralatan pengolahan saringan tradisionalnya. Tak terkecuali menu pendamping kopi, kue basah bikinan masyarakat kampung yang diolah secara tradisional, misalnya, pulut panggang, pisang goreng, boh rom-rom (klepon), timphan, kue mangkuk, dan berbagai kue basah tradisional lainnya.

    Warkop gampong terdiri atas dapur kopi dengan pemanas bara api, peralatan saring kopi, peralatan minum, rak tempat kue, deretan bangku, atau kursi panjang terbuat dari bahan kayu dan bambu ala desa. Warnanya pun warna alami yang terlihat sudah kusam, hanya sebagian kecil warkop  gampong yang kursinya terbuat dari plastik. Sebagian warkop di gampong rata-rata punya pelanggan tetap.

    Setiap hari pelanggan nongkrong hanya untuk menikmati secanggir kopi, kecuali ada pertandingan sepakbola, tentunya pelanggan menghabiskan waktunya ngopi sambil menonton televisisampai pertandingan usai. Kalau lagi ada turnamen bergengsi tingkat dunia semua warkop berlomba memasang pelbagai perangkat parabola untuk mempermudah menangkap siaran. Pemilik warkop tak lagi menghiraukan konsekuensi pengeluaran  warkop, yang penting siaran langsung bisa lancar dinikmati oleh pemirsa yang sekaligus pelanggan warkop.

    Bagi mayoritas masyarakat Aceh, menonton televisi di warkop, khususnya pertandingan sepak bola sambil menikmati segelas kopi mempunyai keasyikan dan kenikmatan tersendiri,  sehingga tidak heran apabila ada pertandingan bola bergengsi semua warkop penuh dan harus menambah kursi ekstra.
    Pemesan kopi juga beragam, ada yang pesan satu gelas duduk satu jam, ada juga pesan setengah gelas alias kopi pancung, lalu duduk berjam-jam, sesuai kondisi keuangan pemesan.

    Dulu kebiasaan orang tua di gampong saat ke luar dari pekarangan rumahnya menuju ke sawah, ladang, bahkan kantor, selalu memilih rute yang ia bisa singgah di warkop. Ya, hanya untuk menikmati secangkir kopi sambil bercengkrama dengan temannya sebelum menuju lokasi kerja masing-masing. Kondisi yang saya ceritakan di atas umumnya merupakan secuil kondisi warkop-warkop di Aceh tahun 2000 ke bawah.

    Sedangkan kondisi saat ini (tahun 2000 ke atas) atau pasca tsunami kondisi tersebut tentunya telah berubah total.  Seiring perubahan kondisi warkop di gampong sedikit banyaknya juga telah mengikuti perkembangan warkop di kota-kota yang bertumbuh bak jamur di musim hujan,baik di ibu kota kecamatan, kabupaten, maupun level provinsi.

    Kondisi hari ini ada warkop gampong yang justru mengikuti tren atau gaya warkop kota. Mereka mulai mendesain warkopnya menjadi kafe yang lengkap dengan fasilitas wifi 24 jam, kursi sofa, dan sajian kopinya pun mengikuti era masa kini. Tak lupa pula dirancang minimal  satu spot menarik untuk selfie.
    Kita sangat bangga dan berterima kasih pada pengusaha warkop yang telah membuka usaha kafe sesuai kondisi zaman. Ini menandakan pemilik warkop punya visi dan wawasan  enterpreneurship yang bagus.

    Minimal mampu membaca situasi peluang bisnis yang menjanjikan. Usaha-usaha tersebut telah pula mewarnai pertumbuhan kuliner Aceh dan meningkatkan ekonomi masyarakat menengah ke bawah dan membuka lapangan pekerjaan. Usaha dan kemajuan yang dijalankan kafe atau warkop semi kafe telah mewarnai proses peningkatan ekonomi masyarakat dan mempermudah beberapa pihak untuk  memperlancar proses tugas dan pekerjaannya yang serba online, baik sebagai pekerja, mahasiswa, dan anggota masyarakat lainnya.

    Namun, di balik keuntungan positif dari kehadiran warkop modern tersebut banyak juga yang salah dimanfaatkan, sehingga bisa menimbulkan kemudaratan bagi perkembangan generasi muda dan masyarakat secara umum. Betapa tidak, dengan sistem hotspot internet 24 jam, ada kawula muda telah menyalahgunakan fasilitas tersebut untuk enjoy dan nongkrong tanpa ada batasan waktu dan adab seorang anak yang hidup di negeri syariat.

    Bahkan banyak pula anak muda yang nongkrong di kafe atau warkop semi kafe sambil main judi online. Mereka duduk di warkop dengan gaya setengah sopan, duduk  jongkok kaki ke atas tempat duduk, bahkan ada juga yang sambil tiduran di kursi panjang, tanpa menghiraukan lagi orang tua yang kadang singgah untuk minum kopi.

    Ada juga warkop atau kafe modern di kota besar saat azan, kadang menutup rapat pintu  tokonya sampai satu nyamuk pun tidak bisa masuk ke dalam kafe, teryata di dalam atau restoran  penuh dengan manusia yang asyik berselancar dengan internet tanpa menghiraukan  azan, atau pun suara mengaji dari setiap corong mikrofon masjid dan meunasah.

    Fenomena ini bukan tidak mungkin suatu saat juga akan menjalar ke warkop semi kafe yang ada di tingkat gampong. Kita tentunya tidak alergi dengan perkembangan teknologi dan juga tidak membenci usaha warkop atau kafe, tetapi dengan kondisi seperti ini kita juga tidak ingin generasi Aceh hilang peradaban, krisis moral dan akhlak.

    Kalau hal ini tidak diantisipasi, kita sangat mengkhawatirkan krisis moral akan menjadi "bom waktu" baru bagi Aceh, selain narkoba di tingkat gampong.
    Inilah fenomena yang harus kita sikapi hari ini. Dulu warkop gampong seakan begitu santun, sederhana, dan adem ayem, tutup saat kegiatan keagamaan, pelanggan para orang tua duduk berdiskusi sebagai tempat refreshing dengan hidangan secangkir kopi ditemani kepulanasap rokok daun nipah.

    Untuk mengantisipasi diperlukan perhatian dan upaya preventif dini, membuat aturan dan regulasi, tentunya perlu keterlibatan semua pihak, baik penguasa, pengelola warkop dan masyarakat agar usaha kuliner berjalan lancar dan maju, upaya menyelamatkan masa depan generasi muda juga berjalan baik.
    Kondisi hari ini tentunya peran aktif orang tua untuk selalu memantau dan mengawasi remaja milenial harus ditingkatkan, kalau tidak diantisipasidari sekarang, apa yang pernah disampaikan Prof Farid Wajdi, mantan rektor UIN Ar- Raniry. "Ini musibah yang lebih besar dari bom atom," katanya. Ini karena kekhawatirannya melihat generasi muda yang duduk di kafe siang dan malam, dan kurang produktif dan efektif dalam pemanfaatan waktu.


    Artikel ini telah pernah tayang  di Serambinews.com dengan judul Fenomena Warkop Gampong di Era Milenial, hari Jumat, 3 Januari 2020.


  • Fikom dan Fisip Umuslim MoA dengan Dharmawangsa Medan

     

    Dua Fakultas di lingkup Universitas Almuslim Peusangan Bireuen mengadakan Memorandum of Agreement (MoA) dengan dua fakultas di lingkup Universitas Dharmawangsa (Undhar) Medan, bertempat di ruang rapat kampus induk Universitas Almuslim Matangglumpag Dua, Senin (9/12).

    Penandatangan kedua MoA tersebut ditandatangani masing-masing dekan,  Fikom Umuslim oleh Taufiq,ST.,MT dan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Dharmawangsa Prof.Dr.Suwardi Lubis,MS, kemudian Dekan Fisip Umuslim Drs.Ilyas Ismail,MA.P dan dekan Fisip Undhar Dr.Kariaman sinaga,M.AP.

    Perwakilan Universitas Almuslim pada kesempatan tersebut diwakili Taufiq,ST,MT dan Dr,Cut Khairani,MSi menyampaiakan rasa senangnya atas inisiatif Universitas Dharmawangsa Medan berkunjung ke Universitas Almuslim dalam rangka mengadakan Memorandum of Agreement (MoA) antara dua fakultas dilingkup Universitas Dharmawangsa Medan dan Universitas Almuslim, harapannya agar  perjanjian kerjasama ini dapat diimplementasikan kegiatannya dalam bentuk aksi nyata secara bersama misalnya bidang penelitian, study banding dan bidang akademik lainnya, 

    Kemudian perwakilan Universitas Dharmawangsa Medan Amru Yasir,S.Kom.,M.kom menyampaiakan bahwa  mereka memilih Universitas Almuslim sebagai salah satu mitra kerja sama, karena mereka mengetahui bahwa Umuslim merupakan salah satu PTS di Aceh yang telah banyak mengalami perkembangan dan merupakan Universitas terbaik di lingkup LLDikti XIII Aceh. 

    Banyak hal yang bisa kami manfaatkan dan belajar dari Universitas Almuslim, walaupun kampus Umuslim berada di kampung tetapi banyak perkembangan dan kelebihan seperti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masayarakat (LPPM)  sudah klaster utama serta mampu melakukan kerjasama dengan berbagai kampus dan  lembaga, baik dalam maupun luar negeri, papar Drs.Zulkarnain,M.Ap dosen Fisip Undhar  mantan Sekpel Lldikti wil XIII Aceh menambahkan. 

    Saat penandatanagan MoA dari universitas Dharmawangsa turut hadir Amru Yasir,M.kom Ka.prodi teknologi Informasi, Drs.zulkarnain,M.Ap (Fisip),Ega Evinda Putri,M.kom, Randika Kanike Bania,M.Kom, Jovi antaraes,M.kom, Nur Ambia Arma,M.Ap dan Dr. Budiman Purba,M.Ap (Lembaga Penelitian).

    Sedangkan dari Universitas Almuslim selain Dekan juga dihadiri wakil dekan Fisip Dr.Cut Khairani,Msi, dan wakil dekan Fikom Riyadhul Fajri,M.Kom serta didampingi sejumlah dosen.(HUMAS).

  • Fikom Umuslim jalin Kerjasama dengan PT PIM

    Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Universitas Almuslim Peusangan Bireuen menandatangani  Memorandum of Agreement (MoA) dengan PT.Pupuk Iskandar Muda (PIM) Lhokseumawe.

    Perjanjian dalam bentuk kerjasama ini ditandatangai oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fikom Umuslim Riyadhul Fajri, S.St,M.Kom dan Direktur Utama PT PIM Husni Achmad Zaki bertempat di komplek PT PIM Krueng Geukuh Senin (24/2).

    Usai penandatanganan tersebut Riyadhul Fajri menyampaiakan terimakasih kepada jajaran perusahan PT PIM atas terlaksananya penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) ini.

    Penandatanganan Nota Kesepahaman ini  sebagai langkah awal untuk memanfaatkan potensi dan kemampuan yang dimiliki kedua pihak dan  merupakan tindak lanjut untuk mensukseskan program Kemendikbud yang baru saja diluncurkan dalam program kampus merdeka, ujar Wakil Dekan Fikom bidang akademik Fikom Umuslim.

    Harapannya  dengan adanya perjanjian kerjasama ini dapat terus diimplementasikan kegiatannya dalam bentuk aksi nyata secara bersama,“ Kami sangat membutuhkan kerjasama ini dalam rangka membekali mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmunya sambil belajar dilingkungan industri sesuai harapan pemerintah”, ujar Riyadhul Fajri.

    Menurut Riyadhul Fajri lingkup kerjasama yang telah ditandatangani Fikom Umuslim dengan perusahaan pupuk ini meliputi, kerjasama dalam bidang pengembangan kurikulum, kerjasama bidang pengembangan sumber daya manusia, kerjasama dalam bidang tata kelola kelembagaan, kerjasama dalam bidang pengembangan program studi,kerjasama dalam bidang penelitian dan kerjasama dalam bidang penjaminan mutu,jelasnya.

    Usai penandatangan MoA ini kedua pihak melakukan foto bersama dengan sejumlah karyawan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Lhokseumawe.(HUMAS)







     

  • Fisip umuslim gelar buka puasa bersama

     Peusangan-Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (Fisip) Universitas Almuslim (Umuslim) mengelar acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi, yang di gelar kampus timur, Senin, (20/5)

    Menurut ketua Bem Fisip Husnul Fuadi, kegiatan ini dalam rangka mempererat silaturahmi antara rektorat, dekanat, mahasiswa dan alumni, Insya Allah bulan depan kami juga akan mengelar beberapa kegiatan lain dalam rangka promosi fakultas Ilmu sosial dan politik kepada adik-adik SMA dan masyarakat secara umum ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut mewakili Alumni disampaikan Munazir Nurdin atau lebih populer  "Boh Manok" mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara silaturahmi ini, semoga dengan  jumlah alumni yang sudah sukses di Fisip akan dapat memajukan fakultas ini kedepan, ungkap anggota DPRK Bireuen terpilih ini.

     Turut menyampaikan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengukapkan  rasa bahagia atas silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama yang di gelar mahasiswa Fisip, semoga kebersamaan dan kekeluargaan ini dapat mempererat  ukhuwah diantara civitas akademika umuslim. 

    Walaupun kita berada di kampung tetapi dengan kekompakan semua pihak baik rektorat, dekanat, alumni dan mahasiswa akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa bagi kampus  dalam menata pengembangan kampus dimasa yang akan datang, papar H.Amiruddin Idris.

    Hadir  dalam buka puasa tersebut Ketua Yayasan, Rektor, wakil rektor, dosen alumni, mahasiswa dan  tokoh masyarakat seputaran kampus, acara buka bersama diakhiri dengan menyantap kuah belangong dan shalat magrib berjamaah.

    Sehari sebelumnya Fakultas Ekonomi Umuslim juga  menggelar acara serupa, yang  dihadiri  Civitas Akademika,  dosen, alumni , ormawa dan mahasiswa.(HUMAS)

     

  • Fkip Umuslim menangkan dua hibah dari Kemenristekdikti

     

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim Peusangan berhasil memenangkan dua hibah dari  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), hibah tersebut yaitu  bidang program bantuan pembelajaran berpusat mahasiswa atau Student Center Learning (SCL) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS).

    Kepastian berhasilnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim memenangkan hibah tersebut disampaikan Dekan FKIP Universitas Almuslim M.Taufiq,MPd, Jumat (14/5), berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Nomor: B/358/B2.1/PB.01.00/2019 tanggal 27 Mei 2019 dan Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019. 

    Menurut M.Taufiq tujuan program hibah SCL, untuk meningkatkan kualitas dosen dalam mengajar, nantinya mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, kreativitas, literasi digital, problem solving, dan self directed learning.

    Pada program hibah SCL berbasis TIK melibatkan 18 dosen dari 9 program studi dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim. 

    Semua  dosen tersebut merupakan pengampu sembilan mata kuliah yang direncanakan pada program hibah tersebut. Kesembilan mata kuliah tersebut masih disampaikan melalui perkuliahan tatap muka, namun melalui program SCL berbasis TIK, mata kuliah tersebut akan disampaikan menggunakan pendekatan Blended Learning.

    Nantinya dari program hibah ini  akan menghasilkan sembilan suntingan/kompilasi video aktivitas pembelajaran di kelas, implementasi mata kuliah pada sembilan  program studi yang memanfaatkan TIK menggunkan metode SCL dan nantinya akan adanya sembilan Artikel yang dipublikasikan pada jurnal Nasional.

    M.Taufiq mengharapkan melalui hibah SCL berbasis TIK ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran dosen pada era Revolusi Industri 4.0. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi sosial seluruh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim, semoga kedepan  program hibah SCL berbasis TIK ini dapat diperluas pada program studi-program studi lain dalam lingkup Universtas Almuslim.

    Menurut  M.Taufiq  bahwa yang menangkan hibah SCL berbasis TIK ini hanya 11 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, untuk pulau Sumatera hanya ada dua perguruan tinggi yang lolos, satu di Bengkulu dan satu Universitas Almuslim di Aceh, ini merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan ungkap M.Taufiq terharu.

    Sebelumnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim juga telah ditetapkan sebagai pemenang Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS), hal ini sesuai surat Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019.

    Menurut Dekan Fkip program Hibah PDS sistemnya  mengirimkan dosen untuk melaksanakan pembelajran di sekolah serta mengimplementasikannya di perguruan tinggi, sedangkan Hibah SCL berbasis TIK lebih menekakann pada peningkatan kemampuan dosen dalam melaksanakan pembelajaran pada era revolusi 4.0. 

    Kegiatan SCL berbasis TIK sejalan dengan implementasi E-Learning di Universitas Almuslim yang telah dimulai pada semester ganjil tahun akademik 2016/2017 sesuai dengan SK Rektor Nomor 776/SK/Umuslim/PG.2016 tanggal 24 Juni 2016, jelasnya.(HUMAS)

     

  • FKU Umuslim Berakhir, ini dia juaranya

     

    Peusangan- Penutupan kegiatan  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) berlangsung semarak  ditandai dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang dan diiringi nyanyian lagu perpisahan dan lambaian bendera peserta kegiatan seperti dari Bem,HMJ,UKM, mereka mengucapkan sayonara dan bersalaman penuh persahabatan.

    Festival Kebudayaan Umuslim (FKU), yang pembukaannya menampilkan berbagai kesenian termasuk tarian nusantara hasil koreografer mahasiswa umuslim, dimana tarian ini dimainkan seratusan mahasiswa yang berasal dari Universitas Almuslim,Universitas Pakuan Bogor dan mahasiswi dari Nagoya Gakuin university (NGU) Jepang, Selain melibatkan mahasiswa umuslim dan  beberapa  perguruan tinggi dan sekolah menengah atas seputaran kabupaten Bireuen, Festival Kebudayaan yang merupakan ajang tahunan tersebut  juga  ikut  hadir penyair nasional Fikar W.Eda dan pegiat seni Apa Kaoy.

    Wakil Rektor III Umuslim Ir.Saiful Hurry,MSi saat pidato penutupan menyampaikan apresiasi kepada panitia atas kesuksesan pelaksanaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) yang ke 3, pihaknya berharap untuk kedepan agar kegiatannya dapat ditingkatkan lagi baik bidang kreativitas maupun kualitasnya, dan pesertanya juga  lebih luas lagi, dengan mengundang peserta dari berbagai daerah dan perguruan tinggi yang lebih banyak lagi, harap Saiful Hurry

    Ketua Pema Andy Maulana bersyukur atas suksesnya FKU ini, ajang ini merupakan tempat terjalin silaturahmi antara seluruh civitas akademika, mahasiswa dan beberapa kampus lain.

    Adapun pemenang dalam kegiatan tersebut : Bidang Vokal Solo Pria, juara I, M.Iqbal ( F.Teknik umuslim),juara 2. Rizki Alkausar (SMA 1 Bireuen), 3.Rahmat (IAI Almuslim), Vokal Solo Wanita, juara I,  Mauliza Sari (SMA 1 Bireuen), juara 2 Azizah (Lhokseumawe), juara 3 Jauza (Lhokseumawe), Harapan I Cut Vita Aryana (Unimal Lhokseumawe), Harapan 2 Ocha Febri Riyanti (Kebidanan Umuslim).

    Kemudian bidang lomba Bola Sarung juara I Fakultas Ekonomi Umuslim, Juara 2 KSR-PMI, cabang Cakceng, tingkat SMA, Juara I Amanda Melani (SMA 2 Peusangan), Juara 2 Nuraida (SMK 1 Peusangan), Caceng mahasiswa, Juara I Intan Fajarna (Fisip), Juara 2 Mursyida (FKIP), Lomba Dodaidi mahasiswa Juara I Safira Amalia ( Unimal Lhokseumawe),Juara 2 Nurliza (EKP Umuslim), Dodaidi siswa Juara I Maulizar Sari (SMA I Bireuen), Juara 2 Liza Maiviza (MAN 3  Bireuen).

    Dilanjutkan dengan lomba  Stand peserta pameran kreativitas, Stand  terbaik diraih UKM Alaska, Stand terfavorit Fakultas Teknik , Duta mahasiswa Juara I Agam, Achdan ( Fisip umuslim), Inong Puja (Fisip), juara 2.Agam. M.Nizar (Teknik), Inong. Tiara (Fisip), Fotografi Juara I Salman, juara 2. Khaitami.

    Lomba opini Juara 1 Naila Zafira ( Fkip umuslim), Juara 2. Azzura (Fisip), Lomba Tarik tambang Putra, Juara I Bem Teknik, Juara 2.Bem Fisip, tarika tambang  Putri Juara I HMJ Bahasa Indonesia, Juara 2 HMJ EKP, Fashion show, Juara I TK juara I Izzatus safira (TK Ar Reza), Juara 2.Syahira (RA At Taqwa), Baca Puisi, mahasiswa Juara I Nurul Yana (Fkip), Juara 2 Syahrizal (Teknik), Baca Puisi, siswa Juara I Asmaul Husna (SMA I Bireuen), Juara 2.Saumi Naila (Pesantren Almuslim),permainan Congklak Mahasiswa Juara I Israimi (Fkip), Juara 2 Khairunnisak (Teknik), Congklak siswa Juara I Merry ( SMPS Ummul Ayman), Juara 2 Ikwani (MAN 7 Bireuen).(Humas)

     

     

     

     

  • Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu sekolah.” Ya, waktu itu ada Pendidikan Guru Agama (PGA) Almuslim dan Pesantren Almuslim. Dulunya, Almuslim itu dikenal dan ditakuti serdadu Belanda, karena memiliki tokoh pejuang yang juga pendiri Almuslim, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Chik Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Ammad, dan sederet tokoh lainnya.

    Sejarah awal Almuslim dimulai tahun 1929. Saat itu, ulama dan ulee balang di Peusangan mendirikan organisasi sosial bernama Jamiatul Muslim (saat ini namanya Yayasan Almuslim Peusangan). Yayasan ini tergolong unik, berbeda dengan yayasan lain di Indonesia bahkan dunia, yakni milik masyarakat Kecamatan Peusangan lama (sebelum pemekaran), setelah pemekaran jadi empat kecamatan: Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Jangka. Setiap lima tahun sekali para keuchik, imum gampong, dan imum mukim dalam empat kecamatan itu bermusyawarah memilih ketua yayasan.

    Yayasan ini sempat hilang dalam peredaran, kemudian tahun ‘70-an atas inisiatif almarhum M. A. Jangka, saat itu Camat Peusangan, bersama beberapa tokoh pendidikan, pemerintahan, tokoh masyarakat, mereka bermusyawarah untuk menghidupkan kembali yayasan ini.

    Pelan tapi pasti yayasan terus bergerak, dimulai dengan mendirikan beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah, kemudian 14 Zulkaidah 1406 H bertepatan dengan 1 Agustus 1985 didirikanlah Perguruan Tinggi Almuslim (PTA) yang membawahi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK), tetapi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang merupakan cikal bakal lahirnya  Institut Agama Islam (IAI) Almuslim sekarang kampusnya berlokasi di Paya Lipah Kecamatan Peusangan, jaraknya  lebih kurang 3 kilometer arah barat  dari kampus Universitas Almuslim, sedangkan lokasi gedung tua Almuslim sekarang telah menjadi kantor yayasan almuslim peusangan (YAP) dan pusat administrasi Pesantren Almuslim Peusangan.

    Saya bergabung dengan Almuslim tahun 1992, setelah lulus SMEA Peusangan dan menjadi staf tata usaha. Saat itu, gedung kuliah sangat terbatas, masih semipermanen. Biro rektor dulunya berada di Gedung Sekretariat Pesantren Terpadu Almuslim sekarang. Gedung ini merupakan gedung tua yang direhab atas bantuan PT Arun NGL Co Lhokseumawe.

    Gedung ini sangat kokoh karena dibangun dengan batu bata yang disusun mendatar. Beberapa kali gempa tidak ada yang retak. Gedung ini menjadi saksi bisu saat konflik berkecamuk di Aceh. Saat konflik pernah saya dan teman harus tiarap di lantai menghindari peluru karena terjadi baku tembak di seputaran kampus.

    Gedung ini bersebelahan dengan Markas Koramil Peusangan, tentunya menjadi sasaran bom atau peluru pihak GAM. Kami yang sedang bekerja terkena imbasnya. Saya ingat waktu itu, laki-laki diminta berbaris di halaman gedung, sedangkan perempuan tetap berada di dalam ruangan.

    Suasana sangat mencekam, kami tak bersuara, lutut kami gemetar. Air mata membasahi pipi mengenang suasana tersebut. Saat itu hanya doa yang yang terbetik di dalam hati, perasaan penuh tanda tanya: Masih adakah kesempatan untuk menghirup udara esok hari? Dengan hati gundah, akhirnya rekan-rekan yang diminta berbaris kembali ke ruangan, semua memiliki kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Gedung tua itu benar-benar jadi saksi bisu perjalanan proses pendidikan tinggi di Almuslim. Gedung tua ini juga berperan dalam sejarah berdirinya Kabupaten Bireuen, saat detik-detik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen perdana. Semua yang ikut dalam rapat tersebut tidur beralaskan tikar sederhana, menunggu hasil keputusan esok harinya.

    Selain itu, banyak juga tamu luar negeri, pejabat tinggi, mulai dari pejabat pusat, provinsi, kabupaten, dan pimpinan proyek vital datang ke gedung tua ini dan dijamu di ruangan tersebut.

    Pada 15 Januari 2003 Universitas Almuslim (Umuslim) lahir sebagai hasil peleburan beberapa sekolah tinggi dan akademi dalam lingkup Perguruan Tinggi Almuslim, diresmikan oleh Gubernur Aceh waktu itu, Ir Abdullah Puteh MSi. Saat peresmian, gedung tua itu merupakan gedung utama biro rektor dan area utama lokasi peresmian.

    Saya ingat, setelah acara peresmian Umuslim, Gubernur Aceh melanjutkan perjalanan dinas ke Kecamatan Makmur. Eh, di dalam perjalanan tiba-tiba rombongan gubernur diserang pihak sipil bersenjata. Dalam rombongan ada Ibu Marlinda, istri Gubernur Abdullah Puteh dan istri Pak Amiruddin Idris (Rektor pertama Umuslim yang juga Wakil Bupati Bireuen). Saat rombongan kembali, istri rektor menceritakan kronologis kejadian, mereka diselamatkan aparat keamanan dan dipakaikan rompi antipeluru. Dalam kejadian itu sempat tertembak seorang perwira polisi. Suasananya sangat mencekam. Saya dan rekan-rekan mendengarnya saja merinding ketakutan.

    Alhamdulilah, perjalanan Umuslim yang dimulai dari pahit getir semasa penjajahan Belanda dan diresmikan di tengah kondisi konflik, tetap bertekad bulat mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Tahun 2002, universitas mengalamai perkembangan signifikaan saat Rektor Umuslim, Amiruddin Idris menjabat Wakil Bupati Bireuen periode 2002-2007. Banyak bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, diberikan untuk Universitas Almuslim. Sejak saat itulah banyak gedung perkuliahan yang terbuat dari papan atau yang semipermanen berubah menjadi gedung permanen. Termasuk penambahan beberapa mebel dan lab. Kampus Umuslim pun mulai menampakkan wajah sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesungguhnya.

    Saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh, baik PTN maupun PTS sempat lumpuh, banyak dosen dan mahasiswa meninggal. Nah, saat itu Umuslim ikut menampung mahasiswa yang selamat. Sampai-sampai jumlah mahasiswa tak sebanding dengan jumlah ruang kuliah dan kursi. Rektor Umuslim, H Amiruddin Idris lalu memohon bantuan kepada beberapa donatur untuk membantu Umuslim. Salah satu lembaga yang mengulurkan bantuan dari Italian Goverment, perwakilan negara Italia. Hasilnya, bisa dibangun gedung perkuliahan bertingkat, perumahan dosen, sarana ibadah, fasilitas laboratorium, dan pengembangan sumber daya manusia dengan memberikan beasiswa untuk lanjutan studi dosen.

    Tahun 2007, tercatat sebagai tahun puncak perkembangan Umuslim. Banyak calon mahasiswa masuk dengan persaingan ketat, ditambah dengan adanya kepercayaan pemerintah pusat melalui Kementerian Dikti sebagai pelaksana Program Pendidikan Guru dalam Jabatan di Provinsi Aceh, sehingga mahasiswanya mencapai 20.000 orang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, puluhan program hibah dari Dikti pun berhasil dimenangkan.

    Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, manajemen kampus berupaya mencari network penggalangan dana untuk membangun gedung baru. Lalu rektorat bersama yayasan bermusyawarah dengan keluarga Ampon Chiek Peusangan untuk memanfaatkan gedung bersejarah milik Ulee Balang Peusangan (rumoh geudong milik Ampon Chiek Peusangan) sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran. Dengan catatan gedung itu tidak boleh diubah bentuknya, tetap sebagai rumoh geudong. Kini kawasan ini dikenal sebagai Kampus Ampon Chik Peusangan, Universitas Almuslim yang berlokasi di depan Masjid Besar Peusangan.

    Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi dan memperluas jalinan kerja sama untuk mengabdi mencerdaskan anak negeri, mengikuti berbagai regulasi yang terus bergulir sesuai kondisi. Sekarang, puluhan dosen sedang menyelesaikan studi S3 di dalam maupun luar negeri. Setiap tahun pula Kampus NGU Jepang mengirim mahasiswanya untuk belajar di Umuslim, begitu pula sebaliknya. Umuslim juga rutin mengirim mahasiswa PPL-KKM ke Thailand dan Malaysia.

    Kesungguhan, jalinan kerja sama, dan kekompakan telah mengantarkan Umuslim menjadi Universitas Swasta Terbaik Se-Aceh Tahun 2018, sebagaimana ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIII Aceh. Alhamdulillah. Umuslim terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat Aceh dan bangsa.

     

    Tulisan ini telah pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 11/7/2019/ dengan judul Gedung tua almuslim saksi bisu saat konflik.

  • Guru dan santri dayah dilatih cara pembuatan pupuk organik

     

    Sejumlah dewan guru dan  santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Meureudu dilatih pengolahan tanah dan teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik, oleh tim pengabdian masyarakat dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen, berlokasi di desa Blang Awe Pidie Jaya,20 juli 2019.

    Ketua tim  pengabdian Dr. Halus Satriawan. Sp.,M.Si menyampaikan kegiatan pelatihan dilakukan  dosen Universitas Almuslim Peusangan, sebagai implementasi program Hibah yang didanai Kemenristekdikti melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2019.

    Menurutnya tujuan pelatihan  untuk memberikan Informasi dan pengetahuan praktis dan teknis kepada dewan guru dan santri tentang pengolahan tanah mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman (pengendalian gulma dan pemupukan) yang sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan ditanam, jelas alumni bidang ilmu tanah  IBP Bogor ini.

    Selain itu juga kami mengajarkan  dan praktik langsung teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik.

    Menurut  ahli bidang ilmu pengolahan tanah Fakultas Pertanian (FP) Universitas Almuslim,  pelaksanaan pelatihan bagi guru dan santri ini, untuk memaksimalkan  pemanfaatan lahan pesantren bagi usaha budidaya pertanian, sehingga nantinya  dapat melatih kemampuan dan kemandirian santri dan guru dalam menyediakan kebutuhan pangan dan membantu dalam meningkatkan produktivitas mereka, papar Halus Satriawan putra kelahiran Lombok NTB ini.

    Kemudian Hakim Muttaqim, Mec.Dev.  anggota tim pengabdian menambahkan bahwa selain melatih  cara pengolahan tanah dan bidang pupuk kompos tim pengabdian juga memberikan pelatihan pengetahuan tentang sistem pemasaran atau tata niaga hasil pertanian kepada  dewan guru dan santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Meureudu Pidie Jaya.

    Harapannya dengan adanya pengetahuan ini kedepan diharapkan lembaga mitra mampu menciptakan sendiri pemasaran hasil panennya tanpa harus melalui jalur rentenir, terang  Hakim Muttaqim.

    Pimpinan Dayah Sirajul Huda Al-Aziziyah Meureudu kabupaten Pidie Jaya Tgk ikhwani, menyambut baik kegiatan pengabdian ini,kegiatan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman dewan guru dan santri dalam bertani serta dalam hal pemasaran hasil pertanian, ujarnya(HUMAS UMUSLIM).

     

     

  • Halus Satriawan dan Sitti Zubaidah Raih Dosen Berprestasi Tingkat Aceh

     

     

    Dua orang dosen universitas almuslim (Umuslim) Peusangan Dr. Halus Satriawan,Sp.,MSi dan Dr.Ir.Sitti Zubaidah,S.Pt,S.Ag,MM,IPM berhasil meraih prestasi membanggakan dengan meraih predikat sebagai dosen berprestasi tingkat LLDikti Aceh, Informasi tersebut diperoleh berdasarkan pengumuman  yang dikeluarkan dan ditandatangani  Kepala LLDikti Aceh  Prof.Dr. Faisal, SH.,M.Hum, Senin (19/8).

    Kedua Dosen tersebut Dr. Halus Satriawan,Sp.,MSi sebagai Dosen berprestasi I bidang sains dan teknologi, sedangkan kedua Dr.Ir.Sitti Zubaidah,S.Pt,S.Ag,MM,IPM dosen berprestasi II bidang Sosial Humaniora.

    Sebagai informasi Halus Satriawan merupakan putra kelahiran Lombok  Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 11 Juni 1980 silam,  mulai mengabdi di Umuslim sejak tahun 2008. Proses pengabdian alumni pasca sarjana (S2) IPB Bogor dan S3 USU Medan ini di Kabupaten Bireuen, setelah Umuslim menerima lamarannya yang didaftar melalui online pada saat penerimaan dosen sebelas  tahun lalu.

    Riwayat pendidikan dosen tetap Umuslim ini dimulai tahun 1991 menamatkan Sekolah Dasar Negeri Batujai Lombok, kemudian menamatkan SMP pada tahun 1994, STM tamat tahun 1997, dan Sarjana Pertanian pada Universitas Mataram  pada tahun 2003,  semuanya itu di Nusa Tenggara Barat (NTB), kemudian hijrah ke pulau Jawa dan menyelesaikan Program Pasca sarjana(S2) Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007, dan program Doktor (S3) di USU Medan sekarang menjabat sebagai ketua LPPM Universitas Almuslim.

    Sedangkan Sitti Zubaidah, kelahiran  Tanjung Pura, 01 Agustus 1975, Riwayat pendidikannya Sarjana (S1) Peternakan Unsyiah,  Sarjana (S1) IAIN Ar-Raniry Tarbiyah/Bahasa Inggris, Magister (S2) Unsyiah Manajemen dan Program Doktor (S3) Universitas Brawijaya ( Unibraw) Malang, sekarang menjabat sebagai ketua prodi Peternakan fakultas pertanian universitas almuslim, sebelum mengabdi di umuslim alumni S3 Universitas Brawijaya Malang ini pernah  bekerja pada NGO FAO-UN.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris, SE.,MSi  mengucapkan syukur atas prestasi yang diraih dua dosen ini, keberhasilan ini semoga menjadi spirit bagi seluruh civitas akademika untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi pengembangan Universitas di masa yang akan datang. (HUMAS).

     

     

  • Hari Kedua Umuslim wisuda 299 lulusan dan 34 orang raih Cumlaude

     

     

     

     

      Peusangan-Pelaksanaan rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana (S1) dan ahli madya  Universitas Almuslim, pada hari kedua  mewisuda sebanyak 299 lulusan dengan rincian 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP), Diploma III Kebidanan 44 lulusan dan  sebanyak 34 lulusan  meraih  prediket  cumlaude.

    Selain  prosesi wisuda lulusan Diploma III Kebidanan juga disumpah, Acara penyumpahan dipimpin Sekretaris Dinas Kesehatan Bireuen Dr.Irwan A.Gani berlangsung di Auditorium Akademic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Minggu (2/12/2018).

    Sebelum kata-kata sumpah di ucapkan oleh lulusan Diploma III Kebidanan, mereka terlebih dahulu di wisuda bersamaan dengan 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP). Jadi keselurahan yang di wisuda pada hari kedua sebanyak 299 orang dengan rincian, Diploma III Kebidanan 44 orang dan FKIP 255 orang, dari sejumlah lulusan tersebut sebanyak 34 orang  meraih  prediket lulusan  cumlaude

    Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE,M.Si  dalam pidatonya menyampaikan, sekarang di era revolusi industri 4.0, banyak regulasi yang menuntut guru dan bidan harus kompeten. Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Kebidanan.

    Para lulusan kependidikan  dan Kebidanan yang di wisuda hari ini, harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensi agar bisa menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0.

    Sekarang Guru setelah selesai S1, belum diakui sebagai guru, tetapi masih dituntut lagi untukmengikuti Program Profesi Guru (PPG), begitu juga  bagi lulusan Diploma III kebidanan, setelah tamat tidak langsung bisa bekerja tetapi mereka harus lulus Uji kompetensi untuk memperoleh STR.

    Sekarang Umuslim sedang berjuang untuk bisa menyelenggarakan Pelaksanaan PPG dimasa yang akan datang, sehingga lulusan siap menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0 ini, ujar Rektor Umuslim.

    Kepada lulusan jangan berputus asa, jangan hanya bermimpi jadi PNS, teruslah belajar meningkatkan kompetensi keahlian karena masih banyak peluang lain yang bisa saudara lakukan. Apapun dan dimanapun yang kita lakukan merupakan wujud dari pengabdian seorang lulusan, jelas  H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja kembali dari Pulau Andaman dan Nikobar India.

    Menurutnya menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi  seperti pengembangan Cyber university, penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal Teknologi Informasi, Kecerdasan buatan, sistem siber (Cyber System),  untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil.

    “Demikian pula bagi lulusan Diploma III Kebidanan, tidak boleh luput dari kemampuan keunggulan menguasai teknologi dan bahasa, hal ini karena perkembangan ilmu kedokteran yang begitu pesat dan tersebar cepat dengan berbagai penemuan baru,” ungkapnya.

    Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan Universitas Almuslim menghadapi Revolusi Industri 4.0.yaitu  program inovasi sistem pembelajaran pendidikan online learning (Cyber University).

    Program  Cyber University  nantinya diharapkan menjadi solusi bagi Universitas Almuslim dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital yang semakin berkembang.

    “Baru saja kampus ini menyelesaikan  program   Pendidikan Jarak Jauh dan Hibah Sistem Pembelajaran Daring Indonesia  (SPADA Indonesia) yang bertujuan untuk meningkatkan akses belajar mahasiswa dari dosen-dosen PTN dan PTS di seluruh Indonesia, dimana mahasiswa  mendapat pembelajaran secara Daring (online),” ungkap Rektor Universitas Almuslim.

    Hadir dan ikut memberikan  sambutan pada wisuda Umuslim hari kedua,  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan  Tinggi  (LLDiKTI) XIII Aceh, Prof Faisal A.Rani,SH,M.Hum dan ketua Pembina Yayasan Almuslim yang juga Anggota DPR RI, Drs Anwar Idris. Kemudian dilanjutkan dengan  orasi ilmiah disampaikan Prof Djufri, M.Si, Dekan FKIP Unsyiah dengan tema tantangan Guru masa depan..(HUMAS)

  • Histori Sumur tua, Jejak James Siegel di Aceh

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen tetap Universitas Almuslim( Umuslim), dan Anggota FAMe Chapter Bireuen.

    Profesor James Siegel, pria berkebangsaan Amerika Serikat kelahiran 10 Februari 1937, seorang Profesor Antropologi  dan Studi Asia dari Cornell University,  dikenal sangat dekat dengan   tokoh DI/TII dan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo  (1945-1953) Tgk Daud Beureueh di Beureunuen Pidie.

    Profesor,  jebolan Universitas California,  Amerika Serikat bersama isterinya Sandra wanita berkebangsaan Prancis, tahun 1962-1964, pernah  tinggal di Aceh, menetap dirumah almarhum Abdurrahman Basyah (ARMAS) di Gampong Lada Kecamatan Mutiara Timur Kabupaten Pidie.

    Minggu lalu penulis bersilaturahmi  dengan pemilik rumah Hj.Mariah binti Pardan (84),  walau sudah uzur nenek yang sudah mempunyai 28 cucu ini, ingatannya  masih kuat, penuh semangat bercerita berbagai kisah kehidupan  James Siegel selama menetap dirumahnya.

    Didampingi putra bungsunya, Amir Armas, Hj Mariah menceritakan  kisah James Siegel  tinggal  di rumah Aceh miliknya. Rumah tersebut mempunyai 12 tiang (tameh). Menurut Hj Mariah, rumahnya ditunjuk sebagai tempat tinggal Siegel atas arahan Abu Daud Buereueh, tokoh utama dalam pemberontakan DI/TII Aceh yang menjadi objek penelitian Siegel, tempat tinggal James Siegel, jaraknya lebih kurang satu kilo meter ke kediaman Abu Daud Buereueh jelas Amir Armas.

    Menurut Hj.Mariah penunjukan rumahnya sebagai tempat tinggal Jiem Seigel atas arahan Abu Daud Buereueh, saat menetap di gampong Lada Jiem Siegel didampingi (Alm) Prof Dr.Amin Aziz bertindak sebagai penterjemah, karena Jiem Siegel  masih kurang lancar bahasa Acehnya, Amin Azis  putra Aceh pakar bidang ekonomi Syariah yang sukses di Jakarta.

    Histori keberadaan pria Amerika menetap di rumah tersebut,  tersisa sebuah sumur tua, di bangun saat James Siegel menetap bersama istrinya, “sumur itu keluarga kami yang bangun, saat pembangunan Siegel turut membantu tukang angkut batu bata ”, cerita Amir Armas mengenang masa kecilnya.

    Cerita lain  juga disampaikan  anak kedua pemilik rumah yaitu  Ir.Hasbi Armas (61) (mantan Sekretaris partai Demokrat Aceh/pengurus Gapensi Aceh) sekarang menetap dirumah tersebut bersama orang tuanya, menurut Hasbi masyarakat memanggil James Siegel  dengan nama  “Teungku Puteh” ada juga menyebutnya Tgk Jiem.

    Penyebutan nama James Siegel berbau aceh oleh masyarakat, merupakan  penghormatan dan penerimaan masyarakat Aceh pada tamu yang datang dan menetap di lingkungan mereka, ini bagian dari adat dan sejarah Aceh yang menghormati dan memuliakan tamu, jelas Hasbi Armas.

    Masa itu sudah berlalu, warga yang pernah tahu dan  kenal sosok Prof. Siegel sudah banyak  almarhum,   bukti peninggalan pria  Amerika pernah berbaur tinggal dalam komunitas  masyarakat aceh ada satu sumur berukuran 4 x 3, dinding beton setinggi 1.80 m, mempunyai kedalaman 7 cincin sumur, di dinding bagian dalam tercoret tulisan James & Sandra Siegel, Nov,24,1963 dan  alamat Siegel di Amerika, sumur tersebut kini  berdiri kokoh di sudut sebelah kiri halaman rumah  Hj.Mariah  desa Gampong Lada Kecamatan Mutiara Timur, Pidie.

    Sedangkan rumah Aceh  penuh ukiran sudah di bongkar, lokasi pertapakan rumah Aceh  sudah dibangun rumah beton minimalis masa kini, sisa sumur tersebut mempunyai makna  mendalam bagi warga,  siapapun generasi tua yang pernah mengetahui sosok "Tengku Puteh"  melihat sumur tersebut langsung terbayang nostalgia masa lalu keberadaan Profesor asal Amerika tersebut.

    Saat tinggal di Gampong Lada,  Siegel  dekat dan    pandai bergaul  mengambil simpati masyarakat, memanggil nama orang kampung  sangat familiar, penuh kearifan lokal, bernuansa keacehan seperti Utoh Samad, Geuchik Rasyid, Imum Sabi, Chiek Mud, Toke Usuh, Mat Sehak,  Polem Husen, Tgk Thaleb, Apa Kaoy, Apa Don, Cupo Mariah, Cupo Bungsu, Cupo Minah, Cuma Syah, Cupo Baren, Mawa Sani dan nama aceh lainnya, setiap berjumpa orang kampung  dengan fasih dan akrab memanggil nama berbau ke acehan.

    Bukti lain James Siegel  pernah tinggal di desa tersebut tertulis dalam buku  karangannya dalam bahasa Inggris berjudul The Rope of God (Berpegang pada Tali Allah), setahu penulis buku itu tidak banyak beredar di Indonesia. Isi buku  menceritakan kehidupannya selama tinggal di Gampong Lada Beureunuen dan Aceh secara umum, juga berisi  informasi pemikirannya  tentang sejarah, politik, kehidupan keagamaan dan  adat istiadat  masyarakat Aceh serta pandangannya dari seorang warga asing.

    Warga desa generasi kelahiran 50-an kebawah,  masih sangat kental ingatan dan kenangan  kehidupan James Siegel, asal disingung cerita Siegel mereka langsung terbayang kenangan masa lalu, sambil bercerita bukti sumur tua  tersebut. 

    Seperti cerita seorang warga Apayeuk Don, bercerita  pribadi Jiem Siegel, "Jiem sangat  dekat dan berbaur dengan masyarakat kampung, “baik kerja udep dan kerja matee di gampong dia selalu hadir", jelasnya sambil menghisap rokok yang tinggal  setengah inci lagi.

    Jiem juga ikut bersama masyarakat  menghadiri kanduri maulid di meunasah tetangga, kebiasaan masyarakat, setiap ada kanduri maulid di kampung saling mengundang, berkunjung  antar desa, untuk mencicipi kanduri maulid di meunasahnya, istilah mereka untuk desa tetangga mengundang besan.

    Begitu juga kalau ada takziah orang meninggal desa tetangga "Tgk.Puteh" bersama masyarakat ikut melayat,  kalau ada gotong royong di sawah dan kanduri dia hadir berbaur dengan masyarakat jelasnya.

    Keakrabannya tidak hanya dengan orang tua, dia juga pandai bergaul dengan anak muda, pernah pagi (Subuh) dia pergi ke meunasah melihat anak muda tidur meunasah, Jiem Siegel menjumpai anak muda yang baru bangun tidur,  Jiem Siegel bertanya  “Peu na lumpou buklam” (ada mimpi apa tadi malam) siapa  yang menjawab ada mimpi dan menceritakan mimpinya, Jiem langsung memberikan  uang sekedar  minum kopi dan sarapan  pagi, tidak ada  yang tahu  misteri  pertanyaan mimpi tersebut, sehingga gara-gara dikasih uang bagi yang bermimpi, besoknya  semua  yang tidur di meunasah merekayasa dan melapor cerita mimpi  dengan tujuan mereka juga dapat uang ngopi pagi, cerita Rahmad Rasyid bersama Amir Armas kebetulan pernah juga keciprat uang mimpinya.

    James Siegel pernah  cukup lama meninggalkan Aceh,  saat konflik pernah datang  ke Aceh dan pasca gempa tsunami Siegel kembali mengunjungi rumah tersebut sambil melihat sumur yang telah menjadi sejarah kehidupannya bersama istri,   ini membuktikan kecintaannya  bagi masyarakat aceh, saat itu Siegel menanyakan warga  yang dia kenal, masih ada atau sudah meninggal, kalau masih ada, dia kunjungi bersilaturahmi sambil memberikan ala kadar bungong jarou, seperti kebiasaan orang aceh mengunjungi orang tua ataupun orang sakit, timpal Rosda Armas anak Hj Mariah yang sekarang menetap di Medan.

    Untuk masakan tidak begitu masalah bagi Siegel, sehari-hari dia menyukai roti, kentang, masakan Padang, masakan aceh lebih suka masakan  bebek panggang dan udang, jelas Cupo Bungsu yang pernah memasak makanan untuk Tgk Jiem.

    Selain kisah ini, tentunya banyak histori lain sekitar kita,  layak  diungkap, dilestarikan dan dibukukan. Sudah saatnya pemerintah, masyarakat dan pegiat sejarah  menggali, menginventarisir, berbagai bukti, kisah dan mewarisi kejadian masa lalu untuk kepentingan anak cucu di masa depan. (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.).

     

    Artikel ini pernah  tayang di serambinews.com pada tanggal /19/08/2019/.dengan judul Sumur Tua, Jejak James Siegel di Aceh, 

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • HMJ Agribisnis umuslim gelar pelatihan kepemimpinan

    Peusangan-Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan melaksanakan  kegiatan  Pelatihan Kepemimpinan dan Pengenalan Organisasi bagi mahasiswa prodi tersebut, bertempat di aula kampus timur Universitas Almuslim, Sabtu (15/12/ 2018).

    Menurut  ketua HMJ prodi Agribisnis Fakultas Pertanian  Universitas Almuslim Wahyu Umaya, bahwa kegiatan ini dilaksankan satu hari penuh, bertujuan untuk  menumbuhkan semangat dan keinginan berorganisasi  bagi mahasiswa.

    Kegiatan yang mengambil  tema " Membangun sikap tanggung jawab dan disiplin dalam berorganisasi, menghadirkan pemateri   alumni yang telah sukses dalam berorganisasi seperti kakanda  Saifanur Suryadi. SP dan Muhammad Razanur.SP, kedua mereka adalah alumni fakultas pertanian dan juga mantan Presiden dan pengurus oraganisasi Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Umuslim, jelas Wahyu.

    Ketua Program Studi Agribisnis Elfiana SP,.M.Si, mengucapkan terimakasih kepada HMJ, kami sangat mendukung kegiatan yang digelar HMJ dengan mengelar  kegiatan yang  bermanfaat bagi mahasiswa guna  meningkatkan kapasitas keilmuan khususnya bidang organisasi.(HUMAS)

    Foto : Ramadhan

  • Humas dan Dosen Umuslim Ikuti Pelatihan Jurnalistik

     

    Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen Zulkifli,M.Kom bersama  dua orang dosen yaitu  Chairul Bariah,SE.,MM dan Dewi Maritalia,M.Kes mengikuti pelatihan Jurnalistik secara daring.

    Pelatihan yang diikuti para pimpinan, humas, dan dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari 102 PTS di Aceh ini dilaksanakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIII Aceh, Senin (12/10/2020).

    Sekretaris LLDikti Wilayah XIII Aceh, Dr Muhammad Ilham Maulana saat membuka acara itu mengatakan, pelatihan ini sangat dibutuhkan oleh pengelola perguruan tinggi swasta, khususnya tim humas agar bisa bertransformasi dalam menyajikan informasi kepada publik.

    “Sehingga dengan kemampuan tersebut, para praktisi humas di PTS mampu mengemas konten-konten yang kreatif dan informatif yang bisa didistribusikan kepada masyarakat, baik melalui media internal maupun media mainstream,” katanya.

    Selain itu, lanjutnya, sesuai dengan semangat ‘Kampus Merdeka’ menuntut PTS mampu membangun banyak networking, salah satunya dengan media.

    Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Kepala LLDikti Wilayah XIII, Prof Faisal Rani, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Teuku Haris Fadillah, Redaktur Eksekutif Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, dan Pemimpin Redaksi aceHTrend, Ihan Nurdin.

    Prof Faisal Rani dalam kesempatan itu menyampaikan, topik tentang peran humas dalam mengelola media komunikasi perguruan tinggi dalam perspektif hukum. Menurut Prof. Faisal, keberadaan Undang-Undang tentang Keterbukaan Informasi Publik No 14 Tahun 2008. “Humas setidaknya memegang tiga peranan penting, yaitu sebagai media sosialisasi, perwajahan perguruan tinggi, dan humas harus mampu membina hubungan dengan pers,” katanya.

    Sementara Teuku Haris Fadillah mengatakan, humas perguruan tinggi harus dapat menyampaikan informasi secara berkala dengan cara mengamati, mencari, dan mengemas informasi-informasi dengan menarik.

    Dengan adanya peran media humas di lembaga, diharapkan bisa mempermudah komunikasi antarlembaga dan masyarakat, di mana media juga sebagai salah satu alat dan sarana humas.

    Sedangkan Redaktur Eksekutif Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika menambahkan bahwa untuk bisa memproduksi konten-konten yang menarik dan informatif, tenaga humas di perguruan tinggi harus memiliki motivasi untuk bisa menulis.

    “Humas di PT harus memiliki kecakapan dalam membuat siaran pers (press release). Meski beberapa humas tidak memiliki latar belakang jurnalistik, tetapi humas harus mampu belajar untuk memiliki kecakapan individual yang setara dengan jurnalisme profesional,” katanya.

    Sedangkan, Ihan Nurdin menyampaikan di era keterbukaan informasi saat ini telah mengubah perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi.
    Dengan hadirnya perangkat teknologi semacam ponsel pintar, semua informasi bisa dengan mudah didapatkan.
    Ihan juga memberikan penekanan, mengenai pentingnya pengelolaan website perguruan yang selaras dengan yang diamanahkan oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik.

    Dalam hal ini, kata dia, perguruan tinggi juga harus bertransformasi sesuai dengan karakteristik revolusi industri, yaitu inovasi, automasi, dan transformasi informasi yang sangat cepat.

    “Website tidak hanya sebagai media publikasi dan promosi, namun juga dapat diakses sebagai sarana komunikasi interaktif. Sehingga dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak,” ujar dia.


    Artikel ini telah tayang di serambinews.com tanggal 13/10/2020 dengan judul Pimpinan, Humas, dan Dosen Perguruan Tinggi Swasta se-Aceh ikuti pelatihan jurnalistik

  • India dan Umuslim tingkatkan Kerjasama Bidang Pendidikan

     

     

    Pemerintah India menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kerjasama bidang pendidikan dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen, Hal itu dikatakan Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia dan Timor Leste, Pradeep Kumar Rawat, dalam pertemuan singkat dengan Rektor dan civitas akademika Umuslim, di Ruang Rapat  Ampon Chiek Peusangan, Matangglumpangdua, Rabu (7/8) Sore.

    Pada pertemuan tersebut Dubes Pradeep Kumar Rawat  didampingi Konsulat Jendral India di Medan yang berbicara dalam bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bahwa ada universitas swasta di India sedang menjajaki untuk melakukan kerjasama dengan universitas di Indonesia. 

    "Universitas di India melakukan pendekatan dengan Dubes India untuk Indonesia, agar dapat menghubungkan dengan universitas-universitas di Indonesia, seperti Universitas Almuslim ini," papar   Pradeep Kumar Rawat  

    Menurutnya  Pemerintah India banyak menawarkan program pendidikan dan pelatihan gratis bagi akademisi, pegawai negeri. Dan disarankan kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk memanfaatkan program tersebut. 

    "Di India, program pelatihan banyak dimanfaatkan oleh pegawai pemerintah dan akademisi. Karena semua biayanya gratis," ungkapnya.

    Selain itu,  Dubes India untuk Indonesia ini juga menyampaikan bahwa biaya pendidikan dan biaya  kebutuhan hidup di India sangat murah. "Demikian juga masalah makanannya, antara Aceh dan India banyak kesamaan," jelasnya 

    Ia juga memastikan, program pertukaran mahasiswa antara Umuslim dengan universitas di India akan segera dilaksanakan. Pada kesempatan itu, Dubes India Pradeep Kumar kawat menyampaikan penghargaan kepada Umuslim yang telah menyambut kehadirannya di Kabupaten Bireuen. Meskipun menempuh perjalanan darat dari Banda Aceh terasa melelahkan, namun rasa lelah itu terbayar dengan menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan. 

    "Berjalan jauh dari Banda Aceh ke Bireuen seperti saya melakukan perjalanan di India," ungkapnya senang.

    Menurut Pradeep Kumar kawat  lagi, kehadirannya di Umuslim, untuk memenuhi janjinya dengan Rektor Umuslim Dr H Amiruddin Idris SE MSi beberapa waktu lalu. "Saya pernah menjanjikan untuk mengunjungi Universitas Almuslim. Hari ini sudah saya penuhi janjinya walaupun hanya sebentar," ungkapnya.

    Sebelumnya, saat penyambutan Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris, SE MSi menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste dan Konjen India di Medan yang telah mengunjungi Umuslim.  Dan umuslim merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi yang dikunjunginya dalam lawatan ke Aceh. Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim memperkenalkan secara singkat tentang perguruan tinggi yang dipimpinnya itu.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  menyampaikan, bahwa Umuslim memiliki 6 orang dosen yang merupakan lulusan universitas di India. "Bahkan ada dosen yang menyelesaikan program doktoral di universitas di India," beber H.Amiruddin Idris. 

    Rektor yang juga penulis buku "Bireuen sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh" ini kepada Dubes India menyampaikan, bahwa ide Konektivitas Pengembangan Ekonomi tiga negara, Indonesia - India - Myanmar lahir di Umuslim. 

    Pihaknya sangat bersyukur karena gagasan yang dilahirkan oleh Universitas yang berada di kampung ini telah mendapat sambutan hangat Presiden Joko Widodo, kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Luar Negeri

    Drs Nurdin Abdulrahman, Bupati Bireuen periode 2007-2012  saat ini menjabat sebagai Direktur Hubungan Internasional Umuslim juga hadir dan menyampaikan gagasannya dalam bahasa inggris tentang kerjasama bidang pendidikan.

    Pada kesempatan tersebut hadir ketua pembina dan ketua yayasan Almuslim Peusangan,  dosen dan mahasiswa Prodi Hubungan Internasional dan mereka juga berkesempatan berbicara langsung dengan Dubes. (HUMAS)

     

  • Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta,

    CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

    CERITA masa lalu sering tersembunyi di balik nama sebuah desa atau gampong, termasuk di Provinsi Aceh. Cerita rakyat berupa legenda atau kisah sebuah desa sering tidak tercatat dalam sejarah, tapi diakui secara turun-temurun oleh masyarakatnya. Ada tradisi bahkan ritual yang terkadang harus dilakukan. Jika tidak, maka akan terjadi sesuatu, ya sebutlah semacam bala atau tulah (kemalangan). Namun, banyak juga orang yang mengatakan bahwa itu adalah mitos, meski ada juga yang sebagian mengatakan itu justru kenyataan atau realita yang harus dipatuhi.

    Salah satu desa yang termasuk dalam cerita sejarah dan legenda adalah Gampong Lamkuta di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Desa Lamkuta dapat ditempuh ± 15 menit perjalanan dari ibu kota Kecamatan Peusangan, Matangglumpang Dua. Desa ini merupakan desa tertua di Kecamatan Jangka dengan jumlah penduduk hanya 300 jiwa.

    Asal mula nama Desa Lamkuta, yaitu dari kata “Lam” dan “Kuta”. Lam artinya di dalam (bahasa Aceh), sedangkan kuta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tempat berlindung. Begitu juga dalam bahasa Aceh, kuta bermakna kubu/pertahanan. Jadi, artinya tempat pertahanan atau berlindung dari serangan musuh.

    Sampai saat ini masih dapat kita lihat sisa zaman perang di Lamkuta, berupa gundukan tanah yang dulu dijadikan bunker atau tempat pertahanan perang di bawah tanah, karena pada zaman dulu semasa perang melawan Belanda dan Jepang Lamkuta menjadi pusat pertahanan perang di wilayah Bireuen, terutama di Peusangan. Bukti sejarah terjadinya “Perang Krueng Panjoe” yaitu perang Indonesia melawan Jepang pada 24 November 1945, dapat kita lihat di tugu dan prasasti yang terletak tidak terlalu jauh dari pinggir jalan nasional, tepatnya di Desa Meuse, Kecamatan Peusangan.

    Ada sebelas tokoh pemimpin yang namanya terukir pada prasasti tersebut yang ikut bertempur pada masa itu, yakni Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Ismail AR, Tgk H Mohd Thahir Mahmud, dan lain-lain. Ada juga para syuhada yang gugur dalam perang tersebut, di antaranya Mandor Basyah, Tgk H Cut Ben, Tgk H Krueng, dan lain-lain. Namun sayangnya, bukti sejarah tersebut belum terawat dengan baik.

    Menurut informasi yang saya dapat dari Munawir, Keuchik Lamkuta bahwa penduduk Lamkuta mayoritas bekerja sebagai petani, dengan latar belakang pendidikan rata-rata tingkat SLTA, dan SMP. Hanya beberapa orang saja yang sarjana. Pria yang baru berusia 35 tahun ini juga mengatakan, karena minimnya keahlian sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki terkadang menjadi kendala mengapa Desa Lamkuta lambat perkembangannya jika dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Jangka.

    Masyarakat Lamkuta hidupnya juga sederhana, tidak ada yang kaya, tetapi hidup berkecukupan. Namun, di balik itu ada juga cerita legenda yang dipercaya secara turun-temururn oleh masyarakat Lamkuta, sebagaimana dikisahkan salah seorang tokoh masyarakat bernama Nek Him, orang tertua di Lamkuta yang disampaikan oleh Tgk Nasruddin Ahmad berumur ± 70 tahun. Ia yang pernah menjadi mukim di Lamkuta Jangka menyebutkan bahwa Desa Lamkuta sudah ada sejak 1.300 tahun lalu. Dulunya desa ini bernama Meunasah Buloh, digagas oleh serombongan orang pedagang dari Gujarat, India yang datang melewati Selat Malaka dan mendarat di Kuala Jangka. Saat itu Desa Meunasah Buloh masih berupa hutan belantara yang banyak binatang buasnya, seperti harimau dan ular.

    Kepala rombongan itu bernama Ja Peucandu. Mereka membabat hutan belantara menjadi daerah permukiman. Ja Peucandu atau Raja Kecil adalah seorang tabib, di samping itu ia juga suka menangkap ikan di alue (anak sungai) dengan alat tradisional angkoi (jaring angkat). Lalu pada suatu malam, tepatnya 27 Ramadhan dia pergi ke alue untuk menangkap ikan. Namun, sampai menjelang sahur ikan tak juga didapat. Menjelang pulang naiklah seekor hewan mirip kura-kura tetapi berbelalai. Hewan ini dinamakan gajah sigeundiek. Ja Peucandu melepaskan kembali binatang itu ke alue sampai tujuh kali, namun ia naik lagi. Akhirnya, Ja Peucandu membawanya pulang dan disimpan di bawah belanga di atas para (tempat menyimpan perlengkapan memasak di dapur bagi orang Aceh).

    Keesokan malamnya Ja Peucandu pergi lagi ke alue dan ternyata kejadian yang aneh itu terulang kembali. Dia mendapati seekor gajah sigeundiek naik lagi ke jala kemudian dibawa pulang dan disimpan lagi di tempat yang sama. Pada Lebaran Idul Fitri ketiga Ja Peucandu teringat dengan sepasang gajah sigeundiek apakah masih hidup, lalu diberi makan berupa nasi putih dicampur dengan kelapa kukur. Esok harinya dia buka belanga dan alangkah terkejutnya begitu melihat kotoran binatang tersebut adalah butiran emas sebesar biji jagung dan hari ke hari semakin banyak, maka jadilah dia saudagar kaya dan mampu membangun istana pada masa itu di Lamkuta. Ia juga membangun rumah rakyat di perkampungan tersebut. Ja Peucandu juga membangun Masjid Jamik Lamkuta pada tahun 1830.

    Karena kekayaannya Ja Peucandu hidup tidak tenang, selalu waswas karena sering dikejar-kejar oleh penjahat atau orang-orang yang mengicar hartanya. Sebelum meninggalkan Desa Lamkuta dia bersumpah bahwa masyarakat Lamkuta tidak boleh ada yang kaya, karena akan mengalami hal seperti dirinya. Kemudian dia pergi meninggalkan Desa Lamkuta dengan menunggang seekor kuda putih didampingi oleh pengawalnya bernama Baja Banta dengan nama asli Basyar Mahedi. Dia membawa sepasang gajah sigeundiek dan satu peti emas, akhirnya Ja Peucandu bersama pengawalnya sampai di hutan rimba di ujung hulu sebuah sungai, kemudian gajah sigeundiek dibuang bersama dengan peti emas ke dalam sungai, maka sungai tersebut dikenal dengan nama “Krueng Meuh” yang terletak di Pante Karya, Kecamatan Peusangan, Siblah Krueng.

    Dari cerita legenda tersebut, dipercaya atau tidak, kehidupan masyarakat Desa Lamkuta pada kenyataannya memang sederhana, tidak ada rumah mewah yang berdiri kokoh di sana, tidak ada unit usaha yang megah. Walaupun Lamkuta menjadi daerah lintasan menuju Kecamatan Jangka, tapi perkembanganya tertinggal dibandingkan dengan desa di sekitarnya. Menurut Pak Munawir, bantuan dana desa hanya mampu digunakan untuk operasional pemerintahan seperti gaji perangkat desa, pembangunan fisik, sedangkan bidang pemberdayaan terasa sulit untuk dikembangkan, karena tenaga SDM yang memilki keahlian tidak ada. Kalaupun ada, mereka lebih memilih meninggalkan Desa Lamkuta untuk berkarier di daerah lain.

    Apakah ini ada hubungannya dengan sumpah masa lalu? Kita hanya mampu berusaha dan berdoa, tapi Allah jua yang menentukaan segalanya. Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam hidup. Tapi engan kaya kita bisa banyak bersedekah dan bisa membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta, https://aceh.tribunnews.com 31/12/2019/.   

     

  • Kampus Umuslim disemprot Disinfektan

     

    Sejumlah anggota Koramil 06 Peusangan Kodim 0111/ Bireuen melakukan penyemprotan lingkungan kampus Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Rabu (1/4).

    Menurut Danramil 06/Peusangan melalui Sertu Bambang Suhada,  penyemprotan cairan Disinfektan dilakukan anggota koramil 06 Peusangan bertujuan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona di lingkungan kampus, jelasnya.

    Penyemprotan tidak hanya dilakukan dilingkungan luar, tetapi semua ruangan kerja, ruang belajar, laboratorium kampus induk, timur, kampus Ampon Chik, geust house, asrama termasuk beberapa aula yang ada di lingkup kampus umuslim.
     
    Saat penyemprotan kondisi kampus memang lagi sepi, karena perkuliahan tatap muka sedang ditiadakan, mahasiswa mengikuti  kuliah sistem online, sedangkan karyawan dan staf cuma beberapa orang saja yang piket hadir.

    Menurut Plt Rektor Umuslim Dr.H.Hambali,SE,MPd, mahasiswa diliburkan sampai Mei, tetapi mahasiswa tetap harus mengikuti perkuliahan dan bimbingan oleh dosen melalui sistem online, sedangkan  perkantoran akademik tetap buka, karyawan dan staf yang hadir  sistem piket, jelasnya.

    Kepastian dibuka  kembali perkuliahan tatap muka, tergantung perkembangan dan pengumuman pemerintah, kita ikuti arahan dan kebijakan pemerintah melalui Lldikti XIII Aceh, jelas H.Hambali. (HUMAS)

  • Kemenristekdikti gelar Rakernas 2019, apa saja kegiatannya

     

     

    Peusangan-Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengawali tahun 2019 menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  bertempat di Gedung Soedarto, Universitas Diponegoro Semarang.

    Rakernas yang mengambil tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu"  berlangsung selama dua hari ( 3-4/1/ 2019).

    Rakernas 2019  dibuka secara resmi oleh Menristekdikti Mohamad Nasir, dihadiri Sekretaris Daerah Jawa Tengah serta diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.

    Rakernas 2019 Kemenristekdikti menjadi Momentum   Mempersiapkan SDM Millenial, Memformulasikan  Regulasi di Era Disrupsi, menciptakan Inovasi untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus kerja Pemerintah di tahun 2019.

    Presiden Joko Widodo mengatakan SDM di Indonesia harus mampu menghadapi dan memanfaatkan peluang dari perubahan dunia dan perkembangan teknologi yang berubah begitu cepatnya. Dengan demikian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia utamanya SDM di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat membuka acara menyampaiakan bahwa Rakernas 2019 menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan Kemenristekdikti untuk mempersiapkan diri secara matang dalam menghadapi era disrupsi yang berdampak pada bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi.

    “ Mencermati situasi di atas, pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyiapkan diri? Jawabannya adalah kita harus melakukan self disruption. Kita harus melakukan transformasi dengan mendisrupsi diri sendiri,” ujar Menristekdikti Mohamad Nasir.

    Kemudian tambah Kemenristekdikti Menteri Mohamad Nasir lagi bahwa saat ini Pemerintah menginginkan agar Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi lebih terbuka, fleksibel dan bermutu. Untuk itu, kita harus membuat ekosistem riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat dan industri.

    Menteri Nasir menambahkan bahwa dalam menghadapi disruptive innovation dalam bidang industri dan pendidikan tinggi, Kemenristekdikti akan mengurangi atau memangkas regulasi bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang menghambat mereka menyesuaikan diri dengan disruptive innovation. Salah satu regulasi tersebut terkait kewajiban membayar Pajak Penghasilan (PPh) bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) serta terkait program studi.

    "Kalau PTNBH disuruh bayar PPh pasal 25 (Undang-Undang Pajak Penghasilan), problemnya ada di mahasiswa lagi. Saya sudah lapor ke Menkeu. Beliau akan tinjau kembali," ungkap Menristekdikti.

    PTNBH yang memiliki otonomi dalam mengembangkan program studi diharapkan  Menteri Nasir tidak diberatkan dengan pajak yang seharusnya dibayarkan oleh orang pribadi yang memiliki usaha dan badan usaha (perusahaan). Diharapkan PTNBH dapat alokasikan anggaran lebih banyak untuk fasilitas pembelajaran.

    "PTNBH termasuk Perguruan Tinggi Negeri, ditugasi Pemerintah meningkatkan mutu dengan sistem pembelajaran yang dilakukan secara mandiri, tapi kalau ini dikenakan Pajak sebagai Penghasilan, padahal dana yang diterima dari masyarakat, ini masalah," ungkap Menteri Nasir.

    Selain pengurangan regulasi dalam perpajakan bagi PTNBH, Menteri Nasir juga memudahkan pendirian program studi yang dibutuhkan oleh industri, walaupun program studi tersebut belum ada dalam Keputusan Menristekdikti Nomor 257/M/KPT/2017 tentang daftar nama atau nomenklatur program studi yang dapat dibuka pada perguruan tinggi di Indonesia.

    "Dulu kalau tidak ada di (daftar) nomenklatur, prodi tidak bisa dibuka. Sekarang jika tidak ada dalam daftar itu, perguruan tinggi akan membuka prodi sesuai kondisi real, silahkan. Yang penting demand-nya ada. Industri yang gunakan ada. Contoh prodi yang akan dibuka itu jurusan tentang kopi, silakan saja. Ini di Sulawesi Selatan. Di Aceh juga akan ada yang buka Prodi Kopi," ungkap Menteri Nasir.

    Dengan kemudahan membuka program studi baru, Menteri Nasir berharap perguruan tinggi negeri dan swasta mencari potensi daerah yang dapat dipelajari sehingga potensi tersebut dapat dikomersialkan lebih baik.

    Ketua Umum Rakernas 2019, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Ainun Na’im menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Rektor Undip dan seluruh Panitia Rakernas 2019 yang telah bekerja keras dan bersinergi sehingga acara dapat berlangsung dengan baik.

    Ainun menyatakan bahwa Rakernas 2019 merupakan penyelenggaraan Rakernas ke 5 sejak lahirnya Kemenristekdikti di tahun 2014,  tema yang diangkat pada setiap Rakernas disesuaikan dengan tantangan riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang selalu berkembang dari tahun ke tahun.

    Ainun menambahkan bahwa tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu" sesuai dengan tantangan yang dihadapi di era Revolusi Industri 4.0. Iptek dan inovasi membutuhkan keterbukaan dan fleksibilitas yang tinggi untuk memicu kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

    Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama merasa bangga dan menyambut baik penyelenggaraan Rakernas 2019 dan  Universitas Dipenogoro (Undip) sebagai tuan rumah. Rektor Undip berharap agar Rakernas 2019 dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan strategis di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. dan pihaknya  dalam penyelenggaraan Rakernas 2019 telah diimplementasikan berbagai inovasi.

    “ Dalam pelaksanaan Rakernas 2019 kita memakai konsep ramah lingkungan diantaranya ‘paperless’ dan ‘plasticless’. Semua materi rakernas tersedia dalam format digital, tidak dicetak,” tutur Rektor Undip.

    Dalam kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono berharap hasil dari Rakernas turut mengembangkan perguruan tinggi dan riset di Jawa Tengah.

    "Saya harapkan dari forum ini akan menghasilkan berbagai rekomendasi yang kita jadikan dasar penyusunan strategi kebijakan tidak hanya lingkup Kemenristekdikti saja, tapi juga (bagi) Pemerintah Provinsi," ungkap Sri Puryono.

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam Rakernas 2019 akan dilakukan evaluasi pelaksanaan program dan anggaran pada tahun 2018, serta outlook program dan anggaran tahun 2019. Selain itu akan disusun rekomendasi langkah-langkah strategis Kemenristekdikti dalam menghadapi tantangan terkait pengembangan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang terbuka, fleksibel, dan bermutu serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

    Rakernas 2019 juga akan menjadi wadah pembahasan isu-isu strategis seperti program studi inovatif, pengembangan distance learning (open university), pengembangan teaching factory atau teaching industry pada perguruan tinggi, pengembangan sumber daya manusia Indonesia pada Revolusi Industri 4.0, pendidikan tinggi vokasi, penguatan institusi riset dan inovasi di Indonesia, perusahaan pemula (startup), serta isu strategis lainnya.

    Ajang ini juga dimeriahkan oleh pameran produk hasil riset maupun inovasi perguruan tinggi dan LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti. Menristekdikti, Kepala LPNK dan jajaran Eselon I dan II Kemenristekdikti berkesempatan mengunjungi ‘stand’ pameran usai pembukaan Rakernas 2019. Beberapa benda pamer yang hadir di pameran ini antara lain BPPT Lock (Unit Pelindung Beton di Pesisir Pantai), Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue (BPPT), Sepatu Pengaman Sepatu Boot ber-SNI (BSN), Sensor Tanah Longsor (LIPI), D'Ozone (Filter Udara) dari Undip, Dompet Tuna Netra, Chemcar (Alat Penghemat Bahan Bakar),  Inkubator UNNES, Varietas Padi Unggul (UNSOED); Alat Rehabilitasi Medis Pasien Post Stroke, Produk Implan Bone Filler, Baterai Lithium dari UNS; Laser Gesek (Friction Welding), CNC untuk Industri Kreatif dari POLINES, Program SBMPTN & SNMPTN (LTMPT), Program Bela Negara (Kemenhan), Pendidikan Anti Korupsi dan program unit utama lainnya di lingkungan Kemenristekdikti.

    Pada Rakernas 2019 ini juga juga dilakukan Peluncuran Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pada Jumat, 4 Januari 2019, pemberian Penghargaan Anugerah Humas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) 2018, dan penghargaan Peringkat LAPOR pada PTN dan LLDikti.

     

    Sumber: Siaran PersKemenristekdikti Nomor  : 2/SP/HM/BKKP/I/2019 

    Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

  • Kerja Penyelengara Pemilu ibarat kerja Supermen tapi makan Supermie

     

    Zulkifli,M.Kom, Akademisi  Universitas Almuslim dan Panitia seleksi (Pansel) KIP Bireuen Periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.

    Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 14/PUU-XI/2013 kemudian diatur pada UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, pelaksanaannya dilaksanakan secara serentak antara pemilu legislatif  (pileg)dan pemilihan presiden (Pilpres),  teryata dalam pelaksanaannya di lapangan banyak menyisakan berbagai  persolaan,  hal ini karena terjadi jatuh korban jiwa yang disebabkan efek kelelahan saat menjalankan tugas sesuai amanah yang telah diberikan.

    Ribuan   orang yang terlibat sebagai penyelenggaraan mulai dari KPPS dan PPS, pengawas  harus mendapat perawatan medis, dan ratusan telah meninggal dunia, korban tersebut selain dari kelompok penyelenggara juga dari pengawas dan intitusi keamanan juga banyak yang jatuh korban. 

    Dengan kenyataan tersebut sekarang semua sudah angkat bicara termasuk hakim  Mahkamah Konstitusi (MK) yang  meloloskan penyetujuan putusan pelaksanaan pemilu serentak ini telah mengakui kekeliruannya.

    Untuk kedepan pemilu serentak ini benar-benar harus di evaluasi, karena penyelenggaraan pemilu serentak telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah, baik  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pengawas, semua pekerjaan dan tanggung jawab mereka di lapangan selama ini luput dan tidak disadari oleh pembuat kebijakan  di tingkat atas.

    Pengamatan saya di lapangan mulai tingkat PPK, PPS dan KPPS, Pengawas, mereka melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang luar biasa, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan sangat berat harus berjibaku siang malam, kenyataan hari ini sudah banyak dari mereka mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, banyak  jatuh korban harus mendapat penanganan medis, sedangkan  honor yang mereka terima sangat minim.

    Jumlah Panitia Pemungutan Suara (PPS)  tiap desa 3 orang dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) tujuh orang dan ditambah anggota linmas, dengan honor yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tugas, rincian honor yang harus di potong pajak lagi, sudah minim dibeban pajak lagi, jumlahnya mungkin tidak etis saya sebutkan rincian disini.

    Yang sangat menyedihkan, anggota linmas harus sabar menggurut dada,  ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, ketika berada di pintu masuk TPS,  mereka terlihat  seperti masyarakat biasa, padahal atribut bagi mereka sangat perlu untuk sebuah pengakuan, penghormatan dan membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring satu setiap TPS.

    Mereka masih dianggap petugas pelengkap, padahal pengorbanan dan  perjuangan mereka demi tegaknya demokrasi di negeri ini, patut kita beri apresiasi tinggi, semoga ada sedikit perhatian  memberikan tambahan finansial ataupun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

    Kita sangat sesalkan berbagai kejadian pada pemilu serentak  yang menimpa penegak demokrasi di lapangan, Memang awalnya  tujuan pelaksanaan pemilu  serentak ini bagus yaitu untuk penghematan, teryata telah memakan korban yang cukup banyak, sungguh jumlah korban yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negeri yang aman dan damai.

    Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, tugas yang cukup berat ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran, bersikap adil dan integritas dalam menjalankan tugas.

    Belum lagi dengan tugas perbaikan data dan terjadinya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akan menambah beban kerja, mereka bekerja tanpa pamrih dan penuh tangung jawab  tanpa mempersoalkan  honor yang diberikan, mereka benar-benar bekerja ala Superman tetapi makan Supermi (tanpa biaya poding). 

    (Superman adalah suatu tokoh fiksi dalam sebuah cerita yang mempunyai kekuatan lebih untuk melaksanakan satu tugas dibandingkan kekuatan manusia biasa termasuk punya kekuatan untuk terbang), sedangkan Supermi adalah sejenis makanan ringan yang biasa dimakan sebagai makanan pelengkap, bukan sebagai makanan utama penambah asupan gizi. 

    Maka sangat wajar saya tamsilkan kerja penyelenggara pemilu yang begitu berat, bahkan sudah diluar batas jam kerja harian, sedangkan honor yang mereka dapatkan sungguh sangat minim, berbeda jauh dengan beratnya tangung jawab tugas yang mereka kerjakan.

    Kita acungi jempol atas  keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian yang wajar dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

    Memang secara aturan honor dan insentif mereka semua disediakan oleh pemerintah pusat melalui KPU, tetapi pemerintah daerah juga jangan tutup mata bagi mereka yang telah berjibaku siang malam mensukseskan pesta demokrasi di daerah, karena kalau pemilu gagal di suatu daerah yang menjadi gagal bukan hanya pemerintah pusat tetapi yang paling utama adalah pemerintah daerah.

    Jadi sangatlah wajar suatu daerah mengambil satu kebijakan untuk dapat mendukung dan mensukseskan pemilu diwilayah masing-masing, apapun yang mereka lakukan, apalagi di daerah pelosok bisa jadi taruhan nyawa bagi mereka, demi suksesnya pemilu dan nama baik daerah.

    Hendaknya  pemerintah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota dapat memberikan dengan mengalokasikan sedikit tambahan honor atau insentif lain, sebagai penghargaan ucapan terima kasih  bagi pahlawan demokrasi ini.

    Sekarang dengan kenyataan dilapangan mari kita buka hati, bagaimana caranya untuk dapat memberikan perhatian bagi mereka dan pemerintah harus dapat mengambil satu sikap dan kebijakan untuk membantu pahlawan demokrasi ini.

    Saya sempat menanyakan pada beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan PPS di beberapa desa dalam kabupaten Bireuen, mereka mengakui beban kerja yang cukup berat dan butuh ketelitian dan fisik yang prima untuk bisa menjalankan tugas tersebut, mereka akui pemilu serentak ini sangat berat.

    Kalau pemerintah tidak menambah dan memperhatikan tambahan sedikit honorarium ataupun dalam bentuk lainnya, berarti telah menyiksa mereka dengan memberikan honor minim dengan kerja yang cukup berat, hal ini terjadi karena banyaknya tambahan kerja dari pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan kerja pemilihan legislatif (pileg).

    Mungkin pembuat kebijakan dalam menyusun UU pemilu  hanya berpedoman pada penyelenggara pileg saja, atau alasan efisiensi tanpa membayangkan tambahan kerja dari pemilihan presiden (pilpres), sehingga terjadinya persoalan seperti ini, Alhamdulillah sekarang sudah ada wacana dari untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu kedepan, semoga  akan lahir satu metode pemilu yang terbaik.

    Menurut UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, ada sebelas point tugas kerja Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang harus dilaksanakan mulai dari pengumuman daftar pemilih mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh Tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah kerjanya, belum lagi melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU atau KIP Kabupaten/Kota.

    Begitu juga dengan KPPS yang berjumlah tujuh orang setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dengan tujuh poin tugas yang juga tidak kalah berat mulai dari pendaftaran pemilih yang butuh  tingkat ketelitian dan rasa tanggung jawab tinggi, mereka harus berjibaku siang malam, karena sedikit mereka lengah terjadi kekeliruan dan pengisian data pemilih, serta saat hari H juga  tidak boleh sembarangan meninggalkan lokasi, karena untuk menghindari  munculnya kecurigaan, hujatan, saling tuduh dan ancaman dari masyarakat dan peserta pemilu.

    Maka tidak heran mereka penyelenggara baik KPPS maupun PPS, Pengawas harus tidur di lokasi TPS bahkan ada yang sampai beberapa  hari di lokasi, menunggu selesainya semua proses perhitungan dan rekap suara di tingkat TPS dan mengantar sampai ke tingkat PPK, belum lagi perjuangan bagi yang lokasi TPS di daerah terisolir dengan insfrastruktur yang terbatas.

    Kepada para caleg dan timses yang sudah mendapat berbagai ilmu dari pembekalan dan amunisi strategi  tentang  berbagai proses tahapan pemilu, berhentilah saling mengklaim bahwa para jagoannyalah yang menang,  berhentilah menghujat para penyelenggara dengan hinaan dan cacian yang tidak mendasar apabila tidak ada bukti yang cukup.

    Mari kita hormati proses pelaksanaannya sesuai peraturan perundangan dengan kepastian hukum sampai proses penetapan akhir yang dilakukan institusi resmi, jangan lakukan hal yang dapat merugikan kita semua

    Mari kita rawat demokrasi ini dalam bingkai persatuan dan persaudaraan yang penuh nuansa kekeluargaan, hilangkan semua perbedaan lambang dan warna partai, karena semua kita menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

    Semoga semua kita jadi pemenang bukan pecundang, salut dan apresiasi atas kerja ikhlas penyelenggara mulai tingkat kecamatan, dan gampong, mari kita doakan dengan tulus  semoga kerja ikhlas mereka menjadi tambahan amal  pahala dan pengakuan dari masyarakat, sedangkan bagi  mereka yang telah gugur dalam mengawal demokrasi ini husnul khatimah...Aamiiin YRA.

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 29/04/2019/ dengan judul PPS dan KPPS Kerja Superman Makan Supermie.