Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Kisah Nafsul Mahasiswa Umuslim Bercerita dari Negeri Sakura Jepang

     

    Seorang mahasiswi program studi bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen bernama Nafsul Muthmainnah.

    Ia merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi baru duduk semester enam sekarang berada di Jepang. Nafsul yang lahir 2 Mei 1999 lalu.
    Anak pertama dari dua bersaudara buah hati dari almarhum Marhaban dan T Asmara warga Pante Peusangan, Jangka mencatat beberapa prestasi.

    Sejak semester pertama kuliah, Nafsul mulai memperdalam bahasa Inggris dan mengikuti berbagai perlombaan.
    Menurut Kabag Humas Umuslim, Zulkifli M Kom  mengatakan, Nafsul sedang berada di Jepang bersama sejumlah mahasiswa Umuslim lainnya mengikuti program pertukaran mahasiswa antara Umuslim dan Nagoya Gakuin Universiti, Jepang.

    Melalui pesan Watshap Nafsul menceritakan pengalamannya yang sudah beberapa bulan di Jepang.

    Adapun coretan pengalamannya antara lain, ia senang bisa ke Jepang yang dikirim kampus melalui program pertukaran mahasiswa, karena ia bisa bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan hebat, Perjalanan tersebut tulis Nafsul bisa menambah teman, pengalaman dan pengetahuan juga menambah motivasi dalam kuliah dan meniti karier kehidupan.

    Di Jepang ia bertemu dan bergabung dan belajar dengan orang Korea, Kanada, Swedia, Amerika, Afrika, Filipina dan teman-teman dari berbagai negara di dunia lainnya, tulis Nafsul Muthmainnah.

    Sebelum berangkat ke Jepang, kata Zulkifli M Kom, Nafsul merupakan mahasiswi yang kreatif dan mengikuti berbagai perlombaan dan meraih juara terutama sekali dalam perlombaan debat bahasa Inggris.

    Catatan singkat, prestasi yang diraih Nafsul meraih juara satu dalam
    menulis cerpen dalam lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) tingkat provinsi tahun 2018.

    Kemudian, meraih juara tiga dalam kegiatan lomba bahasa Inggris tingkat nasional atau National Universiti Debating Champinonship (NUDC) di Aceh tahun 2018 dan menjadi peserta lomba yang sama di Malang tahun 2018.

    Kemudian meraih juara dua lomba debat bahasa Inggris (NUDC) tingkat provinsi tahun 2019, juara dua mahasiswa berprestasi LLDikti WilayahXIII Aceh tahun 2019 dan menduduki rangking ke 32 debat bahasa Inggris tingkat nasional di Surabaya tahun 2019 lalu.

    “Sejak beberapa waktu lalu ia menjadi mahasiswa sebagai peserta pertukaran pemuda dengan Jepang,” ujar Zulkifli M Kom.

    Nafsul dalam pesan WA mengatakan, berbagai kesuksesan yang diraih selama ini tentu bukan didapat begitu saja tetapi butuh kesabaran dankeseriusan, belajar dan dukungan teman-teman serta dosen.

    Dengan berbagai kekurangan tidak menghambat bagi dirinya untuk berprestasi.“Nafsul merupakan mahasiswi tim pendebat kunci dalam tim debat bahasaInggris Umuslim saat ini,” ujar Zulkfili.


    https://aceh.tribunnews.com/amp/2020/02/17/kisah-nafsul-mahasiswa-umuslim-bireuen-bercerita-dari-negeri-sakura-jepang-ini-sederet-prestasinya

  • Kisah Peneliti Indonesia pertama mendarat di Kepulauan Andaman & Nicobar India

    OLEH T CUT MAHMUD AZIZ, MA, Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Port Blair, India 

    KM (Kapal Motor) Aceh Millenium yang berangkat dari Pelabuhan Malahayati dengan mengangkut sampel komoditas dan produk Aceh tiba dan bersandar di Pelabuhan Port Blair, ibu kota kepulauanAndaman dan Nikobar di India pada 4 Januari 2018.

    Bersandarnya kapal ini merupakan momentum awal perjalanan ekspedisi perdana dalam merintis kembali hubungan kerja sama Aceh-India. Kapal yang terdiri atas satu nakhoda dan enam anak buah kapal ini menjadi titik awal terbangunnya konektivitas perdagangan barang antara Aceh dan Andaman & Nikobar.

    Terbangunnya konektivitas kerja sama ini tidak lepas dari hasil kajian dan penelitian yang dilaksanakan Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Bahkan satu bulan lalu Rektor Umuslim, Dr Amiruddin Idris MSi bersama mantan rektor Unimal, Prof Dr Apridar diundang ke India atas fasilitasi penuh oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemenlu) RI.

    Keberangkatan KM Aceh Millenium dengan kapasitas 150 ton difasilitasi oleh Kemenlu RI untuk mengangkut komoditas dan produk Aceh untuk dipamerkan di Port Blair, mulai dari furnitur, kopi, kelapa, rempah-rempah, minyak nabati, kue khas Aceh, souvenir, batu split, semen, kayu hingga pasir. Semua komoditas ini di bawah koordinasi Kadin Aceh. Kedatangan KM ini disambut oleh Wakil Kepala Perwakilan RI untuk India dan Bhutan, Fientje M Suebu, bersama perwakilan Pemerintah Kepulauan Andaman & Nicobar, dan KadinAndaman & Nikobar (ACCI).

    Dua hari kemudian hadir duta besar LBBP RI untuk India dan Bhutan, Sidharto Reza Suryodipuro dalam acara pameran di Port Blair. Sebelum pengiriman sampel komoditas produk Aceh ke India, BPPK Kemenlu RI di bawah arahan Dr Siswo Pramono (Kepala BPPK Kemlu) dan Dr Arifi Saiman (Kepala Pusat P2K2 Aspasaf BPPK Kemlu) membentuk tim Market Intelligence terdiri atas tiga peneliti, yaitu Teuku Cut Mahmud Aziz MA (Umuslim), Dr Ichsan (Unimal), dan Dr Muzailin Affan (Universitas Syiah Kuala) yang bertugas mengkaji peluang kerja sama perdagangan dan jasa antara Aceh dan kepulauan Andaman-Nikobar dan Chennai.

    Secara geografis Aceh dan Kepulauan Andaman & Nikobar berdekatan, sekitar 749 km atau 465 mil jaraknya jika dibandingkan dengan jarak dari kepulauan tersebut ke India daratan seperti Chennai atau Kalkuta, yakni 1.363 km atau 847 mil. Kepulauan ini berada di bagian utara Aceh, timur India, barat Malaysia, selatan Myanmar, dan berada di tengah Samudra Hindia.

    Ada sekitar 570 pulau di kepulauan tersebut. Baru 38 pulau yang berpenghuni. Dapat dibayangkan, 95% komoditas dan produk bagi penduduk di kepulauan didatangkan dari Chennai yang mengakibatkan tingginya biaya angkut, terutama untuk material konstruksi.

    Berhubung Aceh dekat dengan kepulauan tersebut maka Aceh harus dapat memanfaatkan peluang dan India menjadi pasar sangat menjanjikan bagi Aceh. Kepulauan Andaman & Nikobar berpenduduk sekitar 400.000 jiwa. Nama “Nikobar” memang populer di Aceh karena sering menjadi lokasi terdamparnya nelayan Aceh, lalu ditahan berbulan-bulan dan dipulangkan ke Indonesia melalui Port Blair.

    Tim peneliti berangkat dari Kuala Lumpur menuju Chennai, lalu dari Chennai dengan penerbangan domestik menuju Port Blair. Banyak pilihan pesawat menuju Port Blair. Waktu tempuhnya sekitar dua jam. Ketika pesawat hendak mendarat di Bandara Internasional Port Blair, Veer Savarkar terlihat di bawah hamparan pulau-pulau dengan hutan yang lebat, pasir putih dan perairan yang mengitarinya berwarna hijau muda. Luar biasa indahnya.

    Ketika turun dari pesawat kami disambut petugas bandara yang sudah tahu rencana kedatangan kami. Wajah petugas bandara ada yang seperti orang Mongol. Kami dipersilakan duduk dan ditanyai paspor. Mereka begitu ramah dan sudah tahu rencana kedatangan delegasi Indonesia ke Port Blair dalam rangka membuka konektivitas antara Aceh dan Andaman-Nikobar.

    Selama di Port Blair, tim melakukan observasi lapangan dengan mengunjungi pasar tradisional seperti Sunday Market, pasar buah, dan pelabuhan.

    Cita rasa makanan di Port Blair sama dengan di Aceh. Cocok dengan lidah kita, berbeda jika saya bandingkan dengan makanan di New Delhi, bumbu karinya terasa lebih keras. Mencari masjid dan restoran halal tak begitu sulit karena di sini banyak penduduk muslim. Pelayan restoran mengenakan tutup kepala. Ini menandakan bahwa restoran dan kota ini telah memenuhi standar internasional yang siap menjadi kota turis. Harga makanannya terjangkau seperti harga di Aceh.

    Penduduknya ramah, wajahnya banyak yang seperti orang Aceh. Kotanya terbilang bersih. Menariknya, kami tak pernah melihat orang merokok. Suasana kotanya seperti di Sabang, banyak bangunan tua dan pohon-pohon besar nan rindang, dan penduduknya agak padat. Aktivitas ekonomi dinamis hingga larut malam, harga barang relatif murah, khususnya kain dan pakaian. Jauh lebih murah apabila dibandingkan di Indonesia. Berada di sini seperti berada di Aceh tetapi sulit kami temukan atau memang tak ada warung kopi di sini seperti di Aceh, minuman kopi tidak begitu populer, umumnya mereka minum teh dan susu.

    Dari Port Blair, kami lanjutkan perjalanan ke Maldive-nya India, yaitu Pulau Havelock. Kami naik feri yang jauh lebih bagus dan besar dibandingkan dengan feri dari Pelabuhan Ulee Lheue-Balohan, Sabang. Pemiliknya seorang pengusaha ACCI, biaya tiketnya (pp) sekitar satu juta rupiah per orang. Waktu tempuh ke Pelabuhan Havelock sekitar dua jam 30 menit.

    Penumpang umumnya turis domestik dari India daratan. Setiba di Pelabuhan Havelock, kami terkesima melihat banyak sekali ikan ukuran besar di bawah jembatan. Kalau di Aceh ikan-ikan itu mungkin sudah dipancing karena konsumsi ikan di Aceh terbilang tinggi, berbeda dengan di India, mereka lebih suka daging kambing dan ayam.

    Di Havelock kami kunjungi Pantai Kalapather dan Radhanagar. Di depan pintu masuk Kalapather banyak kios souvenir pernak-pernik yang terbuat dari kerang laut dan mutiara, juga baju bertuliskan Havelock. Harga mutiara terbilang murah, mulai Rp 50.000-Rp 200.000. Paling murah mutiara putih, lalu yang warnanya agak merah jambu. Di sini ada delapan titik keramaian. Kami menginap di Arpita Penthouse, daerah yang paling ramai penginapannya.

    Dalam diskusi dengan tourism agent kami mendapat informasi bahwa kunjungan turis di Havelock setiap hari mencapai 3.000-an orang. Sepanjang jalan banyak sekali penginapan dan hotel besar yang sedang dibangun. Sekitar 20% area di sini dipakai untuk kegiatan pariwisata, sedangkan sisanya tetap dijadikan lingkungan alami dengan hutan-hutan lebat. Di sepanjang jalan kami lihat banyak sekali pohon pinang dan kelapa, terasa seperti suasana di Bireuen dan Aceh Utara.

    Sebelum kembali ke Port Blair, kami berbincang sambil melihat-lihat buku tamu penginapan. Tertera deretan nama, negara, dan tanda tangan dari warga negara yang berlibur di Havelock. Banyak dari Eropa dan Amerika, bahkan dari Israel. Ketika kami tanya “Apakah sudah ada sebelumnya turis atau peneliti dari Indonesia?” Pemilik penginapan menjawab,”Andalah yang pertama.”

    Ini merupakan kesempatan langka dan menjadi pengalaman sangat berharga bagi kami, karena untuk menuju kemari membutuhkan izin yang ketat. Selain pengurusan visa, kami harus mengisi formulir izin khusus untuk dapat masuk ke Andaman dan Nikobar

    Saking tak mudahnya, Duta Besar Amerika atau kalangan Kedubes Amerika di India hingga saat ini belum diizinkan masuk ke sana, sedangkan Indonesia dapat masuk. Ini semua tak terlepas dari hubungan diplomasi Indonesia dengan India yang terjalin sangat baik.

    Dari Havelock kami kembali ke Port Blair dari Port Blair kami lanjutkan perjalanan ke Chennai.

    Di sini kami mengadakan pertemuan dan mewawancarai beberapa pengusaha dan General Manager Chennai Airport. Chennai, kota terbesar keempat di India, tertata rapi, relatif bersih dengan penduduk yang ramah. Suasana kotanya seperti Kota Makassar di Sulawesi Selatan.

    Sedangkan yang dapat diimpor dari Andaman & Nikobar dan Chennai ke Aceh, antara lain, bahan tekstil dan pakaian juga produk laut seperti ikan tuna, udang, kepiting, lobster, dan mutiara. Hasil observasi dan wawancara di Sunday Market, Port Blair, bahwasanya masyarakat kepulauan ini tak banyak mengonsumsi ikan, khususnya tuna, padahal perairan Teluk Benggala terkenal dengan potensi ikan tunanya.

    Barang yang diekspor ke Port Blair dapat dilanjutkan dengan mengirim barang tersebut ke Chennai. Ini dapat menjadi pasar yang potensial bagi Aceh dan Sumatra pada umumnya untuk masuk ke mainland.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 10/02/2019/kisah-peneliti-pertama-mendarat-di-andaman.

     

     

  • KKM Umuslim Angkatan XVIII Tahap II 2020 di Bener Meriah

     

    Pelaksanaan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) angkatan XVIII tahap II (Semester Pendek Tahun Akademik 2019/2020)  Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, akan dilaksanakan di kabupaten Bener Meriah, demikian disampaikan Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed, Kamis, (2/1/2020).

    Menurutnya pelaksanaan pengabdian tersebut direncanakan selama 30 hari, mulai tanggal 29 Januari s/d 27 Februari 2020,  Pendaftaran dimulai  tanggal 06 sd. 17 Januari 2020 melalui www.siakad.umuslim.ac.id/akademik atau melalui Portal KRS Online yang baru, jelas  Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed.

    Untuk kelancaran pelaksanaan pembekalan peserta dilaksanakan tangga 21- 22 Januari 2020 di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim.

    Pengumuman lokasi Gampong penempatan peserta KKM dapat dilihat  pada tanggal 27 Januari 2020,.
    Persyaratan dan hal lain yang belum jelas dapat dilihat pada pengumuman resmi yang telah dikeluarkan Rektor Universitas Almuslim, ungkap Drs.Syarkawi,M.Ed.(HUMAS)

     

     

    Ket Foto :Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed

  • KKM Umuslim angkatan XVVIII di Bener Meriah

    Mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) akan melaksanakan  Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) angkatan XVIII tahap II  tahun akademik 2019/2020 di Bener Meriah.

    Menurut laporan  Kepala Badan Pelaksana (Bapel)  KKM Umuslim, Drs Syarkawi, ME.d, peserta KKM yang akan ditempatkan di kabupaten Bener Meriah tahun ini berjumlah 191 orang dengan rincian 66 laki-laki dan 125 Perempuan.

    Pelaksanaan KKM akan berlangsung selama satu bulan penuh mulai tanggal 29 Januari s/d 27 Februari 2020, sebelum diterjunkan ke lokasi kkm, peserta harus mengikuti pembekalan selama dua hari. Pembekalan peserta dilakukan selama dua hari bertempat  di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Senin-selasa (21-22/1).

    Adapun rincian peserta  dari Fakultas Pertanian 10 orang, FKIP 64, Fakultas Teknik 27, Fisipol 13, Fakultas Ekonomi 36, Fikom 41 orang. Lokasi penempatan di dua  kecamatan yaitu Timang Gajah dan kecamatan Bukit, masing-masing kecamatan akan ditempatkan peserta pada 16 desa, satu desa ditempatkan 6 sampai 7 mahasiswa berbagai program studi dan 1 dosen PPL, rinci Drs.Syarkawi,M.Ed.

    Acara pembekalan dibuka  secara resmi wakil rektor bidang Akademik Umuslim Dr H Hambali,SE.,MPd pada kesempatan tersebut mengharapkan peserta KKM agar dapat mengikuti pembekalan dengan serius.

    Menurut H.Hambali pembekalan wajib diikuti setiap peserta yang akan melaksanakan KKM, karena merupakan sarana untuk menambah ilmu yang berhubungan dengan masayarakat dan program kkm, Kepada peserta kkm juga diharapakan agar peserta dapat memberikan pengabdian dan yang terbaik bagi masyarakat, berikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan menjaga nama baik kampus dan keluarga di  lokasi pengabdian, harap H.Hambali.

    Pembukaan pembekalan dihadiri wakil rektor, dekan, dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan juga perwakialn kantor Badan statistik Bireuen.(HUMAS)

  • Kusentuh Langit Di Puncak Pantan Terong

    Oleh : Chairul Bariah, Ka.Biro umum dan administrasi Keuagan Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

     Malam itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda sore itu hujan bakal mengguyur kota di kediamanku. Suara petir kuat tampak membelah langit diujung sana. Langsung aku bergegas menutupi pintu dan jendela rumah. Padahal, aku ada janji bersama keluarga untuk mengajak mereka jalan-jalan melihat pameran di lapangan kota Bireuen. Tapi itu mustahil, dikarenakan hujan turun begitu lebat. Sehingga, aku putuskan untuk tetap dirumah bersama keluarga. Suami dan anak-anakku mencoba membunuh rasa sepi dengan menikmati hiburan di televisi.

     Sementara aku mencoba berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden di jendela kamarku. Iya, bagiku hujan itu adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah SWT. Hujan yang begitu deras dan langit pun tertutup dengan awan hitam. Mengingatkan karena besok subuh, aku merencanakan melakukan perjalanan rekreasiku bersama keluarga kecilku ke kota dingin Takengon.

    Rencana kepergian ke kota dingin takengon tersebut, memang sudah kami rencanakan tiga hari lalu, akhirnya anakku yang nomor dua,  pagi buta tersebut bangunnya sangat cepat, karena angan-angannya ingin rekreasi ke Aceh Tengah, padahal malam itu hujan begitu deras menguyur daerah kediaman kami di Matangglumpang dua, perasaanku  rasanya sangat senang karena bisa berlibur dengan seluruh keluarga ke daerah yang pernah aku tinggalkna puluhan tahun lalu.

    Bun.. bundaaa...!!! iya nak, bunda koq bengong sendiri dikamar? Ayo bun, kita pergi. Bunda kan udah janji mau ajak kami jalan-jalan. Aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku menjawab, tapi kan masih hujan nak? Terus anakku menjawab dengan nada manja, tapi hujan udah berhenti bunda. Emang bunda tidak lihat kalau hujan sudah berhenti? lalu aku penasaran dan melihat keluar dari jendela ternyata benar kalau hujan sudah reda. Astaghfirullah memang benar bahwa hujan sudah berhenti. 

    Akhirnya, tanpa basa-basi langsung aku dan anakku bergegas menuju mobil yang didalamnya ada suami dan anakku yang pertama yang sudah menunggu sejak 30 menit lalu. 

    Pagi itu pukul 06.00 WIB  setelah shalat subuh, aku awali perjalanan bersama keluarga menuju kota dingin Takengon. Jalan yang penuh liku dan menajak terkadang tersendat karena ada tanah yang longsor dari sisi jalan. Namun, rintangan tersebut tidak mematahkan semangatku dan keluarga untuk sampai di kota ini.

    Secuil kenangan yang tak pernah terlupakan di kota penghasil kopi itu. Di kota itu banyak menyimpan cerita tentang kisah hidupku. Satu hal yang cukup kuat hubungan aku dengan  kota Takengon adalah di dalam tubuhku mengalir darah keturunan Gayo. Sebab, ibu dari ayah ku adalah asli Gayo dari kampung Wih Lah Kecamatan Pegasing.  Masa kecilku sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Paya Tumpi yang saat ini bernama SDN 3 Kebayakan Aceh Tengah. Kemudian, aku hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun hingga kembali lagi ke kota kelahiranku Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. 

    Seiring perjalanan waktu, sekarang aku berkeluarga dengan seorang pria Aceh garis keturunan Yaman Timur Tengah yang sangat baik dan menjadi suamiku, hingga aku dikaruniai 2 (dua) orang Arjuna.

    Udara yang segar dengan hawa sejuk mulai terasa ketika aku sampai di gapura Selamat Datang di kota Takengon pada pukul 08.00 WIB. Aku dan keluarga berhenti sejenak di daerah yang dinamai Singah Mata. Di sana kami sekeluarga mengambil foto dengan latar belakang Danau Lut Tawar dengan panorama sisi pengunungan yang masih diselimuti kabut putih.  

    Setelahnya, kami menuju ke sebuah desa yang tak jauh dari lokasi Singah Mata yakni desa Paya Tumpi Baru. Di desa inilah masa kecilku pernah tinggal. Aroma khas Kopi Paya Tumpi menyambut kedatangan sekeluarga kami di rumah saudara kandungku yang hidup bersahaja. Usai menyeruput kopi beberapa saat, aku dan keluarga melanjutkan perjalanan berwisata menuju sebuah lokasi puncak bukit dengan keindahan alam yang luar biasa. Aku sudah beberapa kali ke sana, tapi kali ini berasa berbeda sebab keluarga kecilku ikut serta. 

    Pantan Terong itulah lokasi puncak bukit yang kami tuju.  Di puncak itu kita dapat melihat Danau Lut Tawar yang di apit oleh pegunungan. Sungguh memamerkan kebesaran Tuhan. Sebelum mencapai Pantan Terong di kaki bukit, ada satu desa yang dilalui yakni Desa Daling Kecamatan Bebesen. Salah satu anakku sempat berkata, “Bunda, kita bisa pegang langit ya diatas sana”, ucapnya. Tersontak aku dan keluarga yang lainnya langsung tertawa sehingga cukup membuat suasana dingin menjadi hangat.  

    Sekedar ilustrasi, jarak menuju Pantan Terong ± 7 km dapat ditempuh selama 20 menit dari kota Takengon menuju Pantan Terong melewati jalan aspal hotmik cukup bagus dan lebar namun jalannya berliku dan menanjak, dibutuhkan nyali dan skil pengemudi. Untungnya sopir yang mengedarai kendaraan kami cukup berpengalaman. Di sepanjang  jalan hamparan kebun kopi warga menambah indahnya panorama alam yang asri.

    Akhirnya lelahku terbayarkan ketika sampai di puncak bukit Pantan Terong yang merupakan puncak bukit tertinggi yang berpenghuni dalam kawasan kota Takengon sebagai tempat destinasi wisata dengan ketinggian ± 1.830 meter di atas permukaan laut. Pemandangannya begitu menakjubkan dengan udaranya yang begitu dingin. Di bagian sisi barat mata memandang bentangan Danua Lut Tawar, hamparan sawah-sawah dan kubah Mesjid Agung Ruhama di tengah kota Takengon yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah.  Di bagian sebelah selatan terdapat lapangan pacuan kuda Belang Bebangka dimana tempat pacuan kuda tradisional sering diadakan. 

    Sementara itu, di sebelah Utara panorama alam Kabupaten Bener Meriah dengan Gunung berapi Burni Telong yang begitu megah dan landasan pacu bandara Rembele, tak ada kata yang lain selain mengucap kebesaran Allah, segala puji untuk mu ya Allah tanah ini begitu indah engkau ciptakan, menjadi berkah dan sumber kehidupan warga dataran tinggi Gayo. Persis seperti yang tertuang dalam Al-qur’an pada ayat Ar-rahman, Nikmat mana lagi yang tidak kau syukuri.

    Sedikit mengupas sejarah diciptakannya lokasi wisata Pantan Terong. Pantan Terong dalam bahasa Gayo bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya Puncak atau Bukit Terong. Pada dulunya puncak tersebut banyak di tumbuhi tanaman jenis terong untuk sayuran sehingga masyarakat di sini menyebutnya bukit dengan tanaman terong atau Pantan Terong. Pada Tahun 2002  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia 17 Agustus, Bupati Aceh Tengah pada waktu itu,  Bapak Drs. Mustafa M. Tamy, MM meresmikan lokasi tersebut sebagai titik awal pembagunan wisata di Aceh Tengah dan diprakarsai oleh Ibu Hj. Nilawati Mustafa M. Tamy. 

    Diresmikan dengan nama puncak Al Kahfi, namun dalam perjalananya warga di Aceh Tengah lebih mengenal lokasi tersebut dengan sebutan  Bukit Terong atau Puncak Terong dan akhirnya hingga saat ini lokasi tersebut di kukuhkan penamaanya dengan sebutan Pantan Terong dalam bahas Gayo. Lokasi itu di resmikan sebagai destinasi Wisata Alam dan juga Agroewisata. Selain menyuguhkan pemandangan alam, di bagian timur Pantan Terong merupakan areal pertanian, di tempat itu terdapat puluhan hektar hamparan lahan perkebunan holtikultura tempat bercocok tanaman segala jenis sayur-sayuran yang berkualitas, seperti Kentang, Kol, Bawang dan sebagainya. 

    Berdiri di Puncak Al Kahfi atau Pantan Terong mengingatkan aku pada tempat wisata kebun raya Cibodas Jawa Barat yang memiliki hamparan kebun teh yang luas bergelombang dan  berbukit bukit dengan ketinggian 1.275 meter dari permukaan laut,  suhu udara di sana hampir sama dengan di Pantan Terong yakni antara 17 – 27 derajat Celsius. Bagi saudara-saudara dan teman-teman ku yang ingin berwisata ke Pantan Terong sebaiknya memakai baju yang tebal atau membawa jaket karena udara di tempat itu benar-benar dingin. Tak jarang juga sering datangnya kabut walau di siang hari. Bagi yang belum terbiasa dan berlama-lama di tempat itu akan merasakan kaku untuk bergerak  karena dingginya suhu udara di kawasan tersebut.

    Berada di puncak Pantan Terong dapat menghilangkan penat dan melupakan aktivitas kantor yang melelahkan, udara yang segar, pemandangan yang indah mampu membangkitkan semangat hidup kita, lokasi wisata ini memang berbeda jika di bandingkan dengan tempat wisata lainnya, karena semuanya masih alami, kita pun dapat menyempatkan diri untuk membeli sayur-sayuran segar langsung ke lahannya. Lain lagi bicara kopi, memang Gayo tempatnya untuk menikmati secangkir kopi asli Arabika, daerah ini memang sudah sangat terkenal sebagai daerah penghasil kopi arabika.

    Udara dingin dalam gulungan kabut  berisi air embun langsung menyentuh kulit, terkadang bila di pagi hari di bawah jam 10.00 WIB, kita tak menyangka saat kita berbicara, asap keluar dari dalam mulut kita, itu yang kita alami saat berada di puncak Pantan Terong, bahkan terasa kitapun dapat menyentuh  awan di langit  saat berada Pantan Terong yang sedang diselimuti kabut.

    Keindahan Pantan Terong membuat aku dan keluarga enggan beranjak, namun karena waktu makan siang telah tiba kamipun meninggalkan Pantan Terong dengan mengukir kenangan yang tak terlupakan.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com di rubrik jurnalisme warga tanggal 12/14/2019/04/ dengan judul Menyentuh-langit-di-puncak-pantan-terong

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Lab Mipa Umuslim fasilitasi LKS SMK

     

    Laboratorium MIPA Universitas Almuslim memfasilitasi kegiatan LKS (Lomba Keterampilan Siswa) bidang lomba Post Harvest SMK Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2019 yang diadakan di Kabupaten Bireuen, (10-11/9/2019).

    Kepala UPT Laboratorium MIPA Umuslim, drh. Yusrizal Akmal, M.Si didampingi staf Fatma Zuhra, M.Pd, Selasa (10/0/2019) menjelaskan, kegiatan yang dilakukan di Laboratorium MIPA Umuslim meliputi Analisa kadar air metode Gravimetri dan analisa karbohidrat metode Luff Schoorl terhadap produk pangan (tepung umbi-umbian) yang dihasilkan oleh siswa SMK se-Aceh.

    Aspek penilaian dari penjurian yang dilakukan di Laboratorium MIPA Umuslim  pengujian Proksimat terhadap produk pangan. “Pengujian berupa analisa kadar air dan analisa karbohidrat Lomba bidang Post Harvest Technology ini mendatangkan tim juri yang berpengalman seperti  Ir. Lily Mariana Salman, M.Si  dari PPPPTK Pertanian Cianjur, Rindhira Humairani Z, S.Pi., M.Si, dosen program studi budidaya perairan Universitas Almuslim Bireuen dan beberapa tim juri dari Provinsi Aceh,” sebutnya.(HUMAS)

     

  • LDK se aceh gelar silaturahmi di Umuslim

     

    Ratusan mahasiswa dari bebrbagai kampus di aceh berkumpul di Universitas Almuslim dalam rangka mengikuti  Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) Aceh KE XII yang berlangsung selama tiga hari, (21-23/11/2019)

    Menurut Ketua panitia Muhammad Kausar FSLDKD (Forum Silahturrahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah) merupakan salah satu bentuk forum koordinasi dan silaturahim LDK seluruh aceh.

    Tujuan kegiatan  sebagai sarana merumuskan kebijakan tahunan Fsldkd dan sebagai sarana komunikasi dari silaturahim pengurus lembaga dakwah kampus se Aceh. 

    Acara forum silaturrahim lembaga dakwah kampus daerah (FSLDKD) ke 12 tahun ini diikuti 15 LDK se Aceh dan Universitas Almuslim sebagai tuan rumah. Acara ini dilaksanakan 2 tahun sekali, dan berbeda-beda tuan rumahnya, tahun 2014 di Langsa, 2017 di Kutacane, jelas  Muhammad Kausar.

    Acara  dirangkaikan dengan seminar tentang pemuda dan UMKM dibuka rektor umuslim yang diwakili wakil rektor bidang kemahasiswaan  Dr.Ir.Saiful Hurri,MSi, pada kesempatan tersebut menyambut baik acara ini, mengharapkan semua pihak untuk bisa menjadikan umuslim sebagai lokasi berbagai kegiatan karena menurutnya umuslim sudah mempunyai beberapa sarana representatif untuk mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan.

    Turut menyampaiakn sambutan ketua LDK Formada umuslim Agus Meriza pada kesempatan tersebut menyampaikan agar dapat menjadikan forum ini sebagai forum komunikasi dan silaturahmi antar peserta dari seluruh aceh.

    Sedangkan Ketua Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) Aceh, Andika  menjelaskan tentang keberadaan forum yang menurutnya forum ini  berfungsi  sebagai sarana komunikasi dan silaturahim pengurus Lembaga Dakwah Kampus se Aceh dalam membentuk karakter mahasiswa dan memperkuat dakwah serta sarana syiar pengamalan syariat islam dikalangan mahasiswa dan generasai muda secara umum.

    Kegiatan ini diikuti sekitar  700 peserta seminar dan 100 orang sebagai peserta Musyawarah daerah dari 15 Lembaga dakwah kampus (LDK) dari berbagai kampus di Aceh dan diisi  berbagai kegiatan seperti  Musyawarah Besar FSLDKD,  sekolah LDK, sarasehan LDK, seminar kemuslimahan, seminar fundraising, fieldtrif, aksi solidaritas, closing ceremony dan perlombaan antar LDK, jelas Muhammad Kausar.

    Tema FSLDK 12, kemajuan Islam di Tangan Pemuda, ada pun rangkaian kegiatan  berupa Musyawarah Daerah, talk show  diisi pemateri Dr. Tgk. Amri, LC, MA dan  pelatihan UMKM oleh pimpinan  Bank Aceh Bireuen Hendra Supardi S.Hi, MSM serta Sherly Annavita Rahmi, M.SIPh, selain  juga digelar aneka lomba Antar LDK, Sarasehan antar LDK, Aksi Solidaritas, serta PMLDK.

    Acara pembukaan dihadiri wakil rektor,dekan, pimpinan bank aceh syariah Bireuen dan Matangglumpang dua, perwakilan LDK se Aceh, ormawa dan mahasiswa dalam lingkup Umuslim.(HUMAS)

     

  • Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua.

    Oleh: Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah tengah Provinsi Aceh. Topografi daerahnya berbukit dan berhawa dingin. Bahkan danau terbesar Aceh, yakni Danau Lut Tawar, terdapat di sini.

    Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kabupaten ini juga memiliki banyak objek wisata. Ada tempat wisata yang dikelola pemerintah, banyak pula yang dikelola masyarakat, baik secara berkelompok maupun personal. Mereka menyulap berbagai potensi alam di seputaran hutan, kebun, aliran sungai, bahkan sawah untuk dijadikan objek wisata menarik, objek yang memberikan sejuta kenangan bagi pengunjung yang suka swafoto. Jadi, tidak mengherankan jika banyak masyarakat luar daerah, termasuk wisatawan asing yang mendatangi objek-objek wisata di seantero Aceh Tengah ini.

    Dalam rangka mengisi liburan Idulfitri 1440 Hijriah, walau udara begitu dingin, tidak menghalangi niat saya dan rombongan bergerak menuju ke daerah yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju penuh hati-hati, karena jalan sedikit licin akibat guyuran hujan malam hari. Dalam balutan kabut di sepanjang jalan, setiba di tikungan Enang-Enang mobil yang kami kendarai berhenti sejenak, karena ada bus yang mogok, tapi hanya sebentar karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang saat itu.

    Tujuan saya ke Takengon kali ini adalah selain kunjungan silaturahmi ke rumah kakak dan saudara, juga ingin memanfaatkan waktu libur dan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata Gua Putri Pukes. Nah, selain punya banyak objek wisata alam, Aceh Tengah ternyata juga punya legenda cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan kepada generasi penerus.

    Ke lokasi wisata ini saya membawa rombongan dari Pulau Jawa dan wisatawan dari Jepang. Saya ditemani Idrus Saputra, salah seorang anggota keluarga yang juga menjabat Ama Reje (Kades) Paya Tumpi Baru.

    Objek wisata Gua Putri Pukes yang kami tuju berada di pinggir Danau Lut Tawar di Kecamatan Kebayakan, berjarak ± 2 km dari Kota Takengon, dapat ditempuh dalam waktu lima menit. Sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan indah pinggir danau yang membuat tanpa sadar kami sudah tiba di lokasi Gua Putri Pukes. Apalagi karena masih pagi, udara saat itu terasa sangat dingin.

    Saat kami tiba di lokasi parkir, pengunjung masih belum terlalu ramai. Beberapa pedagang tampak sedang membuka lapak dagangannya di areal parkir. Ini membuat Ama Reje Desa Paya Tumpi Baru yang ikut dalam rombongan saya bereaksi. Ia tak membiarkan pedagang berjualan di tempat yang dilarang. Apalagi pedagang tersebut menggelar dagangannya justru tepat di bawah pamplet yang bertuliskan dilarang berdagang di tempat parkir. Ame Reje Idrus Saputra langsung menegur pedagang tersebut agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengelola bahwa di lokasi parkir tidak dibenarkan berjualan. Tanpa perlawanan, beberapa pedagang itu akhirnya pindah dari lokasi tersebut.

    Saya dan rombongan bergegas naik ke pintu gua yang berukuran ± 1,5 meter sehingga butuh kesabaran dan kehati-hatian saat masuk. Kami disambut petugas merangkap pemandu wisata. Sebelum masuk gua kami membayar retribusi masuk. Menurut petugas, biaya tersebut dipungut untuk membiayai pemeliharaan objek wisata legenda tersebut.

    Saat tiba di dalam gua badan terasa dingin, suasana gelap, dan sesekali air menetes di atas kepala dan pundak. Saya kaget, seakan ada suasana mistis di dalam gua ini. Pemandu wisata mengajak kami terus berjalan masuk lebih dalam menuju patung batu Putri Pukes. Wah, menakjubkan!

    Tiba di depan patung Putri Pukes, pemandu wisata bercerita, konon Putri Pukes adalah gadis rupawan anak seorang raja di Kampung Nosar. Ia mencintai seorang pangeran dari kerajaan lain di Bener Meriah. Sejoli ini gigih memperjuangkan cintanya dan meminta restu kepada kedua orang tua mereka untuk dinikahkan.

    Awalnya orang tua Putri Pukes menolak lamaran pangeran, apalagi Putri Pukes adalah anak tunggal seorang raja yang sulit mendapatkan keturunan dan tak lama lagi akan dibawa pergi jauh oleh seorang pangeran bernama Mude Suara ke kerajaaannya. Namun, karena sayang dan cinta kepada putrinya, akhirnya orang tua Pukes menyetujui pernikahan putrinya dengan Pangeran Mude Suara.

    Setelah menikah, sebagaimana biasa, seorang perempuan harus ikut ke tempat suaminya, sesuai dengan adat Gayo sistem juelen, yaitu pihak istri tinggal bersama suami selamanya. Begitu juga dengan Putri Pukes, sambil berurai air mata, dia memohon izin kepada kedua orang tuanya untuk ikut ke kerajaan suaminya.

    Konon pada zaman dahulu saat antar pengantin tidak boleh bergandengan, makanya sang Pangeran lebih dulu pergi, baru sang Putri menyusul. Dengan perasaan sedih, kedua orang tua melepas kepergian putri tersayang. Ayah ibunya berpesan agar saat sudah ke luar dari kerajaan ini, jangan pernah sekalipun teringat ke kampung halaman dan menoleh ke belakang.

    Akhirnya sang Putri berangkat, diantar oleh pengawalnya. Dalam bahasa Gayo, momen ini disebut “munenes” atau bahasa Aceh “intat dara baro”. Ia pergi dengan membawa perlengkapan rumah tangga yang telah disiapkan oleh keluarga Putri Pukes seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, cawan, periuk, dan lain-lain

    Acara munenes bagi pengantin baru di Gayo biasanya berlangsung meriah dan haru, tapi sangat berbeda dengan suasana hati sang Putri yang dirundung kesedihan. Sepanjang perjalanan Pukes terus teringat orang tua yang sangat ia rindukan. Kemudian, tanpa sengaja ia menoleh ke belakang. Tiba-tiba datanglah badai, petir, dan hujan yang sangat lebat. Rombongan Putri Pukes terpaksa berteduh di sebuah gua. Sang putri yang kedinginan, berdiri di sudut gua untuk menjaga suhu badannya agar tetap hangat. Tapi secara perlahan sang putri merasakan tubuhnya dingin dan mengeras, dia sangat terkejut dan menangis saat sebagian tubuhnya, lalu seluruhnya berubah menjadi batu. Pada saat itulah timbul penyesalan di hatinya karena tidak mengindahkan pesan orang tuanya. Berkali-kali pengawal memanggil sang Putri, tapi tak ada jawaban. Ketika dilihat di sudut gua ternyata Putri Pukes sudah membatu.

    Menurut pemandu wisata, tak terlalu jauh dari lokasi Putri Pukes menjadi batu, ada jalan yang dilalui oleh pangeran. Dulu kabarnya jalan ini bisa tembus ke Aceh Jaya. Di lokasi itulah kemudian pangeran yang mendengar cerita bahwa sang kekasihnya telah menjadi batu, berdoa agar menjadi batu juga. Akhirnya, kisah cinta Putri Pukes dan sang Pangeran Mude Suara berakhir tragis. Keduanya menjadi batu, bahkan perlengkapan rumah tangga yang dibawa saat itu ikut menjadi batu. Para pengawal Putri Pukes yang selamat dari kejadian itulah yang menceritakan kembali legenda ini kepada masyarakat. Kisahnya bergulir secara turun-temurun.

    Setelah selesai mendengar penjelasan pemandu dan melihat-lihat kondisi di dalam gua, pemandu wisata menuntun kami ke luar dari gua, apalagi saat itu sudah banyak pengunjung lain yang antre di depan pintu masuk untuk melihat patung batu Putri Pukes.

    Suasana gelap di dalam gua membuat saya sedikit pusing setiba di luar gua. Di luar ternyata sinar matahari yang pagi tadi bersembunyi di balik awan, telah memperlihatkan diri seutuhnya. Saya dan rombongan pun meninggalkan lokasi dengan membawa hikmah dan kenangan.

    Hikmah yang dapat dipetik dari cerita legenda Putri Pukes ini adalah bahwa amanah atau pesan orang tua harus dipatuhi, karena ada tuah, sakti, atau keramatnya. Kalau dilanggar, bisa fatal akibatnya. Selain itu, menjunjung tinggi adat istiadat adalah kewajiban bagi masyarakat, baik masyarakat setempat maupun pendatang, sebagaimana kata pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

    Pengembangan objek wisata merupakan salah satu cara pemerintah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang gencar, saya optimis objek wisata Gua Putri Pukes ini akan bisa meningkatkan income masyarakat sekitar lokasi objek wisata.

    Bukankah di tempat lain, misalnya di Suliki, Padang, legenda Malin Kundang menjadi batu mampu menyedot banyak wisatawan? Demikian pula legenda atau cerita rakyat yang populer di Jawa Tengah, yakni tentang Rara Jonggrang. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang Putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya. Nah, kalau Jawa Tengah punya Rara Jonggrang, Aceh justru punya Putri Pukes dalam varian dan alur cerita yang berbeda. Tapi sama-sama menarik. Nah, datanglah segera ke guanya untuk bertemu sang Putri.

     

     Artikel ini  pernah  tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 21/06/2019 dengan judul Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua. 

     

  • LPPM Umuslim raih katagori sangat bagus secara nasional

     

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Almuslim  berdasarkan data yang dirilis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan satu-satunya dari Aceh  memperoleh katagori sangat bagus. 

    Demikian disampaikan Ketua LPPM Universitas Almuslim Dr.Halus Sastriawan,MSi didampinggi sekretaris LPPM Ernawita,MSi di ruang kerjanya, Rabu (6/11/2019), Menurutnya  penetapan tersebut berdasarkan surat Direktur Riset dan Pengabdian No B/990/E3.3/RA.03/2019 tanggal 5 November 2019 yang ditandatangani Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Ocky Karna Radjasa  tentang pemeringkatan perguruan tinggi berbasis kinerja pengabdian kepada masyarakat.

    Menurut penjelasan Halus Satriawan Pemeringkatan tersebut merupakan tindak lanjut hasil penilaian kinerja Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi  dan berdasarkan surat keputusan Dirjen Penguatan Risbang nomor 29/E/KPT/2019 tanggal 27 September 2019 tentang Pemeringkatan Perguruan Tinggi berbasis Kinerja Pengabdian kepada Masyarakat periode tahun 2016 – 2018.

     Adapun peringkat tersebut memiliki dua klaster, yakni unggul dan sangat bagus, ada  24 perguruan tinggi baik PTN maupun PTS di Indonesia memperoleh peringkat Unggul, dan sebanyak 123 perguruan tinggi memperoleh peringkat sangat bagus, termasuk   universitas almuslim merupakan satu-satunya universitas di Aceh yang berhasil masuk kategori penilaian tersebuti.

    Selain itu Halus Satriawan juga menjelaskan bahwa tahun ini lppm umuslim termasuk yang terbanyak dari kelompok PTS di aceh yang mengusulkan pengabdian. 

    Ada beberapa penilaian dan kriteria penilaian yang dilakukan Direktur Riset dan Pengabdian Dirjen Dikti dalam penetapan pemeringkatan ini antara lain sumberdaya berupa  pengabdian dana DRPM, pengabdian dana non-DRPm, unit usaha kampus, fasilitas penunjang, luaran yang berupa artikel ilmiah, tulisan di media massa, HaKI, serta keikutsertaan di forum ilmiah, manajemen pengelolaan LPPM, serta revenue generating berupa unit bisnis dan royalti. 

    Keunggulan dari hasil pemeringkatan ini  dosen di lingkup Universitas Almuslim berhak mengajukan proposal pendanaan hibah pengabdian kepada masyarakat pada skema desentralisasi, selain sangat berkontribusi pada akreditasi Program Studi dan PerguruanTinggi, jelas Halus Satriawan putra kelahiran Lombok NTB ini. (HUMAS)

     

     

     

     Ket foto: Halus Satriawan

     

     

  • Lulusan Kebidanan ikut Ukom

     

    Peusangan-Program Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim kembali ditunjuk oleh Kemenristek Dikti melalui Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) sebagai lokasi pelaksanaan ujian Uji Kompetensi Nasional (TUK)  tenaga kesehatan Bidan atau sering disebut dengan ujian kompetensi (Ukom).

    Pelaksanaan Uji kompetensi (Ukom)  Bidan di Bireuen diikuti sebanyak  89  peserta yang berasal dari lulusan Diploma III Kebidanan Almuslim  63 orang  dan  26 orang dari Akademi Kebidanan Munawarah Bireuen, ujian berlangsung  di kampus Diploma III Kebidanan umuslim, Sabtu (9/3/2019).

    Direktur III Kebidanan Umuslim Nurhidayati, MPh menyampaikan bahwa ujian Ukom ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran dan diatur dalam Permenristekdikti No 12 tahun 2016 dan bagi yang lulus akan diberikan Surat tanda Registrasi (STR) sebagai pengakuan kompetensi profesi.

    Tambah Nurhidayati lagi bahwa  pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Kemenristek Dikti melalui Dirjen Belmawa atas dipilihnya kampus Kebidanan Umuslim sebagai lokasi pelaksanaan ujian kompetensi bagi lulusan kebidanan, pelaksanaan ujian berlangsung aman dan lancar, diawasi langsung pengawas dari pusat  yang hadir   Evi Nurakhiriyanti  dari Akbid Gema Nusantara Bekasi Jawa Barati(HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa Arsitektur Umuslim ikuti Workshop di Malaysia

     

    Dua orang mahasiswa Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Almuslim mengikuti Lokakarya Konservasi dan camp Seni ( Conservation workshop and art camp) Rumah Abu Bakar Bakar Makassar (Tabak) yang berlangsung di Universitas Teknologi MARA di Bota, Perak, Malaysia (18 - 20/10/2019).

    Dua mahasiswa tersebut Muhammad Darwin dan Hafizoul Husna Qasa didampingi  dua dosen Prodi Arsitektur Umuslim, Zuraihan, ST., MT dan Idayani, ST., MT.

    Menurut Zuraihan."Kehadiran dua mahasiswa umuslim pada kegiatan tersebut merupakan lanjutan even yang pernah dihadiri sebelumnya yaitu 10th Simposium Nusantara (Simpora X:2019): Seminar and Exhibition on the Comparative Tudy or Rumah Perak and Rumah Aceh dari tanggal 16-20 September 2019 lalu di Tower Regency Hotel & Apartement, Ipoh, Perak",.

    Tambah Zuraihan lagi, pada Workshop yang diikuti beberapa universitas di negeri jiran tersebut menghadirkan  Keynote Speaker Prof. Madya Dr Mohd Sabrizaa Abd Rashid dan Prof. Madya Dr Siti Norlizaiha Harun dari UiTM Malaysia.

    Pada sesi acara tersebut peserta diperkenalkan sejarah arsitektur rumah perak dan latar belakang rumah Tok Abu Bakar Alang Ketak yang mempunyai arsitektur unik dan menarik, selain itu peserta juga diikutkan dalam program field work study trip ke beberapa rumah tradisional yang ada di daerah Perak Malaysia.

    Selama workshop, peserta  mendapatkan materi berbagai hal yang berkaitan arsitektur seperti struktur, konservasi, pemugaran, hingga teknik konstruksi baik arsitektur tradisionil maupun modern. Peserta juga diberi kesempatan untuk menjalin pertukaran berbagai hal tentang materi perkuliahan dengan peserta dari berbagai universitas yang menjadi peserta dalam workshop tersebut.

    Kegiatan ini  memberikan jalan dan peluang besar bagi mahasiswa umuslim melakukan pertukaran  perwakilan mahasiswa  khususnya bidang Arsitektur,  baik   nasional maupun internasional. (HUMAS).

     

  • Mahasiswa Bidikmisi Umuslim lakukan aksi sosial

    Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi universitas Almuslim (Umuslim)   yang tergabung dalam komunitas Ikatan mahasiswa bidikmisi (IKAMB)  universitas almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen,  melakukan aksi sosial pembagian paket sembako  di beberapa desa terpencil dalam wilayah  kabupaten bireuen, minggu (10/5).

    Ketua Ikatan mahasiswa bidik misi (IKAMB) umuslim Sarah Savana menjelaskan, aksi sosial ini merupakan salah satu program dari ikatan mahasiswa penerima bidikmisi Umuslim, kebetulan sekarang lagi kondisi mewabahnya Virus Corona dan bertepatan bulan ramadhan, maka kami tergerak hati melakukan aksi sosial menyerahkan sedikit bantuan berupa sembako kepada  fakir miskin, anak yatim, penyandang disabilitas, dan kaum duafa di desa-desa terpencil

    Ada sekitar 500 paket yang kami bagikan dan ini merupakan bantuan dari teman-teman mahasiswa penerima bidik misi, paket ini kami bagikan ke masyarakat dari berbagai desa terpencil, jelas Sarah Savana didampingi sejumlah mahasiswa lainnya yang menjadi relawan.

    Paket ini merupakan donasi dari mahasiswa penerima beasiswa bidik misi Umuslim, kami sisihkan alakadar setiap pencairan dana bidik misi, kemudian kami  jadikan dana  kas,  juga open donasi secara terbuka.

     "Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar dan sukses, semua paket tersalurkan untuk mereka yang membutuhkan, ujar Sarah Savana terharu didampingi sejumlah kawannya

     Kami mengucapkan terimaksih kepada teman-teman mahasiswa yang sudah berpartisipasi dan kerja keras untuk suksesnya kegiatan ini, juga untuk para donatur yang  ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini", serta kepada rektorat yang sangat mendukung program isosial yang kami laksanakan, Ungkap Sarah savana

    Adapun isi paket berupa minyak goreng, gula, beras dan sirup, kegiatan sosial ini  kami jadikan program rutin tiap tahun dibulan ramadhan, ujar Sarah Savana.

    Plt rektor umuslim Dr.H.Hambali,SE.,MPd mengucapkan terimakasih atas program sosial yang dilakukan mahasiswa, kami memberikan apresiasi atas kegiatan yang dilakukan mahasiswa penerima bidikmisi, ini kegiatan yang sangat mulia dan menyentuh masyarakat.

    Paket bantuan ini langsung mereka antar ke penerima di beberapa desa dalam wilayah kabupaten Bireuen, juga  melibatkan ormawa Pemerintah Mahasiswa (Pema) Umuslim.(Humas Umuslim)

  • Mahasiswa D-III Kebidanan Umuslim ikuti Seminar

      

    Puluhan mahasiswa dan Dosen  Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim Peusangan mengikuti seminar, yang berlangsung  di ruang seminar AAC Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim, Kamis (1/8/2019).

    Seminar  menghadirkan pemateri dr. Athaillah, Sp.OG" mengambil tema “Perkembangan pelayanan kebidanan dan tantangan pendidikan bidan di era 4.0 “. Menurut  Dokter Athailah bahwa hamil dan bersalin merupakan proses alamiah dan fisiologis, oleh sebab itu harus dipersiapkan dengan baik agar tidak terjadi hal yang patologis.

    Kedepan Tantangan pendidikan bidan di era 4.0 yaitu cyber physical systems, internet of things dan networks, maka peserta didik harus rajin dan meningkatkan keseriusan dalam belajar, jelas Ketua organisasi Muhammadiyah Bireuen ini.

    Ketrampilan yang dibutuhkan di tahun 2020 diantaranya yaitu kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreativitas, gaptek bukanlah alasan di era 4.0.ujarnya.

    Direktur Diploma III Kebidanan Umuslim Nurhidayatai, MPh menyampaiakan seminar diikuti 70 peserta berasal dari mahasiswa dan dosen, bertujan untuk

    menambah wawasan dan peningkatan kapasistas dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks.(HUMAS)

     

     

     

  • Mahasiswa dan alumni Teknik Sipil ikuti Bimtek Smkk

    Sebanyak 60 alumni dan mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Almuslim (Umuslim) ikuti Bimbingan Teknis Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (Bimtek SMKK) yang dilaksanakan di Aula Fakultas Teknik Kampus Timur Universitas Almuslim, selama tiga hari (1 – 3 Oktober 2019) 

    Bimtek yang digelar atas kerjasama  Balai Jasa Konstruksi Wilayah I Banda Aceh dengan Fakultas Teknik Universitas Almuslim menghadirkan narasumber dari Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Balai Jasa Konstruksi Wilayah I Aceh, Disnaker dan BPJS.

    Kegiatan Bimtek dibuka Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Almuslim Dr. Hambali, SE., M.Pd, pada kesempatan tersebut  menyampaikan kegiatan ini sinergi dengan tuntutan kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dimana setiap alumni selain memikili ijazah juga diharuskan memiliki sertifikat keahlian sebagai modal untuk terjun ke dunia kerja. 

    “Dalam persaingan global teknologi dan pelaksanaan konstruksi seorang lulusan perguruan tinggi tidak hanya cukup dengan memiliki ijazah, tapi diperlukan sertifikat keahlian sebagai pendamping ijazah yang menunjukkan kompetensi seorang alumni. Kegiatan ini diharapkan dapat berlangsung secara kontinyu supaya alumni FT Umuslim dapat memenuhi standar untuk bekerja dalam berbagai proyek konstruksi”. 

    Sedangkan Kepala Balai Jasa Konstruksi Wilayah I Banda Aceh Ir. M. Hilal, MT diwakili  Kepala Bagian Tata Usaha Danny Suriansyah, ST., MT, menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk mengimplementasikan Undang – undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi, dimana penyelenggaraan jasa konstruksi harus memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, keberlanjutan, perlindungan sosial tenaga kerja serta pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu Undang – undang jasa konstruksi telah mengatur tentang kewajiban pekerja proyek harus memiliki sertifikat.

    Seluruh peserta diharapkan dapat memahami dengan baik SMKK yang diterapkan dalam penyelenggaraan konstruksi sehingga pelaksanaan konstruksi mulai dari tahap perencanaan dan pengawasan memenuhi standar keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan hidup.

    Usai acara juga dilakukan kerjasama (MoU) antara Fakultas Teknik Umuslim dengan Balai Jasa Konstruksi Wilayah I Banda Aceh, dilakukan Kepala Bagian Tata Usaha Danny Suriansyah, ST., MT dan Dekan Fakultas Teknik Ir. Iskandar Azis, MT turut disaksikan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiwaan FT Umuslim Husaini, ST., M.Eng, Kaprodi Teknik Sipil Suhaimi, ST., MT dan dari pihak Balai Jasa Konstruksi disaksikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Yusnini, A.Md dan Muhammad Nasir, ST., MT selaku pengawas.(HUMAS)

     

  • Mahasiswa FE Umuslim hadiri kongres ISMEI di Jakarta

    Peusangan-Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim (Umuslim) mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti kongres Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) yang berlangsung di Universitas Trisakti Jakarta, (3-8/12/2018).

     Yang menghadiri acara tersebut adalah  Heri Munandar mahasiswa semester V prodi ekonomi pembangunan (EKP), merupakan salah seorang pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Umuslim.

    Menurut Heri Munandar acara kongres juga dirangkaikan dengan seminar  nasional dengan tema : Peluang dan tantangan indonesia dalam menghadapi revolusi industri 4.0 demi sustainabilitas pembangunan ekonomi.

    Dekan FE Umuslim, Hakim Muttaqim.M.Ec.Dev mengatakan bahwa dikirimnya Heri Munandar mewakili BEM Fakultas Ekonomi pada acara tersebut merupakan bentuk tanggung jawab fakultas dalam memberikan ruang aktualisasi kepada mahasiswa  kancah nasional dalam era revolusi indutri 4.0. Kita berharap dengan mengikuti kegiatan ini, akan dapat menambah wawasan dan keilmuan baru bagi mahasiswa, dan nantinya semangat dari mahasiswa yang  telah kita kirim dapat menjadi inspirasi bagi kawan-kawan yang lain, sehingga nantinya mahasiswa kita bisa sejajar dengan yang lain, walaupun  kampus kita di daerah tapi mahasiswanya  tidak kampungan, papar  Hakim Muttaqim.

    Secara terpisah Heri Munandar yang mengikuti acara ini mengucapkan terimakasih atas kepercayan dan memfasilitasi dirinya sebagai perwakilan dari Bem FE Umuslim untuk bisa hadir dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan dari berbagai universitas di Indonesia.

    Dirinya  berjanji akan menularkan berbagai informasi terbaru, hasil dari acara tersebut kepada teman semua, banyak informasi dan ilmu yang kami peroleh dalam ajang tingkat nasional tersebut.

    Acara selain diikuti mahasiswa juga hadir para pakar bidang ekonomi dan  beberapa instansi pemerintah, perusahaan dan lembaga keuangan lainnya.(HUMAS)

     

     

  • Mahasiswa Fikom Umuslim gelar festival Desain dan Animasi

    Mahasiswa Fakultas ilmu Komputer (Fikom) Universitas Almuslim Peusangan mengelar festival kreativitas anak fikom ke-2, berlangsung satu hari penuh di kampus setempat, Kamis (2/1).

    Kegiatan dipelopori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)  bekerja sama dengan Himpunan mahasiswa Informatika (Himaif) dan Himpunan mahasiswa manajemen Informatika berjalan sukses.

    Menurut ketua panitia Karuna Putra kegiatan ini bertujuan  untuk mengali dan menampung bakat dan minat serta kreatifitas  para siswa,  mahasiswa, maupun masyarakat umum, diikuti seratusan peserta terdiri dari siswa, mahasiswa dan masyarakat umum.
    Dekan Fikom Taufiq,ST,MT  dalam arahannya saat penutupan acara memberi apresiasi kepada panitia atas kegiatan yang sangat positif, harapannya program ini bisa  dilakukan berkelanjutan.

    Menurutnya kegiatan ini merupakan ajang perlombaan di bidang IT dalam uapaya membangkitkan  bangkitkan kembali peminat IT didaerah agar tidak terus tertinggal diera millenial 4.0 ini, Adapun perlombaan yang dilaksanakan dalam festival ini di antaranya, desain logo, desain poster, dosain VVAP/vector, animasi gif, photography, dan film pendek.

    Menurut penanggung jawab kegiatan M. Abizal Aulia mengingat antusiasnya peserta untuk kedepan kami akan memperluas peserta dari luar kabupaten Bireuen.

    Dewan juri kegiatan ini berasal dari dosen Fikom dan praktisi lainnya yang sudah punya sertifikasi nasional dibidang masing-masing. Pemenang tiap jenis lomba mendapatkan sertifikat,trophi dan uang pembinaan (HUMAS)

  • Mahasiswa Fkip Umuslim gelar Pentas Seni

    Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Almuslim berkolaborasi  mengadakan pentas seni di ruang Creatif Center Aula MA.Jangka kampus Umuslim, Selasa,( 31/12/2019)

    Kegiatan yang melibatkan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dua prodi tersebut, mengambil tema “Meningkatkan Potensi dan Prestasi Guna Mewujudkan Generasi Modern Cinta Budaya”. egiatan di ruang semacam biskop mini  yang sangat representatif untuk  pentas seni ini berlangsung meriah, ruang berkapasitas 300 orang merupakan bantuan  pemerintah melalui program hibah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Tahun 2018 penuh dengan penonton, gedung ini menjadi satu-satunya gedung teater yang  megah dan representatif  di Kabupaten Bireuen.


    Menurut ketua panitia Rahmat kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setiap semester, diikuti  ratusan mahasiswa, merupakan kolaborasi antara program studi PGSD dan program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
    Tujuannya untuk menampilkan karya kreatif mahasiswa dari mata kuliah yang diprogramkan pada semester ganjil,  sebagai wahana dalam mengembangkan potensi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang cinta akan budaya.

    Pada kesempatan tersebut Dekan FKIP, Drs.M.Taufiq, M.Pd menyambut baik kegiatan ini, dengan kolaborasi ini akan menghasilkan pentas seni yang spektakuler, ungkapnya saat membuka acara, dalam waktu dekat ini akan mengadakan kegiatan serupa yang melibatkan mahasiswa di lingkungan FKIP Umuslim, siswa SMA sederajat se Ace dan  siswa SD/MI yang akan di laksanakan di gedung teater Universitas Almuslim yang sangat megah ini, jelas Drs.M.Taufiq, M.Pd.

    Kegiatan pentas seni ini ikut menampilkan berbagai karya seni kreatif  mahasiswa dua prodi  dengan menampilkan berbagai kreasi seni dan  tari kreatif, seperti tari nusantara, tari ratoh jaroe, drama, musikalisasi puisi, serta pemutaran film pendek.

    Penampilan dari setiap kelompok dinilai oleh dosen pengampu mata kuliah masing-masing, Nia Astuti, M.Pd. dosen pengampu mata kuliah Pementasa Drama dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia ,  Navysa Basri, M.Pd., dosen pengampu Seni Tari dan Drama prodi PGSD Universitas Almuslim.
    Kegiatan bertambah meriah karena hadirnya persembahan puisi dari mahasiswa Jepang  Mio dan Kazuma yang sedang kuliah di universitas almuslim.

    Mereka membaca puisi kolaborasi bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Selain itu, mereka juga diberikan kesempatan untuk menyanyikan lagu Jepang yang dibawa secara berkolaborasi dengan salah satu dosen pembimbingnya, Yuhafliza,M.Pd.
    Menurut ketua program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Nurmina, M.Pd. dan dan ketua program studi PGSD universitas almuslim  Fachrurazi, M.Pd, menyampaikan melalui kegiatan ini, berharap akan mampu mengembangkan potensi mahasiswa dalam berseni dan bersastra sehingga akan menghasilkan lulusan yang unggul.

    Pentas seni berlangsung satu hari penuh turut  dihadiri mahasiswa, dosen, alumni, pegiat seni di kabupaten Bireuen dan mahasiswa luar negeri yang sedang mengikuti kuliah di Universitas almuslim(HUMAS)

  • Mahasiswa Geografi Umuslim ikuti Muswil Se Sumatera

     

    Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi (HIMAGFI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim mengikuti Musyawarah Wilayah  Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia ( Muswil Imahgi ) Region I Sumatera   yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (29 – 31/10/ 2019).

    MenurutMuslimah yang menjabat  Ketua Umum HIMAGFI  Universitas Almuslim,  tujuan  kegiatan  untuk mempererat tali silaturahmi dan membuka jejaring antar  mahasiswa geografi yang ada di Sumatera, sebagai ajang adu gagasan dan  juga mengenal karakter setiap mahasiswa dari universitas yang berbeda beda.

    Agenda kegiatan Forum berlangsung selama tiga hari tersebut diisi dengan kegiatan  diskusi membahas perkembangan Geografi dewasa ini, kuliah umum, Lomba Essay, dan Field Trip di kota Banda Aceh.

    Selain itu dalam musyawarah wilayah ikatan mahasiswa geografi Indonesia, juga membahas agenda sidang laporan pertanggungjawaban pengurus Imahgi periode 2018-2019,  dilanjutkan pemilihan koordinator wilayah yang baru. 

    Adapun perwakilan mahasiswa yang mengikuti acara tersebut  Muhammad Iqbal, Ikhwanul Muslimah, Lismayanti, Siti Munira dan Yulia Fahmi. (HUMAS)

     

     

     

  • Mahasiswa Jepang hadiri peringatan HUT RI ke-74 di Bireuen

     

     

     

     

    Sebanyak 16 mahasiswa dari Nagoya Gakuin University (NGU)  Jepang yang baru tiba untuk belajar di  Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan berkesempatan mengikuti detik-detik peringatan HUT RI ke-74 di Stadion Cot Gapu Bireuen, Sabtu (17/8).

    Saat hadir ke lokasi upacara mereka jadi rebutan peserta upacara untuk berfoto bersama dan selfi, semua berebut untuk bisa berfoto dengan mahasiswa asal dari negeri matahari terbit ini. 

    Banyak masyarakat, pelajar, ASN, Dharma Wanita, anggota OKP, Ormas bahkan sampai pejabat eselon Pemkab Bireuen banyak minta waktu untuk bisa berfoto dengan mereka. Anak-anak dari negeri sakura inipun melayani dengan senang dan gembira, sesi minta foto dan selfi dengan mahasiswa tersebut terus berlanjut sampai upacara selesai.

    Setelah mereka  mengikuti Upacara HUT RI ke-74 di Stadion Cot Gapu, Bireuen, seterusnya didampingi Direktur Hubungan Internasional Drs Nurdin Abdurrahman, Wakil Rektor II Dra.Zahara,MPd dan beberapa mahasiswa Umuslim yang pernah dikirim kuliah di (NGU) Jepang menuju Meuligoe dijamu makan siang bersama Forkopimda Bireuen. 

    Mereka sangat senang bisa hadir dan menghadiri satu upacara memperingati HUT kemerdekaan satu negara, salah seorang mahasiswa  Horie Mio di dampingi temanya Suzuki Ryoma dan Ohba Aimi menyatakan sangat senang bisa hadir di Bireuen dan ikut meramaikan bersama masyarakat disini ungkap mereka yang diterjemahkan seorang  mahasiswa umuslim yang pernah kuliah di Jepang.

    Sehari sebelumnya (16/8) mereka juga di undang untuk ikut meramaikan acara hiburan rakyat panjat pinang dan makan kerupuk yang di gelar pemuda desa Paya Cut Peusangan.(HUMAS)

     

    Ket Foto : FB Muhib

  • Mahasiswa Jepang meriahkan pentas Seni sambut Tamu dari Brunai Darussalam

     

     

     

     

     Sebanyak enam belas mahasiswa Jepang tampil membawakan tarian dan nyanyian ala Jepang pada pentas seni menyambut kehadiran rombongan dari  Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN) Brunei Darussalam Universitas di Universitas Almuslim Peusangan, di ruang Creatif Center MA.Jangka kampus Universitas Almuslim, Senin (26/8/2019) malam.

    Pentas seni yang menampilkan berbgaai corak ragam kesenian daerah dan modern mendapat sambutan meriah dari rombongan dan undangan karena di gelar diruang yang sangat representatif untuk pertunjukan.

    Menurut Rektor Umuslim Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si, gedung tersebut baru saja di rehab bantuan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pusat, ruangan berfasilitas bentuk bioskop mini ini cukup nyaman dan layak  suksesnya beberapa pementasan seni.

    Dalam pertemuan silaturahmi tersebut Rektor Umuslim Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si menyampaikan penghargaan dan terima kasih  kehadiran rombongan dari Brunei Darussalam ini merupakan kehormatan besar bagi Universitas Almuslim, ucap Rektor Umuslim.

    Selain itu H.Amiruddin Idris mengukapkan di hadapan tamu, mengharapkan silaturahmi ini dapat membuka jalan dan perintisan kerjasama antara Universitas Almuslim dengan berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Brunei Darussalam.

    Perwakilan rombongan Brunai  Pengiran Haji Abbas bin Pengiran Haji besar mewakili rombongan mengucapkan terima kasih atas sambutannya, “ kami terima penghormatan sangat besar telah diberikan, kami juga akan menerima kedatangan rombongan dari Bireuen ke Brunai Darussalam. Terimakasih dan Insya Allah kita akan bertemu lagi dilain masa, ungkap Pengiran Haji Abbas bin Pengiran Haji besar.

    Kegiatan pentas seni tersebut menampilkan berbagai  berbagai kesenian daerah oleh sanggar Mirah Delima Universitas Almuslim binaan Hj.Nuryani Rachman, juga penampilan berbagai kesenian lainnya seperti baca puisi dan berbalas pantun dari dosen dan mahasiswa,  serta persembahan tarian dari Brunai dan mahasiswa Jepang yang sedang kuliah di Umuslim.

    Acara turut dihadiri Wakil Bupati Bireuen Dr H Muzakkar A Gani, SH.,MSi, Ketua Forum Silaturahmi Kraton Nusantara (FSKN) Bireuen Ahmad B.Namploh, ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri,S.Sos, Prof. Saeki Natsuko dari Nagoya Gakuin University Jepang, Camat Peusangan Erry Seprinaldi, SSTP.,MSi dan sejumlah mahasiswa.(HUMAS)