Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Melihat dari dekat usaha garam Milhy yang ber SNI

     

     

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen Universitas Almuslim, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna dan anggota FAMe Chapter Bireuen

    Sore itu suhu terasa masih cukup panas, padahal jarum jam sudah hampir merapat pada angka 17.00 wib, suasana  kawasan rekreasi pantai Jangka tidak lagi ramai, hanya beberapa pelancong lokal seputaran kawasan tersebut yang sedang menikmati hembusan angin  laut serta suasana sunset diatas selat malaka sambil menikamati beberapa kuliner  seputaran pantai tersebut.

    Matahari mulai bergerak meransek ke arah barat tetapi suhu masih cukup panas, seakan tidak bersahabat untuk mengurangi tensi panasnya, sehingga walau angin pantai terus berhembus, cucuran keringat semua orang  tetap saja mengalir seputaran kening tidak mau berhenti.

     Di atas langit ujung barat  suasana sunset  mulai meredup  untuk menyusup ke peraduan, saya bergegas bergerak  meninggalkan lokasi salah satu destinasi wisata pantai di kabupaten Bireuen itu.

    Saya pulang mengambil rute  jalan melalui  arah barat, melewati beberapa desa, diperjalanan lebih kurang dua kilometer dari pantai Jangka, saya singgah bersilaturahmi ketempat usaha salah seorang alumni universitas almuslim Peusangan, saudari Qurrata‘Aini YS,SE, alumni DIII Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Universitas Almuslim, sekarang mengelola usaha garam merek MILHY.

    Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan luasnya lebih kurang 800 meter persegi, bangunan beton yang  telah di sekat empat bagian  menjadi kantor, ruang produksi, penyimpanan dan ruang mesin pengolahan, saya disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik bangunan tersebut,  suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan, sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. 

    Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal dari lahirnya usaha tersebut, menurutnya penataan ruang ini sesuai aturan dan syarat untuk menjadikan tempat usaha yang layak dan berstandar SNI, sambil Qurrata memperlihatkan sertifikat  SNI nomr 3556 -2010.

     Menurutnya  MILHY asal kata Milhon dalam bahasa Arab yang artinya Asin (Garam), Milhy  juga nama tabalan pada orang tuanya Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat Tanoh Anoe Jangka, gelar  Milhy ini  disandangkan oleh Jepang ketika kawasan tersebut dikuasai tentara Jepang.

    Pada masa pendudukan Jepang  usaha Tgk Yusuf  salah satu produksi garam yang bisa bertahan, sehingga dengan adanya usaha garam  beberapa masyarakat Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang saat itu, cerita Qurrata‘Aini bersemangat.

    Menurut Qurrata‘Aini awalnya dia tidak pernah tau seluk beluk  produksi garam, sehingga usaha garam secara tradisionil warisan orang tuanya tahun 1990 sempat tidak berproduksi, padahal  tahun 1980  usaha orang tuanya  dengan  merk garam Bulan Bintang sudah maju dan  pemasarannya ke seluruh Aceh. Seiring perjalanan waktu awal  2006, usaha itu mulai dirintis kembali oleh Qurrata Aini yang merupakan anak bungsu Tgk Yusuf Milhy, dengan memanfaatkan beberapa petak tanah peninggalan orang tuanya.

    Tanoh Anoe kecamatan Jangka sekitarnya merupakaan satu kawasan produksi garam rakyat, makanya tidak heran kalau melewati desa tersebut terlihat berjejer ratusan jambo sira tradisionil dengan dinding belahan bambu dan pelepah kelapa beratap rumbia berjejer bersisian sepanjang area tambak. Sore itu dengan hembusan angin laut yang begitu sejuk, penulis melihat secara dekat kesibukan warga seputar jambo sira dengan berbagai aktivitas, ada menurunkan kayu bakar, mengangkut air, mengumpulkan butir-butir bibit garam, memasak air dan juga sedang membakar kayu.

    Yang lebih kentara terlihat dari kejauhan nampak jelas kepulan asap yang berasal dari pengolahan dengan rebusan bahan baku bibit garam menggunakan air laut/sumur bor keluar lewat celah-celah dinding bambu dan atap rumbia mengepul ke angkasa. 

    Menurut Qurrata Aini, pondok garam produktif di kecamatan Jangka mencapai 200 lebih, yang pengolaannya masih secara tradisionil, dulu sebagian besar bahan baku bibit garam di pasok dari luar Aceh, hal ini untuk mencapai target kebutuhan. Tapi Alhamdulilalh sekarang melalui program Inovasi, produksi garam Milhy bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, kami sudah bisa memproduksi bahan baku sendiri dengan menggunakan Geomembran.

    Menurut Qurrata Aini, metode Geomembran kawasan tersebut merupakan inovasi dirinya, awalnya beberapa tahun lalu terjadinya kelangkaan bibit garam, sehingga banyak petani garam yang meninggalkan usaha tersebut.

    Mereka membiarkan pondok terbengkalai tidak terurus, banyak petani garam putus asa, karena kondisi tersebutlah dia memutar otak untuk tetap bertahan,  tidak membiarkan pondok garam terbengkalai, tetapi asap tetap mengepul dari pondok, sehingga dia mencoba berbagai cara agar bisa menghasilkan bibit garam.

    Berbagai ilmu tentang garam dia pelajari dari berbagai sumber dan belajar pada orang tua sepuh yang pernah bergelut dengan pengolahan garam tradisionil, bahkan pihaknya pernah mengupayakan bibit dari pulau Jawa seperti Madura dan Banyuwangi, teryata hasilnya tetap nihil, karena bibit dari sana tidak cocok dengan topografi daerah kita, jelas Qurrata Aini

    Karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia lakukan, dari pada jadi pengangguran, dia tetap bertahan untuk pekerjaan di pondok garam, dia coba dengan berbagai metode dan teknik inovasi  ala sendiri, “saya berpikiran jangan sampai tidak ada bibit, tidak bisa cari uang” ulas Qurrata Aini yang saat kuliah dikenal seorang mahasiswi yang  vokal.

     Akhirnya dia coba dengan sistem Geomembran, saat mencoba inovasi metode ini, dirinya sempat dianggap setengah gila oleh masyarakat, pokoknya semua meremehkan dan menyeleneh apa yang dia kerjakan. Menurutnya metode Geomembran yang dia praktekkan, perpaduan bahan peralatan modern seperti plastik dan  berkolaborasi dengan metode tradisionil yaitu melihat tanda-tanda alam, seperti arah mata angin, hembusan udara dan kualitas pencahayaan matahari.

    Berbulan-bulan dia lakukan uji coba dengan memperhatikan kondisi alam seperti arah mata angin, arah mata hari, cuaca dan juga sampai membuat bangku sebagai mewaspadai terjadi banjir, semua yang dia uji coba merupakan pekerjaan yang tidak pernah dipraktekkan masyarakat saat itu.

    Akhirnya uji coba tersebut sukses dan menghasilkan bibit yang berkualitas, tetapi selama satu tahun masyarakat  masih belum percaya dengan inovasi yang dia lakukan, akhirnya pada tahun kedua hasil uji coba tersebut baru masyarakat mengakui sistem Geomembran, bisa menghasilkan bibit garam  berkualitas dan harga lebih murah, sekarang banyak dari luar daerah yang menjadikan metode dan tempat saya sebagai tempat belajar, jelas Qurrata Aini ceplas ceplos.

    Garam UD.Milhy diproduksi dalam tiga varian yaitu Milhy sira gampong beriodium (rendah Nacl), Milhy beriodium berstandar nasional dan Milhy garam non konsumsi (garam ini khusus untuk rendam kaki bagi penderita kebas dan kelelahan), garam beriodium adalah garam komsumsi yang memenuhi persyaratan SNI, BPOM,LPPOM yang ditetapkan dan telah diberikan zat iodium (KI03) dengan proses yodisasi, sekarang sedang dikampayekan penggunaannya untuk pencegahan tumbuh anak Stunting, rinci Qurrata Aini.

    Garam produksi Milhy dipacking dalam berbagai  isi seperti  100, 200, 250,400 gram,1 kg dan  8 kg, jumlah tenaga kerja 18 orang yang tetap dan tidak tetap 35 orang, kalau perputaran cepat saat musim kebutuhan omsetnya bisa  mencapai 200-250 juta perbulan dan tenaga kerja juga bertambah, cerita Qurrata aini penuh semangat.

     Selain memproduksi sendiri garam, usaha Milhy juga menjadi ibu angkat dari ratusan petani garam tradisionil lainya seputaran Jangka, dimana hasil produk masyarakat di tampung oleh UD Milhy, kemudian pihaknya mengolah dan packing sesuai standar produksi usahanya, jelas Qurrata Aini.

    Sekarang usaha garam Milhy mampu memproduksi garam beriodium 70.000-80.000 Kg/bulan, dengan peralatan memadai seperti mesin penghalus, cuci,oven, Iodisasi, hand sailler dan produksi garam Milhy telah mempunyai sertifikat Halal MPU Aceh : 14060000451214, dan sertifikat SNI 3556 -2010, BPOM RI MD 255301001021.

    Usaha garam UD Milhy Jaya pernah mendapat piagam penghargaan UMKM naik kelas katagori Industri Pengolahan tahun 2017 kerjasama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Piagam penghargaan SIDDHAKARYA Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Aceh. Penghargaan Produktifitas SIDDAKARYA dengan klasifikasi “Good Performance”. Usaha garam Milhy  pernah dikunjungi artis nasional Marissa Haque, Darwati A.Gani serta beberapa  isteri dan pejabat baik tingkat Provinsi kabupaten/kota baik dari Provinsi Aceh maupun luar provinsi Aceh.

    Ayo kita konsumsi garam beryodium untuk menghindarkan penyakit gondokan dan stunting....

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 06/05/2019/ dengan judul Melihat dari dekat usaha garam bebas najis.

     

     

     

     

     

     

     

  • MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan

    Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Matang–begitu nama singkatnya--sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka sebagai basis perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda, perjuangan yang dipimpin oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap dan didukung oleh tokoh-tokoh perjuangan, seperti Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk H Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk Ridwan, dan lain-lain.

    Strategi yang ditempuh tokoh Peusangan (sebelum pemekaran) pada masa perjuangan melawan penjajah adalah dengan mendidirikan lembaga pendidikan yang disebut dengan Jami’atul Muslim pada 21 Jumadil Akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1929 Masehi. Lembaga pendidikan itulah yang merupakan cikal bakal Yayasan Almuslim Peusangan yang membawahi Universitas Almuslim, IAI Almuslim, Pesantren Almuslim, juga SMA dan MA Almuslim,

    Jadi, perjuangan yang dipelopori oleh umara dan ulama Peusangan waktu itu, bukan dengan fisik, melainkan yang lebih utama adalah dengan ilmu pengetahun. Tak heran kalau Kota Matangglumpang Dua juga dikenal sebagai kota pelajar dan banyak tokoh lahir dari kecamatan ini.

    Menurut cerita orang-orang tua dulu, pada masa kepemimpinan Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), setiap warga masyarakat diwajibkan menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, seperti pohon kelapa, boh giri atau jeruk bali, sawo, langsat, dan berbagai buah-buahan lainnya.

    Setiap warga Peusangan yang pergi ke hari pekan (uroe ganto) di Matangglumpang, Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah--populer dengan julukan Ampon Chiek Peusangan--merazia setiap sepeda warga yang pergi ke hari pekan. Apabila warga tidak membawa hasil kebun dari kampungnya, mereka disuruh pulang lagi ke kampung. Pokoknya, setiap warga yang datang dari kampung harus ada tentengan buah-buahan atau hasil kebunnya yang dibawa ke pasar.

    Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal mengapa buah-buahan seperti pisang, pinang, jeruk bali atau boh giri, belimbing wuluh (bahan baku asam sunti), dan beberapa jenis buah-buahan lainnya banyak tumbuh di Peusangan. Berbagai komoditas inilah yang telah membawa kemakmuran dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kecamatan Peusangan sehingga banyak warga berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dari menjual hasil kebunnya.

    Berbagai tumbuhan, baik buah-buahan maupun tanaman keras lainnya yang tumbuh di masa lalu teryata boh giri-lah yang merupakan buah-buahan yang bertahan dan masih populer sampai sekarang.

    Kini, kalau sedang musim jeruk bali setiap hari berton-ton buahnya diangkut ke Medan dan Pulau Jawa, apalagi kalau saat menjelang Imlek, hari raya orang Tionghoa. Mereka biasanya langsung membawa mobil tronton datang ke lokasi dan memesan pada pemilik kebun jeruk bali.

    Jeruk bali atau boh giri berdasarkan kesepakatan bersama para pengusaha, boh giri bali disebut boh giri matang, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan “boh giri bali”. Buah-buahan ini telah menarik perhatian banyak orang dan sekarang menjadi oleh-oleh andalan bagi tamu-tamu yang datang dari luar daerah ke Peusangan.

    Jeruk bali (Citrus maxima atau Citrus grandis) asal mulanya juga bukan dari bali, melainkan buah asli dari Asia Selatan dan Tenggara. Departemen Pertanian menyarankan sebutannya adalah “pomelo” sebagaimana yang dikenal di dunia internasional.

    Dalam rangka mengisi hari libur, saya berkunjung ke salah satu desa penghasil boh giri, yakni Desa Pante Lhong. Saya sempat bersilaturahmi dengan Ibu Syarbaniah, petani boh giri tradisional.

    Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka perlu mengikuti langkah-langkah penanaman sebagai berikut:

    Bibit tanaman bukan berasal dari biji, tetapi dicangkok selama tiga bulan agar cepat tumbuh;

    Setelah itu dipotong dan dipindahkan ke dalam polybag selama satu bulan;

     Siapkan lubang dengan kedalaman minimal 50 cm, lebar 50x50 cm;

    Tanam dengan jarak 7 meter antar pohon;

    Bila tumbuh dengan baik maka akan dapat berbuah paling cepat pada usia 1,5 tahun dan secara normal akan berbuah selama dua tahun;

    Beri pupuk kompos atau urea putih mulai dari enam bulan pemelihraan dan pada saat mulai berbuah serta disesuaikan dengan besar rimbun pohonnya dengan kedalaman area lubang 10 sampai 15 cm.

    Untuk menjaga agar buah yang dihasilkan bagus, maka buah yang pertama hanya kita pertahankan sebanyak tiga buah, berbuah kedua sebanyak enam buah, berbuah ketiga spuluh buah dan berikutnya baru boleh sebanyak-banyaknya.

    Untuk memilih boh giri yang baik sebaiknya perlu diperhatikan berat buahnya, kemudian pegang bagian bawahnya terasa lembek serta kulitnya terasa kasar. Agar rasanya nikmat dan lezat sebaiknya setelah dipetik dibiarkan selama satu minggu atau minimal lima hari baru dikupas. Berat jeruk bali berkisar 1-2 kg per buah, dengan diameter 15-25 cm.

    Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

    Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.

    Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

    Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

    Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

    Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

    Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 08/05/2019/ dengan judul Mencicipi Jeruk bali di bumi Peusangan

     

  • Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang

    Oleh : Yusrawati,SE.,MM Staff dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen

    SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Kebetulan sore itu kami menuju Kota Lhokseumawe sambil mencari sedikit keperluan bahan sekolah untuk anak. Jarak tempuh antara tempat tinggal saya ke Lhokseumawe lebih kurang 30 menit.

    Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, sampailah kami di simpang Loskala. Simpang tersebut merupakan persimpangan menuju jalan alternatif yang dibangun untuk jalur menuju Kota Lhokseumawe dari arah barat. Kami sekeluarga sepakat untuk memilih jalur alternatif tersebut.

    Memasuki jalan baru mulai dari simpang Loskala saya tercengang melihat ramainya warga yang mengambil rute tersebut. Saking padatnya lalu lalang kendaraan di jalur ini membuat kami harus mengendara dengat pelan dan sangat hati-hati.

    Di sepanjang jalan sebelum sampai ke Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, kami lihat berbagai jenis kendaraan dengan berbagai model dan seri berjalan saling mendahului, baik dari arah masuk maupun arah ke luar dari lokasi Ujong Blang. Banyak juga remaja yang mengendarai sepeda motor (sepmor) secara ugal-ugalan.

    Di sepanjang pinggir jalan kami juga melihat padatnya parkiran kendaraan, baik itu kendaraan roda dua, roda tiga (becak), maupun roda empat. Semua dijejer di halaman pondok kuliner atau kafe yang dibangun berderet di sepanjang jalan menuju pantai Ujong Blang.

    Ujong Blang merupakan salah satu pantai yang menjadi destinasi wisata andalan di bekas “kota gas” tersebut. Setiap hari minggu banyak pelancong dari luar daerah yang datang menikmati deburan ombak di sini.

    Dari pusat Kota Lhokseumawe ke Ujong Blang butuh waktu hanyak belasan menit saja dengan berkendara. Langsung dapat kita nikamti lokasi yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati pantai Selat Malaka.

    Kami melihat betapa ramainya masyarakat yang duduk di atas tikar secara berkelompok, baik itu keluarga, maupun sesama kolega, sambil mencicipi makanan yang telah disiapkan dari rumah. Mereka dengan gembira menikmati riuhnya suasana ombak dan angin pantai pada sore itu. Tak jarang pula terlihat mereka memesan dan menikmati kuliner yang dijual di pondok-pondok yang berjejer rapi di sepanjang pantai Ujong Blang, mulai dari rujak, mi instan rebus atau goreng, hingga ikan bakar. Itulah kuliner khas pantai Ujong Blang ditambah kelapa muda yang sangat andal untuk mengusir dahaga.

    Karena ramainya warga yang turun ke lau, lagi pula cuaca dan ombak pun sangat bersahabat, sehingga saya bersama anak ikut turun juga ke tepi pantai untuk sekadar melihat suasana dan menghabiskan waktu sambil menikmati hempasan ombak pantai pada sore itu.  

    Dalam pikiran saya, ramainya warga yang berada di bibir pantai sore itu seperti adanya atraksi tarek pukat yang merupakan pekerjaan rutin nelayan setiap pagi di pantai ini. Tarek pukat adalah kebiasaan masyarakat nelayan untuk menangkap ikan dengan memakai jaring secara berkelompok. Biasanya tarek pukat dilakukan pada pagi hari, saat nelayan baru pulang melaut. Banyak masyarakat yang menyaksikan aktivitas tarek pukat tersebut dan menjadi tontonan yang menarik dan mengasyikkan.

    Saat kami sedang menikmati semilir angin berembus ke tepi pantai dan nyanyian suara ombak yang bergelombang mendekati bebatuan yang tersusun rapi sebagai penahan ganasnya gelombang pantai tersebut agar tidak menggerus pemukiman penduduk, dari kejauhan beberapa boat kecil nelayan berwira-wiri dimanfaatkan beberapa pengunjung untuk memancing, sesekali tampak boat terhempas dengan deburan ombak setinggi lutut sehingga dari kejauhan boat seperti adegan jumping.

    Saat berada di pinggir pantai saya melihat ke atas seputaran jalan, pondok atau kafe, terlihat begitu ramainya masyarakat yang datang ke pantai tersebut, rata-rata mereka pergi secara berkelompok bersama keluarga.

    Yang herannya, makin sore masyarakat makin ramai yang datang, sehingga saya penasaran, ada apa? Kenapa makin mau terbenam matahari makin ramai orang yang datang, mereka ada yang hanya duduk termenung memandang ke laut lepas, ada yang asyik bercengrama sesama anggota kelompok, ada juga yang hanya untuk menemani anak-anaknya mandi laut, tetapi yang lebih banyak para remaja milenial yang asyik berselfi ria.

    Karena penasaran saya sempat bertanya pada seorang pemilik kafe di jalan ke luar dari area pantai tersebut, “ Pak ada acara apa? Makin sore kok makin ramai saja orang yang datang , padahal matahari mulai terbenam.” 

    Pemilik kafe itu menjelaskan bahwa ini merupakan kebiasaan masyarakat, tidak hanya masyarakat seputaran Lhokseumawe saja yang menghabiskan waktu sorenya di Pantai Ujong Blang, tapi banyak juga warrga dari daerah lain datang untuk mandi laut di Pantai Ujong Blang, apalagi pekan lalu itu mau memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, ada tradisi masyarakat kita pada minggu terakhir bulan Syakban banyak yang pergi santai untuk rekreasi bersama keluarga di pantai.

    Setelah mendapat penjelasan dari bapak setengah baya itu barulah saya mengerti maksud orang tersebut hadir sampai sore ke pantai Ujong Nlang Lhokseumawe yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lhokseumawe. Selain menikmati pemandangan laut pada sore hari, di tengah hiruk pikuk ramainya masyarakat menikmati suasana pantai, saya juga melihat banyak warga yang memanfaatkan waktu membeli ikan segar yang banyak dijual oleh sejumlah nelayan di sepanjang jalan menuju lokasi pantai. Aktivitas jual beli ini terlihat sangat sibuk, melebihi suasana di pasar ikan sendiri. Para penjual juga begitu cekatan memainkan jurus mautnya merayu dan melayani calon pembeli yang datang dari beberapa desa di Kota seputaran Lhokseumawe.

    Warga yang datang membeli ikan naik mobil umumnya lebih siap, karena mereka sudah mempersiapkan baskom atau timba plastik kecil sebagai wadah untuk menampung ikan segar yang dibeli. Apabila ada ikan yang sesuai selera dan cocok harga, mereka langsung bisa memanfaatkan baskom atau timba tersebut sebagai tempat ikan yang dibeli sehingga tidak mengotori mobilnya saat dibawa pula ke rumah. Rutinitas seperti itu terus berkelin dan dari pekan ke pekan.

     

     

    Cerita ini pernah tanyang pada http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 7/5/2019 dengan judul Menikmati-akhir-pekan-di-pantai-ujong-blang

     

     

     

     

  • Menlu RI direncanakan kuliah umum di Umuslim

     

     

    Peusangan-Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Retno Marsudi diagendakan akan hadir untuk  memberi kuliah umum pada mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Kabupaten Bireuen, pada Sabtu, 22 Desember 2018, demikian disampaikan Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman saat berkunjung ke Universitas Almuslim beberapa hari lalu.

    Informasi tersebut dibenarkan  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi, bahwa dirinya telah mendapat informasi tentang rencana kehadiran Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Retno Marsudi ke Universitas Almuslim yang disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman beberapa hari lalu dalam sebuah pertemuan dengan Direktur Hubungan Internasional Umuslim.

     “Saya sudah mendapat informasi dari Sekretaris Direktur Hubungan Internasional Umuslim, T. Cut Mahmud Azis, tentang rencana kedatangan Menlu RI ke kampus pada hari Sabtu,( 22 Desember 2018),kita doakan semoga tidak ada halangan dan Buk Menteri bisa hadir ke Umuslim” Harap Rektor Umuslim  Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja menerima penghargaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang diserahkan oleh LLDIKTI Aceh sebagai Universitas swasta terbaik di Aceh.

      Saat pertemuan pembahasan rencana kehadiran Menlu RI tersebut, dihadiri Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman didampingi dua orang stafnya, sedangkan Universitas Almuslim diwakili Direktur Hubungan Internasional Umuslim Drs.Nurdin Abdurahman,MSi, Sekretaris Direktur Hubungan Internasional T.Mahmud Azis, Ka.Biro Umum Chairul Bariah dan Kabag Humas, Jelas Rektor Umuslim. Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi.

    Lanjut Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  lagi,  setelah memberikan kuliah umum, Menlu Retno Marsudi direncanakan juga ikut dalam diskusi presentasi hasil lapangan tim market intelligence di India, yang akan berlangsung di ruang rapat Kampus Ampoen Chik Peusangan Universitas Almuslim.

    Diskusi tersebut kita rencanakan juga  bisa di hadiri   Rektor Unsyiah, Rektor Unimal, Rektor Universitas Teuku Umar, dan Rektor UIN Ar Raniry, KADIN, Kepala BI Provinsi Aceh, Kepala BI Lhokseumawe, Bupati Bireuen, Bupati Aceh Utara, Walikota Lhoksemawe, KEK Arun, Badan penanaman modal Aceh, Konsul India di Medan, Danlanal Sabang dan Lhokseumawe serta beberapa instansi dan lembaga terkait lainnya, kita akan undang mereka, Jelas Rektor Umuslim.

    Kemudian  pada hari Minggu, 23 Desember 2018, Menlu akan melepas keberangkatan perdana kapal dari Pelabuhan Krueng Geukuh yang menuju Port Blair. Menurutnya, perjalanan kapal dari Krueng Geukuh ke Port Blair (INDIA) sekitar 58 jam.

    "Di Port Blair nanti  disambut langsung oleh PM India dan Dubes Indonesia untuk India dan Bhutan," jelas H.Amiruddin Idris yang pernah hadir ke India atas undangan Kementerian Luar Negeri untuk membahas Program Konektivitas hubungan dagang antar tiga negara.

     

     "Kita doakan  semoga Ibu Menlu RI Retno Marsudi bisa hadir,mengingat belum pernah Menlu hadir ke Bireuen, kita sedang menunggu informasi lanjutan dari Kementerian Luar Negeri, Jika nanti beliau tidak bisa hadir kemungkinan digantikan oleh Wamenlu, atau pejabat Kemenlu setingkat Dirjen, jelas  Rektor Umuslim Dr H Amiruddin Idris SE MSi mengutip keterangan Arifi Saiman(Humas).

     

    Foto       : Chairul Bariah

     

    Ket foto : Suasana pertemuan Tim Kemenlu dengan Pihak Umuslim

  • Menteri ATR/KBPN Sofyan Djalil kuliah umum di Umuslim.

     

     

    Peusangan-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD akan memberikan kuliah  umum  pada mahasiswa Universitas Almuslim dan tokoh masyarakat Peusangan, Kamis (14/3/2019).

    Kegiatan yang akan dihadiri sekitar seribu orang peserta ini berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim Matangglumpang Dua.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE,MSi membenarkan akan kehadiran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD ke kampus Umuslim, “Pak Menteri akan memberikan kuliah umum dengan tema Kesiapan Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0” Jelas H.Amiruddin Idris.

    Kami mengharapkan kepada mahasiswa dan dosen agar dapat mengikuti kuliah umum ini dengan serius karena bisa menambah wawasan keilmuan serta banyak hal dan manfaat yang bisa dipetik dari materi kuliah umum bapak Menteri kelahiran Aceh Timur  ini, harap Amiruddin Idris. 

    Pada kesempatan tersebut Sofyan Djalil dijadwalkan juga akan  menyerahkan  sertifikat tanah milik Universitas Almuslim Peusangan kepada Rektor. Menurut Informasi dari tim protokoler rombongan Menteri diperkirakan tiba di kampus Umuslim  sekitar jam 8.15 pagi ,setelah mengisi kuliah umum pada siang hari akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Aceh Timur.(HUMAS)

     

  • Oeang Atjeh di Museum Uang Sumatra

    OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen

    SAAT liburan Idulfitri di Kota Medan, saya sempatkan waktu untuk mengunjungi Museum Uang Sumatra yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 17, Medan Maimun, Sumatera Utara (Sumut). Ini merupakan museum uang satu-satunya di Pulau Sumatra. Di Indonesia hanya ada tiga museum uang. Pertama adalah Museum Uang Bank Sentral Republik Indonesia (Museum BI) di Jakarta, kedua Museum Uang Purbalingga di Jawa Tengah, dan ketiga Museum Uang Sumatra di Kota Medan.

    Museum Uang Sumatra berada di lantai dua Gedung Juang ’45. Di dalam museum ini pengunjung akan dipandu oleh dua staf museum yang ramah, biasa dipanggil “Bang Dyo” (Dyo Adytia) dan “Bang Ichsan” (Ichsan Tarigan). Mereka akan menerangkan sejarah berdirinya museum maupun sejarah uang koin/logam dan uang kertas yang dikoleksi museum tersebut.

    Dengan melihat koleksi uang yang lengkap, kita tidak menduga bahwa ternyata museum ini milik pribadi (bukan milik pemerintah), yakni milik seorang pengusaha bernama Safaruddin Barus. Ia seorang kolektor mata uang dan benda-benda sejarah. Ia menyewa ruang di lantai dua Gedung Juang milik Pemerintah Provinsi Sumut sejak tahun 2017 (berdiri 2 Mei 2017).

    Sebagai kolektor mata uang, Safaruddin Barus mencari uang hingga ke pelosok Tanah Air dan ke sejumlah negara. Hasil temuan dan koleksinya dijual dan kalau di luar negeri dibeli dengan harga tinggi. Ia kemudian berpikir, bagaimana hobi dan bisnisnya ini tidak sekadar untuk kepentingan pribadi semata, tapi juga dapat menjadi ilmu bagi khayalak umum, terutama bagi generasi muda. Ia lalu menginisiasi pendirian museum.

    Pengunjung yang datang ke museum ini belum begitu banyak, bahkan orang Medan sendiri pun banyak yang belum tahu bahwa di kotanya ada museum uang. Yang berkunjung ke sini umumnya orang dari luar Sumut. Bang Ichsan menceritakan, pada bulan Ramadhan lalu museum ini dikunjungi oleh sejarawan dari Universitas Gadjah Mada yang berencana akan menulis buku tentang sejarah mata uang (numismatika) Indonesia. Referensi literatur dan koleksi uang di museum ini akan menjadi salah satu rujukannya.

    Bang Dyo dan Bang Ichsan senang dengan kedatangan saya. Menurut mereka, saya dosen pertama dari Aceh yang mengunjungi museum ini. Walaupun museum ini belum begitu dikenal, tapi mereka optimis, ke depannya besar kemungkinan museum ini akan menjadi salah satu ikon baru Kota Medan.

    Museum ini dibuka setiap hari sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Malam hari juga buka dari pukul 20.00-22.00 WIB. Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, tapi cukup dengan membayar Rp10.000 sebagai pengganti suvenir berupa koin kuno Kesultanan Palembang yang dihadiahkan kepada setiap pengunjung. Saya mendapat hadiah dua koin Kesultanan Palembang (1659-1825).

    Yang dikoleksi di museum ini adalah mesin cetak uang ORITA (Oeang Republik Indonesia Tapanoeli) dan sejumlah mata uang berbentuk koin dan kertas. Di sini juga tersedia sejumlah bahan bacaan. Mesin cetak uang ORITA digunakan di Sumut, khususnya di daerah Tapanuli pada masa Agresi Militer Belanda II (1948-1950).

    Uang koin dan kertas yang dikoleksi museum mulai dari uang kuno zaman kerajaan di Nusantara, uang koin kuno dari sejumlah negara atau kerajaan (Kerajaan Inggris, Belanda, Malaka, Sri Lanka, Tiongkok, Turki, Serawak, dan beberapa negara atau kerajaan lainnya), beberapa alat tukar Kesultanan Deli, uang koin dan kertas masa Hindia Belanda, masa perjuangan kemerdekaan hingga uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Republik Indenesia.

    Ada juga uang koin yang hanya dipergunakan sebatas di wilayah perkebunan saja. Uang koin ini disebut token yang dikeluarkan oleh pihak perkebunan Belanda.

    Di antara bentuk uang, ada satu yang unik, yaitu uang kertas yang terbuat dari kain goni yang dikeluarkan oleh Kerajaan Buton di Sulawesi. Biasanya uang kertas terbuat dari bahan kapas agar tidak mudah rusak apabila terlipat, teremas, atau terendam air.

    Saya mengamati secara khusus dan mencatat uang yang pernah beredar dan dikeluarkan oleh Aceh (Atjeh). Ada uang koin timah yang digunakan di Kerajaan Aceh mulai tahun 1524 hingga 1939. Koin jenis ini jarang ditemukan (langka) dan belum terdata sehingga perlu pengkajian lebih lanjut (termasuk tahun akhir penggunaannya).

    Pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636) koin ini yang digunakan, tapi ada jenis baru yang ditemukan dan juga perlu pengkajian lebih lanjut.

    Selain beredar koin timah, pada masa Sultan Aceh yang kedua, yaitu Sultan Salahuddin Syah (1530-1537) juga menggunakan koin berbahan emas dirham. Koin ini tercatat sebagai koin emas tertua yang digunakan Kerajaan Aceh.

    Koin berbahan emas juga digunakan pada masa Sultanah Safiatuddin Tajul Alam Syah (Sultanah Kerajaan Aceh yang pertama) yang memerintah Aceh selama 35 tahun (1641-1675). Koin ini juga digunakan pada masa kepemimpinan sultanah ketiga, Sultanah Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688).

    Kerajaan Aceh sempat mengeluarkan uang koin berbahan perak yang diadopsi dari orang Spanyol yang mengedarkan koin berbahan perak asal Spanyol di Aceh. Uang ini disebut dengan Ringgit Meriam atau Ringgit Spanyol.

    Selain itu, ada koin Turki Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) yang berbahan emas, perak, dan tembaga. Penggunaan uang ini menjadi bukti sejarah adanya hubungan diplomatik dan perdagangan antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani.

    Kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang paling banyak mengeluarkan uang koin berbahan emas. Saking banyaknya, apabila sekarang ditemukan dan dijual maka harganya terbilang murah. Uang koin emas Aceh termurah dibandingkan dengan uang koin emas dari kerajaan lain di Nusantara. Sampai sekarang, tidak hanya di sungai-sungai di Aceh, di Sungai Deli pun masih ada yang menemukan uang koin emas Kerajaan Aceh.

    Selain uang koin, Aceh juga pernah mengeluarkan uang kertas pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang beribu kota di Bukit Tinggi. Tercatat uang emisi Atjeh tertanggal 1 Januari 1948 dengan nominal 25 rupiah, Uang Daerah Bukit Tinggi Penerbitan Daerah Khusus. Uang ini berbahan kertas tipis atau kertas tisu. Pada 1949 Aceh mengeluarkan uang dengan emisi Koeta-Radja tertanggal 1 Maret 1949 dengan nominal 250 rupiah(tanpa nomor seri), dan terbilang cukup langka. Uang ini berlaku untuk Sumut yang ditandatangani oleh Gubernur Sumatera Utara, Mr SM Amin

    Sebelum Agresi Militer Belanda II, pada 15 September 1947 Aceh dengan emisi Koeta-Radja mengeluarkan uang kertas dengan nominal 50 Sen, 1 rupiah, dan 2 ½ (250) rupiah. Di samping itu ada juga Bon Contan Atjeh Timur dengan nominal Rp100 dan Rp250 yang dikeluarkan oleh Markas Pertahanan Atjeh Timur (Usman Adamy).

    Warga Aceh yang berkunjung ke Medan atau yang memang tinggal di Kota Medan, saya kira, perlu menyempatkan waktu untuk mengunjungi museum penting ini. Di sini ia pasti akan mendapatkan banyak ilmu. Di sini kita bisa belajar tentang sejarah mata uang, bentuk ragam mata uang yang digunakan, dan secara khusus belajar tentang oeang Atjeh sebagai alat tukar sekaligus alat kekuatan ekonomi yang digunakan oleh Kerajaan Aceh

     

    Tulisan ini pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com/22/06/2019/ dengan judul oeang atjeh di museum uang Sumatra

  • Orang Aceh ramah-ramah

     

     OLEH Natsuko Mizutani, mahasiswi dari Nagoya Jepang, pernah mengikuti kuliah di Universitas Almuslim

     NAMA saya Natsuko Mizutani, umur 23 tahun, berasal dari Nagoya, Jepang. Saat ini saya ikut beasiswa Darmasiswa Pemerintah Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Sebelumnya tahun 2016/2017 saya ikut pertukaran mahasiswa di Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Kabupaten Bireuen, selama dua semester.

    Saya tahu Aceh ketika ikut study tour dengan rombongan mahasiswa Jepang ke Umuslim tahun 2015. Sepulang dari sana saya suka Aceh, ingin belajar budaya Aceh dan bahasa Indonesia.

    Kekaguman saya terhadap Aceh akhirnya terwujud, karena adanya muhibah seni Umuslim mewakili Indonesia ke Jepang. Saat itu dilakukan perjanjian kerja sama (MoU) antara kampus tempat saya kuliah, Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Umuslim yang ditandatangani Rektor Umuslim, Dr Amiruddin Idris SE, MSi dan President Nagoya Gakuin University (NGU), Prof Hisao Kibune.

    Setelah adanya kerja sama tersebut, tahun 2016 saya ikut pertukaran mahasiswa di Umuslim. Kami dua orang belajar di Umuslim selama dua semester, kemudian saya pulang ke Jepang dan terkenang-kenang karena telanjur jatuh cinta pada Aceh. Saya ingin segera kembali ke Aceh lagi. Keinginan itu terwujud. Tahun 2018 kebetulan ada Program Beasiswa Darmasiswa dari Pemerintah Indonesia di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Lalu saya ikut tes dan lulus, sehingga pada September 2018 saya kembali lagi ke Aceh dan belajar di UIN Ar-Raniry selama sepuluh bulan dan bulan Juli ini berakhir.

    Jujur saja, sebelum tinggal di Aceh, saya sedikit takut terhadap Aceh dan Islam, karena di Jepang imej Islam sedikit tidak bagus. Saya khawatir tinggal di Aceh karena tidak banyak orang asing di sini. Tapi setelah tinggal di sini, saya terkejut karena sangat beda dengan yang saya dengar. Aceh malah sangat menyenangkan bagi saya. Orang Aceh baik dan ramah-ramah.

    Perbedaan yang paling saya rasakan antara Aceh dengan Nagoya adalah di Aceh tak ada kereta api sebagai moda transportasi umum. Selama di Aceh kalau ingin ke mana-mana saya naik ojek yang disebut ‘Abang RBT’ atau sesekali saya minta diantar teman atau ibu angkat.

    Saya juga sangat kagum pada kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di Jepang juga ada muslim dan masjid, tetapi tidak ada suara azan dan tidak banyak masjid besar. Di Jepang saya tidak biasa mendengar azan. Selama di Acehlah saya sering bangun cepat karena mendengar suara azan subuh, baik saat tinggal di rumah Ibu Chairul Bariah di Matangglumpang Dua maupun saat mondok di Asrama UIN Ar-Raniry saat ini.

    Di Jepang makanan kami biasanya tidak pedas. Tapi makanan Aceh rata-rata pedas. Sewaktu saya baru tiba di Aceh, saya tidak lancar berbahasa Indonesia, tetapi saya sudah bisa bilang “Ini pedas?” dan “Jangan pedas ya.” Kedua kalimat pendek ini sangat penting bagi saya selama tinggal di Aceh. Kalau saya membeli nasi, cuma kata itu yang saya hafal.

    Saya tertarik pda Islam dan saya berpuasa di sini. Pertama kali saya tidak mengerti kenapa orang muslim puasa sampai satu bulan? Puasa itu untuk apa? Saya heran kenapa teman-teman di Aceh sering bilang tidak sabar rasanya menunggu tibanya Ramadhan

    Waktu pertama kali ikut Ramadhan tahun 2017, saya tinggal di rumah Bu Chairul Bariah, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Umuslim Bireuen. Beliaulah yang menjadi “okaasan” atau ibu angkat saya selama di Aceh. Beliau banyak mengajari saya tata cara berpuasa. Awalnya sulit, tapi lama-lama saya sudah terbiasa dengan puasa.

    Saat puasa, momen yang paling saya tunggu-tunggu adalah waktu berbuka, karena pasti banyak hidangan yang disajikan di meja makan. Saya pun kadang bolak-balik ke meja makan. Tak sabar rasanya menuggu beduk berbunyi. Berbuka puasa bersama keluarga Bu Chairul rasanya menyenangkan sekali.

    Ramadhan 2017, perkuliahan di Umuslim libur, sehingga tak mejadi kendala bagi saya berpuasa karena tidak ke mana-mana. Tetapi Ramadhan kali ini (2019) saya kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dalam Ramadhan pun tetap kuliah, sehingga sulit bagi saya menjalani puasa. Terkadang ingin minum karena haus.

    Tahun 2019 udara di Aceh panas sekali, berbeda dengan tahun 2017, hal ini menjadi salah satu kendala saat saya berpuasa, karena saya tak dapat menahan haus dan konsentrasi belajar saya terganggu. Tapi kalau menahan lapar bagi saya tak masalah, cuma haus yang saya tidak tahan.

    Saya juga sering menghadiri undangan buka puasa bersama yang dibuat teman-teman kuliah, tapi kalau lagi sakit saya tak puasa. Juga tak sanggup menghadiri undangan berbuka puasa.

    Selama tinggal di Aceh, ada juga pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, ada cowok yang usil dan menganggu saya, tetapi lebih banyak yang menyenangkan dan membahagiakan, karena orang Aceh itu baik dan ramah-ramah. Apalagi saya sudah dua kali ikut Lebaran Idulfitri di rumah Ibu Chairul Bariah di Matangglumpang Dua.

    Pada malam Lebaran saya memasukkan kue ke dalam toples. Ibu angkat memperlakukan saya seperti anggota keluarga lainnya. Untuk saya dijahit kan baju seragam keluarga, saya ikut berziarah ke makam orang tua ibu dan ayah angkat saya. Kemudian, saya juga bersilaturahmi ke rumah tetangga, bahkan ikut open house pada hari kedua Lebaran ke rumah Rektor Umuslim, Bapak Amiruddin Idris. Kemudian saya bertamu ke tempat saudara ibu dan ayah dari ibu angkat saya. Hebatnya lagi saya juga dapat THR dari beliau. Kalau di negara saya, kami hanya dapat salam tempel pada saat tahun baru saja. Di sini saya sangat senang, semua tetangga yang saya kunjungi sangat baik dan ramah saat menyambut saya.

    Saya juga dibawa bertamu ke tempat keluarga Bu Chairul di Takengon sambil menikmati alam dan tempat wisata yang sangat menakjubkan. Alamnya sejuk dan indah sekali. Di Bireuen saya juga pernah pergi ke monumen perang antara Aceh dan tentara Jepang, yakni di Krueng Panjoe. Saya juga pergi ke gua Jepang di Kota Lhokseumawe. Saat berada di Banda Aceh, saya juga tamasya ke Lampuuk, Lhoknga, bahkan menyeberang ke Sabang.

    Saat pergi kuliah di Umuslim dan UIN Ar-Raniry, saya pernah ditegur seseorang sambil marah, “Kenapa tidak pakai jilbab?” Saat itu saya diam saja tak tahu mau jawab apa. Saya merasa sedih, tetapi saya tahu 99% orang Aceh baik. Setelah mereka tahu saya bukan Islam, malah mereka sangat baik, menerima saya dan mau mengajari saya tentang Islam dan budaya Aceh.

    Pada Juli nanti, saya harus kembali ke Jepang, tapi saya tidak pernah melupakan Aceh, karena telah menjadi kampung kedua saya. Suatu saat nanti saya pasti kembali lagi ke sini. Terima kasih untuk Rektor Umuslim Bapak Amiruddin Idris dan istrinya, orang tua angkat saya, Bu Chairul, dosen, karyawan, teman-teman baik di Umuslim maupun di UIN Ar-Raniry, juga orang tua teman saya yang telah memperlakukan saya seperti anak sendiri. Semuanya sangat baik. Kalau saya jalan di kampung banyak orang senyum dan memanggil nama saya, mulai orang tua sampai anak-anak. Mereka tampaknya sangat senang kalau berjumpa saya.

    Waktu tinggal di Matangglumpang pun saya pernah dikasih kado ulang tahun oleh anak-anak, yaitu Dek Zahwa Aqilla Riva, umurnya baru 12 tahun, juga Dek Aulia Azwir. Ini sungguh pengalaman yang tidak bisa saya lupakan.

    Saya sudah lama tidak berjumpa dengan orang tua kandung saya di Jepang, tetapi karena orang tua teman-teman saya di Aceh sangat baik, memperlakukan saya seperti anak sendiri, menampung saya menginap di rumahnya--baik di Matang maupun di Banda Aceh--saya serasa punya keluarga kandung di sini. Mereka juga mengajari saya bahasa Aceh, memasak masakan Aceh. Saya tak bisa makan pedas, tetapi suka masakan Aceh. Terima kasih semua masyarakat Aceh yang telah mengajari saya tentang budaya, bahasa, dan agama Islam.

    Aceh sangat indah. Selama saya di Aceh banyak tempat wisata sudah saya kunjungi, misalnya di Takengon, Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Lhokseumawe. Saya akan cerita dan promosikan Aceh kepada teman-teman di Jepang, apalagi bulan Juni ini datang satu rombongan mahasiswa Jepang ke Kampus Umuslim Bireuen.

    Terima kasih Aceh, masyarakatnya baik dan ramah-ramah. Selamat tinggal Aceh yang indah. Sayonara Aceh... sampai jumpa lagi

     

    Cerita ini pernah tayang di  https://Aceh.tribunnews.com/tanggal 26/06/2019/ dengan judul orang Aceh baik dan ramah-ramah

     

     

     

     

     

     

  • Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Lulusan DIII Akademi Kebidanan Universitas Almuslim

    Kamis (8/1) merupakan hari yang teramat bersejarah bagi mahasiswa Akbid Umuslim 125 mahasiswa Kebidanan mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah di Aula MA Jangka. Kepada para bidan baru Ibu Nurhidayati, M.Ph selaku Direktur Kebidanan Universitas Almuslim berpesan agar para bidan melaksanakan tugas dengan mengedepankan etika.
    Acara ini diikuti dengan begitu antusias oleh peserta pelantikan dan juga yang mewakili orang tua. Apalagi acara ini diisi dengan pesan dan kesan mahasiswa yang diwakili oleh salah seorang lulusan.
    Dalam kesempatan itu Dr.H.Amiruddin Idris, SE., M.Si mengungkapkan bahwa Umuslim fokus pada peningkatansumber daya dosen. “Empat dosen mengikuti program S2 di Universitas Brawijaya Malang, Dua dosen lagi kita kirim tahun depan” tambah Rektor Umuslim.
    Langkah ini ditempuh sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, sehingga ke depannya Umuslim akan lebih berkualitas apalagi pihak kampus terus mendorong agar para dosen aktif dalam bidang riset dan penelitian.
    Yang membanggakan bahwa seluruh lulusan bidan Umuslim sebelum mengikuti wisuda wajib mengikuti uji kompetensi sehingga memperoleh STR (Surat Registrasi). Karena ini merupakan syarat dalam membuka praktek, ketika mereka terjun ke masyarakat. (al)

  • Peneliti adakan FGD tentang pilkada dan politik uang

    Peusangan-Peneliti mengelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pilkada, Politik Uang, dan Korupsi: Solusi Alternatif Model Penyelesaian”, Kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bekerjasama dengan Fisipol Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, bertempat di Ruang Seminar Ampon Chiek, Universitas Almuslim, Rabu, 24 April 2019. 

    Focus Group Discussion (FGD) menghadirkan  narasumber  Shaumil Hadi, S.Sos., MA (Dosen Fisipol Umuslim), Dr. Effendi Hasan, MA (Dosen Fisipol Unsyiah) dan Dr. Mukhtaruddin, SH., MH (Kabag Risalah dan Hukum Sekretariat DPRK Bireuen yang juga mantan Ketua KIP Bireuen) serta Drs. Arif Andepa (Wakil Ketua DPRK Kab. Bireuen.

    Shaummil Hadi, S.Sos, M.A,  akademisi Fisip umuslim, dalam paprannya menekankan tentang pentingnya penguatan kelembagaan pemilu terutama pada peran panitia pengawas pemilu dalam mencegah terjadinya politik uang.  Kemudian Dr. Efendi Hasan ketua tim peneliti dari Fisip unsyiah, menyampaikan tujuan penyelenggaraan FGD ini adalah untuk mengkaji lebih jauh persoalan-persoalan terkait maraknya pengunaan politik uang dalam kontestasi pilkada di Provinsi Aceh dan apa upaya bersama yang dapat dilakukan dalam mencegah dan mengatasi perilaku politik uang ini. “Politik uang adalah sumber dari korupsi di pemerintahan,” katanya.  Kemudian pemateri Dr. Mukhtarudin,SH,MH mantan ketua KIP Bireuen  menambahkan bahwa perilaku politik uang di Indonesia, sudah sangat mengkhawatirkan dan dapat merusak demokrasi. “Sayangnya masyarakat sudah membuat ijtihad sendiri bahwa politik uang itu dapat dibenarkan,” paparnya

    Sedangkan Drs. Arif Andepa  Wakil Ketua DPRK Kabupaten Bireuen, memberikan apresiasi kegiatan FGD ini. Menurutnya, pemahaman masyarakat tentang bahaya politik uang itu masih sangat rendah, karenanya perlu ditingkatkan lagi. Menurutnya, masyarakat masih menganggap politik uang itu adalah hal biasa. Padahal dengan perilaku ini kita sedang membatasi calon-calon yang memiliki kompetensi untuk duduk di kursi dewan ataupun pimpinan daerah. “Saya khawatir nanti ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan bidang pemerintahan tetapi miskin akan kalah dengan orang-orang yang memiliki modal. Mereka yang punya modal, maju ke pentas politik dengan uang bukan dengan kemampuan,” papar pegiat seni ini.

    Tambah  Arief Andepa lagi maraknya money politics (politik uang) yang diduga dimainkan sejumlah oknum calon legislatif (caleg) di Kabupaten Bireuen untuk meraih suara pada Pemilu 2019 ini, telah merusak tatanan demokrasi kita. Ini juga akan berdampak buruk terhadap kinerja mereka nanti ketika duduk sebagai anggota dewan.

    Kegiatan berlangsung setengah hari, para peserta melakukan diskusi dan memberi masukan tentang model solusi seperti apa yang dapat dilakukan dalam mencegah dan mengatasi perilaku politik uang dalam pilkada ini. Diskusi berlangsung  menarik, peserta sangat antusias memberikan masukan terkait solusi pencegahan money polititik ke depan yang telah merusak sendi-sendi demokrasi, peserta berasal dari beragam kalangan, seperti organisasi kepemudaan, wartawan, perwakilan tim sukses, LSM Gasak Bireun, perwakilan LSM lainnya di Bireuen, pengamat, praktisi politik,  akademisi, perwakilan mahasiswa dan BEM dari Universitas Almuslim. 

    Dari FGD ini berkembang beberapa tawaran solusi mulai dari penguatan institusi agama melalui dakwah, pembentukan tim independen, hingga perlunya penguatan regulasi di tingkat lokal.

    Alhamdulilalh acara berlangsung sukses, ini merupakan rangkaian awal perintisan kerjasama antara Fisip Unsyiah dengan Fisip Umuslim, baik dalam bidang pendidikan dan penelitian, khususnya di bidang sosial dan politik, ungkap Rahmad,M.AP. (HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Penerima beasiswa Bidik Misi Umuslim , bagi Paket Sembako Untuk Fakir Miskin.

     

    Peusangan-Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Kabupaten Bireuen yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Bidikmisi (IKAMB) Umuslim membagikan seratusan sembako gratis untuk kaum dhuafa dan fakir miskin di seputaran Kabupaten Bireuen, Sabtu (18/05/2018).

    Ketua panitia, Fandy mengatakan "satu paket sembako tersebut bernilai seharga Rp80 ribu. Berasal dari donatur yang ingin bersedekah, baik dari mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan juga ada dari donatur lainnya. Masing-masing donatur memberikan sumbangan seikhlas mungkin".

    Salah seorang penerima   ibu Ani, nengucapkan syukur "Alhamdulillah, atas pembagian sembako gratis ini dan sangat bermanfaat bagi kami yang kurang mampu ini. Jika membeli,  tidak sanggup sebanyak ini,"ungkapnya terharu, sambil mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa.

    Menurut ketua IKAMB, Sarah Savana dirinya mengucapkan terima kasih atas kekompakan dan kebersamaan teman-teman penerima beasiswa bidik misi sehingga aksi sosial ini berjalan sukses, kalau selama ini kami menerima beasiswa, Alhamdulillah di bulan ramadhan ini kami sudah bisa sedikit berbagi dengan masyarakat kurang mampu lainnya, semoga kegiatan akan terus berlanjut, ini merupakan agenda  pertama yang dilaksanakan oleh IKAMB" ujar Sarah Savana(HUMAS)

     

  • Pengunjung berebut Berswafoto di stand kreativitas FKU

    Peusangan-Arena stand kreativitas mahasiswa pada  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU), yang digelar mahasiswa Universitas Almuslim selama satu minggu, bertempat  dihalaman  depan gedung aula MA Jangka Universitas Almuslim, mendapat perhatian dari berbagai kalangan baik mahasiswa, siswa dan masyakarat.

    Festival  yang dibuka  Pelaksana tugas gubernur Aceh Nova Iriansyah yang diwakili staff ahli Gubernur bidang Keistimewaan,SDM dan hubungan Kerjasama  Dr.Iskandar Ap,S.Sos,M.Si, selain memperlombakan berbagai kegiatan juga menampilkan stand pameran kreatifitas mahasiswa.

    Setiap stand menampilkan berbagai hasil karya,  peralatan laboratorium dan informasi fakultas yang  dikemas dengan apik dan unik ala mahasiswa, sehingga stand tersebut menjadi menarik dan jadi lokasi swafoto bagi pengunjung.

    Seperti stand Fakultas Teknik yang menjadi stand favorit, selain menampilkan berbagai alat laboratorium dan hasil karya mahasiswa  seperti maket, mereka juga  merancang sebuah tenda unik, yang berbentuk lancip menjulang keatas,yang diberi nama tenda animal, tenda ini menjadi favorit pengunjung baik dari siswa maupun mahasiswa  untuk berselvi ria.

      Ada juga di  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Alaska menampilkan berbagai barang yang berhubungan Heking, panjat tebing, alat penyelaman dan juga berbagai peralatan yang berhubungan  dengan alam.

    Kemudian ada stand Fakultas Pertanian menampilkan berbagai aneka tanaman  Hidroponik dan tumbuhan bonsai yang menarik,  di stand Fisipol juga ada ditampilkan informasi tentang  pakaian Kimono Jepang, kemudian ada stand Kebidanan dengan peralatan medisnya, Fakultas  Ekonomi menampilkan Cafe ala mahasiswa sebagai ciri khas Enterpreneurship,  Fikom dengan animasinya,  Akbid munawarah berbagai informasi tentang kebidanan, LDK formada dengan bentuk stand bermaniatur mesjid, Fkip juga memamerkan sejenis songkok (kopiah tradisionil Bogor, kreasi mahasiswa Bogor), KSR-PMI dengan aktivitas sosialnya melakukan donor darah dilokasi.

    Selain itu ada  juga  stand dari Permata Gayo dengan kreasi unik penuh dengan  kerawang gayo, UGP dan duta wisata Aceh Tengah dengan berbagai aneka kopi baik kopi bubuk maupun kopi cair, tidak ketinggalan juga ada stand asesoris, sehingga semua stand selain memanjakan mata pengunjung, sambil berputarnya otak kiri dan kanan memikirkan hasil kreativitas mereka, juga dimanjakan dengan hirupan juz dari SMK Pertanian yang penuh asupan serat bergizi.

     Aneka kreativitas dari masing-masing stand yang ditampilkan dengan  berbagai informasi hasil kreativitas,  ataupun informasi yang berhubungan dengan fakultas, jurusan maupun bidang unit kegiatan masing-masing, membuat para pengunjung stand jadi tertarik walaupun mereka tidak dilirik..

    Karena banyaknya keanekaragaman hasil kreativitas dan keunikan yang dimiliki setiap  stand,  banyak pengunjung setelah melihat berbagai barang hasil kreativitas yang menarik dan langka, mereka langsung ber akting melakukan swafoto (Selfi) dengan latar belakang  suasana stand yang penuh barang kreasi mahasiswa dan berbagai  seni hiasan stand yang menarik.

    Saat melakukan akting selfi mereka tidak menghiraukan dengan orang sekelilingnya, hal ini dilakukan demi mendapatkan moment foto yang menarik dan bisa memuaskan, sehingga  akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka sepanjang masa.(Humas)

     

     

     

  • Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak

     

     

    OLEH : HALUS SATRIAWAN, Dosen Tetap Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Memanfaatkan liburan semester tahun ini saya pulang ke kampung halaman di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepulangan tahun ini terasa begitu istimewa bagi saya, karena sejak menjadi dosen di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, dan menetap dalam komunitas masyarakat Aceh hampir lebih kurang sepuluh tahun, sudah sangat jarang saya bisa menyaksikan berbagai atraksi budaya suku Sasak atau suku lainnya di kampung saya, Lombok.

    Saat pulang kampung tahun ini saya bersama keluarga dapat menikmati kembali kekayaan budaya, salah satunya yang unik dan hampir punah adalah permainan tradisionil rakyat bernama peresean.

    Peresean merupakan warisan  budaya  yang masih dipertahankan suku Sasak Lombok. Budaya ini merupakakan  jenis kesenian/olahraga tradisional. Sistem permainannya bertarung dengan rotan. Permainan ini hampir punah, karena tingkat risikonya yang tinggi. Peralatan utama dalam permainan ini adalah penjalin (tongkat pemukul terbuat dari rotan sepanjang 1,5 meter),  seperempat bagian dari ujungnya dilumuri aspal dan beling. Tujuannya untuk memberikan efek luka yang sangat perih pada tubuh yang terkena pukulan. Maklum, ini olahraga ekstrem.

    Peralatan kedua adalah ende (perisai) yang terbuat dari kulit sapi/kerbau berbentuk persegi empat. Peserta peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pekembar. Para pepadu dalam permainan ini bertelanjang dada (tidak menggunakan baju apa pun), hanya mengenakan celana dibalut dengan penutup kain sarung songket khas Lombok. Kepalanya diikat dengan kain kecil bernama sapuk. Aturan mainnya, pepadu  hanya boleh memukul  bagian badan dari pinggang hingga kepala dengan penjalin, tidak boleh pukul pakai tangan atau khaki. Juga tak boleh memukul badan bagian pinggang ke bawah.

    Tandingnya sebanyak lima ronde. Setiap ronde waktunya 2-3 menit. Seperti ronde permainan tinju, penentuan tidak mutlak harus lima ronde. Ada kalanay jumlah ronde disesuaikan dengan kesepakatan (musyawarah) bersama antarpanitia dan pekembar (wasit).  Selama permainan berlangsung, pemain diawasi oleh wasit. Dalam permainan ada dua wasit. Satu wasit yang melerai (pekembar tengah) dan wasit yang mengawasi dari pinggir arena disebut pekembar sedi. Pekembar sedi juga bertugas mencatat poin atau nilai yang diperoleh masing-masing pepadu.

    Yang membuat permainan ini makin menarik ialah karena ada iringan musik khas, musik pengiring sebagai penyemangat bertarung. Alat musik yang digunakan berupa gendingan yang terdiri atas gong, sepasang kendang, rincik, simbal, suling, gamelan, dan kanjar. Semua alat musik itu dibunyikan sesuai alunan musik khas Lombok yang dapat menyemangati dan memicu adrenalin para pepadu untuk memenangkan pertarungan.

    Selama pertandingan, musik pengiring tidak boleh berhenti. Hal ini untuk menjaga konsentrasi dan adrenalin para pepadu. Itulah yang membuat permainan pertarungan tradisi budaya Lombok mempunyai makna dan terdapat nilai patriotisme yang begitu mendalam dan mengandung filosofis yang kuat di dalamnya. Selain itu, di dalam peresean ada etika pemain yang disebut wirage, wirase, dan wirame.  Wirase mengajarkan bagaimana seorang pepadu  tak boleh melecehkan lawan mainnya. Wirage  mengajarkan sportivitas, sedangkan wirase mengajarkan unsur seni, yaitu keindahan gerak peresean tersebut.

    Walaupun permainan ini  dikenal dengan tradisi pertarungan, tetapi setiap  selesai bertarung masing-masing pepadu wajib berangkulan dan saling memaafkan. Tak boleh ada dendam, seakan tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Hal ini menunjukkan persaudaraan, kekeluargaan, kerendahan hati, dan penuh kesabaran saling menghormati, itulah filosofi yang  sangat kental dicontohkan dalam permainan  ini.

    Permainan peresean  hampir sama dengan geudue-geudue (gulat) di Pidie, permainan ini khusus untuk laki-laki. Kalau geudue-geude dua lawan satu dan tidak memakai alat (tangan kosong), sedangkan peresean satu lawan satu dan  menggunakan alat rotan dan perisai dari kulit kerbau.

    Penonton yang menyaksikan permainan ini harus mempunyai adrenalin tinggi dan sport jantung yang kuat karena permainannya keras, saat permainan  berlangsung para pemain (pepadu) saling serang dengan menggunakan alat tarung tongkat rotan dan menangkis dengan menggunakan perisai yang terbuat dari kulit kerbau yang tebal, biasanya pepadu tangan kanan memegang tongkat rotan sedangkan tangan kiri memegang perisai.

    Pertarungan dalam permainan peresean  akan berhenti ketika salah satu pepadu terluka hingga berdarah. Jika salah satu dari pepadu belum ada yang terluka, keduanya dianggap sama kuat, pertandingan dilanjutkan hingga melewati beberapa ronde sesuai kesepakatan.

    Pemenang ditentukan berdasarkan hitungan bekas luka yang paling sedikit, di mana poin tertinggi akan diperoleh jika seorang pepadu berhasil memukul kepala lawannya. Apabila ada pepadu yang bocor kepalanya atau badannya agak parah lukanya, diobati pakai minyak obat tradisional dan permainan dihentikan, pepadu tersebut berarti sudah kalah knock out (KO). Menariknya, hadiah dari peresean ini  jika dihitung dari segi nilai ekonomi tidak seberapa, namun kebanggaan sebagai petarunglah yang menjadi nilai kepuasan bagi peserta.

    Peresean  dilaksanakan di lapangan terbuka 20x20 meter secara melingkar atau petak empat. Batasnya dikelilingi penonton seperti batas penjual obat keliling kaki lima, waktu pelaksanaan sering setelah shalat Asar, karena pertandingan diyakini berlangsung sengit, apalagi kalau pemainnya sudah profesional, pasti ada petarung yang bisa melukai tubuh lawan hingga mengeluarkan darah di tubuh ataupun di kepalanya. Jadi, biar tak terlalu banyak darah keluar karena di terik matahari, waktu permainan ini ditentukan setelah asar sampai menjelang magrib.

    Satu hal yang membuat tradisi peresean ini menjadi begitu seru dan menantang, para pepadu sama sekali tidak memiliki persiapan dan tidak mengetahui siapa lawan tarungnya. Saat  ada perlombaan sedang berlangsung, ada saja penonton yang ingin jadi  peserta dadakan dan itu dibolehkan.

    Menurut sejarah, peresean merupakan satu tradisi permainan diyakini masyarakat sebagai ritual meminta hujan saat tiba musim kemarau panjang,  ada juga mengatakan salah satu bentuk latihan pemuda untuk melatih ketangkasan dan keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda.

    Setelah masa penjajahan permainan ini terus dikembangkan menjadi satu tradisi di tengah masyarakat, dilakukan turun-temurun. Sekarang peresean telah menjadi salah satu  budaya suku Sasak. Dari sisi mistis, peresean  juga banyak dipercaya oleh masyarakat suku Sasak sebagai ajang adu ilmu kebal. Betapa tidak, dalam berbagai pertarungan, sering kali para pepadu saling menghantam kepala dan badan satu sama lain, tapi tidak setetes darah pun mengucur.

    Dulu permainan ini digelar saat musim kemarau panjang dan tradisi ritual acara kerajaan, tapi sekarang sudah menjadi tradisi dan dipentaskan pada Festival Budaya Pariwisata di Pulau Lombok dan dalam rangka perlombaan menyambut HUT kemerdekaan RI di lapangan terbuka.

    Permainan ini sering juga dilaksanakan di Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Kute Lombok Tengah yang menjadi andalan pemerintah setiap tahun. Permainan ini juga bisa kita jumpai di kawasan Lombok Timur (Sakra), Lombok Barat (Narmada dan Gerung), Lombok Utara (Tanjung), karena kawasan tersebut masyarakatnya masih sangat menjaga nilai tradisional dan memiliki padepokan khusus yang melatih para pepadu.

     

    Artikel ini telah tayang di https://aceh.tribunnews.compada tanggal /2019/08/13/  dengan judul Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak, 

     

  • Perguruan Tinggi di India Siap Bekerjasama dengan Perguruan Tinggi di Aceh

     

    TEUKUCUT MAHMUD AZIZ,S.Fi,M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari New Delhi, India 

     

    PERJALANAN saya ke India kali ini sebagai tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI (BPPK Kemlu RI). Dalam tim ini, saya Teuku Cut Mahmud Aziz dari FISIP Universitas Almuslim (Umuslim) bersama Dr Ichsan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara.

    Selama berada di negara Hemamalini ini, kami melakukan penelitian tentang “Pengembangan Kerja Sama Ekonomi dan Konektivitas antara Indonesia, India, dan Myanmar”, dengan fokus pada kerja sama ekonomi dan konektivitas antara Aceh, India Kepulauan Andaman-Nikobar, dan Yangon-Rakhine State.

    Selama di India, kami mendapat sambutan hangat dan sangat bersahabat dari Duta Besar RI, HE Sidharto R Suryodipuro, para atase, dan segenap jajarannya. Selama melakukan penelitian tersebut, kami menetap di Kedutaan Besar RI di New Delhi. Selama penelitian di New Delhi kami didampingi diplomat dari KBRI, Noviandri Wibowo.

    Dalam kunjungan tersebut tim peneliti disambut dengan penuh keramahan dan keakraban. Pertemuan yang dilakukan ini dalam rangka pengumpulan data lapangan sebelum tim peneliti menuju ke Kepulauan Andaman dan Nicobar. Banyak hal yang dibahas mulai dari prospek kerja sama, berbagai peluang dan tantangan, komoditas unggulan masing-masing wilayah atau daerah, dan potensi pengembangan di sektor pariwisata dan kerja sama pendidikan.

    Secara geografis letak Kepulauan Andaman dan Nicobar lebih dekat ke Aceh daripada ke daratan Negara India. Jika ada penerbangan dari Banda Aceh ke Port Blair, ibu kota Kepulauan Andaman dan Nicobar maka diperkirakan waktu tempuh sekitar satu jam tiga puluh menit. Begitu dekat, yang mana selama ini kalau kita ingin ke sana harus terlebih dahulu melalui Chennai, Kalkutta, atau New Delhi. Kita harus mutar dulu dan berjam-jam waktu tempuhnya, yaitu sekitar 8 sampai 10 jam.

    Sektor pariwisata menjadi sektor unggulan dan berpotensi untuk dikoneksikan antara Sabang dan Port Blair. Kapal yacth yang selama ini singgah di Sabang dari Singapura-Langkawi-Phuket, sebelum menuju Maldive dapat terlebih dahulu transit di Port Blair atau Havelock. Demikian pula dengan kapal cruise, yang singgah di Sabang dapat melanjutkan perjalanan ke Port Blair atau Havelock. Havelock merupakan pulau pariwisata yang terkenal di Andaman yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah India untuk menyamai dengan Maldive. Setiap harinya diperkirakan 3.000 an turis berkunjung ke pulau tersebut.

    Keseriusan Pemerintah India membangun Kepulauan Andaman dan Nicobar dibuktikan dengan mulai memperhatikan pembangunan infrasruktur di Port Blair dan sejumlah pulau lainnya. Bandara udara Port Blair sedang diperluas dan diperkirakan tahun 2020 akan selesai dan dapat didarati dengan banyak pesawat komersial dari luar negeri.

    Selain membahas peluang kerja sama di bidang perdagangan dan periwisata, kami juga mendiskusikan peluang kerja sama di bidang pendidikan tinggi. Kami berdiskusi dengan Prof Chintamani Mahaprata, Wakil Rektor Jawaharlal Nehru University (JNU) yang terkenal sebagai pakar Indo-Pacific di ruang kerjanya. Setelah bertemu wakil rektor, kami lanjutkan pertemuan dengan Rektor (Vice Chancellor) JNU, Prof M Jagadesh Kumar di ruang kerja rektor. Kami didampingi Dr Gautam Kumar Jha dan Prof Arun Sidram Kharat, seorang pakar biologi.

    Baik rektor maupun wakil rektor berpenampilan sederhana, lembut dalam bertutur kata, dan rendah hati. Saat ini Prof M Jagadesh Kumar, salah seorang tokoh yang terkenal di India.

     

    Prof M Jagadesh Kumar merupakan pakar teknologi nano, ilmu yang berkaitan dengan atom. Rektor sangat senang mendengar maksud kedatangan kami dan berpeluang dijajaki kerja sama antara perguruan tinggi di Aceh dengan perguruan tinggi di India. Kami mengatakan pendidikan tinggi di India tidak begitu populer di Indonesia, jika mengamati dari kecenderungan lulusan SMA atau lulusan perguruan tinggi yang ingin studi S2 dan S3 yang cenderung memilih perguruan tinggi di Benua Amerika, Eropa, Australia, atau yang terdekat di Malaysia. Sedangkan pendidikan tinggi di India diakui kualifikasinya di tingkat internasional. Kami mengatakan, “Kita dekat secara geografis, tapi mengapa terasa jauh ya?” Mendengar pertanyaan ini, rektor tersenyum dan katanya sudah saatnya kita membangun kerja sama. Kerja sama di bidang pendidikan dan riset dapat dimulai antara universitas atau perguruan tinggi di India dengan universitas di Aceh atau di Indonesia secara umum. “Kami siap membantu,” ujar rektor.

    “Kami memiliki kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang profesional dan memadai, terutama di bidang kedokteran, teknologi informasi, farmasi, dan mikrobiologi. Kami memiliki banyak ahli. Di bidang kedokteran contohnya, kedokteran di India diakui kualitasnya di dunia, begitu juga dengan ahli-ahli di bidang IT, apalagi posisi kita secara geografis berdekatan,” ujarnya. Beliau menekankan, “Mari kita bekerja sama!”

    Prof Jagadesh Kumar bercerita, ada perguruan tinggi di Afrika yang melakukan MoU dengan JNU untuk kerja sama pendidikan dan saat ini tahap implementasi. Kami memberikan kuliah melalui e-learning, proses belajar-mengajar dilakukan antara dosen JNU dengan para mahasiswa di universitas di Afrika dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Kami juga dapat melakukan hal yang sama dengan universitas di Aceh,” cetusnya.

    Bagi penguatan data, kami melanjutkan perjalanan riset dalam tim Market Intelligence ke Chennai, Kepulauan Andaman dan Nicobar, dan Mumbai, selaku Utusan Kementerian Luar Negeri RI dengan menambah satu anggota lagi, yaitu Dr Muzailin Affan, akademisi dan Kepala Kantor Urusan Internasional Universitas Syiah Kuala. Jadi, semakin lengkap, ada perpaduan akademisi dan peneliti dari Universitas Almuslim, Unimal, dan Unsyiah.

    Dr Muzailin Affan diundang oleh sahabatnya, Arnab Das, Executive Officer of International Relations Office of Indian Institut of Technologi (IIT) Bombay, India untuk mengunjungi kampusnya sekaligus penjajakan kerja sama. Beliau mengajak saya bersama-sama mengunjungi IIT Bombay. Kebetulan Dr Ichsan lebih duluan kembali ke Aceh dalam urusan akreditasi pascasarjana. Ajakan tersebut segera saya setujui karena ini akan menjadi pengalaman dan penguatan kerja sama kolaboratif antara Unsyiah, Umuslim, dan Unimal dalam membangun kerja sama dengan kampus di India.

    Sebelum ke IIT Bombay, kami menyempatkan waktu mengunjungi rumah Shahrukh Khan dan Salman Khan. Sesampai di IIT Bombay, kami baru tahu setelah mendapat penjelasan dari Arnab Das di ruang kerjanya di Kantor Urusan Internasional bahwa IIT Bombay merupakan kampusterbaik nomor satu di India. Konsepnya seperti Massachusetts Institute of Technology di Amerika. Yang dipelajari di sana tidak hanya ilmu teknik atau IT, tapi juga sosial-humaniora. Lulusannya banyak diterima kerja di luar negeri. Kami benar-benar terkesima, dan saya sangat berterima kasih kepada Dr Muzailin Affan. Kami diajak berkeliling kampus, di mana semua kegiatan tersentral di dalam kampus. Suasananya hijau, bersih, dan tertata rapi. Kami juga mengunjungi asrama mahasiswa dan melihat aktivitas di dalamnya. Mahasiswanya banyak yang memakai sepeda. Dari wajahnya terlihat orang-orang yang cerdas.

    Apa yang disampaikan Rektor JNU dan juga Arnab Das tidaklah berlebihan. Jika kita amati, banyak CEO perusahaan kelas dunia berasal dari India. Deretan nama-nama terkenal, seperti Sundar Pichai (CEO Google), Indra Krishnamurthy Nooyi (CEO PepsiCo), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe Systems), Francisco D’Souza (CEO Cognizant), Anshuman Jain (CEO-bersama Deutsche Bank), Dinesh Paliwal (CEO Harman), Ajay Banga (CEO MasterCard), dan Sanjay Kumar Jha (CEO GlobalFoundries), semuanya asal India. Banyak pakar IT di banyak perusahaan di dunia adalah orang India yang pendidikan S1-nya ditempuh di perguruan tinggi di India. Bukan di kampus terbaik di Amerika atau Eropa.

    Sudah saatnya kita di Aceh membangun kerja sama yang erat dengan perguruan tinggi di India. Kualitas pendidikan di India selain diakui dunia, didukung juga dengan letak geografis yang lebih dekat dan biaya pendidikan yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya kuliah di perguruan tinggi di Indonesia, apalagi di Amerika, Eropa, atau Australia. Sebagai perbandingannya, jika Pemerintah Aceh memberikan beasiswa kepada mahasiswa asal Aceh untuk studi S2 atau S3 ke perguruan tinggi di Amerika, Eropa, atau Australia hanya dapat mengirim satu mahasiswa, tapi kalau ke India dapat mengirim tiga hingga empat mahasiswa. Biaya hidupnya hampir sama dengan standar hidup di Aceh. Pemerintah Aceh dan perguruan tinggi di Aceh perlu melakukan inisiasi ini bagi peningkatan kualitas SDM di Aceh.

     

    Cerita ini pernah tayang pada Citizen reporter di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 29/12/2018/ dengan judul : Menggalang-kerja-sama-aceh-india

     

  • Peumulia Jamee ala Jepang

     

     

     

    OLEH AL FURQAN ISMAIL, Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Nagoya Gakuin University, melaporkan dari Nagoya, Jepang

    Saya salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang cukup beruntung karena dapat mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang, Program ini merupakan hasil kerja sama (MoU) antara Universitas Almuslim (Umuslim) dan Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang.

    Selama ikut kuliah di sini banyak pengalaman yang luar biasa karena bisa belajar dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia. Soalnya, Kampus Nagoya Gakuin University telah berkerja sama dengan kampus dari berbagai negara, seperti Amerika, Kanada, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Cina, Taiwan, dan lain-lain. Secara tidak langsung saya tak hanya belajar budaya Jepang, bagaiamana cara hidup di Jepang dan bersosialisasi dengan orang-orang Jepang, akan tetapi juga bersosialisasi dengan mahasiwa asing dari berbagai negara di dunia.

    Untuk angkatan ini Umuslim mengirim dua mahasiswa, saya dan Bilal Faranov, dari Prodi Hubungan International (HI) Universitas Almuslim,. Kami belajar di Nagoya Gakuin University Jepang selama setahun dan Umuslim sudah mengirim tiga angkatan kuliah di NGU Jepang.

    Selama di Jepang kami sempat mengamati kemajuan Jepang dari berbagai sektor. Yang sangat saya kagumi adalah kedisiplinan mereka yang sangat luar biasa dalam menghargai waktu. Hal ini masih sulit untuk bisa saya samai. Juga etos kerja orang Jepang sangat profesional,. Mungkin tidak ada kata ‘baper-baperan’ dalam mereka bekerja, hal yang justru masih sering terjadi di negara kita sehingga hilangnya profesionalisme dan menjadi tidak efektif dalam berkerja. Orang Jepang juga sangat loyal terhadap perusahaan tempatnya berkerja.

    Salah satu pengalaman yang sangat menarik adalah ketika saya dan Bilal berkunjung ke salah satu rumah sahabat kami di Jepang, namanya Shunichi. Dia mahasiswa NGU yang pernah kuliah di Universitas Almuslim tahun lalu, sebagai perwakilan pertukaran mahasiswa NGU ke Universitas Almuslim selama satu semester.

    Dia mengajak kami berkunjung ke rumahnya dan menginap dua malam. Saya sangat senang bisa melihat dan merasakan langsung cara mereka menyambut tamu (peumulia jame) ala Jepang. Sebenarnya orang Jepang jarang mengajak orang asing ke rumahnya, apalagi sampai menginap, kecuali sudah sangat dekat.

    Awalnya, saya mengira akan sangat kaku jadinya ketika bertemu dengan keluarganya, karena keterbatasan bahasa Jepang kami yang masih belum terlalu lancar. Akan tetapi perasaan waswas kami sontak berubah ketika saya bertemu dengan keluarganya yang ternyata begitu ramah.

    Pada hari pertama kami tak sempat makan malam dan berkumpul bersama tuan rumah, karena kami tiba di rumah tersebut sudah malam sepulang kami dari part time job sekitar pukul 12 malam.

    Pertemuan dengan tuan rumah terjadi esok harinya, yaitu kami bertemu oba chan (nenek) yang sudah mepersiapkan sarapan pagi untuk kami. Dengan ibu Shunichi kami tak sempat bertemu karena ia sudah berangkat kerja pada waktu subuh sebagai perawat.

    Sang nenek sangat antusias ketika kami memperkenalkan diri dan dia pun memperkenalkan dirinya dengan sangat lucu walaupun tidak semua kata-kata yang beliau ucapkan kami mengerti. Senyumannya yang khas menyapa dengan sopan tapi tetap dengan humor yang membuat suasana mencair dan tidak kaku.

    Pas pagi itu setelah kami bangun, sarapan sudah terhidang di atas meja cukup banyak. Ibunya Shunichi ternyata sudah mempersiapkan semua makanan sebelum berangkat kerja dan meminta nenek untuk melayani kami. Sang neneklah yang menjelaskan setiap makanan khas Jepang yang dihidangkan untuk kami. Semua dimasak sendiri dan keluarga Shunichi tentunya sudah tahu bahwa kami muslim. Otomatis tak boleh makan babi dan minum osake (arak Jepang). Soalnya, merupakan kebiasaan orang Jepang menyediakan osake untuk minuman khas melayani tamu.

    Karena Shunichi sudah menjelaskan bahwa kami muslim maka semua makanan yang dihidangkan hanya ikan, sayuran-sayuran, dan ada ayam halal yang dibeli di toko halal food. Sedangkan minumannya hanya berupa jus dan cola.

    Sambil bercanda dan tawa lucu nenek dengan kata-kata yang kurang kami pahami, seakan cukup mengerti tentang suasana jiwa muda kami, dia mengakrabkan diri berbicara dengan bahasa Jepang dalam suasana seperti anak milenial. Nenek berbicara sambil melucu agar kami senang dan gembira. Saya dan Bilal hanya mengucapkan “haik, haik” saja sambil menganggukkan kepala seolah mengerti. Nenek juga tak sungkan berfoto bersama kami bahkan selfi seolah masih muda.

    Saking antusiasnya nenek mengajak kami keliling rumah untuk melihat seluruh lukisannya di masa muda yang dipajang pada beberapa sisi dinding rumah. Lalu dengan gaya melucu dia jelaskan semua hasil karyanya tersebut. Nenek ini ternyata memiliki bakat melukis sejak kecil. Dia seniman, banyak karyanya yang dipamerkan di Museum Nagoya, tetapi sekarang sudah tak lagi melukis.

    Selain itu, ibunya Shunichi juga memberikan uang kepada anaknya untuk mentraktir kami dan mengajak kami jalan-jalan ke Kota Okazaki dan ke beberapa tempat wisata pantai lainnya. Meski belum kenal, ibunya seakan ingin memberikan yang terbaik bagi kami sebagai tamunya.

    Selama bertamu di rumahnya, ibu Shunichi menginginkan kami tak boleh mengeluarkan uang sepeser pun. Beliau benar-benar menganggap kami tamu spesial. Ini sungguh keluarga yang sangat perhatian dalam melayani tamunya dengan baik dan menyenangkan. Dua hari kami di rumah Shunichi seolah seluruh kebutuhan kami menjadi tanggung jawab mereka.

    Kami juga dibawa berwisata ke Okazaki, kota yang sangat terkenal dengan keindahan sakuranya. Kebetulan hari itu bertepatan dengan perayaan hanami sakura pada musim semi. Pagi itu kami kami mengunjugi Okazaki Castel yang cukup terkenal dengan tamannya yang sangat luas dan dipenuhi bunga sakura yang baru mekar.

    Saat menikmati perayaan hanami sakura tersebut kami diberikan kebebasan untuk menikmati jajanan khas Jepang yang dijual di taman tersebut. Kami bebas mau makan apa pun karena kami telah ditraktir sahabat tersebut atas perintah ibunya sebelum berangkat kerja.

    Di taman tersebut banyak sekali orang berkumpul bersama keluarganya merayakan hanami sambil menggelar tikar di bawah pohon-pohon sakura yang sedang mekar. Mereka duduk makan bercabda ria bersama keluarga mereka sambil menikmati keindahan bunga sakura. Anak-anak kecil berlari ke sana kemari dengan cerianya. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi saya yang belum pernah meilhat sakura bermekaran dan untuk pertama kalinya melihat perayaan hanami di Jepang yang mirip meuramin kalau di Aceh.

    Setelah seharian kami berkeliling Kota Okazaki, malam hari kami kembali ke rumah sekitar pukul 8 malam. Sesampai di rumah orang tua Shunichi, lagi-lagi telah disiapkan semuanya untuk menyambut makan malam kami. Walaupun sebetulnya kami masih sangat kenyang karena seharian jalan dan jajan, tetapi tuan rumah masih tetap menyediakan makan malam yang wah buat kami.

    Kali ini ketika kami tiba di rumah, ibu, ayah, dan nenek Shunichi sudah berada di rumah lebih dulu, kecuali adik perempuannya yang masih ikut latihan sepak bola dan belum pulang. Kami disambut di meja makan yang sudah penuh dengan hidangan khas Jepang, sepeti sushi, sashimi, nato, dan sebagainya. Ibu dan ayahnya sangat antusias dan bertanya banyak tentang Indonesia. Mereka juga berencana akan ke Indonesia, khususnya Aceh, suatu saat nanti sekeluarga.

    Malam itu ibu dan neneknya juga sempat mengajak kami pergi ke bilik karaoke keluarga, karena neneknya suka menyanyi. Tapi saking asiknya kami mengobrol di rumahnya sehingga tanpa terasa waktu sudah larut malam, sehingga rencana ke karaoke tidak jadi. Lagian kami sudah cukup lelah karena jalan seharian. Akhirnya nenek mencoba menghibur kami dengan bernyanyi di rumah saja dengan nyanyian lagu nostalgia Jepang. Dia juga mengajak dan mengajar kami bernyanyi sambil melihat teks yang ada. Kami pun menyanyikan bersama lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo. Setelah selesai bernyanyi, nenek meminta kami menyanyikan lagu Indonesia dan kami pun memilih lagu Indonesia Raya. Begitulah malam tersebut mengalir tanpa ada kecanggungan sama sekali antara kami dan keluarga Shunichi.

    Sebelum kami ke kamar tidur untuk istirahat, ibunya bertanya tentang cita-cita kami dan setiap kami diberikan selembar kertas dan spidol kami disuruh untuk menulis nama kami dan menulis cita-cita kami. Saya dan Bilal serta Shunichi menuliskan apa cita-cita kami. Setelah selesai, ibunya meminta kami menandatangani kertas yang sudah bertuliskan cita-cita dan setiap harapan kami di masa depan. Kemudian, ibunya mengambil sampul plastik dan menyampul setiap lembaran kertas kami dengan sampul tersebut. Sungguh saya tak mengerti apa maksudnya.

    Ternyata setelah itu dia tempelkan lembaran-lembaran kertas tadi di dinding rumah yang berada di ruang keluarga sembari mengatakan semoga cita-cita dan harapan kalian tercapai. Tapi nanti ketika kalian sudah berhasil jangan lupa untuk berkunjung lagi ke rumah ini karena kalian sudah seperti bagian dari keluarga ini. Saya pun terharu ketika beliau berkata seperti itu.

    Besoknya kami pulang ke asrama kampus. Lagi-lagi sudah disiapkan sarapan di meja makan. Ada roti bakar, salad, dan buah-buahan. Kami tak boleh pulang sebelum menghabiskan seluruh makan yang dihidangkan. Begitu ditegaskan nenek Shunichi. Karena terlalu banyak, makanan tersebut tak habis, lalu ibu Shunichi memotong beberapa buah yang tak sempat kami habiskan dan membungkusnya untuk bekal kami di perjalanan. Setelah itu kami di antar ke depan rumah dan ketika kami hendak berangkat naik mobil, ibu dan nenek membuka jendela lalu melambaikan tangan kepada kami yang sudah berada di dalam mobil sebagai tanda perpisahan.

    Sungguh pengalaman menarik dan sangat membahagiakan. Begitulah cara keluarga Jepang memuliakan kami sebagai tamunya. Dalam beberapa hal, mirip seperti cara orang Aceh memuliakan tamu yang datang ke rumah mereka

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 27/04/2019/04/ dengan Judul Peumulia Jamee ala Jepang

     

  • Peusangan-Umuslim tuan rumah pertemuan mahasiswa Teknik Sipil Se-Aceh

    Peusangan-Sebanyak 250 mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dari sebelas Universitas yang mengelola Teknik Sipil seluruh Aceh, bertemu dalam satu acara temu keluarga di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen.

    Kehadiran mereka dalam rangka pertemuan tahunan Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (TK-FKMTSI) Wilayah Aceh. Ketua panitia Jerry Mai Saputra, dalam laporannya menyampaikan, kegiatan temu keluarga mahasiswa Teknik Sipil seluruh Aceh Universitas Almuslim ditunjuk sebagai tuan rumah, pembukaannya berlangsung di Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim, Jumat (13/9/2019).

    Agenda kegiatan Forum berlangsung selama tiga hari tiga, 13-15 September 2019, yaitu mengadakan diskusi membahas perkembangan teknik sipil dewasa ini, bakti sosial dan silaturahmi, lokasi kegiatan di kampus Umuslim dan bakti sosial di salah satu desa Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen.

    Acara dibuka Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan Umuslim Ir Saiful Hurry, MSi, yang  menyambut baik ditunjuknya Umuslim sebagai tuan rumah kegiatan ini. Peserta diamanahkan untuk menjaga nama baik. Jangan tinggalkan hal yang negatif di lokasi pengabdian, terutama pergaulan, jaga nama almamater dan forum mahasiswa Teknik Sipil.“Kita sangat berharap semoga acara temu keluarga besar mahasiswa teknik sipil bisa memberi manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat,” jelas Saiful Hurri.

    Kepada peserta, dia berharap agar dapat bekerja sama dan saling mendukung setiap kegiatan demi kemajuan Forum komunikasi mahasiswa teknik sipil, setiap program yang dibuat harus bermanfaat untuk masyarakat.

    Koordinator Forum Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia Wilayah Aceh (TK FKMTSI ) Wilayah Aceh Ke VII, M. Razes Khan, dalam sambutannya mengatakan, forum ini merupakan ajang silaturahmi sebagai wadah komunikasi mahasiswa sipil se-Indonesia.

    “Temu keluarga Forum Komunikasi mahasiswa Teknik Sipil Indonesia TK FKMTSI Wilayah Aceh yang dilaksanakan di Bireuen dan Umuslim tuan rumah merupakan yang ketujuh,” sebutnya.

    Acara pembukaan dihadiri Wakil Rektor II Dra. Zahara, MPd, Wakil Dekan Fakultas Teknik Sipil, Pema dan Ormawa dalam lingkup Umuslim.

    Turut menyampaikan sambutan HMJ dan BEM Teknik Sipil Umuslim dan dimeriahkan penampilan beberapa tarian daerah dari sanggar mahasiswa Teknik Sipil Umuslim(HUMAS)

     

  • PLN launching program Pelanggan Premium di Umuslim

     

     

    Peusangan-Badan Usaha milik negara (BUMN) PLN UP Lhoksemawe melakukan launching program pelanggan premium tegangan rendah, bertempat di Auditorium Academic Center (AAC) Umuslim, Selasa (18/12/2018).

    Launching pelanggan premium tengangan rendah adalah salah satu program yang dihadirkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk layanan pelanggan dalam pasokan arus listrik.

    Manager Up3 PLN Lhoksemawe Arief Purnomo menyampaikan bahwa Launching program di Umuslim merupakan perdana di Aceh dan Universitas Almuslim merupakan salah satu pelanggan yang jadi prioritas. Program ini dikembangkan seiring dengan tuntutan pelanggan akan kebutuhan listrik, program ini merupakan jaminan pasokan arus listrik bagi pelanggan, apalagi listrik merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan perekonomian, ujar Arief Purnomo.

    Rektor Universitas Universitas Almuslim (umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris, SE., MSi saat memberikan sambutan  menyambut baik program PLN tersebut. Karena menurutnya megelola sebuah lembaga pendidikan tidak boleh main-main, harus serius dan  siap mencurahkan waktu, pikiran dengan penuh kesabaran.

     "Jangan main main mengelola Pendidikan, fasilitasnya harus terukur", ungkap H.Amiruddin Idris dengan mimik serius.

    Program ini sangat baik, karena listrik bagi Universitas merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting untuk mendukung dan memperlancar proses belajar mengajar, ujar Rektor Umuslim yang baru saja menerima penghargaan sebagai universitas swasta terbaik Aceh dari Kementerian Riset Dikti yang diserahkan LLDikti Aceh.

    Maka menurutnya saat pertama disosialisasikan program ini, pihaknya mendukung penuh karena sangat bermanfaat dan membantu dalam  pengembangan pendidikan,ujar H.Amiruddin Idris.

    Turut menyampaikan sambutan Wakil Bupati Bireuen Dr.H.Muzakkar A.Gani, SH., MSi, pihaknya mengucapkan terimakasih pada PLN atas dipilihnya kampus Universitas Almuslim sebagai peserta program Layanan Premium tengangan rendah perdana di Aceh.

    Harapan kami semoga program layanan ini bermanfaat bagi civitas akademika dan masyarakat secara umum, harap H.Muzakkar A.Gani.

    Selain Universitas Almuslim, program ini juga akan diikuti oleh Yayasan Azzahrah, Yayasan Ummul Ayman, Rumah sakit Jeumpa hospital dan Pesantren Terpadu Almuslim.

    Turut hadir pada Launching tersebut seluruh manager dibawah naungan PLN lhoksemawe, Manager  ULP PLN di kabupaten Bireuen , civitas akademika dan undangan lainnya.(HUMAS)

     

     

     Foto : Ridwan

    Keterangan Foto : Manager PLN UP Lhoksemawe Arief Purnomo menyerahkan cendera mata kepada Rektor Umuslim Dr.H.Amirudiin Idris,SE.,MSi disaksikan Ketua Yayasan Almuslim dan Wabvub Bireuen Dr.H.Muzakkar A.Gani,MSi

     

     

     

     

  • Prodi Geografi kenalkan alat Geografi ke siswa SMA

    Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Almuslim (Umuslim) melakukan pengenalan dan pelatihan penggunaan alat laboratorium Geografi  praktikum tanah pada siswa SMA, kegiatan yang dikemas dalam program pengabdian  masyarakat dilakukan pada beberapa SMA, Kamis (7/11/2019) dilakukan di SMA N 3 Bireuen, 

    Menurut Ketua Program Studi Pendidikan Geografi Fkip Umuslim Aisyah A. Rahman, M.Pd, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait materi pedosfer  menggunakan alat laboratorium geografi, praktek  ini  termasuk dalam pendekatan pembelajaran di diluar kelas (outdoor study) agar siswa mampu mengaplikasi teori yang diajarkan gurunya di ruang kelas serta mampu memperoleh pengalaman langsung di lapangan dan  memberikan dampak positif bagi siswa.

    Kegiatan pengabdian ini merupakan rutinitas yang dilakukan  pihaknya dan  merupakan program kerja tahunan, selain siswa  juga melatih guru-guru tentang berbagai peralatan geografi dan software arcgis 10.2 secara gratis, hal ini sebagai  wujud tanggung jawab kampus untuk memberi kontribusi kepada masyarakat, jelas Aisyah A.Rahman.

    Prodi Geografi umuslim terus melakukan berbagai hal untuk membantu siswa dan guru tentang berbagai hal bidang geografi, apalagi program studi pendidikan Geografi telah memiliki beberapa  dosen bergelar Doktor yang linier keilmuannya di bidang Geografi, jelas Aisyah A.Rahman 

    Kegiatan pengabdian di sekolah  mendapat sambutan antusias dari siswa, dalam prakteknya  tim dipandu dosen program studi pendidikan geografi umuslim  Sumanti, M.Pd,  Iskandar, M.Pd, Dr.Rahmi Novalita, M.Pd, Cucut Satria Barona, MPd dan turut didampingi  alumni dan  mahasiswa.(HUMAS)

  • Prodi Peternakan gelar Seminar Nasional

    Peusangan-Prodi peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan akan melaksanakan Seminar Nasional bidang Peternakan yang direncanakan akan berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC)  Ampoen Chiek Peusangan Universitas Almuslim pada tanggal 8 April 2019 mendatang.

    Ketua Prodi Peternakan Umuslim   Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM  menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respon sektor peternakan dalam menghadapai Era Revolusi Industri 4.0, dimana era ini perkembangan  teknologi peternakan yang semakin hari semakin canggih khususnya  dari segi artificial intelligence, digital economy, big data, robotic, dan lainnya yang dikenal dengan disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, sistem pendidikan di sektor peternakan dituntut untuk dapat menghasilkan pelaku-pelaku peternakan dan generasi yang berkualitas dimasa depan.

    Adapun pemateri seminar adalah Prof. Dr. Sc.Agr.Ir. Suyadi, MS, IPU, Bidang Keahlian Biotek Reproduksi dan Genetika Molekuler, Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA, IPU,Bidang Keahlian Teknologi Pakan dan Nutrisi Ruminansia, Universitas Gadjah Mada,Prof. Dr. Ir. Jahmes Hellyward, MS, IPU Bidang Keahlian Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Andalas Padang Prof. Dr. Ir. Samadi,  M.Sc Bidang Keahlian Ilmu Nutrisi Ternak, Universitas Syiah Kuala dan drh.Rahmandi, M.Si Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Aceh, rinci Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM didampinggi Dekan Fakultas Pertanian T.M.Nur,MSi . 

    Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi menyambut baik kegiatan berskala nasional, harapannya  dengan seminar  ini  dapat menambah perbendaharaan kegiatan dalam menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus Umuslim.

    Semoga dengan seminar ini akan melahirkan berbagai solusi dan terobosan  untuk menjawab berbagai hal terkait perkembangan bidang Peternakan dewasa ini, sehingga para pemangku kepentingan  dapat mengambil berbagai manfaat dan mampu beradaptasi terhadap kebutuhan peternakan berkelanjutan di Era Revolusi Industri 4.0, ungkap H.Amiruddin Idris.

    Seminar yang mengambil tema “Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Peternakan Berkelanjutan Berbasis Sumberdaya Lokal di Era Revolusi Industri 4.0” menghadirkan sejumlah pakar sebagai pemateri direncanakan akan dihadiri sebanyak 700 orang peserta

    Sasaran peserta seminar siswa  mahasiswa, Guru , Dosen, Pegawai Pemerintah, Masyarakat Peternak dan Umum serta stakeholder lainnya. Pendaftaran mulai dibuka 1 – 31 Maret 2019 di Sekretariat panitia  gedung administrasi Fakultas Pertanian Lt 2 kampus Timur Umuslim CP: Dr. Sitti Zubaidah (0852 7772 5431) dan Ir. Suryani - 0813 6064 3700) dengan biaya  bagi Siswa dan Mahasiswa Rp 25.000 dan  Umum Rp 50.000, jelas Sitti Zubaidah.(HUMAS) 

     

  • Prodi Peternakan Umuslim hadiri Munas FPPTPI

     

    Peusangan-Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan terlibat langsung menghadiri Musyawarah Nasional (Munas)  Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) yang diselenggarakan di Hotel Kriad Muraya Banda Aceh, (4–6/4/ 2019).

    Menurut  informasi  dari ketua prodi  Peternakan Fakultas Pertanian Umuslim Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM, tuan rumah tahun ini Unsyiah Banda Aceh, agenda acara  membahas berbagai hal aktual  berhubungan dengan rumpun ilmu  Peternakan, seperti misalnya  sinkronisasi kurikulum peternakan merespon Revolusi Industri 4.0, dan sosialisasi awal standar penilaian akreditasi Prodi Peternakan, mengacu kepada Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian (LAM PTIP), diharapkan lulusan peternakan memiliki daya saing dan mampu beradaptasi  di Era Revolusi Industri 4.0, Jelas Sitti Zubaidah alumnus program doktor Universitas  Malang ini.

    Menurutnya keterlibatan Prodi Peternakan dalam kegiatan ini mendapat dukungan penuh Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, karena menurutnya kegiatan ini  dapat memberikan manfaat besar untuk  pengembangan prodi Peternakan, bisa menjalin dan melanjutkan kerjasama dengan berbagai Fakultas  dan Universitas ternama di Indonesia.  Prodi Peternakan Umuslim  pada Munas ini  diwaliki oleh Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM dan Ir. Suryani, M.Pt

    Munas yang jadi tuan rumah Unsyiah Banda Aceh,  dihadiri  lebih 100 peserta  terdiri  Rektor, Dekan, Ketua  Jurusan,Ka  Prodi dan Ketua sekolah tinggi yang mengelola  pendidikan  bidang Peternakan dari berbagai perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta dari  seluruh Indonesia,  .(HUMAS).

     

  • Prodi peternakan Umuslim latih cara pembuatan pakan ternak

     

     Prodi peternakan universitas almuslim (umuslim) peusangan membuat pelatihan cara pembuatan pakan ternak dari limbah lokal, berlangsung di  Laboratorium MIPA Universitas Almuslim, Rabu (6/11).

    Ketua Jurusan Prodi Peternakan Umuslim Dr.Ir.Sitti Zubaidah, S.Pt,S.Ag,MM,IPM menjelaskan tujuan pelatihan untuk memanfaatkan potensi limbah lokal, mengasah keterampilan peserta dan  memberikan kontribusi berbagai ilmu bidang  usaha peternakan, sekaligus wujud  aplikasi Tri dharma Perguruan Tinggi bagi universitas. 

    Menurutnya dengan pelatihan ini peserta dapat memanfaatkan potensi  limbah pertanian, perkebunan dan limbah pasar  yang banyak tersedia dilingkungan tempat tinggalnya untuk dijadikan  bahan pakan ternak bermutu setelah diproses secara sederhana  melalui  amoniasi jerami padi, konsentrat, mineral blok dan MOL, sehingga bermanfaat dan dapat membantu mengurangi pencemaran dan pengrusakan lingkungan, urai Sitti zubaidah.

    Selain itu peserta  juga diberikan pelatihan pembuatan pupuk organik  menggunakan kotoran ternak, seperti kotoran ayam, kambing dan sapi yang dapat dipakai sebagai nutrisi tanah dan tumbuhan.

    Peserta sebanyak 52 orang terdiri siswa SMK, mahasiswa, penyuluh, kelompok ternak dan masyarakat, pemateri pelatihan Rahmat Kartolo, S.Pt, M.Pt, pelaku usaha ternak dan  beberapa akademisi yang berkompeten dibidang peternakan.

    Pelatihan  akan terus dilakukan beberapa angkatan pada beberapa minggu mendatang untuk memberikan keterampilan kepada pelaku peternakan sehingga mampu melakukan perubahan di dunia peternakan, jelas Sitti Zubaidah alumni program doktor bidang peternakan Unibraw Malang.(HUMAS)