Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Penerima beasiswa Bidik Misi Umuslim , bagi Paket Sembako Untuk Fakir Miskin.

     

    Peusangan-Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Kabupaten Bireuen yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Bidikmisi (IKAMB) Umuslim membagikan seratusan sembako gratis untuk kaum dhuafa dan fakir miskin di seputaran Kabupaten Bireuen, Sabtu (18/05/2018).

    Ketua panitia, Fandy mengatakan "satu paket sembako tersebut bernilai seharga Rp80 ribu. Berasal dari donatur yang ingin bersedekah, baik dari mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan juga ada dari donatur lainnya. Masing-masing donatur memberikan sumbangan seikhlas mungkin".

    Salah seorang penerima   ibu Ani, nengucapkan syukur "Alhamdulillah, atas pembagian sembako gratis ini dan sangat bermanfaat bagi kami yang kurang mampu ini. Jika membeli,  tidak sanggup sebanyak ini,"ungkapnya terharu, sambil mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa.

    Menurut ketua IKAMB, Sarah Savana dirinya mengucapkan terima kasih atas kekompakan dan kebersamaan teman-teman penerima beasiswa bidik misi sehingga aksi sosial ini berjalan sukses, kalau selama ini kami menerima beasiswa, Alhamdulillah di bulan ramadhan ini kami sudah bisa sedikit berbagi dengan masyarakat kurang mampu lainnya, semoga kegiatan akan terus berlanjut, ini merupakan agenda  pertama yang dilaksanakan oleh IKAMB" ujar Sarah Savana(HUMAS)

     

  • Pengunjung berebut Berswafoto di stand kreativitas FKU

    Peusangan-Arena stand kreativitas mahasiswa pada  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU), yang digelar mahasiswa Universitas Almuslim selama satu minggu, bertempat  dihalaman  depan gedung aula MA Jangka Universitas Almuslim, mendapat perhatian dari berbagai kalangan baik mahasiswa, siswa dan masyakarat.

    Festival  yang dibuka  Pelaksana tugas gubernur Aceh Nova Iriansyah yang diwakili staff ahli Gubernur bidang Keistimewaan,SDM dan hubungan Kerjasama  Dr.Iskandar Ap,S.Sos,M.Si, selain memperlombakan berbagai kegiatan juga menampilkan stand pameran kreatifitas mahasiswa.

    Setiap stand menampilkan berbagai hasil karya,  peralatan laboratorium dan informasi fakultas yang  dikemas dengan apik dan unik ala mahasiswa, sehingga stand tersebut menjadi menarik dan jadi lokasi swafoto bagi pengunjung.

    Seperti stand Fakultas Teknik yang menjadi stand favorit, selain menampilkan berbagai alat laboratorium dan hasil karya mahasiswa  seperti maket, mereka juga  merancang sebuah tenda unik, yang berbentuk lancip menjulang keatas,yang diberi nama tenda animal, tenda ini menjadi favorit pengunjung baik dari siswa maupun mahasiswa  untuk berselvi ria.

      Ada juga di  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Alaska menampilkan berbagai barang yang berhubungan Heking, panjat tebing, alat penyelaman dan juga berbagai peralatan yang berhubungan  dengan alam.

    Kemudian ada stand Fakultas Pertanian menampilkan berbagai aneka tanaman  Hidroponik dan tumbuhan bonsai yang menarik,  di stand Fisipol juga ada ditampilkan informasi tentang  pakaian Kimono Jepang, kemudian ada stand Kebidanan dengan peralatan medisnya, Fakultas  Ekonomi menampilkan Cafe ala mahasiswa sebagai ciri khas Enterpreneurship,  Fikom dengan animasinya,  Akbid munawarah berbagai informasi tentang kebidanan, LDK formada dengan bentuk stand bermaniatur mesjid, Fkip juga memamerkan sejenis songkok (kopiah tradisionil Bogor, kreasi mahasiswa Bogor), KSR-PMI dengan aktivitas sosialnya melakukan donor darah dilokasi.

    Selain itu ada  juga  stand dari Permata Gayo dengan kreasi unik penuh dengan  kerawang gayo, UGP dan duta wisata Aceh Tengah dengan berbagai aneka kopi baik kopi bubuk maupun kopi cair, tidak ketinggalan juga ada stand asesoris, sehingga semua stand selain memanjakan mata pengunjung, sambil berputarnya otak kiri dan kanan memikirkan hasil kreativitas mereka, juga dimanjakan dengan hirupan juz dari SMK Pertanian yang penuh asupan serat bergizi.

     Aneka kreativitas dari masing-masing stand yang ditampilkan dengan  berbagai informasi hasil kreativitas,  ataupun informasi yang berhubungan dengan fakultas, jurusan maupun bidang unit kegiatan masing-masing, membuat para pengunjung stand jadi tertarik walaupun mereka tidak dilirik..

    Karena banyaknya keanekaragaman hasil kreativitas dan keunikan yang dimiliki setiap  stand,  banyak pengunjung setelah melihat berbagai barang hasil kreativitas yang menarik dan langka, mereka langsung ber akting melakukan swafoto (Selfi) dengan latar belakang  suasana stand yang penuh barang kreasi mahasiswa dan berbagai  seni hiasan stand yang menarik.

    Saat melakukan akting selfi mereka tidak menghiraukan dengan orang sekelilingnya, hal ini dilakukan demi mendapatkan moment foto yang menarik dan bisa memuaskan, sehingga  akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka sepanjang masa.(Humas)

     

     

     

  • Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak

     

     

    OLEH : HALUS SATRIAWAN, Dosen Tetap Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Memanfaatkan liburan semester tahun ini saya pulang ke kampung halaman di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepulangan tahun ini terasa begitu istimewa bagi saya, karena sejak menjadi dosen di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, dan menetap dalam komunitas masyarakat Aceh hampir lebih kurang sepuluh tahun, sudah sangat jarang saya bisa menyaksikan berbagai atraksi budaya suku Sasak atau suku lainnya di kampung saya, Lombok.

    Saat pulang kampung tahun ini saya bersama keluarga dapat menikmati kembali kekayaan budaya, salah satunya yang unik dan hampir punah adalah permainan tradisionil rakyat bernama peresean.

    Peresean merupakan warisan  budaya  yang masih dipertahankan suku Sasak Lombok. Budaya ini merupakakan  jenis kesenian/olahraga tradisional. Sistem permainannya bertarung dengan rotan. Permainan ini hampir punah, karena tingkat risikonya yang tinggi. Peralatan utama dalam permainan ini adalah penjalin (tongkat pemukul terbuat dari rotan sepanjang 1,5 meter),  seperempat bagian dari ujungnya dilumuri aspal dan beling. Tujuannya untuk memberikan efek luka yang sangat perih pada tubuh yang terkena pukulan. Maklum, ini olahraga ekstrem.

    Peralatan kedua adalah ende (perisai) yang terbuat dari kulit sapi/kerbau berbentuk persegi empat. Peserta peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pekembar. Para pepadu dalam permainan ini bertelanjang dada (tidak menggunakan baju apa pun), hanya mengenakan celana dibalut dengan penutup kain sarung songket khas Lombok. Kepalanya diikat dengan kain kecil bernama sapuk. Aturan mainnya, pepadu  hanya boleh memukul  bagian badan dari pinggang hingga kepala dengan penjalin, tidak boleh pukul pakai tangan atau khaki. Juga tak boleh memukul badan bagian pinggang ke bawah.

    Tandingnya sebanyak lima ronde. Setiap ronde waktunya 2-3 menit. Seperti ronde permainan tinju, penentuan tidak mutlak harus lima ronde. Ada kalanay jumlah ronde disesuaikan dengan kesepakatan (musyawarah) bersama antarpanitia dan pekembar (wasit).  Selama permainan berlangsung, pemain diawasi oleh wasit. Dalam permainan ada dua wasit. Satu wasit yang melerai (pekembar tengah) dan wasit yang mengawasi dari pinggir arena disebut pekembar sedi. Pekembar sedi juga bertugas mencatat poin atau nilai yang diperoleh masing-masing pepadu.

    Yang membuat permainan ini makin menarik ialah karena ada iringan musik khas, musik pengiring sebagai penyemangat bertarung. Alat musik yang digunakan berupa gendingan yang terdiri atas gong, sepasang kendang, rincik, simbal, suling, gamelan, dan kanjar. Semua alat musik itu dibunyikan sesuai alunan musik khas Lombok yang dapat menyemangati dan memicu adrenalin para pepadu untuk memenangkan pertarungan.

    Selama pertandingan, musik pengiring tidak boleh berhenti. Hal ini untuk menjaga konsentrasi dan adrenalin para pepadu. Itulah yang membuat permainan pertarungan tradisi budaya Lombok mempunyai makna dan terdapat nilai patriotisme yang begitu mendalam dan mengandung filosofis yang kuat di dalamnya. Selain itu, di dalam peresean ada etika pemain yang disebut wirage, wirase, dan wirame.  Wirase mengajarkan bagaimana seorang pepadu  tak boleh melecehkan lawan mainnya. Wirage  mengajarkan sportivitas, sedangkan wirase mengajarkan unsur seni, yaitu keindahan gerak peresean tersebut.

    Walaupun permainan ini  dikenal dengan tradisi pertarungan, tetapi setiap  selesai bertarung masing-masing pepadu wajib berangkulan dan saling memaafkan. Tak boleh ada dendam, seakan tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Hal ini menunjukkan persaudaraan, kekeluargaan, kerendahan hati, dan penuh kesabaran saling menghormati, itulah filosofi yang  sangat kental dicontohkan dalam permainan  ini.

    Permainan peresean  hampir sama dengan geudue-geudue (gulat) di Pidie, permainan ini khusus untuk laki-laki. Kalau geudue-geude dua lawan satu dan tidak memakai alat (tangan kosong), sedangkan peresean satu lawan satu dan  menggunakan alat rotan dan perisai dari kulit kerbau.

    Penonton yang menyaksikan permainan ini harus mempunyai adrenalin tinggi dan sport jantung yang kuat karena permainannya keras, saat permainan  berlangsung para pemain (pepadu) saling serang dengan menggunakan alat tarung tongkat rotan dan menangkis dengan menggunakan perisai yang terbuat dari kulit kerbau yang tebal, biasanya pepadu tangan kanan memegang tongkat rotan sedangkan tangan kiri memegang perisai.

    Pertarungan dalam permainan peresean  akan berhenti ketika salah satu pepadu terluka hingga berdarah. Jika salah satu dari pepadu belum ada yang terluka, keduanya dianggap sama kuat, pertandingan dilanjutkan hingga melewati beberapa ronde sesuai kesepakatan.

    Pemenang ditentukan berdasarkan hitungan bekas luka yang paling sedikit, di mana poin tertinggi akan diperoleh jika seorang pepadu berhasil memukul kepala lawannya. Apabila ada pepadu yang bocor kepalanya atau badannya agak parah lukanya, diobati pakai minyak obat tradisional dan permainan dihentikan, pepadu tersebut berarti sudah kalah knock out (KO). Menariknya, hadiah dari peresean ini  jika dihitung dari segi nilai ekonomi tidak seberapa, namun kebanggaan sebagai petarunglah yang menjadi nilai kepuasan bagi peserta.

    Peresean  dilaksanakan di lapangan terbuka 20x20 meter secara melingkar atau petak empat. Batasnya dikelilingi penonton seperti batas penjual obat keliling kaki lima, waktu pelaksanaan sering setelah shalat Asar, karena pertandingan diyakini berlangsung sengit, apalagi kalau pemainnya sudah profesional, pasti ada petarung yang bisa melukai tubuh lawan hingga mengeluarkan darah di tubuh ataupun di kepalanya. Jadi, biar tak terlalu banyak darah keluar karena di terik matahari, waktu permainan ini ditentukan setelah asar sampai menjelang magrib.

    Satu hal yang membuat tradisi peresean ini menjadi begitu seru dan menantang, para pepadu sama sekali tidak memiliki persiapan dan tidak mengetahui siapa lawan tarungnya. Saat  ada perlombaan sedang berlangsung, ada saja penonton yang ingin jadi  peserta dadakan dan itu dibolehkan.

    Menurut sejarah, peresean merupakan satu tradisi permainan diyakini masyarakat sebagai ritual meminta hujan saat tiba musim kemarau panjang,  ada juga mengatakan salah satu bentuk latihan pemuda untuk melatih ketangkasan dan keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda.

    Setelah masa penjajahan permainan ini terus dikembangkan menjadi satu tradisi di tengah masyarakat, dilakukan turun-temurun. Sekarang peresean telah menjadi salah satu  budaya suku Sasak. Dari sisi mistis, peresean  juga banyak dipercaya oleh masyarakat suku Sasak sebagai ajang adu ilmu kebal. Betapa tidak, dalam berbagai pertarungan, sering kali para pepadu saling menghantam kepala dan badan satu sama lain, tapi tidak setetes darah pun mengucur.

    Dulu permainan ini digelar saat musim kemarau panjang dan tradisi ritual acara kerajaan, tapi sekarang sudah menjadi tradisi dan dipentaskan pada Festival Budaya Pariwisata di Pulau Lombok dan dalam rangka perlombaan menyambut HUT kemerdekaan RI di lapangan terbuka.

    Permainan ini sering juga dilaksanakan di Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Kute Lombok Tengah yang menjadi andalan pemerintah setiap tahun. Permainan ini juga bisa kita jumpai di kawasan Lombok Timur (Sakra), Lombok Barat (Narmada dan Gerung), Lombok Utara (Tanjung), karena kawasan tersebut masyarakatnya masih sangat menjaga nilai tradisional dan memiliki padepokan khusus yang melatih para pepadu.

     

    Artikel ini telah tayang di https://aceh.tribunnews.compada tanggal /2019/08/13/  dengan judul Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak, 

     

  • Perguruan Tinggi di India Siap Bekerjasama dengan Perguruan Tinggi di Aceh

     

    TEUKUCUT MAHMUD AZIZ,S.Fi,M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari New Delhi, India 

     

    PERJALANAN saya ke India kali ini sebagai tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI (BPPK Kemlu RI). Dalam tim ini, saya Teuku Cut Mahmud Aziz dari FISIP Universitas Almuslim (Umuslim) bersama Dr Ichsan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara.

    Selama berada di negara Hemamalini ini, kami melakukan penelitian tentang “Pengembangan Kerja Sama Ekonomi dan Konektivitas antara Indonesia, India, dan Myanmar”, dengan fokus pada kerja sama ekonomi dan konektivitas antara Aceh, India Kepulauan Andaman-Nikobar, dan Yangon-Rakhine State.

    Selama di India, kami mendapat sambutan hangat dan sangat bersahabat dari Duta Besar RI, HE Sidharto R Suryodipuro, para atase, dan segenap jajarannya. Selama melakukan penelitian tersebut, kami menetap di Kedutaan Besar RI di New Delhi. Selama penelitian di New Delhi kami didampingi diplomat dari KBRI, Noviandri Wibowo.

    Dalam kunjungan tersebut tim peneliti disambut dengan penuh keramahan dan keakraban. Pertemuan yang dilakukan ini dalam rangka pengumpulan data lapangan sebelum tim peneliti menuju ke Kepulauan Andaman dan Nicobar. Banyak hal yang dibahas mulai dari prospek kerja sama, berbagai peluang dan tantangan, komoditas unggulan masing-masing wilayah atau daerah, dan potensi pengembangan di sektor pariwisata dan kerja sama pendidikan.

    Secara geografis letak Kepulauan Andaman dan Nicobar lebih dekat ke Aceh daripada ke daratan Negara India. Jika ada penerbangan dari Banda Aceh ke Port Blair, ibu kota Kepulauan Andaman dan Nicobar maka diperkirakan waktu tempuh sekitar satu jam tiga puluh menit. Begitu dekat, yang mana selama ini kalau kita ingin ke sana harus terlebih dahulu melalui Chennai, Kalkutta, atau New Delhi. Kita harus mutar dulu dan berjam-jam waktu tempuhnya, yaitu sekitar 8 sampai 10 jam.

    Sektor pariwisata menjadi sektor unggulan dan berpotensi untuk dikoneksikan antara Sabang dan Port Blair. Kapal yacth yang selama ini singgah di Sabang dari Singapura-Langkawi-Phuket, sebelum menuju Maldive dapat terlebih dahulu transit di Port Blair atau Havelock. Demikian pula dengan kapal cruise, yang singgah di Sabang dapat melanjutkan perjalanan ke Port Blair atau Havelock. Havelock merupakan pulau pariwisata yang terkenal di Andaman yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah India untuk menyamai dengan Maldive. Setiap harinya diperkirakan 3.000 an turis berkunjung ke pulau tersebut.

    Keseriusan Pemerintah India membangun Kepulauan Andaman dan Nicobar dibuktikan dengan mulai memperhatikan pembangunan infrasruktur di Port Blair dan sejumlah pulau lainnya. Bandara udara Port Blair sedang diperluas dan diperkirakan tahun 2020 akan selesai dan dapat didarati dengan banyak pesawat komersial dari luar negeri.

    Selain membahas peluang kerja sama di bidang perdagangan dan periwisata, kami juga mendiskusikan peluang kerja sama di bidang pendidikan tinggi. Kami berdiskusi dengan Prof Chintamani Mahaprata, Wakil Rektor Jawaharlal Nehru University (JNU) yang terkenal sebagai pakar Indo-Pacific di ruang kerjanya. Setelah bertemu wakil rektor, kami lanjutkan pertemuan dengan Rektor (Vice Chancellor) JNU, Prof M Jagadesh Kumar di ruang kerja rektor. Kami didampingi Dr Gautam Kumar Jha dan Prof Arun Sidram Kharat, seorang pakar biologi.

    Baik rektor maupun wakil rektor berpenampilan sederhana, lembut dalam bertutur kata, dan rendah hati. Saat ini Prof M Jagadesh Kumar, salah seorang tokoh yang terkenal di India.

     

    Prof M Jagadesh Kumar merupakan pakar teknologi nano, ilmu yang berkaitan dengan atom. Rektor sangat senang mendengar maksud kedatangan kami dan berpeluang dijajaki kerja sama antara perguruan tinggi di Aceh dengan perguruan tinggi di India. Kami mengatakan pendidikan tinggi di India tidak begitu populer di Indonesia, jika mengamati dari kecenderungan lulusan SMA atau lulusan perguruan tinggi yang ingin studi S2 dan S3 yang cenderung memilih perguruan tinggi di Benua Amerika, Eropa, Australia, atau yang terdekat di Malaysia. Sedangkan pendidikan tinggi di India diakui kualifikasinya di tingkat internasional. Kami mengatakan, “Kita dekat secara geografis, tapi mengapa terasa jauh ya?” Mendengar pertanyaan ini, rektor tersenyum dan katanya sudah saatnya kita membangun kerja sama. Kerja sama di bidang pendidikan dan riset dapat dimulai antara universitas atau perguruan tinggi di India dengan universitas di Aceh atau di Indonesia secara umum. “Kami siap membantu,” ujar rektor.

    “Kami memiliki kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang profesional dan memadai, terutama di bidang kedokteran, teknologi informasi, farmasi, dan mikrobiologi. Kami memiliki banyak ahli. Di bidang kedokteran contohnya, kedokteran di India diakui kualitasnya di dunia, begitu juga dengan ahli-ahli di bidang IT, apalagi posisi kita secara geografis berdekatan,” ujarnya. Beliau menekankan, “Mari kita bekerja sama!”

    Prof Jagadesh Kumar bercerita, ada perguruan tinggi di Afrika yang melakukan MoU dengan JNU untuk kerja sama pendidikan dan saat ini tahap implementasi. Kami memberikan kuliah melalui e-learning, proses belajar-mengajar dilakukan antara dosen JNU dengan para mahasiswa di universitas di Afrika dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Kami juga dapat melakukan hal yang sama dengan universitas di Aceh,” cetusnya.

    Bagi penguatan data, kami melanjutkan perjalanan riset dalam tim Market Intelligence ke Chennai, Kepulauan Andaman dan Nicobar, dan Mumbai, selaku Utusan Kementerian Luar Negeri RI dengan menambah satu anggota lagi, yaitu Dr Muzailin Affan, akademisi dan Kepala Kantor Urusan Internasional Universitas Syiah Kuala. Jadi, semakin lengkap, ada perpaduan akademisi dan peneliti dari Universitas Almuslim, Unimal, dan Unsyiah.

    Dr Muzailin Affan diundang oleh sahabatnya, Arnab Das, Executive Officer of International Relations Office of Indian Institut of Technologi (IIT) Bombay, India untuk mengunjungi kampusnya sekaligus penjajakan kerja sama. Beliau mengajak saya bersama-sama mengunjungi IIT Bombay. Kebetulan Dr Ichsan lebih duluan kembali ke Aceh dalam urusan akreditasi pascasarjana. Ajakan tersebut segera saya setujui karena ini akan menjadi pengalaman dan penguatan kerja sama kolaboratif antara Unsyiah, Umuslim, dan Unimal dalam membangun kerja sama dengan kampus di India.

    Sebelum ke IIT Bombay, kami menyempatkan waktu mengunjungi rumah Shahrukh Khan dan Salman Khan. Sesampai di IIT Bombay, kami baru tahu setelah mendapat penjelasan dari Arnab Das di ruang kerjanya di Kantor Urusan Internasional bahwa IIT Bombay merupakan kampusterbaik nomor satu di India. Konsepnya seperti Massachusetts Institute of Technology di Amerika. Yang dipelajari di sana tidak hanya ilmu teknik atau IT, tapi juga sosial-humaniora. Lulusannya banyak diterima kerja di luar negeri. Kami benar-benar terkesima, dan saya sangat berterima kasih kepada Dr Muzailin Affan. Kami diajak berkeliling kampus, di mana semua kegiatan tersentral di dalam kampus. Suasananya hijau, bersih, dan tertata rapi. Kami juga mengunjungi asrama mahasiswa dan melihat aktivitas di dalamnya. Mahasiswanya banyak yang memakai sepeda. Dari wajahnya terlihat orang-orang yang cerdas.

    Apa yang disampaikan Rektor JNU dan juga Arnab Das tidaklah berlebihan. Jika kita amati, banyak CEO perusahaan kelas dunia berasal dari India. Deretan nama-nama terkenal, seperti Sundar Pichai (CEO Google), Indra Krishnamurthy Nooyi (CEO PepsiCo), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe Systems), Francisco D’Souza (CEO Cognizant), Anshuman Jain (CEO-bersama Deutsche Bank), Dinesh Paliwal (CEO Harman), Ajay Banga (CEO MasterCard), dan Sanjay Kumar Jha (CEO GlobalFoundries), semuanya asal India. Banyak pakar IT di banyak perusahaan di dunia adalah orang India yang pendidikan S1-nya ditempuh di perguruan tinggi di India. Bukan di kampus terbaik di Amerika atau Eropa.

    Sudah saatnya kita di Aceh membangun kerja sama yang erat dengan perguruan tinggi di India. Kualitas pendidikan di India selain diakui dunia, didukung juga dengan letak geografis yang lebih dekat dan biaya pendidikan yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan biaya kuliah di perguruan tinggi di Indonesia, apalagi di Amerika, Eropa, atau Australia. Sebagai perbandingannya, jika Pemerintah Aceh memberikan beasiswa kepada mahasiswa asal Aceh untuk studi S2 atau S3 ke perguruan tinggi di Amerika, Eropa, atau Australia hanya dapat mengirim satu mahasiswa, tapi kalau ke India dapat mengirim tiga hingga empat mahasiswa. Biaya hidupnya hampir sama dengan standar hidup di Aceh. Pemerintah Aceh dan perguruan tinggi di Aceh perlu melakukan inisiasi ini bagi peningkatan kualitas SDM di Aceh.

     

    Cerita ini pernah tayang pada Citizen reporter di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 29/12/2018/ dengan judul : Menggalang-kerja-sama-aceh-india

     

  • Peumulia Jamee ala Jepang

     

     

     

    OLEH AL FURQAN ISMAIL, Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Nagoya Gakuin University, melaporkan dari Nagoya, Jepang

    Saya salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang cukup beruntung karena dapat mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang, Program ini merupakan hasil kerja sama (MoU) antara Universitas Almuslim (Umuslim) dan Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang.

    Selama ikut kuliah di sini banyak pengalaman yang luar biasa karena bisa belajar dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia. Soalnya, Kampus Nagoya Gakuin University telah berkerja sama dengan kampus dari berbagai negara, seperti Amerika, Kanada, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Cina, Taiwan, dan lain-lain. Secara tidak langsung saya tak hanya belajar budaya Jepang, bagaiamana cara hidup di Jepang dan bersosialisasi dengan orang-orang Jepang, akan tetapi juga bersosialisasi dengan mahasiwa asing dari berbagai negara di dunia.

    Untuk angkatan ini Umuslim mengirim dua mahasiswa, saya dan Bilal Faranov, dari Prodi Hubungan International (HI) Universitas Almuslim,. Kami belajar di Nagoya Gakuin University Jepang selama setahun dan Umuslim sudah mengirim tiga angkatan kuliah di NGU Jepang.

    Selama di Jepang kami sempat mengamati kemajuan Jepang dari berbagai sektor. Yang sangat saya kagumi adalah kedisiplinan mereka yang sangat luar biasa dalam menghargai waktu. Hal ini masih sulit untuk bisa saya samai. Juga etos kerja orang Jepang sangat profesional,. Mungkin tidak ada kata ‘baper-baperan’ dalam mereka bekerja, hal yang justru masih sering terjadi di negara kita sehingga hilangnya profesionalisme dan menjadi tidak efektif dalam berkerja. Orang Jepang juga sangat loyal terhadap perusahaan tempatnya berkerja.

    Salah satu pengalaman yang sangat menarik adalah ketika saya dan Bilal berkunjung ke salah satu rumah sahabat kami di Jepang, namanya Shunichi. Dia mahasiswa NGU yang pernah kuliah di Universitas Almuslim tahun lalu, sebagai perwakilan pertukaran mahasiswa NGU ke Universitas Almuslim selama satu semester.

    Dia mengajak kami berkunjung ke rumahnya dan menginap dua malam. Saya sangat senang bisa melihat dan merasakan langsung cara mereka menyambut tamu (peumulia jame) ala Jepang. Sebenarnya orang Jepang jarang mengajak orang asing ke rumahnya, apalagi sampai menginap, kecuali sudah sangat dekat.

    Awalnya, saya mengira akan sangat kaku jadinya ketika bertemu dengan keluarganya, karena keterbatasan bahasa Jepang kami yang masih belum terlalu lancar. Akan tetapi perasaan waswas kami sontak berubah ketika saya bertemu dengan keluarganya yang ternyata begitu ramah.

    Pada hari pertama kami tak sempat makan malam dan berkumpul bersama tuan rumah, karena kami tiba di rumah tersebut sudah malam sepulang kami dari part time job sekitar pukul 12 malam.

    Pertemuan dengan tuan rumah terjadi esok harinya, yaitu kami bertemu oba chan (nenek) yang sudah mepersiapkan sarapan pagi untuk kami. Dengan ibu Shunichi kami tak sempat bertemu karena ia sudah berangkat kerja pada waktu subuh sebagai perawat.

    Sang nenek sangat antusias ketika kami memperkenalkan diri dan dia pun memperkenalkan dirinya dengan sangat lucu walaupun tidak semua kata-kata yang beliau ucapkan kami mengerti. Senyumannya yang khas menyapa dengan sopan tapi tetap dengan humor yang membuat suasana mencair dan tidak kaku.

    Pas pagi itu setelah kami bangun, sarapan sudah terhidang di atas meja cukup banyak. Ibunya Shunichi ternyata sudah mempersiapkan semua makanan sebelum berangkat kerja dan meminta nenek untuk melayani kami. Sang neneklah yang menjelaskan setiap makanan khas Jepang yang dihidangkan untuk kami. Semua dimasak sendiri dan keluarga Shunichi tentunya sudah tahu bahwa kami muslim. Otomatis tak boleh makan babi dan minum osake (arak Jepang). Soalnya, merupakan kebiasaan orang Jepang menyediakan osake untuk minuman khas melayani tamu.

    Karena Shunichi sudah menjelaskan bahwa kami muslim maka semua makanan yang dihidangkan hanya ikan, sayuran-sayuran, dan ada ayam halal yang dibeli di toko halal food. Sedangkan minumannya hanya berupa jus dan cola.

    Sambil bercanda dan tawa lucu nenek dengan kata-kata yang kurang kami pahami, seakan cukup mengerti tentang suasana jiwa muda kami, dia mengakrabkan diri berbicara dengan bahasa Jepang dalam suasana seperti anak milenial. Nenek berbicara sambil melucu agar kami senang dan gembira. Saya dan Bilal hanya mengucapkan “haik, haik” saja sambil menganggukkan kepala seolah mengerti. Nenek juga tak sungkan berfoto bersama kami bahkan selfi seolah masih muda.

    Saking antusiasnya nenek mengajak kami keliling rumah untuk melihat seluruh lukisannya di masa muda yang dipajang pada beberapa sisi dinding rumah. Lalu dengan gaya melucu dia jelaskan semua hasil karyanya tersebut. Nenek ini ternyata memiliki bakat melukis sejak kecil. Dia seniman, banyak karyanya yang dipamerkan di Museum Nagoya, tetapi sekarang sudah tak lagi melukis.

    Selain itu, ibunya Shunichi juga memberikan uang kepada anaknya untuk mentraktir kami dan mengajak kami jalan-jalan ke Kota Okazaki dan ke beberapa tempat wisata pantai lainnya. Meski belum kenal, ibunya seakan ingin memberikan yang terbaik bagi kami sebagai tamunya.

    Selama bertamu di rumahnya, ibu Shunichi menginginkan kami tak boleh mengeluarkan uang sepeser pun. Beliau benar-benar menganggap kami tamu spesial. Ini sungguh keluarga yang sangat perhatian dalam melayani tamunya dengan baik dan menyenangkan. Dua hari kami di rumah Shunichi seolah seluruh kebutuhan kami menjadi tanggung jawab mereka.

    Kami juga dibawa berwisata ke Okazaki, kota yang sangat terkenal dengan keindahan sakuranya. Kebetulan hari itu bertepatan dengan perayaan hanami sakura pada musim semi. Pagi itu kami kami mengunjugi Okazaki Castel yang cukup terkenal dengan tamannya yang sangat luas dan dipenuhi bunga sakura yang baru mekar.

    Saat menikmati perayaan hanami sakura tersebut kami diberikan kebebasan untuk menikmati jajanan khas Jepang yang dijual di taman tersebut. Kami bebas mau makan apa pun karena kami telah ditraktir sahabat tersebut atas perintah ibunya sebelum berangkat kerja.

    Di taman tersebut banyak sekali orang berkumpul bersama keluarganya merayakan hanami sambil menggelar tikar di bawah pohon-pohon sakura yang sedang mekar. Mereka duduk makan bercabda ria bersama keluarga mereka sambil menikmati keindahan bunga sakura. Anak-anak kecil berlari ke sana kemari dengan cerianya. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi saya yang belum pernah meilhat sakura bermekaran dan untuk pertama kalinya melihat perayaan hanami di Jepang yang mirip meuramin kalau di Aceh.

    Setelah seharian kami berkeliling Kota Okazaki, malam hari kami kembali ke rumah sekitar pukul 8 malam. Sesampai di rumah orang tua Shunichi, lagi-lagi telah disiapkan semuanya untuk menyambut makan malam kami. Walaupun sebetulnya kami masih sangat kenyang karena seharian jalan dan jajan, tetapi tuan rumah masih tetap menyediakan makan malam yang wah buat kami.

    Kali ini ketika kami tiba di rumah, ibu, ayah, dan nenek Shunichi sudah berada di rumah lebih dulu, kecuali adik perempuannya yang masih ikut latihan sepak bola dan belum pulang. Kami disambut di meja makan yang sudah penuh dengan hidangan khas Jepang, sepeti sushi, sashimi, nato, dan sebagainya. Ibu dan ayahnya sangat antusias dan bertanya banyak tentang Indonesia. Mereka juga berencana akan ke Indonesia, khususnya Aceh, suatu saat nanti sekeluarga.

    Malam itu ibu dan neneknya juga sempat mengajak kami pergi ke bilik karaoke keluarga, karena neneknya suka menyanyi. Tapi saking asiknya kami mengobrol di rumahnya sehingga tanpa terasa waktu sudah larut malam, sehingga rencana ke karaoke tidak jadi. Lagian kami sudah cukup lelah karena jalan seharian. Akhirnya nenek mencoba menghibur kami dengan bernyanyi di rumah saja dengan nyanyian lagu nostalgia Jepang. Dia juga mengajak dan mengajar kami bernyanyi sambil melihat teks yang ada. Kami pun menyanyikan bersama lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo. Setelah selesai bernyanyi, nenek meminta kami menyanyikan lagu Indonesia dan kami pun memilih lagu Indonesia Raya. Begitulah malam tersebut mengalir tanpa ada kecanggungan sama sekali antara kami dan keluarga Shunichi.

    Sebelum kami ke kamar tidur untuk istirahat, ibunya bertanya tentang cita-cita kami dan setiap kami diberikan selembar kertas dan spidol kami disuruh untuk menulis nama kami dan menulis cita-cita kami. Saya dan Bilal serta Shunichi menuliskan apa cita-cita kami. Setelah selesai, ibunya meminta kami menandatangani kertas yang sudah bertuliskan cita-cita dan setiap harapan kami di masa depan. Kemudian, ibunya mengambil sampul plastik dan menyampul setiap lembaran kertas kami dengan sampul tersebut. Sungguh saya tak mengerti apa maksudnya.

    Ternyata setelah itu dia tempelkan lembaran-lembaran kertas tadi di dinding rumah yang berada di ruang keluarga sembari mengatakan semoga cita-cita dan harapan kalian tercapai. Tapi nanti ketika kalian sudah berhasil jangan lupa untuk berkunjung lagi ke rumah ini karena kalian sudah seperti bagian dari keluarga ini. Saya pun terharu ketika beliau berkata seperti itu.

    Besoknya kami pulang ke asrama kampus. Lagi-lagi sudah disiapkan sarapan di meja makan. Ada roti bakar, salad, dan buah-buahan. Kami tak boleh pulang sebelum menghabiskan seluruh makan yang dihidangkan. Begitu ditegaskan nenek Shunichi. Karena terlalu banyak, makanan tersebut tak habis, lalu ibu Shunichi memotong beberapa buah yang tak sempat kami habiskan dan membungkusnya untuk bekal kami di perjalanan. Setelah itu kami di antar ke depan rumah dan ketika kami hendak berangkat naik mobil, ibu dan nenek membuka jendela lalu melambaikan tangan kepada kami yang sudah berada di dalam mobil sebagai tanda perpisahan.

    Sungguh pengalaman menarik dan sangat membahagiakan. Begitulah cara keluarga Jepang memuliakan kami sebagai tamunya. Dalam beberapa hal, mirip seperti cara orang Aceh memuliakan tamu yang datang ke rumah mereka

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 27/04/2019/04/ dengan Judul Peumulia Jamee ala Jepang

     

  • PLN launching program Pelanggan Premium di Umuslim

     

     

    Peusangan-Badan Usaha milik negara (BUMN) PLN UP Lhoksemawe melakukan launching program pelanggan premium tegangan rendah, bertempat di Auditorium Academic Center (AAC) Umuslim, Selasa (18/12/2018).

    Launching pelanggan premium tengangan rendah adalah salah satu program yang dihadirkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk layanan pelanggan dalam pasokan arus listrik.

    Manager Up3 PLN Lhoksemawe Arief Purnomo menyampaikan bahwa Launching program di Umuslim merupakan perdana di Aceh dan Universitas Almuslim merupakan salah satu pelanggan yang jadi prioritas. Program ini dikembangkan seiring dengan tuntutan pelanggan akan kebutuhan listrik, program ini merupakan jaminan pasokan arus listrik bagi pelanggan, apalagi listrik merupakan salah satu faktor pendorong peningkatan perekonomian, ujar Arief Purnomo.

    Rektor Universitas Universitas Almuslim (umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris, SE., MSi saat memberikan sambutan  menyambut baik program PLN tersebut. Karena menurutnya megelola sebuah lembaga pendidikan tidak boleh main-main, harus serius dan  siap mencurahkan waktu, pikiran dengan penuh kesabaran.

     "Jangan main main mengelola Pendidikan, fasilitasnya harus terukur", ungkap H.Amiruddin Idris dengan mimik serius.

    Program ini sangat baik, karena listrik bagi Universitas merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting untuk mendukung dan memperlancar proses belajar mengajar, ujar Rektor Umuslim yang baru saja menerima penghargaan sebagai universitas swasta terbaik Aceh dari Kementerian Riset Dikti yang diserahkan LLDikti Aceh.

    Maka menurutnya saat pertama disosialisasikan program ini, pihaknya mendukung penuh karena sangat bermanfaat dan membantu dalam  pengembangan pendidikan,ujar H.Amiruddin Idris.

    Turut menyampaikan sambutan Wakil Bupati Bireuen Dr.H.Muzakkar A.Gani, SH., MSi, pihaknya mengucapkan terimakasih pada PLN atas dipilihnya kampus Universitas Almuslim sebagai peserta program Layanan Premium tengangan rendah perdana di Aceh.

    Harapan kami semoga program layanan ini bermanfaat bagi civitas akademika dan masyarakat secara umum, harap H.Muzakkar A.Gani.

    Selain Universitas Almuslim, program ini juga akan diikuti oleh Yayasan Azzahrah, Yayasan Ummul Ayman, Rumah sakit Jeumpa hospital dan Pesantren Terpadu Almuslim.

    Turut hadir pada Launching tersebut seluruh manager dibawah naungan PLN lhoksemawe, Manager  ULP PLN di kabupaten Bireuen , civitas akademika dan undangan lainnya.(HUMAS)

     

     

     Foto : Ridwan

    Keterangan Foto : Manager PLN UP Lhoksemawe Arief Purnomo menyerahkan cendera mata kepada Rektor Umuslim Dr.H.Amirudiin Idris,SE.,MSi disaksikan Ketua Yayasan Almuslim dan Wabvub Bireuen Dr.H.Muzakkar A.Gani,MSi

     

     

     

     

  • Prodi Peternakan gelar Seminar Nasional

    Peusangan-Prodi peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan akan melaksanakan Seminar Nasional bidang Peternakan yang direncanakan akan berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC)  Ampoen Chiek Peusangan Universitas Almuslim pada tanggal 8 April 2019 mendatang.

    Ketua Prodi Peternakan Umuslim   Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM  menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respon sektor peternakan dalam menghadapai Era Revolusi Industri 4.0, dimana era ini perkembangan  teknologi peternakan yang semakin hari semakin canggih khususnya  dari segi artificial intelligence, digital economy, big data, robotic, dan lainnya yang dikenal dengan disruptive innovation. Menghadapi tantangan tersebut, sistem pendidikan di sektor peternakan dituntut untuk dapat menghasilkan pelaku-pelaku peternakan dan generasi yang berkualitas dimasa depan.

    Adapun pemateri seminar adalah Prof. Dr. Sc.Agr.Ir. Suyadi, MS, IPU, Bidang Keahlian Biotek Reproduksi dan Genetika Molekuler, Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA, IPU,Bidang Keahlian Teknologi Pakan dan Nutrisi Ruminansia, Universitas Gadjah Mada,Prof. Dr. Ir. Jahmes Hellyward, MS, IPU Bidang Keahlian Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Andalas Padang Prof. Dr. Ir. Samadi,  M.Sc Bidang Keahlian Ilmu Nutrisi Ternak, Universitas Syiah Kuala dan drh.Rahmandi, M.Si Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Aceh, rinci Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM didampinggi Dekan Fakultas Pertanian T.M.Nur,MSi . 

    Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi menyambut baik kegiatan berskala nasional, harapannya  dengan seminar  ini  dapat menambah perbendaharaan kegiatan dalam menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus Umuslim.

    Semoga dengan seminar ini akan melahirkan berbagai solusi dan terobosan  untuk menjawab berbagai hal terkait perkembangan bidang Peternakan dewasa ini, sehingga para pemangku kepentingan  dapat mengambil berbagai manfaat dan mampu beradaptasi terhadap kebutuhan peternakan berkelanjutan di Era Revolusi Industri 4.0, ungkap H.Amiruddin Idris.

    Seminar yang mengambil tema “Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Peternakan Berkelanjutan Berbasis Sumberdaya Lokal di Era Revolusi Industri 4.0” menghadirkan sejumlah pakar sebagai pemateri direncanakan akan dihadiri sebanyak 700 orang peserta

    Sasaran peserta seminar siswa  mahasiswa, Guru , Dosen, Pegawai Pemerintah, Masyarakat Peternak dan Umum serta stakeholder lainnya. Pendaftaran mulai dibuka 1 – 31 Maret 2019 di Sekretariat panitia  gedung administrasi Fakultas Pertanian Lt 2 kampus Timur Umuslim CP: Dr. Sitti Zubaidah (0852 7772 5431) dan Ir. Suryani - 0813 6064 3700) dengan biaya  bagi Siswa dan Mahasiswa Rp 25.000 dan  Umum Rp 50.000, jelas Sitti Zubaidah.(HUMAS) 

     

  • Prodi Peternakan Umuslim hadiri Munas FPPTPI

     

    Peusangan-Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan terlibat langsung menghadiri Musyawarah Nasional (Munas)  Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) yang diselenggarakan di Hotel Kriad Muraya Banda Aceh, (4–6/4/ 2019).

    Menurut  informasi  dari ketua prodi  Peternakan Fakultas Pertanian Umuslim Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM, tuan rumah tahun ini Unsyiah Banda Aceh, agenda acara  membahas berbagai hal aktual  berhubungan dengan rumpun ilmu  Peternakan, seperti misalnya  sinkronisasi kurikulum peternakan merespon Revolusi Industri 4.0, dan sosialisasi awal standar penilaian akreditasi Prodi Peternakan, mengacu kepada Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian (LAM PTIP), diharapkan lulusan peternakan memiliki daya saing dan mampu beradaptasi  di Era Revolusi Industri 4.0, Jelas Sitti Zubaidah alumnus program doktor Universitas  Malang ini.

    Menurutnya keterlibatan Prodi Peternakan dalam kegiatan ini mendapat dukungan penuh Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, karena menurutnya kegiatan ini  dapat memberikan manfaat besar untuk  pengembangan prodi Peternakan, bisa menjalin dan melanjutkan kerjasama dengan berbagai Fakultas  dan Universitas ternama di Indonesia.  Prodi Peternakan Umuslim  pada Munas ini  diwaliki oleh Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM dan Ir. Suryani, M.Pt

    Munas yang jadi tuan rumah Unsyiah Banda Aceh,  dihadiri  lebih 100 peserta  terdiri  Rektor, Dekan, Ketua  Jurusan,Ka  Prodi dan Ketua sekolah tinggi yang mengelola  pendidikan  bidang Peternakan dari berbagai perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta dari  seluruh Indonesia,  .(HUMAS).

     

  • Prodi Peternakan Umuslim Terima Ternak Sapi Aceh dari BPTU-HPT

     

     

    Peusangan-Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen Menerima 6 (Enam) ekor ternak sapi jantan Aceh dari Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui  Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri Aceh Besar,  

    Penyerahan ternak sapi tersebut dilakukan oleh Kasie Informasi dan Jasa Produksi  BPTU-HPT Indrapuri drh.Nellita Meutia, MSi yang diterima oleh Ketua Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian  Umuslim  Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM, bertempat di BPTU – HPT Indrapuri Aceh Besar, Selasa (4/3/2019).

    drh.Nellita Meutia, MSi pada arahan saat penyerahan tersebut menyampaikan bahwa “Sapi Pejantan Aceh tersebut merupakan sapi Afkir dengan Berat Badan dari 220 – 332 Kg yang berumur 3 – 10 Tahun yang masih dapat dikembangbiakan.

    Harapan kami semoga  bantuan ini dapat dimanfaatkan sebagai  Objek Praktikum, Pelatihan dan Pengembangan Pengetahuan Mahasiswa  pada Program Studi Peternakan Umuslim Aceh, harap  Nellita Meutia.

    Ketua Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Umuslim  Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM didampinggi  Dekan Fakultas Pertanian  Ir. T.M. Nur, M.Si mengucapkan terima kasih kepada pihak BPTU-HPT Indrapuri Aceh Besar atas kerjasama dan bantuan ternak sapi untuk Prodi Peternakan Umuslim..

    “Adanya bantuan ternak sapi ini sangat membantu Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Umuslim untuk terus meningkatkan mutu penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ujar  lulusan program doktor Universitas Brawijaya Malang ini. 

    Selain itu Prodi Peternakan Umuslim  terus  melakukan kerjasama dengan beberapa peternak yang telah sukses dalam rangka untuk mensukseskan   pelaksanaan beberapa program  akademik seperti  praktikum, penelitian dan pengembangan jiwa kewirausahaan mahasiswa serta pengabdian masyarakat dalam upaya pengembangan Program Studi Peternakan Umuslim dimasa yang akan datang urai Dr. Sitti Zubaidah, S.Pt, S.Ag, MM.(HUMAS)

     

     

     

     

     

  • Puluhan Dosen seminarkan hasil penelitian

    Peusangan-Sebanyak 58 orang Dosen yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di aceh menyeminarkan hasil penelitiannya yang  berlangsung di ruang seminar Ampon Chiek Peusangan,kampus Universitas Almuslim (Umuslim), Selasa (27/11/2018).

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ( LPPM ) Universitas Almuslim, menampilkan 25 orang pemakalah mewakili  sejumlah dosen dari anggota kelompok yang terlibat dalam  penelitian.

    Menurut ketua LPPM Umuslim  Dr. Halus Satriawan, S.P, M.Si, seminar hasil ini merupakan kegiatan yang bersifat wajib dan sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban peneliti yang memenangkan hibah  Penelitian Dosen Pemula (PDP)  dari Kemeristek Dikti.

    Seminar    dibuka  Wakil Rektor Bidang Akademik Umuslim Dr. H.Hambali, M.Pd, yang juga bertindak sebagai reviewer,  mengharapkan kepada dosen agar dapat  terus meningkatkan dan membudayakan  penelitian dan publikasi.

    Menurutnya   dengan banyaknya penelitian  maka semakin mempertegas sumbangsih kampus dalam pengembangan IPTEKS dan peningkatan posisi tawarnya di masyarakat, papar Dr.H. Hambali,SE,MPd

    Kemudian secara terpisah  sekretaris LPPM Umuslim Ernawita,MSc, kegiatan ini dilaksanakan oleh LPPM Umuslim karena LPPM umuslim sudah berstatus madya,   kegiatan seminar  berlangsung sehari penuh  diikuti dosen peneliti penerima hibah bidang Pertanian, Sosial, Pendidikan, Kesehatan, Teknik dan Hukum,.

    Para dosen tersebut  berasal dari Universitas Almuslim, Universitas Gunung Leuser, Universitas Gajah Putih Takengon, Universitas Sains Cut Nyak Dien Langsa, Stikes Getsempena Lhoksukon, Politeknik Aceh Selatan, STIH Muhamaddiyah Takengon dan Stie kebangsaan Bireuen, ujar Ernawita yang sedang menyelesaikan program doktor (S3) di Jerman ini.(HUMAS)

     

     

     

  • Puluhan operator desa ikuti pelatihan

    Peusangan-Puluhan operator komputer desa di kecamatan Peusangan Selatan kabupaten Bireuen mengikuti pelatihan penggunaan beberapa aplikasi komputer dan internet. Menurut salah seorang tutor pelatihan Imam Muslem,M.Kom bahwa tujuan pelatihan yang dilaksankan di aula kantor camat Peusangan Selatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada tenaga  operator desa tentang beberapa aplikasi komputer yang bisa digunakan untuk membantu pihak desa dalam hal  kebutuhan pengolahan data desa, jelasnya.

    Menurut Imam Muslem pelatihan ini dilaksanakan dua gelombang dan dikhususkan bagi operator desa, para tenaga  pelatihan berasal dari Dosen Fikom Universitas Almuslim seperti Dedy Armiady, Zulkifli, Iqbal  dan Sri Winar,M.Kom terang Imam Muslim.

    Menurut Imam Muslim pelatihan ini terus dilakukan pihaknya sesuai permintaan dari beberapa pihak lainnya, baik pihak sekolah maupun dari desa, sebelumnya kami juga sudah melaksanakan pelatihan bagi murid SMK dengan materi desain produk dan desain grafis dengan pemateri T.Rafli yang merupakan tenaga yang bersertifikat kompetensi nasional paparnya.(HUMAS)

     

  • Rakernas Kemenristekdikti 2019 berakhir, ini dia Rekomendasinya

    Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2019 Kemenristekdikti yang digelar di Universitas Diponegoro Semarang,  yang berlangsung  selama dua hari ( 3-4/1/ 2019) telah berakhir dan ditutup secara resmi. Rakernas yang mengambil tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu"Rakernas 2019 menghasilkan rekomendasi yang strategis bagi perumusan kebijakan di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi dalam menghadapi era disrupsi. 

    Adapun  beberapa rumusan kesimpulan kebijakan Kemenristekdikti 2019 antara lain :

    Pembelajaran dan Kemahasiswaan

    a. Penyesuaian sistem dan kurikulum yang diintegrasikan dengan sistem pembelajaran online ataupun blended learning tanpa menambah SKS. Penyesuaian ini termasuk fleksibilitas dalam penerapan model semester atau triwulan.

    b. Penyiapan kebutuhan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki kompetensi dan kemampuan kerja dan sikap kerja (employability) dengan pemberian sertifikasi, peningkatan prestasi kemahasiswaan, dan pemberian pengalaman profesional.

    c. Pembentukan sikap mahasiswa dan lulusan yang toleran, empatik, menghargai ragam budaya, dan cinta tanah air yang perlu diintegrasikan dengan pendidikan anti korupsi dan bela negara dalam kurikuler, kokurikuler, atau ekstra kulikuler.

    d. Pengajuan pembukaan prodi inovatif untuk bidang ilmu yang menjadi prioritas negara, yang saat ini dijamin mudah dan cepat, asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

    e. Kemitraan dengan industri dalam perumusan kurikulum, pelaksanaan teaching industry, program multi entry multi exit system (MEME), dan magang industri, dan penjaminan mutu untuk penyelenggaraan pendidikan vokasi yang bermutu.

     Kelembagaan Iptek dan Dikti

    Perguruan Tinggi harus melakukan :

    1.  Penyesuaian Prodi dan Kurikulum dengan mengintegrasikan literasi baru untuk merespon Revolusi Industri 4.0

    2. Penyiapan diri menyambut beroperasinya perguruan tinggi luar negeri

    3.  Untuk perguruan tinggi vokasi:

    a. Pembuatan rencana revitalisasi yang detil dan komprehensif

    b. Pengimplementasian program MEME

    c. Pembukaan prodi baru kekinian sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri

    4. Lembaga litbang agar meningkatkan akreditasi kelembagaannya

    Sumber Daya Iptek dan Dikti

    1. Relevansi Pengembangan SDM dan Kebutuhan Prioritas Pembangunan

    Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi agar menjadi acuan/pedoman bagi perguruan tinggi dan LPNK dalam mengevaluasi serta mengembangkan program dan kebijakan, baik melalui analisis kebutuhan kualifikasi maupun kompetensi SDM (pendidik, tenaga kependidikan, peneliti, dan perekayasa).

    2. Kebijakan terkait Homebase Dosen

    a. Perguruan tinggi dan LPNK perlu mengevaluasi kualifikasi dan kompetensi SDM (pendidik, tenaga kependidikan, profesional, peneliti, dan perekayasa). Terutama dalam memantau beban kinerja SDM-nya berbasis full time equivalent (Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh/EWMP) yang nantinya diterapkan sebagai dasar rekomendasi pembukaan program studi dan sharing sumber daya manusia, baik pada Pendidikan Tinggi maupun sumber daya manusia dari LPNK, atau lembaga lainnya.

    b. Sistem informasi sumberdaya terintegrasi (Sister)  agar digunakan sebagai sarana monitoring dan evaluasi serta kenaikan pangkat bagi dosen di perguruan tinggi.

    3. Sarana Prasarana Pembelajaran Mutakhir

    a. Perguruan tinggi segera menyiapkan proses pembelajaran model daring dengan memanfaatkan sarana dan prasarana khas era revolusi industri 4.0 (smart class room, augmented reality, artificial intelligence, virtual reality, data analytic, dan 3D printing) yang sifatnya tidak hanya berfokus pada peningkatan akses dan mutu, tetapi juga efisiensi proses pembelajaran.

    b. Perguruan tinggi harus mempersiapkan SDM yang memahami 4 komponen keilmuan: 1) mengubah mindset dan talent; 2) memiliki pemahaman humanity; 3) memiliki kompetensi minimal 4C yang terampil dalam pemanfaatan sarana dan prasarana di era revolusi industri 4.0, dan; 4) memiliki kompetensi teknis praktis yang difasilitasi melalui berbagai program peningkatan kompetensi.

    c. Perguruan tinggi dan LPNK perlu memanfaatkan sumber daya manusia (expert) di tataran praktis seperti pada bidang industri, perbankan, kesehatan, dan bidang lainnya yang selaras dengan kebutuhan program studi atau perguruan tinggi.

    d. Perguruan tinggi dan LPNK perlu mengembangkan resource sharing khas era revolusi Industri 4.0 dan revolusi industri yang lebih tinggi, yang mendukung proses pembelajaran dan penelitian yang dapat mendongkrak potensi ilmu pengetahuan Indonesia.

    4. Rekrutmen Dosen

    Perguruan Tinggi agar menyiapkan skema multi-rekrutmen SDM (dosen, peneliti dan perekayasa) yang sumber dayanya telah disiapkan oleh Kemenristekdikti melalui program beasiswa PMDSU dan LPDP, atau program lainnya.

    Riset dan Pengembangan

    1. Pimpinan perguruan tinggi (PT), L2Dikti, dan LPNK agar lebih meningkatkan kualitas publikasi dengan antara lain mendorong para dosen dan peneliti serta mahasiswa untuk melakukan publikasi pada jurnal yang bereputasi.

    2. Pimpinan PT, L2Dikti, dan LPNK agar memaksimalkan pemanfaatan SINTA untuk berbagai kegiatan di lingkungannya masing-masing.

    3. Pimpinan PT dan lembaga penelitian harus mendorong para peneliti untuk memperhatikan karya ilmiah lain baik dari peneliti dari luar negeri maupun luar negeri untuk menjadi referensi penelitian yang dikembangkan.

    4. Dirjen terkait agar segera menyelesaikan regulasi untuk semakin meningkatkan penggunaan dan pemanfaatan Sinta, baik untuk kepentingan akademis (kenaikan pangkat, renumerasi, dan sebagainya) maupun kepentingan pendukung terkait lainnya.

    5. Pimpinan PT, L2Dikti, dan LPNK agar semakin mendorong para pihak terkait semakin meningkatkan output risbang dalam bentuk KI (seperti Paten, Hak Cipta dan lainnya) dan prototipe lebih dari Technology Readiness Level (TRL).

    6. Pimpinan PT, L2Dikti, dan LPNK agar meningkatkan kerjasama pemanfaatan alat laboratorium dan kerjasama sumberdaya riset dan pengembangan

    7. Pimpinan PT, L2Dikti, dan LPNK agar berkoordinasi dengan unit yang ditugasi dalam menelaah dan mempertajam program dan anggaran risbang berdasarkan Perpres 38/2018.

    Inovasi

    1. Perguruan Tinggi (PT) agar mempersiapkan implementasi RPERMEN Manajemen Inovasi Perguruan Tinggi dengan cara:

    a. Memasukan ke dalam renstra PT

    b. Mempersiapkan sumber daya yang diperlukan

    c. Membangun jejaring dengan partner potensial tersebut di atas

    2. Aktor Inovasi terutama yang merupakan stakeholders Ditjen Penguatan Inovasi (PT, Lembaga Pemerintah Non Kementerian atau LPNK, bisnis dan komunitas) wajib menggunakan Tingkat Kesiapan Inovasi (KATSINOV) sebagai alat ukur produk inovasi dan calon produk inovasi sebagai sarana penentuan kebijakan.

    3.  Para pemangku kepentingan di bidang teknologi wajib untuk berperan aktif dan bersinergi, saling mengontrol dan mengisi untuk membangun Sistem Nasional Audit Teknologi yang mampu mengarahkan bagi terbentuknya Lembaga Auditor Teknologi profesional yang didukung oleh Auditor Teknologi yang kompeten dan bersertifikat, serta mampu membangun dan membina pengembangan kompetensi dan profesionalisme auditor teknologi.

    4. PT, LPNK, bisnis dan komunitas untuk mempercepat tercapainya tujuan negara perlu membangun strategi dan kemauan politik negara yang kuat untuk mengembangkan sistem inovasi nasional dan sistem inovasi daerah melalui:

    a. Penguatan iklim inovasi yang kondusif;

    b. Penguatan sinergi pelaku inovasi;

    c. Penguatan inovasi di badan usaha

    d. Penciptaan pasar produk inovasi;

    e. Pendanaan inovasi;

    5. Penumbuhan budaya inovasi

    6. Pengukuran dan penetapan kapasitas inovasi.

    7. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi perlu menyusun kebijakan, mendampingi, dan memfasilitasi penugasan khusus dalam pengembangan teaching industry di perguruan tinggi dengan rencana  aksi:

    a. Tahun 2019, Blue Print Teaching Industry penugasan khusus bagi perguruan tinggi

    b. Program pengembangan teaching industry, untuk penugasan khusus masuk dalam Renstra Kemenristekdikti dan Renstra setiap Perguruan Tinggi periode 2020 – 2024

    8. Perguruan tinggi agar mengembangkan teaching industry untuk mendukung pengembangan klaster inovasi yang berbasis pada produk unggulan daerah dengan mengingtegrasikan kapasitas dan sumberdaya di perguruan tinggi, baik dalam bentuk start-up maupun dalam bentuk kolaborasi dengan industri dan pemerintah daerah.

    9. Perguruan tinggi agar mendorong pemanfaatan inkubasi teknologi untuk melahirkan start-up unggulan dari hasil penelitian dan pengembangan, melalui pemanfaatan pendanaan riset atau pengabdian masyarakat.

    10. Perguruan Tinggi agar membentuk UNIMART (University Market), sebagai showroom untuk memasarkan produk perguruan tinggi dengan memanfaatkan teknologi digital.

    11. Reformasi Birokrasi

    12. Pimpinan PTN agar melakukan right sizing organisation, memperbaiki proses bisnis organisasi, dan mengurangi jumlah dosen yang menduduki jabatan admisitratif

    13. Pimpinan PTN dan LLDikti agar meningkatkan kualitas pelayanan publik yang ditandai dengan peningkatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).

    14. Pimpinan PTN agar membentuk dan memberdayakan Unit Layanan Terpadu (ULT) sebagai sarana pemberian layanan secara terpusat kepada masyarakat, mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

    15. Pimpinan PTN dan LLDIKTI agar meningkatkan produktivitas dosen (jumlah publikasi) serta meningkatkan utilisasi penggunaan ruangan dan sarana-prasarana bersama.

    Pengawasan Internal Kemenristekdikti

    1. Pimpinan Unit Kerja agar mengoptimalkan Peran Satuan Pengawas Internal sebagai konsultan dan quality assurance di Unit Kerja masing-masing.

    2. Pimpinan Unit Kerja segera melaksanakan Tindak Lanjut Rekomendasi Temuan Hasil Pengawasan Internal dan Eksternal serta melaporkannya kepada Inspektorat Jenderal.

    3. Pimpinan Unit Kerja agar segera melakukan Updating Data Wajib Lapor LHKPN dan melakukan Pelaporan E-LHKPN secara tepat waktu sesuai Permenristekdiki Nomor 43 Tahun 2015.

    4. Pimpinan Unit Kerja agar mencanangkan serta melaksanakan Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK maupun WBBM.

    Rakernas 2019 diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.

    Sumber: Siaran PersKemenristekdikti Nomor  : 3/SP/HM/BKKP/I/2019,

    Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

     

     

  • Ramadhan Plus

     

    DRS. SYARKAWI, M.ED

    Kepala Bapel-KKM Universitas Almuslim Bireuen

    Marhaban Ya Ramadhan! Setiap memasuki bulan Ramadhan ucapan ini hampir saban tahun menghiasi setiap halaman muka media di Aceh, bahkan dunia yang mayoritas penduduknya muslim, juga tidak ketinggalan berbagai baliho dan spanduk yang dipasang sepanjang jalan protokol baik yang dipasang panitia mesjid, pemerintah maupun oleh perusahaan swasta.

    Hadirnya slogan tersebut tentunya berkaitan erat dari isi firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.(Q.S. Al-Baqarah:183).

    Berdasarkan ayat di atas bahwa bagi umat Islam untuk meraih pangkat taqwa tidaklah mudah, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat diperoleh oleh seseorang, asalkan tunduk dan patuh pada “Amar ma’ruf dan nahi munkar”. Tentunya dalam konteks puasa, seseorang harus dilalui oleh suatu proses sehingga ia bisa meraih gelar “taqwa”. Proses yang dimaksudkan di sini ialah proses membuat perencanaan dalam mengisi dan mengatur waktu.

    Sepuluh awal dari Ramadhan sebagai “rahmah”, maka pada fase ini kita diharapkan untuk menjadikan star awal Ramadhan ini untuk bisa berjalan mulus dan sukses demi untuk melempangkan jalan memasuki fase selanjutnya dengan sempurna. Apabila fase ini berjalan tidak tuntas tentunya untuk menjalankan pada fase kedua akan terjadi ketimpangan.

    Ibarat mahasiswa yang sedang kuliah apabila ada mata kuliah semester satu ada yang tidak tuntas tentunya harus menyempatkan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang tertinggal, walaupun dia bisa melanjutkan ke semester selanjutnya, tetapi masih belum tuntas dan sempurna.

    Lalu sepuluh di pertengahan sebagai “maghfirah” yaitu keampunan yang diberikan Allah merupakan suatu hal yang sangat diharapkan, karena tanpa keampunan-Nya, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hal ini tentunya kita harus benar-benar bertaubat kepada Allah swt sebagai “Taubatan Nashuha”.

    Rahmad dan maghfirah dua hal yang sangat mulia disusuli dengan sepuluh akhir dari Ramadhan, yaitu “itqun minan naar”, yang sungguh luar biasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya bagi yang melaksanakan ibadah puasa dan mengisi Ramadhan ini dengan berbagai kebijakan. Pantaslah Allah menjuluki orang-orang seperti ini sebagai orang-oarang yang bertaqwa.

    Ibadah-ibadah sunat yang sebelum ini jarang kita lakukan, maka pada kesempatan ini kita tekuni dengan setekun-tekunnya. Ibarat petani, maka sepuluh akhir dari Ramadhan merupakan panen raya yang penuh berkah. Ibarat bahtera besar, penumpang harus mengisinya dengan barang-barang berharga.

    Ibarat orang di perantauan, akan membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Dan ibarat investor akan menginvestasikan harta kekayaannya, agar kelak mendapat keuntungan di hari nanti.

    Oleh karena itu seorang mukmin sejati, di kesempatan yang mulia ini harus memperbanyak lagi membaca al-Quran, bacaan shalawat, zikir, tahmid, tasbih dan memperbanyak sedekah dan shalat tahajjud, dengan harapan memperoleh lailatul qadar. Karena Rasulullah saw sangat tekun menghidupkan malam-malam sepuluh akhir dari Ramadhan. Sayyidah Aisyah r.a pernah berkatan, “Rasulullah saw apabila telah masuk (sepuluh malam yang terakhir) beliau hidupkan malam-malam itu, membangunkan keluarganya dan mempererat (tidak mencampuri isteri-isterinya)” (H.R Bukhari dan muslim).

    Berdasarkan hadist di atas menginspirasikan kita betapa Rasullullah saw yang sudah ada jaminan masuk syurga, akan tetapi begitu antusias menggunakan kesempatan malam-malam terakhir ini untuk bermunajad kepada Allah swt. Hal ini menyiratkan kepada kita secara filosofis betapa besar hikmah yang Allah anugerahkan kepada umat Muhammad saw. Dan betapa ruginya kita sekiranya tidak memanfaatkan kesempatan emas dalam kehidupan ini.

    Ramadhan akan melambaikan tangannya meninggalkan kita. Jika kita masih diberikan umur panjang, mungkin tahun-tahum selanjutnya akan berjumpa lagi. Atau barangkali Ramadhan ini adalah Ramadhan pemungkas dan perpisahan dengan kita. Maka sisa hanya beberapa hari lagi, tidak ada jalan lain kecuali kita penuhi hari dan malamnya dengan mengabdi kepada Allah sembari merenungi dan mengevaluasi diri, mengintropeksi serta merefleksi apa dan sejauh mana ibadah-ibadah yang sudah kita lakukan, termasuk bila dosa-dosa apa yang pernah kita lakukan.

    Lailatul Qadar

    Jumbur ulama berpendapat bahwa lailatul qadar turun pada tanggal-tanggal ganjil setelah masuk pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 21,23,25,27 dan 29. Kecuali itu yang terbanyak pada 27 Ramadhan, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya “Barang siapa yang mencari (mengharapkan) lailatul qadar, maka carilah ia pada malam tanggal 27 (Ramadhan)”. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Umar).

    Hikmah mengapa lailatul qadar tidak bisa ditentukan malamnya dengan pasti. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam pada bulan Ramadhan, mulai dari awal sampai akhir dapat tekun dan giat beribadah, dengan harapan ibadahnya itu bertepatan dengan lailatul qadar yaitu suatu malam yang sangat mulia dan agung dimana ibadahnya itu lebih baik daripada seribu malam (83 tahun 4 bulan).

    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala sesuatu. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

    Syawal tiba

    Jika Ramadhan telah kita jalani dengan sukses dan sempurna, yaitu dengan menikmati “Rahmah” di sepuluh awal Ramadhan, dengan memperoleh “maghfirah” di sepuluh pertengahan dan dengan meraih “`itqun minan naar” serta dengan bertatahkan “taqwa”, maka memasuki 1 Syawal layaklah diberi ucapan “minal `aidin wal faizin”. Semoga termasuk (golongan) orang-orang yang kembali kepada fitrah (tanpa dosa) dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan.

    Sehubungan dengan datangnya hari raya Idul Fitri, kita diwajibkan membayar zakat fitrah bagi dirinya, anak dan istrinya serta untuk orang-orang yang menjadi tanggungan kita. Dan bila mana telah tiba dan kita melaksanakan shalat Idul Fitri, dimana sebelumnya hendaklah mandi terlebih dahulu, kemudian berpakaian yang rapi dan memakai wangi-wangian serta agar makan-minum walau hanya sedikit.

    Hal yang perlu diperhatikan dalam merayakan hari raya Idul Fitri, janganlah berlomba-lomba di dalam kemewahan. Pamer pakaian yang serba mewah dan mahal. Karena hari raya diperuntukkan kepada orang-orang yang bertambah taqwanya. Sebagaimana sabda Rasulullah “bukanlah Hari Raya itu untuk orang yang berpakaian baru, akan tetapi Hari Raya itu bagi orang yang taqwanya bertambah”.

    Ramadhan plus

    Idealnya orang yang berpuasa dan mendirikan (melaksanakan shalatnya pada malam lailatul qadar) karena keimanan yang teguh mengharapkan pahala dari Allah, dan mendapat keampunan-Nya, Allah menganugerahi taqwa. Sementara di hari fitri dengan kesucian dari noda dan dosa karena telah menjalani puasa, maka Allah memperuntukkan hari raya itu untuk orang-orang taqwanya semakin bertambah.

    Ini artinya taqwa yang sudah diperoleh di bulan Ramadhan, memasuki bulan syawal, taqwa itu semakin kuat dan konsisten. Apalagi bila diiringi dengan puasa syawal maka Allah akan memberikan ganjaran yang banyak. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Barang siapa yang berpuasa pada bulan bulan Ramadhan kemudian diiringi puasa enam hari di bulan syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun”.(H.R. Muslim dan lainnya dari Abu Ayyub Al-Anshari).

    Taqwa itu suatu yang sangat berharga dalam pandangan Allah, karena taraf dan derajat manusia ternyata terdapat pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Dan Allah sangat mengapresiasikan hamba-Nya.

    Sungguh taqwa itu sesuatu yang sangat bernilai bagi seseorang dalam pandangan Allah. Karena taraf dan derajat manusia ternyata terletak pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Sebagaimana pengakuan Allah swt dengan firman-Nya” sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepadaNya.”(Q.S. Al-Hujarat:13).

    Taqwa itu mengacu pada konsep/kaedah mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka siapa saja yang tunduk dan patuh kepada perintah dalam bentuk apapun dan sanggup meninggalkan berbagai bentuk larangan dan bahkan syubhat sekalipun mampu ditinggalkan, maka di situlah telah nilai esensial yang dimiliki. Taqwa di hati siapa pun, laki-laki atau perempuan, tua atau pun muda, yang mengarah kepada “ibadah mukaramun, Laa yaa’shunallaha fima amarahum wa yaf’aluna maa yu’maruun”.

     

    Berita  ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 06/05/2019 di Rubrik OPINI dengan judul Ramadhan Plus.

     

     

     

  • Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Sale di Lhokseumawe

     

    OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim 

    Pada awal Lebaran Idulfitri yang lalu, tiba-tiba ke handphone saya masuk satu pesan WhatsApp (WA) dari teman kuliah semasa di Medan dulu. Isinya dia ucapkan selamat Idulfitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin. Kemudian, di akhir kalimatnya ia tambahi pesan: Kalau ke Medan jangan lupa oleh-oleh pisang sale Lhokseumawe ya?

    Membaca pesan tersebut saya langsung terkenang pada nostalgia puluhan tahun lalu, karena sejak menyelesaikan kuliah kami jarang bertemu, padahal sebelumnya saya sering menghadiahinya pisang salai, orang Aceh menyebutkan pisang sale, lalu dengan penuh kegembiraan saya jawab permohonan teman saya tadi dengan “Insyaallah”.

    Sahabat saya tadi teringat pada oleh-oleh pisang salai Lhokseumawe, tapi sebetulnya bukan produk Lhokseumawe, melainkan produk Lhok Nibong di Aceh Timur. Semasa kuliah dulu, saat saya kembali ke Medan sepulang liburan dari Aceh, sebagai oleh-oleh untuk teman sering saya bawa pisang salai yang saya beli di Lhokseumawe. Tapi sekali lagi, pisang yang diasapi ini diproduksi di Lhok Nibong, bukan di Lhokseumawe.

    Pisang salai merupakan salah satu cemilan khas Aceh. Warnanya cokelat dan agak kehitaman karena diproses dengan cara dijemur setelah dikupas, lalu diasapi. Bahan baku untuk membuat cemilan ini adalah pisang, bercita rasa manis, legit, dan aman untuk konsumsi.

    Setelah beberapa hari menerima pesan WA, sambil bersilaturahmi ke Bireuen, saya mencari pisang salai di seputaran terminal bus, karena dulu selain di Lhokseumawe, saya juga sering beli pisang salai di Bireuen. Setelah bertanya ke sejumlah kios, ternyata barangnya tak ada, karena semua kios tidak lagi menjual pisang salai. Yang banyak dijual justru keripik pisang, keripik ubi, atau keripik sukun made in Bireuen.

    Kemudian saya coba ke tempat jualan keripik arah timur Kota Bireuen seputaran Stadion Cot Gapu, hasilnya sama. Lalu, ada warga yang mengarahkan saya ke tempat jualan keripik arah barat Kota Bireuen, eh, hasilnya juga sama. Tak ada lagi orang berjualan pisang salai di Kota Keripik dan Kota Satai ini.

    Informasi dari seorang pedagang, sejak konflik bersenjata di Aceh tahun ‘90-an, sudah jarang ada pemasok pisang salai ke kedai mereka.

    Saya juga teringat cerita seorang teman pada Ramadhan lalu yang mencari pisang salai di Bireuen untuk oleh-oleh tamunya dari Jakarta. Lelah dia cari tetapi pisang yang diinginkan tetap tak ada, sehingga terpaksa dia pesan ke Lhok Nibong, Aceh Timur, baru ada.

    Saya pun akhirnya coba menghubungi seorang saudara di Lhokseumawe untuk mencari pisang salai, karena dulu kota di Lhokseumawe, khususnya di kawasan terminal, sangat banyak orang yang berjualan pisang salai. Ternyata di bekas kota petrodolar tersebut hanya dua orang yang penjual pisang salai, tapi tak jadi kami beli karena kualitasnya kurang legit. Stoknya juga agak terbatas, mungkin sisa produksi beberapa minggu lalu, sebelum Lebaran.

    Padahal dulu, saat jaya-jayanya perusahaan gas, geliat terminal Kota Lhokseumawe begitu semarak dengan penjual pisang salai. Pokoknya, kalau kita naik bus malam, saat tiba di Terminal Lhokseumawe, walaupun pencahayaan lampu terminal agak remang-remang, tetapi kita langsung tahu bahwa kita sudah tiba di Terminal Lhokseumawe, karena di terminal itu begitu ramai dan semaraknya suara penjaja pisang salai.

    Tanpa menghiraukan risiko, mereka menenteng pisang salai di tangan, berebut bergantungan naik ke bus. Pemandangan ini persis sama dengan penjaja makanan ringan kalau kita naik kereta api di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dan beberapa terminal di Pulau Jawa.

    Sesampai di dalam bus, mereka sangat cekatan menjajakan cemilan khas Lhok Nibong itu kepada penumpang. Dari mulut mereka tak henti-hentinya keluar teriakan, “Sale...sale..sale...ambil satu dua ribu, kalau ambil tiga cukup lima ribe.”

    Bahkan di dalam bus terkadang lebih banyak penjaja makanan daripada penumpang, pokoknya kegaduhan dalam bus, begitu semarak dengan banyaknya pedagang pisang sale menjajakan jualannya, kadang suara  tawaran penjual pisang sale beriringan dengan tangisan  bayi dalam pelukan ibunya, kalah jauh dengan suara penjaja ranub..ranub, telor puyuh dan aqua. 

    Itulah sepenggal nostalgia yang pernah terjadi di Terminal Lhoksemawe tentang begitu semaraknya suasana dengan tingkah polah dan gaya para pedagang pisang salai.

    Suasana seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi di Terminal Lhokseumawe, tetapi juga di Terminal Bireuen, Lhoksukon, dan Pantonlabu, tetapi di tiga terminal tersebut jumlah pedagangnya agak sedikit dibandingkan di Terminal Lhokseumawe.

    Namun, nostalgia kesemarakan celoteh penjaja pisang salai di terminal, kini hanya tinggal kenangan, suasana masa lalu mulai redup, seiring dengan redupnya api gas alam LNG Arun serta hilangnya sentuhan embusan pembinaan bara api pengasapan di sentra produksi Lhok Nibong.

    Awal meredupnya kiprah penjaja pisang salai di terminal bus–seperti saya singgung di awal tadi--dimulai pada saat Aceh dilanda konflik. Saat itu masyarakat mulai jarang memanfaatkan bus malam untuk perjalanan jauh. Bersamaan dengan kondisi itu pula pasokan pisang salai dari sentranya di Lhok Nibong dan Pantonlabu berkurang, hal ini karena kawasan sentra pisang salai merupakan kawasan yang eskalasi konfliknya tinggi. Kawasannya termasuk ke dalam kategori “daerah merah” konflik.

    Padahal , era ‘80-an pisang salai terkenal sebagai salah satu oleh-oleh khas, baik bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh. Selain dijual dalam bentuk curah (dalam bentuk kiloan) pisang salai juga ada yang di-packing dengan desain kotak yang menarik dan dijual sampai ke Banda Aceh.

    Sekarang malah sudah ada produksi pisang salai di Banda Aceh, tapi rasa dan legitnya tentu beda dengan produksi tradisional di Lhok Nibong, tempat awal mula produksi cemilan ini.

    Selain alasan konflik, saya tak tahu persis kenapa oleh-oleh hasil produksi penduduk yang mendiami aliran Krueng Arakundo ini bisa menghilang di beberapa kawasan, seperti di Terminal Bireuen, Lhokseumawe, dan kota kecamatan lainnya? Kalau benar semata-mata konflik penyebabnya, mestinya pisang salai kini sudah banyak lagi diperdagangkan karena Aceh sudah damai sejak 14 tahun lalu

    Nah, perlu ditelisik apakah penyebab langkanya pisang salai kini di pasaran karena bahan bakunya tak ada lagi ataupun tenaga ahlinya sudah uzur, sedangkan generasi muda tidak tertarik menekuni usaha ini? Atau bisa jadi biaya produksinya terlalu tinggi karena prosesnya memakan waktu lama sehingga tidak sesuai dengan omset penjualan?

    Pemerintah, melalui instansi terkait, perlu melakukan pembinaan kontinyu terhadap home industry yang pernah tenar namanya ini sebagai penghasil oleh-oleh khas daerah. 

    Sangat disayangkan di saat orang sedang semangatnya memproduksi, dan mentradisikan berbagai makanan tradisionil sebagai oleh-oleh  khas daerah,  disaat itu pula pisang sale Lhok Nibong  yang pernah mencuhu dan berasap keluar daerah  semakin sulit di dapat di pasaran.

    Sudah selayaknya kita produksi kembali pisang salai dalam jumlah besar, karena jenis makanan ini sudah langka, susah didapat di pasar, sedangkan peminatnya saya yakin masih banyak. Oleh karenanya, warisan ini perlu dilestarikan, produsen pisang salai perlu diberdayakan, dan produksinya jangan sampai hilang di pasaran.

    Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sepenggal lagu yang pernah populer dinyanyikan anak-anak pada era ‘80-an dulu: Pisang sale, hai Cut, mangat-mangat. Saboh tapajoh meurasa troe pruet....

    Akhirnya, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin

     

    Cerita ini pernah tanyang di https://aceh.tribunnews.com tanggal 17/06/2019/dengan judul Redupnya celoteh penjaja pisang salai di Lhokseumawe

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Rektor sambut kepulangan Tim debat bahasa Inggris dari Surabaya

     

    Tim debat bahasa Inggris mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) yang mengikuti National University Debating Champhionship (NUDC) di Universitas Airlangga Surabaya, kembali dengan selamat, penyambutan kepulangan tim debat  dilakukan Rektor bersama civitas akademika dalam satu acara  berlangsung di Auditorium Academic Centre (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Rabu, (24/7/2019)sore.

    Berdasarkan  informasi yang dirilis melalui Website panitia NUDC 2019,  adapun peringkat yang diperoleh beberapa Universitas dari Aceh berdasarkan jumlah nilai adalah Universitas Almuslim peringkat 26, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh peringkat 37 dan Universitas Malikusaleh pada peringkat 64.

    Rektor Umuslim  Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi saat penyambutan memberikan apresiasi yang tinggi atas perjuangan mahasiswa yang tergabung dalam tim debat dan sukses di tingkat nasional, prestasi yang telah diperoleh  tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kesabaran, Alhamdulillah tim dari Umuslim merupakan  satu-satunya perguruan Tinggi dari Aceh yang lolos kedalam 30 besar nasional.

    Proses perjalanan yang mengantarkan tim debat bahasa Inggris Umuslim ke tingkat nasional setelah menduduki peringkat kedua pada perlombaan tingkat Provinsi Aceh, kemudian di tingkat nasional setelah  beberapa preliminary rounds, Umuslim  berhasil masuk Main draw breaking yaitu  termasuk kedalam 30 besar dari 145 Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dari seluruh Indonesia yang mengikuti ajang tersebut, Umuslim  satu-satunya Perguruan Tinggi dari Aceh yang berhasil masuk 30 besar nasional.

    Adapun peserta tim debat bahasa inggris dari Universitas Almuslim yang tampil pada ajang National University Debating Champhionship (NUDC) yang berlangsung di Universitas Airlangga Surabaya adalah Azzura Mayyasyi (prodi Hubungan Internasional), Nafsul Mutmainnah (Prodi bahasa Inggris), Ahsani Taqwin (prodi Hubungan Internasional), pendamping Ratna Walis (HUMAS)

     

  • Rektor Umuslim kukuhkan tiga pejabat struktural

     

     

    Peusangan-Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi bertempat di ruang rapat Ampon Chiek Peusangan kampus setempat mengukuhkan tiga pejabat struktural dalam lingkup universitas tersebut, Rabu (8/7) sore.

    Adapun pejabat yang dilantik Dra.Zahara,MPd sebagai wakil rektor (warek) II bidang administrasi umum dan keuangan, mengantikan Drs.Ilyas Ismail,M.AP yang telah mejabat Dekan Fisipol, kemudian Zulkifli,M.Kom dikukuhkan pada jabatan baru sebagai kabag Humas dan Kemahasiswaan, jabatan tersebut merupakan jabatan baru karena disatukannya bidang kemahasiswaan dan humas.

    Pejabat lama kabag kemahasiswaan Rahmad,M.AP menjadi ka UPT Perpustakaan dan Arsip mengantikan pejabat lama Marzuki,M.Pd dikembalikan sebagai dosen. 

    Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi dalam arahannya menyampaikan, pengukuhan merupakan hal biasa, ini merupakan kebutuhan dan penyesuaian struktur organisasi sesuai statuta dan perkembangan universitas,  Jabatan wakil rektor IV bidang kerjasama dan humas  di hapus, sehingga sekarang umuslim hanya mempunyai tiga wakil rektor.

    Kepada pejabat baru yang dilantik, Rektor mengingatkan bahwa  tugas baru ini merupakan PR yang berat, teruslah meningkatkan kinerja, melaksanakan tugas pengabdian dengan ikhlas,tetap memperhatikan penghematan dan efisiensi, sambil  memperbaiki setiap  kekurangan dan kesalahan, tidak saling menyalahkan, setiap saat kami akan terus mengevaluasi kinerja dan produktivitas karyawan dan dosen, ungkap H.Amiruddin Idris.

    Kemudian pada kesempatan tersebut Ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri Abdullah,S.Sos  menyampaikan, agar seluruh Civitas akademika tetap mengobarkan  semangat pantang mundur, jangan pesimis, teruslah mengabdi dengan penuh keikhlasan dalam memajukan universitas, apalagi dengan kondisi dan tantangan yang cukup berat saat ini, jelas  H.Yusri Abdullah.

    Kami mendukung  kebijakan yang dilakukan Rektor beserta jajaran dalam penataan dan perampingan  beberapa jabatan serta melakukan penghematan dan efisiensi  sesuai kebutuhan dan perkembangan institusi.

    Terima kasih kepada Rektor beserta seluruh civitas akademika atas pengabdian dan kebersamaan, sehingga universitas almuslim ditetapkan  salah satu PTS terbaik di lingkup LLDikti wilayah XIII Aceh, ungkap H.Yusri Abdullah.

    Acara pengukuhan turut dihadiri Wakil rektor, Dekan, Wakil dekan,ka.Biro, ka UPT dan kabag dalam lingkup universitas almuslim (Humas dan kemasiswaan)

     

     

    Ket Foto : Pejabat yang dilantik didampingi Rektor dan ketua Yayasan Almuslim Peusangan

    Sumber foto : Hery Gustami

  • Rektor Umuslim tutup Acara Kaneut

    Peusangan- Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  menutup secara resmi acara Kaneut (Kreativitas aneuk teknik) fakultas teknik Sipil  umuslim di Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus umuslim, Selasa (26/3).

    Menurut ketua panitia Oriza Alfandy, Kaneut merupakan  program tahunan mahasiswa teknik sipil umuslim  bertujuan untuk pengembangan aktivitas kemahasiswaan,  wahana  silaturrahmi dan sharing pendapat antara mahasiswa, civitas akademika fakultas teknik dan para alumninya.

    Rektor umuslim H.Amiruddin Idris saat penutupan kegiatan memberikan apresiasi tinggi atas kegiatan yang digelar mahasiswa fakultas teknik, menurutnya kegiatan ini selain menumbuhkan semangat kreativitas dikalangan mahasiswa juga dapat mempererat silaturahmi  antara civitas akademika, alumni dan mahasiswa

    Panitia  mengelar berbagai lomba yang diikuti  mahasiswa dan siswa  SLTA, berlangsung sejak tanggal 23 -26 maret 2019, Adapun pemenang lomba antara lain  lomba futsal tingkat SLTA juara I SMAN 2 Bireuen, Juara 2 SMAN 1 Gandapura dan stop score Zuri, untuk Futsal tingkat Mahasiswa Juara I Politeknik Lhokseumawe, juara 2 UKM LPM desa, top score Andre Maireza. Bidang AutoCad, juara I Handri (Politeknik Lhokseumawe), Juara 2 Ichsan (Unimal).

    Acara ditutup dengan penyerahan hadiah bagi pemenang lomba dan juga diserahkan santunan untuk anak yatim dari beberapa sekolah sekitar kampus.(Humas)

     

  • RSS

  • RSS

  • Rujak Manis Kuta Blang warisan pak Guru yang perlu di pertahankan

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen

     Kuta Blang merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Jaraknya ± 15 km dari ibu kota kabupaten dan dapat ditempuh dalam waktu ± 20 menit. Kecamatan Kuta Blang memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selain dari hasil pertanian, perkebunan, juga perdagangan berupa unit usaha home industry. Salah satunya adalah usaha kuliner.

    Dalam rangka mengisi waktu di bulan Ramadhan tahun ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, Chairul Bariah, dan suaminya sepakat ngabuburit ke Kuta Blang dan singgah di salah satu usaha kuliner yang terkenal dan telah menjadi buah bibir masyarakat, baik yang tinggal di Bireuen maupun pendatang dari daerah lain. Kuliner dimaksud adalah rujak manis yang dalam bahasa Aceh disebut lincah. Rujak manis ini berbeda dengan rujakbiasa yang buah-buahannya dipotong-potong lalu dilumuri manisan campur kacang. Sedangkan rujak manis khas Kuta Blang ini buah-buahannya diparut atau dicincang halus. Cara mengonsumsinya dengan diminum, sisanya baru disendok untuk dikunyah dan ditelan.

    Lokasi penjualan rujak manis tersebut hanya berkisar 10 meter dari ujung jembatan Kuta Blang ke arah kanan menuju daerah Peusangan Siblah Krueng. Berikut ini Chairul Bariah akan menukilkan tentang rujak manis Kuta Blang secara panjang lebar.

    Sebelum puasa Ramadhan sempat kami perbincangkan dengan beberap kolega di kantor tentang resep rujak yang menggiurkan itu. Padahal, di Kuta Blang bahkan tempat lain di seputaran Bireuen banyak yang menjual rujak sejenis, tetapi rujak Pak Guru ini memang beda dan tetap jadi idola para penyuka lincah. Alhamdulillah, saya bertemu langsung dan berbincang dengan anak kandung pemilik usaharujak manis yang diberi label “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” ini. Namanya Muhammad Taufik (17). Dia menuturkan bahwa ayahnya sudah meninggal setahun lalu, tepatnya menjelang Ramadhan. Ibunya bernama Erlida adalah guru PNS di MIN Pulo Siron Kuta Blang yang dulu setia mendampingi sang suami berjualan rujak manis.

    Sebagai anak tertua dan satu-satunya pria dari empat bersaudara, saat ini Taufiklah yang mengelola dan melanjutkan usaha keluarga tersebut. Bisnis rujak manis ini telah dimulai sejak tahun 1974. Lokasinya pun sama seperti sekarang, hanya saja sekarang kawasan ini sudah ditimbun sehingga terlihat lebih tinggi dari arah sungai. Saat saya tanya-tanya tentang ayahnya yang merintis usaha tersebut, tiba-tiba Taufik menunduk dan suaranya mulai parau dan matanya berkaca-kaca saat berkata, ”Saya rindu bersama ayah dan keluarga, namun semua tinggal kenangan.”

    Tanpa sadar saya pun ikut menitikkan air mata. Nama usaha “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” itu ditabalkan karena semasa hidup si empunya usaha, yakni Pal Jakfar, merupakan seorang guru. Tepatnya guru PNS di SD Negeri 8 Kuta Blang. Seyogianya beliau akan pensiun dua tahun lagi. “Tapi sudah sepuluh tahun ayah sakit, sudah berobat di dalam dan luar negeri, namun Allah lebih sayang pada ayah dan memanggilnya untuk kembali. Kami ikhlas,” katanya sembari berdoa, “semoga ayah ditempatkan di surga-Nya.” Kali ini Muhammad Taufik tampak menyeka matanya yang mulai berair.

    Dalam suasana perbincangan yang mengharukan, tiba-tiba pemuda yang masih duduk di kelas 2 MAN Peusangan ini bangkit dari duduknya dan berusaha tersenyum. Ia pun berkata lirih, “Hidup ini harus kita lanjutkan.” Akhirnya saya pun bersemangat untuk melanjutkan diskusi dengannya. Menurut Taufik, untuk meneruskan usaha tersebut dia sudah mendapatkan resep warisan dari almarhum ayahnya. Hal ini dilakukannya demi untuk menjaga kenikmatan dan kelezatan rasa rujak sesuai dengan olahan tatkala orang tuanya yang meracik.

    Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat rujak manis ini adalah mentimun, nanas, mangga, sawo, embacang (Mangifera foetida), dan beberapa buah-buahan manis lainnya. Kemudian diramu sesuai resep peninggalan orang tuanya. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, buah-buahan yang dicincang sebagai bahan dasar rujak haruslah yang berkualitas. Misalnya mangga, haruslah mangga yang manis dan berwarna kuning. Begitu juga dengan nanas, sawo, dan buah lainnya. Seluruh bahan tersebut sebelum diolah dicuci bersih, lalu dikupas, dicincang, dan diletakkan pada wadah yang tersedia, kemudian dicampur dengan sari gula asli yang dicairkan, ditambah sedikit cabai rawit yang dihaluskan, lalu diaduk dengan air.

    Untuk menjaga agar airnya jangan terlalu banyak dan lebih nikmat, dapat ditambahkan es batu atau hasil racikan tadi dimasukkan ke dalam kulkas. Menurut Taufik, pada hari biasa dia butuh 300 kg buah dan 50 kg gula pasir untuk menghasilkan rujak manis. Sedangkan pada bulan Ramadhan kalau cuaca panas menyengat dalam sehari dia bisa menghabiskan 150 kg gula pasir, timun satu ton untuk dua hari ditambah buah lainnya.

    Dalam menjalankan usaha warisan tersebut pada bulan Ramadhan ini Taufik dibantu oleh lima karyawan yang mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB. Tapi kalau pada hari biasa pekerjanya cukup tiga orang saja dan mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB. Usaha ini pada hari biasa dibuka mulai pukul 10.00-18.00 WIB, sedangkan pada bulan Ramadhan dimulai setelah shalat Asar sampai menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.30 WIB.

    Menurut Taufik, harga rujak tersebut per gelas adalah Rp 5.000. Sedangkan yang sudah dikemas dalam plastik harganya Rp 10.000. Harga ini bertahan sudah cukup lama walaupun harga bahan naik, apalagi pada bulan Ramadhan harga bahan mahal dan susah didapat, tapi sudah ada langganan atau pemasok dari seputaran Bireuen yang siap sedia menyuplai buah-buahan yang berkualitas kepada Taufik.

    Usaha rujak manis ini juga menerima pesanan untuk acara pesta atau kenduri dengan harga satu dandang ukuran kecil Rp 1.000.000, yang sedang Rp 1.500.000, dan yang besar Rp 2.000.000. Rujak manis ini banyak juga dipesan oleh instansi pemerintah dan swasta. Menurut M Rifal, karyawan yang bekerja pada usaha rujak manis ini, omset yang diperoleh per hari, “Alhamdulillah, lumayan.” Pokoknya dari hasil penjualan rujak ini, sang pemilik usaha mampu membeli tanah, membangun rumah, dan mampu membayar gaji para karyawannya.

    Di bawah pengelolaan putra sulung Pak Guru, rujak manis Kuta Blang terus memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cita rasa yang tak berbeda dengan racikan almarhum sang ayah. Semoga Muhammad Taufik dapat terus melanjutkan warisan kuliner yang telah sangat terkenal dan terus berinovasi dengan memperkenalkan produknya melalui media iklan dan berbagai varian produk lainnya, dengan harapan usaha ini mampu mengantarkan dirinya dan ketiga adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Menurut Taufik, usaha rujak manis Pak Guru Kuta Blang belum pernah membuka cabang di mana pun, walaupun sering kita lihat di tempat lain ada orang yang menempelkan spanduk atau poster dengan tulisan Rujak Manis Kuta Blang. “Tapi itu bukan cabang kami,” tegas Taufik. Ketika ditanya apa ada rencana buka cabang, Taufik menjawab, “Nantilah kita lihat dulu.”

    Tangan Taufik terus mengaduk-aduk rujak dalam dandang besar, sedangkan karyawannya sibuk mengemasnya dalam plastik dan siap untuk di jual. “Doakan ya Bu semoga usaha ini bisa bertahan sehingga nanti saya bisa kembangkan usaha dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar karena bagi saya orang yang sukses adalah orang yang mampu membawa orang lain dalam suksesnya,” ujar Taufik.

    Pada hari itu selain kami ada juga para pelanggan yang telah lama menunggu giliran untuk membeli rujak yang kaya vitamin C ini. Mereka hendak membeli rujak manis racikan Taufik. Selama bulan puasa ini banyak pula kendaraan umum yang membawa rombongan berhenti di sini, lalu para penumpang membeli rujak manis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

    Akhirnya saya pun tiba di rumah dan segera berwuduk untuk melaksanakan shalat Asar, kemudian memasak untuk mempersiapkan menu berbuka puasa bagi suami dan anak, setelah itu menghidangkannya di atas meja. Waktu yang ditunggu pun tiba, terdengar suara sirine dari meunasah pertanda waktu berbuka. Setelah berdoa, saya raih gelas berisi rujak manis yang dari tadi sudah menggoda untuk direguk.

    Alhamdulillah, rujak manis Kuta Blang ternyata memang nikmat dan mampu meningkatkan stamina. Hilang sudah rasa lelah dan dahaga saya, serta bersemangat mengikuti shalat Tarawih. Pantas di mana pun berada rujak manis Kuta Balang tetap dicari pelanggan sehingga perlu dilestarikan. Ini salah satu kekayaan kuliner khas Aceh.

    Cerita ini pernah tanyang di http//:Aceh Tribunnews tanggal 20/05/2019 dengan judul Ini rujak warisan pak guru.