Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Mahasiswa sosilisasi dampak peptisida kimia

     

    Sejumlah mahasiswa dan dosen dari prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan melakukan sosialisasi dampak penggunaan peptisida kimia terhadap lingkungan  kepada masyarakat di desa Kubu kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Sabtu (7/12/2019).

    Menurut ketua prodi Agribisnis Fakultas pertanian Umuslim Elfiana, SP.,M.Si, kegiatan pengabdian yang dilakukan sejumlah mahasiswa dan dosen sebagai tuntutan peksanakan tri darma perguruan tinggi, yang bertujuan memberi pemahaman kepada masyarakat untuk mengetahui bahwa penggunaan pestisida kimia secara berlebihan dapat merusak lingkungan terutama unsur hara yang ada di dalam tanah.

    Kegiatan yang diikuti sebanyak 23 orang masayarakat petani ini juga sebagai ajang bagi mahasiswa guna melatih kemampuannya untuk berani tampil di depan masyarakat dalam hal program penyuluhan , ujar Elfiana. (HUMAS)

  • Mahasiswa Umuslim Ikut Asean Youth Assembly (AYA) di Surabaya

     

     Peusangan-Muhammad Achdan Tharis, mahasiswa Program Studi  Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Almuslim (FISIP Umuslim) terpilih mengikuti pertemuan Asean youth Assembly (AYA) 2019 di Surabaya.

    Asean Youth Assembly adalah sebuah wadah tempat berkumpulnya pemuda-pemuda Asean yang dilaksanakan oleh AMSA (Asean Muslim Student Association). Program yang  bertemakan “Creating the Virtuos Asean with Youth’s Wisdom”, dilaksanakan di Surabaya tepatnya di Greensa Inn Sunan Ampel Sidoarjo, 26-29 April 2019. 

    Asean Youth Assembly merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh AMSA. Acara ini dilakukan dengan tujuan untuk menerima ide-ide serta aspirasi dari pemuda Asean di era millenial, juga membentuk pemuda Asean yang berbudi pekerti luhur untuk lebih sadar akan isu yang terjadidi Asean, memiliki sifat kepemimpinan dan pembuat keputusan yang baik, serta mampu untuk berpikir kritis dalam membuat regulasi yang bertujuan nantinya dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, khususnya di negara Asean. Sesuai dengan amanah presiden AMSA, ide-ide dan regulasi yang dibuat oleh pemuda Asean nantinya akan diajukan kepada organisasi pemerintah dan non-pemerintah seperti kemenlu, kemenpora, serta LSM hingga akhirnya diterima dan direvisi oleh Asean sendiri.

    Kegiatan yang dihadiri oleh 50 peserta dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi  yang tergabung dalam  Negara ASEAN seperti  Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam berlangsung penuh nuansa persahabatan.

    Menurut laporan Muhammad Achdan Tharis,  acara diawali dengan kegiatan seminar dalam bidang lingkungan, pendidikan, ekonomi, politik, kepemimpinan, Public Speaking, dan beberapa isu global lainnya. seminar ini  disampaikan oleh beberapa narasumber utama dari berbagai organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah, seperti WWF, Kementrian LuarNegeri (Kemenlu), Kementrian Pemudadan Olahraga (Kemenpora) dan beberapa aktivis lainnya yang berasal dari berbagai negara  di ASEAN. 

    Dengan seminar ini dimaksudkan untuk membekali pemuda-pemuda ASEAN khususnya yang menjadi delegasi acara ini untuk lebih sadar akan masalah atau isu yang terjadi di Asean serta lebih kritis dalam mengambil keputusan dan melakukan advokasi regulasi nantinya di negara masing-masing.

     Dalam pertemuan tersebut juga diisi dengan kegiatan diskusi antar delegasi, yang telah dilakukan  pembagian divisi diskusi oleh Presiden AMSA dalam 5 kelompok divisi. Kelima kelompok ini disesuaikan dengan tujuan Asean Chapter, yaitu Welfare (Kesejahteraan), Economy (Ekonomi), Education (Pendidikan), Security (Keamanan), dan Dakwah dengan isu Humanity (Kemanusiaan). 

    Achdan Tharis yang merupakan  mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Almuslim,  merasa sangat beruntung, karena  untuk mengikuti kegiatan ini tidaklah mudah karena harus mengikuti seleksi yang dilakukan oleh panitia penyelenggara. “Saya beruntung dapat terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia di Event Internasional ini,” ungkap  Achdan terharu. 

    “Saya sangat senang dan bahagia bisa terpilih mengikuti program ini, karena saya banyak mendapatkan pengalaman dan bisa bertemu dengan banyak tokoh baik nasional maupun asean,semoga apa yang saya dapatkan bisa saya implementasikan bagi orang banyak, khususnya di Aceh,” ungkap Achdan

    Hari terakhir pertemuan  para delegasi yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dalam negara Asean dibawa mengunjungi berbagai museum dan beberapa tempat wisata dan bersejarah di seputaran kota Surabaya.(HUMAS)

     

     

     

  • Mahasiswa umuslim ikut pelatihan di Denpasar

     

    Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) universitas almuslim kembali  lolos untuk  mengikuti pelatihan pembuatan gerak animasi 3 dimensi  di  Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali  mulai tanggal 21  Januari – 17 Februari 2020.

    Menurut informasi dosen pengasuh mata kuliah animasi Fikom Umuslim T.Rafli Abdillah,MS.n, ini merupakan angkatan ketiga universitas almuslim meloloskan mahasiswanya mengikuti program pelatihan di Pulau dewata Bali.

    Mereka yang lolos  tiket pesawat ke Bali (PP), akomodasi dan konsumsi selama pelatihan di pulau wisata terkenal didunia  tersebut  ditanggung Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali, jelas T.Rafli Abdillah.

    Pelatihan khusus animasi di Indonesia setiap tahun diadakan Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali."Angkatan ini kita mengirimkan dua orang, sedangkan  tahun lalu lima orang dengan materi yang berbeda,sudah tiga tahun ini umuslim mengirimkan mahasiswanya mengikuti pelatihan tersebut", jelas T.Rafli Abdillah.

    Balai Diklat Industri (BDI)  adalah merupakan lembaga dibawah binaan Kementerian Industri dengan spesialisasi animasi, kerajinan dan barang seni, program pelaksanaan diklat berbasis spesialisasi dan kompetensi sesuai SKKNI serta Uji kompetensi dan sertifikasi.

    Mahasiswa umuslim sebelumnya  tahun 2019  juga telah mengikuti pelatihan bidang Pencitraan Cahaya dan Gambar Digital 3 Dimensi dan mereka telah mendapatkan sertifikat BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

    Tambah T.  Rafli Abdillah lagi peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah  seluruh Indonesia, untuk menjadi peserta harus lolos seleksi , semua biaya di tangung pemerintah.

    Pelatihan ini diadakan setiap tahun dengan kompetensi yang beragam khususnya yang berhubungan dengan animasi dan  Industri Kreatif, jelasnya

    Tujuan pelatihan  ini untuk membekali pengetahuan peserta dalam  upaya meminimalisir kesenjangan antara lulusan akademik dengan kebutuhan dunia industri.

    Peserta  di uji kompetensi  yang dilakukan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) nasional,  yang lulus  mendapatkan dua sertifikat, sertifikat pelatihan dan sertifikasi profesi  BNSP,  jelas T.Rafli Abdillah salah seorang instruktur animasi bersertifikat nasional.

    Adapun mahasiswa yang lolos angkatan ini dan ban berhak mengikuti pelatihan ini adalah Muhammad Ichsan dan  Alvin khairi, keduanya dinyatakan lolos setelah mengikuti serangkaian ujian tes.(HUMAS)

     

     

  • Mahasiswa Umuslim ikuti kuliah umum tentang Migas

     

    Peusangan-Ratusan mahasiswa Universitas Almuslim Peusangan Bireuen mengikuti  kuliah umum tentang pengenalan industri hulu minyak dan gas bumi serta sosialisasi tentang perkembangan ekspolarasi dan operasional migas yang disampaiakan sejumlah pemateri  berlangsung di Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim, Rabu(10/7).

    Acara dibuka Bupati Bireuen diwakili Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Bireuen Ir. Ibrahim Ahmad M.Si,  menghadirkan sejumlah pemateri seperti Yanin Kholison (SKK Migas Sumbangut), Achar Rasyidi (Badan Pengelola Migas Aceh), Awalus Shadeq (Premier Oil Natuna BV), Fauzan Arief (Exploration Team Leader Pemier Oil),  Adelina Novianti (Repsol Company) dan perwakilan  perusahaan Mubadala Petroleum.

     Bupati Bireuen yang diwakili asisten II dalam sambutannya menyatakan, masyarakat Bireun sangat terbuka dengan kehadiran para investor yang masuk ke Kabupaten Bireuen, jika perusahaan menemukan cadangan minyak dan gas agar perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam kegiatan hulu migas, ujar Ir.Ibrahim,MSi.

    Acara yang  dipandu T.Cut Mahmud Aziz dosen prodi Hubungan Internasional Umuslim berlangsung atraktif, karena pemateri banyak mengupas tentang berbagai peran lembaga satuan kerja khusus minyak dan gas bumi (SKK Migas) dan Badan Pengelola Migas aceh (BPMA), serta penjelasan  perkembangan ekspolarasi dan operasional perusahaan minyak dan gas di wilayah Provinsi aceh oleh beberapa perusahaan yang telah mendapat izin dari pemerintah.

    Menurut Yanin Kholison perwakilan Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) Wilayah Sumbagut, saat ini ada tiga perusahaan internasional yakni Repsol, Premier Oil dan Mubadala Petroleum yang berinvestasi di bidang hulu minyak dan gas (Migas) di lepas pantai Bireun, Pidie Jaya, dan Pidie, Provinsi Aceh. 

    "Ketiga perusahaan internasional tersebut nantinya akan berinvestasi tepatnya di wilayah kerja Andaman I, II, dan III pada perairan Selat Malaka, selain itu, Repsol juga telah selesai melakukan seismic 3D di Andaman III dan rencanya di tahun 2020 akan segera melakukan pengeboran. Sementara Premier Oil dan Mubadala masih dalam tahap joint study di Wilayah Kerja Andaman I dan Andaman II." jelas perwakilan SKK Migas.

    Kemudian Humas BPMA, Achyar Rasyidi  menyampaikan bahwa kegiatan hulu migas akan berkontribusi pada penciptaan multiefek ekonomi bagi masyarakat Bireuen. "Hadirnya tiga perusahaan internasional yaitu Mubadala Petroleum, Repsol, dan Premier Oil akan membuka lapangan kerja baru," papar Achyar.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengucapkan terima kasih dan memberikan apreasiasi untuk BPMA dan SKK Migas  yang mempercayakan Universitas Almuslim mengadakan kegiatan sosialisasi  berbagai ilmu dan memberi pencerahan tentang berbagai hal  berkaitan dengan minyak dan gas di Aceh kepada mahasiswa umuslim.

     Rektor Universitas Almuslim, Dr. Amiruddin Idris, SE, M.Si berharap agar kegiatan kerja sama dengan universitas seperti ini bisa secara kontinyu dilakukan agar pihak kampus mendapatkan wawasan tentang kegiatan hulu migas di Aceh, harap H.Amiruddin Idris.

    Pencerahan ini sangat penting bagi  mahasiswa karena persoalan tenaga kerja yang bergabung pada perusahan miyak dan gas tidak hanya harus berasal dari jurusan perminyakan saja tetapi juga dibutuhkan dari berbagai disiplin ilmu  lain seperti bahasa inggris,hukum,ekonomi, teknik dan humaniora lainnya

    Acara yang berlangsung satu hari ini  turut dihadiri sejumlah dosen dalam lingkup universitas almuslim, dikahiri penyerahan cendera mata dari rektor Umuslim berupa plakat dan buku Bireuen segitiga emas ekonomi Aceh kepada pemateri.(HUMAS)

     

     

     

     

  • Mahasiswa umuslim ikuti pelatihan animasi di Bali

     

    Peusangan-Sebanyak 5 (lima) orang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Umuslim lolos untuk  mengikuti pelatihan animasi di  Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali mulai tanggal 20 s/d 28 Juni 2019.

    Menurut dosen pendamping T.  Rafli A. , M.Sn, peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah  seluruh Indonesia, meski semua biaya  di tangung pemerintah (gratis) namun untuk mengikutinya tetap melalui proses seleksi ketat peserta dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah angkatan ini, lima mahasiswa Umuslim berhasil lulus seleksi untuk mengikuti pelatihan  di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, papar T.  Rafli A. , M.Sn.

    Menurut T.Rafli A, Balai Diklat Industri (BDI)  merupakan lembaga dibawah binaan Kementerian Industri dengan spesialisasi animasi, kerajinan dan barang seni, program pelaksanaan diklat berbasis spesialisasi dan kompetensi sesuai SKKNI serta Uji kompetensi dan sertifikasi. Pelatihan ini diadakan setiap tahun dengan kompetensi yang beragam khususnya yang berhubungan dengan animasi dan  Industri Creative.

    Tujuan pelatihan  ini untuk membekali pengetahuan peserta dalam  upaya meminimalisir kesenjangan antara lulusan akademik dengan kebutuhan dunia industri. Peserta  di uji kompetensi  dilakukan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) nasional,  yang lulus  mendapatkan dua sertifikat, sertifikat pelatihan dan sertifikasi profesi  BNSP, bagi mahasiswa umuslim ini memiliki kaitan erat dengan matakuliah Animasi  papar T.Rafli A,M.Sn yang merupakan satu-satunya  instruktur yang berasal dari Aceh.

    Diklat ini bekerjasama dengan studio animasi yang ada di Indonesia, Instruktur  berasal dari studio-animasi sepertistudio animasi Castle, Bamboomedia,Jitu, Nusa Edu, Invinite, 8 Mata. Adapun peserta dari Umuslim Muna Khalis, Alvin Khairi, Muhammad Naufal, Muhammad Ichsan dan  Hendra Saputra.(HUMAS)

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim KKM di Tiga Kecamatan

    Peusangan-Sebanyak 240 mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim)  diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen untuk melaksanakan pengabdian yang dikemas dalam program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di tiga Kecamatan yaitu Peudada, Peusangan Selatan dan Gandapura.

    Proses penempatan dimulai dengan penyerahan peserta dari Umuslim yang diwakili  Wakil Rektor III Umuslim, Ir Saiful Huri,MSi kepada pemerintah kabupaten Bireuen  diwakili Sekda Ir Zulkifli,Sp, selanjutnya, diserahkan kepada  camat di tiga  lokasi penempatan yaitu (Peudada, Peusangan Selatan dan Gandapura),prosesi penyerahan berlangsung  dilapangan kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten, Cot Gapu Bireuen, Kamis (7/2/2019).

    Sekda Bireuen Ir.Zulkifli, Sp dalam sambutannya mengharapkan mahasiswa yang ditempatkan di desa agar dapat mentaati segala aturan dan menghargai setiap kearifan lokal yang berlaku di gampong.

    Pemerintah Bireuen menyambut baik kehadiran adik-adik mahasiswa KKM dan diharap para camat agar dapat mengarahkan, membimbing  dan mensosialisasikan ke desa penempatan.

    Setiba di desa lakukan orientasi mengenali desa dan seluruh perangkat desa serta potensi  jumlah penduduk serta potensi lainnya yang dimiliki desa, kalau ada hal-hal yang potensial agar dapat  dikoordinasi dengan dosen pembimbing lapangan dan perangkat desa guna dikembangkan jadi peluang usaha bagi masyarakat.

    "Saya harap, adik-adik mahasiswa dapat menjadi katalisator atau punya daya ungkit dan mengerakkan serta memotivasi agar gampong bisa berbuat lebih banyak yang sesuai dengan kebutuhan," harap Sekda Bireuen Ir.Zulkifli,Sp.

    Rektor Umuslim, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si pada kesempatan tersebut diwakili Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ir. H. Saiful Hurri, Msi dalam sambutannya mengatakan bahwa program ini merupakan satu kewajiban bagi mahasiswa sebelum menyelesaikan studinya di kampus Universitas Almuslim.

    Menurutnya  tolak ukur keberhasilan kegiatan KKM ini, diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada beberapa hal diantaranya, pendewasaan mahasiswa calon pemimpin dan pengabdi di masyarakat, tercipta dan meningkatnya jiwa pengabdian ilmu dan partisipasi aktif mahasiswa serta dosen dalam membangun desa (gampong), selain itu, menambah pengalaman ilmu nyata di masyarakat, sehingga terjadi penguatan kemampuan intelektualnya.

    Kepada para mahasiswa peserta KKM, diharapkan agar dapat ber adaptasi dengan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan ini  sesuai  agenda dan program   yang  telah  direncanakan, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya,” ungkap Rektor Umuslim.

    Sementara itu Ketua Badan Pelaksana (Bapel) KKM Umuslim, Drs. Syarkawi, M.Ed dalam keterangannya menjelaskan bahwa peserta KKM Angkatan XVII Tahap II ini berjumlah 240 orang, mereka berasal dari enam Fakultas, yakni Fakutas Pertanian (FP) sejumlah 19 orang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sejumlah 97 orang, Fakultas Teknik (FT) sejumlah 19 orang, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 23 orang, Fakultas Ekonomi (FE) sejumlah 48 orang dan Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) sejumlah 34 orang.

    Tambah kepala Bapel KKM  lagi, mereka akan mengabdi  selama 37 (tiga puluh tujuh) hari, terhitung mulai tanggal 7 Februari hingga 15 Maret 2019 di 48 gampong (desa) dalam tiga kecamatan, setiap gampong ditempatkan lima mahasiswa dan didampingi  12 orang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), setiap DPL  akan mensupervisi empat gampong.

    Para peserta KKM tersebut menjelang akhir program KKM ini atau paling telat satu minggu sebelum berakhir, akan dilakukan Monev (monitoring dan evaluasi) oleh pimpinan Rektorat dan Dekanat Universitas Almuslim,” jelas Drs.Syarkawi,M.Ed.(HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim Promosi Aceh pada World Travellers Café 2019 di Nagoya Jepang

    Peusangan-Dua orang mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa antara Universitas Almuslim dan Gakuin University Jepang (NGU) turut  berpartisipasi mempromosikan Indonesia khususnya Aceh di Negara Jepang.

    Kedua mahasiswa tersebut adalah Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip dan  Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan  Bahasa Inggris Fkip Universitas Almuslim Peusangan Bireuen.

    Kehadiran kedua mahasiswa Universitas Almuslim di negeri matahari terbit tersebut, dalam rangka menindak lanjuti implementasi perjanjian kerjasama (MoU) yang telah ditandatangani oleh Prof . Hisao Kibune President Nagoya Gakuin University (NGU) dan Dr. H.Amiruddin Idris,SE.,MSi selaku rektor Universitas Almuslim beberapa waktu lalu. 

    Menurut informasi yang disampaikan Bilal Paranov dari Jepang, kegiatan World Travellers Café2019 (WTC 2019)  dilaksanakan  oleh International Affairs of Nagoya Gakuin University Jepang (NGU) merupakan kegiatan akbar bulanan. Kegiatan WTC ini bertujuan mengajak masyarakat dunia  yang hadir untuk mengenal lebih dekat tentang budaya, wisata serta hal yang jarang diketahui tentang suatu Negara. Pembicara di WTC tersebut  dari mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di dunia. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan tahun ini tepatnya di bulan April 2019, bertepatan dengan masuknya ajaran baru kalender akademik Jepang.

    Sebuah kehormatan, NGU memilih Indonesia, yang diwakili oleh Universitas Almuslim Aceh sebagai negara pertama yang mempersentasikan di WTC 2019. Untuk sesion pertama kegiatan di ikuti mahasiswa dari Indonesia, Filipina, Thailand, China, Kanada dan beberapa negara lainnya, sedangkan yang belum berkesempatan pada sesion ini  akan ikut persentasinya pada WTC 2019 selanjutnya.

    Sebagai perwakilan Indonesia dari Universitas Almuslim, Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional FISIP dan Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, mereka berdua  hadir dengan menggunakan baju batik motif pinto Aceh, tambah semaraknya kegiatan presentasi dari Aceh karena ikut bergabungnya salah satu putra asli Jepang  yang  kuliah di NGU,  pernah kuliah selama satu semester di Umuslim Peusangan Bireuen yaitu Iwatsuki Shunichi, dia juga  hadir dengan memakai baju batik. 

    Menurut Bilal Paranov seminggu sebelum acara dimulai, mereka  sudah berkoordinasi dengan International Affairs of NGU untuk menyediakan cemilan khas Indonesia. Pertama kami sempat kewalahan mencari makanan khas Indonesia khususnya Aceh, akhirnya kami menemukan pisang sale dan kue gring di salah satu toka serba Indonesia di Kota Nagoya, Jepang. 

    Saat persentasi tersebut panitia juga menyediakan kopi gayo secara gratis kepada penonton yang tersedia di coffee machine. Penonton yang hadir sungguh diluar ekspektasi saya, hampir 500 penonton memenuhi Global Links International Center. Mereka terdiri dari mahasiswa, dosen, pengusaha dan masyarakat umum yang tertarik mengenal lebih dekat tentang bumi nusantara.

    Dalam presentasi harus menggunakan bahasa Jepang, meskipun begitu kami sedikit mencampuradukkan dengan bahasa Inggris. Slide awal dimulai dengan menjelaskan letak geografis Indonesia, diikuti dengan budaya dan wisata. 

    Jujur saja, 80% isi presentasi saya yaitu tentang budaya, makanan dan wisata yang terdapat di Provinsi Aceh. Penonton sangat terkesima dan sumringah saat kami menjelaskan tentang pesta pernikahan di Aceh dan berbagai kanduri di Aceh.

    Di akhir presentasi kami sempat  memutar video ‘The Light of Aceh.” yang ditutup dengan standing ovation dari seluruh penonton yang hadir. Tujuan saya menampilakn budaya Aceh adalah untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara wisata halal terbaik di dunia, dan Aceh menjadi sampel yang baik untuk wisata halal tersebut, tulis Bilal Paranov melalui messenggernya.

    Setelah presentasi banyak penonton yang menghampiri kami untuk memuji cita rasa pisang sale dan kopi Gayo, bahkan beberapa diantaranya ingin memesan baju batik khas Aceh, alasannya, sangat artistik. 

    Tak hanya itu, mahasiswa Internasional dari Kanada dan Amerika juga berencana untuk liburan ke Sabang akhir tahun ini, mereka tertarik karena slide presentasi keindahan Sabang dan biaya yang terjangkau untuk liburan ke Indonesia. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, sudah tugas kita bersama untuk mempromosikan tanah air tercinta, Indonesia.(HUMAS)

     

  • Mahasiswa umuslim raih juara harapan di Jepang

    Akhsani Taqwim mahasiswi prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip  universitas almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, berhasil meraih juara harapan  dalam acara speech contest yang digelar di Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, akhir desember 2019 lalu.

    Keberadaan Akhsani Taqwim mahasiswa semester lima prodi Hubungan Internasional (HI) di Jepang dalam rangka mengikuti program pertukaran pelajar (Student Exchange ) hasil kerja sama antara universitas almuslim (Umuslim)  dan NGU Jepang.


    Dengan perjanjian tersebut setiap tahun NGU Jepang menerima mahasiswa umuslim  untuk belajar di Jepang dengan biaya kuliah gratis, mereka hanya menagggung biaya hidup saja,  begitu juga mahasiswa NGU Jepang mengirimkan mahasiswanya belajar di umuslim, sekarang perjanjian tersebut sudah berjalan empat angkatan.

    Menurut Aqsani seperti disampaiakan kembali ketua Prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip umuslim Shaumil Hadi, program yang diikuti mahasiswanya merupakan program yang digelar setiap tahun di NGU, diikuti seluruh mahasiswa baru NGU dan mahasiswa international yang sedang menempuh program pertukaran pelajar di universitas tersebut.

    Tujuan program ini diselenggarakan guna mempererat hubungan mahasiswa asing dengan mahasiswa NGU  yang berasal dari Jepang, selain itu untuk meningkatkan  kompetisi dan kemampuan berbahasa antara mahasiswa Asing berbicara di depan  publik.


    Pada perlombaan ini ada beberapa bahasa yang diperlombakan  seperti bahasa inggris, jepang, china, dan korea. 
    Peserta lomba ratusan mahasiswa  berasal dari berbagai Negara, seperti Amerika, China, Taiwan, Korea, kanada, Indonesia dan dari negara Jazirah Arab.

    Setiap mahasiswa asing di wajibkan mengikuti perlombaan ini dengan menggunakan bahasa Jepang,  Akhsani Taqwim pada perlombaan tersebut mengikuti lomba public speaking dengan menggunakan bahasa Jepang dengan tema  yang di arahkan panitia.

    Aqsani taqwim kelahiran Jeunieb 2 desember 1999, memilih tema menceritakan tentang mimpinya dan menjelaskan apa yang akan dilakukan setelah menyelesaikan program student exchange, juga menceritakan kegiatan ingin menjadi volunteer,tentang pendidikan dan juga konflik yang terjadi di Papua.

     "Alhamdulilah saya  mendapatkan juara harapan pada acara tersebut, namun saya bersyukur meskipun hanya menjadi juara harapan tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi dengan mahasiswa dari berbagai Negara, dan mendapatkan pengalaman luar biasa dalam perlombaan tersebut", tulis Aqsani Taqwim melalui messengger kepada ka Prodi Hubungan Internasional umuslim Shaumil Hadi.

    Syukur alhamdulillah mahasiswa kita bisa bersaing dengan sejumlah mahasiswa asing di Jepang, prestasi ini menunjukkan kualitas anak didik kita tidak kalah dengan mahasiswa lain di dunia, ungkap Shaumil Hadi terharu.

     Seperti diketahui angkatan ini umuslim mengirimkan dua mahasiswanya mengikuti kuliah di Jepang yaitu Akhsani Taqwim (19) dari program studi Hubungan International FISIP dan satu lagi Nafsul Muthmainnah (20), mahasiswi prodi Bahasa Inggris FKIP, mereka berada di Jepang selama satu tahun, begitu juga mahasiswa asal Jepang sekarang sedang kuliah di umuslim dua orang selama satu tahun.(HUMAS).

     

    Ket foto: Aqsani Taqwim paling kanan, memakai hijab dan kacamata.

  • Mahasiswa Umuslim tanam pohon di Pantai Pangah

     

    Peusangan-Mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) yang sedang melaksanakan pengabdian dalam program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM)  di kecamatan Gandapura, Senin (4/3/2019) melakukan program “Reboisasi” di daerah wisata pantai Pangah desa Ie Rhob kecamatan Gandapura.

    Menurut  perwakilan mahasiswa KKM kecamatan Gandapura bahwa program ini dirintis oleh mahasiswa yang dipadukan dengan program kecamatan, harapannya  dengan adanya kegiatan reboisasi ini kondisi pantai pangah akan lebih rindang dan hijau semoga pantai ini dapat  berkembang dan menjadi destinasi lokasi wisata pantai yang maju kedepannya.

    Acara reboisasi ini dibuka ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri Abdullah,S.sos, pada kesempatan tersebut  mengharapkan agar tumbuhan yang ditanam ini dapat bermanfaat kepada kita dan sampai kepada anak cucu" harap H. Yusri Abdullah,S.sos

    Secara terpisah Kepala Bapel KKM Umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed menyambut baik program yang dilakukan mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di kecamatan Gandapura, harapannya semoga apa yang telah dilaksanakan  mahasiswa dapat di jaga dan kembangkan lagi oleh masyarakat setempat, harapnya.

     Kegiatan ini dihadiri oleh  Kapolsek Gandapura, Babinsa koramil Gandapura, perwakilan Camat Gandapura,  Yayasan Almuslim, dan Geuchik desa yang ada penempatan mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta anggota pramuka dari kecamatan Gandapura.(HUMAS)

     

     

  • Mahasiswa  Universitas Almuslim gelar Seni Rakyat Aceh

    Peusangan-Puluhan mahasiswa dan dosen Universitas Almuslim berbaur terlibat dalam kegiatan yang dilaksankan  Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim Pergelaran Seni Rakyat Aceh, berlangsung di kampus timur Umuslim, Selasa (10/9).

    Kegiatan mengambil tema “Berbahasa dan Bersastra Bukti Generasi Cinta Budaya dan Cerdas dalam Berkarya”. Diikuti seratusan dosen, mahasisea dan siswa SLTA sederajat berlangsung di kampus timur Umuslim.

    Acara dibuka wakil Dekan III Fkip Siti Khaulah,SPd.,MPd, menyampaikan  “Kegiatan Pergelaran Seni ini sebagai wadah pencarian bakat dan minat para siswa maupun mahasiswa di bidang Bahasa dan Sastra. Melalui kegiatan ini peserta dapat menguji kemampuan sehingga terbagun mental yang kuat, siap untuk berkompetisi”, papar Siti Khaulah. 

    Kegiatan diikuti siswa  dari berbagai sekolah SMA sederajat di Kabupaten Bireuen, mahasiswa serta dosen. Pergelaran Seni Rakyat Aceh memperlombakan beberapa jenis perlombaan seperti lomba Cagok Aceh, lomba drama rakyat, lomba baca puisi, lomba debat, serta lomba masak kuliner Khas Aceh yang dikuti dosen Universitas Almuslim. 

    Lomba baca puisi juara I diraih oleh  siswa SMA Negeri 1 Bireuen, Juara II SMA Negeri 7 Bireuen, Juara III diraih oleh SMA Negeri 2 Bireuen. Lomba Cagok, juara I diraih oleh Mass Azzahra, juara II SMA Negeri 1 Kuala, juara III SMA Negeri 3 Bireuen. Lomba drama juara I diraih oleh Pesantren Almuslim, Juara II SMA Negeri I Jangka, Lomba debah bahasa, juara I diraih oleh kelompok III, juara II kelompok II, juara III kelompok V. 

    Sementara lomba masak, juara I diraih oleh pasangan Syarifah Maihani, SE.,MM. dan Elviana, SP.,M.Si., juara II  Siti Khaulah, M.Pd. dan Nurlaili, M.Pd., juara III diraih Zahrianti Zubir, MA. dan bapak M.Iqbal, MA. 

    Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Nurmina, M.Pd. menyampaikan bahwa agenda rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) prodi Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan bagian program  L2Dikti melalui Program Kegiatan Kemahasiswaan (PKM)  tahun 2019”.

    Nurmina berharap kegiatan ini jangan semata-mata dianggap sebagai ajang berkompetisi, tetapi sebagai sarana  silaturrahmi dan menumbuhkan kreatifitas mencintai budaya daerah sendiri.(HUMAS)

     

  • Mahasiswi Akbid Umuslim ikuti ujian OSCA

     

    Sebanyak 35 mahasiswi Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim mengikuti ujuan  OSCA (Objective Structured Clinical Assesment),berlangsung di laboratorium kebidanan Umuslim, Kamis-Jumat, (8-9/8/2019).  

    Menurut Direktur Kebidanan umuslim Nurhidayatai,MPh ujian OSCA  merupakan salah satu persyaratan bagi mahasiswi Kebidanan sebelum menempuh sidang akhir  atau sebelum menyandang gelar Ahli Madya Kebidanan (A.Md.Keb), dalam ujian ini setiap mahasiswa harus melewati 14 stase ujian  terdiri 11 stase tindakan/keterampilan dan 3 stase istirahat, jelas Nurhidayati.

    Ujian  ini diuji oleh 10 orang penguji  sesuai dengan kompetensi dan bidang ilmu masing-masing, adapun tindakan yang diuji diantaranya imunisasi, KBI/KBE, APN, resusitasi, manual plasenta, ANC, pemeriksaan fisik BBL, persalinan sungsang/distosia bahu, pemasangan IUD, konseling ASI, dan partograf, serta juga kami tambahkan etika pelayanan, jelas Nurhidayati.(HUMAS)

     

  • Mahasiswi asal Jepang hadiri Open House di rumah Rektor Umuslim

    Peusangan-Sudah menjadi rutinitas setiap lebaran, baik Idul Fitri dan Idul Adha,  Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen Dr H Amiruddin Idris SE MSi menggelar open house (menerima tamu) di kediamannya, Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang. Hari raya  Idul Fitri 1440 H/2019M, kegiatan open house  dilaksanakan Kamis (6/6/2019). 

    Open House di rumah Rektor Umuslim tahun ini  terasa istimewa, karena juga hadir seorang mahasiswi asal Jepang Natsuko Mizutani  mahasiswi asal Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, yang pernah kuliah di Umuslim  hadir dengan balutan busana syariinya.

    Di sela-sela menerima tamu  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi menjelaskan bahwa gadis Jepang tersebut merupakan salah satu mahasiswi dari program pertukaran mahasiswa kerjasama  Umuslim dengan NGU Jepang, dia sudah menyelesaikan program tersebut di Umuslim, sekarang sedang menempuh satu program di UIN Ar Raniry Banda Aceh, jelas Rektor Umuslim.

    Rektor Umuslim H.Amiruddin Idris menyampaikan selamat berhari raya untuk seluruh civitas akademika dan masyarakat yang hadir "Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal fa izin, " ucap H Amiruddin Idris sambil menyalami tamunya satu persatu.

    H.Amiruddin Idris didampinggi isteri Hj Nuryani Rachman tampak akrab dengan semua tamu yang hadir, menyampaikan terima kasih kepada tamu yang hadir. " Open house sudah menjadi agenda rutin setiap lebaran untuk menerima tamu dan meningkatkan kekeluargaan, kami memohon maaf apabila ada kekurangan dalam menyambut bapak dan ibu di tempat kami," ujar H.Amiruddin Idris yang sudah terpilih sebagai Anggota DPR Aceh pada Pemilu 2019.

    Open house selain dihadiri civitas akademika  baik dekan, dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa juga turut hadir  Pembina Yayasan Almuslim dan juga anggota Komisi X DPR RI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Drs Anwar Idris, Pengurus Yayasan Almuslim Peusangan, sejumlah pejabat di lingkungannya Pemkab Bireuen serta ratusan masyarakat dari berbagai kecamatan. 

    Kemudian Natsuko Mizutani ketika ditanyai pengalamannya menghadiri open house ini, merasa kagum  "Saya sangat menikmati acara lebaran di Aceh,di Jepang tidak ada silaturahmi  untuk bersama  seperti ini. Bahkan, di sini saya diajak sama ibuk Chairul Bariah (dosen umuslim) untuk bersama-sama ke acara ini, saya pakek hijab untuk menghormati masyarakat disini yang islam ujar Natsuko dengan bahasa Indonesia yang mulai lancar, ia juga sempat mencicipi beberapa makanan tradisionil Aceh seperti timphan dan pulut. Acara  Open house juga hadir Cut Zuhra, kontestan Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2019 memanfaatkan mudik lebaran turut hadir kediaman Rektor seraya menyuguhkan beberapa tembang nostalgia(HUMAS)

     

     

    .

     

  • Mahasiswi Jepang senang menari tarian Aceh

     

    Peusangan- Kisae Fukushima (20)  seorang mahasiswi   dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, saat ini sedang kuliah di Universitas Almuslim berhasil menarik perhatian dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

    Betapa tidak, gadis yang berasal dari negeri matahari terbit ini, berhasil memainkan perannya sebagai Ratu, saat  pementasan permainan tarian nusantara, tarian tersebut merupakan  tarian persembahan  dalam  memeriahkan pembukaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3 yang berlangsung di kampus universitas almuslim, Senin (6/11/2018).

    Dalam tarian tersebut Kisae Fukushima bertindak sebagai Ratu, dengan memakai pakaian adat Aceh yang berwarna merah dipadu dengan kain sarung dan sulaman kuning keemasan membalut setiap jengkal tubuhnya, teryata  sukses  memainkan perannya sebagai pemain utama,  putri jepang ini   sanggup mengikuti pelunturan  lenggokan tubuh dan gerakan tanganya yang  gemulai, bersamaan hentakan  kaki terus bergerak  dengan berbagai ritme gerakan sesuai tabuhan rapai sebagai  iringan musik pengiring.

    Kisae Fukushima, si putri dari negeri olah raga SUMO ini,  mempunyai postur tubuh dengan tinggi yang ideal untuk ukuran seorang penari,  mampu menyeimbangkan  gerakan lenturan tubuh dan goyangan kepala, sehingga berhasil menyeimbangkan persamaan    gerakan kecepatan,   satu tangan dengan tangan lainnya dan hentakan berirama seratusan  pasang kaki dengan kaki lainya dalam satu barisan.

    Dengan kemampuannya menyeimbangkan setiap langkah dalam kebersamaan, mampu untuk  memainkan setiap gerakan pada tarian nusantara tersebut,  membuat  putri Jepang yang selalu menyunggingkan senyuman lewat bibir tipisnya , nampak menonjol dalam setiap gerakan, ditambah balutan pakaian aceh yang memancarkan aura keberanian, sehingga membuat  penonton kagum  dan terkesima dengan penampilannya.

    Keberadaan  mahasiswa dari Jepang  pada Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3, Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, menjelaskan bahwa mahasiswa Jepang tersebut berjumlah  dua orang, mereka hadir  dalam rangka  mengikuti   kuliah program pertukaran mahasiswa yang merupakan  implementasi dari kerjasama (MoU)  yang telah ditandatangani pihak Universitas Almuslim dengan  NGU Jepang    beberapa tahun lalu. 

    Usai penampilannya Kisae Fukushima menuturkan, rasa senang dan bahagianya bisa menari dengan tarian Aceh dan Nusantara , “Saya sangat senang bisa sukses menari tadi” ungkap Kisae Fukushima didampinggi temannya Natsuko Mizutani yang merupakan alumni angkatan pertama program pertukaran mahasiswa Umuslim dengan NGU, kebetulan juga ikut hadir menyaksikan FKU ke-3.

    “ Pertama ikut latihan saya sangat khawatir,apalagi selama ini saya belum pernah menari tarian Aceh,  karena gerakan tarian Aceh sangat susah, kecepatan dan kebersamaannya tinggi  sekali, apalagi dalam tarian tersebut saya menjadi ratu, yang gerakan tubuh harus  bergerak dengan gerakan tari Guel yang merupakan  kunci dari penampilan tarian tersebut, ujar gadis Jepang  tersenyum sambil menunduk kepala.

    “Tetapi saya  kerja keras dan rajin latihan selama satu bulan di kampus, akhirnya berkat arahan kak Maulida sebagai pelatih, kebersamaan teman-teman, saya bisa tampil dengan baik, saya sangat tertarik tarian ini, dan akan terus belajar untuk bisa semuanya, baik gerakan, melenturkan  gerakan badan, kecepatan hentakan tangan dan kaki, permainan tarian aceh gerakan dinamis dan sangat kompak sekali”  cerita Kisae Fukushima dengan gaya bahasa Jepangnya yang masih kental.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada, dosen, teman-teman dan panitia yang sudah mengajak saya ikut menari” saya senang dan bahagia sekali , apalagi bisa  memakai pakaian adat Aceh, ujar gadis berkulit putih bersih ini. (Humas)

     

     

  • Mahasiswi Kebidanan Umuslim laksanakan PBL

    Peusangan-Sebanyak 29 mahasiswi Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim akan melaksanakan pengabdian dalam program asuhan kebidanan komunitas (Praktik Belajar Lapangan) di lima desa dalam  Kecamatan Kuta Blang.

    Demikian disampaikan Direktur Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim  Nurhidayati, MPH, usai penyerahan mahasiswi yang akan melaksanakan praktek tersebut kepada camat Kuta Blang  yang diwakili Nurhasanah, SE, bertempat di kantor camat setempat, Kamis (27/12/2018). 

    Menurut Nurhidayati pengabdian dalam bentuk program asuhan kebidanan komunitas ini merupakan kewajiban bagi mahasiswi yang menempuh pendidikan pada Diploma III Kebidanan Umuslim.

    Tambahnya lagi bahwa program asuhan tersebut berfokus pada asuhan ibu dan anak yang bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan memperhatikan budaya setempat yang dikemas dalam tatanan di komunitas dengan pendekatan manajemen kebidanan, jelas Nurhidayati yang pernah menyandang bidan teladan kabupaten Bireuen ini. 

    Camat Kuta Blang yang diwakili Nurhasanah,SE, mengucapkan terimakasih atas dipilihnya kecamatan Kuta Blang sebagai lokasi pengabdian mahasiswi kebidanan umuslim dan mereka akan ditempatkan di lima desa dalam wilayah kecamatan Kuta Blang diantaranya Desa Buket Dalam, Desa Glee Putoh, Desa Crueng Kumbang, Desa Paloh Raya dan Desa Parang Sikureung. 

    Mahasiswi akan berada di desa selama satu bulan, setiap desa ditempatkan sebanyak  5-6 orang, mereka akan dibimbing oleh  dosen pembimbing yang berjumlah 5 orang yaitu Nurhidayati, MPH, Drs. Yusri Yusuf, MM, Irma Fitria, SST., M.Keb, Herrywati Tambunan, S.Tr.Keb dan Agustina, S.SiT. 

    Prosesi penyerahan mahasiswi asuhan kebidanan komunitas ke desa tersebut selain dihadiri mahasiswi, pembimbing lapangan juga hadir  muspika kuta blang dan geuchiek dari desa lokasi penempatan mahasiswi.(HUMAS)

     

    Foto : Nurhidayati

  • Malam pertama yang menyenangkan

     

    Oleh :ZULKIFLI, M.Kom, kabag Humas dan Kemahasiswaan  Universitas Almuslim Peusangan

    Beberapa hari lalu penulis mengunjungi mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim  (Umuslim) Peusangan pada  beberapa kampung di kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah,  sebagai koordinator Kecamatan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kkm, penulis mengunjungi, memantau aktivitas mereka termasuk mendengar berbagai kisah kasih  dan  suka duka selama mereka berada di lapangan.

    Banyak kisah dan cerita yang mereka utarakan, penulis sempat merekam pembicaraan mereka termasuk mahasiswa asal Jepang yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa kuliah di universitas almuslim, mereka berbaur dengan mahasiswa lainnya  mengikuti program kkm di Bener Meriah.

    Seperti diketahui universitas almuslim tahun ini selain melaksanakan  KKM di Kabupaten Bener Meriah, juga mengirimkan mahasiswanya melakukan program PPL-KKM di negara Thailand tepatnya wilayah Thailand Selatan, disana mereka melakukan pengabdian  di sekolah dan pesantren boording school selama 3-4 bulan.

    Bersamaan waktunya  tahun ini universitas almuslim juga mengirimkan  mahasiswanya  mengikuti program pertukaran pelajar ke Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, mereka  kuliah  di negeri matahari terbit  selama satu tahun, program ini merupakan implementasi MoU antara  universitas almuslim dan NGU Jepang dan sudah berjalan selama empat angkatan.

    Suksesnya program PPL-KKM dan pertukaran mahasiswa ini  sangat selaras dan harapan dari upaya pemerintah dalam mengimplementasikan program "Kampus Merdeka" yang baru saja dicanangkan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makariem.

    Penulis sempat bertanya pada peserta kkm dari beberapa kampung tentang perasaan dan bagaimana kondisi saat awal berada di lokasi kkm, menurutnya di pikiran mereka awalnya yang ada perasaan susah, takut dan kegalauan hati membayangkan lokasi penempatan, terbayang hutan belukar, jurang yang curam, cuaca  dingin, lokasi penginapan  rumah di tengah perkebunan, sungguh suatu suasana yang belum pernah dialaminya.

    Munculnya perasaan tersebut sejak awal diumumkan lokasi penempatan di Bener Meriah, hal ini menurut mereka karena banyak  peserta belum pernah ke Bener Meriah yang dijuluki negeri di aats awan.

    Saat detik-detik  pemberangkatan dan selama perjalanan, kegalauan, kegelisahan dan bermacam pikiran terus menerawang dikepala mereka, seakan perasaan tersebut dengan setia mengantar mereka sampai lokasi pengabdian.

    Usai acara di kantor bupati, mahasiswa di bawa ke kantor camat untuk dilakukan penyerahan kepada reje kampung (kepala desa-red) lokasi penempatan, di kantor camat mereka sudah ditunggu oleh reje masing-masing kampung,  pak camat yang begitu bersahabat memperkenalkan satu persatu Reje dan topografi serta potensi kampung secara umum.

    Topografi wilayah kecamatan Bukit yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa kkm umuslim tahun ini tidak masuk dalam wilayah terpencil, sebagian kampung berada di pusat perkotaan dan perkantoran, wilayahnya berbukit dikelingi hutan, perkebunan kopi, sayur-sayuran dan dekat dengan lokasi beberapa objek wisata.

    Karena banyak peserta kkm ada yang belum pernah ke berbagai kampung di Bener Meriah, hingga lokasi ini  menjadi topik diskusi diantara mereka, sehingga perasaan galau diiringi detakan dag dig dug jantung kegelisahan terus berdetak begitu  kencang  seirama hembusan angin gunung di sore itu.

    Dalam bayangan pikiran mereka, wilayah lokasi kkm dikelinggi hutan belantara, jalan mendaki yang cukup curam, berbukit penuh jurang, kondisi wialayh yang sepi senyap dan masyarakatnya tidak bersahabat, itulah yang ada dalam pikiran mereka, kenyataannya dilapangan semua itu hanya jadi khayalan saja.

    Satu persatu reje memperkenalkan diri, mereka jabat tangan reje, sambil menatap mata reje dalam-dalam, reje membalas dengan tersenyum lembut, reje menyambut  penuh kasih sayang, seiring itu pelan-pelan detak jantung mahasiswa dan aura kegalauan  yang  sudah beberapa hari mengalami kegelisahan sedikit demi sedikit tensinya semakin menurun normal.

    Hal ini karena sambutan dari reje diluar perkiraan mereka, semuanya berubah 180 derajad, para reje  dengan keramahatamahan penuh nuansa  kasih sayang dan kekeluargaan menyambut peserta kkm ibarat menyambut anaknya yang baru pulang merantau.

    Setelah pertemuan singkat, masing-masing  reje mempersilakan mahasiswa untuk menaiki angkutan yang telah disediakan untuk membawa mereka ke kampung lokasi penempatan.

    Yang membahagiakan dan mengharukan ada  reje saat penjemputan datang bersama isteri dan anak kecilnya, ini membuktikan  kedatangan mahasiswa kkm universitas almuslim di wilayah tersebut di sambut penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

    Setelah prosesi penyerahan kepada reje selesai, penulis sempat mengunjungi langsung ke lokasi penempatan melihat pondokan mereka, alhamdulillah  mendapat sambutan baik di masyarakat.

    Hampir dua jam menyelusuri setiap jalan dan lorong menuju kampung lokasi kkm dengan topografi mendaki, menurun, juga banyak  yang berkelokan, sesuai dengan wilayah Bener Meriah sebagai daerah pengunungan.

    Setelah semua selesai, malam itu juga kami kembali ke Bireuen,saat pamit ada beberapa mahasiswa yang masih dihantui perasaan gelisah, karena belum pernah merantau dan menginap di tempat orang yang jauh dari keluarga.

    Padahai tempat tinggal yang disediakan  reje kampung untuk mereka sangatlah memadai untuk katagori mahasiswa yang melakukan pengabdian, selain di rumah reje dan rumah masyarakat mereka ada yang ditempatkan di penginapan milik BUMK desa yang biasanya disewakan untuk para tamu luar.

    Pagi pertama penulis langsung menyapa mereka melalui grup WA yang telah dibuat, menanyakan kondisi dan perkembangan di lokasi pengabdian, respon mereka sangat gembira semuanya menyenangkan dan bahagia, sangat bertolak belakang dengan perasaan saat awal mau berangkat ke lokasi.

    Banyak cerita pengalaman saat malam pertama mereka menginap dilokasi, mulai mempersiapkan tempat dan suara ngonggongan anjing yang bersahutan di tengah malam yang sepi, plus dinginnya cuaca yang sangat mengigil.

    Walau malam pertama dengan suasana yang mengigil,  tetapi  mereka nikmati dengan penuh kesenangan dan kebahagiaan, karena suasana kesenangan itulah, semua kegelisahan yang pernah muncul
    mengebu di awal keberangkatan dan kerinduan untuk kembali ke kampung seakan hilang dalam gumpalan kabut di langit biru.
     
    Hal ini karena perhatian  reje beserta perangkat kampung dan penerimaan dari masyarakat yang cukup baik penuh kekeluargaan atas kehadiran mereka dikampung tersebut.

    Di malam pertama keberadaaan di lokasi kkm, pak reje setiap saat menjenguk kami dan menanyakan tentang berbagai kekurangan dan kendala yang kami dapatkan, sungguh sangat baik mereka memperhatikan dan memperlakukan kami seperti anak dan keluarga sendiri, begitu juga masyarakat khususnya bebujang membantu dan mengawani kami di malam pertama dengan membakar api unggun, lapor peserta kkm kepada penulis.

    Dengan berbagai cerita dari peserta yang penulis rekam saat mengujungi mereka, hampir semua bercerita pengalaman saat malam pertama di lokasi kkm, mereka semuanya melaporkan “Kesenagan saat malam pertama menginap di kampung lokasi KKM”. Tidak ada kegelisahan dan ketakutan seperti pernah dibayangkan sebelum sampai ke lokasi.

    Dengan berbagai kekurangan, kelebihan, walau  berasal dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang keluarga yang berbeda, kami kedepankan semangat kebersamaan, kekompakan  dan persaudaraan dengan menjunjung tinggi  kearifan lokal masyarakat, sehingga kami berhasil menikmati malam pertama di negeri  atas awan dengan menyenangkan, tulis seorang mahasiswa melalui saluran Whatshap.

    Laporan tersebut juga kami terima dari mahasiswa universitas almuslim yang melaksanakan PPL-KKM di Thailnad Selatan dan Nagoya Jepang, di Jepang mereka sekarang sudah berbaur dan mengikuti berbagai aktivitas kampus bersama mahasiswa dari berbagai universitas di dunia, begitu  juga  yang PPL-KKM di Thailand mereka ditempatkan  berbeda lokasi dan berbaur bersama mahasiswa  dari berbagai universitas lain di Indonesia

    Menurut mahasiswa  yang KKM di Bener Meriah mereka sempat kekurangan persiapan khususnya peralatan untuk menahan cuaca dingin yang mengigil di penghujung malam, tetapi karena baiknya perhatian dan penerimaan masyarakat sehingga dinginya cuaca di saat malam, mereka nikmati penuh kesenangan dan keceriaan.

    Walau di pagi suhu dingin mengigil begitu kentara, mereka mencoba   menikmati suasana pagi di negeri pengunungan ini, apalagi saat pagi hari mereka sempat keluar rumah menikmati turunya bulir-bulir embun seperti salju seakan  menempel diwajahnya, pokonya walaupun kami capek, tetapi malam pertama kami sangat menyenangkan, cerita mereka penuh kegembiraan.

    Pengalaman mahasiswa kkm  di kabupaten Bener Meriah ini, lain lagi cerita mahasiswa umuslim yang pernah dikirim mengikuti kuliah  di Jepang mereka memang sempat menikmati musim salju beneran.



    Cerita ini pernah tayang pada https://aceh.tribunnews.com/18/2/2020/ dengan judul Malam pertama yang menyenangkan.

     

     

  • Melihat dari dekat usaha garam Milhy yang ber SNI

     

     

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen Universitas Almuslim, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna dan anggota FAMe Chapter Bireuen

    Sore itu suhu terasa masih cukup panas, padahal jarum jam sudah hampir merapat pada angka 17.00 wib, suasana  kawasan rekreasi pantai Jangka tidak lagi ramai, hanya beberapa pelancong lokal seputaran kawasan tersebut yang sedang menikmati hembusan angin  laut serta suasana sunset diatas selat malaka sambil menikamati beberapa kuliner  seputaran pantai tersebut.

    Matahari mulai bergerak meransek ke arah barat tetapi suhu masih cukup panas, seakan tidak bersahabat untuk mengurangi tensi panasnya, sehingga walau angin pantai terus berhembus, cucuran keringat semua orang  tetap saja mengalir seputaran kening tidak mau berhenti.

     Di atas langit ujung barat  suasana sunset  mulai meredup  untuk menyusup ke peraduan, saya bergegas bergerak  meninggalkan lokasi salah satu destinasi wisata pantai di kabupaten Bireuen itu.

    Saya pulang mengambil rute  jalan melalui  arah barat, melewati beberapa desa, diperjalanan lebih kurang dua kilometer dari pantai Jangka, saya singgah bersilaturahmi ketempat usaha salah seorang alumni universitas almuslim Peusangan, saudari Qurrata‘Aini YS,SE, alumni DIII Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Universitas Almuslim, sekarang mengelola usaha garam merek MILHY.

    Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan luasnya lebih kurang 800 meter persegi, bangunan beton yang  telah di sekat empat bagian  menjadi kantor, ruang produksi, penyimpanan dan ruang mesin pengolahan, saya disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik bangunan tersebut,  suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan, sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. 

    Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal dari lahirnya usaha tersebut, menurutnya penataan ruang ini sesuai aturan dan syarat untuk menjadikan tempat usaha yang layak dan berstandar SNI, sambil Qurrata memperlihatkan sertifikat  SNI nomr 3556 -2010.

     Menurutnya  MILHY asal kata Milhon dalam bahasa Arab yang artinya Asin (Garam), Milhy  juga nama tabalan pada orang tuanya Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat Tanoh Anoe Jangka, gelar  Milhy ini  disandangkan oleh Jepang ketika kawasan tersebut dikuasai tentara Jepang.

    Pada masa pendudukan Jepang  usaha Tgk Yusuf  salah satu produksi garam yang bisa bertahan, sehingga dengan adanya usaha garam  beberapa masyarakat Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang saat itu, cerita Qurrata‘Aini bersemangat.

    Menurut Qurrata‘Aini awalnya dia tidak pernah tau seluk beluk  produksi garam, sehingga usaha garam secara tradisionil warisan orang tuanya tahun 1990 sempat tidak berproduksi, padahal  tahun 1980  usaha orang tuanya  dengan  merk garam Bulan Bintang sudah maju dan  pemasarannya ke seluruh Aceh. Seiring perjalanan waktu awal  2006, usaha itu mulai dirintis kembali oleh Qurrata Aini yang merupakan anak bungsu Tgk Yusuf Milhy, dengan memanfaatkan beberapa petak tanah peninggalan orang tuanya.

    Tanoh Anoe kecamatan Jangka sekitarnya merupakaan satu kawasan produksi garam rakyat, makanya tidak heran kalau melewati desa tersebut terlihat berjejer ratusan jambo sira tradisionil dengan dinding belahan bambu dan pelepah kelapa beratap rumbia berjejer bersisian sepanjang area tambak. Sore itu dengan hembusan angin laut yang begitu sejuk, penulis melihat secara dekat kesibukan warga seputar jambo sira dengan berbagai aktivitas, ada menurunkan kayu bakar, mengangkut air, mengumpulkan butir-butir bibit garam, memasak air dan juga sedang membakar kayu.

    Yang lebih kentara terlihat dari kejauhan nampak jelas kepulan asap yang berasal dari pengolahan dengan rebusan bahan baku bibit garam menggunakan air laut/sumur bor keluar lewat celah-celah dinding bambu dan atap rumbia mengepul ke angkasa. 

    Menurut Qurrata Aini, pondok garam produktif di kecamatan Jangka mencapai 200 lebih, yang pengolaannya masih secara tradisionil, dulu sebagian besar bahan baku bibit garam di pasok dari luar Aceh, hal ini untuk mencapai target kebutuhan. Tapi Alhamdulilalh sekarang melalui program Inovasi, produksi garam Milhy bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, kami sudah bisa memproduksi bahan baku sendiri dengan menggunakan Geomembran.

    Menurut Qurrata Aini, metode Geomembran kawasan tersebut merupakan inovasi dirinya, awalnya beberapa tahun lalu terjadinya kelangkaan bibit garam, sehingga banyak petani garam yang meninggalkan usaha tersebut.

    Mereka membiarkan pondok terbengkalai tidak terurus, banyak petani garam putus asa, karena kondisi tersebutlah dia memutar otak untuk tetap bertahan,  tidak membiarkan pondok garam terbengkalai, tetapi asap tetap mengepul dari pondok, sehingga dia mencoba berbagai cara agar bisa menghasilkan bibit garam.

    Berbagai ilmu tentang garam dia pelajari dari berbagai sumber dan belajar pada orang tua sepuh yang pernah bergelut dengan pengolahan garam tradisionil, bahkan pihaknya pernah mengupayakan bibit dari pulau Jawa seperti Madura dan Banyuwangi, teryata hasilnya tetap nihil, karena bibit dari sana tidak cocok dengan topografi daerah kita, jelas Qurrata Aini

    Karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia lakukan, dari pada jadi pengangguran, dia tetap bertahan untuk pekerjaan di pondok garam, dia coba dengan berbagai metode dan teknik inovasi  ala sendiri, “saya berpikiran jangan sampai tidak ada bibit, tidak bisa cari uang” ulas Qurrata Aini yang saat kuliah dikenal seorang mahasiswi yang  vokal.

     Akhirnya dia coba dengan sistem Geomembran, saat mencoba inovasi metode ini, dirinya sempat dianggap setengah gila oleh masyarakat, pokoknya semua meremehkan dan menyeleneh apa yang dia kerjakan. Menurutnya metode Geomembran yang dia praktekkan, perpaduan bahan peralatan modern seperti plastik dan  berkolaborasi dengan metode tradisionil yaitu melihat tanda-tanda alam, seperti arah mata angin, hembusan udara dan kualitas pencahayaan matahari.

    Berbulan-bulan dia lakukan uji coba dengan memperhatikan kondisi alam seperti arah mata angin, arah mata hari, cuaca dan juga sampai membuat bangku sebagai mewaspadai terjadi banjir, semua yang dia uji coba merupakan pekerjaan yang tidak pernah dipraktekkan masyarakat saat itu.

    Akhirnya uji coba tersebut sukses dan menghasilkan bibit yang berkualitas, tetapi selama satu tahun masyarakat  masih belum percaya dengan inovasi yang dia lakukan, akhirnya pada tahun kedua hasil uji coba tersebut baru masyarakat mengakui sistem Geomembran, bisa menghasilkan bibit garam  berkualitas dan harga lebih murah, sekarang banyak dari luar daerah yang menjadikan metode dan tempat saya sebagai tempat belajar, jelas Qurrata Aini ceplas ceplos.

    Garam UD.Milhy diproduksi dalam tiga varian yaitu Milhy sira gampong beriodium (rendah Nacl), Milhy beriodium berstandar nasional dan Milhy garam non konsumsi (garam ini khusus untuk rendam kaki bagi penderita kebas dan kelelahan), garam beriodium adalah garam komsumsi yang memenuhi persyaratan SNI, BPOM,LPPOM yang ditetapkan dan telah diberikan zat iodium (KI03) dengan proses yodisasi, sekarang sedang dikampayekan penggunaannya untuk pencegahan tumbuh anak Stunting, rinci Qurrata Aini.

    Garam produksi Milhy dipacking dalam berbagai  isi seperti  100, 200, 250,400 gram,1 kg dan  8 kg, jumlah tenaga kerja 18 orang yang tetap dan tidak tetap 35 orang, kalau perputaran cepat saat musim kebutuhan omsetnya bisa  mencapai 200-250 juta perbulan dan tenaga kerja juga bertambah, cerita Qurrata aini penuh semangat.

     Selain memproduksi sendiri garam, usaha Milhy juga menjadi ibu angkat dari ratusan petani garam tradisionil lainya seputaran Jangka, dimana hasil produk masyarakat di tampung oleh UD Milhy, kemudian pihaknya mengolah dan packing sesuai standar produksi usahanya, jelas Qurrata Aini.

    Sekarang usaha garam Milhy mampu memproduksi garam beriodium 70.000-80.000 Kg/bulan, dengan peralatan memadai seperti mesin penghalus, cuci,oven, Iodisasi, hand sailler dan produksi garam Milhy telah mempunyai sertifikat Halal MPU Aceh : 14060000451214, dan sertifikat SNI 3556 -2010, BPOM RI MD 255301001021.

    Usaha garam UD Milhy Jaya pernah mendapat piagam penghargaan UMKM naik kelas katagori Industri Pengolahan tahun 2017 kerjasama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Piagam penghargaan SIDDHAKARYA Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Aceh. Penghargaan Produktifitas SIDDAKARYA dengan klasifikasi “Good Performance”. Usaha garam Milhy  pernah dikunjungi artis nasional Marissa Haque, Darwati A.Gani serta beberapa  isteri dan pejabat baik tingkat Provinsi kabupaten/kota baik dari Provinsi Aceh maupun luar provinsi Aceh.

    Ayo kita konsumsi garam beryodium untuk menghindarkan penyakit gondokan dan stunting....

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 06/05/2019/ dengan judul Melihat dari dekat usaha garam bebas najis.

     

     

     

     

     

     

     

  • MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan

    Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Matang–begitu nama singkatnya--sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka sebagai basis perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda, perjuangan yang dipimpin oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap dan didukung oleh tokoh-tokoh perjuangan, seperti Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk H Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk Ridwan, dan lain-lain.

    Strategi yang ditempuh tokoh Peusangan (sebelum pemekaran) pada masa perjuangan melawan penjajah adalah dengan mendidirikan lembaga pendidikan yang disebut dengan Jami’atul Muslim pada 21 Jumadil Akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1929 Masehi. Lembaga pendidikan itulah yang merupakan cikal bakal Yayasan Almuslim Peusangan yang membawahi Universitas Almuslim, IAI Almuslim, Pesantren Almuslim, juga SMA dan MA Almuslim,

    Jadi, perjuangan yang dipelopori oleh umara dan ulama Peusangan waktu itu, bukan dengan fisik, melainkan yang lebih utama adalah dengan ilmu pengetahun. Tak heran kalau Kota Matangglumpang Dua juga dikenal sebagai kota pelajar dan banyak tokoh lahir dari kecamatan ini.

    Menurut cerita orang-orang tua dulu, pada masa kepemimpinan Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), setiap warga masyarakat diwajibkan menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, seperti pohon kelapa, boh giri atau jeruk bali, sawo, langsat, dan berbagai buah-buahan lainnya.

    Setiap warga Peusangan yang pergi ke hari pekan (uroe ganto) di Matangglumpang, Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah--populer dengan julukan Ampon Chiek Peusangan--merazia setiap sepeda warga yang pergi ke hari pekan. Apabila warga tidak membawa hasil kebun dari kampungnya, mereka disuruh pulang lagi ke kampung. Pokoknya, setiap warga yang datang dari kampung harus ada tentengan buah-buahan atau hasil kebunnya yang dibawa ke pasar.

    Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal mengapa buah-buahan seperti pisang, pinang, jeruk bali atau boh giri, belimbing wuluh (bahan baku asam sunti), dan beberapa jenis buah-buahan lainnya banyak tumbuh di Peusangan. Berbagai komoditas inilah yang telah membawa kemakmuran dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kecamatan Peusangan sehingga banyak warga berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dari menjual hasil kebunnya.

    Berbagai tumbuhan, baik buah-buahan maupun tanaman keras lainnya yang tumbuh di masa lalu teryata boh giri-lah yang merupakan buah-buahan yang bertahan dan masih populer sampai sekarang.

    Kini, kalau sedang musim jeruk bali setiap hari berton-ton buahnya diangkut ke Medan dan Pulau Jawa, apalagi kalau saat menjelang Imlek, hari raya orang Tionghoa. Mereka biasanya langsung membawa mobil tronton datang ke lokasi dan memesan pada pemilik kebun jeruk bali.

    Jeruk bali atau boh giri berdasarkan kesepakatan bersama para pengusaha, boh giri bali disebut boh giri matang, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan “boh giri bali”. Buah-buahan ini telah menarik perhatian banyak orang dan sekarang menjadi oleh-oleh andalan bagi tamu-tamu yang datang dari luar daerah ke Peusangan.

    Jeruk bali (Citrus maxima atau Citrus grandis) asal mulanya juga bukan dari bali, melainkan buah asli dari Asia Selatan dan Tenggara. Departemen Pertanian menyarankan sebutannya adalah “pomelo” sebagaimana yang dikenal di dunia internasional.

    Dalam rangka mengisi hari libur, saya berkunjung ke salah satu desa penghasil boh giri, yakni Desa Pante Lhong. Saya sempat bersilaturahmi dengan Ibu Syarbaniah, petani boh giri tradisional.

    Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka perlu mengikuti langkah-langkah penanaman sebagai berikut:

    Bibit tanaman bukan berasal dari biji, tetapi dicangkok selama tiga bulan agar cepat tumbuh;

    Setelah itu dipotong dan dipindahkan ke dalam polybag selama satu bulan;

     Siapkan lubang dengan kedalaman minimal 50 cm, lebar 50x50 cm;

    Tanam dengan jarak 7 meter antar pohon;

    Bila tumbuh dengan baik maka akan dapat berbuah paling cepat pada usia 1,5 tahun dan secara normal akan berbuah selama dua tahun;

    Beri pupuk kompos atau urea putih mulai dari enam bulan pemelihraan dan pada saat mulai berbuah serta disesuaikan dengan besar rimbun pohonnya dengan kedalaman area lubang 10 sampai 15 cm.

    Untuk menjaga agar buah yang dihasilkan bagus, maka buah yang pertama hanya kita pertahankan sebanyak tiga buah, berbuah kedua sebanyak enam buah, berbuah ketiga spuluh buah dan berikutnya baru boleh sebanyak-banyaknya.

    Untuk memilih boh giri yang baik sebaiknya perlu diperhatikan berat buahnya, kemudian pegang bagian bawahnya terasa lembek serta kulitnya terasa kasar. Agar rasanya nikmat dan lezat sebaiknya setelah dipetik dibiarkan selama satu minggu atau minimal lima hari baru dikupas. Berat jeruk bali berkisar 1-2 kg per buah, dengan diameter 15-25 cm.

    Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

    Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.

    Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

    Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

    Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

    Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

    Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 08/05/2019/ dengan judul Mencicipi Jeruk bali di bumi Peusangan

     

  • Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang

    Oleh : Yusrawati,SE.,MM Staff dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen

    SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Kebetulan sore itu kami menuju Kota Lhokseumawe sambil mencari sedikit keperluan bahan sekolah untuk anak. Jarak tempuh antara tempat tinggal saya ke Lhokseumawe lebih kurang 30 menit.

    Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, sampailah kami di simpang Loskala. Simpang tersebut merupakan persimpangan menuju jalan alternatif yang dibangun untuk jalur menuju Kota Lhokseumawe dari arah barat. Kami sekeluarga sepakat untuk memilih jalur alternatif tersebut.

    Memasuki jalan baru mulai dari simpang Loskala saya tercengang melihat ramainya warga yang mengambil rute tersebut. Saking padatnya lalu lalang kendaraan di jalur ini membuat kami harus mengendara dengat pelan dan sangat hati-hati.

    Di sepanjang jalan sebelum sampai ke Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, kami lihat berbagai jenis kendaraan dengan berbagai model dan seri berjalan saling mendahului, baik dari arah masuk maupun arah ke luar dari lokasi Ujong Blang. Banyak juga remaja yang mengendarai sepeda motor (sepmor) secara ugal-ugalan.

    Di sepanjang pinggir jalan kami juga melihat padatnya parkiran kendaraan, baik itu kendaraan roda dua, roda tiga (becak), maupun roda empat. Semua dijejer di halaman pondok kuliner atau kafe yang dibangun berderet di sepanjang jalan menuju pantai Ujong Blang.

    Ujong Blang merupakan salah satu pantai yang menjadi destinasi wisata andalan di bekas “kota gas” tersebut. Setiap hari minggu banyak pelancong dari luar daerah yang datang menikmati deburan ombak di sini.

    Dari pusat Kota Lhokseumawe ke Ujong Blang butuh waktu hanyak belasan menit saja dengan berkendara. Langsung dapat kita nikamti lokasi yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati pantai Selat Malaka.

    Kami melihat betapa ramainya masyarakat yang duduk di atas tikar secara berkelompok, baik itu keluarga, maupun sesama kolega, sambil mencicipi makanan yang telah disiapkan dari rumah. Mereka dengan gembira menikmati riuhnya suasana ombak dan angin pantai pada sore itu. Tak jarang pula terlihat mereka memesan dan menikmati kuliner yang dijual di pondok-pondok yang berjejer rapi di sepanjang pantai Ujong Blang, mulai dari rujak, mi instan rebus atau goreng, hingga ikan bakar. Itulah kuliner khas pantai Ujong Blang ditambah kelapa muda yang sangat andal untuk mengusir dahaga.

    Karena ramainya warga yang turun ke lau, lagi pula cuaca dan ombak pun sangat bersahabat, sehingga saya bersama anak ikut turun juga ke tepi pantai untuk sekadar melihat suasana dan menghabiskan waktu sambil menikmati hempasan ombak pantai pada sore itu.  

    Dalam pikiran saya, ramainya warga yang berada di bibir pantai sore itu seperti adanya atraksi tarek pukat yang merupakan pekerjaan rutin nelayan setiap pagi di pantai ini. Tarek pukat adalah kebiasaan masyarakat nelayan untuk menangkap ikan dengan memakai jaring secara berkelompok. Biasanya tarek pukat dilakukan pada pagi hari, saat nelayan baru pulang melaut. Banyak masyarakat yang menyaksikan aktivitas tarek pukat tersebut dan menjadi tontonan yang menarik dan mengasyikkan.

    Saat kami sedang menikmati semilir angin berembus ke tepi pantai dan nyanyian suara ombak yang bergelombang mendekati bebatuan yang tersusun rapi sebagai penahan ganasnya gelombang pantai tersebut agar tidak menggerus pemukiman penduduk, dari kejauhan beberapa boat kecil nelayan berwira-wiri dimanfaatkan beberapa pengunjung untuk memancing, sesekali tampak boat terhempas dengan deburan ombak setinggi lutut sehingga dari kejauhan boat seperti adegan jumping.

    Saat berada di pinggir pantai saya melihat ke atas seputaran jalan, pondok atau kafe, terlihat begitu ramainya masyarakat yang datang ke pantai tersebut, rata-rata mereka pergi secara berkelompok bersama keluarga.

    Yang herannya, makin sore masyarakat makin ramai yang datang, sehingga saya penasaran, ada apa? Kenapa makin mau terbenam matahari makin ramai orang yang datang, mereka ada yang hanya duduk termenung memandang ke laut lepas, ada yang asyik bercengrama sesama anggota kelompok, ada juga yang hanya untuk menemani anak-anaknya mandi laut, tetapi yang lebih banyak para remaja milenial yang asyik berselfi ria.

    Karena penasaran saya sempat bertanya pada seorang pemilik kafe di jalan ke luar dari area pantai tersebut, “ Pak ada acara apa? Makin sore kok makin ramai saja orang yang datang , padahal matahari mulai terbenam.” 

    Pemilik kafe itu menjelaskan bahwa ini merupakan kebiasaan masyarakat, tidak hanya masyarakat seputaran Lhokseumawe saja yang menghabiskan waktu sorenya di Pantai Ujong Blang, tapi banyak juga warrga dari daerah lain datang untuk mandi laut di Pantai Ujong Blang, apalagi pekan lalu itu mau memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, ada tradisi masyarakat kita pada minggu terakhir bulan Syakban banyak yang pergi santai untuk rekreasi bersama keluarga di pantai.

    Setelah mendapat penjelasan dari bapak setengah baya itu barulah saya mengerti maksud orang tersebut hadir sampai sore ke pantai Ujong Nlang Lhokseumawe yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lhokseumawe. Selain menikmati pemandangan laut pada sore hari, di tengah hiruk pikuk ramainya masyarakat menikmati suasana pantai, saya juga melihat banyak warga yang memanfaatkan waktu membeli ikan segar yang banyak dijual oleh sejumlah nelayan di sepanjang jalan menuju lokasi pantai. Aktivitas jual beli ini terlihat sangat sibuk, melebihi suasana di pasar ikan sendiri. Para penjual juga begitu cekatan memainkan jurus mautnya merayu dan melayani calon pembeli yang datang dari beberapa desa di Kota seputaran Lhokseumawe.

    Warga yang datang membeli ikan naik mobil umumnya lebih siap, karena mereka sudah mempersiapkan baskom atau timba plastik kecil sebagai wadah untuk menampung ikan segar yang dibeli. Apabila ada ikan yang sesuai selera dan cocok harga, mereka langsung bisa memanfaatkan baskom atau timba tersebut sebagai tempat ikan yang dibeli sehingga tidak mengotori mobilnya saat dibawa pula ke rumah. Rutinitas seperti itu terus berkelin dan dari pekan ke pekan.

     

     

    Cerita ini pernah tanyang pada http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 7/5/2019 dengan judul Menikmati-akhir-pekan-di-pantai-ujong-blang

     

     

     

     

  • Menlu RI direncanakan kuliah umum di Umuslim

     

     

    Peusangan-Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Retno Marsudi diagendakan akan hadir untuk  memberi kuliah umum pada mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Kabupaten Bireuen, pada Sabtu, 22 Desember 2018, demikian disampaikan Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman saat berkunjung ke Universitas Almuslim beberapa hari lalu.

    Informasi tersebut dibenarkan  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi, bahwa dirinya telah mendapat informasi tentang rencana kehadiran Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia Retno Marsudi ke Universitas Almuslim yang disampaikan oleh Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman beberapa hari lalu dalam sebuah pertemuan dengan Direktur Hubungan Internasional Umuslim.

     “Saya sudah mendapat informasi dari Sekretaris Direktur Hubungan Internasional Umuslim, T. Cut Mahmud Azis, tentang rencana kedatangan Menlu RI ke kampus pada hari Sabtu,( 22 Desember 2018),kita doakan semoga tidak ada halangan dan Buk Menteri bisa hadir ke Umuslim” Harap Rektor Umuslim  Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja menerima penghargaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang diserahkan oleh LLDIKTI Aceh sebagai Universitas swasta terbaik di Aceh.

      Saat pertemuan pembahasan rencana kehadiran Menlu RI tersebut, dihadiri Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arifi Saiman didampingi dua orang stafnya, sedangkan Universitas Almuslim diwakili Direktur Hubungan Internasional Umuslim Drs.Nurdin Abdurahman,MSi, Sekretaris Direktur Hubungan Internasional T.Mahmud Azis, Ka.Biro Umum Chairul Bariah dan Kabag Humas, Jelas Rektor Umuslim. Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi.

    Lanjut Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  lagi,  setelah memberikan kuliah umum, Menlu Retno Marsudi direncanakan juga ikut dalam diskusi presentasi hasil lapangan tim market intelligence di India, yang akan berlangsung di ruang rapat Kampus Ampoen Chik Peusangan Universitas Almuslim.

    Diskusi tersebut kita rencanakan juga  bisa di hadiri   Rektor Unsyiah, Rektor Unimal, Rektor Universitas Teuku Umar, dan Rektor UIN Ar Raniry, KADIN, Kepala BI Provinsi Aceh, Kepala BI Lhokseumawe, Bupati Bireuen, Bupati Aceh Utara, Walikota Lhoksemawe, KEK Arun, Badan penanaman modal Aceh, Konsul India di Medan, Danlanal Sabang dan Lhokseumawe serta beberapa instansi dan lembaga terkait lainnya, kita akan undang mereka, Jelas Rektor Umuslim.

    Kemudian  pada hari Minggu, 23 Desember 2018, Menlu akan melepas keberangkatan perdana kapal dari Pelabuhan Krueng Geukuh yang menuju Port Blair. Menurutnya, perjalanan kapal dari Krueng Geukuh ke Port Blair (INDIA) sekitar 58 jam.

    "Di Port Blair nanti  disambut langsung oleh PM India dan Dubes Indonesia untuk India dan Bhutan," jelas H.Amiruddin Idris yang pernah hadir ke India atas undangan Kementerian Luar Negeri untuk membahas Program Konektivitas hubungan dagang antar tiga negara.

     

     "Kita doakan  semoga Ibu Menlu RI Retno Marsudi bisa hadir,mengingat belum pernah Menlu hadir ke Bireuen, kita sedang menunggu informasi lanjutan dari Kementerian Luar Negeri, Jika nanti beliau tidak bisa hadir kemungkinan digantikan oleh Wamenlu, atau pejabat Kemenlu setingkat Dirjen, jelas  Rektor Umuslim Dr H Amiruddin Idris SE MSi mengutip keterangan Arifi Saiman(Humas).

     

    Foto       : Chairul Bariah

     

    Ket foto : Suasana pertemuan Tim Kemenlu dengan Pihak Umuslim

  • Menteri ATR/KBPN Sofyan Djalil kuliah umum di Umuslim.

     

     

    Peusangan-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD akan memberikan kuliah  umum  pada mahasiswa Universitas Almuslim dan tokoh masyarakat Peusangan, Kamis (14/3/2019).

    Kegiatan yang akan dihadiri sekitar seribu orang peserta ini berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim Matangglumpang Dua.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE,MSi membenarkan akan kehadiran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD ke kampus Umuslim, “Pak Menteri akan memberikan kuliah umum dengan tema Kesiapan Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0” Jelas H.Amiruddin Idris.

    Kami mengharapkan kepada mahasiswa dan dosen agar dapat mengikuti kuliah umum ini dengan serius karena bisa menambah wawasan keilmuan serta banyak hal dan manfaat yang bisa dipetik dari materi kuliah umum bapak Menteri kelahiran Aceh Timur  ini, harap Amiruddin Idris. 

    Pada kesempatan tersebut Sofyan Djalil dijadwalkan juga akan  menyerahkan  sertifikat tanah milik Universitas Almuslim Peusangan kepada Rektor. Menurut Informasi dari tim protokoler rombongan Menteri diperkirakan tiba di kampus Umuslim  sekitar jam 8.15 pagi ,setelah mengisi kuliah umum pada siang hari akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Aceh Timur.(HUMAS)