Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Sale di Lhokseumawe

     

    OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim 

    Pada awal Lebaran Idulfitri yang lalu, tiba-tiba ke handphone saya masuk satu pesan WhatsApp (WA) dari teman kuliah semasa di Medan dulu. Isinya dia ucapkan selamat Idulfitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin. Kemudian, di akhir kalimatnya ia tambahi pesan: Kalau ke Medan jangan lupa oleh-oleh pisang sale Lhokseumawe ya?

    Membaca pesan tersebut saya langsung terkenang pada nostalgia puluhan tahun lalu, karena sejak menyelesaikan kuliah kami jarang bertemu, padahal sebelumnya saya sering menghadiahinya pisang salai, orang Aceh menyebutkan pisang sale, lalu dengan penuh kegembiraan saya jawab permohonan teman saya tadi dengan “Insyaallah”.

    Sahabat saya tadi teringat pada oleh-oleh pisang salai Lhokseumawe, tapi sebetulnya bukan produk Lhokseumawe, melainkan produk Lhok Nibong di Aceh Timur. Semasa kuliah dulu, saat saya kembali ke Medan sepulang liburan dari Aceh, sebagai oleh-oleh untuk teman sering saya bawa pisang salai yang saya beli di Lhokseumawe. Tapi sekali lagi, pisang yang diasapi ini diproduksi di Lhok Nibong, bukan di Lhokseumawe.

    Pisang salai merupakan salah satu cemilan khas Aceh. Warnanya cokelat dan agak kehitaman karena diproses dengan cara dijemur setelah dikupas, lalu diasapi. Bahan baku untuk membuat cemilan ini adalah pisang, bercita rasa manis, legit, dan aman untuk konsumsi.

    Setelah beberapa hari menerima pesan WA, sambil bersilaturahmi ke Bireuen, saya mencari pisang salai di seputaran terminal bus, karena dulu selain di Lhokseumawe, saya juga sering beli pisang salai di Bireuen. Setelah bertanya ke sejumlah kios, ternyata barangnya tak ada, karena semua kios tidak lagi menjual pisang salai. Yang banyak dijual justru keripik pisang, keripik ubi, atau keripik sukun made in Bireuen.

    Kemudian saya coba ke tempat jualan keripik arah timur Kota Bireuen seputaran Stadion Cot Gapu, hasilnya sama. Lalu, ada warga yang mengarahkan saya ke tempat jualan keripik arah barat Kota Bireuen, eh, hasilnya juga sama. Tak ada lagi orang berjualan pisang salai di Kota Keripik dan Kota Satai ini.

    Informasi dari seorang pedagang, sejak konflik bersenjata di Aceh tahun ‘90-an, sudah jarang ada pemasok pisang salai ke kedai mereka.

    Saya juga teringat cerita seorang teman pada Ramadhan lalu yang mencari pisang salai di Bireuen untuk oleh-oleh tamunya dari Jakarta. Lelah dia cari tetapi pisang yang diinginkan tetap tak ada, sehingga terpaksa dia pesan ke Lhok Nibong, Aceh Timur, baru ada.

    Saya pun akhirnya coba menghubungi seorang saudara di Lhokseumawe untuk mencari pisang salai, karena dulu kota di Lhokseumawe, khususnya di kawasan terminal, sangat banyak orang yang berjualan pisang salai. Ternyata di bekas kota petrodolar tersebut hanya dua orang yang penjual pisang salai, tapi tak jadi kami beli karena kualitasnya kurang legit. Stoknya juga agak terbatas, mungkin sisa produksi beberapa minggu lalu, sebelum Lebaran.

    Padahal dulu, saat jaya-jayanya perusahaan gas, geliat terminal Kota Lhokseumawe begitu semarak dengan penjual pisang salai. Pokoknya, kalau kita naik bus malam, saat tiba di Terminal Lhokseumawe, walaupun pencahayaan lampu terminal agak remang-remang, tetapi kita langsung tahu bahwa kita sudah tiba di Terminal Lhokseumawe, karena di terminal itu begitu ramai dan semaraknya suara penjaja pisang salai.

    Tanpa menghiraukan risiko, mereka menenteng pisang salai di tangan, berebut bergantungan naik ke bus. Pemandangan ini persis sama dengan penjaja makanan ringan kalau kita naik kereta api di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dan beberapa terminal di Pulau Jawa.

    Sesampai di dalam bus, mereka sangat cekatan menjajakan cemilan khas Lhok Nibong itu kepada penumpang. Dari mulut mereka tak henti-hentinya keluar teriakan, “Sale...sale..sale...ambil satu dua ribu, kalau ambil tiga cukup lima ribe.”

    Bahkan di dalam bus terkadang lebih banyak penjaja makanan daripada penumpang, pokoknya kegaduhan dalam bus, begitu semarak dengan banyaknya pedagang pisang sale menjajakan jualannya, kadang suara  tawaran penjual pisang sale beriringan dengan tangisan  bayi dalam pelukan ibunya, kalah jauh dengan suara penjaja ranub..ranub, telor puyuh dan aqua. 

    Itulah sepenggal nostalgia yang pernah terjadi di Terminal Lhoksemawe tentang begitu semaraknya suasana dengan tingkah polah dan gaya para pedagang pisang salai.

    Suasana seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi di Terminal Lhokseumawe, tetapi juga di Terminal Bireuen, Lhoksukon, dan Pantonlabu, tetapi di tiga terminal tersebut jumlah pedagangnya agak sedikit dibandingkan di Terminal Lhokseumawe.

    Namun, nostalgia kesemarakan celoteh penjaja pisang salai di terminal, kini hanya tinggal kenangan, suasana masa lalu mulai redup, seiring dengan redupnya api gas alam LNG Arun serta hilangnya sentuhan embusan pembinaan bara api pengasapan di sentra produksi Lhok Nibong.

    Awal meredupnya kiprah penjaja pisang salai di terminal bus–seperti saya singgung di awal tadi--dimulai pada saat Aceh dilanda konflik. Saat itu masyarakat mulai jarang memanfaatkan bus malam untuk perjalanan jauh. Bersamaan dengan kondisi itu pula pasokan pisang salai dari sentranya di Lhok Nibong dan Pantonlabu berkurang, hal ini karena kawasan sentra pisang salai merupakan kawasan yang eskalasi konfliknya tinggi. Kawasannya termasuk ke dalam kategori “daerah merah” konflik.

    Padahal , era ‘80-an pisang salai terkenal sebagai salah satu oleh-oleh khas, baik bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh. Selain dijual dalam bentuk curah (dalam bentuk kiloan) pisang salai juga ada yang di-packing dengan desain kotak yang menarik dan dijual sampai ke Banda Aceh.

    Sekarang malah sudah ada produksi pisang salai di Banda Aceh, tapi rasa dan legitnya tentu beda dengan produksi tradisional di Lhok Nibong, tempat awal mula produksi cemilan ini.

    Selain alasan konflik, saya tak tahu persis kenapa oleh-oleh hasil produksi penduduk yang mendiami aliran Krueng Arakundo ini bisa menghilang di beberapa kawasan, seperti di Terminal Bireuen, Lhokseumawe, dan kota kecamatan lainnya? Kalau benar semata-mata konflik penyebabnya, mestinya pisang salai kini sudah banyak lagi diperdagangkan karena Aceh sudah damai sejak 14 tahun lalu

    Nah, perlu ditelisik apakah penyebab langkanya pisang salai kini di pasaran karena bahan bakunya tak ada lagi ataupun tenaga ahlinya sudah uzur, sedangkan generasi muda tidak tertarik menekuni usaha ini? Atau bisa jadi biaya produksinya terlalu tinggi karena prosesnya memakan waktu lama sehingga tidak sesuai dengan omset penjualan?

    Pemerintah, melalui instansi terkait, perlu melakukan pembinaan kontinyu terhadap home industry yang pernah tenar namanya ini sebagai penghasil oleh-oleh khas daerah. 

    Sangat disayangkan di saat orang sedang semangatnya memproduksi, dan mentradisikan berbagai makanan tradisionil sebagai oleh-oleh  khas daerah,  disaat itu pula pisang sale Lhok Nibong  yang pernah mencuhu dan berasap keluar daerah  semakin sulit di dapat di pasaran.

    Sudah selayaknya kita produksi kembali pisang salai dalam jumlah besar, karena jenis makanan ini sudah langka, susah didapat di pasar, sedangkan peminatnya saya yakin masih banyak. Oleh karenanya, warisan ini perlu dilestarikan, produsen pisang salai perlu diberdayakan, dan produksinya jangan sampai hilang di pasaran.

    Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sepenggal lagu yang pernah populer dinyanyikan anak-anak pada era ‘80-an dulu: Pisang sale, hai Cut, mangat-mangat. Saboh tapajoh meurasa troe pruet....

    Akhirnya, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin

     

    Cerita ini pernah tanyang di https://aceh.tribunnews.com tanggal 17/06/2019/dengan judul Redupnya celoteh penjaja pisang salai di Lhokseumawe

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Rektor sambut kepulangan Tim debat bahasa Inggris dari Surabaya

     

    Tim debat bahasa Inggris mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) yang mengikuti National University Debating Champhionship (NUDC) di Universitas Airlangga Surabaya, kembali dengan selamat, penyambutan kepulangan tim debat  dilakukan Rektor bersama civitas akademika dalam satu acara  berlangsung di Auditorium Academic Centre (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Rabu, (24/7/2019)sore.

    Berdasarkan  informasi yang dirilis melalui Website panitia NUDC 2019,  adapun peringkat yang diperoleh beberapa Universitas dari Aceh berdasarkan jumlah nilai adalah Universitas Almuslim peringkat 26, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh peringkat 37 dan Universitas Malikusaleh pada peringkat 64.

    Rektor Umuslim  Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi saat penyambutan memberikan apresiasi yang tinggi atas perjuangan mahasiswa yang tergabung dalam tim debat dan sukses di tingkat nasional, prestasi yang telah diperoleh  tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kesabaran, Alhamdulillah tim dari Umuslim merupakan  satu-satunya perguruan Tinggi dari Aceh yang lolos kedalam 30 besar nasional.

    Proses perjalanan yang mengantarkan tim debat bahasa Inggris Umuslim ke tingkat nasional setelah menduduki peringkat kedua pada perlombaan tingkat Provinsi Aceh, kemudian di tingkat nasional setelah  beberapa preliminary rounds, Umuslim  berhasil masuk Main draw breaking yaitu  termasuk kedalam 30 besar dari 145 Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dari seluruh Indonesia yang mengikuti ajang tersebut, Umuslim  satu-satunya Perguruan Tinggi dari Aceh yang berhasil masuk 30 besar nasional.

    Adapun peserta tim debat bahasa inggris dari Universitas Almuslim yang tampil pada ajang National University Debating Champhionship (NUDC) yang berlangsung di Universitas Airlangga Surabaya adalah Azzura Mayyasyi (prodi Hubungan Internasional), Nafsul Mutmainnah (Prodi bahasa Inggris), Ahsani Taqwin (prodi Hubungan Internasional), pendamping Ratna Walis (HUMAS)

     

  • Rektor Umuslim kukuhkan tiga pejabat struktural

     

     

    Peusangan-Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi bertempat di ruang rapat Ampon Chiek Peusangan kampus setempat mengukuhkan tiga pejabat struktural dalam lingkup universitas tersebut, Rabu (8/7) sore.

    Adapun pejabat yang dilantik Dra.Zahara,MPd sebagai wakil rektor (warek) II bidang administrasi umum dan keuangan, mengantikan Drs.Ilyas Ismail,M.AP yang telah mejabat Dekan Fisipol, kemudian Zulkifli,M.Kom dikukuhkan pada jabatan baru sebagai kabag Humas dan Kemahasiswaan, jabatan tersebut merupakan jabatan baru karena disatukannya bidang kemahasiswaan dan humas.

    Pejabat lama kabag kemahasiswaan Rahmad,M.AP menjadi ka UPT Perpustakaan dan Arsip mengantikan pejabat lama Marzuki,M.Pd dikembalikan sebagai dosen. 

    Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi dalam arahannya menyampaikan, pengukuhan merupakan hal biasa, ini merupakan kebutuhan dan penyesuaian struktur organisasi sesuai statuta dan perkembangan universitas,  Jabatan wakil rektor IV bidang kerjasama dan humas  di hapus, sehingga sekarang umuslim hanya mempunyai tiga wakil rektor.

    Kepada pejabat baru yang dilantik, Rektor mengingatkan bahwa  tugas baru ini merupakan PR yang berat, teruslah meningkatkan kinerja, melaksanakan tugas pengabdian dengan ikhlas,tetap memperhatikan penghematan dan efisiensi, sambil  memperbaiki setiap  kekurangan dan kesalahan, tidak saling menyalahkan, setiap saat kami akan terus mengevaluasi kinerja dan produktivitas karyawan dan dosen, ungkap H.Amiruddin Idris.

    Kemudian pada kesempatan tersebut Ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri Abdullah,S.Sos  menyampaikan, agar seluruh Civitas akademika tetap mengobarkan  semangat pantang mundur, jangan pesimis, teruslah mengabdi dengan penuh keikhlasan dalam memajukan universitas, apalagi dengan kondisi dan tantangan yang cukup berat saat ini, jelas  H.Yusri Abdullah.

    Kami mendukung  kebijakan yang dilakukan Rektor beserta jajaran dalam penataan dan perampingan  beberapa jabatan serta melakukan penghematan dan efisiensi  sesuai kebutuhan dan perkembangan institusi.

    Terima kasih kepada Rektor beserta seluruh civitas akademika atas pengabdian dan kebersamaan, sehingga universitas almuslim ditetapkan  salah satu PTS terbaik di lingkup LLDikti wilayah XIII Aceh, ungkap H.Yusri Abdullah.

    Acara pengukuhan turut dihadiri Wakil rektor, Dekan, Wakil dekan,ka.Biro, ka UPT dan kabag dalam lingkup universitas almuslim (Humas dan kemasiswaan)

     

     

    Ket Foto : Pejabat yang dilantik didampingi Rektor dan ketua Yayasan Almuslim Peusangan

    Sumber foto : Hery Gustami

  • Rektor Umuslim tutup Acara Kaneut

    Peusangan- Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  menutup secara resmi acara Kaneut (Kreativitas aneuk teknik) fakultas teknik Sipil  umuslim di Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus umuslim, Selasa (26/3).

    Menurut ketua panitia Oriza Alfandy, Kaneut merupakan  program tahunan mahasiswa teknik sipil umuslim  bertujuan untuk pengembangan aktivitas kemahasiswaan,  wahana  silaturrahmi dan sharing pendapat antara mahasiswa, civitas akademika fakultas teknik dan para alumninya.

    Rektor umuslim H.Amiruddin Idris saat penutupan kegiatan memberikan apresiasi tinggi atas kegiatan yang digelar mahasiswa fakultas teknik, menurutnya kegiatan ini selain menumbuhkan semangat kreativitas dikalangan mahasiswa juga dapat mempererat silaturahmi  antara civitas akademika, alumni dan mahasiswa

    Panitia  mengelar berbagai lomba yang diikuti  mahasiswa dan siswa  SLTA, berlangsung sejak tanggal 23 -26 maret 2019, Adapun pemenang lomba antara lain  lomba futsal tingkat SLTA juara I SMAN 2 Bireuen, Juara 2 SMAN 1 Gandapura dan stop score Zuri, untuk Futsal tingkat Mahasiswa Juara I Politeknik Lhokseumawe, juara 2 UKM LPM desa, top score Andre Maireza. Bidang AutoCad, juara I Handri (Politeknik Lhokseumawe), Juara 2 Ichsan (Unimal).

    Acara ditutup dengan penyerahan hadiah bagi pemenang lomba dan juga diserahkan santunan untuk anak yatim dari beberapa sekolah sekitar kampus.(Humas)

     

  • RSS

  • RSS

  • Rujak Manis Kuta Blang warisan pak Guru yang perlu di pertahankan

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen

     Kuta Blang merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Jaraknya ± 15 km dari ibu kota kabupaten dan dapat ditempuh dalam waktu ± 20 menit. Kecamatan Kuta Blang memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selain dari hasil pertanian, perkebunan, juga perdagangan berupa unit usaha home industry. Salah satunya adalah usaha kuliner.

    Dalam rangka mengisi waktu di bulan Ramadhan tahun ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, Chairul Bariah, dan suaminya sepakat ngabuburit ke Kuta Blang dan singgah di salah satu usaha kuliner yang terkenal dan telah menjadi buah bibir masyarakat, baik yang tinggal di Bireuen maupun pendatang dari daerah lain. Kuliner dimaksud adalah rujak manis yang dalam bahasa Aceh disebut lincah. Rujak manis ini berbeda dengan rujakbiasa yang buah-buahannya dipotong-potong lalu dilumuri manisan campur kacang. Sedangkan rujak manis khas Kuta Blang ini buah-buahannya diparut atau dicincang halus. Cara mengonsumsinya dengan diminum, sisanya baru disendok untuk dikunyah dan ditelan.

    Lokasi penjualan rujak manis tersebut hanya berkisar 10 meter dari ujung jembatan Kuta Blang ke arah kanan menuju daerah Peusangan Siblah Krueng. Berikut ini Chairul Bariah akan menukilkan tentang rujak manis Kuta Blang secara panjang lebar.

    Sebelum puasa Ramadhan sempat kami perbincangkan dengan beberap kolega di kantor tentang resep rujak yang menggiurkan itu. Padahal, di Kuta Blang bahkan tempat lain di seputaran Bireuen banyak yang menjual rujak sejenis, tetapi rujak Pak Guru ini memang beda dan tetap jadi idola para penyuka lincah. Alhamdulillah, saya bertemu langsung dan berbincang dengan anak kandung pemilik usaharujak manis yang diberi label “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” ini. Namanya Muhammad Taufik (17). Dia menuturkan bahwa ayahnya sudah meninggal setahun lalu, tepatnya menjelang Ramadhan. Ibunya bernama Erlida adalah guru PNS di MIN Pulo Siron Kuta Blang yang dulu setia mendampingi sang suami berjualan rujak manis.

    Sebagai anak tertua dan satu-satunya pria dari empat bersaudara, saat ini Taufiklah yang mengelola dan melanjutkan usaha keluarga tersebut. Bisnis rujak manis ini telah dimulai sejak tahun 1974. Lokasinya pun sama seperti sekarang, hanya saja sekarang kawasan ini sudah ditimbun sehingga terlihat lebih tinggi dari arah sungai. Saat saya tanya-tanya tentang ayahnya yang merintis usaha tersebut, tiba-tiba Taufik menunduk dan suaranya mulai parau dan matanya berkaca-kaca saat berkata, ”Saya rindu bersama ayah dan keluarga, namun semua tinggal kenangan.”

    Tanpa sadar saya pun ikut menitikkan air mata. Nama usaha “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” itu ditabalkan karena semasa hidup si empunya usaha, yakni Pal Jakfar, merupakan seorang guru. Tepatnya guru PNS di SD Negeri 8 Kuta Blang. Seyogianya beliau akan pensiun dua tahun lagi. “Tapi sudah sepuluh tahun ayah sakit, sudah berobat di dalam dan luar negeri, namun Allah lebih sayang pada ayah dan memanggilnya untuk kembali. Kami ikhlas,” katanya sembari berdoa, “semoga ayah ditempatkan di surga-Nya.” Kali ini Muhammad Taufik tampak menyeka matanya yang mulai berair.

    Dalam suasana perbincangan yang mengharukan, tiba-tiba pemuda yang masih duduk di kelas 2 MAN Peusangan ini bangkit dari duduknya dan berusaha tersenyum. Ia pun berkata lirih, “Hidup ini harus kita lanjutkan.” Akhirnya saya pun bersemangat untuk melanjutkan diskusi dengannya. Menurut Taufik, untuk meneruskan usaha tersebut dia sudah mendapatkan resep warisan dari almarhum ayahnya. Hal ini dilakukannya demi untuk menjaga kenikmatan dan kelezatan rasa rujak sesuai dengan olahan tatkala orang tuanya yang meracik.

    Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat rujak manis ini adalah mentimun, nanas, mangga, sawo, embacang (Mangifera foetida), dan beberapa buah-buahan manis lainnya. Kemudian diramu sesuai resep peninggalan orang tuanya. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, buah-buahan yang dicincang sebagai bahan dasar rujak haruslah yang berkualitas. Misalnya mangga, haruslah mangga yang manis dan berwarna kuning. Begitu juga dengan nanas, sawo, dan buah lainnya. Seluruh bahan tersebut sebelum diolah dicuci bersih, lalu dikupas, dicincang, dan diletakkan pada wadah yang tersedia, kemudian dicampur dengan sari gula asli yang dicairkan, ditambah sedikit cabai rawit yang dihaluskan, lalu diaduk dengan air.

    Untuk menjaga agar airnya jangan terlalu banyak dan lebih nikmat, dapat ditambahkan es batu atau hasil racikan tadi dimasukkan ke dalam kulkas. Menurut Taufik, pada hari biasa dia butuh 300 kg buah dan 50 kg gula pasir untuk menghasilkan rujak manis. Sedangkan pada bulan Ramadhan kalau cuaca panas menyengat dalam sehari dia bisa menghabiskan 150 kg gula pasir, timun satu ton untuk dua hari ditambah buah lainnya.

    Dalam menjalankan usaha warisan tersebut pada bulan Ramadhan ini Taufik dibantu oleh lima karyawan yang mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB. Tapi kalau pada hari biasa pekerjanya cukup tiga orang saja dan mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB. Usaha ini pada hari biasa dibuka mulai pukul 10.00-18.00 WIB, sedangkan pada bulan Ramadhan dimulai setelah shalat Asar sampai menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.30 WIB.

    Menurut Taufik, harga rujak tersebut per gelas adalah Rp 5.000. Sedangkan yang sudah dikemas dalam plastik harganya Rp 10.000. Harga ini bertahan sudah cukup lama walaupun harga bahan naik, apalagi pada bulan Ramadhan harga bahan mahal dan susah didapat, tapi sudah ada langganan atau pemasok dari seputaran Bireuen yang siap sedia menyuplai buah-buahan yang berkualitas kepada Taufik.

    Usaha rujak manis ini juga menerima pesanan untuk acara pesta atau kenduri dengan harga satu dandang ukuran kecil Rp 1.000.000, yang sedang Rp 1.500.000, dan yang besar Rp 2.000.000. Rujak manis ini banyak juga dipesan oleh instansi pemerintah dan swasta. Menurut M Rifal, karyawan yang bekerja pada usaha rujak manis ini, omset yang diperoleh per hari, “Alhamdulillah, lumayan.” Pokoknya dari hasil penjualan rujak ini, sang pemilik usaha mampu membeli tanah, membangun rumah, dan mampu membayar gaji para karyawannya.

    Di bawah pengelolaan putra sulung Pak Guru, rujak manis Kuta Blang terus memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cita rasa yang tak berbeda dengan racikan almarhum sang ayah. Semoga Muhammad Taufik dapat terus melanjutkan warisan kuliner yang telah sangat terkenal dan terus berinovasi dengan memperkenalkan produknya melalui media iklan dan berbagai varian produk lainnya, dengan harapan usaha ini mampu mengantarkan dirinya dan ketiga adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Menurut Taufik, usaha rujak manis Pak Guru Kuta Blang belum pernah membuka cabang di mana pun, walaupun sering kita lihat di tempat lain ada orang yang menempelkan spanduk atau poster dengan tulisan Rujak Manis Kuta Blang. “Tapi itu bukan cabang kami,” tegas Taufik. Ketika ditanya apa ada rencana buka cabang, Taufik menjawab, “Nantilah kita lihat dulu.”

    Tangan Taufik terus mengaduk-aduk rujak dalam dandang besar, sedangkan karyawannya sibuk mengemasnya dalam plastik dan siap untuk di jual. “Doakan ya Bu semoga usaha ini bisa bertahan sehingga nanti saya bisa kembangkan usaha dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar karena bagi saya orang yang sukses adalah orang yang mampu membawa orang lain dalam suksesnya,” ujar Taufik.

    Pada hari itu selain kami ada juga para pelanggan yang telah lama menunggu giliran untuk membeli rujak yang kaya vitamin C ini. Mereka hendak membeli rujak manis racikan Taufik. Selama bulan puasa ini banyak pula kendaraan umum yang membawa rombongan berhenti di sini, lalu para penumpang membeli rujak manis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

    Akhirnya saya pun tiba di rumah dan segera berwuduk untuk melaksanakan shalat Asar, kemudian memasak untuk mempersiapkan menu berbuka puasa bagi suami dan anak, setelah itu menghidangkannya di atas meja. Waktu yang ditunggu pun tiba, terdengar suara sirine dari meunasah pertanda waktu berbuka. Setelah berdoa, saya raih gelas berisi rujak manis yang dari tadi sudah menggoda untuk direguk.

    Alhamdulillah, rujak manis Kuta Blang ternyata memang nikmat dan mampu meningkatkan stamina. Hilang sudah rasa lelah dan dahaga saya, serta bersemangat mengikuti shalat Tarawih. Pantas di mana pun berada rujak manis Kuta Balang tetap dicari pelanggan sehingga perlu dilestarikan. Ini salah satu kekayaan kuliner khas Aceh.

    Cerita ini pernah tanyang di http//:Aceh Tribunnews tanggal 20/05/2019 dengan judul Ini rujak warisan pak guru.

  • Sambai Oen Peugaga, Penganan Khas Bulan Puasa

    OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

    SETIAP daerah di Indonesia memiliki beragam jenis penganan khas dan unik yang dapat dinikmati ketika berbuka puasa. Malah ada penganan yang hanya muncul saat bulan puasa. Seperti di Aceh, salah satu penganan khas dan unik adalah sambai oen peugaga (sambal daun pegagan) dan hanya dibuat atau dijual pada bulan puasa. Walaupun namanya sambal (sambai) tapi hidangannya seperti urap sayur yang diaduk dengan kelapa parut atau giling. Keunikannya, sambai ini diracik dari aneka dedaunan yang berjumlah 44 jenis dedaunan.

    Di Aceh pegagan (Centella asiatica alias gotu kola) dikenal dengan sebutan peugaga, sandanan (Papua), semanggen (Indramayu, Cirebon), daun kaki kuda (Melayu), antanan (Sunda), piduh (Bali), daun tungke (Bugis), pagaga (Makassar), jalukap (Banjar), ampagaga (Batak), dan gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (Jawa).

    Pegagan adalah jenis tanaman liar yang banyak tumbuh di pematang sawah atau kebun, bahkan di tepi jalan atau di tempat-tempat yang lembab atau sejuk. Tumbuhan dataran rendah ini banyak ditemui di negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur. Sejak ribuan atau ratusan tahun lalu, di Tiongkok, India, dan Indonesia tanaman ini telah digunakan sebagai bahan utama ramuan obat tradisional dengan khasiat menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti melancarkan aliran darah, mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan daya ingat, menghilangkan atau menyamarkan stretch marks di kulit, kesehatan mental, penyakit sendi, mengobati alzheimer, dan mencegah hipertensi. Tanaman obat ini kaya akan beta karoten, asam lemak, asam amino, asam asiatik, dan lain sebagainya (Informasi yang termuat dalam Hellosehat.com, Liputan6.com, dan Setyawati, Titiek dkk., 2015).

    Selain untuk pengobatan, tanaman ini juga digunakan sebagai bahan utama produk perawatan kulit, kapsul klorofil, dan produk teh. Kalau kita buka Bukalapak.com, di sana tertera pegagan dijual seharga Rp40.000 per kg. Harga ini terbilang tinggi yang berarti memiliki prospek secara ekonomi dan berpotensi untuk dibudidayakan secara besar-besaran.

    Di Aceh, sambai oen peugaga selalu dicari pada saat bulan Ramadhan tiba. Namun, tidak mudah untuk menemukan tempat atau gerobak dadakan yang menjamur di bulan puasa yang menjual sambai ini. Hanya ada di tempat-tempat tertentu, seperti kalau di Banda Aceh dijual di Pasar Peunayong, di Jalan Tgk Pulo di Baroh di Gampong Baro (dekat Garuda dan Masjid Raya Baiturahman), di Ulee Kareng, di Lamteumen di dekat Ditlantas Polda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

    Dalam amatan saya, jumlah orang yang menjualnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Saya mengetahui ini karena penganan ini salah satu makanan favorit saya. Ketika berada di Banda Aceh, setiap sore saya membelinya untuk kudapan berbuka.

    Saya teringat pada tahun 90-an, untuk membantu orang tua membuat sambai oen peugaga, saya mencari peugaga di pekarangan rumah dan juga di sela-sela rerumputan pada tanah lapang di sekitar rumah yang berada di Lorong II Gampong Lamlagang, Banda Aceh. Pada saat itu masih mudah untuk menemukan tanaman ini. Tapi sekarang, walaupun tanah lapangnya masih ada, tapi tanaman ini sudah tak ada lagi. Walaupun ia tumbuh liar, tapi tidak mudah untuk menemukan di tempat atau gampong lainnya.

    Demikian juga di Matang Glumpang Dua, Bireuen, tempat saya bertugas, setiap akan berbuka puasa saya selalu mencari sambai oen peugaga. Setidaknya ada tiga lokasi yang menjual sambai ini, yaitu di jalan dekat pasar tradisional Matang, di pasar baru dekat terminal, dan di perempatan lampu merah Kota Matang Glumpang Dua, jalan yang menuju Jangka. Matang Glumpang Dua merupakan ibu kota Kecamatan Peusangan. Di kota kecamatan inilah tempat lahirnya universitas swasta terbaik di Aceh, yaitu Universitas Almuslim dan juga tempat lahirnya salah satu kuliner legendaris Aceh, yaitu satai matang.

    Di Matangglumpang Dua orang menyebut sambai oen peugaga dengan sebutan sambai peugaga atau sambai oen. Bahan racikan sambai terdiri atas daun pegagan (bahan utama), daun jeruk purut, daun serai, rebung kala, bunga pepaya, daun jarak (lawah), daun sigeuntot, daun pucuk jambu muda, daun tapak liman, daun mengkudu, daun pucuk mangga, daun kemangi, beberapa kelopak bunga, daun ubi-ubian, dan beberapa daun lainnya.

    Sebelum dicincang dan diiris halus, daun-daun ini dicuci terlebih dahulu, kemudian diuapkan. Jika salah mengolahnya maka aroma daun akan tercium kurang sedap. Akibatnya, sambai yang dibuat juga akan terasa tidak gurih dan lezat. Yang mengolahnya juga harus sabar karena pengirisan dilakukan secara manual. Kalau tergesa-gesa, hasil irisan akan kasar dan terlihat tidak menarik.

    Irisan dedaunan ini, lalu diaduk dengan kelapa parut atau giling atau juga kelapa gongseng dan ditambah dengan asam sunti, udang, dan kacang goreng yang telah dihaluskan. Kemudian dicampur dengan rajangan cabai rawit atau cabai merah atau hijau dan bawang merah. Dapat dibayangkan, dengan ragam racikan seperti ini, jika kita mencicipinya maka rasanya akan terasa lezat dan gurih. Keharuman daun-daunnya juga dapat kita rasakan.

    Dalam dialog dengan Kak Era, penjual gado-gado dan pecel, termasuk sambai peugaga di perempatan lampu merah Matangglumpang Dua, ia mengatakan bahwa tidak setiap hari ia menjual sambai ini. Karena daun peugaga belum tentu ada setiap hari di pasar baru. Kalau ada maka baru ia beli dan buat. Kalau dijual, pasti laku karena setiap hari pasti ada yang membeli. Yang membeli kalangan lanjut usia atau orang tua. Anak-anak muda sudah tidak mau makan penganan ini.

    Penjual sambai oen peugaga yang lain adalah Ibu Salbiah Usman, asal Gampong Bugak Blang, yang utamanya menjual beragam bumbu dapur di jalan dekat pasar tradisional Matang. Ia mengatakan hal yang sama bahwa yang suka makan penganan ini adalah kalangan orang tua. Anak-anak muda tak begitu suka, mungkin karena aroma atau rasanya.

    Saya tanya ke Ibu Salbiah, “Apakah racikan sambai yang Ibu buat lengkap dengan 44 dedaunan?”

    Ia jawab, “Pada hari pertama hingga empat hari puasa, daunnya lengkap hingga 44. Tapi setelah itu tidak lagi. Karena tidak semua orang suka. Ada yang tidak suka dengan aroma atau rasanya. Sekarang kalau diracik sekitar 4-5 dedaunan saja.”

    Karena penasaran, saya tanya lagi,”Mengapa sampai 44 dedaunan?” Ia lalu jelaskan,”Orang tua saya dulu juga ngomong 44 jumlah daun. Saya tidak tahu mengapa. Itu sudah dari sananya, dari warisan indatu.”

    Ditambahkan lagi, “Allah memberi keistimewaan di bulan Ramadhan. Segala daun kayu yang kita makan tidak akan mabuk. Kalau kita makan di luar bulan puasa, bisa mabuk. Karena di antara 44 dedaunan ini, banyak yang tidak cocok. Ada daun yang kalau dicampur dengan daun yang lain, jika dimakan, maka orang akan mabuk. Tapi di bulan Ramadhan, kita tidak akan mabuk. Semua bisa dimakan. Daun yang berjumlah 44, diibaratkan kira-kira sebanyak itu dedaunan yang bisa dimakan manusia.”

    Di samping itu ia katakan, “Dedaunan yang kita makan ini adalah daun-daun muda. Daun-daun ini akan bertasbih untuk orang yang memakannya. Kita akan dimuliakan.” Apa yang dikatakan Ibu Salbiah saat ini telah menjadi fakta ilmiah bahwa tumbuhan juga bertasbih dan bersujud kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

    Dalam sehari, sambai peugaga milik Ibu Salbiah laku 40 hingga 50 bungkus. Per bungkusnya dihargai Rp 5.000. Di balik kekhasan dan keunikannya, tentu ada simbol dan makna budaya yang perlu untuk dikaji lebih lanjut

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/2019/06/03/ dengan judul Sambai oen peugaga penganan khas bulan puasa

  • Sanggar Mirah Delima Umuslim tampil di Indosiar

     

    Peusangan-Tim Sanggar Mirah Delima (SMD) Universitas Almuslim Peusangan tampil di studio Indosiar Jakarta, kehadiran tim sanggar binaan Hj.Nuryani Rachman,SPd tersebut dalam rangka menemani dan memberikan dukungan penuh kepada salah seorang anggotanya yaitu Cut Rianda Zuhra yang tampil pada liga dangdut Indonesia atau LIDA 2 Indosiar, Kamis (21/3/2019) malam.

    Setelah menyanyikan sebuah tembang Hijrah Cinta  sebagai lagu wajib, dilanjutkan dengan kolaborasi lagu Aceh, penampilan Cut Zuhra yang  tercatat sebagai mahasiswi Universitas Almuslim  mendapat nilai baik dari dewan juri dengan menyalakan lampu biru.

    Setelah mengajukan  beberapa pertanyaan dan evaluasi dari tim juri kepada Cut Zuhra,  para Host yang terdiri empat orang   memberikan kesempatan kepada Sanggar Seni Mirah Delima Universitas Almuslim yang selama ini merupakan grup sanggar tempat Cur Rianda Zuhra mengembangkan seni tarinya untuk menampilkan salah satu gerakan tarian Aceh.

    Walau dengan jumlah personil yang kurang lengkap, dengan kondisi masih kelelahan karena baru tiba dari Aceh, tetapi Alhamdulillah penampilan anak-anak tidak mengecewakan, ungkap Hj.Nuryani Rachman yang secara khusus hadir ke studio untuk memberikan dukungan dan semangat kepada Cut Rianda Zuhra bersama sanggar Umuslim.

    Yang sangat menakjubkan  tim Sanggar Mirah Delima Universitas Almuslim, turut melibatkan Kisae mahasiswi asal Jepang, gadis dari negeri matahari terbit ini sekarang sedang  menempuh pendidikan di Universitas Almuslim, Kisae  ikut serta menari bersama tim Sanggar Mirah Delima, dipenampilannya gadis asal negeri "Bom atom" ini terlihat sudah tidak canggung lagi memainkan gerakan dan menabuh rapai salah satu alat musik tradisionil Aceh.

    Kisae mahasiswi Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang yang sudah satu semester menempuh pendidikan di Umuslim, selama ini aktip terlibat dalam setiap aktivitas seni dan kemahasiswaan yang dilakukan Sanggar Mirah Delima Umuslim. Tim SMD Umuslim ini merupakan salah satu sanggar yang kerap mewakili Indonesia dalam mengikuti pentas seni di dalam dan  luar negeri.

    Usai penampilannya  Kisae gadis Jepang ini, menjadi perhatian  Host tim LIDA 2 Indosiar, saat diwawancara dengan bahasa Indonesia terpatah-patah, Kisae  menyampaikan  bahwa dia sangat suka dengan tarian Aceh, pada saat itu Kisae juga sempat menyanyikan lagu Aceh berjudul Nanggroe Aceh, sehingga mendapat tepukan dan simpati dari pemirsa Indosiar.

    Penabuh rapai pada acara tersebut  Angga Eka Karina didampinggi Safwandi menyampaikan  rasa puas atas penampilannya di studio televisi swasta nasional.(HUMAS)

     

  • Sate Apaleh’ dan Iringan Doa Anak Yatim

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen

    SATAI (sate) adalah makanan khas Indonesia. Pencinta kuliner tentu tak asing lagi dengan makanan yang satu ini karena dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia dengan sensasi rasa yang berbeda. Kuliner yang satu ini kerap diberi nama sesuai daerah asal atau nama penjualnya. Itu sebab ada “sate padang”, “sate madura”, dan di Aceh ada “sate matang” dari Matangglumpang Dua, Bireuen.

    Beberapa tahun belakangan populer pula satai/sate Apaleh Geurugok, Kabupaten Bireuen. Apalagi baru saja bulan Juni ini satai Apaleh masuk salah satu dari tujuh nominasi objek wisata Aceh yang berhak mendapat Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019. Selain satai Apaleh Geurugok yang masuk nominasi makanan tradisional, objek lainnya adalah Mangrove Forest Park di Kota Langsa masuk nominasi ekowisata dan Kerawang Gayo, Gayo Lues, masuk nominasi cendera mata. Selanjutnya Rabbani Wahed, Bireuen, masuk nominasi atraksi budaya, Kilometer Nol Kota Sabang masuk nominasi destinasi unik, Tensaran Bidin Bener Meriah masuk nominasi surga tersembunyi, dan Sabang Marine masuk nominasi festival pariwisata.

    Nah, melalui tulisan ini saya coba untuk mengenal lebih dekat satai Apaleh sambil menikmatinya. Kebetulan, masih dalam suasana Syawal 1440 H, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Siang itu saya ajak sang tamu dan keluarga untuk menikmati sambil menelusuri sejarah satai di Matang.

    Kami berangkat pukul 12.20 siang dari tempat tinggal saya di Matang menuju lokasi ± 20 menit. Udara saat itu sangat panas, sepanjang perjalanan banyak kendaraan berlalu lalang, karena masih dalam suasana arus balik Lebaran, terkadang laju kendaraan tersendat bahkan harus berhenti, karena dipenuhi kendaraan lainnya. Jadi, butuh kesabaran dan pengertian sebagai sesama pengguna jalan.

    Tanpa terasa kami telah sampai di Geurugok pas waktu zuhur. Kami pun shalat di Masjid Taqwa Geurugok, letaknya berseberangan jalan dengan warung satai. Seusai shalat kami langsung menuju WarungSate Apaleh, karena bersamaan dengan waktu makan siang. Saking banyaknya pengunjung yang memadati warung tersebut, kami hampir tak kebagian tempat duduk dan parkir.

    Penikmat satai Apaleh kebanyakan orang yang datang dari berbagai daerah, umumnya orang-orang yang melintasi di jalan Banda Aceh-Medan. Saat Lebaran 2-5 Idulfitri lalu, kemacetan lalu lintas di sekitar ini sampai 2 hingga 10 km panjangnya karena laju kendaraan di jalan terganggu saat pengendara ke luar dari parkir atau memarkir mobilnya di kiri dan kanan jalan yang di kedua sisi itu ada warung Apaleh. Belum pernah ada dalam sejarahnya di Aceh kuliner yang begitu banyak peminatnya mampu menyebabkan kemacetan kendaraan di jalan nasional sampai 10 km panjangnya, kecuali satai Apaleh. Ya begitulah hebatnya.

    Tanpa perlu lama menunggu, pelayan akhirnya mempersilakan kami duduk di sebuah meja, tak jauh dari gerobak satai. Kami tak menolaknya, apalagi aroma satai yang sedang dibakar dengan asap yang mengepul sangat menggoda selera untuk segera menyantapnya.

    Dua porsi satai yang masih berasap ditambah kuah soto, bumbu kacang, dan sedikit taburan bawang goreng dipadukan sedikit tetesan air cabai rawit dengan aroma yang khas disajikan kepada kami plus air timun dingin. Semua ini makin menggugah selera makan siang kami. ”Ini benar-benar nikmat,” ujar tamu saya, tanpa terasa satai yang dihidangkan di meja kami semua habis. Saya pun minta tambah satu porsi lagi. Ternyata tamu saya benar-benar menikmatinya.

    Seusai makan saya biarkan tamu saya untuk berkeliling melihat dari dekat bagaimana cara mengolah satai matang. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Apaleh, sang pemilik kuliner tersebut. Dengan santun pelayan mengantarkan saya bertemu Apaleh.

    Ini orang terpenting di balik kisah sukses bisnis satai di Geurugok. Soalnya nama satai yang populer dalam beberapa tahun terakhir ini diambil dari namanya selaku pemilik, yakni Muhammad Saleh. Orang kampungnya memanggil pria berpenampilan sederhana ini dengan Apaleh. Ia sudah dikaruniai sembilan orang anak, semuanya sedang menuntut ilmu di dayah/pesantren dalam Kabupaten Bireuen. Menurut Apaleh, awalnya dia mendapat ilmu cara bikin satai di Matangglumpang Dua pada usaha satai matang. Dulunya dia bekerja pada usaha satai ayah dari Tubaka (pemilik warung satai di Matangglumpang Dua), sampai beberapa tahun lamanya. Apaleh bekerja dan tinggal di Meunasah Dayah Matangglumpang Dua, tempat gudang satai orang tua Tubaka yang bernama Tu Ali.

    Karena tinggal di situ, Apaleh belajar sambil bekerja. Dari ayah Tubakalah dia berguru sampai akhirnya punya “ilmu kanuragan” tentang satai dan cara berjualan. Setelah berguru dan bekerja beberapa tahun di usaha satai di Matangglumpang Dua, Apaleh yang merasa sudah mampu lalu mencoba untuk mandiri dan berusaha membuka usaha sendiri di kampungnya, Geurugok.

    Awalnya Apaleh berjualan pada hari pekan (uroe gantoe), setiap hari Selasa. Saat itu orang yang membeli sangat terbatas, hanya pedagang yang berjualan pada hari pekan tersebut. “Sesekali ada juga pelajar yang pulang dari sekolah yang beli,” jelas Apaleh mengenang awal ia merintis usaha.

    Menurut Apaleh, dia telah memulai usaha ± 20 tahun lalu. Di tengah perjalanan, usahanya mengalamai pasang surut. Apalagi pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan konflik berkecamuk gerobak satai yang ia kelola pernah dibakar aparat tanpa sebab yang jelas. Kejadian itu membuat dirinya dan masyarakat trauma, sehingga dia harus mengungsi ke tempat lain. Situasi saat itu memang sangat tidak menentu dan Apaleh sempat tak punya lokasi untuk berjualan lagi.

    Selang beberapa tahun, Apaleh merintis kembali usahanya di sebuah warung di sisi jalan nasional Geurugok. Pelan tapi pasti ia terus bertahan walaupun pembelinya masih terbatas, Apaleh tetap sabar karena berjualan satai satu-satunya keahlian yang dia miliki setelah beberapa tahun berguru di Matangglumpang Dua.

    Setelah peremajaan Pasar Geurugok, Apaleh pindah ke tempat baru. Alhamdulillah, dalam waktu setahun usahanya mulai berkembang. Awalnya satu gerobak, sekarang sudah lebih dari lima gerobak. Ia mempekerjakan 50 karyawan di warung dan 10 karyawan khusus bekerja di rumah sebagai juru masak bumbu dan menyiapkan potongan daging sapi. Penyembelihan sapi rata-rata dua ekor per hari dilakukan sendiri oleh Apaleh. Bahan baku daging dipotong-potong oleh karyawan, kemudian disucikan dan diolah dengan bumbu racikan khas Apaleh.

    Karyawan, selain mendapat upah rutin harian juga mendapatkan bonus akhir tahun dari Apaleh. Dari keuntungan usahanya empat tahun yang lalu, Apaleh berhasil mendirikan balai pengajian dengan nama Darul Khairat Al-Aziziah yang berlokasi tak jauh dari rumah tinggalnya, Desa Paloh Me. Santrinya mayoritas anak yatim, jumlahnya mencapai 500 orang. Pengelolaan lembaga ini dia amanahkan kepada menantunya. Biaya pendidikan bagi para yatim digratiskan. Seluruh dana untuk operasional balai pengajian ditanggung Apaleh dari hasilnya berjualan satai.

    Yang unik, karyawan yang kerja di warungnya harus mampu membaca Alquran dan wajib ikut pengajian setiap malam Jumat. Yang tidak hadir pengajian diberi sanksi, yakni tidak boleh bekerja selama tiga hari. Apabila tidak ikut pengajian selama tiga kali berturut-turut, maka langsung diberhentikan dari status karyawan.

    “Karyawan juga ada yang mengajar di dayah tersebut. Khusus hari Jumat warung dibuka setelah shalat Jumat. Kalau ada acara muhadharah maka seluruh santri diberikan makan satai gratis,” ujarnya.

    Apaleh justru merasa sangat terbantu dengan doa-doa para anak yatim tersebut sehingga usahanya sukses dan terus berkibar. “Keuntungan yang saya peroleh dari penjualan satai ini, antara lain, berkat doa anak-anak yatim yang saya asuh. Ini juga salah satu bekal saya menuju akhirat kelak,” ungkap Apaleh dengan mata berkaca-kaca.

    “Kunci sukses lainnya adalah kepada karyawan saya tekankan agar melayani pelanggan dengan ramah, tulus, dan santun, serta selalu menjaga kebersihan,” jelas Apaleh.

    Selesai makan di warung itu saya dan tamu saya sangat puas menikmati satai Apaleh. Semoga usaha satai yang menunjang operasional pendidikan 500 santri yatim ini semakin maju dan sedapatnya menjadi contoh bagi pengusaha yang lain.

    Lolosnya kuliner andalan Matangglumpang Dua ini masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2019 untuk kategori makanan tradisional, semoga menjadi start awal untuk mempromosikan kuliner Aceh yang satu ini ke pentas nasional bahkan mancanegara. Selamat kepada Apaleh dan para karyawannya.

     

     

    Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com tanggal /01/07/2019/ judul Sate Apaleh dan iringan doa anak yatim.

     

     

  • Sejumlah Dosen Umuslim ikuti sosialisasi penggunaan Sinta

     

     

    Peusangan-Sejumlah dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen mengikuti sosialisasi cara penggunaan Science and Technology (Sinta) di Aula Gedung Ampon Chiek Peusangan Bireuen, Kamis (05/09/2019.

    Sinta adalah suatu portal yang berisi tentang pengukuran kinerja ilmu pengetahuan dan teknlogi meliputi berbagai bidang, pertemuan dibuka Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIII Aceh, Prof dr Faisal SH MHum.

    Kabag Humas  dan Kemahasiswaan Umuslim, Zulkifly M Kom menngatakan bahwa portal Sinta menyangkut kinerja peneliti, penulis, kinerja jurnal maupun ilmu teknologi. “Aplikasi tersebut menyangkut kinerja para peneliti di kalangan dosen,” 

    Ketua panitia, Syafii SEAk, melaporkan, sosialisasi serta implementasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas disiplin.

    Selanjutnya untuk pengawasan secara berkala terkait keberadaan dan keaktifan tenaga pendidik pada perguruan tinggi swasta di lingkungan LLDIKTI wilayah XIII. 

    Sasaran lain dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas dosen yang lebih professional, bermoral, bersih dan bertanggung jawab, jelasnya.

    Dalam pertemuan satu hari menghadirkan pemateri  Prof Dr Faisal, SH. MHum, Julfikar SE dan Dr.Ir.Rizal Munadi MM,MT dari LLDikti XIII Aceh.(HUMAS)

     

  • Selesai studi satu mahasiswa Jepang kembali kenegaranya.

     

    Peusangan-Satu dari dua orang mahasiswa yang berasal dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang yang menempuh pendidikan  selama satu semester  di Umuslim telah menyelesaikan masa studinya dalam program pertukaran mahasiswa antara  universitas almuslim dan NGU Jepang.

    Perpisahan pelepasan kembalinya mahasiswa Jepang kenegaranya dilakukan civitas akademika universitas almuslim secara sederhana bertempat di ruang rapat kampus Ampoen Chiek Peusangan, Selasa (29/1) sore.

    Menurut Sekretaris Kantor Urusan Internasional (KUI) umuslim,  Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil.,M.A yang telah menyelesaikan program pertukaran tersebut bernama Iwatsuki Shunichi (21) yang mengambil program kuliah satu semester di umuslim.

    Sebenarnya angkatan kedua program pertukaran mahasiswa ini, ada dua mahasiswa dari NGU Jepang yang kuliah di umuslim,  satu orang mahasiswi Fukushima Kisae, dia memilih program selama 1 tahun (dua semester), sedangkan Iwatsuki Shunichi hanya memilih program 1 semester dan telah menyelesaikan  kewajiban perkuliahannya.

    Perkuliahan yang diikuti kedua mahasiswa ini adalah perkuliahan khusus yang kelasnya disebut Kelas International, mereka selain mengikuti beberapa mata kuliah yang telah ditentukan juga belajar budaya dan bahasa selama berada di umuslim. jelas T.Cut Mahmud Azis.

    Kelas Internasional yang dirancang, menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Indonesia dengan mengikuti beberapa mata kuliah, acara pelepasan kembalinya mahasiswa Jepang tersebut dilakukan wakil rektor I Dr. Hambali, SE, MPd pada kesempatan tersebut  juga ikut memberikan  nasehat kepada Iwatsuki Shunichi. " Jika datang kembali ke Indonesia (Aceh), silahkan mampir ke universitas almuslim, kami akan menerima dengan tangan terbuka, kita telah seperti saudara," ungkap Hambali menyampaikan harapannya.

    Iwatsuki Shunichi ketika diminta tanggapan dan pengalamanya selama kuliah di umuslim dengan bahasa indonesia terbata-bata menyampaikan ungkapan hatinya  betapa senangnya ia belajar di universditas almuslim, senang tinggal di Aceh  dan ingin belajar Islam,  ia ingin kembali ke Aceh,  orang Aceh baik-baik dan ramah-ramah, kemana ia pergi selalu disapa orang, makanannya juga enak ungkap lajangJepang sambil tersenyum. 

    Acara pelepasan dihadiri wakil rektor, para Dekan, Ka.Biro dan Kabag dan para dosen yang mengajar kelas Internasional dan diakhiri dengan penyerahan sertifikat oleh wakil rektor I umuslim Dr.Hambali, SE.,MPd kepada Iwatsuki Shunichi,  kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.(HUMAS)

  • Seminar Investasi Cerdas generasi Milenial di Umuslim

    Peusangan-Puluhan mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen mengikuti seminar  Investasi Cerdas Generasi Milenial, berlangsung di ruang seminar Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim,Sabtu (2/3/2019).

    Seminar  dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pegadaian Cabang Bireuen bekerjasama dengan Universitas Almuslim  berlangsung satu hari dibuka secara resmi oleh wakil rektor III Umuslim Ir.Saiful Hury,MSi.

    Pada  pembukaan seminar  Ir.Saiful Hurry,MSi menyampaiakan bahwa kampus Umuslim menyambut baik seminar yang digelar   BUMN yang mempunya motto “Mengatasi masalah Tanpa Masalah” , harapanya semoga seminar  ini dapat bermanfaat bagi seluruh peserta, menurutnya program Pegadaian sekarang banyak yang bisa membantu mahasiswa dalam menyelesaikan studinya, semoga hadirnya BUMN Pegadaian  di kampus dapat membantu penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi mahasiswa Umusllim khususnya dalam hal kekurangan biaya kuliah.

    Karena menurut wakil rektor III Umuslim, persoalan utama yang dihadapi mahasiswa umuslim sekarang  dalam hal pendanaan, banyak mahasiswa umuslim yang sudah tamatpun sekarang banyak belum mengambil Ijazah karena terbentur dengan kekurangan biaya, semoga dengan adanya seminar ini nantinya mahasiswa mengetahui berbagai produk dari Pegadaian yang bisa membantu mahasiswa dalam hal mengatasi masalah pembiayaan, harap Ir.Saiful Hury,MSi.

    Kemudian pada kesempatan tersebut kepala Pegadaian Bireuen Abdul Arif Fadilla, SE menyampaikan bahwa sekarang di pegadaian banyak produk yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dengan agunan yang tanpa dikenakan bunga, seperti misalnya agunan Handphone, laptop, emas ataupun dengan jaminan lainnya yang sangat mudah dan tanpa dikenakan bunga.

    “ Khusus mahasiswa ada investasi emas dan juga ada gadaian  tanpa dikenakan  jasa dan tanpa bunga,  agunannya bisa laptop,  handphone dan lainnya dengan lamanya dua bulan dan bisa diperpanjang lagi, program ini untuk membantu mahasiswa apabila kesulitan biaya dalam kuliah” jelas Abdul Arif Fadilla, SE

    Materi seminar disampaikan  Ronal Fahrizan salah seorang manager pada PT Pegadaian (persero) Area Aceh, yang membahas tentang Inflasi dan investasi yang paling aman yang bisa diikuti oleh mahasiswa.

    Menurutnya bagi yang sedang kuliah  investasi emas  lebih mnguntungkan dibandingkan investasi yg lain, nilainya cenderung naik dan jarang turun,  dapat dengan mudah dijual atau dijadikan jaminan apabila secara mendadak ada keperluan untuk kuliah, karena  tidak membutuhkan waktu yang berbelit-belit untuk memperolehnya uang karena bisa menjual dengan mudah di toko emas, jelas Ronal Fahrizan putra kelahiran  Batu Raja Palembang ini.

    Seminar tersebut  selain diikuti mahasiswa dari berbagai prodi dilingkup  Umuslim juga turut hadir beberapa dosen antara lain Rahmad,M.AP, Drh Zulfikar,MSi, Drs.Faizin,MSi, Zulkifli,M.Kom dan acara diakhiri dengan penyerahan secara simbolis sertifikat dan buku tabungan Emas pegadaian kepada perwakilan dosen dan mahasiswa.(HUMAS).

     

     

     

  • Senam sehat di kampus Umuslim

     Peusangan-Pagi itu Jumat ( 22/2/2019), rembulan sisa malam  itu tidak meninggalkan sedikitpun sisa cahaya malam, yang ada hanya warna langit yang masih terasa kelabu dan udara embun dingin  sisa ekses hujan lebat yang terjadi di malam jumat.

    Mentari pagi di hari jumat tersebut muncul penuh dengan membawa nuansa kecerahan, udara masih  belum begitu panas, hanya berada pada tataran sisa dingin embun malam,  pelan tapi pasti sesuai perputaran pada koridornya, pencahayaan siang itu sedikit demi sedikit terus mulai mengeluarkan juluran lidahnya dari peraduan  untuk menunaikan tugas sucinya,   hadir  menyinari setiap relung bumi yang mulai berdenyut.

    Sesuai jadwal dan undangan para civitas akademika Universitas Almuslim terdiri dari Rektor, wakil rektor, dosen mahasiswa dan karyawan juga turut perwakilan Kemenkes RI, Dinkes Bireuen dan staf puskesmas Peusangan terus melangkah membentuk barisan demi barisan untuk melakukan  senam sehat di pagi Jumat.

    Dengan balutan pakaian olahraga satu persatu peserta  dengan pelan tapi pasti mulai melangkah ke halaman depan gedung Ampon Chiek Peusangan kampus Universitas Almuslim Peusangan Kabupaten Bireuen.

    Agenda kehadirannya untuk melakukan  olahraga senam sehat yang difasilitasi Direktorat Pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular Kementerian kesehatan RI.

    Acara olahraga  pagi di kampus Universitas Almuslim tersebut  menampilkan beberapa senam sehat untuk pernapasan dan senam kesehatan lainnya, gerakan senam yang diselingi gerakan senam Aerobic dan poco-poco telah menambah hangatnya gerakan menjaga kesehatan dilingkungan kampus.

    Dengan adanya olahraga rutin  nantinya  akan  tumbuh suburnnya bunga-bunga persahabatan yang memancarkan semerbak wewangian semangat kekeluargaan di kalangan civitas akademika Universitas Almuslim.

    Senam sehat beraroma Aerobic yang dipandu Instruktur senam Santi salah seorang tenaga medis Dinkes Bireuen ini telah melenyapkan kemalasan berolahraga, bahkan gerakan senam tersebut telah membakar semangat peserta untuk terus mengintip setiap gerakan dan goyangan kepala serta lenturan tangan  yang diperagakan instruktur.

    Diiringi dengan beberapa aransemen musik seperti poco-poco, musik putar  kiri dan kanan juga tak ketinggalan musik lagu Kemesraan karya Iwan Fals, dengan arahan instruktur  bertubuh atletis yang berdiri di barisan paling depan telah menambah semangat dan hangatnya suasana ber olahraga di pagi Jumat yang dingin itu.

    Satu persatu peserta yang telah berhadir di kampus Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim seakan ikut menyatu  dengan berbagai gerakan yang dilakukan peserta sehingga mereka semuanya mengikuti setiap tarikan nafas, lenturan gerakan tubuh pemandu yang diringi alunan musik yang penuh semangat dan  nuansa kegembiraan.

    Tak terasa tetesan demi tetesan keringat yang keluar dari pori-pori terus mengalir membasahi setiap jengkal tubuh peserta, diselinggi  cekikan ketawa kecil sambil menahan geli akibat kesalahan gerakan dan juga dengaran suara teriakan yel..yel terus menggema mengikuti arahan sang pemandu.

    Begitu juga dengan bunyi  perut kosong yang terus berdendang mengikuti irama musik di pagi Jumat tersebut, kaki dan tangan mulai kepegalan, nafas yang terengah-engah, tetapi itu bukan satu halangan bagi peserta untuk terus melakukan berbagai gerakan olahraga sehat tersebut,   dengan resep  sedikit lirikan ke kiri kanan dan sunggingan  senyum senang kepada teman, sehingga berbagai kekurangan, kecapekan dan tantangan tersebut terus menghilang seirama dengan gerakan dan alunan musik yang terus berputar mengikuti setiap arahan instruktur.

    Setiap peserta terus menghela nafas yang semakin memendek, guna untuk dapat mengikuti kesamaan irama musik dan gerakan pemandu yang begitu agresif dan kencang dalam melenturkan tubuhnya untuk mencapai keseimbangan pernafasan.

    Senam sehat di pagi jumat di kampus universitas almuslim tersebut  telah menyemaikan  semangat gerakan menjaga kesehatan dan menumbuhkan  semangat untuk mempererat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan antara pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa.

    Walaupun dengan engahan nafas pendek tetapi hanya dengan senyuman dan lirikan kiri kanan semangat peserta terus bertambah sehingga mampu mengikuti setiap arahan instruktur, peserta sedikitpun tidak menunjukan kerut wajah lelah. Yang ada wajah gembira dengan aura senang penuh kecerian dan kebersamaan, hal ini tergambar usai olahraga tersebut peserta larut dalam suasana foto bareng dan selfi bersama yang penuh canda ria.

    Acara diakhiri dengan sosialisasi hidup sehat yang berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan  disampaikan  Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI dan pemeriksaan kesehatan gratis  yang di fasilitasi Dinkes Bireuen dan puskesmas Peusangan bekerja sama dengan Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim.(HUMAS)

     

  • Seperti Menemukan Negeri Sendiri di Negeri Orang

    Oleh BILLAL FARANOV, Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang ikut pertukaran mahasiswa di Nagoya Gakuin University Jepang,  melaporkan dari Jepang

    JEPANG dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Sistem pendidikannya yang berbasis teknologi menjadikan Jepang sebagai salah satu negara tujuan yang difavoritkan pelajar Indonesia. Berdasarkan survei Japan Student Services Organization (Jasso) tahun 2017, terhitung 4.630 pelajar Indonesia yang studi di Jepang. Rinciannya, 3.670 pelajar di institusi pendidikan tinggi dan sejenisnya, 960 orang lagi di institusi pendidikan bahasa Jepang.

    Indonesia berada pada peringkat keenam sebagai penyumbang pelajar ke Jepang di bawah Tiongkok, Vietnam, Nepal, Korea Selatan, dan Taiwan. Saya dan rekan saya, Alfurqan Ismail, dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tahun ini (2018) terpilih mewakili Universitas Almuslim sekaligus Indonesia pada program pertukaran mahasiswa ke Nagoya Gakuin University (NGU). Saya bisa menuntut ilmu di Jepang karena mengikuti program pertukaran mahasiswa, sebagai wujud implementasi dari hasil penandatanganan kerja sama (MoU) antara Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen-Aceh dengan NGU Jepang.

  • Seribuan Guru ikuti seminar pendidikan

    Peusangan-Seribuan guru dari berbagai tingkatan mengikuti seminar Pendidikan yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim Peusangan bertempat di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan Kampus umuslim, Sabtu (30/3)

    Seminar yang dimoderatori Silvi Listia Dewi (Dosen tetap Umuslim) mengusung tema “ Guru Hebat di Era Revolusi Industri 4.0” dibuka secara resmi  Rektor Universitas Almuslim Dr.H.Amiruddin Idris, SE.,MSi , pada kesempatan tersebut  memberikan apresiasi  atas kehadiran sejumlah guru dari berbagai daerah untuk mengikuti seminar, semoga seminar ini ada faedah dan manfaat bagi guru, ujar H.Amiruddin Idris.

    Tambah Amiruddin Idris lagi, bahwa awal karir dirinya juga dimulai dari seorang guru, jadi dunia guru baginya tidak asing lagi,  semua hal yang berkaitan  dengan masalah  guru pernah  saya  alami dan ikuti, ungkap mantan guru SMA dan SMK Peusangan ini.

    Seminar menghadirkan Prof.Dr.DJufri, MSi (Dekan Fkip Unsyiah) dengan materi  Guru hebat di Era Revolusi Industri 4.0, sedangkan  Kepala Dinas Pendidikan Aceh Syaridin, Spd.,M.Pd menyampaikan materi tentang “ Kebijakan pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0”

     Prof.Dr.DJufri, MSi, dalam materinya menegaskan bahwa mutu guru adalah salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan , generasi unggul akan dihasilkan oleh pendidikan dan guru yang unggul, seorang guru harus memiliki beberapa kompetensi antara lain kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional dengan kualifikasi akademik minimal S1, jelas suami Suji Hartini, MPd.

    Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Syaridin,SPd,.MPd menyampaiakan arah kebijakan pendidikan Aceh, menurutnya fokus utama pihaknya sekarang adalah pemenuhan jumlah guru PNS untuk semua mata pelajaran di SMA dan SMK, kemudian  pemerataan  jumlah guru pada semua satuan pendidikan sampai ke pelosok desa.

    Sekolah dipelosok harus juga diasuh oleh guru-guru yang berkualitas, jadi guru tidak lagi tertumpuk di sekolah kota saja tetapi harus bersedia ditugaskan sampai ke pelosok, ini merupakan tugas berat pemerintah aceh  ujar putra kelahiran  Jangka yang pernah bertugas di Sabang.

    “ Kita akan evaluasi semua guru baik PNS maupun guru  kontrak pemerintah Aceh, mereka harus siap ditugaskan pada sekolah dan daerah yang kekurangan guru, jelas mantan kadis pendidikan kotamadya Banda Aceh.

    Seminar   diikuti  guru dari berbagai tingkatan dari Bireuen dan beberapa daerah tetangga kabupaten Bireuen  di akhiri dengan penyerahan cendera mata dan buku berjudul “ Bireuen merupakan segitiga emasnya ekonomi Aceh” karya H.Amiruddin Idris kepada  pemateri.(HUMAS)

     

     

     

     

     

  • SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan

     

     OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen.

     ANAK adalah anugerah dan harta terindah yang Allah berikan kepada setiap manusia yang dikehendaki-Nya. Seorang ibu membutuhkan perjuangan selama sembilan bulan lebih dan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Namun, tak jarang juga ada orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. Anak adalah titipan Allah, ada yang terlahir normal, ada juga yang memiliki kekurangan secara fisik. Tapi walau  bagaimana pun kondisinya orang tua tetap harus bertanggung jawab terhadap anaknya, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai pendidikan yang harus ditempuhnya.

    Dalam rangka memperingati Hari Anak, saya berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Terpadu Bireuen yang beralamat di Jalan Cot Ijue Tanoh Mirah, Desa Cot Ijue, dengan  ditemani seorang sahabat. Saya bertemu langsung kepala sekolah dan mewawancara beberapa anak yang saya jumpai, begitu juga dengan gurunya.

    SLB Negeri Terpadu Bireuen dirikan berdasarkan SK Nomor 421∕002∕2017 tanggal 1 Mei  2017 di area seluas 13.600m2, membina  pendidikan tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. Kepala sekolah pertama di SLB ini adalah Abdullah SPd, kemudian dilanjutkan Fitriana Spd. Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bu Rahmi, staf administrasi, tercatat 92 orang murid di SLB ini, terdiri atas guru TK 4 orang, SD 55 orang, SMP  22 orang, dan guru SMA 11 orang, ditambah tenaga administrasi empat orang.

    Jenis kecacatan (disabilitas) atau kelainan yang dialami murid-murid di SLB Negeri Terpadu Bireuen ini adalah tuli (tunarungu) dan keterbelakangan mental (tunagrahita). Anak dengan status tunagrahita pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan biasanya terlihat dari kelainan fisik dan perilaku abnormal sehari hari, Penyandang cacat fisik (tunadaksa) dan murid autis biasanya terlihat dari pola perilaku, aktivitas, dan interaksinya yang cenderung terbatas dan berulang-ulang. Sekolah ini juga menerima murid yang buta (tunanetra) alias kedua matanya tidak dapat melihat, namun sampai saat ini belum ada yang mendaftar.

    Sesampainya saya di dalam pekarangan sekolah langsung disambut ramah oleh para guru. Suasana saat itu ramai, karena baru selesai proses belajar-mengajar. Anak-anak berlarian, guru sibuk mengarahkan mereka agar tenang dan duduk manis menunggu jemputan. Namun, mereka tetap dengan dunianya.

    Berada bersama mereka seakan berada di dunia yang lain. Melihat tingkah dan kegembiraan mereka tanpa terasa butiran bening bercucuran membasahi pipi, alangkah bersyukurnya saya dan keluarga yang dikaruniai  beberapa kelebihan  fisik dibandingkan mereka.

    Murid yang diterima di sekolah ini tanpa batasan usia. Hanya saat ikut perlombaan ditentukan usia pesertanya, bahkan ada murid yang lebih tua umurnya dibandingkan dengan guru.

    Penanganan pendidikan di sekolah ini tentu jauh berbeda dengan sekolah umum lainnya, untuk satu murid atau paling banyak biasanya ditangani oleh seorang guru, sedangkan khusus untuk murid yang autis ditangani oleh satu orang guru.

    Menjadi guru di SLB bukanlah hal yang mudah, hanya orang-orang yang memiliki cinta kasih, keikhlasan, dan kesabaran yang mampu menjadi guru bagi anak-anak yang memiliki kelainan, sebagaimana diungkapkan Ibu Fitriana, ”Dalam mendidik murid di sini sangat diperlukan rasa cinta, kasih sayang, kelembutan, dan kesabaran yang tinggi, sebagai modal utama.”

    Seorang guru bagi anak-anak yang disabilitas, tidaklah cukup dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, sebagaimana diungkapkan Dek Ya. Guru berparas cantik ini mengatakan bahwa sebelum mulai mengajar dia selalu menyapa lebih dahulu muridnya dan mengajak mereka bicara atau dengan gerakan layaknya dengan anak sendiri. Ia tak memaksakan murid untuk memahami sesuatu. “Biarkan dia dengan aktivitasnya, kita hanya membimbing dan memperlihatkan dengan gerakan, apa yang harus dilakukan. Bila anak sudah jenuh, tak ingin lagi belajar kita harus berhenti. Pokoknya dalam mengajar kita harus banyak sabar,” ujarnya.

    Guru yang mengajar di SLB Negeri Terpadu ini semua sarjana berasal dari bidang studi berbeda. Menurut kepala sekolah, mereka harus mengikuti pendidikan lagi lebih kurang dua tahun untuk mengambil bidang studi yang sesuai, yaitu Pendidikan Luar Biasa (PLB), sehingga tujuan pendidikan di sekolah ini tercapai. Bagi saya, guru yang mengajar di sini adalah pribadi yang memiliki kesabaran lebih dan keikhlasan yang sangat luar biasa.

    Sejak berdiri SLB Negeri Terpadu Bireuen banyak prestasi yang diraih muridnya.  Tahun 2018 muridnya menjuarai berbagai perlombaan antarmurid disabilitas yang dilaksanakan di wilayah III  Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Juara I lomba melukis tingkat SMA diraih oleh Rahmad (tunarungu), juara I pantomim diraih Zulfajar (tunarungu), dan juara I MTQ Tingkat SMP diraih oleh Azirna (tunagrahita).

    Sedangkan tahun 2019 murid SLB ini mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan yang  dimiliki bukanlah kesedihan dan penghalang untuk bersaing dalam berkarya dan berjuang meraih prestasi. Buktinya, ada yang meraih juara I pantomin (Zulfajar), juara I lomba lari (Zulfikri), juara I borce (Satriana), dan juara melukis (Rahmad), juara menyanyi (Morina), dan juara tari kreasi (Elvina). Yang membuat saya sangat kagum adalah prestasi murid bernama Munawarliza. Meski tak bisa mendengar, tapi mampu mematahkan harapan peserta lainnya dalam lomba desain grafis yang diadakan di wilayah III. Ia meraih sebagai juara II. Sedangkan di tingkat provinsi, Zulfikri juara harapan I lomba lari. 

    Tanpa terasa waktu sudah pukul 11.15 WIB. Karena hari Jumat, saya dan teman yang setia menemani sejak awal, pun pamit. Sebelum meninggalkan lokasi, salah seorang murid tunadaksa menyapa saya dan mengatakan, “Ibu datang lagi ke sini ya, masih ada kami, bawa mainan ya.” Sontak hati saya terenyuh dan dengan suara berat diiringi butiran air mata yang tanp terasa menetes saya menjawab, “Insyaallah ibu akan datang lagi.”

    Pada saat itu juga saya saksikan seorang ayah menjemput anaknya sambil memeluk dan mengusap kepala dan menggendong si buah hatinya sambil menaikkannya ke atas sepeda motor.

    SLB Negeri Terpadu Bireuen ini memang belum memiliki lahan dan peralatan permainan yang memadai untuk anak. Sekolah ini masih perlu perhatian dari pemerintah dan pihak swasta untuk mewujudkan sebuah sekolah yang berstandar layak untuk mendidik anak penyandang disabilitas.

    Kunjungan saya kali ini sangat berkesan. Banyak pelajaran yang saya dapat dan mungkin bermanfaat juga bagi yang lain. Rasa syukur yang tak terhingga atas segala karunia-Nya, maka tugas kitalah sebagai manusia yang dilahirkan tanpa cacat untuk mencintai mereka dengan tulus, memperhatikan hak-hak mereka tanpa diskriminasi. Sungguh,  di balik kekurangan dan berbagai keterbatasan dirinya, mereka memiliki nikmat kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia normal. Mari kita hargai dan tempatkan mereka dalam kehidupan sosial secara wajar, karena mereka juga titipan Allah untuk kita.

     

    Artikel ini pernah tayang di Serambinews.com tanggal /08/08/2019/dengan judul SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan.

     

  • SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe ikut tes toefl di Umuslim

    Peusangan-Sebanyak 75 siswa SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe mengikuti test Toefl secara gratis di laboratorium bahasa universitas almuslim (Umuslim) Peusangan, Rabu (30/1).

    Para siswa yang datang dari kota Lhokseumawe didampingi  guru pembimbing Ihsan Umraity, Spd, sebelum mengikuti toefl juga sempat melihat suasana kampus umuslim kemudian mengikuti test toefl di laboratorium bahasa universitas almuslim yang berlokasi di kampus timur.

    Menurut ka prodi bahasa inggris Fkip umuslim Dr .Silvi Listia Dewi, M.Pd program tes toefl ini merupakan salah satu perwujudan dari MoU prodi bahasa Inggris Fkip umuslim dengan SMA Sukma Bangsa.

    Kita dengan berbagai fasilitas yang ada akan terus melakukan berbagai program untuk mengimplementasikan beberapa hal sesuai MoU yang telah di sepakati, ujar lulusan S3 bahasa inggris di salah satu universitas di Malang ini.

     

    Para siswa SMA saat mengikuti Tes Toefl selain guru pendamping juga didampinggi ka prodi bahasa Inggris Dr .Silvi Listia Dewi, M.Pd, kepala Laboratorium bahasa Saifuddin A Haitamy,M.Pd dan Misnar, MA salah seorang dosen umuslim yang pernah mendapat training di Jepang.(HUMAS)

  • SMP IT Azkia Bireuen kunjungi lab MIPA Umuslim

    Peusangan-Sebanyak 50 siswa SMP IT Azkia Bireuen melakukan kunjungan edukatif ke laboratorium MIPA Universitas Almuslim (Umuslim) yang berlokasi di kampus  Umuslim Matangglumpang Dua Kecamatan Peusangan, Senin(1/4).

    Kedatangan  siswa-siswi SMP IT Azkia ke Umuslim  di dampinggi guru mata pelajaran IPA Saida Putri Meutia. Spd dan diterima langsung  kepala  UPT Laboratorium MIPA Umuslim drh.Yusrizal Akmal. MSi. 

    Menurut  Yusrizal Akmal tujuan kunjungan siswa dari SMP IT Azkia Bireuen ke labaratorium MIPA Umuslim ini untuk memperdalam beberapa  materi tentang sel, pengenalan mikroskop beserta alat laboratorium lainya melalui praktikum. Dalam pertemuan tersebut Yusrizal Akmal turut didampinggi teknisi laboratorium  Fatma Zuhra M.Pd dan Elsa Yerita Marhami asisten dari prodi pendidikan Biologi Universitas Almuslim.

    Menurut kepala  UPT Laboratorium MIPA Umuslim drh.Yusrizal Akmal. MSi.bahwa pihaknya sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung dan belajar di laboratorium, beberapa waktu lalu pihaknya juga telah menerima kunjungan beberapa sekolah tingkat SLTA yang ada di Kabupaten Bireuen dan Lhokseumawe, Jelas Yusrizal Akmal.(HUMAS)

     

     

  • Sofyan DJalil semangati mahasiswa Umuslim

    Peusangan-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD menyampaikan kuliah umum di Universitas Almuslim peusangan , acara berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim Matangglumpang dua.Kamis (14/03/2019).

    Kuliah umum yang disampaikan  Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional RI tersebut bertemakan  kesiapan Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0.  Dalam pemaparan putra kelahiran Aceh Timur ini lebih banyak menyemangati dan memberikan motivasi kepada mahasiswa  dan perkembangan dunia IT sekarang.

    Menurut Sofyan DJalil   Revolusi Industri 4.0 harus dihadapi dengan berbagai persiapan , untuk menghadapi perkembangan tersebut diperlukan semangat optimis, pantang menyerah, berpikir positif, gembira, sabar,mau belajar, kontrol diri dan spritual.

    Dewasa  ini dengan perkembangan teknologi banyak berita Hoaks yang menyebar begitu  gencar, jadi mahasiswa harus pandai memanfatkan fungsi otak untuk  menangkal dan menghindari berita hoak (bohong) tersebut,jelas Sofyan Jalil. 

    Pada kesempatan tersebut Sofyan Jalil juga mengajak mahasiswa untuk mengubah midset , menurutnya, orang sukses  bukan hanya berasal dari keluarga hebat, tetapi orang biasa saja juga bisa sukses, Siapapun bisa jadi sukses yang penting ada kemauan,ungkap Sofyan DJalil.

    Kepada adik-adik mahasiswa agar tidak berkecil hati   kuliah di kampung karena orang belajar  di kampung juga bisa sukses,  maka mahasiswa atau siapa saja diminta tidak minder, banyak kampus ternama di Amerika Serikat lokasinya daerah kampung. 

    Mahasiswa harus berpikir untuk menjadi besar. “Bila ada kemauan, pastik ada jalan,” ungkap  Sofyan DJalil  dihadapan ratusan mahasiswa dan tokoh masyarakat dan undangan lainnya.

    Rektor Umuslim Dr Amiruddin Idris, SE MSi, pada kesempatan tersebut mengulas sejarah keberadaan Yayasan Almuslim Peusangan dan juga menyampaikan keberadaan kampus Umuslim yang posisinya di kampung jauh dari akses pemerintahan, kampus ini memiliki 7 Fakultas dan 26 Program Studi (Prodi) dan ber akreditasi Institusi dengan nilai  B, dan baru saja dinobatkan oleh LLDIKTI XIII Aceh sebagai Perguruan Tinggi Terbaik katagori Universitas papar H.Amiruddin Idris.

    Acara diakhiri dengan penyerahan  sertifikat tanah oleh menteri kepada  Universitas Almuslim dan Yayasan Almuslim Peusangan yang diterima masing-masing Rektor Umuslim,Ketua Pembina dan ketua Yayasan Almuslim Peusangan.(HUMAS)