Universitas Almuslim - Bireuen

  • Asyiknya Malam Pertama di Amor

    Oleh : ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim Peusangan

    Reportase ini berisi pengalaman saya saat menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) pada program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, di Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.

    Saat jadi DPL sekaligus pendamping rombongan saya berangkat bersama mahasiswa ke lokasi pengabdian. Seusai acara pelepasan di Kantor Bupati Bener Meriah, kami naik bus Cenderawasih ke kecamatan yang dituju. Setelah mendapat aba-aba dari Kepala Bapel KKM Umuslim, Drs Syarkawi MEd, bus yang penuh penumpang itu bergerak meninggalkan Kantor Bupati Bener Meriah menuju Kecamatan Mesidah.

    Sesampai di Simpang Tiga Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah, kami berhenti untuk makan siang dan shalat Zuhur. Sebelum berangkat, Camat Mesidah berpesan agar semua penumpang makan siang terlebih dahulu, karena di daerah Mesidah tak ada warung. Maklum, wilayahnya masih terisolir dan terpencil jauh ke pelosok gunung.

    Lokasi saya DPL ini berada di Kecamatan Mesidah, salah satu kecamatan baru di Bener Meriah. Ibu kotanya Wer Tingkem. Kecamatan ini hasil pemekaran dari Kecamatan Syiah Utama. Luasnya lebih kurang 286,80 km2. Mata pencaharian penduduknya berkebun kopi dan sayuran-sayuran. Kawasan ini termasuk salah satu kecamatan yang masih tertinggal.

    Setelah makan siang dan istirahat di warkop Simpang Tiga Redelong, kami lanjutkan perjalanan ke Mesidah melewati Pondok Baru. Kondisi jalannya masih mulus. Setelah melewati Pondok Baru tampak aspal di beberapa titik keriting dan terkelupas. Selama lebih kurang 35 menit dari Pondok Baru, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Angin yang sejuk dari AC alam menusuk masuk melalui jendela bus yang mulai keropos. Para mahasiswa yang mengenakan jaket almamater mulai merasa kedinginan.

    Dari Pondok Baru ke Mesidah hanya ada satu akses jalan. Kanan kirinya dibatasi tebing dan hamparan kebun kopi. Rombongan kami harus melewati titi yang diberi nama Titi Kanis. Mirip jembatan bailey yang dibangun TNI. Jalannya menurun dan sangat curam. Semua penumpang disuruh turun sopir dari bus. Kami berjalan kaki sekitar 15 menit sampai melewati Titi Kanis.

    Lokasi titi ini sangat angker, jauh dari perkampungan penduduk, apalagi kalau hujan, jalannya licin. Selain sepi, kawasan ini juga sering berkabut. Suara gesekan pohon bambu yang tumbuh lebat di sepanjang alur titi menambah kesan angker. Untung kami tak lewat malam hari di titi ini.

    Memasuki wilayah Mesidah memang sangat kontras bedanya dengan wilayah pesisir Aceh yang hingga tengah malam pun warung kopi atau kafe masih buka. D sepanjang jalan menuju Mesidah ini yang ada hanyalah hamparan rimbunya tanaman kopi diselinggi pohon lamtoro gung, labu jepang, dan alpukat. Lebih kurang satu jam perjalanan, sampailah kami di Kantor Camat Mesidah. Kami sudah ditunggu masing-masing reje (kepala kampung). 

    Raut wajah penumpang bus yang tadinya ceria kini berubah lesu tanda kecapaian. Setelah acara perkenalan dengan para reje, mahasiswa pun dibawa ke lokasi penempatan masing-masing oleh sang reje.

    Tibalah giliran kelompok mahasiswa yang ditempatkan di Amor. Kampung ini berada di Kemukiman Tungkuh Tige, terdiri atas tiga dusun: Jeroh Miko, Musara Ate, dan Simpang Tulu. Kampung ini bertetangga dengan Cemparan Lama, Cemparan Jaya, Buntul Gayo, dan Gunung Sayang. Luasnya lebih kurang 11,32 km2.

    Mahasiswa KKM yang ditempatkan di Amor berjumlah sepuluh orang(tiga cowok, tujuh cewek). Sebagai DPL saya mengantar mereka sampai ke lokasi. Dari kantor camat saya naik minibus L300 pikap 4 gerdang yang telah disiapkan reje. Perjalanan ke Kampung Amor teryata lebih gawat lagi. Jalannya masih beralas tanah dan berlubang. Aspalnya keriting dan banyak yang terkelupas. Topografinya mendaki, menurun, dan banyak sekali jurang di sepanjang perjalanan.

    Sesampai di lokasi penempatan, yakni di kantor reje, hujan rintik-rintik. Langit pun mulai ditutupi kabut putih. Jarum jam menunjukan pukul 18.00 WIB lewat. Suara petir menggelegar. Sesekali angin bertiup kencang. Udara dingin mulai menusuk setiap relung tubuh, sehingga sore itu pun giliran mandi sore terlewatkan begitu saja. Dan, karena situasi semakin gelap akhirnya saya putuskan untuk bermalam di Amor. Tak mungkin lagi saya kembali ke Bireuen.

    Bakda shalat Isya, kami tak langsung tidur, melainkan duduk berbincang bersama Pak Reje, Ibu Reje, dan beberapa tokoh masyarakat. Sambil kami memperkenalkan diri satu per satu, reje dan warga setempat menjamu kami dengan kopi panas, gorengan, dan bakong ijo (tembakau khas Amor) persembahan warga. Beberapa warga bahkan memimjamkan kami peralatan masak dan alas tidur. Semua ini makin menambah kehangatan persaudaraan pada pertemuan pertama kami di Amor, nama yang diadopsi dari nama Dewa Asmara dalam mitologi Yunani.

    Perasaan capek sejak siang kini berubah menjadi kehangatan karena kami disambut penuh kekeluargaan di malam yang dingin ini. Tanpa terasa perbincangan pada malam pertama di Amor memakan waktu hampir tiga jam. Perbincangan yang mengasyikkan dan menghanyutkan. Jarum jam terus berjalan, embusan angin dingin tak kunjung berhenti. Persahabatan yang baru terjalin pun terus mengeluarkan aroma harum, seharum wanginya aroma seduhan kopi Gayo. Malam pun semakin larut, hawa dingin terus merangsek ke setiap kain yang membalut tubuh kami.

    Malam pertama di Amor menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mahasiswa yang ditempatkan di kampung ini. Ada anggota kelompok mahasiswa yang tak bisa memejamkan mata malam itu karena tidak terbiasa dengan dinginnya malam hari, meskipun balutan selimut dan jaket begitu tebal menutupi seluruh tubuh. Dinginnya udara Amor malam itu membuat tubuh terasa membeku.

    Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 24.00 lewat, akhirnya Pak Reje dan beberapa warga pamit pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kami juga beristirahat dan bergegas untuk bobok, tanpa menghiraukan segala aksesori yang ada pada pakaian dan tubuh. Masing-masing kami merebahkan badan di atas tikar dan ambal yang diberikan reje. Lokasi tidurnya pun sudah dikapling-kapling. Mahasiswi tidur di dalam ruang kantor yang telah disulap jadi kamar bercorak minimalis alami, sedangkan mahasiswa tidur di balai depan kantor yang menjadi istana sementara bagi peserta KKM Umuslim.

    Alas tidur hanya lembaran tikar dan ambal, sedangkan bantal disulap dari gumpalan kain dan tas yang dibentuk menyerupai bantal. Semua perlengkapan tersebut seakan-akan pelaminan kasab emas yang dipakai saat prosesi pesta adat perkawinan untuk dipersembahkan kepada seorang permaisuri. Beralaskan tikar dan ambal sederhana sebagai pengganti springbed, tanpa terasa proses perjalanan bobok malam pertama ditemani embusan angin malam puncak Amor begitu kencang, sempat mengkhawatirkan ternganggunya perjalanan tidur kami. Kondisi itu ternyata bukan hambatan, buktinya semua kami akhirnya tertidur di puncak Amor.

    Subuhnya cuaca terasa semakin dingin. Kokok ayam dan gonggongan anjing di pagi itu tidak terdengar. Saat satu per satu kami bangun untuk shalat Subuh, badan rasannya sangat berat bangkit dari tempat tidur. Suhu dingin bagai memenjara kami di tempat tidur. Tapi saya pikir, ini pasti ulah iblis yang menggoda kami agar lalai dari kewajiban shalat Subuh.

    Akhirnya, dengan “tendangan 12 pas” saya bangkit mengalahkan godaan iblis dan langsung bergerak ke kamar mandi untuk berwudhuk. Saat semuanya bangun dari tempat tidur saya perhatikan hampir semua mahasiswa mengenakan dua lapis jaket, seperti gaya orang hendak ke kebun. Di leher mereka terlilit kain sarung, bagaikan syal.

    Setelah shalat Subuh dan sarapan pagi, saya akhirnya pamit untuk kembali ke Bireuen. Saya tinggalkan para mahasiswa Umuslim untuk melaksanakan KKM selama 29 hari ke depan di Kampung Amor dan sekitarnya. Saya bayangkan, bukan tantangan kerja nyata di siang hari yang berat bagi mereka, tapi justru sergapan hawa dingin di malam hari yang justru lebih berat.

    Semoga semua mahasiswa kami mampu bertahan di Amor, desa dengan perlambang cinta yang membara, tapi dilingkupi udara yang demikian dinginnya. Nah, Anda ingin menikmati dinginnya cuaca di gunung yang perawan dan suasana pagi dengan mulut berasap? Silakan datang ke Amor.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 22/04/2019 di Rubrik Jurnalisme Warga dengan judul Asyiknya-malam-pertama-di-Amor.

     

  • Asyiknya menyesuri sungai Kahayan

    RAHMAD, S.Sos., M.AP., Dosen FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah

    Kampus tempat saya mengajar menugaskan saya ikut mendampingi mahasiswa Universitas Almuslim bersama rombongan mahasiswa Aceh lainnya ikut kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangka Raya. Nah, kota ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, mulai dari presiden hingga rakyat biasa, karena termasuk salah satu calon lokasi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, jika jadi dipindah dari DKI Jakarta.

    Kami bersama rombongan mahasiswa dari Aceh tiba dengan selamat dan pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Tjilik Riwut sekitar pukul 09.15 WIT,

    Perjalanan panjang yang begitu melelahkan ini terasa mengasyikkan, dimulai dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh transit sebentar di Bandara Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bandara Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah.

    Sesampai di Palangka Raya kami disambut oleh panitia yang sudah menunggu, selanjutnya kami diantar ke tempat penginapan yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

    Suasana perjalanan kami ke penginapan begitu semarak karena sepanjang jalan dihiasi berbagai spanduk dan umbul-umbul selamat datang. Begitu juga dengan keramahtamahan masyarakat dalam menyambut tamu yang datang. Mereka begitu hangat dan bersahabat.

    Walaupun lamanya perjalanan yang saya tempuh membuat tubuh ini terasa sangat lelah, tapi sesampai di kota ini rasa capek hilang seketika sehingga tidak membuat saya terus beristirahat di penginapan, melainkan terus mencari beberapa lokasi untuk cuci mata di seputaran Kota Palangka Raya.

     Salah satu objek yang saya prioritaskan untuk dikunjungi adalah sebuah sungai terkenal di kota ini, yakni Sungai Kahayan. Sungai ini dekat saja dari tempat saya menginap.

    Banyak informasi yang disampaikan warga di seputaran sungai ini dan sangat bermanfaat bagi saya. Setelah mendapat informasi tersebut saya pun langsung mencari perahu kecil (kelotok) yang selalu siaga bagi para wisatawan yang ingin menyusuri sungai sambil menikmati pemandangan lebatnya hutan di sepanjang aliran sungai tersebut.

    Alhasil, dengan menumpang perahu saya mengikuti perjalanan menyusuri Sungai Kahayan. Sepanjang perjalanan menyelusuri sungai yang membelah Kota Pelangka Raya tersebut, saya juga terkesima oleh pemandangan hutan yang begitu lebat dan hijau, juga dihiasi pemandangan rumah-rumah apung warga di sekitar sungai yang masih sangat sederhana dan sangat kental dimensi tradisionilnya. Jauh sekali berbeda dengan permukiman warga di kota besar.

    Suasana berbeda begitu terasa ketika saya naik perahu kelotok sambil mendengar cerita dan menikmati pemandangan. Kejar-kejaran perahu kelotok ditambah lebatnya hutan di sepanjang aliran Sungai Kahayan membuat wisata sungai ini sangat menarik.

    Sangat banyak perahu kelotok yang menyusuri aliran Sungai Kahayan yang airnya jernih. Sungai ini luasnya mencapai 81.48 kilometer persegi, panjang 600 kilometer, lebar 500 meter, dan kedalaman rata-rata 7 meter. Sungai yang membelah Kota Palangka Raya ini juga sering disebut dengan Sungai Biaju Besar atau Sungai Dayak Besar.

    Sungai Kahayan memiliki bentuk unik karena terlihat seperti teluk yang menjorok ke dalam. Alur sungainya sangat dalam, sedimentasi di mulut sungai menyebabkan pendangkalan di sekeliling sungai. Saat melakukan wisata susur Sungai Kahayan kita tak hanya bisa menikmati pemandangan alam yang indah. Wisatawan juga bisa melihat kehidupan suku Dayak yang mendiami sepanjang alur sungai ini dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi nenek moyangnya.

    Setelah menyusuri Sungai Kahayan hampir seharian, malamnya kami diterima secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Tengah di kediamannya. Dalam jamuan makan malam tersebut kepada kami dihidangkan kuliner khas Kalimantan Tengah. Salah satunya adalah wadi ikan patin.

    Dalam pidato pembukaan pak Gubernur mengatakan, apa pun alasan dan destinasi yang dituju selama di Palangka Raya akan lebih lengkap jika kita mencicipi kuliner khas Palangka Raya yang terkenal dengan rasanya yang gurih, yaitu wadi patin. Saat saya cicipi, wadi ikan patin itu memang luar biasa cita rasanya. Gurih, asam, dan asin berpadu jadi satu.

    Wadi patin merupakan fermentasi ikan patin yang sering menjadi hidangan istimewa masyarakat Palangka Raya saat menyambut tamu luar yang datang ke kota tersebut.

    Meskipun ada rasa asam dan asinnya, hidangan ini sangat khas dan segar. Apalagi dihidangkan dengan sambal serai dan dimasak dengan cara digoreng atau dikukus (steam).

    Palangka Raya adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah yang luasnya 2.400 km2 dan berpenduduk 258.156 jiwa. Palangka Raya merupakan sebuah kota yang indah dengan beragamnya budaya serta keindahan alamnya.

    Sungai Kahayan yang mengalir membelah kota tersebut memberikan suatu pemandagan khas daerah tropis, dengan keberadaan sungai yang telah memberi warna Kota Palangka Raya telah dimanfaatkan sebagai destinasi wisata air dan telah memberikan dampak dalam peningkatan dan menggeliatkan roda perekonomian dan kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

    Sektor wisata di Palangka Raya saat ini memang sedang berbenah dan mereka bersiap menjadi salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

    Di sisi lain, sebutan Palangka Raya sebagai kota ratusan sungai membuat saya bertanya-tanya ada apa dengan kota tersebut. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Tjilik Riwut, saya merasakan ada hal yang beda, karena hampir semua daerah mereka menggunakan transportasi air, semisal kelotok.

    Jika kita datang ke Jakarta maka kita akan melihat kemacetan di mana-mana. Namun suasana itu tidak ditemukan di Kota Palangka Raya. Jalanannya lengang dan bebas macet.

     Sebenarnya wacana Palangka Raya sebagai ibu kota negara bukanlah hal yang baru. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada tahun 1957, bahkan sudah mempersiapakan perencanaan yang matang saat itu Palangka Raya sabagai ibu kota negara. Hal tersebut dibuktikan dengan tugu yang letaknya dekat dengan jembatan Kahayan.

     Dalam buku berjudul Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangka Raya karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan Indonesia.

    Ada berbagai alasan munculnya wacana pemindahan pusat pemerintahan oleh Presiden Joko Widodo, bahkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah mewacanakannya.

    Ada beberapa alasan mereka memilih kota tersebut sebagai salah satu calon ibu kota RI. Pertama, wilayah Palangka Raya merupakan daerah yang berada di titik tengah wilayah Indonesia, kemudian daerah tersebut tidak memiliki gunung berapi yang aktif dan tidak bersentuhan dengan lautan lepas sehingga tidak rentan terhadap ancaman gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Kalimantan merupakan pulau besar yang paling aman di Indonesia, tidak seperti Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia yang rentan gempa setiap tahunnya.

    Kalimantan juga mempunyai luas wilayah hutan dan jumlah sungai yang banyak sehingga menjadikan Palangka Raya relatif aman dari terjangan banjir. Tetapi apa pun alasan yang telah dipublikasi tersebut, jadi tidaknya kota tersebut ditetapkan sebagai ibu kota negara mari kita tunggu hasil survei dan penetapan secara resmi oleh pemerintah.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.comtanggal 16/05/2016 dengan judul Asyiknya Menyusuri Sungai Kahayan.

     

  • Belajar penerapan Syariat Islam di Negara Qatar

    OLEH KHAIRUL HASNI, Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim  (Umuslim) Peusangan, Bireuen, sedang menempuh program doktor Hubungan Internasional di Ritsumeikan University Kyoto Japan, melaporkan dari Qatar

    QATAR merupakan negara penghasil minyak dengan pendapatan per kapita tertinggi. Ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga di dunia. Negara ini tidak mengenakan pajak penghasilan terhadap warganya. Tingkat pajaknya pun terendah di dunia. Dengan jumlah penduduk 2,27 juta, Qatar menduduki peringkat salah satu negara terkaya di dunia.

    Kehadiran saya ke negara Qatar  pertama untuk mempelajari berbagai hal tentang pelaksanaan syariat islam di negeri kaya minyak, kedua saya gunakan untuk bertemu beberapa keluarga dan sahabat yang sedang bekerja dan study di negeri tersebut.

    Saat pertama sekali tiba di Qatar, saya saksikan banyak orang asing (ekspatriat) yang melayani orang asing di airport maupun di pusat layanan transportasi. Hampir semua yang bekerja adalah orang asing. Jumlah pekerja asing sekitar 88% dari penduduk Qatar dan orang India merupakan komunitas terbesar di sini, disusul Nepal, Bangladesh, Filipina, Mesir, Sri Lanka, Pakistan, dan Indonesia.

    Negara ini sangat mengandalkan tenaga asing untuk pertumbuhan ekonominya. Pekerja migran mencapai 86% dari total penduduk dan mencapai 94% dari total angkatan kerja.

    Di Qatar, 90% orang dapat dan mengerti bahasa Inggris. Jadi, Anda tidak perlu cemas jika tak bisa berbahasa Arab di sini, karena sebagian besar mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

    Walaupun orang asing mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi di Qatar, tapi banyak masalah juga dengan pekerja migran, yaitu pemotongan gaji, pembatasan gerak, penahanan sewenang-wenang, dan pelecehan fisik, mental, dan seksual. Itu karena, di Qatar belum ada aturan khusus yang mengatur tentang ini.

    Di sisi lain, perempuan Qatar cenderung memilih pekerjaan di pemerintahan, khususnya di kementerian pendidikan, kesehatan, dan urusan sosial. Posisi tingkat tinggi dipegang terutama oleh laki-laki. Tapi kehadiran tenaga kerja asing telah menempatkan lebih banyak perempuan di ranah publik. Selain itu perempuan asing sebagian besar dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, guru, perawat, dan pekerja administrasi.

    Berkunjung ke Qatar kali ini membuat saya juga berkesempatan untuk belajar tentang pelaksanaan syariat Islam. Qatar merupakan negara yang mayoritas penduduknya (76%) muslim. Hukum syariah diterapkan pada hukum yang berkaitan dengan hukum keluarga, warisan, dan beberapa tindakan kriminal (termasuk perzinahan, perampokan, dan pembunuhan).

    Sangat menarik melihat implementasi syariat Islam di negara ini. Qatar menganut sistem hukum campuran antara hukum sipil dan hukum syariat. Jika terdakwa seorang muslim maka hanya pengadilan syariahlah yang memiliki yurisdiksi atas kejahatannya.

    Selain itu, beberapa poin sempat saya catat selama di Qatar. Pertama, dalam perspektif perbankan, Pemerintah Qatar telah menjadi pemain terkemuka di sektor perbankan Islam sejak awal 1980-an, ketika bank pertamanya yang berbasis syariah dibuka untuk bisnis.

    Kedua, dalam pelaksanaan syariat Islam tahun 2014, Qatar meluncurkan kampanye kesopanan untuk mengingatkan wisatawan tentang kode busana sederhana di publik. Saya melihat orang asing yang bekerja di swalayan tidak diharuskan untuk berbusana muslim. Yang penting, mereka mengenakan pakaian yang sopan sesuai aturan yang telah ditetapkan.

    Ketiga, negara ini membuka space bagi nonmuslim. Contohnya, minuman beralkohol yang legal diperjualbelikan di sebagian Qatar. Misalnya, beberapa hotel bintang lima diperbolehkan menjual alkohol kepada konsumen nonmuslim.

    Ada sejumlah peraturan yang mengatur konsumsi alkohol. Muslim tidak diizinkan mengonsumsi alkohol di Qatar. Apabila tertangkap mengonsumsi alkohol maka dapat dicambuk atau dideportasi. Namun, muslim yang dipidana karena alkohol bisa mendapatkan pengurangan hukuman beberapa bulan apabila dia mampu menghafal Alquran saat dipenjara.

    Suatu hal yang luar biasa, Qatari (sebutan untuk orang Qatar), khususnya yang kaya, mereka umumnya membangun masjid di samping rumah mereka. Siapa saja dapat datang untuk beribadah di situ. Boleh dikatakan negara ini adalah negara seribu masjid. Apalagi di sini, shalat jamaah wajib dilakukan di lingkungan masjid.

    Kehadiran pekerja asing juga ikut memengaruhi kehidupan masyarakat Qatari. Misalnya, makanan khas Qatar telah dipengaruhi oleh hubungan dekat ke Iran dan India. Wajar kalau makanan khas Qatar juga telah dipengaruhi oleh cita rasa kedua negara itu.

    Terus terang, ada perasaan yang sangat nyaman karena makanan yang tersedia itu adalah halal. Saya sangat terkesan dengan cita rasa makanan di Qatar, tapi sayang belum semuanya saya coba.

     

    Cerita ini pernah tayang dihttp://aceh.tribunnews.com pada tanggal 19/11/2018/ dengan judul : Menghafal-quran-hukuman-dikurangi

     

  • Cerita Unik di Bilik TPS

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen di Universitas Almuslim Peusangan.

    Tahun 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif digabungkan pelaksanaannya secara serentak. Untuk pertama kalinya pula pemilih harus mencoblos lima surat suara ketika berada di bilik tempat pemungutan suara (TPS).

    Persaingan antarkandidat pun menjadi sangat ketat, khususnya di antara calon anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah (DPD) yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karenanya, pesertapemilu harus aktif menyusun strategi dan trik untuk merangkul sebanyak-banyaknya pendukung, mulai dari pemilih pemula, mahasiswa, perempuan, bahkan manula.

    Suatu pemandangan yang tak pernah kita temui pada tahun sebelumnya adalah begitu banyaknya foto yang terpampang di sepanjang jalan raya, lorong, bahkan di jalan setapak, apalagi ruang terbuka, sehingga pajangan foto tersebut mampu mengalahkan iklan komersial lainnya.

    Foto peserta, baik pilpres maupun pileg, bertaburan layaknya iklan terbuka, mulai dari yang kecil, sedang, bahkan dalam bentuk baliho besar. Penuh warna-warni, ditambah lagi dengan lambaian bendera dan umbul-umbul partai dalam berbagai ukuran di sepanjang jalan yang kita lewati. Semua itu semakin menambah semaraknya pesta demokrasi tahun ini. Nah, pemandangan yang unik itu kini telah menjadi kenangan.

    Pagi itu, Rabu,17 April 2019, seperti biasa tugas saya pada hari libur adalah membersihkan rumah dan menyiram bunga di taman, sementara itu banyak orang kampung mulai dari remaja dan emak-emak melewati jalan di depan rumah kami. Saya lirik jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saya tanya seseorang, “Mau ke mana pagi-pagi sekali?” Dia sahut, “Mau cepat-cepat ke TPS, takut nanti terlambat dan masih banyak tugas di rumah yang belum selesai.” Ya, hari itu adalah puncak pesta demokrasi yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia.

    Tepat pukul 09.00 WIB saya dan suami melangkah ke lokasi pelaksanaan pemilu di halaman masjid desa tempat tinggal kami. Ada delapan TPS yang tersedia. Saya memilih di TPS 8 sesuai surat pemberitahuan pemungutan suara yang dibagikan sebelumnya.

    Sebelum masuk ke TPS, saya sempat melihat beraneka ragam tingkah polah pemilih yang akan memberikan suaranya. Ada yang berdiskusi, ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang berpakaian modis dan berdandan layaknya seperti orang yang hendak ke pesta. Ada juga pemilih yang pakai pakaian ke sawah karena sepulang coblos dia berniat langsung ke sawah.

    Pesta demokrasi tahun 2019 ini sungguh berbeda dari tahun sebelumnya. Selain untuk memenuhi hak pilih, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Ada yang lima tahun lalu bertemu di TPS, baru saat ini bertemu kembali di tempat yang sama. Itu karena ada warga yang sudah beberapa lama pindah tempat tinggal, tapi saat pemilu mereka pulang kampung untuk memilih karena kartu keluarga (KK)-nya masih terdaftar di kampung asal.

    Antusiasme masyarakat bukan hanya dari kalangan yang telah memiliki hak memberikan suara, tetapi juga turut diramaikan oleh anak anak dan para pedagang yang menjajakan makanan ringan di lokasi pencoblosan. Bahkan terjadi perbincangan antara pedagang dan anak anak tentang siapa yang dipilih.

    Banyak cerita unik yang terjadi di luar TPS. Tapi yang paling seru justru di bilik TPS. Sambil menunggu giliran saya sempat mendengar dialog orang-orang yang ada di dekat bilik. Ada yang bertanya siapa yang kita pilih. Ada yang menunjuk langsung ke foto caleg, “Pilih yang ini!” Ada yang berdiskusi menyamakan pilihan. Ada pula nenek yang dipapah oleh keluarganya ke dalam bilik suara. Cucunya bertanya siapa yang akan dia pilih. “Terserah pilih siapa saja,” kata nenek tersebut. Akhirnya keluargalah yang mencoblos sesuai pilihan hatinya. Di dalam hati saya berkata, andaikan ada lagi orang seperti itu mungkin akan saya giring semua ke kandidat pilihan saya. Hehehe.

    Cerita berikutnya berasal dari TPS lain. Ada pemilih yang setelah masuk ke bilik TPS hanya tiga menit sudah selesai dan mengembalikan tiga kertas suara kepada petugas. Alasan dia yang disampaikan dalam bahasa Aceh cukup menarik. Intinya, di antara calon tidak ada yang dia kenal, kecuali calon presiden karena sering dia lihat di TV dan seorang calon anggota DPD yang kebetulan pernah dia tonton membintangi beberapa film komedi Aceh.

    Petugas tersenyum dan memberi arahan kepadanya untuk tetap memilih tiga calon lagi, tapi si pemilih tadi bersikukuh untuk tidak memberi suara kepada orang yang tidak dia kenal. Alhasil, dia hanya memilih calon presiden dan calon anggota DPD RI.

    Ada juga pemilih yang marah karena lebih dulu datang tapi lambat masuk bilik. Akhirnya, panitia dengan sigap memberlakukan sistem antrean dengan menyusun kursi. Siapa yang duduk paling dekat dengan bilik TPS dialah pemilih berikutnya yang berhak masuk bilik.

    Di TPS tempat saya memilih ada lima bilik yang disediakan panitia. Tiba giliran saya untuk masuk ke bilik 1 dan memberikan suara untuk kandidat yang saya sukai. Karena besarnya kartu suara, saya butuh waktu lama untuk membukanya. Sementara itu, di luar sebelum masuk bilik sempat saya dengar ada penawaran kandidat yang dijagokan akan membawa perubahan, tapi tetangga di samping saya tak mau memilih sosok yang dia tawarkan. “Aku punya pilihan sendiri,” katanya bernada lantang.

    Dengan semangat saya memasukkan surat suara ke masing-masing kotak, sambil berlalu dari TPS. Harapan saya di dalam hati semoga banyak pemilih yang memilih kandidat yang saya pilih.

    Dari hasil diskusi dengan beberapa ibu-ibu di luar TPS, mereka mengeluh karena kartu suara yang terlalu besar untuk calon legislatif dari 20 partai peserta pemilu. Butuh waktu lama untuk membuka dan membacanya. Juga sulit untuk mengenal calon yang akan dipilih karena hanya tertera namanya saja dengan kolom untuk mencoblos yang sangat kecil. Jadi, harus sangat hati-hati, apalagi paku pencoblosnya terlalu besar.

    Ke depan, diperlukan peran optimal KPU/KIP, mahasiswa, pelajar, masyarakat, partai, dan semua pihak untuk menyosialisasikan tata cara pencoblosan sehingga tak banyak lagi pemilih yang terbingung-bingung atau galau lama di bilik TPS.

    Perhelatan besar pesta demokrasi telah usai, mari kita tunggu pengumuman hasil rekapitulasi suara oleh KIP dan kemudian KPU sehingga jelas siapa yang akan memimpin Indonesia dan siapa pula yang menjadi wakil kita di DPR, DPD, maupun DPRA dan DPRK untuk lima tahun ke depan. Mari kita hentikan spekulasi atau prediksi-prediksi yang tak berdasarkan fakta. Ayo tangkal berbagai rumor dan hoaks yang dapat memecah belah persatuan dan memutus silaturahmi di antara kita. Siapa pun yang terpilih hendaknya mampu menjalankan mandat dari rakyat untuk mewujudkan Indonesia dan Aceh ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 24/04/2019/ dengan judul Cerita unik dibilik TPS.

     

  • Dosen Umuslim di undang ke Kepulauan Riau.

     

    Peusangan-Salah seorang dosen prodi Peternakan fakultas pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan kabupaten Bireuen provinsi Aceh  drh Zulfikar, MSi, hadir ke Provinsi Riau untuk menjadi pemateri pada kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau.

    Hadirnya drh.Zulfikar,MSi dosen program studi Peternakan Universitas Almuslim di kabupaten yang mempunyai Motto " Azam di pasak, Amanah di tegak"  ini  memenuhi undangan  dari Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau, sebagai  pemateri pada pelatihan bidang peternakan dan kesehatan hewan  yang digelar di Hotel Gembira Tanjung Batu pulau Tanjung Baru Karimun pada tanggal 24-27/3.

    Di undangannya dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan tersebut untuk memberikan pelatihan kepada 50 peserta  yang  terdiri dari peternak dan petugas kesehatan hewan di Wilayah kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun Kepulauan Riau selama tiga hari. 

    Menurut informasi dari Drh Zulfikar,MSi, dirinya diminta untuk memberikan materi tentang teknis pencegahan penyakit dan manajemen pemeliharaan hewan besar dan kecil, selain dirinya sebagai narasumber yang berasal dari kampus,  juga hadir drh. Topan dari Dinas Peternakan Provinsi Aceh didampingin drh. Syauqi Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan hewam Dinas Pangan dan Pertanian kabupaten Karimun Kepulauan Riau, ujar kandidat  doktor bidang pengelolaan sumberdaya dan lingkungan  Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.(HUMAS)

     

     

  • Dosen Fikom Umuslim latih siswa SMK

     

    Peusangan-Sebanyak 40 siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Peusangan mendapat pelatihan ilmu bidang bahasa pemrograman Java dan pelatihan Desain Kemasan dari sejumlah dosen Fikom umuslim yang melakukan pengabdian di laboratorium multi media sekolah setempat, Selasa (27/11).

    Kegiatan yang mendapat apresiasi dari kepala sekolah SMK 2 Ermawati,M.Kom dan   antusias para siswa sekolah SMK tersebut merupakan suatu program yang dirancang beberapa dosen untuk bebagi ilmu secara langsung kepada para pelajar SMK yang ada di kabupaten Bireuen.

    Kepala sekolah SMKN 2 Peusangan Ermawati,M.Kom yang didampinggi kepala jurusan Desain dan Grafika  Mukhtar,M.Kom mengucapkan terimakasih atas dipilihnya sekolah mereka untuk lokasi pengabdian  dosen fikom Universitas Almuslim untuk  memberikan ilmu kepada anak didiknya, “Ini sangat bermanfaat bagi siswa, kami harapkan agar ada kelanjutan dari pengabdian hari ini “ ungkap Ermawati sambil menyalami pemateri.

    Menurut Mukhtar ada 40 siswa yang mengikuti pelatihan ini, dibagi  dua materi yaitu bidang pemrograman dan desain grafis, ini sangat bermanfaat bagi anak didiknya karena selama ini belum pernah mereka ajarkan ilmu ini secara mendetail, apalagi diajarkan oleh tenaga yang sangat komponten, jelas Mukhtar, M.Kom.

    Menurut salah seorang pemateri T Rafli A. S.Sn, M.Sn, bahwa program yang mereka lakukan ini merupakan  sebuah pengabdian, kami  dari dosen ingin memberikan sedikit ilmu baru yang bermanfaat bagi adik-adik dari  SMK 2 peusangan, ungkap pemegang sertifikat kompetensi bidang Desain Multimedia dari Badan Nasional sertifikasi Profesi ini.

    Menurut T Rafli A. S.Sn, M.Sn  tim pengabdian ini dibagi dua grup terdiri untuk materi Desain Kemasan T.Rafli A, S.Sn, M.Sn,  Riyadhul Fajri,M.Kom, Imam Muslem R,M.Kom, Zulkifli,M.Kom,T.M.Johan,MT, sedangkan untuk materi pemograman Java Dasril Azmi,M.Kom, Dedy Armiady, Sri winar,M.Kom, Iqbal,Mcs dan Fitri Rizani,M.Kom.(HUMAS)

     

     

     

  • Dosen Umuslim akan Mengajak Mahasiswa HI Kuliah di Singapura

    Kampus Umuslim, Kamis (09/11) Dosen Prodi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Almuslim dalam arahannya kepada Mahasiswa Prodi HI Semester I, yang nantinya pada Semester V akan mengambil Mata Kuliah yang berkaitan dengan Indian Ocean, maka pertemuan kuliah terakhirnya akan diselesaikan di Singapura, dengan mengikuti satu diskusi Interasional di salah satu lembaga riset terkemuka di dunia. Mengenai biaya, telah memiliki solusi bersama dan disepakati.

    Di samping mengikuti forum diskusi yang akan dihadiri kalangan diplomatik atau Kedutaan Besar dan pakar hubungan Internasional, mereka juga akan mengunjungi beberapa lembaga Internasional seperti ASEM, APEC, dan lainnya. Dua orang mahasiswa akan dipilih untuk presentasi di depan mahasiswa Global Studies di Singapura. Hal ini akan dilakukan jika para mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut mampu berbahasa Inggris dan menguasai materi yang berkaitan dengan Samudera Hindia (India Ocean).

    Menurut Poncut (T. Mahmud Azis, S.Fil., MA), hal ini penting untuk memacu mahasiswa untuk mau belajar, memperdalam ilmunya, dan menguasai bahasa Inggris. Kalau kita menguasai bahasa Inggris maka akan muncul konfidensi kita dalam berkomunikasi dengan orang asing. Kita tidak akan minder. Apalagi di sana mereka akan mengikuti diskusi penting dengan orang-orang penting dan mesti aktif untuk bertanya. Beliau berjanji kepada mahasiswa untuk mengorganisir kegiatan yang terbaik untuk mereka selama di Singapura. Mereka adalah generasi harapan bangsa dan harapan bagi masa depan Indonesia. (PIP Umuslim)

  • Fisip umuslim gelar buka puasa bersama

     Peusangan-Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (Fisip) Universitas Almuslim (Umuslim) mengelar acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi, yang di gelar kampus timur, Senin, (20/5)

    Menurut ketua Bem Fisip Husnul Fuadi, kegiatan ini dalam rangka mempererat silaturahmi antara rektorat, dekanat, mahasiswa dan alumni, Insya Allah bulan depan kami juga akan mengelar beberapa kegiatan lain dalam rangka promosi fakultas Ilmu sosial dan politik kepada adik-adik SMA dan masyarakat secara umum ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut mewakili Alumni disampaikan Munazir Nurdin atau lebih populer  "Boh Manok" mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara silaturahmi ini, semoga dengan  jumlah alumni yang sudah sukses di Fisip akan dapat memajukan fakultas ini kedepan, ungkap anggota DPRK Bireuen terpilih ini.

     Turut menyampaikan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengukapkan  rasa bahagia atas silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama yang di gelar mahasiswa Fisip, semoga kebersamaan dan kekeluargaan ini dapat mempererat  ukhuwah diantara civitas akademika umuslim. 

    Walaupun kita berada di kampung tetapi dengan kekompakan semua pihak baik rektorat, dekanat, alumni dan mahasiswa akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa bagi kampus  dalam menata pengembangan kampus dimasa yang akan datang, papar H.Amiruddin Idris.

    Hadir  dalam buka puasa tersebut Ketua Yayasan, Rektor, wakil rektor, dosen alumni, mahasiswa dan  tokoh masyarakat seputaran kampus, acara buka bersama diakhiri dengan menyantap kuah belangong dan shalat magrib berjamaah.

    Sehari sebelumnya Fakultas Ekonomi Umuslim juga  menggelar acara serupa, yang  dihadiri  Civitas Akademika,  dosen, alumni , ormawa dan mahasiswa.(HUMAS)

     

  • Kerja Penyelengara Pemilu ibarat kerja Supermen tapi makan Supermie

     

    Zulkifli,M.Kom, Akademisi  Universitas Almuslim dan Panitia seleksi (Pansel) KIP Bireuen Periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.

    Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 14/PUU-XI/2013 kemudian diatur pada UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, pelaksanaannya dilaksanakan secara serentak antara pemilu legislatif  (pileg)dan pemilihan presiden (Pilpres),  teryata dalam pelaksanaannya di lapangan banyak menyisakan berbagai  persolaan,  hal ini karena terjadi jatuh korban jiwa yang disebabkan efek kelelahan saat menjalankan tugas sesuai amanah yang telah diberikan.

    Ribuan   orang yang terlibat sebagai penyelenggaraan mulai dari KPPS dan PPS, pengawas  harus mendapat perawatan medis, dan ratusan telah meninggal dunia, korban tersebut selain dari kelompok penyelenggara juga dari pengawas dan intitusi keamanan juga banyak yang jatuh korban. 

    Dengan kenyataan tersebut sekarang semua sudah angkat bicara termasuk hakim  Mahkamah Konstitusi (MK) yang  meloloskan penyetujuan putusan pelaksanaan pemilu serentak ini telah mengakui kekeliruannya.

    Untuk kedepan pemilu serentak ini benar-benar harus di evaluasi, karena penyelenggaraan pemilu serentak telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah, baik  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pengawas, semua pekerjaan dan tanggung jawab mereka di lapangan selama ini luput dan tidak disadari oleh pembuat kebijakan  di tingkat atas.

    Pengamatan saya di lapangan mulai tingkat PPK, PPS dan KPPS, Pengawas, mereka melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang luar biasa, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan sangat berat harus berjibaku siang malam, kenyataan hari ini sudah banyak dari mereka mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, banyak  jatuh korban harus mendapat penanganan medis, sedangkan  honor yang mereka terima sangat minim.

    Jumlah Panitia Pemungutan Suara (PPS)  tiap desa 3 orang dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) tujuh orang dan ditambah anggota linmas, dengan honor yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tugas, rincian honor yang harus di potong pajak lagi, sudah minim dibeban pajak lagi, jumlahnya mungkin tidak etis saya sebutkan rincian disini.

    Yang sangat menyedihkan, anggota linmas harus sabar menggurut dada,  ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, ketika berada di pintu masuk TPS,  mereka terlihat  seperti masyarakat biasa, padahal atribut bagi mereka sangat perlu untuk sebuah pengakuan, penghormatan dan membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring satu setiap TPS.

    Mereka masih dianggap petugas pelengkap, padahal pengorbanan dan  perjuangan mereka demi tegaknya demokrasi di negeri ini, patut kita beri apresiasi tinggi, semoga ada sedikit perhatian  memberikan tambahan finansial ataupun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

    Kita sangat sesalkan berbagai kejadian pada pemilu serentak  yang menimpa penegak demokrasi di lapangan, Memang awalnya  tujuan pelaksanaan pemilu  serentak ini bagus yaitu untuk penghematan, teryata telah memakan korban yang cukup banyak, sungguh jumlah korban yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negeri yang aman dan damai.

    Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, tugas yang cukup berat ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran, bersikap adil dan integritas dalam menjalankan tugas.

    Belum lagi dengan tugas perbaikan data dan terjadinya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akan menambah beban kerja, mereka bekerja tanpa pamrih dan penuh tangung jawab  tanpa mempersoalkan  honor yang diberikan, mereka benar-benar bekerja ala Superman tetapi makan Supermi (tanpa biaya poding). 

    (Superman adalah suatu tokoh fiksi dalam sebuah cerita yang mempunyai kekuatan lebih untuk melaksanakan satu tugas dibandingkan kekuatan manusia biasa termasuk punya kekuatan untuk terbang), sedangkan Supermi adalah sejenis makanan ringan yang biasa dimakan sebagai makanan pelengkap, bukan sebagai makanan utama penambah asupan gizi. 

    Maka sangat wajar saya tamsilkan kerja penyelenggara pemilu yang begitu berat, bahkan sudah diluar batas jam kerja harian, sedangkan honor yang mereka dapatkan sungguh sangat minim, berbeda jauh dengan beratnya tangung jawab tugas yang mereka kerjakan.

    Kita acungi jempol atas  keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian yang wajar dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

    Memang secara aturan honor dan insentif mereka semua disediakan oleh pemerintah pusat melalui KPU, tetapi pemerintah daerah juga jangan tutup mata bagi mereka yang telah berjibaku siang malam mensukseskan pesta demokrasi di daerah, karena kalau pemilu gagal di suatu daerah yang menjadi gagal bukan hanya pemerintah pusat tetapi yang paling utama adalah pemerintah daerah.

    Jadi sangatlah wajar suatu daerah mengambil satu kebijakan untuk dapat mendukung dan mensukseskan pemilu diwilayah masing-masing, apapun yang mereka lakukan, apalagi di daerah pelosok bisa jadi taruhan nyawa bagi mereka, demi suksesnya pemilu dan nama baik daerah.

    Hendaknya  pemerintah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota dapat memberikan dengan mengalokasikan sedikit tambahan honor atau insentif lain, sebagai penghargaan ucapan terima kasih  bagi pahlawan demokrasi ini.

    Sekarang dengan kenyataan dilapangan mari kita buka hati, bagaimana caranya untuk dapat memberikan perhatian bagi mereka dan pemerintah harus dapat mengambil satu sikap dan kebijakan untuk membantu pahlawan demokrasi ini.

    Saya sempat menanyakan pada beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan PPS di beberapa desa dalam kabupaten Bireuen, mereka mengakui beban kerja yang cukup berat dan butuh ketelitian dan fisik yang prima untuk bisa menjalankan tugas tersebut, mereka akui pemilu serentak ini sangat berat.

    Kalau pemerintah tidak menambah dan memperhatikan tambahan sedikit honorarium ataupun dalam bentuk lainnya, berarti telah menyiksa mereka dengan memberikan honor minim dengan kerja yang cukup berat, hal ini terjadi karena banyaknya tambahan kerja dari pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan kerja pemilihan legislatif (pileg).

    Mungkin pembuat kebijakan dalam menyusun UU pemilu  hanya berpedoman pada penyelenggara pileg saja, atau alasan efisiensi tanpa membayangkan tambahan kerja dari pemilihan presiden (pilpres), sehingga terjadinya persoalan seperti ini, Alhamdulillah sekarang sudah ada wacana dari untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu kedepan, semoga  akan lahir satu metode pemilu yang terbaik.

    Menurut UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, ada sebelas point tugas kerja Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang harus dilaksanakan mulai dari pengumuman daftar pemilih mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh Tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah kerjanya, belum lagi melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU atau KIP Kabupaten/Kota.

    Begitu juga dengan KPPS yang berjumlah tujuh orang setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dengan tujuh poin tugas yang juga tidak kalah berat mulai dari pendaftaran pemilih yang butuh  tingkat ketelitian dan rasa tanggung jawab tinggi, mereka harus berjibaku siang malam, karena sedikit mereka lengah terjadi kekeliruan dan pengisian data pemilih, serta saat hari H juga  tidak boleh sembarangan meninggalkan lokasi, karena untuk menghindari  munculnya kecurigaan, hujatan, saling tuduh dan ancaman dari masyarakat dan peserta pemilu.

    Maka tidak heran mereka penyelenggara baik KPPS maupun PPS, Pengawas harus tidur di lokasi TPS bahkan ada yang sampai beberapa  hari di lokasi, menunggu selesainya semua proses perhitungan dan rekap suara di tingkat TPS dan mengantar sampai ke tingkat PPK, belum lagi perjuangan bagi yang lokasi TPS di daerah terisolir dengan insfrastruktur yang terbatas.

    Kepada para caleg dan timses yang sudah mendapat berbagai ilmu dari pembekalan dan amunisi strategi  tentang  berbagai proses tahapan pemilu, berhentilah saling mengklaim bahwa para jagoannyalah yang menang,  berhentilah menghujat para penyelenggara dengan hinaan dan cacian yang tidak mendasar apabila tidak ada bukti yang cukup.

    Mari kita hormati proses pelaksanaannya sesuai peraturan perundangan dengan kepastian hukum sampai proses penetapan akhir yang dilakukan institusi resmi, jangan lakukan hal yang dapat merugikan kita semua

    Mari kita rawat demokrasi ini dalam bingkai persatuan dan persaudaraan yang penuh nuansa kekeluargaan, hilangkan semua perbedaan lambang dan warna partai, karena semua kita menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

    Semoga semua kita jadi pemenang bukan pecundang, salut dan apresiasi atas kerja ikhlas penyelenggara mulai tingkat kecamatan, dan gampong, mari kita doakan dengan tulus  semoga kerja ikhlas mereka menjadi tambahan amal  pahala dan pengakuan dari masyarakat, sedangkan bagi  mereka yang telah gugur dalam mengawal demokrasi ini husnul khatimah...Aamiiin YRA.

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 29/04/2019/ dengan judul PPS dan KPPS Kerja Superman Makan Supermie.

     

  • Kusentuh Langit Di Puncak Pantan Terong

    Oleh : Chairul Bariah, Ka.Biro umum dan administrasi Keuagan Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

     Malam itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda sore itu hujan bakal mengguyur kota di kediamanku. Suara petir kuat tampak membelah langit diujung sana. Langsung aku bergegas menutupi pintu dan jendela rumah. Padahal, aku ada janji bersama keluarga untuk mengajak mereka jalan-jalan melihat pameran di lapangan kota Bireuen. Tapi itu mustahil, dikarenakan hujan turun begitu lebat. Sehingga, aku putuskan untuk tetap dirumah bersama keluarga. Suami dan anak-anakku mencoba membunuh rasa sepi dengan menikmati hiburan di televisi.

     Sementara aku mencoba berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden di jendela kamarku. Iya, bagiku hujan itu adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah SWT. Hujan yang begitu deras dan langit pun tertutup dengan awan hitam. Mengingatkan karena besok subuh, aku merencanakan melakukan perjalanan rekreasiku bersama keluarga kecilku ke kota dingin Takengon.

    Rencana kepergian ke kota dingin takengon tersebut, memang sudah kami rencanakan tiga hari lalu, akhirnya anakku yang nomor dua,  pagi buta tersebut bangunnya sangat cepat, karena angan-angannya ingin rekreasi ke Aceh Tengah, padahal malam itu hujan begitu deras menguyur daerah kediaman kami di Matangglumpang dua, perasaanku  rasanya sangat senang karena bisa berlibur dengan seluruh keluarga ke daerah yang pernah aku tinggalkna puluhan tahun lalu.

    Bun.. bundaaa...!!! iya nak, bunda koq bengong sendiri dikamar? Ayo bun, kita pergi. Bunda kan udah janji mau ajak kami jalan-jalan. Aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku menjawab, tapi kan masih hujan nak? Terus anakku menjawab dengan nada manja, tapi hujan udah berhenti bunda. Emang bunda tidak lihat kalau hujan sudah berhenti? lalu aku penasaran dan melihat keluar dari jendela ternyata benar kalau hujan sudah reda. Astaghfirullah memang benar bahwa hujan sudah berhenti. 

    Akhirnya, tanpa basa-basi langsung aku dan anakku bergegas menuju mobil yang didalamnya ada suami dan anakku yang pertama yang sudah menunggu sejak 30 menit lalu. 

    Pagi itu pukul 06.00 WIB  setelah shalat subuh, aku awali perjalanan bersama keluarga menuju kota dingin Takengon. Jalan yang penuh liku dan menajak terkadang tersendat karena ada tanah yang longsor dari sisi jalan. Namun, rintangan tersebut tidak mematahkan semangatku dan keluarga untuk sampai di kota ini.

    Secuil kenangan yang tak pernah terlupakan di kota penghasil kopi itu. Di kota itu banyak menyimpan cerita tentang kisah hidupku. Satu hal yang cukup kuat hubungan aku dengan  kota Takengon adalah di dalam tubuhku mengalir darah keturunan Gayo. Sebab, ibu dari ayah ku adalah asli Gayo dari kampung Wih Lah Kecamatan Pegasing.  Masa kecilku sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Paya Tumpi yang saat ini bernama SDN 3 Kebayakan Aceh Tengah. Kemudian, aku hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun hingga kembali lagi ke kota kelahiranku Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. 

    Seiring perjalanan waktu, sekarang aku berkeluarga dengan seorang pria Aceh garis keturunan Yaman Timur Tengah yang sangat baik dan menjadi suamiku, hingga aku dikaruniai 2 (dua) orang Arjuna.

    Udara yang segar dengan hawa sejuk mulai terasa ketika aku sampai di gapura Selamat Datang di kota Takengon pada pukul 08.00 WIB. Aku dan keluarga berhenti sejenak di daerah yang dinamai Singah Mata. Di sana kami sekeluarga mengambil foto dengan latar belakang Danau Lut Tawar dengan panorama sisi pengunungan yang masih diselimuti kabut putih.  

    Setelahnya, kami menuju ke sebuah desa yang tak jauh dari lokasi Singah Mata yakni desa Paya Tumpi Baru. Di desa inilah masa kecilku pernah tinggal. Aroma khas Kopi Paya Tumpi menyambut kedatangan sekeluarga kami di rumah saudara kandungku yang hidup bersahaja. Usai menyeruput kopi beberapa saat, aku dan keluarga melanjutkan perjalanan berwisata menuju sebuah lokasi puncak bukit dengan keindahan alam yang luar biasa. Aku sudah beberapa kali ke sana, tapi kali ini berasa berbeda sebab keluarga kecilku ikut serta. 

    Pantan Terong itulah lokasi puncak bukit yang kami tuju.  Di puncak itu kita dapat melihat Danau Lut Tawar yang di apit oleh pegunungan. Sungguh memamerkan kebesaran Tuhan. Sebelum mencapai Pantan Terong di kaki bukit, ada satu desa yang dilalui yakni Desa Daling Kecamatan Bebesen. Salah satu anakku sempat berkata, “Bunda, kita bisa pegang langit ya diatas sana”, ucapnya. Tersontak aku dan keluarga yang lainnya langsung tertawa sehingga cukup membuat suasana dingin menjadi hangat.  

    Sekedar ilustrasi, jarak menuju Pantan Terong ± 7 km dapat ditempuh selama 20 menit dari kota Takengon menuju Pantan Terong melewati jalan aspal hotmik cukup bagus dan lebar namun jalannya berliku dan menanjak, dibutuhkan nyali dan skil pengemudi. Untungnya sopir yang mengedarai kendaraan kami cukup berpengalaman. Di sepanjang  jalan hamparan kebun kopi warga menambah indahnya panorama alam yang asri.

    Akhirnya lelahku terbayarkan ketika sampai di puncak bukit Pantan Terong yang merupakan puncak bukit tertinggi yang berpenghuni dalam kawasan kota Takengon sebagai tempat destinasi wisata dengan ketinggian ± 1.830 meter di atas permukaan laut. Pemandangannya begitu menakjubkan dengan udaranya yang begitu dingin. Di bagian sisi barat mata memandang bentangan Danua Lut Tawar, hamparan sawah-sawah dan kubah Mesjid Agung Ruhama di tengah kota Takengon yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah.  Di bagian sebelah selatan terdapat lapangan pacuan kuda Belang Bebangka dimana tempat pacuan kuda tradisional sering diadakan. 

    Sementara itu, di sebelah Utara panorama alam Kabupaten Bener Meriah dengan Gunung berapi Burni Telong yang begitu megah dan landasan pacu bandara Rembele, tak ada kata yang lain selain mengucap kebesaran Allah, segala puji untuk mu ya Allah tanah ini begitu indah engkau ciptakan, menjadi berkah dan sumber kehidupan warga dataran tinggi Gayo. Persis seperti yang tertuang dalam Al-qur’an pada ayat Ar-rahman, Nikmat mana lagi yang tidak kau syukuri.

    Sedikit mengupas sejarah diciptakannya lokasi wisata Pantan Terong. Pantan Terong dalam bahasa Gayo bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya Puncak atau Bukit Terong. Pada dulunya puncak tersebut banyak di tumbuhi tanaman jenis terong untuk sayuran sehingga masyarakat di sini menyebutnya bukit dengan tanaman terong atau Pantan Terong. Pada Tahun 2002  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia 17 Agustus, Bupati Aceh Tengah pada waktu itu,  Bapak Drs. Mustafa M. Tamy, MM meresmikan lokasi tersebut sebagai titik awal pembagunan wisata di Aceh Tengah dan diprakarsai oleh Ibu Hj. Nilawati Mustafa M. Tamy. 

    Diresmikan dengan nama puncak Al Kahfi, namun dalam perjalananya warga di Aceh Tengah lebih mengenal lokasi tersebut dengan sebutan  Bukit Terong atau Puncak Terong dan akhirnya hingga saat ini lokasi tersebut di kukuhkan penamaanya dengan sebutan Pantan Terong dalam bahas Gayo. Lokasi itu di resmikan sebagai destinasi Wisata Alam dan juga Agroewisata. Selain menyuguhkan pemandangan alam, di bagian timur Pantan Terong merupakan areal pertanian, di tempat itu terdapat puluhan hektar hamparan lahan perkebunan holtikultura tempat bercocok tanaman segala jenis sayur-sayuran yang berkualitas, seperti Kentang, Kol, Bawang dan sebagainya. 

    Berdiri di Puncak Al Kahfi atau Pantan Terong mengingatkan aku pada tempat wisata kebun raya Cibodas Jawa Barat yang memiliki hamparan kebun teh yang luas bergelombang dan  berbukit bukit dengan ketinggian 1.275 meter dari permukaan laut,  suhu udara di sana hampir sama dengan di Pantan Terong yakni antara 17 – 27 derajat Celsius. Bagi saudara-saudara dan teman-teman ku yang ingin berwisata ke Pantan Terong sebaiknya memakai baju yang tebal atau membawa jaket karena udara di tempat itu benar-benar dingin. Tak jarang juga sering datangnya kabut walau di siang hari. Bagi yang belum terbiasa dan berlama-lama di tempat itu akan merasakan kaku untuk bergerak  karena dingginya suhu udara di kawasan tersebut.

    Berada di puncak Pantan Terong dapat menghilangkan penat dan melupakan aktivitas kantor yang melelahkan, udara yang segar, pemandangan yang indah mampu membangkitkan semangat hidup kita, lokasi wisata ini memang berbeda jika di bandingkan dengan tempat wisata lainnya, karena semuanya masih alami, kita pun dapat menyempatkan diri untuk membeli sayur-sayuran segar langsung ke lahannya. Lain lagi bicara kopi, memang Gayo tempatnya untuk menikmati secangkir kopi asli Arabika, daerah ini memang sudah sangat terkenal sebagai daerah penghasil kopi arabika.

    Udara dingin dalam gulungan kabut  berisi air embun langsung menyentuh kulit, terkadang bila di pagi hari di bawah jam 10.00 WIB, kita tak menyangka saat kita berbicara, asap keluar dari dalam mulut kita, itu yang kita alami saat berada di puncak Pantan Terong, bahkan terasa kitapun dapat menyentuh  awan di langit  saat berada Pantan Terong yang sedang diselimuti kabut.

    Keindahan Pantan Terong membuat aku dan keluarga enggan beranjak, namun karena waktu makan siang telah tiba kamipun meninggalkan Pantan Terong dengan mengukir kenangan yang tak terlupakan.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com di rubrik jurnalisme warga tanggal 12/14/2019/04/ dengan judul Menyentuh-langit-di-puncak-pantan-terong

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Lulusan Kebidanan ikut Ukom

     

    Peusangan-Program Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim kembali ditunjuk oleh Kemenristek Dikti melalui Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) sebagai lokasi pelaksanaan ujian Uji Kompetensi Nasional (TUK)  tenaga kesehatan Bidan atau sering disebut dengan ujian kompetensi (Ukom).

    Pelaksanaan Uji kompetensi (Ukom)  Bidan di Bireuen diikuti sebanyak  89  peserta yang berasal dari lulusan Diploma III Kebidanan Almuslim  63 orang  dan  26 orang dari Akademi Kebidanan Munawarah Bireuen, ujian berlangsung  di kampus Diploma III Kebidanan umuslim, Sabtu (9/3/2019).

    Direktur III Kebidanan Umuslim Nurhidayati, MPh menyampaikan bahwa ujian Ukom ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran dan diatur dalam Permenristekdikti No 12 tahun 2016 dan bagi yang lulus akan diberikan Surat tanda Registrasi (STR) sebagai pengakuan kompetensi profesi.

    Tambah Nurhidayati lagi bahwa  pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Kemenristek Dikti melalui Dirjen Belmawa atas dipilihnya kampus Kebidanan Umuslim sebagai lokasi pelaksanaan ujian kompetensi bagi lulusan kebidanan, pelaksanaan ujian berlangsung aman dan lancar, diawasi langsung pengawas dari pusat  yang hadir   Evi Nurakhiriyanti  dari Akbid Gema Nusantara Bekasi Jawa Barati(HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa KKM gelar aneka lomba

    Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Peusangan  Angkatan XVII 2019  yang melaksanakan pengabdiannya di kabupaten Bireuen melakukan berbagai kegiatan.

    Mengakhiri pengabdian  di desa mereka melaksanakan berbagai program yang melibatkan masyarakat desa, seperti reiboisasi di pantai wisata Panggah, kemudian di Kecamatan Peudada mereka juga melaksankan MTQ anak-anak dan berbagai program pendidikan lainnya. Kegiatan yang digelar di kecamatan masing-masing ini berlangsung dari tanggal (11-14/3/2019).

    Seperti dilaporkan koordinator dosen DPL KKM di Kecamatan Peudada Riyadhul Fajri M,Kom bahwa banyak kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa  melibatkan para pelajar dan masyarakat, mereka banyak arahkan program ke bidang Pendidikan seperti MTQ dan berbagai bimbingan pedampingan dan bimbingan anak sekolah lainnya,  jelas Riyadhul Fajri.

    Kegiatan MTQ tingkat anak-anak yang dibuka Sekcam Peudada Maksalmina melibatkan unsur pemuda mendapat dukungan dan bantuan dari masyarakat. Seperti apa yang disampaiakan  keuchik Neubok Naleung kecamatan Peudada Nasruddin  mewakili dari 16 desa lokasi penempatan KKM, menurutnya pihaknya sangat berterimakasih kepada mahasiswa KKM Universitas Almuslim, dengan adanya mahasiswa kkm membuat kegiatan  walau programnya sederhana tapi sangat terbantu masyarakat  dalam memotivasi dan   meningkatkan  mental anak dalam mengikuti pendidikan  di setiap  desa, ungkapnya.(HUMAS).

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim Ikut Asean Youth Assembly (AYA) di Surabaya

     

     Peusangan-Muhammad Achdan Tharis, mahasiswa Program Studi  Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Almuslim (FISIP Umuslim) terpilih mengikuti pertemuan Asean youth Assembly (AYA) 2019 di Surabaya.

    Asean Youth Assembly adalah sebuah wadah tempat berkumpulnya pemuda-pemuda Asean yang dilaksanakan oleh AMSA (Asean Muslim Student Association). Program yang  bertemakan “Creating the Virtuos Asean with Youth’s Wisdom”, dilaksanakan di Surabaya tepatnya di Greensa Inn Sunan Ampel Sidoarjo, 26-29 April 2019. 

    Asean Youth Assembly merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh AMSA. Acara ini dilakukan dengan tujuan untuk menerima ide-ide serta aspirasi dari pemuda Asean di era millenial, juga membentuk pemuda Asean yang berbudi pekerti luhur untuk lebih sadar akan isu yang terjadidi Asean, memiliki sifat kepemimpinan dan pembuat keputusan yang baik, serta mampu untuk berpikir kritis dalam membuat regulasi yang bertujuan nantinya dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, khususnya di negara Asean. Sesuai dengan amanah presiden AMSA, ide-ide dan regulasi yang dibuat oleh pemuda Asean nantinya akan diajukan kepada organisasi pemerintah dan non-pemerintah seperti kemenlu, kemenpora, serta LSM hingga akhirnya diterima dan direvisi oleh Asean sendiri.

    Kegiatan yang dihadiri oleh 50 peserta dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi  yang tergabung dalam  Negara ASEAN seperti  Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam berlangsung penuh nuansa persahabatan.

    Menurut laporan Muhammad Achdan Tharis,  acara diawali dengan kegiatan seminar dalam bidang lingkungan, pendidikan, ekonomi, politik, kepemimpinan, Public Speaking, dan beberapa isu global lainnya. seminar ini  disampaikan oleh beberapa narasumber utama dari berbagai organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah, seperti WWF, Kementrian LuarNegeri (Kemenlu), Kementrian Pemudadan Olahraga (Kemenpora) dan beberapa aktivis lainnya yang berasal dari berbagai negara  di ASEAN. 

    Dengan seminar ini dimaksudkan untuk membekali pemuda-pemuda ASEAN khususnya yang menjadi delegasi acara ini untuk lebih sadar akan masalah atau isu yang terjadi di Asean serta lebih kritis dalam mengambil keputusan dan melakukan advokasi regulasi nantinya di negara masing-masing.

     Dalam pertemuan tersebut juga diisi dengan kegiatan diskusi antar delegasi, yang telah dilakukan  pembagian divisi diskusi oleh Presiden AMSA dalam 5 kelompok divisi. Kelima kelompok ini disesuaikan dengan tujuan Asean Chapter, yaitu Welfare (Kesejahteraan), Economy (Ekonomi), Education (Pendidikan), Security (Keamanan), dan Dakwah dengan isu Humanity (Kemanusiaan). 

    Achdan Tharis yang merupakan  mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Almuslim,  merasa sangat beruntung, karena  untuk mengikuti kegiatan ini tidaklah mudah karena harus mengikuti seleksi yang dilakukan oleh panitia penyelenggara. “Saya beruntung dapat terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia di Event Internasional ini,” ungkap  Achdan terharu. 

    “Saya sangat senang dan bahagia bisa terpilih mengikuti program ini, karena saya banyak mendapatkan pengalaman dan bisa bertemu dengan banyak tokoh baik nasional maupun asean,semoga apa yang saya dapatkan bisa saya implementasikan bagi orang banyak, khususnya di Aceh,” ungkap Achdan

    Hari terakhir pertemuan  para delegasi yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dalam negara Asean dibawa mengunjungi berbagai museum dan beberapa tempat wisata dan bersejarah di seputaran kota Surabaya.(HUMAS)

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim Promosi Aceh pada World Travellers Café 2019 di Nagoya Jepang

    Peusangan-Dua orang mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa antara Universitas Almuslim dan Gakuin University Jepang (NGU) turut  berpartisipasi mempromosikan Indonesia khususnya Aceh di Negara Jepang.

    Kedua mahasiswa tersebut adalah Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip dan  Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan  Bahasa Inggris Fkip Universitas Almuslim Peusangan Bireuen.

    Kehadiran kedua mahasiswa Universitas Almuslim di negeri matahari terbit tersebut, dalam rangka menindak lanjuti implementasi perjanjian kerjasama (MoU) yang telah ditandatangani oleh Prof . Hisao Kibune President Nagoya Gakuin University (NGU) dan Dr. H.Amiruddin Idris,SE.,MSi selaku rektor Universitas Almuslim beberapa waktu lalu. 

    Menurut informasi yang disampaikan Bilal Paranov dari Jepang, kegiatan World Travellers Café2019 (WTC 2019)  dilaksanakan  oleh International Affairs of Nagoya Gakuin University Jepang (NGU) merupakan kegiatan akbar bulanan. Kegiatan WTC ini bertujuan mengajak masyarakat dunia  yang hadir untuk mengenal lebih dekat tentang budaya, wisata serta hal yang jarang diketahui tentang suatu Negara. Pembicara di WTC tersebut  dari mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di dunia. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan tahun ini tepatnya di bulan April 2019, bertepatan dengan masuknya ajaran baru kalender akademik Jepang.

    Sebuah kehormatan, NGU memilih Indonesia, yang diwakili oleh Universitas Almuslim Aceh sebagai negara pertama yang mempersentasikan di WTC 2019. Untuk sesion pertama kegiatan di ikuti mahasiswa dari Indonesia, Filipina, Thailand, China, Kanada dan beberapa negara lainnya, sedangkan yang belum berkesempatan pada sesion ini  akan ikut persentasinya pada WTC 2019 selanjutnya.

    Sebagai perwakilan Indonesia dari Universitas Almuslim, Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional FISIP dan Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, mereka berdua  hadir dengan menggunakan baju batik motif pinto Aceh, tambah semaraknya kegiatan presentasi dari Aceh karena ikut bergabungnya salah satu putra asli Jepang  yang  kuliah di NGU,  pernah kuliah selama satu semester di Umuslim Peusangan Bireuen yaitu Iwatsuki Shunichi, dia juga  hadir dengan memakai baju batik. 

    Menurut Bilal Paranov seminggu sebelum acara dimulai, mereka  sudah berkoordinasi dengan International Affairs of NGU untuk menyediakan cemilan khas Indonesia. Pertama kami sempat kewalahan mencari makanan khas Indonesia khususnya Aceh, akhirnya kami menemukan pisang sale dan kue gring di salah satu toka serba Indonesia di Kota Nagoya, Jepang. 

    Saat persentasi tersebut panitia juga menyediakan kopi gayo secara gratis kepada penonton yang tersedia di coffee machine. Penonton yang hadir sungguh diluar ekspektasi saya, hampir 500 penonton memenuhi Global Links International Center. Mereka terdiri dari mahasiswa, dosen, pengusaha dan masyarakat umum yang tertarik mengenal lebih dekat tentang bumi nusantara.

    Dalam presentasi harus menggunakan bahasa Jepang, meskipun begitu kami sedikit mencampuradukkan dengan bahasa Inggris. Slide awal dimulai dengan menjelaskan letak geografis Indonesia, diikuti dengan budaya dan wisata. 

    Jujur saja, 80% isi presentasi saya yaitu tentang budaya, makanan dan wisata yang terdapat di Provinsi Aceh. Penonton sangat terkesima dan sumringah saat kami menjelaskan tentang pesta pernikahan di Aceh dan berbagai kanduri di Aceh.

    Di akhir presentasi kami sempat  memutar video ‘The Light of Aceh.” yang ditutup dengan standing ovation dari seluruh penonton yang hadir. Tujuan saya menampilakn budaya Aceh adalah untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara wisata halal terbaik di dunia, dan Aceh menjadi sampel yang baik untuk wisata halal tersebut, tulis Bilal Paranov melalui messenggernya.

    Setelah presentasi banyak penonton yang menghampiri kami untuk memuji cita rasa pisang sale dan kopi Gayo, bahkan beberapa diantaranya ingin memesan baju batik khas Aceh, alasannya, sangat artistik. 

    Tak hanya itu, mahasiswa Internasional dari Kanada dan Amerika juga berencana untuk liburan ke Sabang akhir tahun ini, mereka tertarik karena slide presentasi keindahan Sabang dan biaya yang terjangkau untuk liburan ke Indonesia. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, sudah tugas kita bersama untuk mempromosikan tanah air tercinta, Indonesia.(HUMAS)

     

  • Mahasiswi Jepang senang menari tarian Aceh

     

    Peusangan- Kisae Fukushima (20)  seorang mahasiswi   dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, saat ini sedang kuliah di Universitas Almuslim berhasil menarik perhatian dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

    Betapa tidak, gadis yang berasal dari negeri matahari terbit ini, berhasil memainkan perannya sebagai Ratu, saat  pementasan permainan tarian nusantara, tarian tersebut merupakan  tarian persembahan  dalam  memeriahkan pembukaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3 yang berlangsung di kampus universitas almuslim, Senin (6/11/2018).

    Dalam tarian tersebut Kisae Fukushima bertindak sebagai Ratu, dengan memakai pakaian adat Aceh yang berwarna merah dipadu dengan kain sarung dan sulaman kuning keemasan membalut setiap jengkal tubuhnya, teryata  sukses  memainkan perannya sebagai pemain utama,  putri jepang ini   sanggup mengikuti pelunturan  lenggokan tubuh dan gerakan tanganya yang  gemulai, bersamaan hentakan  kaki terus bergerak  dengan berbagai ritme gerakan sesuai tabuhan rapai sebagai  iringan musik pengiring.

    Kisae Fukushima, si putri dari negeri olah raga SUMO ini,  mempunyai postur tubuh dengan tinggi yang ideal untuk ukuran seorang penari,  mampu menyeimbangkan  gerakan lenturan tubuh dan goyangan kepala, sehingga berhasil menyeimbangkan persamaan    gerakan kecepatan,   satu tangan dengan tangan lainnya dan hentakan berirama seratusan  pasang kaki dengan kaki lainya dalam satu barisan.

    Dengan kemampuannya menyeimbangkan setiap langkah dalam kebersamaan, mampu untuk  memainkan setiap gerakan pada tarian nusantara tersebut,  membuat  putri Jepang yang selalu menyunggingkan senyuman lewat bibir tipisnya , nampak menonjol dalam setiap gerakan, ditambah balutan pakaian aceh yang memancarkan aura keberanian, sehingga membuat  penonton kagum  dan terkesima dengan penampilannya.

    Keberadaan  mahasiswa dari Jepang  pada Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3, Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, menjelaskan bahwa mahasiswa Jepang tersebut berjumlah  dua orang, mereka hadir  dalam rangka  mengikuti   kuliah program pertukaran mahasiswa yang merupakan  implementasi dari kerjasama (MoU)  yang telah ditandatangani pihak Universitas Almuslim dengan  NGU Jepang    beberapa tahun lalu. 

    Usai penampilannya Kisae Fukushima menuturkan, rasa senang dan bahagianya bisa menari dengan tarian Aceh dan Nusantara , “Saya sangat senang bisa sukses menari tadi” ungkap Kisae Fukushima didampinggi temannya Natsuko Mizutani yang merupakan alumni angkatan pertama program pertukaran mahasiswa Umuslim dengan NGU, kebetulan juga ikut hadir menyaksikan FKU ke-3.

    “ Pertama ikut latihan saya sangat khawatir,apalagi selama ini saya belum pernah menari tarian Aceh,  karena gerakan tarian Aceh sangat susah, kecepatan dan kebersamaannya tinggi  sekali, apalagi dalam tarian tersebut saya menjadi ratu, yang gerakan tubuh harus  bergerak dengan gerakan tari Guel yang merupakan  kunci dari penampilan tarian tersebut, ujar gadis Jepang  tersenyum sambil menunduk kepala.

    “Tetapi saya  kerja keras dan rajin latihan selama satu bulan di kampus, akhirnya berkat arahan kak Maulida sebagai pelatih, kebersamaan teman-teman, saya bisa tampil dengan baik, saya sangat tertarik tarian ini, dan akan terus belajar untuk bisa semuanya, baik gerakan, melenturkan  gerakan badan, kecepatan hentakan tangan dan kaki, permainan tarian aceh gerakan dinamis dan sangat kompak sekali”  cerita Kisae Fukushima dengan gaya bahasa Jepangnya yang masih kental.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada, dosen, teman-teman dan panitia yang sudah mengajak saya ikut menari” saya senang dan bahagia sekali , apalagi bisa  memakai pakaian adat Aceh, ujar gadis berkulit putih bersih ini. (Humas)

     

     

  • Melihat dari dekat usaha garam Milhy yang ber SNI

     

     

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen Universitas Almuslim, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna dan anggota FAMe Chapter Bireuen

    Sore itu suhu terasa masih cukup panas, padahal jarum jam sudah hampir merapat pada angka 17.00 wib, suasana  kawasan rekreasi pantai Jangka tidak lagi ramai, hanya beberapa pelancong lokal seputaran kawasan tersebut yang sedang menikmati hembusan angin  laut serta suasana sunset diatas selat malaka sambil menikamati beberapa kuliner  seputaran pantai tersebut.

    Matahari mulai bergerak meransek ke arah barat tetapi suhu masih cukup panas, seakan tidak bersahabat untuk mengurangi tensi panasnya, sehingga walau angin pantai terus berhembus, cucuran keringat semua orang  tetap saja mengalir seputaran kening tidak mau berhenti.

     Di atas langit ujung barat  suasana sunset  mulai meredup  untuk menyusup ke peraduan, saya bergegas bergerak  meninggalkan lokasi salah satu destinasi wisata pantai di kabupaten Bireuen itu.

    Saya pulang mengambil rute  jalan melalui  arah barat, melewati beberapa desa, diperjalanan lebih kurang dua kilometer dari pantai Jangka, saya singgah bersilaturahmi ketempat usaha salah seorang alumni universitas almuslim Peusangan, saudari Qurrata‘Aini YS,SE, alumni DIII Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Universitas Almuslim, sekarang mengelola usaha garam merek MILHY.

    Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan luasnya lebih kurang 800 meter persegi, bangunan beton yang  telah di sekat empat bagian  menjadi kantor, ruang produksi, penyimpanan dan ruang mesin pengolahan, saya disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik bangunan tersebut,  suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan, sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. 

    Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal dari lahirnya usaha tersebut, menurutnya penataan ruang ini sesuai aturan dan syarat untuk menjadikan tempat usaha yang layak dan berstandar SNI, sambil Qurrata memperlihatkan sertifikat  SNI nomr 3556 -2010.

     Menurutnya  MILHY asal kata Milhon dalam bahasa Arab yang artinya Asin (Garam), Milhy  juga nama tabalan pada orang tuanya Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat Tanoh Anoe Jangka, gelar  Milhy ini  disandangkan oleh Jepang ketika kawasan tersebut dikuasai tentara Jepang.

    Pada masa pendudukan Jepang  usaha Tgk Yusuf  salah satu produksi garam yang bisa bertahan, sehingga dengan adanya usaha garam  beberapa masyarakat Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang saat itu, cerita Qurrata‘Aini bersemangat.

    Menurut Qurrata‘Aini awalnya dia tidak pernah tau seluk beluk  produksi garam, sehingga usaha garam secara tradisionil warisan orang tuanya tahun 1990 sempat tidak berproduksi, padahal  tahun 1980  usaha orang tuanya  dengan  merk garam Bulan Bintang sudah maju dan  pemasarannya ke seluruh Aceh. Seiring perjalanan waktu awal  2006, usaha itu mulai dirintis kembali oleh Qurrata Aini yang merupakan anak bungsu Tgk Yusuf Milhy, dengan memanfaatkan beberapa petak tanah peninggalan orang tuanya.

    Tanoh Anoe kecamatan Jangka sekitarnya merupakaan satu kawasan produksi garam rakyat, makanya tidak heran kalau melewati desa tersebut terlihat berjejer ratusan jambo sira tradisionil dengan dinding belahan bambu dan pelepah kelapa beratap rumbia berjejer bersisian sepanjang area tambak. Sore itu dengan hembusan angin laut yang begitu sejuk, penulis melihat secara dekat kesibukan warga seputar jambo sira dengan berbagai aktivitas, ada menurunkan kayu bakar, mengangkut air, mengumpulkan butir-butir bibit garam, memasak air dan juga sedang membakar kayu.

    Yang lebih kentara terlihat dari kejauhan nampak jelas kepulan asap yang berasal dari pengolahan dengan rebusan bahan baku bibit garam menggunakan air laut/sumur bor keluar lewat celah-celah dinding bambu dan atap rumbia mengepul ke angkasa. 

    Menurut Qurrata Aini, pondok garam produktif di kecamatan Jangka mencapai 200 lebih, yang pengolaannya masih secara tradisionil, dulu sebagian besar bahan baku bibit garam di pasok dari luar Aceh, hal ini untuk mencapai target kebutuhan. Tapi Alhamdulilalh sekarang melalui program Inovasi, produksi garam Milhy bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, kami sudah bisa memproduksi bahan baku sendiri dengan menggunakan Geomembran.

    Menurut Qurrata Aini, metode Geomembran kawasan tersebut merupakan inovasi dirinya, awalnya beberapa tahun lalu terjadinya kelangkaan bibit garam, sehingga banyak petani garam yang meninggalkan usaha tersebut.

    Mereka membiarkan pondok terbengkalai tidak terurus, banyak petani garam putus asa, karena kondisi tersebutlah dia memutar otak untuk tetap bertahan,  tidak membiarkan pondok garam terbengkalai, tetapi asap tetap mengepul dari pondok, sehingga dia mencoba berbagai cara agar bisa menghasilkan bibit garam.

    Berbagai ilmu tentang garam dia pelajari dari berbagai sumber dan belajar pada orang tua sepuh yang pernah bergelut dengan pengolahan garam tradisionil, bahkan pihaknya pernah mengupayakan bibit dari pulau Jawa seperti Madura dan Banyuwangi, teryata hasilnya tetap nihil, karena bibit dari sana tidak cocok dengan topografi daerah kita, jelas Qurrata Aini

    Karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia lakukan, dari pada jadi pengangguran, dia tetap bertahan untuk pekerjaan di pondok garam, dia coba dengan berbagai metode dan teknik inovasi  ala sendiri, “saya berpikiran jangan sampai tidak ada bibit, tidak bisa cari uang” ulas Qurrata Aini yang saat kuliah dikenal seorang mahasiswi yang  vokal.

     Akhirnya dia coba dengan sistem Geomembran, saat mencoba inovasi metode ini, dirinya sempat dianggap setengah gila oleh masyarakat, pokoknya semua meremehkan dan menyeleneh apa yang dia kerjakan. Menurutnya metode Geomembran yang dia praktekkan, perpaduan bahan peralatan modern seperti plastik dan  berkolaborasi dengan metode tradisionil yaitu melihat tanda-tanda alam, seperti arah mata angin, hembusan udara dan kualitas pencahayaan matahari.

    Berbulan-bulan dia lakukan uji coba dengan memperhatikan kondisi alam seperti arah mata angin, arah mata hari, cuaca dan juga sampai membuat bangku sebagai mewaspadai terjadi banjir, semua yang dia uji coba merupakan pekerjaan yang tidak pernah dipraktekkan masyarakat saat itu.

    Akhirnya uji coba tersebut sukses dan menghasilkan bibit yang berkualitas, tetapi selama satu tahun masyarakat  masih belum percaya dengan inovasi yang dia lakukan, akhirnya pada tahun kedua hasil uji coba tersebut baru masyarakat mengakui sistem Geomembran, bisa menghasilkan bibit garam  berkualitas dan harga lebih murah, sekarang banyak dari luar daerah yang menjadikan metode dan tempat saya sebagai tempat belajar, jelas Qurrata Aini ceplas ceplos.

    Garam UD.Milhy diproduksi dalam tiga varian yaitu Milhy sira gampong beriodium (rendah Nacl), Milhy beriodium berstandar nasional dan Milhy garam non konsumsi (garam ini khusus untuk rendam kaki bagi penderita kebas dan kelelahan), garam beriodium adalah garam komsumsi yang memenuhi persyaratan SNI, BPOM,LPPOM yang ditetapkan dan telah diberikan zat iodium (KI03) dengan proses yodisasi, sekarang sedang dikampayekan penggunaannya untuk pencegahan tumbuh anak Stunting, rinci Qurrata Aini.

    Garam produksi Milhy dipacking dalam berbagai  isi seperti  100, 200, 250,400 gram,1 kg dan  8 kg, jumlah tenaga kerja 18 orang yang tetap dan tidak tetap 35 orang, kalau perputaran cepat saat musim kebutuhan omsetnya bisa  mencapai 200-250 juta perbulan dan tenaga kerja juga bertambah, cerita Qurrata aini penuh semangat.

     Selain memproduksi sendiri garam, usaha Milhy juga menjadi ibu angkat dari ratusan petani garam tradisionil lainya seputaran Jangka, dimana hasil produk masyarakat di tampung oleh UD Milhy, kemudian pihaknya mengolah dan packing sesuai standar produksi usahanya, jelas Qurrata Aini.

    Sekarang usaha garam Milhy mampu memproduksi garam beriodium 70.000-80.000 Kg/bulan, dengan peralatan memadai seperti mesin penghalus, cuci,oven, Iodisasi, hand sailler dan produksi garam Milhy telah mempunyai sertifikat Halal MPU Aceh : 14060000451214, dan sertifikat SNI 3556 -2010, BPOM RI MD 255301001021.

    Usaha garam UD Milhy Jaya pernah mendapat piagam penghargaan UMKM naik kelas katagori Industri Pengolahan tahun 2017 kerjasama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Piagam penghargaan SIDDHAKARYA Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Aceh. Penghargaan Produktifitas SIDDAKARYA dengan klasifikasi “Good Performance”. Usaha garam Milhy  pernah dikunjungi artis nasional Marissa Haque, Darwati A.Gani serta beberapa  isteri dan pejabat baik tingkat Provinsi kabupaten/kota baik dari Provinsi Aceh maupun luar provinsi Aceh.

    Ayo kita konsumsi garam beryodium untuk menghindarkan penyakit gondokan dan stunting....

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 06/05/2019/ dengan judul Melihat dari dekat usaha garam bebas najis.

     

     

     

     

     

     

     

  • MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan

    Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Matang–begitu nama singkatnya--sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka sebagai basis perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda, perjuangan yang dipimpin oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap dan didukung oleh tokoh-tokoh perjuangan, seperti Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk H Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk Ridwan, dan lain-lain.

    Strategi yang ditempuh tokoh Peusangan (sebelum pemekaran) pada masa perjuangan melawan penjajah adalah dengan mendidirikan lembaga pendidikan yang disebut dengan Jami’atul Muslim pada 21 Jumadil Akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1929 Masehi. Lembaga pendidikan itulah yang merupakan cikal bakal Yayasan Almuslim Peusangan yang membawahi Universitas Almuslim, IAI Almuslim, Pesantren Almuslim, juga SMA dan MA Almuslim,

    Jadi, perjuangan yang dipelopori oleh umara dan ulama Peusangan waktu itu, bukan dengan fisik, melainkan yang lebih utama adalah dengan ilmu pengetahun. Tak heran kalau Kota Matangglumpang Dua juga dikenal sebagai kota pelajar dan banyak tokoh lahir dari kecamatan ini.

    Menurut cerita orang-orang tua dulu, pada masa kepemimpinan Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), setiap warga masyarakat diwajibkan menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, seperti pohon kelapa, boh giri atau jeruk bali, sawo, langsat, dan berbagai buah-buahan lainnya.

    Setiap warga Peusangan yang pergi ke hari pekan (uroe ganto) di Matangglumpang, Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah--populer dengan julukan Ampon Chiek Peusangan--merazia setiap sepeda warga yang pergi ke hari pekan. Apabila warga tidak membawa hasil kebun dari kampungnya, mereka disuruh pulang lagi ke kampung. Pokoknya, setiap warga yang datang dari kampung harus ada tentengan buah-buahan atau hasil kebunnya yang dibawa ke pasar.

    Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal mengapa buah-buahan seperti pisang, pinang, jeruk bali atau boh giri, belimbing wuluh (bahan baku asam sunti), dan beberapa jenis buah-buahan lainnya banyak tumbuh di Peusangan. Berbagai komoditas inilah yang telah membawa kemakmuran dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kecamatan Peusangan sehingga banyak warga berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dari menjual hasil kebunnya.

    Berbagai tumbuhan, baik buah-buahan maupun tanaman keras lainnya yang tumbuh di masa lalu teryata boh giri-lah yang merupakan buah-buahan yang bertahan dan masih populer sampai sekarang.

    Kini, kalau sedang musim jeruk bali setiap hari berton-ton buahnya diangkut ke Medan dan Pulau Jawa, apalagi kalau saat menjelang Imlek, hari raya orang Tionghoa. Mereka biasanya langsung membawa mobil tronton datang ke lokasi dan memesan pada pemilik kebun jeruk bali.

    Jeruk bali atau boh giri berdasarkan kesepakatan bersama para pengusaha, boh giri bali disebut boh giri matang, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan “boh giri bali”. Buah-buahan ini telah menarik perhatian banyak orang dan sekarang menjadi oleh-oleh andalan bagi tamu-tamu yang datang dari luar daerah ke Peusangan.

    Jeruk bali (Citrus maxima atau Citrus grandis) asal mulanya juga bukan dari bali, melainkan buah asli dari Asia Selatan dan Tenggara. Departemen Pertanian menyarankan sebutannya adalah “pomelo” sebagaimana yang dikenal di dunia internasional.

    Dalam rangka mengisi hari libur, saya berkunjung ke salah satu desa penghasil boh giri, yakni Desa Pante Lhong. Saya sempat bersilaturahmi dengan Ibu Syarbaniah, petani boh giri tradisional.

    Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka perlu mengikuti langkah-langkah penanaman sebagai berikut:

    Bibit tanaman bukan berasal dari biji, tetapi dicangkok selama tiga bulan agar cepat tumbuh;

    Setelah itu dipotong dan dipindahkan ke dalam polybag selama satu bulan;

     Siapkan lubang dengan kedalaman minimal 50 cm, lebar 50x50 cm;

    Tanam dengan jarak 7 meter antar pohon;

    Bila tumbuh dengan baik maka akan dapat berbuah paling cepat pada usia 1,5 tahun dan secara normal akan berbuah selama dua tahun;

    Beri pupuk kompos atau urea putih mulai dari enam bulan pemelihraan dan pada saat mulai berbuah serta disesuaikan dengan besar rimbun pohonnya dengan kedalaman area lubang 10 sampai 15 cm.

    Untuk menjaga agar buah yang dihasilkan bagus, maka buah yang pertama hanya kita pertahankan sebanyak tiga buah, berbuah kedua sebanyak enam buah, berbuah ketiga spuluh buah dan berikutnya baru boleh sebanyak-banyaknya.

    Untuk memilih boh giri yang baik sebaiknya perlu diperhatikan berat buahnya, kemudian pegang bagian bawahnya terasa lembek serta kulitnya terasa kasar. Agar rasanya nikmat dan lezat sebaiknya setelah dipetik dibiarkan selama satu minggu atau minimal lima hari baru dikupas. Berat jeruk bali berkisar 1-2 kg per buah, dengan diameter 15-25 cm.

    Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

    Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.

    Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

    Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

    Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

    Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

    Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 08/05/2019/ dengan judul Mencicipi Jeruk bali di bumi Peusangan

     

  • Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang

    Oleh : Yusrawati,SE.,MM Staff dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen

    SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Kebetulan sore itu kami menuju Kota Lhokseumawe sambil mencari sedikit keperluan bahan sekolah untuk anak. Jarak tempuh antara tempat tinggal saya ke Lhokseumawe lebih kurang 30 menit.

    Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, sampailah kami di simpang Loskala. Simpang tersebut merupakan persimpangan menuju jalan alternatif yang dibangun untuk jalur menuju Kota Lhokseumawe dari arah barat. Kami sekeluarga sepakat untuk memilih jalur alternatif tersebut.

    Memasuki jalan baru mulai dari simpang Loskala saya tercengang melihat ramainya warga yang mengambil rute tersebut. Saking padatnya lalu lalang kendaraan di jalur ini membuat kami harus mengendara dengat pelan dan sangat hati-hati.

    Di sepanjang jalan sebelum sampai ke Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, kami lihat berbagai jenis kendaraan dengan berbagai model dan seri berjalan saling mendahului, baik dari arah masuk maupun arah ke luar dari lokasi Ujong Blang. Banyak juga remaja yang mengendarai sepeda motor (sepmor) secara ugal-ugalan.

    Di sepanjang pinggir jalan kami juga melihat padatnya parkiran kendaraan, baik itu kendaraan roda dua, roda tiga (becak), maupun roda empat. Semua dijejer di halaman pondok kuliner atau kafe yang dibangun berderet di sepanjang jalan menuju pantai Ujong Blang.

    Ujong Blang merupakan salah satu pantai yang menjadi destinasi wisata andalan di bekas “kota gas” tersebut. Setiap hari minggu banyak pelancong dari luar daerah yang datang menikmati deburan ombak di sini.

    Dari pusat Kota Lhokseumawe ke Ujong Blang butuh waktu hanyak belasan menit saja dengan berkendara. Langsung dapat kita nikamti lokasi yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati pantai Selat Malaka.

    Kami melihat betapa ramainya masyarakat yang duduk di atas tikar secara berkelompok, baik itu keluarga, maupun sesama kolega, sambil mencicipi makanan yang telah disiapkan dari rumah. Mereka dengan gembira menikmati riuhnya suasana ombak dan angin pantai pada sore itu. Tak jarang pula terlihat mereka memesan dan menikmati kuliner yang dijual di pondok-pondok yang berjejer rapi di sepanjang pantai Ujong Blang, mulai dari rujak, mi instan rebus atau goreng, hingga ikan bakar. Itulah kuliner khas pantai Ujong Blang ditambah kelapa muda yang sangat andal untuk mengusir dahaga.

    Karena ramainya warga yang turun ke lau, lagi pula cuaca dan ombak pun sangat bersahabat, sehingga saya bersama anak ikut turun juga ke tepi pantai untuk sekadar melihat suasana dan menghabiskan waktu sambil menikmati hempasan ombak pantai pada sore itu.  

    Dalam pikiran saya, ramainya warga yang berada di bibir pantai sore itu seperti adanya atraksi tarek pukat yang merupakan pekerjaan rutin nelayan setiap pagi di pantai ini. Tarek pukat adalah kebiasaan masyarakat nelayan untuk menangkap ikan dengan memakai jaring secara berkelompok. Biasanya tarek pukat dilakukan pada pagi hari, saat nelayan baru pulang melaut. Banyak masyarakat yang menyaksikan aktivitas tarek pukat tersebut dan menjadi tontonan yang menarik dan mengasyikkan.

    Saat kami sedang menikmati semilir angin berembus ke tepi pantai dan nyanyian suara ombak yang bergelombang mendekati bebatuan yang tersusun rapi sebagai penahan ganasnya gelombang pantai tersebut agar tidak menggerus pemukiman penduduk, dari kejauhan beberapa boat kecil nelayan berwira-wiri dimanfaatkan beberapa pengunjung untuk memancing, sesekali tampak boat terhempas dengan deburan ombak setinggi lutut sehingga dari kejauhan boat seperti adegan jumping.

    Saat berada di pinggir pantai saya melihat ke atas seputaran jalan, pondok atau kafe, terlihat begitu ramainya masyarakat yang datang ke pantai tersebut, rata-rata mereka pergi secara berkelompok bersama keluarga.

    Yang herannya, makin sore masyarakat makin ramai yang datang, sehingga saya penasaran, ada apa? Kenapa makin mau terbenam matahari makin ramai orang yang datang, mereka ada yang hanya duduk termenung memandang ke laut lepas, ada yang asyik bercengrama sesama anggota kelompok, ada juga yang hanya untuk menemani anak-anaknya mandi laut, tetapi yang lebih banyak para remaja milenial yang asyik berselfi ria.

    Karena penasaran saya sempat bertanya pada seorang pemilik kafe di jalan ke luar dari area pantai tersebut, “ Pak ada acara apa? Makin sore kok makin ramai saja orang yang datang , padahal matahari mulai terbenam.” 

    Pemilik kafe itu menjelaskan bahwa ini merupakan kebiasaan masyarakat, tidak hanya masyarakat seputaran Lhokseumawe saja yang menghabiskan waktu sorenya di Pantai Ujong Blang, tapi banyak juga warrga dari daerah lain datang untuk mandi laut di Pantai Ujong Blang, apalagi pekan lalu itu mau memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, ada tradisi masyarakat kita pada minggu terakhir bulan Syakban banyak yang pergi santai untuk rekreasi bersama keluarga di pantai.

    Setelah mendapat penjelasan dari bapak setengah baya itu barulah saya mengerti maksud orang tersebut hadir sampai sore ke pantai Ujong Nlang Lhokseumawe yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lhokseumawe. Selain menikmati pemandangan laut pada sore hari, di tengah hiruk pikuk ramainya masyarakat menikmati suasana pantai, saya juga melihat banyak warga yang memanfaatkan waktu membeli ikan segar yang banyak dijual oleh sejumlah nelayan di sepanjang jalan menuju lokasi pantai. Aktivitas jual beli ini terlihat sangat sibuk, melebihi suasana di pasar ikan sendiri. Para penjual juga begitu cekatan memainkan jurus mautnya merayu dan melayani calon pembeli yang datang dari beberapa desa di Kota seputaran Lhokseumawe.

    Warga yang datang membeli ikan naik mobil umumnya lebih siap, karena mereka sudah mempersiapkan baskom atau timba plastik kecil sebagai wadah untuk menampung ikan segar yang dibeli. Apabila ada ikan yang sesuai selera dan cocok harga, mereka langsung bisa memanfaatkan baskom atau timba tersebut sebagai tempat ikan yang dibeli sehingga tidak mengotori mobilnya saat dibawa pula ke rumah. Rutinitas seperti itu terus berkelin dan dari pekan ke pekan.

     

     

    Cerita ini pernah tanyang pada http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 7/5/2019 dengan judul Menikmati-akhir-pekan-di-pantai-ujong-blang

     

     

     

     

  • Menteri ATR/KBPN Sofyan Djalil kuliah umum di Umuslim.

     

     

    Peusangan-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD akan memberikan kuliah  umum  pada mahasiswa Universitas Almuslim dan tokoh masyarakat Peusangan, Kamis (14/3/2019).

    Kegiatan yang akan dihadiri sekitar seribu orang peserta ini berlangsung di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim Matangglumpang Dua.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE,MSi membenarkan akan kehadiran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (ATR/BPN RI), Dr.Sofyan A.Djalil SH.,M.A.,M.ALD ke kampus Umuslim, “Pak Menteri akan memberikan kuliah umum dengan tema Kesiapan Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0” Jelas H.Amiruddin Idris.

    Kami mengharapkan kepada mahasiswa dan dosen agar dapat mengikuti kuliah umum ini dengan serius karena bisa menambah wawasan keilmuan serta banyak hal dan manfaat yang bisa dipetik dari materi kuliah umum bapak Menteri kelahiran Aceh Timur  ini, harap Amiruddin Idris. 

    Pada kesempatan tersebut Sofyan Djalil dijadwalkan juga akan  menyerahkan  sertifikat tanah milik Universitas Almuslim Peusangan kepada Rektor. Menurut Informasi dari tim protokoler rombongan Menteri diperkirakan tiba di kampus Umuslim  sekitar jam 8.15 pagi ,setelah mengisi kuliah umum pada siang hari akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Aceh Timur.(HUMAS)

     

  • Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Lulusan DIII Akademi Kebidanan Universitas Almuslim

    Kamis (8/1) merupakan hari yang teramat bersejarah bagi mahasiswa Akbid Umuslim 125 mahasiswa Kebidanan mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah di Aula MA Jangka. Kepada para bidan baru Ibu Nurhidayati, M.Ph selaku Direktur Kebidanan Universitas Almuslim berpesan agar para bidan melaksanakan tugas dengan mengedepankan etika.
    Acara ini diikuti dengan begitu antusias oleh peserta pelantikan dan juga yang mewakili orang tua. Apalagi acara ini diisi dengan pesan dan kesan mahasiswa yang diwakili oleh salah seorang lulusan.
    Dalam kesempatan itu Dr.H.Amiruddin Idris, SE., M.Si mengungkapkan bahwa Umuslim fokus pada peningkatansumber daya dosen. “Empat dosen mengikuti program S2 di Universitas Brawijaya Malang, Dua dosen lagi kita kirim tahun depan” tambah Rektor Umuslim.
    Langkah ini ditempuh sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, sehingga ke depannya Umuslim akan lebih berkualitas apalagi pihak kampus terus mendorong agar para dosen aktif dalam bidang riset dan penelitian.
    Yang membanggakan bahwa seluruh lulusan bidan Umuslim sebelum mengikuti wisuda wajib mengikuti uji kompetensi sehingga memperoleh STR (Surat Registrasi). Karena ini merupakan syarat dalam membuka praktek, ketika mereka terjun ke masyarakat. (al)