Universitas Almuslim - University

  • Bank Indonesia dirikan BI Corner di Umuslim

     

     

    Peusangan- Bank Indonesia Lhokseumawe dirikan BI Corner di perpustakaan Universitas Almuslim Peusangan, Bantuan pojok baca (BI Corner ) tersebut , diresmikan penggunaannya oleh Bupati Bireuen yang diwakili Sekretaris Daerah Bireuen Ir.Zulkifli, Sp, Kamis (6/12) di perpustakaan Induk kampus umuslim.

    Sekda Bireuen Ir Zulkifli,Sp dalam sambutannya saat peresmian, menyambut baik atas program Bank Indonesia Corner dan E-Almuslim (perpustakaan digital Universitas Almuslim), harapannya dengan bantuan sistem digital ini dapat  memudahkan dan praktis bagi mahasiswa  mencari bahan bacaan. Dengan adanya bantuan beberapa perangkat perpustakaan elektronik dari Bank Indonesia Lhokseumawe ini agar dapat dimanfaatkan dengan baik, "Terimakasih kepada Bank Indonesia yang telah berperan aktif membantu perpustakaan”, harap Sekda.

    Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yufrizal dalam sambutannya mengatakan bahwa BI Corner di Universitas Almuslim Peusangan merupakan BI Corner kedua, setelah sebelumnya sudah ada di perpustakaan daerah Kabupaten Bireuen.

    "Kami berharap pojok baca ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa di Universitas Almuslim dalam meningkatkan minat baca dan kegiatan akademik" ujar Yufrizal.

    Rektor Universitas Almuslim Peusangan Dr H Amiruddin Idris, SE.,MSi menyambut baik dan berterimakasih atas bantuan pojok baca (BI Corner),  Kami mengapresiasi kepedulianBank Indonesia Lhokseumawe  yang mendirikan BI Corner di perpustakaan Umuslim.

    Harapannya semoga dengan bantuan  BI Corner dari Bank Indonesia Lhoksemawe ini,akan mempermudah dan bermanfaat bagi mahasiswa dalam  kebutuhan referensi untuk membantu menyelesaikan kuliah, ungkap Rektor Umuslim.

    Semoga bantuan ini  dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan semangat literasi di kalangan mahasiswa dan masyarakat khususnya dalam hal mendapatkan buku dan berbagai pengetahuan lainnya melalui perangkat berbasis IT,  menghadapi era digital  saat ini, jelas H.Amiruddin Idris (HUMAS)

     

    Foto : Hery Gustami

  • 16 Mahasiswa Jepang tiba di Umuslim

     

    Sebanyak enam belas mahasiswa dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang tiba di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Jumat(16/8). Kedatangan mereka  merupakan tindak lanjut perjanjian kerjasama yang sudah ditandatangani kedua Universitas beberapa tahun lalu.

     Menurut Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  saat  acara jamuan makan malam di geust house umuslim Jumat (17/8) malam, kehadiran mahasiswa NGU  merupakan angkatan ketiga, setelah angkatan sebelumnya sudah menyelesaikan studi baik di NGU Jepang maupun di Umuslim.

    Sedangkan yang baru datang sebanyak 16 orang nantinya setelah mengikuti kursus intensif bahasa dan budaya Indonesia dan aceh selama dua minggu, sebagian  mereka  kembali ke Jepang, sisanyai akan menetap untuk kuliah di Umuslim selama satu tahun, papar Dr.H.Amiruddin Idris, SE,MSi.

    "Umuslim juga akan mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti pertukaran dan kuliah di NGU Jepang" jelas H.Amiruddin Idris 

    Pada kesempatan tersebut Rektor menyampaikan “Memuliakan tamu adalah bagian dari adat serta budaya Aceh yang sudah ada dari dahulu, kami menganggap tamu sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Almuslim, dengan pengertian segala keluhan, kesulitan dan permasalahan lainnya harus dapat kita sebagai orang tuanya di sini  menyelesaikannya," ujar Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si

    Amiruddin Idris berharap kepada seluruh civitas akademika untuk dapat membina dan membimbing mereka seperti mahasiswa sendiri, sehingga mereka dapat menempuh pendidikan di Umuslim dengan aman dan nyaman.

    “Mereka hadir ke Umuslim untuk menempuh pendidikan dan kita harus mengganggap mereka sebagai anak dan saudara kita. Mari kita beri bimbingan dan saling menjaga tata krama, meskipun mereka berasal dari negara yang mayoritas bukan muslim, akan tetapi mereka sangat menjaga tatakrama sesama,” ujar  Dr.H.Amiruddin Idris, SE,MSi.

    Kemudian pada Sabtu (17/8/2019) mereka  mengikuti Upacara HUT RI ke-74 di Stadion Cot Gapu, Bireuen, seterusnya didampingi Drs Nurdin Abdurrahman, Direktur Hubungan Internasional dan Wakil rektor II Dra.Zahara,MPd menuju Meuligoe Bireuen dijamu makan siang bersama Forkopimda Bireuen. 

    Adapun nama mereka adalah Kishi Airi, Tajiri Mei, Sasaki Masaki Miyuki, Ebuchi Naho, Ohba Aimi, Kato Chika, Chisaki Haruna Matsushima Mayu, Horie Mio, Aono Tatsuya, Takahera Koga, Muraki Kosuke, Muramatsu Yuki,  Morooka Daiki, Suzuki Ryoma, Ando Kazuma, Saeki Natsuko (dosen).(HUMAS)

     

  • Alumni dan mahasiswa Agroteknologi Temu ramah

     

    Sejumlah alumni dan mahasiswa Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan berbaur dalam satu agenda silaturahmi dan temu ramah dilaksanakan di pantai Wisata laut Jangka Kabupaten Bireuen, Minggu (27/10).

    Acara bertemakan “ Merangkai Kebersamaan, mempererat kekeluargaan mahasiswa,alumni dalam satu keluarga besara prodi Agroteknolgi universitas almuslim,” berlangsung meriah dan penuh persahabatan.

    Menurut Ketua prodi Agroteknologi universitas almuslim Marlina, SP, MP, tujuan digelarnya kegiatan ini untuk memperkuat silaturahmi antara dosen, mahasiswa dan alumni agar tercipta keluarga besar Prodi Agroteknologi FP Umuslim semakin kokoh dan jaya serta memperluas jejaring dan menjaga hubungan baik bersama alumni.

    Acara dirangkaikan dengan temu ramah dan berbagai permainan game yang melibatkan mahasiswa dan alumni dan diakhiri makan siang bersama, jelas Marlina,Sp.,MP.(HUMAS)

     

  • Amazing Istanbul

    KHAIRUL HASNI,Dosen Prodi Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang menempuh program doktor (S3) bidang HI di Ritsumeikan University Kyoto Japan, melaporkan dari Istanbul, Turki.

     

    Datang ke Turki, negeri yang penuh sejarah ini, merupakan pengalaman pertama bagi saya. Tujuan saya ke sini dalam rangka mengikuti International Conference on Islam and Islamic Studies, kegiatan yang difasilitasi oleh World Academy of Science, Engineering and Technology Turkiye. Ikut konferensi internasional merupakan salah satu syarat bagi kami untuk menyelesaikan program doktoral (S3).

    Seusai konferensi, saya berkesempatan melihat suasana Kota Istanbul yang relatif sibuk dengan berbagai bisnis dan dipenuhi turis mancanegara. Yang paling banyak dikunjungi adalah Istanbul, provinsi yang terletak di Turki barat laut. Tepatnya di wilayah Marmara. Luasnya 5.343 kilometer persegi dan jumlah penduduknya 81.916.871 jiwa (data 2018, worldomater).

    Istanbul kaya akan sejarah, mulai dari kebangkitan kekaisaran Yunani dan pendirian Byzantium hingga perubahan budaya dari Yunani ke Romawi dan pembentukan Konstantinopel (bahasa Turki: Kostantiniyye atau stanbul) hingga abad ke-20.

    Sekitar 470 tahun lalu Istanbul merupakan ibu kota Turki. Saat ini tidak lagi, tetapi kota ini tetap menjadi pelabuhan utama dan pusat komersial yang paling penting di Turki.

    Ibu kota Turki saat ini adalah Ankara, kota terbesar kedua di Turki. Negara ini terdiri atas 81 provinsi. Masing-masing memiliki gubernur yang ditunjuk oleh presiden dan dewan terpilih. Mayoritas penduduk Turki menganut Islam dengan persentase mencapai 99,8% dari total penduduknya. Muslim di Turki pengikut paham Sunni. Yang ikut Syi’ah kecil jumlahnya.

    Selain berwisata, saya juga belajar mengenai sejarah Turki yang menarik. Banyak desain bangunan lama yang bernilai history telah dijadikan tempat wisata dan dipelihara dengan baik. Saat mempelajari sejarah Turki, saya juga ingin tahu sosok Edorgan di mata masyarakatnya.

    Bahasa yang digunakan masyarakat Turki adalah bahasa Turki, Arab, dan Inggris. Kebanyakan dari mereka lebih mahir berbahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris.

    Perjalanan ke Istanbul tidaklah terlalu rumit, karena visanya bisa diurus secara online. Fasilitas hotelnya sangat banyak yang juga mudah didapat secara online. Menurut data Kementerian Pariwisata Turki, 32,4 juta wisatawan asing berkunjung ke Turki sepanjang 2017, Jerman 3,5 juta wisatawan, disusul Iran dengan 2,5 juta wisatawan.

    Saya juga beberapa kali bertemu pengungsi Suriah yang meminta bantuan untuk beberapa kebutuhannya. Pemerintah Turki telah membantu 3.272.150 pengungsi Suriah yang ditempatkan pada perumahan di hampir setiap kota di Turki , terutama di wilayah perbatasan. Menurut orang yang saya ajak berbincang-bincang, Turki telah memberikan pelayanan umum kepada pengungsi Suriah mencakup bantuan pendidikan, kesehatan, keamanan, dan juga biaya hidup.

    Kunjungan lainnya yang menarik bagi saya adalah melihat masjid-masjid yang dibangun dengan indah menakjubkan. Ada tujuh masjid terindah serta bersejarah di Turki, yaitu Masjid Hagia Shopia, Masjid Bayazid II, Masjid Sulaiman, Masjid Biru (Blue Mosque), Masjid Yeni Valide Camii, Masjid Ortakoy Camii, Masjid Dolmabahce, dan ada 82.693 masjid lainnya di Turki.

    Saya berkunjung ke Masjid Sultan Ahmed yang dipadati turis asing. Masjid Sultan Ahmed juga dikenal sebagai Blue Mosque (Turki: Sultan Ahmet Camii). Blue Mosque adalah masjid bersejarah di Istanbul. Masjid ini terus berfungsi sebagai masjid. Rasanya tak pernah berhenti orang berkunjung ke sini. Blue Mosque dibangun antara tahun 1609-1616 selama pemerintahan Sultan Ahmed. Ubin biru yang dilukis dengan tangan menghiasi dinding interior masjid dan pada malam hari masjid dipenuhi warna biru sebagai lampu membingkai lima kubah utama masjid, enam menara, dan delapan kubah sekunder.

    Blue Mosque adalah salah satu tempat bersejarah paling ikonik di Istanbul dan merupakan bagian penting dari cakrawala kota dengan enam menara yang megah. Di sisi atas terdapat rantai besar dan area atas terdiri dari 20.000 ubin keramik yang masing-masing memiliki 60 desain tulip. Di bagian bawah terdapat 200 kaca patri. Pada tingkat yang lebih rendah dan di setiap dermaga, bagian dalam masjid dilapisi lebih dari 20.000 ubin keramik buatan tangan znik, dibuat di znik (Nicaea kuno) di lebih dari 50 desain tulip yang berbeda-beda. Ubin di tingkat yang lebih rendah adalah desain tradisional, di tingkat galeri desain mereka menjadi flamboyan dengan representasi bunga, buah, dan cypress. Sebagian besar pengunjung berasal dari negara Islam, sedangkan yang nonmuslim diberikan hijab/kerudung untuk penutup kepala bila memasuki area masjid.

    Bagi saya, tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan semua kehebatan itu, kecuali Amazing Istanbul!

    Sisi lain yang menarik untuk dipelajari dalam perspektif politik dan pembangunan adalah Turki saat ini banyak berubah dan pembangunanya begitu cepat. Pada tahun 1924, Presiden Turki pertama Mustafa Kemal Ataturk menempatkan serangkaian reformasi politik, sosial, dan budaya yang pada akhirnya akan mengubah Kekaisaran Ottoman sebelumnya menjadi negara sekuler. Namun, lebih dari 90 tahun berlalu Turki tak sepenuhnya sekuler. Masih ada beberapa pengaruh agama. Pemerintahan Turki diatur dalam konstitusi yang disahkan tahun 1982. Konstitusi ini memberi bentuk pemerintahan parlementer yang terdiri atas presiden, perdana menteri, dan legislatif, Majelis Nasional Agung, dan legislator dipilih rakyat untuk masa jabatan lima tahun.

    Saat ini Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, telah menjabat dua periode, karena terpilih lagi pada Pemilu 2018. Karier Erdogan sebelum menjabat Presiden Turki dimulai dari Perdana Menteri dari 2003 hingga 2014, dan sebagai Wali Kota Istanbul dari 1994 hingga 1998. Pada tahun 2001 Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan terpilih sebagai Presiden pada tahun 2014. Presiden Erdogan berasal dari politik islamis dan demokrat konservatif, serta mempromosikan kebijakan ekonomi sosial konservatif dan liberal dalam pemerintahannya. Di masanya, pembangunan ekonomi dan infrasturktur yang berkembang di Turki sangat singnifikan perubahannya. Pertumbuhan tahunan rata-rata dalam PDB per kapita adalah 3,6%. Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) riil antara 2002 dan 2012 lebih tinggi daripada skor dari negara-negara maju. Sehingga, timbul sebutan nama “Turki baru” di bawah kekuasaan Presiden Erdogan telah berhasil meningkatkan ekonomi yang besar. Dari awalnya ranking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10% per tahun. Di masa pemerintahan Erdogan pula Turki telah masuk ke dalam 20 negara besar terkuat di dunia (G-20).

    Setelah memenangkan masa jabatan keduanya sebagai presiden pada bulan Juni, Presiden Erdogan mengokohkan penciptaan rezim politik baru. Erdogan juga telah menggunakan keadaan darurat dua tahun terakhir, sehingga membuat kewalahan masyarakat dalam mengikuti berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang dilakukannya, karena banyak kebijakan yang sewaktu-waktu berubah. Namun, rakyatnya tetap mengikuti kebijakan itu dan ikut aktif menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemerintahan otoriter yang mereka rasakan saat ini.

     

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 20/12/2018/ dengan judul : Amazing-istanbul 

  • Asyiknya Malam Pertama di Amor

    Oleh : ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim Peusangan

    Reportase ini berisi pengalaman saya saat menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) pada program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, di Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah.

    Saat jadi DPL sekaligus pendamping rombongan saya berangkat bersama mahasiswa ke lokasi pengabdian. Seusai acara pelepasan di Kantor Bupati Bener Meriah, kami naik bus Cenderawasih ke kecamatan yang dituju. Setelah mendapat aba-aba dari Kepala Bapel KKM Umuslim, Drs Syarkawi MEd, bus yang penuh penumpang itu bergerak meninggalkan Kantor Bupati Bener Meriah menuju Kecamatan Mesidah.

    Sesampai di Simpang Tiga Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah, kami berhenti untuk makan siang dan shalat Zuhur. Sebelum berangkat, Camat Mesidah berpesan agar semua penumpang makan siang terlebih dahulu, karena di daerah Mesidah tak ada warung. Maklum, wilayahnya masih terisolir dan terpencil jauh ke pelosok gunung.

    Lokasi saya DPL ini berada di Kecamatan Mesidah, salah satu kecamatan baru di Bener Meriah. Ibu kotanya Wer Tingkem. Kecamatan ini hasil pemekaran dari Kecamatan Syiah Utama. Luasnya lebih kurang 286,80 km2. Mata pencaharian penduduknya berkebun kopi dan sayuran-sayuran. Kawasan ini termasuk salah satu kecamatan yang masih tertinggal.

    Setelah makan siang dan istirahat di warkop Simpang Tiga Redelong, kami lanjutkan perjalanan ke Mesidah melewati Pondok Baru. Kondisi jalannya masih mulus. Setelah melewati Pondok Baru tampak aspal di beberapa titik keriting dan terkelupas. Selama lebih kurang 35 menit dari Pondok Baru, hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Angin yang sejuk dari AC alam menusuk masuk melalui jendela bus yang mulai keropos. Para mahasiswa yang mengenakan jaket almamater mulai merasa kedinginan.

    Dari Pondok Baru ke Mesidah hanya ada satu akses jalan. Kanan kirinya dibatasi tebing dan hamparan kebun kopi. Rombongan kami harus melewati titi yang diberi nama Titi Kanis. Mirip jembatan bailey yang dibangun TNI. Jalannya menurun dan sangat curam. Semua penumpang disuruh turun sopir dari bus. Kami berjalan kaki sekitar 15 menit sampai melewati Titi Kanis.

    Lokasi titi ini sangat angker, jauh dari perkampungan penduduk, apalagi kalau hujan, jalannya licin. Selain sepi, kawasan ini juga sering berkabut. Suara gesekan pohon bambu yang tumbuh lebat di sepanjang alur titi menambah kesan angker. Untung kami tak lewat malam hari di titi ini.

    Memasuki wilayah Mesidah memang sangat kontras bedanya dengan wilayah pesisir Aceh yang hingga tengah malam pun warung kopi atau kafe masih buka. D sepanjang jalan menuju Mesidah ini yang ada hanyalah hamparan rimbunya tanaman kopi diselinggi pohon lamtoro gung, labu jepang, dan alpukat. Lebih kurang satu jam perjalanan, sampailah kami di Kantor Camat Mesidah. Kami sudah ditunggu masing-masing reje (kepala kampung). 

    Raut wajah penumpang bus yang tadinya ceria kini berubah lesu tanda kecapaian. Setelah acara perkenalan dengan para reje, mahasiswa pun dibawa ke lokasi penempatan masing-masing oleh sang reje.

    Tibalah giliran kelompok mahasiswa yang ditempatkan di Amor. Kampung ini berada di Kemukiman Tungkuh Tige, terdiri atas tiga dusun: Jeroh Miko, Musara Ate, dan Simpang Tulu. Kampung ini bertetangga dengan Cemparan Lama, Cemparan Jaya, Buntul Gayo, dan Gunung Sayang. Luasnya lebih kurang 11,32 km2.

    Mahasiswa KKM yang ditempatkan di Amor berjumlah sepuluh orang(tiga cowok, tujuh cewek). Sebagai DPL saya mengantar mereka sampai ke lokasi. Dari kantor camat saya naik minibus L300 pikap 4 gerdang yang telah disiapkan reje. Perjalanan ke Kampung Amor teryata lebih gawat lagi. Jalannya masih beralas tanah dan berlubang. Aspalnya keriting dan banyak yang terkelupas. Topografinya mendaki, menurun, dan banyak sekali jurang di sepanjang perjalanan.

    Sesampai di lokasi penempatan, yakni di kantor reje, hujan rintik-rintik. Langit pun mulai ditutupi kabut putih. Jarum jam menunjukan pukul 18.00 WIB lewat. Suara petir menggelegar. Sesekali angin bertiup kencang. Udara dingin mulai menusuk setiap relung tubuh, sehingga sore itu pun giliran mandi sore terlewatkan begitu saja. Dan, karena situasi semakin gelap akhirnya saya putuskan untuk bermalam di Amor. Tak mungkin lagi saya kembali ke Bireuen.

    Bakda shalat Isya, kami tak langsung tidur, melainkan duduk berbincang bersama Pak Reje, Ibu Reje, dan beberapa tokoh masyarakat. Sambil kami memperkenalkan diri satu per satu, reje dan warga setempat menjamu kami dengan kopi panas, gorengan, dan bakong ijo (tembakau khas Amor) persembahan warga. Beberapa warga bahkan memimjamkan kami peralatan masak dan alas tidur. Semua ini makin menambah kehangatan persaudaraan pada pertemuan pertama kami di Amor, nama yang diadopsi dari nama Dewa Asmara dalam mitologi Yunani.

    Perasaan capek sejak siang kini berubah menjadi kehangatan karena kami disambut penuh kekeluargaan di malam yang dingin ini. Tanpa terasa perbincangan pada malam pertama di Amor memakan waktu hampir tiga jam. Perbincangan yang mengasyikkan dan menghanyutkan. Jarum jam terus berjalan, embusan angin dingin tak kunjung berhenti. Persahabatan yang baru terjalin pun terus mengeluarkan aroma harum, seharum wanginya aroma seduhan kopi Gayo. Malam pun semakin larut, hawa dingin terus merangsek ke setiap kain yang membalut tubuh kami.

    Malam pertama di Amor menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mahasiswa yang ditempatkan di kampung ini. Ada anggota kelompok mahasiswa yang tak bisa memejamkan mata malam itu karena tidak terbiasa dengan dinginnya malam hari, meskipun balutan selimut dan jaket begitu tebal menutupi seluruh tubuh. Dinginnya udara Amor malam itu membuat tubuh terasa membeku.

    Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 24.00 lewat, akhirnya Pak Reje dan beberapa warga pamit pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kami juga beristirahat dan bergegas untuk bobok, tanpa menghiraukan segala aksesori yang ada pada pakaian dan tubuh. Masing-masing kami merebahkan badan di atas tikar dan ambal yang diberikan reje. Lokasi tidurnya pun sudah dikapling-kapling. Mahasiswi tidur di dalam ruang kantor yang telah disulap jadi kamar bercorak minimalis alami, sedangkan mahasiswa tidur di balai depan kantor yang menjadi istana sementara bagi peserta KKM Umuslim.

    Alas tidur hanya lembaran tikar dan ambal, sedangkan bantal disulap dari gumpalan kain dan tas yang dibentuk menyerupai bantal. Semua perlengkapan tersebut seakan-akan pelaminan kasab emas yang dipakai saat prosesi pesta adat perkawinan untuk dipersembahkan kepada seorang permaisuri. Beralaskan tikar dan ambal sederhana sebagai pengganti springbed, tanpa terasa proses perjalanan bobok malam pertama ditemani embusan angin malam puncak Amor begitu kencang, sempat mengkhawatirkan ternganggunya perjalanan tidur kami. Kondisi itu ternyata bukan hambatan, buktinya semua kami akhirnya tertidur di puncak Amor.

    Subuhnya cuaca terasa semakin dingin. Kokok ayam dan gonggongan anjing di pagi itu tidak terdengar. Saat satu per satu kami bangun untuk shalat Subuh, badan rasannya sangat berat bangkit dari tempat tidur. Suhu dingin bagai memenjara kami di tempat tidur. Tapi saya pikir, ini pasti ulah iblis yang menggoda kami agar lalai dari kewajiban shalat Subuh.

    Akhirnya, dengan “tendangan 12 pas” saya bangkit mengalahkan godaan iblis dan langsung bergerak ke kamar mandi untuk berwudhuk. Saat semuanya bangun dari tempat tidur saya perhatikan hampir semua mahasiswa mengenakan dua lapis jaket, seperti gaya orang hendak ke kebun. Di leher mereka terlilit kain sarung, bagaikan syal.

    Setelah shalat Subuh dan sarapan pagi, saya akhirnya pamit untuk kembali ke Bireuen. Saya tinggalkan para mahasiswa Umuslim untuk melaksanakan KKM selama 29 hari ke depan di Kampung Amor dan sekitarnya. Saya bayangkan, bukan tantangan kerja nyata di siang hari yang berat bagi mereka, tapi justru sergapan hawa dingin di malam hari yang justru lebih berat.

    Semoga semua mahasiswa kami mampu bertahan di Amor, desa dengan perlambang cinta yang membara, tapi dilingkupi udara yang demikian dinginnya. Nah, Anda ingin menikmati dinginnya cuaca di gunung yang perawan dan suasana pagi dengan mulut berasap? Silakan datang ke Amor.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 22/04/2019 di Rubrik Jurnalisme Warga dengan judul Asyiknya-malam-pertama-di-Amor.

     

  • Asyiknya Menari ‘Likok Pulo’ di Solo

     

     

    OLEH NATSUKO MIZUTANI, mahasiswi asal Jepang, peserta program Darmasiswa di UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Solo, Jawa Tengah

    SAYA sedang berada di Solo, Jawa Tengah. Hadir ke sini dari Banda Aceh dalam rangka acara penutupan Program Darmasiswa Tahun Akademik 2018/2019 yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI)Solo. Peserta kegiatan ini mahasiswa dari seluruh dunia yang sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas seluruh Indonesia selama sepuluh bulan.

    Program Darmasiswa adalah program tahunan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas di Indonesia.

    Saya ikut Darmasiswa karena beberapa alasan. Pertama, ingin belajar bahasa Indonesia. Sebelumnya saya sudah belajar bahasa Indonesia dua tahun enam bulan di Jepang, dan setahun lagi saya belajar di Aceh saat ikut pertukaran pelajar kerja sama Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Bireuen.

    Pada akhir program Darmasiswa, peserta disuruh tampilkan berbagai budaya daerah Indonesia. Kami yang mengikuti program ini di UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menampilkan tarian Aceh, likok pulo. Tarian tradisional Aceh ini kami tampilkan di hadapan perwakilan dari negara lain, peserta program Darmasiswa se-Indonesia, juga pejabat lainnya.

    Tim tarian kami hanya empat orang, saya Natsuko Mizutani asal Jepang bersama Toyly Ashyev dari Turkmenistan (Asia Tengah) yang belajar di UIN Ar-Raniry, sedangkan Alagie Salieu Nankeyasal dari Gambia dan Nooreena Makeji asal Thailand belajar di Unsyiah. Walau hanya empat orang, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menarikan likok pulo.

    Sebelum pementasan di Solo, kami berlatih tarian ini sejak Maret 2019. Latihan seminggu dua kali, dipandu seorang guru dari Prodi Sendratasik FKIP Unsyiah. Saking senangnya, pada bulan puasa lalu pun kami tetap latihan.

    Saat tampil berbusana Aceh, saya memakai pakaian yang cukup sopan, pakai hijab, dibalut pakaian Aceh bersulam benang emas. Yang laki-lakinya memakai kopiah dan selipkan rencong di pingang. Gagah sekali mereka.

    Saya sangat tertarik dan senang bisa belajar likok pulo, tarian Aceh yang sangat khas. Gerakannya unik sekali. Untuk memainkan tarian ini kita harus benar-benar fokus dan kuat fisik karena gerakannya tak boleh berhenti sebelum ada aba-aba dari syeh. Gerakannya cepat dan payah, apalagi saya dan teman masih agak kaku, tetapi saya sangat senang. Para penari duduk berlutut dengan sopan, berbanjar dengan sandaran bahu sejajar, gerakannya dimulai pelan, lama-lama begitu cepat, dan serentak.

    Likok pulo ini banyak sekali gerakannya. Semua badan harus bergerak, seperti geleng kepala, tangan, badan, ada yang gerak ke atas, ke samping, juga seperti gerakan senam ke atas kepala

    Bagi saya, bagian tersusah dari tarian ini adalah pada syairnya, karena harus diucapkan dalam bahasa Aceh. Sangat sulit lidah kami mengucapkan syair sesuai yang telah kami tulis di kertas.

    Saat syair dimulai, rasanya semangat untuk bergerak langsung timbul, bersemangat melakukan berbagai gerakan, awal-awal lambat kemudian tiba-tiba cepat, dinamis, dan bersemangat sekali. Sangat asyik menarikannya. Saya tak bisa melupakan tarian ini.

    Saat kami persembahkan tarian itu pada acara perpisahan di Solo, semua yang hadir bertepuk tangan. Penonton sangat senang dan suka tarian yang kami tampilkan. Pokoknya, saya asyik sekali menarikan tarian ini. Sangat berkesan. Tarian ini benar-benar tidak saya jumpai di negara lain.

    Walau permainan dan gerakan kami masih janggal dan banyak salah-salah, kami harapkan orang Aceh maklum, karena kami latihan hanya beberapa minggu saja. Semoga satu waktu nanti saya dan kawan-kawan bisa belajar lebih mahir lagi dalam menarikan likok pulo.

    Di Solo kami berjumpa kawan-kawan seluruh dunia. Meski kami belajar bahasa di universitas yang berbeda di Indonesia, tapi dengan adanya acara tersebut kami bisa mengenal satu sama lain.

    Begitu juga dengan teman satu grup yang dari Aceh, walau belajar di fakultas berbeda, ada dari UIN-Ar Raniry dan Unsyiah, tetapi saat tampil membawa tarian kami kompak dan akrab, karena kami belajar dan latihan tarian secara bersama.

    Sebelumnya, saat ikut kuliah di Umuslim Bireuen saya juga pernah belajar tarian saman (ratoh jaroe) dengan teman-teman di sanggar Umuslim. Tariannya juga sangat membutuhkan gerakan cepat, tapi mengasyikkan. Gerakan tarian ini harus seragam dan kompak, kalau tidak bakal bentrok gerakan sesama penari dan tariannya jadi tak bagus dipandang mata.

    Selain tertarik pada tariannya, saya juga tertarik pada Aceh. Sudah empat kali saya ke Aceh. Pertama, saya datang belajar di Umuslim Matangglumpang Dua. Saya tahu Indonesia cuma Aceh saja. Waktu penutupan program Darmasiswa kemarin, itulah pertama kali saya keSolo. Saya sudah hampir dua tahun tinggal di Aceh. Ke Solo rasanya agak aneh, karena saya baru tahu bahwa Solo juga bagian dari Indonesia. Saya pikir, Indonesia itu hanya Aceh dan budaya Aceh saja. Pengalaman ke Solo kemarin rasanya saya seperti jalan-jalan ke luar negeri. Hehehe.

    Bagi saya, itu sangat berharga dan menyenangkan karena saya semakin tahu tentang Indonesia, bertemu teman-teman berbagai negara, menampilkan tarian dan budaya dari daerah tempat mereka belajar selama di Indonesia.

    Dalam waktu bersamaan merasa senang sekaligus sedih, karena akan berpisah dengan teman-teman dan kami akan pulang ke negara masing-masing. Saya kembali ke Jepang pada 15 Juli 2019. Rasanya sangat berat bagi saya meninggalkan Aceh. Aceh sangat terkesan bagi hidup saya, sulit melupakannya. Saya ingin berlama-lama di sini, saya mau kembali lagi ke sini, tapi tak tahu kapan

    Aceh telah memberikan banyak ilmu dan kenangan bagi saya, banyak teman dan saudara saya di aceh. Arang aceh sangat baik dan ramah, semua senang dan sayang pada saya. Selama tinggal di Aceh saya dibantu oleh Kantor Pusat Layanan Internasional UIN Ar-Raniry dan Office International Affair (OIA) Unsyiah baik dari segi akademik maupun nonakademik. Begitu juga saat saya kuliah dua semester di Umuslim, saya dibantu Kantor Urusan Internasional Umuslim.

    Terima kasih semuanya dan terima kasih Serambi Indonesia yang telah memuat tulisan saya. Saya akan kembali ke Jepang, mungkin nanti akan saya coba tulis lagi pengalaman saat saya di Jepang.

    Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Kemendikbud RI, KBRI Tokyo, Osaka, Kantor Imigrasi Kelas I Banda Aceh, UIN Ar-Raniry, Unsyiah, dan Umuslim, dosen, ibu angkat, kawan-kawan, dan orang tua teman yang tidak bisa sebutkan satu per satu yang telah membantu dan menjadi teman baik dan orang tua angkat saya, serta mau mengajarkan berbagai hal dan ilmu kepada saya selama di Aceh.

    Agustus mendatang dua orang teman saya dari Nagoya Gakuin University Jepang akan kuliah di Universitas Almuslim Bireuen selama setahun dalam program pertukaran pelajar. Saya mohon mereka dibantu, agar kawan saya juga sukses belajar dan betah seperti saya di Aceh. Saya berharap kita dapat berjumpa kembali di lain waktu. Teurimong gaseh, arigatou

     

    Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com/2019/07/05/ dengam judul Asyiknya menari likok pulo di solo

     

     

  • Asyiknya menyesuri sungai Kahayan

    RAHMAD, S.Sos., M.AP., Dosen FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah

    Kampus tempat saya mengajar menugaskan saya ikut mendampingi mahasiswa Universitas Almuslim bersama rombongan mahasiswa Aceh lainnya ikut kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Palangka Raya. Nah, kota ini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, mulai dari presiden hingga rakyat biasa, karena termasuk salah satu calon lokasi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, jika jadi dipindah dari DKI Jakarta.

    Kami bersama rombongan mahasiswa dari Aceh tiba dengan selamat dan pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Tjilik Riwut sekitar pukul 09.15 WIT,

    Perjalanan panjang yang begitu melelahkan ini terasa mengasyikkan, dimulai dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh transit sebentar di Bandara Soekarno-Hatta, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bandara Tjilik Riwut di Kalimantan Tengah.

    Sesampai di Palangka Raya kami disambut oleh panitia yang sudah menunggu, selanjutnya kami diantar ke tempat penginapan yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

    Suasana perjalanan kami ke penginapan begitu semarak karena sepanjang jalan dihiasi berbagai spanduk dan umbul-umbul selamat datang. Begitu juga dengan keramahtamahan masyarakat dalam menyambut tamu yang datang. Mereka begitu hangat dan bersahabat.

    Walaupun lamanya perjalanan yang saya tempuh membuat tubuh ini terasa sangat lelah, tapi sesampai di kota ini rasa capek hilang seketika sehingga tidak membuat saya terus beristirahat di penginapan, melainkan terus mencari beberapa lokasi untuk cuci mata di seputaran Kota Palangka Raya.

     Salah satu objek yang saya prioritaskan untuk dikunjungi adalah sebuah sungai terkenal di kota ini, yakni Sungai Kahayan. Sungai ini dekat saja dari tempat saya menginap.

    Banyak informasi yang disampaikan warga di seputaran sungai ini dan sangat bermanfaat bagi saya. Setelah mendapat informasi tersebut saya pun langsung mencari perahu kecil (kelotok) yang selalu siaga bagi para wisatawan yang ingin menyusuri sungai sambil menikmati pemandangan lebatnya hutan di sepanjang aliran sungai tersebut.

    Alhasil, dengan menumpang perahu saya mengikuti perjalanan menyusuri Sungai Kahayan. Sepanjang perjalanan menyelusuri sungai yang membelah Kota Pelangka Raya tersebut, saya juga terkesima oleh pemandangan hutan yang begitu lebat dan hijau, juga dihiasi pemandangan rumah-rumah apung warga di sekitar sungai yang masih sangat sederhana dan sangat kental dimensi tradisionilnya. Jauh sekali berbeda dengan permukiman warga di kota besar.

    Suasana berbeda begitu terasa ketika saya naik perahu kelotok sambil mendengar cerita dan menikmati pemandangan. Kejar-kejaran perahu kelotok ditambah lebatnya hutan di sepanjang aliran Sungai Kahayan membuat wisata sungai ini sangat menarik.

    Sangat banyak perahu kelotok yang menyusuri aliran Sungai Kahayan yang airnya jernih. Sungai ini luasnya mencapai 81.48 kilometer persegi, panjang 600 kilometer, lebar 500 meter, dan kedalaman rata-rata 7 meter. Sungai yang membelah Kota Palangka Raya ini juga sering disebut dengan Sungai Biaju Besar atau Sungai Dayak Besar.

    Sungai Kahayan memiliki bentuk unik karena terlihat seperti teluk yang menjorok ke dalam. Alur sungainya sangat dalam, sedimentasi di mulut sungai menyebabkan pendangkalan di sekeliling sungai. Saat melakukan wisata susur Sungai Kahayan kita tak hanya bisa menikmati pemandangan alam yang indah. Wisatawan juga bisa melihat kehidupan suku Dayak yang mendiami sepanjang alur sungai ini dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi nenek moyangnya.

    Setelah menyusuri Sungai Kahayan hampir seharian, malamnya kami diterima secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Tengah di kediamannya. Dalam jamuan makan malam tersebut kepada kami dihidangkan kuliner khas Kalimantan Tengah. Salah satunya adalah wadi ikan patin.

    Dalam pidato pembukaan pak Gubernur mengatakan, apa pun alasan dan destinasi yang dituju selama di Palangka Raya akan lebih lengkap jika kita mencicipi kuliner khas Palangka Raya yang terkenal dengan rasanya yang gurih, yaitu wadi patin. Saat saya cicipi, wadi ikan patin itu memang luar biasa cita rasanya. Gurih, asam, dan asin berpadu jadi satu.

    Wadi patin merupakan fermentasi ikan patin yang sering menjadi hidangan istimewa masyarakat Palangka Raya saat menyambut tamu luar yang datang ke kota tersebut.

    Meskipun ada rasa asam dan asinnya, hidangan ini sangat khas dan segar. Apalagi dihidangkan dengan sambal serai dan dimasak dengan cara digoreng atau dikukus (steam).

    Palangka Raya adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah yang luasnya 2.400 km2 dan berpenduduk 258.156 jiwa. Palangka Raya merupakan sebuah kota yang indah dengan beragamnya budaya serta keindahan alamnya.

    Sungai Kahayan yang mengalir membelah kota tersebut memberikan suatu pemandagan khas daerah tropis, dengan keberadaan sungai yang telah memberi warna Kota Palangka Raya telah dimanfaatkan sebagai destinasi wisata air dan telah memberikan dampak dalam peningkatan dan menggeliatkan roda perekonomian dan kegiatan sosial kemasyarakatan di tengah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

    Sektor wisata di Palangka Raya saat ini memang sedang berbenah dan mereka bersiap menjadi salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

    Di sisi lain, sebutan Palangka Raya sebagai kota ratusan sungai membuat saya bertanya-tanya ada apa dengan kota tersebut. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Tjilik Riwut, saya merasakan ada hal yang beda, karena hampir semua daerah mereka menggunakan transportasi air, semisal kelotok.

    Jika kita datang ke Jakarta maka kita akan melihat kemacetan di mana-mana. Namun suasana itu tidak ditemukan di Kota Palangka Raya. Jalanannya lengang dan bebas macet.

     Sebenarnya wacana Palangka Raya sebagai ibu kota negara bukanlah hal yang baru. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada tahun 1957, bahkan sudah mempersiapakan perencanaan yang matang saat itu Palangka Raya sabagai ibu kota negara. Hal tersebut dibuktikan dengan tugu yang letaknya dekat dengan jembatan Kahayan.

     Dalam buku berjudul Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangka Raya karya Wijanarka disebutkan, dua kali Bung Karno mengunjungi Palangka Raya, Kalimantan Tengah, untuk melihat langsung potensi kota itu menjadi pusat pemerintahan Indonesia.

    Ada berbagai alasan munculnya wacana pemindahan pusat pemerintahan oleh Presiden Joko Widodo, bahkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah mewacanakannya.

    Ada beberapa alasan mereka memilih kota tersebut sebagai salah satu calon ibu kota RI. Pertama, wilayah Palangka Raya merupakan daerah yang berada di titik tengah wilayah Indonesia, kemudian daerah tersebut tidak memiliki gunung berapi yang aktif dan tidak bersentuhan dengan lautan lepas sehingga tidak rentan terhadap ancaman gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Kalimantan merupakan pulau besar yang paling aman di Indonesia, tidak seperti Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia yang rentan gempa setiap tahunnya.

    Kalimantan juga mempunyai luas wilayah hutan dan jumlah sungai yang banyak sehingga menjadikan Palangka Raya relatif aman dari terjangan banjir. Tetapi apa pun alasan yang telah dipublikasi tersebut, jadi tidaknya kota tersebut ditetapkan sebagai ibu kota negara mari kita tunggu hasil survei dan penetapan secara resmi oleh pemerintah.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.comtanggal 16/05/2016 dengan judul Asyiknya Menyusuri Sungai Kahayan.

     

  • Belajar penerapan Syariat Islam di Negara Qatar

    OLEH KHAIRUL HASNI, Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim  (Umuslim) Peusangan, Bireuen, sedang menempuh program doktor Hubungan Internasional di Ritsumeikan University Kyoto Japan, melaporkan dari Qatar

    QATAR merupakan negara penghasil minyak dengan pendapatan per kapita tertinggi. Ditopang oleh cadangan gas alam dan minyak yang terbesar ketiga di dunia. Negara ini tidak mengenakan pajak penghasilan terhadap warganya. Tingkat pajaknya pun terendah di dunia. Dengan jumlah penduduk 2,27 juta, Qatar menduduki peringkat salah satu negara terkaya di dunia.

    Kehadiran saya ke negara Qatar  pertama untuk mempelajari berbagai hal tentang pelaksanaan syariat islam di negeri kaya minyak, kedua saya gunakan untuk bertemu beberapa keluarga dan sahabat yang sedang bekerja dan study di negeri tersebut.

    Saat pertama sekali tiba di Qatar, saya saksikan banyak orang asing (ekspatriat) yang melayani orang asing di airport maupun di pusat layanan transportasi. Hampir semua yang bekerja adalah orang asing. Jumlah pekerja asing sekitar 88% dari penduduk Qatar dan orang India merupakan komunitas terbesar di sini, disusul Nepal, Bangladesh, Filipina, Mesir, Sri Lanka, Pakistan, dan Indonesia.

    Negara ini sangat mengandalkan tenaga asing untuk pertumbuhan ekonominya. Pekerja migran mencapai 86% dari total penduduk dan mencapai 94% dari total angkatan kerja.

    Di Qatar, 90% orang dapat dan mengerti bahasa Inggris. Jadi, Anda tidak perlu cemas jika tak bisa berbahasa Arab di sini, karena sebagian besar mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

    Walaupun orang asing mempunyai peran penting dalam pengembangan ekonomi di Qatar, tapi banyak masalah juga dengan pekerja migran, yaitu pemotongan gaji, pembatasan gerak, penahanan sewenang-wenang, dan pelecehan fisik, mental, dan seksual. Itu karena, di Qatar belum ada aturan khusus yang mengatur tentang ini.

    Di sisi lain, perempuan Qatar cenderung memilih pekerjaan di pemerintahan, khususnya di kementerian pendidikan, kesehatan, dan urusan sosial. Posisi tingkat tinggi dipegang terutama oleh laki-laki. Tapi kehadiran tenaga kerja asing telah menempatkan lebih banyak perempuan di ranah publik. Selain itu perempuan asing sebagian besar dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, guru, perawat, dan pekerja administrasi.

    Berkunjung ke Qatar kali ini membuat saya juga berkesempatan untuk belajar tentang pelaksanaan syariat Islam. Qatar merupakan negara yang mayoritas penduduknya (76%) muslim. Hukum syariah diterapkan pada hukum yang berkaitan dengan hukum keluarga, warisan, dan beberapa tindakan kriminal (termasuk perzinahan, perampokan, dan pembunuhan).

    Sangat menarik melihat implementasi syariat Islam di negara ini. Qatar menganut sistem hukum campuran antara hukum sipil dan hukum syariat. Jika terdakwa seorang muslim maka hanya pengadilan syariahlah yang memiliki yurisdiksi atas kejahatannya.

    Selain itu, beberapa poin sempat saya catat selama di Qatar. Pertama, dalam perspektif perbankan, Pemerintah Qatar telah menjadi pemain terkemuka di sektor perbankan Islam sejak awal 1980-an, ketika bank pertamanya yang berbasis syariah dibuka untuk bisnis.

    Kedua, dalam pelaksanaan syariat Islam tahun 2014, Qatar meluncurkan kampanye kesopanan untuk mengingatkan wisatawan tentang kode busana sederhana di publik. Saya melihat orang asing yang bekerja di swalayan tidak diharuskan untuk berbusana muslim. Yang penting, mereka mengenakan pakaian yang sopan sesuai aturan yang telah ditetapkan.

    Ketiga, negara ini membuka space bagi nonmuslim. Contohnya, minuman beralkohol yang legal diperjualbelikan di sebagian Qatar. Misalnya, beberapa hotel bintang lima diperbolehkan menjual alkohol kepada konsumen nonmuslim.

    Ada sejumlah peraturan yang mengatur konsumsi alkohol. Muslim tidak diizinkan mengonsumsi alkohol di Qatar. Apabila tertangkap mengonsumsi alkohol maka dapat dicambuk atau dideportasi. Namun, muslim yang dipidana karena alkohol bisa mendapatkan pengurangan hukuman beberapa bulan apabila dia mampu menghafal Alquran saat dipenjara.

    Suatu hal yang luar biasa, Qatari (sebutan untuk orang Qatar), khususnya yang kaya, mereka umumnya membangun masjid di samping rumah mereka. Siapa saja dapat datang untuk beribadah di situ. Boleh dikatakan negara ini adalah negara seribu masjid. Apalagi di sini, shalat jamaah wajib dilakukan di lingkungan masjid.

    Kehadiran pekerja asing juga ikut memengaruhi kehidupan masyarakat Qatari. Misalnya, makanan khas Qatar telah dipengaruhi oleh hubungan dekat ke Iran dan India. Wajar kalau makanan khas Qatar juga telah dipengaruhi oleh cita rasa kedua negara itu.

    Terus terang, ada perasaan yang sangat nyaman karena makanan yang tersedia itu adalah halal. Saya sangat terkesan dengan cita rasa makanan di Qatar, tapi sayang belum semuanya saya coba.

     

    Cerita ini pernah tayang dihttp://aceh.tribunnews.com pada tanggal 19/11/2018/ dengan judul : Menghafal-quran-hukuman-dikurangi

     

  • Bem Fikom gelar Family Gatharing

     

     

    Badan eksekutif mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) mengelar silaturahmi dan perpisahan dengan mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya, dalam satu acara Peusijuk mahasiswa fikom (PSMKOM), kegiatan dilaksanakan di pantai Rancong, Lhokseumawe, Minggu (19/10/2019).

    Menurut ketua panitia Anand Khunayfi, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa baru, senior dan alumni, acara PSMKOM bertujuan untuk ajang silaturahmi dan temu ramah seluruh mahasiswa fakultas ilmu komputer umuslim.

    Dekan fakultas ilmu komputer Taufik ST. MT dalam sambutannya mengatakan "acara ini untuk mengikat tali silaturahmi persaudaraan seluruh warga fikom dan menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa fikom".

    Kegiatan ini melibatkan Himpunan Mahasiswa Informatika (Himaif) dan Himpunan mahasiswa manajemen informatika, serta seluruh mahasiswa kedua prodi tersebut, selain pesijuk alumni, out bond mahasiswa juga melakukan   bakti sosial aksi bersih sampah di sekitar pantai rancong dan acara diakhiri dengan peusijuk  alumni dan makan siang bersama.(Humas) 

     

     

  • Catatan Gadis Yahudi yang Lahir di Banda Aceh

    OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

    SEBAGAI peneliti yang pernah bergelut dalam kajian Sejarah Yahudi di Indonesia, saya ingin mengisahkan cerita melalui satu catatan harian seorang anak Yahudi bernama Clara Bolchover Nisse yang lahir di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Ia bersama orang tuanya menetap di Desa Blower (sekarang Gampong Sukaramai), Banda Aceh. Pamannya, Adolf/Adolphe Bolchover adalah orang yang menghibahkan tanahnya untuk lokasi perkuburan Yahudi di Kerkoff. Catatan harian ini diberikan kepada saya oleh keluarga besar Bolchover di Inggris yang khusus datang ke Banda Aceh. Arsip ini saya simpan sebagai bagian dari draf buku yang sedang saya tulis tentang Sejarah Yahudi di Aceh.

    Catatan harian ini ditulis dalam bahasa Inggris. Dari catatan ini setidaknya memberikan gambaran tentang situasi Kota Banda Aceh di masa Hindia Belanda sebelum 1912. Catatan ini saya terjemahkan yang petikannya sebagai berikut:

    Pertama, izinkan saya (Clara Bolchover Nisse) memberi Anda gambaran di mana saya dilahirkan. Koetaradja berada di timur laut dari Pulau Sumatra dan diperintah oleh Belanda yang memiliki garnisun di kota dengan sejumlah fasilitas medis dan bisnis. Gubernur pulau itu tinggal di sana dan sejumlah pemilik kebun karet dan kelapa mempekerjakan orang Cina. Orang Melayu sebagian besar merawat tanah mereka yang kecil untuk menanam sereal atau tanaman biji-bijian dan sayuran dan suka memancing di sungai dan laut. Semua rumah dan bangunan berada di atas panggung sehingga air tak membanjiri mereka ketika musim hujan.

    Karena berada sedikit di arah utara khatulistiwa maka keadaan lingkungan terasa sangat panas dan lembab. Di Krueng Aceh banyak buaya, termasuk yang berukuran besar. Para wanita yang mencuci pakaian di pinggir sungai haruslah ekstrahati-hati. Banyak juga ular berukuran besar seperti boa pembelit (boa-constrictor), laba-laba, dan kalajengking yang menakutkan. Harimau berukuran besar berkembang biak di sana, tapi singa tak ada. Ayah saya datang ke Sumatra untuk bergabung dengan dua saudara lelakinya terkait dengan apa yang dikenal sebagai Skema Kolonisasi Belanda (mengikuti program naturalisasi). Ia datang dari Rumania dan tak mengikutsertakan ibu saya untuk bergabung dengannya sampai dia berhasil mencari nafkah dari hasil perkebunan kelapa, tidak termasuk usaha pengolahan limbah kelapa.

    Ibuku tak terlalu senang ketika datang ke Koetaradja. Dia merasa menderita karena sering terkena biang keringat dan tak pernah dalam kondisi sehat. Saya memiliki saudara kembar dan dua saudara laki-laki. Kami dilahirkan berselang tiga tahun. Ada “Ayah” (sebutan untuk orang yang menjaga kami) dan dia adalah orang-orang yang berhati lembut.

    Orang yang saya ingat sebagian besar adalah: 1) Juru masak kami, orang Cina yang biasa mengamuk setiap enam bulan sekali sambil berlarian, mengayun-ayunkan pisau dapur ukuran besar; 2) Sebuah keluarga Spanyol yang memelihara kuda yang mereka datangkan dari pulau terluar. Saya anak yang nakal dan memberanikan diri naik ke atas kuda tanpa seizin pemiliknya. Setelah naik di atasnya, kuda itu mengempaskan saya ke tumpukan sampah. Lengan dan lutut saya terluka; 3) Seorang pria besar bernama Kugelman, suaranya sangat keras yang membuat kami sedikit takut, tapi berhasil menghibur kami dengan memberi kami banyak permen dan hadiah.

    Tentu saja ada banyak kejadian yang masih kami ingat. Misalnya, ketika kami menemukan buaya dan ular air di beranda rumah setelah hujan deras dan angin kencang. Di musim hujan, kami pun berkeliling menggunakan perahu untuk mengunjungi teman dan tetangga kami.

    Ketika saya berusia lima tahun, ibu saya meninggal dan diputuskan bahwa kami harus pindah ke biara (Sekolah Jesuit) di Kota Penang, Malaya. Jaraknya sekitar 300 mil dari Koetaradja, melintasi laut, dan butuh waktu tiga hari dengan kapal untuk tiba di sana. Semuanya dalam kondisi bingung dan ketika kami turun dari kapal, kami dijemput dengan becak dan dibawa ke biara yang berada di ujung Quay St. Itu adalah bangunan ukuran besar dan ada 400 anak yang tinggal di sana. Kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak orang Eropa dan Cina yang memiliki orang tua yang mampu membayar. Ada sekitar 50 orang jumlah kami, sedangkan siswa laki-laki tinggal bersama para biarawan di biara terdekat.

    Kelompok kedua adalah golongan peranakan (berdarah campuran), sedangkan kelompok terbesar adalah anak-anak pribumi yang ditempatkan di gedung terpisah. Kami memiliki sedikit komunikasi dengan mereka. Mereka tidak dibenarkan berbicara dengan kami dan kalau ketahuan akan dihukum.

    Para biarawati cukup baik kepada kami, kecuali ada beberapa yang kurang ramah. Salah satunya yang mengajari kami bermain piano dan untuk setiap nada salah yang kami mainkan, ia mengetuk jari pada sendi kami dengan tongkat yang tajam. Namanya Sister Josephine dan kami membencinya. Kami menjulukinya “Sister Pin” karena dia sangat kurus dan memiliki dagu dan hidung yang panjang. Ada juga hukuman lain, dihukum dengan berlutut di lantai batu selama beberapa jam tanpa memalingkan kepala dari dinding. Ada pun sanksi lain yang tak begitu kami pedulikan adalah enam cambukan di setiap pipi dan tangan. Paling tidak, lebih dari itu, kami menunjukkan bekas luka kepada teman-teman kami.

    Kami semua mengenakan pakaian katun yang sama seperti baju tidur yang diikatkan di pergelangan kaki, tangan, dan leher. Dan ketika ke luar rumah, kami harus mengenakan topi jerami kerucut yang lebar seperti yang dikenakan para pekerja. Semua ini untuk mencegah sengatan matahari. Pada hari Minggu kami harus pergi ke gereja, karena itu kami memiliki gaun berenda putih dan topi yang cantik. Dan kami diizinkan bermain di halaman yang memiliki air pancur. Air pancur ini mengingatkan saya--setiap Jumat pagi dini hari--semua anak dari ketiga ordo harus antre. Kami semua mendekati sebuah meja di mana seorang biarawati menahan hidung kami dan yang lain menuangkan sesendok minyak kastor (minyak jarak). Ugh! Tapi kami semua berusaha menahan napas dan setelah itu berlari ke air pancur untuk meminum airnya. Bau minyaknya membuat kami mual.

    Halaman biara dalam keadaan tertutup dan berada di dekat pantai. Kami terkadang diizinkan main ke pantai, tapi jarang yang berani mandi di sana. Soalnya, masih begitu banyak hiu pemangsa manusia di perairan dan ada beberapa kejadian mengerikan yang dialami anak laki-laki yang berenang terlalu ke tengah.

    Ayah saya biasanya datang setiap tiga bulan sekali untuk menjenguk kami. Kami sangat senang ketika ayah mengunjungi kami karena kami bisa menginap bersamanya di Raffles Hotel yang memiliki taman-taman yang indah.

    Nah, demikianlah isi catatan Clara Bolchover Nisse (Nisse, nama suaminya). Ia meninggal 28 tahun lalu di Inggris, sedangkan ibunya Deborah Bolchover meninggal di Koetaradja tahun 1908 dan dikebumikan di Kerkoff. Demikian juga Adolf Bolchover yang meninggal tahun 1897 juga dikebumikan di Kerkoff.

    Keluarga besarnya menyampaikan terima kasih karena saya telah berhasil meyakinkan mereka untuk memugar kuburan keluarga Bolchover di Kerkoff. Mereka juga baru tahu bahwa nama Bolchover menjadi cikal bakal nama Gampong Blower (Belowor) di Banda Aceh. Mereka mengatakan jika suatu saat mengunjungi Inggris, silakan menghubungi dan menginap di rumah mereka. “Kamu punya rumah di sana. Rumah kami juga rumah kamu,” demikian kira-kira ungkapannya. Saya menyampaikan terima kasih atas perhatian mereka dan semoga suatu saat bisa bertemu dengan keluarga yang punya kenangan dengan Aceh ini

     

    Cerita ini sudah pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 28/05/2019/ dengan judul Catatan gadis yahudi yang lahir di Banda Aceh.

  • Cerita Unik di Bilik TPS

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen di Universitas Almuslim Peusangan.

    Tahun 2019 untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pemilihan presiden (pilpres) dan pemilu legislatif digabungkan pelaksanaannya secara serentak. Untuk pertama kalinya pula pemilih harus mencoblos lima surat suara ketika berada di bilik tempat pemungutan suara (TPS).

    Persaingan antarkandidat pun menjadi sangat ketat, khususnya di antara calon anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah (DPD) yang jumlahnya sangat banyak. Oleh karenanya, pesertapemilu harus aktif menyusun strategi dan trik untuk merangkul sebanyak-banyaknya pendukung, mulai dari pemilih pemula, mahasiswa, perempuan, bahkan manula.

    Suatu pemandangan yang tak pernah kita temui pada tahun sebelumnya adalah begitu banyaknya foto yang terpampang di sepanjang jalan raya, lorong, bahkan di jalan setapak, apalagi ruang terbuka, sehingga pajangan foto tersebut mampu mengalahkan iklan komersial lainnya.

    Foto peserta, baik pilpres maupun pileg, bertaburan layaknya iklan terbuka, mulai dari yang kecil, sedang, bahkan dalam bentuk baliho besar. Penuh warna-warni, ditambah lagi dengan lambaian bendera dan umbul-umbul partai dalam berbagai ukuran di sepanjang jalan yang kita lewati. Semua itu semakin menambah semaraknya pesta demokrasi tahun ini. Nah, pemandangan yang unik itu kini telah menjadi kenangan.

    Pagi itu, Rabu,17 April 2019, seperti biasa tugas saya pada hari libur adalah membersihkan rumah dan menyiram bunga di taman, sementara itu banyak orang kampung mulai dari remaja dan emak-emak melewati jalan di depan rumah kami. Saya lirik jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saya tanya seseorang, “Mau ke mana pagi-pagi sekali?” Dia sahut, “Mau cepat-cepat ke TPS, takut nanti terlambat dan masih banyak tugas di rumah yang belum selesai.” Ya, hari itu adalah puncak pesta demokrasi yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia.

    Tepat pukul 09.00 WIB saya dan suami melangkah ke lokasi pelaksanaan pemilu di halaman masjid desa tempat tinggal kami. Ada delapan TPS yang tersedia. Saya memilih di TPS 8 sesuai surat pemberitahuan pemungutan suara yang dibagikan sebelumnya.

    Sebelum masuk ke TPS, saya sempat melihat beraneka ragam tingkah polah pemilih yang akan memberikan suaranya. Ada yang berdiskusi, ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang berpakaian modis dan berdandan layaknya seperti orang yang hendak ke pesta. Ada juga pemilih yang pakai pakaian ke sawah karena sepulang coblos dia berniat langsung ke sawah.

    Pesta demokrasi tahun 2019 ini sungguh berbeda dari tahun sebelumnya. Selain untuk memenuhi hak pilih, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan masyarakat. Ada yang lima tahun lalu bertemu di TPS, baru saat ini bertemu kembali di tempat yang sama. Itu karena ada warga yang sudah beberapa lama pindah tempat tinggal, tapi saat pemilu mereka pulang kampung untuk memilih karena kartu keluarga (KK)-nya masih terdaftar di kampung asal.

    Antusiasme masyarakat bukan hanya dari kalangan yang telah memiliki hak memberikan suara, tetapi juga turut diramaikan oleh anak anak dan para pedagang yang menjajakan makanan ringan di lokasi pencoblosan. Bahkan terjadi perbincangan antara pedagang dan anak anak tentang siapa yang dipilih.

    Banyak cerita unik yang terjadi di luar TPS. Tapi yang paling seru justru di bilik TPS. Sambil menunggu giliran saya sempat mendengar dialog orang-orang yang ada di dekat bilik. Ada yang bertanya siapa yang kita pilih. Ada yang menunjuk langsung ke foto caleg, “Pilih yang ini!” Ada yang berdiskusi menyamakan pilihan. Ada pula nenek yang dipapah oleh keluarganya ke dalam bilik suara. Cucunya bertanya siapa yang akan dia pilih. “Terserah pilih siapa saja,” kata nenek tersebut. Akhirnya keluargalah yang mencoblos sesuai pilihan hatinya. Di dalam hati saya berkata, andaikan ada lagi orang seperti itu mungkin akan saya giring semua ke kandidat pilihan saya. Hehehe.

    Cerita berikutnya berasal dari TPS lain. Ada pemilih yang setelah masuk ke bilik TPS hanya tiga menit sudah selesai dan mengembalikan tiga kertas suara kepada petugas. Alasan dia yang disampaikan dalam bahasa Aceh cukup menarik. Intinya, di antara calon tidak ada yang dia kenal, kecuali calon presiden karena sering dia lihat di TV dan seorang calon anggota DPD yang kebetulan pernah dia tonton membintangi beberapa film komedi Aceh.

    Petugas tersenyum dan memberi arahan kepadanya untuk tetap memilih tiga calon lagi, tapi si pemilih tadi bersikukuh untuk tidak memberi suara kepada orang yang tidak dia kenal. Alhasil, dia hanya memilih calon presiden dan calon anggota DPD RI.

    Ada juga pemilih yang marah karena lebih dulu datang tapi lambat masuk bilik. Akhirnya, panitia dengan sigap memberlakukan sistem antrean dengan menyusun kursi. Siapa yang duduk paling dekat dengan bilik TPS dialah pemilih berikutnya yang berhak masuk bilik.

    Di TPS tempat saya memilih ada lima bilik yang disediakan panitia. Tiba giliran saya untuk masuk ke bilik 1 dan memberikan suara untuk kandidat yang saya sukai. Karena besarnya kartu suara, saya butuh waktu lama untuk membukanya. Sementara itu, di luar sebelum masuk bilik sempat saya dengar ada penawaran kandidat yang dijagokan akan membawa perubahan, tapi tetangga di samping saya tak mau memilih sosok yang dia tawarkan. “Aku punya pilihan sendiri,” katanya bernada lantang.

    Dengan semangat saya memasukkan surat suara ke masing-masing kotak, sambil berlalu dari TPS. Harapan saya di dalam hati semoga banyak pemilih yang memilih kandidat yang saya pilih.

    Dari hasil diskusi dengan beberapa ibu-ibu di luar TPS, mereka mengeluh karena kartu suara yang terlalu besar untuk calon legislatif dari 20 partai peserta pemilu. Butuh waktu lama untuk membuka dan membacanya. Juga sulit untuk mengenal calon yang akan dipilih karena hanya tertera namanya saja dengan kolom untuk mencoblos yang sangat kecil. Jadi, harus sangat hati-hati, apalagi paku pencoblosnya terlalu besar.

    Ke depan, diperlukan peran optimal KPU/KIP, mahasiswa, pelajar, masyarakat, partai, dan semua pihak untuk menyosialisasikan tata cara pencoblosan sehingga tak banyak lagi pemilih yang terbingung-bingung atau galau lama di bilik TPS.

    Perhelatan besar pesta demokrasi telah usai, mari kita tunggu pengumuman hasil rekapitulasi suara oleh KIP dan kemudian KPU sehingga jelas siapa yang akan memimpin Indonesia dan siapa pula yang menjadi wakil kita di DPR, DPD, maupun DPRA dan DPRK untuk lima tahun ke depan. Mari kita hentikan spekulasi atau prediksi-prediksi yang tak berdasarkan fakta. Ayo tangkal berbagai rumor dan hoaks yang dapat memecah belah persatuan dan memutus silaturahmi di antara kita. Siapa pun yang terpilih hendaknya mampu menjalankan mandat dari rakyat untuk mewujudkan Indonesia dan Aceh ke arah yang lebih baik, lebih sejahtera

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 24/04/2019/ dengan judul Cerita unik dibilik TPS.

     

  • Dana Desa Geliatkan Wisata Pantai Pangah

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

    Kecamatan Gandapura yang ibu kotanya Geurugok merupakan gerbang utama memasuki wilayah Kabupaten Bireuen dari arah timur. Geurugok salah satu kecamatan yang perkembangan kewirausahaannya lebih cepat dibandingkan beberapa kecamatan lainnya di Bireuen.

    Di sini terdapat wisata kuliner terkenal, “sate Apaleh” yang sudah masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2019. Selain itu, satu lagi yang mulai mengeliat adalah wisata pantai, lokasinya tak terlalu jauh dari Pasar Geurugok, tepatnya di Gampong Ie Rhob.

    Akhir pekan lalu, saya dan keluarga berlibur ke destinasi wisata tersebut, Pantai Pangah namanya. Saya tahu informasi lokasi wisata ini dari beberapa teman. Cerita mereka bikin saya penasaran sehingga walau tinggal puluhan kilometer dari lokasi, saya tetap berkunjung ke Pangah.

    Hanya butuh waktu beberapa menit dari Geurugok menuju Pantai Pangah. Saat itu kondisi cuaca panas menyengat, tapi saya dan keluarga tetap semangat menuju destinasi wisata baru di Kabapaten Bireuen ini. Ruas jalannya berbeton dan sedikit berliku, hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat. Jika berpapasan, maka salah satu kendaraan harus mengalah, karena bersisian dengan tambak warga.

    Tiba di gerbang Pantai Pangah, embusan angin laut sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami. Hawa panas tertepis seketika. Kami parkir kendaraan dengan pelayanan yang ramah dan baik, rasanya tak sebanding dengan harga tiket parkir yang tak seberapa. Keramahan di pantai ini langsung terasa di lini terdepan, yakni saat pengunjung memarkir kendaraan roda empat maupun roda dua karena juru parkirnya menyapa dan mengarahkan posisi parkir dengan ramah.

    Menggeliatnya Pantai Pangah sebagai destinasi baru wisata pantai di wilayah Bireuen tidak terlepas dari kucuran dana desa. Pantai ini dikelola masyarakat Desa Ie Rhob dengan memanfaatkan dana desa melalui BUMDes. Menurut Keuchik Ie Rhop, Ahmad Banta, desa berpenduduk 247 jiwa itu dulunya merupakan desa terisolasi. Baru tahun 2015 mulai sedikit agak berkembang.

    Awalnya Pantai Pangah hanyalah lahan tidur di bibir pantai yang penuh kotoran, baik sampah maupun kotoran binatang. Lalu tokoh masyarakat Desa Ie Rhob bermusyawarah. Lahirlah ide untuk memanfaatkan lahan tidur tersebut. Melihat potensi yang begitu bagus, hasil musyawarah desa itu mendapat dukungan dari Ismail Adam (Anggota DPRK Bireuen), Pemkab dan Dinas Pariwisata Bireuen. Selain itu, ada masukan pemikiran dari Tazbir Abdullah, pakar wisata nasional/mantan kepala dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Muspika Gandapura, perangkat desa, beberapa organisasi dan Lembaga Sosial Masyarakat serta tokoh lainnya juga memberi dukungan lahan tidur dijadikan lokasi wisata, bahkan mereka ikut terlibat mengerakkan dan melibatkan masyarakat dalam program ini “Alhasil, dengan dukungan penggunaan dana BUMDes kami mulai berbenah. Mustahil rasanya membangun semua ini dengan modal yang sangat kecil,” jelas Geuchiek Ahmad Banta.

    Setelah mendapat suntikan dana desa, masyarakat gotong royong membersihkan lahan. Berkat kerja sama dan semangat kekompakanlah, keberadaan pantai ini makin mengeliat. Pantai yang menghadap Selat Malaka ini, pelan tapi pasti, telah meningkatkan taraf perekonomian masyarakat Desa Ie Rhob dan sekitarnya. Semua masyarakat terlibat dalam pengelolaan pantai ini. Sejak Pantai Pangah dibuka, di desa ini tak ada lagi warga yang menganggur, semua terlibat dalam pengelolaan pantai. “Hanya manula saja yang tinggal di rumah,” ujar Keuchik Ahmad Banta.

    Kerja sama antarwarga, terutama para pemuda Desa Ie Rhob, telah menyulap tempat yang dulunya terkesan sebagai tempat “jen boh aneuk” ini kini berbanding terbalik keadaannya. Lokasi tersebut telah menjadi incaran warga untuk piknik. Setiap hari dikunjungi warga yang ingin bersantai, baik perorangan maupun kelompok. Hampir setiap minggu banyak instansi, dinas, dan komunitas menggelar acara outbound, kegiatan santai, dan sosial lainya di sini.

    Begitu tiba di Pantai Pangah, pada gerbang sisi kiri dan kanannya, kita sudah disambut dengan beraneka ragam bentuk kreasi hewan seperti kuda laut, landak, dan badak dengan warna natural, tanpa dicat. Hasil kreasi dan inovasi masyarakat ini dibuat dari kayu sisa sampah yang terdampar di pinggir pantai. Dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menarik. Saya begitu kagum melihatnya. Yang membuatnya pastilah memiliki jiwa seni yang tinggi.

    Spot ini tentu saja menjadi lokasi menarik bagi yang hobi berswafoto. Di sini juga disediakan bingkai foto besar bertuliskan Facebook yang di bawahnya tertera “Pantai Pangah, destinasi wisata keluarga, indah, nyaman, aman, dan islami. Sebagai tempat selfi, spot ini memberikan suatu daya tarik tersendiri sehingga banyak pengunjung yang berpose di sini.

    Di Pantai Pangah juga berjejer warung makanan yang dikelola masyarakat dan tertata rapi. Bak gadis yang sedang bersolek, Pantai Pangah terus berbenah dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan pengunjung agar betah dan nyaman menikmati liburan. Juga tersedia lokasi mandi dan tempat permainan anak-anak dengan sentuhan alam yang nyaman untuk balita, tapi harus tetap dalam pengawasan orang tua.

    Keunikan lainnya, saya dapati saat ke toilet, ada beberapa pesan kreatif yang ditulis dalam bahasa menarik. Salah satunya “Ingat, ini misi rahasia, jangan tinggalkan jejak apa pun di toilet.” Menurut Pak Ahmad Banta, ide itu timbul saat ia berkunjung ke luar daerah. Waktu itu ia sempat membaca pesan yang mirip dengan yang kini ia cantumkan di toilet Pantai Pangah.

    Untuk memberikan kesan natural, kepada pengunjung disuguhkan berbagai minuman panas yang airnya dimasak langsung di lokasi menggunakan kayu bakar atau tempurung kelapa. Di sini juga disediakan jasa penyewaan alat masak dan peralatan makan seperti piring, gelas, dan sendok yang dikelola oleh pengurus PKK gampong.

    Uniknya lagi, demi kenyamanan pengunjung, pengelola tidak menyediakan aliran listrik di tempat wisata ini. Tujuannya, agar tak ada pengunjung yang menghidupkan musik sehingga membuat suasana bising dan masyarakat seputar pantai terganggu. Kalau ada kelompok yang ingin bikin acara di sini, mereka cukup membawa mik wireless saja.

    Menurut Keuchik Ie Rhop, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama sejumlah pejabat provinsi dan Bireuen pernah berkunjung ke Pantai Pangah. “Di sini harus kita bangun pariwisata halal. Pendapatan yang diperoleh masuk ke kas gampong,” wejang Nova Iriansyah seperti dikutip Keuchik Ie Rhop.

    Pantai Pangah memang pantas dikembangkan menjadi salah satu lokasi wisata syariah, lokasinya teduh, nyaman, dan jauh dari kebisingan. Hal lain yang sangat mengagumkan adalah dukungan masyarakat yang luar biasa terhadap usaha pariwisata di gampong tersebut. Semua warga, khususnya pemuda, terlibat aktif dalam pengelolaan pantai ini. Tidak ada lagi pengangguran di gampong ini, kecuali mereka yang malas saja.

    Pantai dibuka pukul 08.00-18.00 WIB setiap hari, kecuali hari Jumat tutup total. Mari rekreasi ke Pantai Pangah, objek wisata bahari yang layak dinikmati bersama keluarga dan kerabat, juga pantas dicontoh oleh wilayah pesisir lainnya.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Dana Desa Geliatkan Wisata Pantai Pangah, 31/07/2019/

     

  • DOSEN UMUSLIM BERI KULIAH DI MALAYSIA

      

    Peusangan-Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Hakim Muttaqim,B.Soc.Sc.,M.Ec.Dev di undang secara khusus menjadi dosen tamu  di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

    Kehadiran dosen fakultas ekonomi umuslim ke negeri jiran tersebut, memenuhi  undangan Fakulti Pengurusan Hotel dan Pelancongan, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia Puncak Alam, Selangor Malaysia.

    Hakim Muttaqim  memberikan materi kuliah kepada mahasiswa UiTM tentang peningkatan ekonomi dan wisata halal, kegiatannya berlangsung di kampus utama UiTM Puncak Alam, Selangor Malaysia,pada  Selasa dan Rabu (19-20 /3). 

    Selain Hakim Muttaqim dalam perkuliahan  tersebut juga ikut Dr. Mohd Raziff Jamaluddin selaku Timbalan Dekan bidang riset dan jaringan UiTM.

    Dalam pertemuan tersebut dosen Malaysia ini menyatakan bahwa UiTM sangat senang dengan adanya kolaborasi dalam pengembangan kedua intitusi ini, kedepannya akan di fokuskan kerjasama riset dan publikasi.

    Di sela-sela kegiatan memberi kuliah Dekan FE Universitas Almuslim,  juga menjajaki kerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia..

    Apalagi  Universitas Almuslim yang telah dinobatkan sebagai PTS katagori Universitas terbaik di Aceh, terus membuka diri bekerjasama dengan mengirimkan dosen dan mahasiswanya kebeberapa perguruan tinggi di luar negeri, jelas Hakim Muttaqim.

    Sementara itu,penyelidik UiTM,Prof Madya Dr. Mohd Hafiz Hanafiah menyambut baik rintisan kerjasama ini, menurutnya  ini akan memperkuat jaringan yang baik dengan kampus di Indonesia khususnya bidang kolaborasi riset dan publikasi International dengan dosen Universitas Almuslim Bireuen di masa depan.(HUMAS)

     

     

  • Dosen Umuslim di undang ke Kepulauan Riau.

     

    Peusangan-Salah seorang dosen prodi Peternakan fakultas pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan kabupaten Bireuen provinsi Aceh  drh Zulfikar, MSi, hadir ke Provinsi Riau untuk menjadi pemateri pada kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau.

    Hadirnya drh.Zulfikar,MSi dosen program studi Peternakan Universitas Almuslim di kabupaten yang mempunyai Motto " Azam di pasak, Amanah di tegak"  ini  memenuhi undangan  dari Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun kepulauan Riau, sebagai  pemateri pada pelatihan bidang peternakan dan kesehatan hewan  yang digelar di Hotel Gembira Tanjung Batu pulau Tanjung Baru Karimun pada tanggal 24-27/3.

    Di undangannya dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan tersebut untuk memberikan pelatihan kepada 50 peserta  yang  terdiri dari peternak dan petugas kesehatan hewan di Wilayah kerja Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun Kepulauan Riau selama tiga hari. 

    Menurut informasi dari Drh Zulfikar,MSi, dirinya diminta untuk memberikan materi tentang teknis pencegahan penyakit dan manajemen pemeliharaan hewan besar dan kecil, selain dirinya sebagai narasumber yang berasal dari kampus,  juga hadir drh. Topan dari Dinas Peternakan Provinsi Aceh didampingin drh. Syauqi Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan hewam Dinas Pangan dan Pertanian kabupaten Karimun Kepulauan Riau, ujar kandidat  doktor bidang pengelolaan sumberdaya dan lingkungan  Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.(HUMAS)

     

     

  • Dosen Fikom Umuslim latih siswa SMK

     

    Peusangan-Sebanyak 40 siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Peusangan mendapat pelatihan ilmu bidang bahasa pemrograman Java dan pelatihan Desain Kemasan dari sejumlah dosen Fikom umuslim yang melakukan pengabdian di laboratorium multi media sekolah setempat, Selasa (27/11).

    Kegiatan yang mendapat apresiasi dari kepala sekolah SMK 2 Ermawati,M.Kom dan   antusias para siswa sekolah SMK tersebut merupakan suatu program yang dirancang beberapa dosen untuk bebagi ilmu secara langsung kepada para pelajar SMK yang ada di kabupaten Bireuen.

    Kepala sekolah SMKN 2 Peusangan Ermawati,M.Kom yang didampinggi kepala jurusan Desain dan Grafika  Mukhtar,M.Kom mengucapkan terimakasih atas dipilihnya sekolah mereka untuk lokasi pengabdian  dosen fikom Universitas Almuslim untuk  memberikan ilmu kepada anak didiknya, “Ini sangat bermanfaat bagi siswa, kami harapkan agar ada kelanjutan dari pengabdian hari ini “ ungkap Ermawati sambil menyalami pemateri.

    Menurut Mukhtar ada 40 siswa yang mengikuti pelatihan ini, dibagi  dua materi yaitu bidang pemrograman dan desain grafis, ini sangat bermanfaat bagi anak didiknya karena selama ini belum pernah mereka ajarkan ilmu ini secara mendetail, apalagi diajarkan oleh tenaga yang sangat komponten, jelas Mukhtar, M.Kom.

    Menurut salah seorang pemateri T Rafli A. S.Sn, M.Sn, bahwa program yang mereka lakukan ini merupakan  sebuah pengabdian, kami  dari dosen ingin memberikan sedikit ilmu baru yang bermanfaat bagi adik-adik dari  SMK 2 peusangan, ungkap pemegang sertifikat kompetensi bidang Desain Multimedia dari Badan Nasional sertifikasi Profesi ini.

    Menurut T Rafli A. S.Sn, M.Sn  tim pengabdian ini dibagi dua grup terdiri untuk materi Desain Kemasan T.Rafli A, S.Sn, M.Sn,  Riyadhul Fajri,M.Kom, Imam Muslem R,M.Kom, Zulkifli,M.Kom,T.M.Johan,MT, sedangkan untuk materi pemograman Java Dasril Azmi,M.Kom, Dedy Armiady, Sri winar,M.Kom, Iqbal,Mcs dan Fitri Rizani,M.Kom.(HUMAS)

     

     

     

  • Dosen Umuslim lakukan pelatihan penggunaan alat peraga untuk hilangkan fobia mapel matematika

     

    Dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan melaksanakan sosialisasi serta pendampingan pembuatan alat peraga matematika  dan aplikasi pembelajaran bagi guru matematika SD Negeri 4 Kota Juang dan beberpa guru dari sekolah lain, bertempat di sekolah tersebut tanggal 15 -18 Juli 2019.

    Ketua tim pelatihan  Husnidar, M. Pd kepada Humas Umuslim melaporkan, bahwa  program pelatihan dan pedampingan ini merupakan program pengabdian masyarakat yang didanai Kemenristekdikti tahun 2019. Tambah Husnidar, M. Pd lagi bahwa dalam melaksanakan pengabdian ini pihaknya beranggotakan  Rahmi Hayati, M. Pd dan Tuti liana, M. Pd yang merupakan dosen Universitas Almuslim.

    Tujuan pengabdian ini dalam rangka peningkatan dan  memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran serta meminimalisir fobia terhadap mata pelajaran matematika pada diri siswa di Sekolah khususnya SD Negeri 4 Kota Juang. Seperti diketahui fobia matematika merupakan rasa tidak suka terhadap matematika yang berlebihan yang membuat anak malas mengenal matematika, penyebab hal tersebut biasanya dari pengalaman belajar matematika yang kurang menyenangkan atau mungkin cara mengajar guru yang sulit diikuti oleh siswa, papar Husnidar, M. Pd,

    Itulah tujuan program pengabdian yang kami laksanakan, untuk  mensosisialisasikan dan pedampingan cara memaksimalkan pembelajaran matematika dengan penggunaan alat peraga. Harapannya  melalui pelatihan ini diharapkan penyerapan  mata pelajaran (mapel) matematika kedepan  lebih baik dan menyenangkan terutama dikalangan murid sekolah dasar.

    Kepala sekolah SDN 4 Bireuen Ibu Beti Ibo Haryati, S. Pd menyambut baik kegiatan ini dan menghimbau kepada guru  agar dapat mengikuti kegiatan ini seacra serius, sehingga nantinya  menjadi referensi dan pada guru lain dalam penerapan  mengajar lebih inovatif. (HUMAS)

     

  • Dosen Umuslim lakukan Pengabdian di Desa Kuala Pusong Kapal, Aceh Tamiang

     

     Dosen Umuslim melakukan pengabdian masyarakat tentang pelatihan dan pendampingan penerapan Sistem Good Manufacturing Practice (GMP) atau cara pengolahan dan produksi pangan yang baik pada produksi terasi  UKM Camar Laut Desa Pusong Kapal Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang. 

    Kegiatan Pelatihan dilakukan tim pengabdian Dosen Universitas Almuslim (Umuslim)  diikuti  40 peserta masyarakat pembuat terasi di Desa Kuala Pusong Kapal Seruway, melibatkan  dosen dari berbagai disiplin ilmu,  Zara Yunizar, M. Kom, Dewi Maritalia, M.Kes dan Sonny M. Ikhsan, SE., M, Si, pada hari Kams tanggal11 Juli 2019.

    Menurut ketua tim penelitian Rindhira Humairani, S.Pi.,MSi bahwa kegiatan pengabdian masyarakat merupakan rangkaian dari Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) yang merupakan hibah multi tahun Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) yang didanai kemenristek dikti.

    Menurutnya dengan kegiatan ini  diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis usaha terasi sebagai produk unggulan daerah.

    Materi pelatihan disampikan   Baihaqi, SPT.,M.Si (Dosen Teknologi Industri Pertanian) tentang GMP, tujuan GMP, ruang lingkup, system pengendalian hama, hygiene karyawan, peralatan dan pakaian kerja.

    Menurutnya sebelum mengikuti pelatihan, peserta diminta untuk mengisi kuesioner tentang proses pengolahan terasi yang  dilakukan selama ini untuk mengetahui apakah sudah sesuai GMP atau belum.

    Pelatihan mendapat sambutan bagus dari masyarakat karena selama ini belum pernah dilakukan pelatihan tentang proses pengolahan terasi yang baik dan benar di desa mereka, padahal Desa Kuala Pusong kapal merupakan produsen terasi udang rebon (udang sabee) yang sudah sangat  dikenal masyarakat(Humas) 

  • Dosen umuslim latih guru dan santri dayah tentang pembuatan pupuk organik

    Sejumlah dewan guru dan  santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Mereudu dilatih pengolahan tanah dan teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik, oleh tim pengabdian masyarakat dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen, berlokasi di desa Blang Awe Pidie Jaya,(20-22 juli 2019).

    Ketua tim  pengabdian Dr. Halus Satriawan. Sp.,M.Si menyampaikan kegiatan pelatihan dilakukan  dosen Universitas Almuslim Peusangan, sebagai implementasi  program Hibah yang didanai Kemenristekdikti melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2019.

    Menurutnya tujuan pelatihan  untuk memberikan Informasi dan pengetahuan praktis dan teknis kepada dewan guru dan santri tentang pengolahan tanah mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman (pengendalian gulma dan pemupukan) yang sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan ditanam, jelas alumni bidang ilmu tanah  IBP Bogor ini.

    Selain itu juga kami mengajarkan  dan praktik langsung teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik.

    Menurut  ahli bidang ilmu pengolahan tanah Fakultas Pertanian (FP) Umuslim  pelaksanaan pelatihan bagi guru dan santri ini, untuk memaksimalkan  pemanfaatan lahan pesantren bagi usaha budidaya pertanian, sehingga nantinya  dapat melatih kemampuan dan kemandirian santri dan guru dalam menyediakan kebutuhan pangan dan membantu dalam meningkatkan produktivitas mereka, papar Halus Satriawan yang kelahiran Lombok NTB ini.

    Kemudian Hakim Muttaqim, Mec.Dev.  anggota tim pengabdian menambahkan bahwa selain melatih  cara pengolahan tanah dan bidang pupuk kompos tim pengabdian juga memberikan pelatihan pengetahuan tentang sistem pemasaran atau tata niaga hasil pertanian kepada  dewan guru dan santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Mereudu.

    Harapannya dengan adanya pengetahuan ini kedepan diharapkan lembaga mitra mampu menciptakan sendiri pemasaran hasil panennya tanpa harus melalui jalur rentenir, terang  Hakim Muttaqim.

    Pimpinan Dayah Sirajul Huda Al-Aziziyah Meureudu kabupaten Pidie Jaya Tgk ikhwani, menyambut baik kegiatan pengabdian ini,kegiatan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman dewan guru dan santri dalam bertani serta dalam hal pemasaran hasil pertanian, ujarnya.

     

     

  • Fak.Pertanian Umuslim MoU dengan FP Unsyiah dan Unimal

    Peusangan-Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen melakukan penandatanganan naskah kerjasama (MoU) dengan fakultas Pertanian  Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, (20/12/2018). 

    Penandatangan naskah kerjasama tersebut  dilakukan masing-masing dekan fakultas ketiga perguruan tinggi tersebut, Fakultas Pertanian Umuslim dilakukan Dekan Fakultas Pertanian Umuslim Ir.TM.Nur, MSi sedangkan Unsyiah dilakukan Prof.Dr. Samadi., M.Sc selaku Dekan FP Unsyiah kemudian  sebelum dilakukan penandatanganan dengan  Unsyiah,  juga telah dilakukan MoU dengan Fakultas pertanian Unimal Lhokseumawe, yang penandatanganan naskah kerjasama dilakukan  Dekan FP Unimal Dr. Mawardati, M.Si dan Dekan FP Umuslim Ir. T.M.Nur, MSi. 

    Wakil dekan I Fakultas Pertanian Umuslim Drh.Zulfikar,MSi menjelaskan  tujuan dilakukan penandatanganan kerjasama ini untuk meningkatkan jaringan kerja sama antar Universitas khususnya Fakultas Pertanian dalam bidang penelitian, pengajaran, pengabdian masyarakat dan kemahasiswaan. 

    Saat penandatanganan kerjasama  turut  disaksikan wakil Dekan FP Unsyiah, wakil rektor I Umuslim Dr. Hambali., M.Pd, Ka.Prodi Kehutanan Umuslim Dr.Ir.OK Hasnanda Syahputra,MP dan beberapa ka.prodi dalam lingkup Fakultas Pertanian Universitas Almuslim, ungkap Drh.Zulfikar, MSi.(HUMAS)

     

     

    Foto : Ramadhan

  • Family Gathering Keluarga Besar Universitas Almuslim di Laot Jangka

     

     Dalam rangka  meningkatkan kebersamaan dan kekeluargaan Civitas Akademika Universitas Almuslim ( Umuslim) Peusangan melaksanakan Family Gathering (Hari Keluarga), bertempat di  taman wisata Laot Jangka Kecamatan Jangka, Sabtu (10/11/2018).

    Acara di awali dengan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang meyampaiakan bahwa, kegiatan hari libur ini kita manfaatkan untuk menjadi hari keluarga, sebagai wujud kebersamaan dan kekeluargaan antara Rektorat, Dekanat, Dosen, karyawan dan seluruh staff yang bekerja di kampus Umuslim.

    Walaupun kegiatan ini tidak sering diadakan, tetapi pertemuan keluarga hari ini, hendaknya dapat dijadikan momen yang bermanfaat, berkesan dan dapat mempererat kebersamaan sesama keluarga besar umuslim beserta keluarga, sehingga akan dapat  menumbuhkan iklim kerja yang produktif dan kondusif di lingkungan kampus dalam upaya mengembalikan dan meningkatkan kejayaan kampus  masa yang akan datang, Ujar H.Amiruddin Idris.

    “Acara keluarga ini untuk  menjaga hubungan kekeluargaan dan kebersamaan keluarga besar Universitas Almuslim “ Jelas H.Amiruddin Idris lagi.

    Suasana acara Family Gathering  di kemas dalam bentuk  rekreasi keluarga, di lakukan dalam suasana penuh kekeluargaan, keakraban, kebersamaan dan penuh kegembiraan.

    Kegiatan dengan jamuan  hidangan menu kari kambing kuah “Belanggong” ala chief Tgk Rahmad Tanoh Abee,  ikan Bandeng bakar, ditambah aneka kue dan buah-buahan, plus minuman poligami segar,  telah menambah hangatnya  suasana “Hari keluarga umuslim di Laot Jangka” sehingga suasana kecapekan diruangan kampus, terasa larut dalam kegembiraan di hamparan laut selat malaka.

    Suasana kehangatan di hari keluarga ini, benar-benar memberi satu kesan yang perlu terus dikenang, tetesan rujak manis telah memaniskan suasana persaudaraan, apalagi dengan  santapan kari kuah belangong, hirupan jus poligami   dan keceriaan bocah-bocah yang ikut menikmati hari keluarga, ditambah hembusan sepoi angin laut selat malaka, yang menusuk sampai  pori-pori kulit ari  sekujur  tubuh keluarga besar Universitas Almuslim, memberikan kesejukan, kebahagiaan dan  kenangan tersendiri di Family Gathering ini.

    Tetapi Kemesraan itu terus berlalu seiring  berkumandangnya suara Azan Zhuhur dari puncak mesjid di pesisir kawasan wilayah minapolitan kabupaten Bireuen.

    Selain dihadiri Rektor dan isteri serta keluarga besar Universitas Almuslim, acara tersebut juga ikut dihadiri  Ketua Yayasan Almuslim Peusangan beserta keluarga dan juga beberapa guru dari  Pesantren Terpadu Almuslim,  acara ditutup dengan pembacaan Doa.(Humas)