Lembaga Pengembangan Kurma Aceh Umuslim Kunjungi Brunei

Brunei Darussalam, Selasa (07/06) Lembaga Pengembangan Kurma Aceh Umuslim mendapat undangan sejak tanggal 25 Mei  s/d 07 Juni 2016  di Kerajaaan Brunei Darussalam.

Adapun agenda pertemuan sbb;

1. Menemui Menteri ESDM, Pertanian dan Industri Negara Brunei Darussalam.

 - Pertemuan tanggal 26 Mei jam 14.00 waktu Brunei, dihadiri Bapak Menteri, Dirjen Pertanian

 - Direktur Agrotek dan pejabat-pejabat bidang Pertanian Strategis.

 - Menyerahkan surat Umuslim perihal pembangunan Laboratorium Kurma

 - Mendiskusikan potensi Umuslim dalam pengembangan kultur jaringan kurma

 - Mengajak kerjasama pihak Negara Brunei Darussalam mengembangkan kurma

 - Bapak Menteri menyambut baik ajakan kerjasama pembangunan Laboratorium

 - Mengharapkan kerjasama atas dasar business to business sebagai kebijakan Sultan

 - Proposal akan dibicarakan bersama Perdana Menteri/Sultan Brunei

 - Pihak Kementerian akan mengirim utusan khusus ke Umuslim Bireuen

 - Kementerian akan menunjuk Tim Khusus untuk menindaklanjuti program ini

2. Menemui Menteri Agama Brunei Darussalam.

- Memperkenalkan Umuslim dan programnya

- Mempresentasikan program pengembangan kurma dan pembangunan Laboratorium.

- Memohon perhatian Kementerian Agama untuk kerjasama dengan Umuslim

- Menteri akan mendukung program Umuslim dalam rapat Kabinet

3. Menemui Ketua Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Brunei Darussalam.

- Pertemuan diadakan pada tanggal 30 Mei, jam 10.00 Brunei, dihadiri Ketua dll

- Yayasan adalah perpanjangan tangan Sultan untuk pemberian hibah dan ikut membantu Aceh ketika Tsunami, 

- Menyerahkan surat Rektor Umuslim dan Proposal kerjasama 

- Mempresentasikan Pengembangan Kurma Aceh di Umuslim

- Ketua Yayasan akan menyampaikan proposal kepada Sultan Brunei 

4. Menemui Duta Besar Indonesia di Brunei dan melaporkan kunjungan Umuslim Silaturrahim dengan Masyarakat Indonesia dan Aceh di Brunei dan sosialisasi Umuslim.

5. Bertemu Ulama, Pengusaha dan lainnya

- Mufti Negara Brunei Darussalam, menyampaikan proposal Umuslim

- Pehin Tuan Guru Abdul Aziz, Penasihat Agama Sultan Brunei 

- Kementerian Energi dan Industri Brunei Darussalam

- Hubungan Internasional Universitas Brunei Darussalam (UBD)

- Darussalam Holding, Perusahaan Induk Pemerintah Brunei

- Pangiran Hj. Arifin, Kerabat Sultan Brunei, Pengusaha minat berkebun kurma

- Dr. Nur Rahman, CEO Brunei Halal Hub

- Mr. Hj. Mahmud Mohd. Daud, Konsultan Bisnis Brunei, Kerjasama Laboratorium

Demikian laporan yang disampaikan Dr. Hilmy Bakar, MA.,MBA selaku Direktur Lembaga Pengembangan Kurma Aceh Umuslim, dari Brunei Darussalam. (al)

 

Pertunjukan Teaternya Menghantarkan Sulaiman Juned Memperoleh Gelar Doktor

Taman Putroe Phang Banda Aceh - Jum'at (27/05) Sulaiman Juned dengan kemampuan berteater yang mumpuni mampu memberikan suguhan yang begitu memukau lewat 'pertunjukan teater Adnan PMTOH Mencipta Bersama Masyarakat'.

Penonton tanpa sadar diajak berinteraksi dalam suguhan lima panggung yang secara berkesinambungan ditampilkan;

Panggung pertama di ruang tebuka tanpa pentas sosok Udin Pelor, tampil dengan karateristik sebenarnya yang ditampilkan oleh Sutradara dan mampu menciptakan suasana yang digambarkan para aktor sebagai peran yang semestinya, didukung peran penonton yang terlibat langsung sebagai pemegang peran tanpa disadarinya

Panggung kedua dengan tampilan Rasyidin yang memukau dengan perubahan daya pikat menjadi berbeda, sugesti yang memberikan sentuhan pada tampilan  Rasyidin membuat penonton semakin hanyut dan penasaran dengan  kondisi yang diciptakan oleh sang aktor. Rasyidin  menerbangkan penonton ke dalam suasana yang penuh keingin tahuan lebih jauh, apalagi saat menggunakan properti yang dipadu dengan prokem-prokem syair yang menggelitik.

Panggung ketiga, gaya Dangderia lainnya ditampilkan Muda Balia, aktor hikayat yang satu ini tampil dengan gaya khasnya menyapa penonton dengan tiupan bansinya. Kisah yang dinarasikan dengan gestur yang memukau dan sempurna memperlihatkan kemampuan di atas rata-rata dari aktor tradisi yang satu ini, bahasa tubuh dan tarikan vokal Muda membuat penonton merasakan nuansa lain yang tak diperoleh selama ini. Penampilan  Muda begitu memukau  dengan berbagai babak cerita yang ditampilkannya walaupun kondisi aktor yang dalam keadaan kurang sehat. Ternyata batuknya menjadi bagian pertunjukan yang tanpa sadar dinikmati oleh penonton.

Panggung keempat, hikayat dari Syamsul Bahri (anak kedua dari seniman besar PMTOH), suasana penonton terasa tidak terasa menggugah secara emosional. Syair yang ditampilkan mengajak penonton untuk ke arah perbaikan. Tapi tak kalah penting syairnya mengajak penonton untuk mengenang kembali 'Sang Trobadur' yang telah tiada, yang memiliki kepedulian terhadap nasib berkesenian di negeri ini.

Pangung kelima, panggung di atas air, suasana datar berubah drastis ketika penonton bergerak ke panggung terakhir, tampilnya Teuku Afifudin di seberang sungai dengan latar panggung pintu khop, suasana berubah lebih enerjik kata-kata syair bebas yang dengan gerakan perpindahan bagaikan  penari seudati dipersembahkan Afif di awal penampilannya, tidak hanya itu beberapa gerakan tradisi seperti saman terlihat terekam dari geraknya, kejelian dalam memadukan konsep gerak membuat syair yang dilantunkan menjadi bergairah menghantarkan konsep teater modern yang dibungkus tradisi yang begitu memukau,tak kalah penting Teuku Afif dengan sajian  tanya jawab sambil terus melakukan gerakan yang begitu lincah membuat tampilannya tak kehilangan rasa.

Sulaiman Juned dengan konsep pertunjukan dua arah ini membuat apa yang disuguhkan oleh Dosen Teater ISI Padang Panjang ini mengembalikan ingatan kita kepada Teuku Adnan PMTOH saat tampil di berbagai arena pertunjukan. 

Tampilan akhir yang menampilkan slide beserta narasi biografi sang Trobadur, mau tak mau membuat kita menitiskan air mata, atas keprihatinan perkembangan berkesenian yang belum mendapat kesempatan yang sama di negeri peninggalan indatu ini. 

Semua penguji memberikan penilaian sempurna;

- Prof. Dr. Sri Rochana W. S. Kar., M.Hum (ketua Tim Penguji/Rektor ISI Surakarta)

- Prof. Dr. Rahayu Supanggah  (anggota penguji/Mantan Ketua STSI Surakarta)

- Prof. Dr. Pande Made Sukarta, M.Si (anggota Penguji/Mantan PR I ISI Surakarta)

- Dr. Aton Rustabdi Mulyana, M.Sn (Anggota Penguji/Direktur Pascasarjana ISI Surakarta)

- Dr. I. Nyoman Murthana, S.Kar., M.Hum (Anggota Penguji/Ketua Prodi Penciptaan/Pengkajian Seni Program Doktoral ISI Surakarta)

- Dr. H.Sujiman Abdullah Musa, MA (Anggota Penguji/ Wakil Rektor IV Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, Aceh).  

Di akhir sidang terbuka, di Taman Putroe Phang Sulaiman Juned dosen ISI Padang Panjang dinyatakan lulus dari ISI Surakarta dengan predikat cumlaude.(al)

 

Kebersamaan Itu Indah

Kampus Induk Umuslim, Jum'at (03/06) bertempat di Aula gedung MA Jangka acara silaturahmi menjelang ramadhan digelar, acara yang dihadiri Rektor Umuslim beserta seluruh jajaran wakil Rektor, Dekan, Ka Biro, Kabag, Ka. UPT, dosen, serta staf berlangsung penuh kekeluargaan.

Acara yang diisi dengan evaluasi mengenai SPMB, kinerja selama ini, dan saling memberi masukan bagi perkembangan Umuslim ke arah yang lebih baik lagi. Di samping dari pihak Rektorat dan jajaran memohon maaf kepada semua elemen yang ada di lingkup Umuslim dengan harapan Ramadhan ini lebih membawa kebersihan hati.

Hal lain adalah persiapan 'Safari Ramadhan', 'Acara Berbuka Puasa Bersama Masyarakat', 'Acara Idul Fitri'. Yang tak ketinggalan 'Acara Berbuka Puasa Bersama' untuk Kampus B Lhokseumawe.

"Melalui kesempatan ini saya pribadi dan atas nama Rektor Universitas Almuslim memohon diberi kemaafan jika terjadi silaf dan salah yang kami perbuat selama ini, begitu juga sebaliknya kamipun memberi kemaafan kepada semua lapisan, semoga kita jalani puasa dengan hati yang bersih dan suci," demikian harapan Rektor Umuslim Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si/ (al)

Diskusi Publik ICAIOS 20 Mei 2016 : Jejak Yahudi di Aceh

Banda Aceh, Jum'at (20/05)ICAIOS mengadakan serial diskusi publik ke 17 untuk tahun 2016 dengan tema “Jejak Yahudi di Aceh”. Narasumber diskusi ini adalah Teuku Cut Mahmud Aziz, dosen pada Universitas Almuslim di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireun. Teuku Cut Mahmud Aziz melakukan kajian jejak Yahudi di Aceh dengan melakukan kajian pustaka, observasi pemakaman Yahudi, dan mewawancarai informan di Aceh, Surabaya, Jakarta, Singapura, Semarang, Penang, dan Belanda, termasuk keturunan dari orang Yahudi yang pernah tinggal di Aceh yang saat ini menetap di London, Manchester, dan Hongkong. Teuku Cut telah membantu meyakinkan keluarga Yahudi di Australia untuk merenovasi kuburan Yahudi di Semarang dan keluarga Yahudi di Manchester, London, dan Hongkong untuk merenovasi kuburan Yahudi di Banda Aceh (khusus kuburan keluarga Bolchover).

Kehadiran orang Yahudi di Nusantara kurang disadari meskipun catatan sejarah menunjukkan persinggungan mereka dengan Nusantara sejak zaman dahulu. Pada abad ke 9, perahu seorang pedagang Yahudi dari Sohar – Oman bernama Ishaq ben Yahuda yang sedang dalam perjalanan ke Tiongkok ditahan di Sumatra dan pedagang tersebut terbunuh. Arsip Geniza dari abad 11 yang ditemukan pada sebuah Sinagog di Fustat, Mesir menunjukkan adanya hubungan perdagangan antara Mesir, India, dan Nusantara. Arsip tersebut memaparkan adanya seorang pedagang Yahudi dari Mesir yang berlayar ke Fansur (saat ini terkenal dengan nama Barus) di Tapanuli Tengah dan meninggal di sana (Goitein, 1970 dan 1973). Pada Abad Pertengahan, kaum Yahudi yang bepergian ke Nusantara umumnya adalah kaum Sephardic dengan tujuan perjalanan untuk berniaga. Mereka menempuh perjalanan laut dari Mesir ke Aden, dan dari Aden ke India, dan kemudian Nusantara. Mengingat perjalanan laut saat itu sangat bergantung pada cuaca dan angin, para pedagang tersebut umumnya tinggal beberapa bulan di sekitar pelabuhan Nusantara untuk berniaga sambil menunggu musim untuk kembali berlayar.

Pada Abad 20, kehadiran Yahudi di Nusantara sulit dipisahkan dari sejarah Dutch East India Company (VOC) dan Belanda. Pada tahun 1921, seorang utusan Zionis bernama Israel Cohen yang berkunjung ke Hindia Belanda menyatakan bahwa ada sekitar 2.000 Yahudi tinggal di Jawa. Mereka umumnya datang dari Eropa Tengah, Rusia, Irak, Aden, Belanda, India, dan Singapura. Saat itu, sebagaian besar orang Yahudi menetap di Surabaya (Hamonic 1996). Bahkan Sebuah Koran “Erets Israel”, sebuah koran zionis pernah terbit di Kota Padang sejak tahun 1926 yang ditutup ketika Jepang menginvasi Indonesia pada tahun 1942.

Dalam konteks Aceh, peneliti menemukan data di tahun 1689 orang Yahudi yang bernama Abraham Nabarro yang bekerja sebagai tranlator pernah berkunjung ke Aceh, yang datang dari Malaka (Fischel, 1960: 135 dalam Brakel, January 1975). Pada abad ke-18, orang Yahudi yang bernama Isrealiet Abraham Geheeten bekerja sebagai linguis pada Kesultanan Aceh Darussalam (Djajadiningrat, 1911:204 in Brakel, January 1975). Dalam observasi dari bukti arkeologis, Teuku Cut menemukan 23 makam Yahudi yang memiliki komplek sendiri di sebelah komplek Kerkoff (Peutjoet), meski peneliti lain menyatakan bahwa terdapat 24 makam di komplek pemakaman tersebut. Makam-makam tersebut dibuat saat Belanda masih berada di Kuta Radja (Banda Aceh). Observasi pada nisan makam menunjukkan bahwa makam tertua menuliskan tahun 1882 dan terbaru bertarikh 1942.

Sebagian besar Yahudi di Aceh yang datang pada masa Hindia Belanda berasal dari Rumania, khususnya dari Kota Botosani, Bojan, Piatra, Harlou, dan Braila. Ada juga yang berasal dari Rusia dan Austria. Bahasa yang tertera di pemakaman adalah bahasa Ibrani, Belanda, dan Jerman (bukan Yiddish). Umumnya mereka adalah penguasa, pedagang, dan ada juga yang menjadi polisi pada Pemerintah Hindia Belanda. Umumnya menetap di Kuta Radja, selain itu mereka juga menetap di Meulaboh, Sabang, Pidie, Lhokseumawe, dan kemungkinan Bireuen. Mendiskusikan keberadaan Yahudi di Aceh, tidak terlepas dari keberadaan nama-nama, Tuan Noi di Keudah, Tuan Petruk di Sabang, Tuan Handziris (data terakhir ditemukan bahwa Handziris yang menetap di Spordex, berkebangsaan Yunani), dan keluarga Solomon, serta keluarga Yahudi yang cukup terkenal, yaitu keluarga Bolchover yang memiliki lahan perkebunan kelapa yang luas di daerah Kuta Radja dan Meulaboh yang keduanya kemudian disebut dengan Gampong Blower/Belower (sekarang Sukaramai). Pemakaman Yahudi di Kerkoff merupakan hasil donasi dari Avram Meir Bolchover, yang buktinya tertulis pada pintu masuk pemakaman (sekarang sudah tidak ada lagi), “This gate was donated to the Israelite cemetery by the late A. M. Bolchoner [!] who passed away on 24 June 1897” (Glaser 1991:32 dalam Brakel dan Teuku Cut Mahmud Aziz). Pada tahun 1912, keluarga Bolchover meninggalkan Aceh dan pindah ke Manchester. Keturunan dari keluarga Bolchover dari Manchester dan Hongkong pernah datang menjumpai Teuku Cut Mahmud Aziz di Banda Aceh. Saat ini Teuku Cut telah memiliki draf “The Bolchover of Kuta Radja, Untold Story” untuk dibukukan. (al)

Umuslim Mengikuti Hardiknas Provinsi Aceh

BIREUEN,  Jum'at (27/05) Gubernur Aceh dr.H. Zaini Abdullah secara resmi membuka rangkaian kegiatan guna memeriahkan hari pendidikan Nasional (Hadiknas) Provinsi Aceh yang dilangsungkan di halaman Pendopo Bupati Bireuen.

Peringatan Hardiknas Aceh 2016 yang bertemakan “ Nyalakan Pelita Terangkan Cita - Cita" , kegiatan yang begitu menarik dengan rangkaian berbagai kegiatan di antaranya, pameran pendidikan, seminar pendidikan, lomba potografi umum, lomba tarian tingkat SMA/MAN, musikalisasi puisi, lomba mewarnai tingkat SD/MIN, lomba vokal (solo) yang akan diselenggarakan sampai dengan tanggal 30/05 mendatang .

Dalam Sambutannya Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah sekaligus membuka secara resmi kegiatan itu menyampaikan Pembangunan Pendidikan identik dengan pembangunan sumber daya manusia(SDM), membangun SDM berarti membangun potensi kemanusian yang berhubungan dengan nilai nilai kemanusiaan, maka diharapkan pembangunan pendidikan di Aceh agar bisa dijadikan gerakan moral yang berbasis kemasyarakatan tumbuh pesat demi mewujudkan pendidikan bermutu di Serambi Mekkah.  

Umuslim sebagai salah satu Universitas terkemuka di Bireuen, diminta oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen untuk berpartisipasi. 

"Alhamdulillah kami dapat mengikuti kegiatan ini yang diisi oleh semua Fakultas dan Program Diploma, walaupun pemberitahuannya begitu mendadak dan singkat," ungkap Dra. Zahara, M.Pd selaku Dekan FKIP yang mengomandoi 'anak-anak beliau' di stand Umuslim. (al)

 

Mahasiswa Universitas Almuslim Hadiri Konferensi Internasional di Bangkok

BANGKOK - Jum'at (20/05), tiga mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) dan seorang alumnus menjadi delegasi dari Aceh yang mendapat kesempatan untuk menghadiri Konferensi Internasional di Chulalongkorn University, Bangkok- Thailand pada 17-18 Mei 2016. Mahasiswa yang menghadiri konferensi tersebut berasal dari dua fakultas, yakni Billal Faranov dan Maulida berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Saljuli Lestari berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mereka turut didampingi oleh Saiful Amri seorang alumnus yang saat ini bekerja sebagai Konsultan Lokal Pendamping Desa di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Konferensi ini merupakan bagian dari penelitian kolaboratif sembilan negara yang didukung oleh Henry Luce Foundation, yang melibatkan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) sebagai lembaga terkemuka di Indonesia, dan mitra-mitranya di Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Amerika Serikat. Tema konferensi tahun ini adalah " Religion in the Public Sphere" yang membahas topik-topik keagamaan, kebijakan, sosial, dan politik. Dengan menghadirkan presenter 15 peneliti dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif. 

Konferensi ini sangat menghargai partisipasi dari para pakar dan praktisi dari berbagai bagian wilayah. Kehadiran mahasiswa Universitas Almuslim merupakan wujud partisipasi insan akademis yang mewakili Universitas Almuslim, Peusangan-Kabupaten Bireuen di Aceh pada jenjang internasional. 

Setelah acara konferensi pada hari Kamis 19 Mei delegasi dari Aceh silaturahmi  kepada Bapak Dr. Yunardi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, Thailand. Kami disambut hangat dan berdiskusi banyak hal. Beliau memberi motivasi kepada kami. Beliau menyampaikan selama beliau masih menjabat sebagai atase, beliau akan selalu siap membantu dan membuka jalan bagi mahasiswa yang berkompeten untuk bisa ke Thailand, baik dalam rangka penelitian, maupun praktek lapangan atau magang. Menurut kami, hal ini perlu kita apresiasi dan kita jajaki sesegera mungkin kerja sama dengan Thailand. (al-saiful)

 

Subcategories