Umuslim Mengikuti Hardiknas Provinsi Aceh

BIREUEN,  Jum'at (27/05) Gubernur Aceh dr.H. Zaini Abdullah secara resmi membuka rangkaian kegiatan guna memeriahkan hari pendidikan Nasional (Hadiknas) Provinsi Aceh yang dilangsungkan di halaman Pendopo Bupati Bireuen.

Peringatan Hardiknas Aceh 2016 yang bertemakan “ Nyalakan Pelita Terangkan Cita - Cita" , kegiatan yang begitu menarik dengan rangkaian berbagai kegiatan di antaranya, pameran pendidikan, seminar pendidikan, lomba potografi umum, lomba tarian tingkat SMA/MAN, musikalisasi puisi, lomba mewarnai tingkat SD/MIN, lomba vokal (solo) yang akan diselenggarakan sampai dengan tanggal 30/05 mendatang .

Dalam Sambutannya Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah sekaligus membuka secara resmi kegiatan itu menyampaikan Pembangunan Pendidikan identik dengan pembangunan sumber daya manusia(SDM), membangun SDM berarti membangun potensi kemanusian yang berhubungan dengan nilai nilai kemanusiaan, maka diharapkan pembangunan pendidikan di Aceh agar bisa dijadikan gerakan moral yang berbasis kemasyarakatan tumbuh pesat demi mewujudkan pendidikan bermutu di Serambi Mekkah.  

Umuslim sebagai salah satu Universitas terkemuka di Bireuen, diminta oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen untuk berpartisipasi. 

"Alhamdulillah kami dapat mengikuti kegiatan ini yang diisi oleh semua Fakultas dan Program Diploma, walaupun pemberitahuannya begitu mendadak dan singkat," ungkap Dra. Zahara, M.Pd selaku Dekan FKIP yang mengomandoi 'anak-anak beliau' di stand Umuslim. (al)

 

Mahasiswa Universitas Almuslim Hadiri Konferensi Internasional di Bangkok

BANGKOK - Jum'at (20/05), tiga mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) dan seorang alumnus menjadi delegasi dari Aceh yang mendapat kesempatan untuk menghadiri Konferensi Internasional di Chulalongkorn University, Bangkok- Thailand pada 17-18 Mei 2016. Mahasiswa yang menghadiri konferensi tersebut berasal dari dua fakultas, yakni Billal Faranov dan Maulida berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Saljuli Lestari berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), mereka turut didampingi oleh Saiful Amri seorang alumnus yang saat ini bekerja sebagai Konsultan Lokal Pendamping Desa di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Konferensi ini merupakan bagian dari penelitian kolaboratif sembilan negara yang didukung oleh Henry Luce Foundation, yang melibatkan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) sebagai lembaga terkemuka di Indonesia, dan mitra-mitranya di Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Amerika Serikat. Tema konferensi tahun ini adalah " Religion in the Public Sphere" yang membahas topik-topik keagamaan, kebijakan, sosial, dan politik. Dengan menghadirkan presenter 15 peneliti dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam penelitian kolaboratif. 

Konferensi ini sangat menghargai partisipasi dari para pakar dan praktisi dari berbagai bagian wilayah. Kehadiran mahasiswa Universitas Almuslim merupakan wujud partisipasi insan akademis yang mewakili Universitas Almuslim, Peusangan-Kabupaten Bireuen di Aceh pada jenjang internasional. 

Setelah acara konferensi pada hari Kamis 19 Mei delegasi dari Aceh silaturahmi  kepada Bapak Dr. Yunardi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok, Thailand. Kami disambut hangat dan berdiskusi banyak hal. Beliau memberi motivasi kepada kami. Beliau menyampaikan selama beliau masih menjabat sebagai atase, beliau akan selalu siap membantu dan membuka jalan bagi mahasiswa yang berkompeten untuk bisa ke Thailand, baik dalam rangka penelitian, maupun praktek lapangan atau magang. Menurut kami, hal ini perlu kita apresiasi dan kita jajaki sesegera mungkin kerja sama dengan Thailand. (al-saiful)

 

Pertunjukan Teaternya Menghantarkan Sulaiman Juned Memperoleh Gelar Doktor

Taman Putroe Phang Banda Aceh - Jum'at (27/05) Sulaiman Juned dengan kemampuan berteater yang mumpuni mampu memberikan suguhan yang begitu memukau lewat 'pertunjukan teater Adnan PMTOH Mencipta Bersama Masyarakat'.

Penonton tanpa sadar diajak berinteraksi dalam suguhan lima panggung yang secara berkesinambungan ditampilkan;

Panggung pertama di ruang tebuka tanpa pentas sosok Udin Pelor, tampil dengan karateristik sebenarnya yang ditampilkan oleh Sutradara dan mampu menciptakan suasana yang digambarkan para aktor sebagai peran yang semestinya, didukung peran penonton yang terlibat langsung sebagai pemegang peran tanpa disadarinya

Panggung kedua dengan tampilan Rasyidin yang memukau dengan perubahan daya pikat menjadi berbeda, sugesti yang memberikan sentuhan pada tampilan  Rasyidin membuat penonton semakin hanyut dan penasaran dengan  kondisi yang diciptakan oleh sang aktor. Rasyidin  menerbangkan penonton ke dalam suasana yang penuh keingin tahuan lebih jauh, apalagi saat menggunakan properti yang dipadu dengan prokem-prokem syair yang menggelitik.

Panggung ketiga, gaya Dangderia lainnya ditampilkan Muda Balia, aktor hikayat yang satu ini tampil dengan gaya khasnya menyapa penonton dengan tiupan bansinya. Kisah yang dinarasikan dengan gestur yang memukau dan sempurna memperlihatkan kemampuan di atas rata-rata dari aktor tradisi yang satu ini, bahasa tubuh dan tarikan vokal Muda membuat penonton merasakan nuansa lain yang tak diperoleh selama ini. Penampilan  Muda begitu memukau  dengan berbagai babak cerita yang ditampilkannya walaupun kondisi aktor yang dalam keadaan kurang sehat. Ternyata batuknya menjadi bagian pertunjukan yang tanpa sadar dinikmati oleh penonton.

Panggung keempat, hikayat dari Syamsul Bahri (anak kedua dari seniman besar PMTOH), suasana penonton terasa tidak terasa menggugah secara emosional. Syair yang ditampilkan mengajak penonton untuk ke arah perbaikan. Tapi tak kalah penting syairnya mengajak penonton untuk mengenang kembali 'Sang Trobadur' yang telah tiada, yang memiliki kepedulian terhadap nasib berkesenian di negeri ini.

Pangung kelima, panggung di atas air, suasana datar berubah drastis ketika penonton bergerak ke panggung terakhir, tampilnya Teuku Afifudin di seberang sungai dengan latar panggung pintu khop, suasana berubah lebih enerjik kata-kata syair bebas yang dengan gerakan perpindahan bagaikan  penari seudati dipersembahkan Afif di awal penampilannya, tidak hanya itu beberapa gerakan tradisi seperti saman terlihat terekam dari geraknya, kejelian dalam memadukan konsep gerak membuat syair yang dilantunkan menjadi bergairah menghantarkan konsep teater modern yang dibungkus tradisi yang begitu memukau,tak kalah penting Teuku Afif dengan sajian  tanya jawab sambil terus melakukan gerakan yang begitu lincah membuat tampilannya tak kehilangan rasa.

Sulaiman Juned dengan konsep pertunjukan dua arah ini membuat apa yang disuguhkan oleh Dosen Teater ISI Padang Panjang ini mengembalikan ingatan kita kepada Teuku Adnan PMTOH saat tampil di berbagai arena pertunjukan. 

Tampilan akhir yang menampilkan slide beserta narasi biografi sang Trobadur, mau tak mau membuat kita menitiskan air mata, atas keprihatinan perkembangan berkesenian yang belum mendapat kesempatan yang sama di negeri peninggalan indatu ini. 

Semua penguji memberikan penilaian sempurna;

- Prof. Dr. Sri Rochana W. S. Kar., M.Hum (ketua Tim Penguji/Rektor ISI Surakarta)

- Prof. Dr. Rahayu Supanggah  (anggota penguji/Mantan Ketua STSI Surakarta)

- Prof. Dr. Pande Made Sukarta, M.Si (anggota Penguji/Mantan PR I ISI Surakarta)

- Dr. Aton Rustabdi Mulyana, M.Sn (Anggota Penguji/Direktur Pascasarjana ISI Surakarta)

- Dr. I. Nyoman Murthana, S.Kar., M.Hum (Anggota Penguji/Ketua Prodi Penciptaan/Pengkajian Seni Program Doktoral ISI Surakarta)

- Dr. H.Sujiman Abdullah Musa, MA (Anggota Penguji/ Wakil Rektor IV Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, Aceh).  

Di akhir sidang terbuka, di Taman Putroe Phang Sulaiman Juned dosen ISI Padang Panjang dinyatakan lulus dari ISI Surakarta dengan predikat cumlaude.(al)

 

Umuslim Mendapat Kehormatan, Wakil Rektor IV Menjadi Anggota Tim Penguji Disertasi Doktor ISI Surakarta

Kampus Umuslim, Rabu (18/05) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada Program Pasca Sarjana dengan surat tertanggal (10/05) No: 549/IT6.5/PP/2016 mengundang Dr.H.Sujiman Abdullah Musa, M.A (Warek IV Universitas Almuslim) sebagai Tim Penguji Ujian Karya Seni, disertai surat tertanggal yang sama No: 550/IT6.5/PP/2016 sebagai Tim Penguji Ujian Terbuka (Pertanggung Jawaban) Karya Seni.

Ini merupakan sebuah kehormatan yang begitu besar bagi Umuslim, karena disejajarkan dengan Tim Penguji yang lain yaitu;

- Prof. Dr. Sri Rochana W. S. Kar., M.Hum (ketua Tim Penguji/Rektor ISI Surakarta)

- Prof. Dr. Rahayu Supanggah  (anggota penguji/Mantan Ketua STSI Surakarta)

- Prof. Dr. Pande Made Sukarta, M.Si (anggota Penguji/Mantan PR I ISI Surakarta)

- Dr. Aton Rustabdi Mulyana, M.Sn (Anggota Penguji/Direktur Pascasarjana ISI Surakarta)

- Dr. I. Nyoman Murthana, S.Kar., M.Hum (Anggota Penguji/Ketua Prodi Penciptaan/Pengkajian Seni Program Doktoral ISI Surakarta)

Ini merupakan ujian disertasi S3 (Program Doktor) atas nama Sulaiman Juned mahasiswa Program S3 pada ISI Surakarta. Ujian direncanakan akan berlangsung pada hari Jum'at tanggal 27 Mei 2016. (al)

Diskusi Publik ICAIOS 20 Mei 2016 : Jejak Yahudi di Aceh

Banda Aceh, Jum'at (20/05)ICAIOS mengadakan serial diskusi publik ke 17 untuk tahun 2016 dengan tema “Jejak Yahudi di Aceh”. Narasumber diskusi ini adalah Teuku Cut Mahmud Aziz, dosen pada Universitas Almuslim di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireun. Teuku Cut Mahmud Aziz melakukan kajian jejak Yahudi di Aceh dengan melakukan kajian pustaka, observasi pemakaman Yahudi, dan mewawancarai informan di Aceh, Surabaya, Jakarta, Singapura, Semarang, Penang, dan Belanda, termasuk keturunan dari orang Yahudi yang pernah tinggal di Aceh yang saat ini menetap di London, Manchester, dan Hongkong. Teuku Cut telah membantu meyakinkan keluarga Yahudi di Australia untuk merenovasi kuburan Yahudi di Semarang dan keluarga Yahudi di Manchester, London, dan Hongkong untuk merenovasi kuburan Yahudi di Banda Aceh (khusus kuburan keluarga Bolchover).

Kehadiran orang Yahudi di Nusantara kurang disadari meskipun catatan sejarah menunjukkan persinggungan mereka dengan Nusantara sejak zaman dahulu. Pada abad ke 9, perahu seorang pedagang Yahudi dari Sohar – Oman bernama Ishaq ben Yahuda yang sedang dalam perjalanan ke Tiongkok ditahan di Sumatra dan pedagang tersebut terbunuh. Arsip Geniza dari abad 11 yang ditemukan pada sebuah Sinagog di Fustat, Mesir menunjukkan adanya hubungan perdagangan antara Mesir, India, dan Nusantara. Arsip tersebut memaparkan adanya seorang pedagang Yahudi dari Mesir yang berlayar ke Fansur (saat ini terkenal dengan nama Barus) di Tapanuli Tengah dan meninggal di sana (Goitein, 1970 dan 1973). Pada Abad Pertengahan, kaum Yahudi yang bepergian ke Nusantara umumnya adalah kaum Sephardic dengan tujuan perjalanan untuk berniaga. Mereka menempuh perjalanan laut dari Mesir ke Aden, dan dari Aden ke India, dan kemudian Nusantara. Mengingat perjalanan laut saat itu sangat bergantung pada cuaca dan angin, para pedagang tersebut umumnya tinggal beberapa bulan di sekitar pelabuhan Nusantara untuk berniaga sambil menunggu musim untuk kembali berlayar.

Pada Abad 20, kehadiran Yahudi di Nusantara sulit dipisahkan dari sejarah Dutch East India Company (VOC) dan Belanda. Pada tahun 1921, seorang utusan Zionis bernama Israel Cohen yang berkunjung ke Hindia Belanda menyatakan bahwa ada sekitar 2.000 Yahudi tinggal di Jawa. Mereka umumnya datang dari Eropa Tengah, Rusia, Irak, Aden, Belanda, India, dan Singapura. Saat itu, sebagaian besar orang Yahudi menetap di Surabaya (Hamonic 1996). Bahkan Sebuah Koran “Erets Israel”, sebuah koran zionis pernah terbit di Kota Padang sejak tahun 1926 yang ditutup ketika Jepang menginvasi Indonesia pada tahun 1942.

Dalam konteks Aceh, peneliti menemukan data di tahun 1689 orang Yahudi yang bernama Abraham Nabarro yang bekerja sebagai tranlator pernah berkunjung ke Aceh, yang datang dari Malaka (Fischel, 1960: 135 dalam Brakel, January 1975). Pada abad ke-18, orang Yahudi yang bernama Isrealiet Abraham Geheeten bekerja sebagai linguis pada Kesultanan Aceh Darussalam (Djajadiningrat, 1911:204 in Brakel, January 1975). Dalam observasi dari bukti arkeologis, Teuku Cut menemukan 23 makam Yahudi yang memiliki komplek sendiri di sebelah komplek Kerkoff (Peutjoet), meski peneliti lain menyatakan bahwa terdapat 24 makam di komplek pemakaman tersebut. Makam-makam tersebut dibuat saat Belanda masih berada di Kuta Radja (Banda Aceh). Observasi pada nisan makam menunjukkan bahwa makam tertua menuliskan tahun 1882 dan terbaru bertarikh 1942.

Sebagian besar Yahudi di Aceh yang datang pada masa Hindia Belanda berasal dari Rumania, khususnya dari Kota Botosani, Bojan, Piatra, Harlou, dan Braila. Ada juga yang berasal dari Rusia dan Austria. Bahasa yang tertera di pemakaman adalah bahasa Ibrani, Belanda, dan Jerman (bukan Yiddish). Umumnya mereka adalah penguasa, pedagang, dan ada juga yang menjadi polisi pada Pemerintah Hindia Belanda. Umumnya menetap di Kuta Radja, selain itu mereka juga menetap di Meulaboh, Sabang, Pidie, Lhokseumawe, dan kemungkinan Bireuen. Mendiskusikan keberadaan Yahudi di Aceh, tidak terlepas dari keberadaan nama-nama, Tuan Noi di Keudah, Tuan Petruk di Sabang, Tuan Handziris (data terakhir ditemukan bahwa Handziris yang menetap di Spordex, berkebangsaan Yunani), dan keluarga Solomon, serta keluarga Yahudi yang cukup terkenal, yaitu keluarga Bolchover yang memiliki lahan perkebunan kelapa yang luas di daerah Kuta Radja dan Meulaboh yang keduanya kemudian disebut dengan Gampong Blower/Belower (sekarang Sukaramai). Pemakaman Yahudi di Kerkoff merupakan hasil donasi dari Avram Meir Bolchover, yang buktinya tertulis pada pintu masuk pemakaman (sekarang sudah tidak ada lagi), “This gate was donated to the Israelite cemetery by the late A. M. Bolchoner [!] who passed away on 24 June 1897” (Glaser 1991:32 dalam Brakel dan Teuku Cut Mahmud Aziz). Pada tahun 1912, keluarga Bolchover meninggalkan Aceh dan pindah ke Manchester. Keturunan dari keluarga Bolchover dari Manchester dan Hongkong pernah datang menjumpai Teuku Cut Mahmud Aziz di Banda Aceh. Saat ini Teuku Cut telah memiliki draf “The Bolchover of Kuta Radja, Untold Story” untuk dibukukan. (al)

Tiga Mahasiswa Umuslim Akan Mengikuti Konferensi Internasional di Thailand

Peusangan, Sabtu 14 Mei 2016, bertempat di Kampus Ampon Chik Peusangan Universitas Almuslim (Umuslim), tiga Mahasiswa Umuslim, yakni Bilal Faranov (Mahasiswa FISIP Prodi Administrasi Negara), Maulida (Mahasiswa FISIP Prodi Administrasi Negara), dan Saljuli Lestari (Mahasiswa FKIP), serta seorang Alumnus Umuslim, Saiful Amri, S.Pd (Konsultan Lokal Pendamping Desa Kecamatan Kuta Blang) menemui Teuku Cut Mahmud Aziz, Dosen FISIP Umuslim untuk mendapat pengarahan sebelum mereka berangkat ke Thailand. Rencananya besok pagi mereka akan berangkat ke Medan, dan pada Senin pagi pukul 05.35 dari Bandara Kualanamu Medan akan menuju Bangkok, Thailand. Bila tidak ada halangan, mereka akan tiba di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok pada pukul 08:15 pagi.

Keberangkatan Mahasiswa Umuslim ke Thailand untuk mengikuti Konferensi Internasional tentang Perdamaian, Agama, dan Kebijakan yang dihelat di Chulalungkorn University di Bangkok, Ibukota Thailand pada17-18 Mei 2016. Mereka akan menjadi delegasi Aceh di forum tersebut. Konferensi ini akan dibuka oleh Menteri Pendidikan Thailand dan akan dihadiri pakar dari berbagai negara seperti dari Eropa, Amerika, Australia, dan Asia. Chulalongkorn University merupakan salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara. Keikutsertaan mereka ke Thailand telah lama dipersiapkan dan tidak terlepas dari rekomendasi Teuku Cut Mahmud Aziz. Sebelumnya Teuku Cut telah membekali mereka dengan pemahaman Cross-Cultural Understanding, bagaimana membangun network dan kerjasama internasional, bagaimana membangun kepercayaan diri di forum internasional, serta kemampuan akan kepekaan membaca gejala sosial. Sedangkan Drs. Nurdin Abdul Rahman, M.Si selaku Direktur Kantor Urusan Internasional (KUI) membekali dengan kemampuan berbahasa Inggris, pengetahuan hubungan internasional, serta bagaimana membangun kepercayaan diri di lingkup internasional.

Keberangkatan mereka mendapat dukungan penuh dari pimpinan universitas. Rektor Umuslim, Dr. Amiruddin Idris dan Wakil Rektor III Umuslim, Drs. Saiful Hurri, M.Si memberikan dukungan penuh dan apresiasi yang luar biasa. Demikian juga dari Direktur KUI (Drs. Nurdin Abdul Rahman, M.Si) dan pimpinan fakultas, seperti Dekan FISIP (Drs. Ridwan AR, M.M), Wakil Dekan III FISIP (Rahmad, S.Sos, MAP), Dekan FKIP (Dra Zahara,M.Pd), dan Wakil Dekan III FKIP (M. Taufiq, M. Pd) beserja jajaran pimpinan prodi dan dosen memberi dukungan penuh dan doa atas keikutsertaan mahasiswa pada konferensi internasional. Karena kehadiran mereka di Thailand akan mengharumkan nama Universitas Almuslim dan Provinsi Aceh.(al)