Pengabdian Alumni Umuslim di Belantara Papua


Berawal dari cita-citanya  ingin mengabdi pada ibu pertiwi, akhirnya terwujud juga itulah  Muhammad Zaki, S.Pd lulusan Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan tahun 2014.

Petualangan Zaki seorang pemuda Aceh mengabdi di pedalaman Papua  berawal ketika pada bulan desember 2015 mengikuti  seleksi  suatu program pemerintah yang digelar secara nasional yaitu program  Guru Penggerak Daerah Terpencil melalui program Pokja Papua Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta  yaitu suatu program pengabdian untuk daerah pendalaman di Papua.

Muhammad Zaki merupakan satu-satunya  peserta dari Aceh yang lulus dari ratusan peserta seluruh Indonesia dan lokasi penempatan lulusan FKIP Umuslim tersebut yaitu di Distrik (Kecamatan) Mbiandoga Kabupaten Intan Jaya.

Sejak ditugaskan ke pedalaman Papua mulai Januari 2016, Muhammad Zaki pemuda kelahiran Cot Kruet Kecamatan Makmur Kabupaten Bireuen,  banyak suka duka dan pengalaman baru selama  berpetualang untuk mengabdi di pelosok Papua demi  mendidik putra-putri yang berada di Provinsi ujung timur Indonesia tersebut.

Sebelum mengikuti program tersebut setelah menamatkan pendidikannya  dari Universitas Almuslim Peusangan Zaki mengabdi sebagai  guru honorer  di  SMP Negeri 5 Sawang Aceh Utara,  itulah tahap awal yang dilakoni Dek Ki panggilan akrabnya.

Mengabdi di pedalaman Papua bukan hal yang mudah, apalagi dengan kondisi lingkungan, sosial, adat, budaya, bahasa dan agama yang jauh berbeda dengan situasi di Aceh, namun karena semangat sebagai seorang pendidik semua itu dilalui dengan ikhlas dan sabar oleh Zaki.

Kata bahasa  Amanoe, Amakanee dan Abuwak yang merupakan kata-kata sehari-hari masyarakat Papua sudah sangat melekat dalam ucapan sehari-hari Muhammad Zaki, budaya dan bahasa timur sangat kental dalam tutur katanya.

Menurut cerita Zaki  “Kondisi pendidikan di Papua sangat jauh berbeda dengan apa yang saya lihat dan rasakan di daerah terpencil Aceh. Papua masih sangat tertinggal dan serba kekurangan. Topografi wilayah yang bergunung-gunung membuat Provinsi ini benar-benar terisolir, bahkan tidak ada jalan akses sama sekali,” jelas Zaki.

Tambah Zaki lagi bahwa perjalanan dirinya  menuju tempat tugas  telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya, dimana  Untuk mencapai sekolah tempat dia mengajar di Distrik Mbiandoga, Zaki harus terbang dengan pesawat perintis dari Kabupaten Nabire, Lama terbangnya sekitar 20 menit  dengan harga tiket Rp 2 juta sekali terbang.

Setelah turun dari pesawat di sebuah landasan yang dikelilingi ilalang kawasan Intan Jaya, Zaki  masih harus berjalan kaki naik-turun gunung sekitar dua jam baru mencapai sekolah sedangkan kalau berjalan kaki dari kecamatan Intan Jaya, mereka harus berjalan kaki selama dua hari dua malam dan  setengah hari itu untuk mendaki gunung saja. 

Jika tidak ada pesawat, lanjutnya kalau  berjalan kaki dari Nabire ke tempat tugasnya butuh waktu satu minggu, ini pun dengan asumsi tidak ada gangguan di jalan, seperti binatang buas atau sedang perang antarsuku. Bukan rahasia, lantaran banyaknya suku yang mendiami kawasan tersebut, perang kerap terjadi.

Di sekolah Zaki mengajar, SD Inpres Mbiandoga, usia murid antara 15-25 tahun. Murid tersebut hanya punya satu baju sekolah di badan yang diberikan Zaki. Inilah satu-satunya baju yang mereka pakai, untuk selamanya. “Proses belajar mengajar tanpa alat apa pun, tidak ada papan tulis, kapur, dan alat peraga lainnya,” 

Kadang-kadang sesekali Zaki berkreasi dengan  menggoreskan tulisan di tanah dan daun kayu dengan lidi maupun kayu,  Tetapi itu bukanlah cara yang efektif dalam mengajar. Hembusan angin dan rintik hujan telah menyebabkan semua goresan tersebut akan hilang.

Lokasi  Zaki bertugas di kecamatan Intan Jaya belum ada aliran listrik, jaringan HP, pasar, apalagi akses internet. Apabila memerlukan semua akses tersebut mereka harus menuju ke ibu kota kabupaten Nabire dengan  waktu perjalanan selama tiga hari berjalan kaki. 

Di Nabire semua kebutuhan sehari-hari tersedia seperti beras dan bahan pokok lainnya, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Seperti misalnya beras dengan berat 25 kg harganya Rp 1,8 juta, gula Rp 50.000/kg dan ongkos pesawat barang bawaan dihitung Rp 30.000/kg, belum lagi ongkos pesawat yang mencapai Rp 2 juta sekali terbang.

Setelah  tiba di Kabupaten Intan Jaya, Zaki biasanya menginap di hutan terlebih dahulu satu malam, kemudian mengirim kabar  kepada  siswa untuk menjemput barang bawaan. Itupun kalau suasana daerah aman, karena di daerah papua kerap terjadi perang suku, apabila  sedang terjadi perang suku, berarti kita harus menunggu dulu sampai perang tersebut reda.

Di distrik  (kecamatan) Mbiandoga sendiri terdiri dari 8 Suku dan 8 bahasa daerah, sehingga untuk berkomunikasi dengan masyarakat sangat susah, apalagi 95% masyarakat tidak bisa berbahasa Indonesia. Kondisi sosial masyarakat sekitar terhadap kami sangat baik, namun kondisi perekonomian masyarakat benar-benar menyesakkan dada. mereka tidak mengenal mata uang dan bahkan makanan pokoknya ubi (Boh Kupila-dalam bahasa Aceh).

Pakaian yang dipakai masyarakat sangat lusuh dan koyak. Untuk mendapatkan baju kaos ke Nabire, misalnya, warga butuh biaya hampir Rp 5 juta, terutama karena mahalnya ongkos transportasi, di sisi lain warga tidak ada penghasilan  sama sekali.

 “Kondisi peserta didik, jangankan untuk mengenal menteri pendidikan, Presiden saja mereka tidak tahu, dengan keterbatasan inilah kami coba perkenalkan pendidikan kepada masyarakat, kami dituntut lebih aktif, kreatif, dan bersifat sosial,” tulis  Muhammad Zaki  mantan honorer di SMPN 5 Sawang yang dikirimkan ke email Kabag Humas Umuslim.

Menurut Zaki sebelum mengajar mereka  harus mempersiapkan kebutuhan siswa dan pembelajaran sehingga mampu melaksanakan PBM (Proses Belajar Mengajar) sebagaimana yang diharapkan. 

Kondisi yang paling sulit bagi saya dalam melaksanakan tugas adalah jalan akses dan makanan, masyarakat di sini berbeda  makanan pokok dengan kita di Aceh, sehingga butuh penyesuian untuk semua itu tulis Muhammad Zaki.

Perjalanan kami guru penggerak daerah terpencil, menitikkan air mata dan rasa kesal terhadap pembangunan pendidikan yang masih standar sebelum tahun 1945, di sini dalam menjalankan pendidikan kami bekerjasama dengan pihak Gereja terutama dalam pengiriman bahan makanan dan transportasi pesawat ke pedalaman jelasnya.

Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan salam hormat kepada Rektor Universitas Almuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi sebagai tulang punggung Universitas Almuslim yang selalu memotivasi dan memberikan keteladanan bagi kami untuk terus mengabdi bagi kemajuan pendidikan dan masyarakat di manapun berada.

Dan juga kepada seluruh Dekan, dosen dan seluruh civitas akademika  Universitas Almuslim yang tercinta. Salam Rindu dan Ucapan terima kasih khususnya kepada Ibu Dekan FKIP Dra. Zahara, M.Pd Bapak Drs. H. A. Wahab Ismail, MPd (mantan Ketua Prodi bahasa Indonesia), Dra. Indani, M.Pd, Nurmina, M.Pd, Ezmar,MPd, Afnidar, SE dan seluruh Dosen/Staf yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membimbing dan membantu selama menuntut ilmu di Universitas Almuslim Peusangan.

Buat teman-teman dan adik-adik mahasiswa, teruslah  bersemangat, tetap teguh dan berusaha untuk diri kalian dan bercita-citalah mengabdi untuk bangsa ini. 

Menurut saya Universitas Almuslim adalah sebuah wadah/rahim yang melahirkan generasi untuk menjadi cerdas, berpendidikan dan lebih baik sehingga bermanfaat bagi masyarakat, nusa dan bangsa.

Kisah ini diceritakan, semoga menjadi inspirasi terhadap kita semua dalam menjalankan roda pendidikan. karena masih banyak bangsa Indonesia di pelosok pedesaan  yang belum mengetahui apa-apa, sehingga kita yang sudah merasakan merdeka harus mampu meningkatkan dan mempertahankan menjadikan pendidikan lebih baik, di samping itu teruslah belajar, berkarya terutama terhadap pendidikan di seluruh penjuru nusantara harap Muhammad Zaki.

Tantangan berat yang dihadapi putra Aceh dalam melakukan pengabdian di tanah Papua ini menurutnya  jika dinikmati indah sekali,  apalagi bisa berbaur dengan adat, budaya dan keluarga baru menjadi suatu motivasi bagi dirinya dalam melaksanakan pengabdian demi mencerdaskan anak bangsa.

Cerita ini seperti yang disampaikan Muhammad Zaki, S.Pd kepada Kabag Humas Umuslim, kemudian diteruskan kepada Al Azhar/ Staf Khusus Wakil Rektor IV/ Humas dan Kerjasama. (al)

 

Apel Senin Pagi Awal Bulan Oleh Ka. Biro Umum dan Keuangan

Kampus Induk, Senin (03/10) Apel pagi awal bulan kali ini yang bertindak sebagai 'inspektur apel'  Chairul Bariah, SE., MM Ka. Biro Umum dan Keuangan. Apel yang diikuti jajaran Rektorat, dekan, dosen, serta staf Umuslim berlangsung di halaman Fikom Umuslim.

Pada amanatnya beliau berpesan agar meningkatkan kedisiplinan, baik disiplin datang, pulang maupun kegiatan yang mengisi tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Baik menggunakan baju seragam yang telah ditentukan, penggunaan badge yang telah diberikan.

"Jika ada yang tidak mau menggunakan badge atau tanda pengenal yang diberikan mohon dikembalikaan kepada kami," demikian tegas Ka. Biro Umum dan Keuangan.

Tambah beliau rasa kecintaan kepada Umuslim lebih ditingkatkan, dengan cara apabila hendak pulang di sore hari mematikan alat-alat elektronik atau listrik yang tidak digunakan, mematikan air di kamar mandi apabila telah penuh, dengan demikian terjadi penghematan listrik demi kepentingan kampus tercinta.

Selesai apel pagi acara 'coffee time' mempererat hubungan antara staf dan dosen di lingkup Umuslim, tiada jarak diantara civitas academica Umuslim. (al)

Orang Di Belakang Layar Yang Mengajar Bahasa Indonesi Buat Mahasiswa Jepang di Umuslim

Kampus Induk, Senin (10/10) Seorang anak muda berperawakan tinggi berkulit hitam manis dan mudah senyum, sehari-hari bertugas sebagai staf di Wakil Rektor IV/Humas dan Kerjasama. dan merangkap di Guest House Umuslim. Pemuda yang penuh talenta, yang sudah mengabdi di lingkup Umuslim selama empat tahun. Dialah Heri Gustami, S.Kom.secara struktural beliau tidak bertanggung jawab untuk pandai tidaknya mahasiswa Jepang berbahasa Indonesia.

Akan tetapi karena rasa memilikinya terhadap lembaga ini begitu tinggi dia tak sungkan-sungkan menjadi 'Bapak Asuh' buat Natsuko Mizutani dan Kaito Fukagawa. Sepulang kuliah anak muda beda kebangsaan dan agama tersebut bagaikan keluarga, apa-apa yang tidak dipahami di ruang kelas karena terkadang kesalahan pemahaman komunikasi, dengan sabar pemuda Nicah Peusangan ini memberi bantuan pemahaman.

Sampai terkadang mengajari anak muda Jepang ini dalam meramu menu untuk masakan yang bakal disantapnya sepulang dari mengikuti kuliah. Tanpa mengeluh Heri panggilan akrabnya berusaha membuat mahasiswa asing ini betah bagaikan di negeri sendiri.

"Saya berusaha sebaik mungkin dalam menyambut kehadiran mereka, apalagi tim Wakil Rektor IV yang begitu solid membuat tidak ada yang menjadi hambatan bagi saya. Mudah-mudahan program ini berkelanjutan sehingga membawa dampak positif bagi kedua negara dan bangsa dan juga bagi Universitas Almuslim Bireuen serta Nagoya Gakuin University Jepang,"demikian tegas Heri.

Malahan Hari Raya Idul Adha yang baru lalu kedua mahasiswa Jepang tersebut pulang ke rumah Heri pagi-pagi sekali, dan ikut berhari raya di Gampong Nicah. (al)

 

Kodim 0111/Bireuen Gelar Lomba Baca Puisi dan Donor Darah

Makodim Bireuen, Senin (26/09)Dandim 0111/Bireuen Letkol Arm. Adekson melalui Kasdim 0111/Bireuen Mayor Arm Haryanto, S.sos didampingi Pasipers Dim 0111/Bireuen Lettu Inf Mashudi di desa Blangbladeh komplek. mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan HUT TNI ke 71 tahun 2016.

“Kegiatan ini sebagai wadah untuk mereflesikan hal-hal yang positif kepada siswa SD dalam Kabupaten Bireuen agar kecintaan kepada pejuang/ pahlawan dan mengenal TNI lebih dekat lagi," ungkap Kasdim.  

Lomba Baca puisi perjuangan ini menjadi agenda penting untuk menumbuhkan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air di lingkungan pelajar sejak usia dini. Di samping mempererat rasa persatuan dan kesatuan sehingga membentuk watak serta perilaku bertanggung jawab atas negeri tercinta ini, demikian ungkap Kasdim.

Bertindak sebagai Ketua Tim Juri Lomba Baca Puisi Perjuangan; Al Azhar, SS dari Universitas Almuslim, anggota Dr. Sujiman A. Musa, MA Warek IV Universitas Almuslim, dan Agusmaidi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen.

Adapun pemenangnya adalah; Juara I dari Wilayah Koramil Samalanga dengan nilai  2.403, Juara II Kutablang dengan nilai 2.380, dan yang menduduki peringkat III Peusangan dengan nilai 2.315.

Universitas Almuslim mengirimkan staf dan dosennya untuk mengikuti donor darah di Makodim 0111/Bireuen bersamaan dengan acara Lomba Baca Puisi Perjuangan. (al)

Dosen Umuslim Pemateri Pelatihan Pembuatan Pakan Ternak

Peusangan Siblah Krueng, Senin (03/10) Ariani Kasmiran,SPt.,MP dosen prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen menjadi pemateri pelatihan pembuatan pakan ternak metode  fermentasi, amonisasi dan hijauan yang dilaksanakan oleh Karang Taruna Muda Sepakat Gampong Rambong Payong Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, yang digelar  di Gampong tersebut .

Menurut  Ketua Karang Taruna Kabupaten Bireuen Zulkifli,M.Kom, pada pembukaan pelatihan  tersebut menyampaikan apresiasi yang  tinggi atas upaya dan kreativitas anggota Karang Taruna  Muda Sepakat, pihaknya akan memberikan perhatian penuh dengan memfasilitasi setiap program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Selain Ariani Kasmiran dosen Umuslim pada pelatihan tersebut juga tampil Drh.Murdani (pengurus Karang Taruna Kabupaten Bireuen) yang pernah mendapat pelatihan bidang pertanian dan peternakan Karang Taruna Nasional di Bogor beberapa waktu lalu.

 “Saya mengajak para  anggota Karang Taruna yang berada di gampong  agar  terus kreatif berbuat dan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat, baik bagi dirinya maupun masyarakat secara umum, saya siap memfasilitasi dengan mendatangkan para pemateri dan tenaga ahli untuk membantu pembimbingan dan penyuluhan bagi pemuda gampong", ungkap Zulkifli.

Program ini sangat bagus  harapan kita semoga  ini dapat diikuti oleh Karang Taruna  lain dengan program yang bersifat pemberdayaan lain yang bisa langsung dilaksanakan pemuda gampong seperti pembuatan jamur merang, ikan air tawar dan produk olahan dari berbagai potensi yang ada di gampong.

Panitia Pelaksana M.Heri,SPd alumni FKIP Umuslim yang didampingi geuchik Rambong Payong Junaidi,SE menjelaskan bahwa peserta pelatihan ini sebanyak 65 orang berasal dari pemuda gampong Rambong Payong dan gampong  sekitar, tujuannya untuk memberikan keterampilan kepada peserta agar mempunyai keahlian dalam amoniasi jerami dan fermentasi hijauan untuk pakan ternak dan juga untuk memperkenalkan pada warga bahwa limbah jerami padi dapat dijadikan pakan ternak bernutrisi, serta memanfaatkan limbah pertanian yang sangat banyak pasca panen

Acara turut dihadiri Camat Siblah Krueng, para Geuchik dan masyarakat peternak dari desa sekitar lokasi pelatihan. (al-zul)

 

“Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh”, Sebuah Karya Buku Yang Layak Menjadi Rujukan Pemerintah Daerah

Kabupaten Bireuen, Ahad (25/09), Dua akademisi Universitas Almuslim, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si dan Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil, M.A telah merampungkan penulisan buku yang berjudul “Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh.” Buku ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun tahun 2014 dengan mengumpulkan data di 5 Kabupaten, yaitu Kabupaten Bireuen, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Pidie Jaya. 

Pada bagian pertama buku ini mengulas Bireuen dalam lintasan sejarah sebagai gateway dalam mengamati, mengkaji, dan menganalisa potensi dan keanekaragaman sumber daya alam dan ketersediaan sumber daya manusia di daerah yang bersangkutan. Kita sering membanggakan kebesaran sejarah masa lampau tapi tidak mampu menempatkan porsi sejarah sebagai bagian dari heritage (warisan atau pusaka) dan sumber pendapatan ekonomi daerah. 

Bagian kedua membahas potensi ekonomi yang ada di Kabupaten Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Utara. Komoditi-komoditi unggulan yang terdistribusi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan dan kelautan menjadi fokus kajian dan analisa. Demikian pula, pada bagian ketiga yang membahas potensi ekonomi Bireuen pada sektor-sektor yang disebutkan di atas dengan tambahan penjelasan pada objek sejarah dan wisata. Penulis menggunakan acuan dan variabel yang bersumber dari Indonesia Investment Coordinating Board dan Badan Pusat Statistik (BPS). 

Bagian keempat, membangun argumentasi Bireuen Sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh; membangun ekonomi Bireuen berbasis riset, UMKM, dan Entrepreneurship; dan menginisiasi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Secara kultural dan sosiologis, proses transformasi dan kemajuan akan berhasil dan tepat sasaran, jika dimulai dengan adanya perubahan paradigma atau cara pandang dalam melihat dunia. Untuk itu, Pemerintah Daerah harus mampu memprediksi potensi dan keberlangsungan pendapatan daerah, cerdas, kreatif, dan inovatif dalam menangkap peluang dan mengelola sumber-sumber pendapatan daerah dan juga potensi ekonomi yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, dan Aceh Utara. Karena secara geografis, keempat daerah ini menyanggah Kabupaten Bireuen yang menjadi lokus bagi segitigas emas ekonomi Aceh. Bireuen menjadi Kota Transit yang menghubungkan dan sekaligus berfungsi memberi layanan kepada sejumlah kabupaten dan kota lain di pantai timur serta kabupaten-kabupaten di pedalaman Aceh (Prof. Nazaruddin Sjamsuddin). Selain itu, buku ini merangkum ide, pemikiran, gagasan, formula, strategi, dan yang terpenting mengajak pembaca untuk mengetahui dari mana kita mulai untuk memajukan Bireuen. Pada akhir buku ini pembaca diajak untuk berimajinasi akan bentuk dan masa depan Bireuen yang kita dambakan.

Dalam pengantar buku (sekapur sirih), Prof. Nazaruddin Sjamsuddin, M.A, Ph.D, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia yang merupakan putra Aceh kelahiran Bireuen, selain Nezar Patria (Tokoh Pers Nasional, Putra Aceh), mengemukakan Buku ini sebenarnya ingin menyampaikan pesan bisnis, baik kepada warga di Kabupaten Bireuen maupun masyarakat di luarnya. Pesannya adalah “Ini Bireuen dan ini potensinya. Apa yang Anda mau dan bisa lakukan?”. Pesan ini sungguh menantang dan sekaligus juga memberi harapan. Ditambahkan Fachrizal A Halim, Ph.D, Dosen di College of Arts and Science, University of Saskatchewan, Canada yang memberikan endorsement, “Buku ini merupakan rujukan yang penting, bukan saja bagi calon penanam modal (investor) dan pengambil kebijakan, akan tetapi juga bagi masyarakat Aceh pada umum-nya.” Buku ini layak menjadi rujukan, tidak hanya bagi Pemerintah Daerah Bireuen dan kalangan investor, namun juga penting bagi kalangan akademisi & peneliti, entrepreneur, dan stakeholders serta Pemerintah Daerah di seluruh Provinsi Aceh. Selamat Membaca! (Popon, al)