Sambai Oen Peugaga, Penganan Khas Bulan Puasa

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

SETIAP daerah di Indonesia memiliki beragam jenis penganan khas dan unik yang dapat dinikmati ketika berbuka puasa. Malah ada penganan yang hanya muncul saat bulan puasa. Seperti di Aceh, salah satu penganan khas dan unik adalah sambai oen peugaga (sambal daun pegagan) dan hanya dibuat atau dijual pada bulan puasa. Walaupun namanya sambal (sambai) tapi hidangannya seperti urap sayur yang diaduk dengan kelapa parut atau giling. Keunikannya, sambai ini diracik dari aneka dedaunan yang berjumlah 44 jenis dedaunan.

Di Aceh pegagan (Centella asiatica alias gotu kola) dikenal dengan sebutan peugaga, sandanan (Papua), semanggen (Indramayu, Cirebon), daun kaki kuda (Melayu), antanan (Sunda), piduh (Bali), daun tungke (Bugis), pagaga (Makassar), jalukap (Banjar), ampagaga (Batak), dan gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (Jawa).

Pegagan adalah jenis tanaman liar yang banyak tumbuh di pematang sawah atau kebun, bahkan di tepi jalan atau di tempat-tempat yang lembab atau sejuk. Tumbuhan dataran rendah ini banyak ditemui di negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur. Sejak ribuan atau ratusan tahun lalu, di Tiongkok, India, dan Indonesia tanaman ini telah digunakan sebagai bahan utama ramuan obat tradisional dengan khasiat menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti melancarkan aliran darah, mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan daya ingat, menghilangkan atau menyamarkan stretch marks di kulit, kesehatan mental, penyakit sendi, mengobati alzheimer, dan mencegah hipertensi. Tanaman obat ini kaya akan beta karoten, asam lemak, asam amino, asam asiatik, dan lain sebagainya (Informasi yang termuat dalam Hellosehat.com, Liputan6.com, dan Setyawati, Titiek dkk., 2015).

Selain untuk pengobatan, tanaman ini juga digunakan sebagai bahan utama produk perawatan kulit, kapsul klorofil, dan produk teh. Kalau kita buka Bukalapak.com, di sana tertera pegagan dijual seharga Rp40.000 per kg. Harga ini terbilang tinggi yang berarti memiliki prospek secara ekonomi dan berpotensi untuk dibudidayakan secara besar-besaran.

Di Aceh, sambai oen peugaga selalu dicari pada saat bulan Ramadhan tiba. Namun, tidak mudah untuk menemukan tempat atau gerobak dadakan yang menjamur di bulan puasa yang menjual sambai ini. Hanya ada di tempat-tempat tertentu, seperti kalau di Banda Aceh dijual di Pasar Peunayong, di Jalan Tgk Pulo di Baroh di Gampong Baro (dekat Garuda dan Masjid Raya Baiturahman), di Ulee Kareng, di Lamteumen di dekat Ditlantas Polda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

Dalam amatan saya, jumlah orang yang menjualnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Saya mengetahui ini karena penganan ini salah satu makanan favorit saya. Ketika berada di Banda Aceh, setiap sore saya membelinya untuk kudapan berbuka.

Saya teringat pada tahun 90-an, untuk membantu orang tua membuat sambai oen peugaga, saya mencari peugaga di pekarangan rumah dan juga di sela-sela rerumputan pada tanah lapang di sekitar rumah yang berada di Lorong II Gampong Lamlagang, Banda Aceh. Pada saat itu masih mudah untuk menemukan tanaman ini. Tapi sekarang, walaupun tanah lapangnya masih ada, tapi tanaman ini sudah tak ada lagi. Walaupun ia tumbuh liar, tapi tidak mudah untuk menemukan di tempat atau gampong lainnya.

Demikian juga di Matang Glumpang Dua, Bireuen, tempat saya bertugas, setiap akan berbuka puasa saya selalu mencari sambai oen peugaga. Setidaknya ada tiga lokasi yang menjual sambai ini, yaitu di jalan dekat pasar tradisional Matang, di pasar baru dekat terminal, dan di perempatan lampu merah Kota Matang Glumpang Dua, jalan yang menuju Jangka. Matang Glumpang Dua merupakan ibu kota Kecamatan Peusangan. Di kota kecamatan inilah tempat lahirnya universitas swasta terbaik di Aceh, yaitu Universitas Almuslim dan juga tempat lahirnya salah satu kuliner legendaris Aceh, yaitu satai matang.

Di Matangglumpang Dua orang menyebut sambai oen peugaga dengan sebutan sambai peugaga atau sambai oen. Bahan racikan sambai terdiri atas daun pegagan (bahan utama), daun jeruk purut, daun serai, rebung kala, bunga pepaya, daun jarak (lawah), daun sigeuntot, daun pucuk jambu muda, daun tapak liman, daun mengkudu, daun pucuk mangga, daun kemangi, beberapa kelopak bunga, daun ubi-ubian, dan beberapa daun lainnya.

Sebelum dicincang dan diiris halus, daun-daun ini dicuci terlebih dahulu, kemudian diuapkan. Jika salah mengolahnya maka aroma daun akan tercium kurang sedap. Akibatnya, sambai yang dibuat juga akan terasa tidak gurih dan lezat. Yang mengolahnya juga harus sabar karena pengirisan dilakukan secara manual. Kalau tergesa-gesa, hasil irisan akan kasar dan terlihat tidak menarik.

Irisan dedaunan ini, lalu diaduk dengan kelapa parut atau giling atau juga kelapa gongseng dan ditambah dengan asam sunti, udang, dan kacang goreng yang telah dihaluskan. Kemudian dicampur dengan rajangan cabai rawit atau cabai merah atau hijau dan bawang merah. Dapat dibayangkan, dengan ragam racikan seperti ini, jika kita mencicipinya maka rasanya akan terasa lezat dan gurih. Keharuman daun-daunnya juga dapat kita rasakan.

Dalam dialog dengan Kak Era, penjual gado-gado dan pecel, termasuk sambai peugaga di perempatan lampu merah Matangglumpang Dua, ia mengatakan bahwa tidak setiap hari ia menjual sambai ini. Karena daun peugaga belum tentu ada setiap hari di pasar baru. Kalau ada maka baru ia beli dan buat. Kalau dijual, pasti laku karena setiap hari pasti ada yang membeli. Yang membeli kalangan lanjut usia atau orang tua. Anak-anak muda sudah tidak mau makan penganan ini.

Penjual sambai oen peugaga yang lain adalah Ibu Salbiah Usman, asal Gampong Bugak Blang, yang utamanya menjual beragam bumbu dapur di jalan dekat pasar tradisional Matang. Ia mengatakan hal yang sama bahwa yang suka makan penganan ini adalah kalangan orang tua. Anak-anak muda tak begitu suka, mungkin karena aroma atau rasanya.

Saya tanya ke Ibu Salbiah, “Apakah racikan sambai yang Ibu buat lengkap dengan 44 dedaunan?”

Ia jawab, “Pada hari pertama hingga empat hari puasa, daunnya lengkap hingga 44. Tapi setelah itu tidak lagi. Karena tidak semua orang suka. Ada yang tidak suka dengan aroma atau rasanya. Sekarang kalau diracik sekitar 4-5 dedaunan saja.”

Karena penasaran, saya tanya lagi,”Mengapa sampai 44 dedaunan?” Ia lalu jelaskan,”Orang tua saya dulu juga ngomong 44 jumlah daun. Saya tidak tahu mengapa. Itu sudah dari sananya, dari warisan indatu.”

Ditambahkan lagi, “Allah memberi keistimewaan di bulan Ramadhan. Segala daun kayu yang kita makan tidak akan mabuk. Kalau kita makan di luar bulan puasa, bisa mabuk. Karena di antara 44 dedaunan ini, banyak yang tidak cocok. Ada daun yang kalau dicampur dengan daun yang lain, jika dimakan, maka orang akan mabuk. Tapi di bulan Ramadhan, kita tidak akan mabuk. Semua bisa dimakan. Daun yang berjumlah 44, diibaratkan kira-kira sebanyak itu dedaunan yang bisa dimakan manusia.”

Di samping itu ia katakan, “Dedaunan yang kita makan ini adalah daun-daun muda. Daun-daun ini akan bertasbih untuk orang yang memakannya. Kita akan dimuliakan.” Apa yang dikatakan Ibu Salbiah saat ini telah menjadi fakta ilmiah bahwa tumbuhan juga bertasbih dan bersujud kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Dalam sehari, sambai peugaga milik Ibu Salbiah laku 40 hingga 50 bungkus. Per bungkusnya dihargai Rp 5.000. Di balik kekhasan dan keunikannya, tentu ada simbol dan makna budaya yang perlu untuk dikaji lebih lanjut

 

Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/2019/06/03/ dengan judul Sambai oen peugaga penganan khas bulan puasa

You are here: Home News and Events Sambai Oen Peugaga, Penganan Khas Bulan Puasa