Tradisi Meugang ala Pengantin dan Tukang Jamu

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan.

Di Aceh ada satu tradisi yang tidak ada di tempat lain, yakni tradisi mak meugang atau sering disebut meugang saja. Yaitu, hari penyembelihan sapi atau kerbau dalam jumlah banyak untuk dimakan bersama keluarga jug dalam porsi yang banyak.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan dulu. Dalam setahun ada tiga kali masyarakat Aceh meugang, yaitu meugang puasa, meugang menjelang Hari Raya Idulfitri, dan menjelang Hari Raya Iduladha.

Di bumi Ampon Chiek Peusangan, Kota Matangglumpang Dua, Bireuen, mak meugang dilaksanakan dua hari. Hari pertama dinamakan meugang kecil, hari kedua dinamakan meugang rayeuk (besar). Saya seperti biasa membeli daging pada hari meugang pertama (kecil). Di pagi meugang kemarin, sekitar pukul 06.15 WIB cahaya di langit begitu cerah, saya dan suami menuju pasar tradisonal Kota Matangglumpang Dua untuk membeli daging sapi.

Meski masih hari meugang kecil, tetapi suasana kota menyambut Idulfitri sudah mulai menggeliat. Perjalanan ke pasar tidaklah terlalu jauh dari kediaman saya. Diiringi embusan angin pagi yang segar, kami terus melaju melewati beberapa toko dan warung kopi yang masih tutup. Namun, ada beberapa toko rempah yang sebagian karyawannya sedang bersiap-siap menunggu pelanggan. Karena hari ini meugang, tentunya akan banyak pembeli yang datang.

Saya mulai bergerilya dari arah barat ke timur mencari tempat yang pas di mana saya bisa membeli daging dengan kualitas bagus. Belum sempat membeli, di depan sebuah toko saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Herman bersama istrinya. Dia cerita bahwa sebagai pengantin baru ini untuk kedua kalinya dia ke pasar mencari daging karena dia harus mengasapi dua dapur, satu dapur orang tuanya, satu lagi dapur pengantin baru.

Sambil bergurau dengan istrinya, saya bertanya, “Apakah daging pengantin baru sudah masak? Kalau boleh, undang saya makan.” Dia pun tersipu malu.

“Bagaimana perasaan setelah menyerahkan daging meugang kepada mertua?” tanya saya untuk memecahkan suasana yang sedikit tegang. Kemudian Herman dengan malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya saat hendak ijab kabul dua bulan lalu, dia sudah galau, disergap perasaan takut dan gelisah. Terbayang dua bulan lagi menghadapi mak meugang. Dalam pikirannya sempat terbersit mampukah ia membeli daging meugang untuk mertua dan orang tua dengan penghasilan yang pas-pasan? Namun alhamdulillah, menurut Herman, dia mampu memenuhi kewajibannya hari ini dari hasil tabungan semasa lajang. “Biar sedikit gaji tapi berkat,” katanya. Bahkan uangnya pun cukup untuk membeli keperluan dapur sama dengan yang saya beli.

Nah, membeli daging meugang adalah tradisi di Aceh dan seakan menjadi keharusan untuk membawa pulang daging minimal 2 kg untuk sang mertua dan orang tua. Hal ini umumnya berlaku untuk yang berstatus menantu laki laki, walaupun sudah punya cucu, tapi kalau masih memiliki orang tua/mertua, maka ia wajib membeli daging di hari meugang, lengkap dengan bumbu dan bahan lainnya, sebagaimana disampaikan seorang kakek yang sedang membeli daging dan turut mendengarkan obrolan kami.

Karena masih harus membeli ikan dan lainnya, sahabat saya itu pun mohon diri. Kami berpisah. Kemudian saya lanjutkan gerilya pasar. Di luar dugaan, saya bertemu dengan seorang penjual jamu yang saya panggil “Bik Iyem”. Asalnya dari Jawa. Saya bertanya, apa sudah beli daging? “Belum,” jawabnya. Lalu saya tawarkan untuk jalan bersama, dia setuju. Sambil berjalan dia tuturkan bahwa membeli daging sapi di hari meugang juga tradisi bagi diri dan keluarganya, walaupun di kampungnya tradisi seperti ini tidak ada. “Karena kami pendatang, maka kami pun melaksanakan meugang sebagaimana orang Aceh. Kan tidak mungkin kalau keluarga saya hanya mencium wanginya masakan daging tetangga,” katanya tertawa

 

Membeli daging di hari meugang sudah lama dilakukan Bik Iyem. Ibaratnya dia bekerja selama sebelas bulan dalam setahun habis untuk satu bulan pada bulan Ramadhan. “Khusus bulan Ramadhan kami tidak mencari nafkah (tidak berjualan jamu), tetapi menggunakan tabungan untuk membeli daging di hari meugang, baik meugang puasa maupun meugang menyambut Idulfitri, karena menjelang Ramadhan kami juga ada mak meugang di rumah,” ungkapnya.

“Kalau ada dana lebih, kami pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga, tetapi ini sudah tiga tahun kami tidak pulang,” ungkap Bik Iyem dengan mata berkaca-kaca.

Setelah bercerita kami pun berhenti di salah satu pedagang daging sapi, kemudian kami lakukan penawaran harga, tetapi negoisasi tak mencapai kesepakatan. Akhirnya, kami cari lapak lain lagi, sampai daging dan harga yang kami inginkan tercapai. Akhirnya kami pun berpisah sambil menenteng belanjaan masing-masing.

Selanjutnya saya menyeberang jalan membeli bumbu karena lokasinya terpisah dari penjual daging. Di hari meugang tidak hanya ada penjual daging, tetapi penjual bumbu kering, bumbu basah siap saji, ikan, udang, dan beraneka ragam sayuran sebagai pelengkap untuk masak daging pun ada. Uniknya, di lokasi pasar meugang pun ada orang yang menjual pakaian, kantong plastik, bahkan berdagang obat (meukat ubat).

Masyarakat semakin siang semakin ramai yang datang, membuat saya harus berdesak-desakan. Pagi itu langit sedikit mendung, perlahan tapi pasti matahari mulai memancarkan sinarnya sehingga pedagang dan pembeli makin bersemangat. Tak terasa keringat saya bercucuran karena jalan setapak yang saya lewati lumayan jauh. Ditambah lagi posisi penjual dan pedagang daging di sisi jalan nasional, sehingga sulit untuk menyeberang ke lokasi parkir. Ada juga yang sembarangan parkir di sisi jalan.

Meugang di Aceh merupakan tradisi yang masih bertahan sampai hari ini. Semua masyarakat di Aceh baik penduduk asli maupun pendatang seakan wajib membeli daging sapi atau kerbau di hari meugang. Walaupun harga daging relatif mahal jika dibandingkan pada hari biasa, harganya rata-rata antara Rp 140.000-Rp 150.000, di hari meugang bahkan mencapai Rp 200.000, namun tidak menyurutkan niat masyarakat untuk membelinya.

Seharusnya dalam hukum ekonomi semakin banyak permintaan maka harga semakin turun atau stabil, tapi ternyata di hari meugang hukum itu tidak berlaku, bahkan harga kebutuhan pokok lainnya pun turut melonjak. Hal ini membuat sebagian kalangan bawah menjerit dan tak mampu berbuat apa-apa, sebagaimana diungkapan seorang ibu rumah tangga yang penghasilan suaminya pas-pasan dengan tanggungan lima orang anak.

“Ya, mau tak mau kami harus membelinya, walau terkadang ada juga tetangga dan keluarga yang membantu, tapi tidaklah cukup.” Dia juga mengeluh mengapa bahan pokok ikut naik harganya, bukankah seharusnya stabil atau lebih murah? Sejenak saya terdiam, lalu menjawab mungkin modal pedagang itu yang mahal, sehingga harga jualnya ikut mahal. Kemudian saya tinggalkan ibu itu yang sedang fokus memilih sayuran. Saya pun bersama suami pulang ke rumah.

Sesampai di rumah saya terpikir tradisi meugang ini memang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya yang unik, bahkan kalau perlu didaftarkan ke Unesco sebagai bentuk dari warisan budaya dunia tak benda, mengingat keunikan meugang hanya ada di Aceh. Selain itu perlu juga ada perhatian dan kebijakan dari pihak terkait dalam mengatur harga daging sehingga setiap warga dari golongan bawah dan menengah dapat menikmati daging meugang penuh kegembiraan, bukan justru dengan kegelisahan dan rasa waswas, seperti pengalaman yang dirasakan pengantin baru dan tukang jamu yang saya temui saat di pasar daging tadi.

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com/04/06/2019/ di rubrik Jurnalisme warga dengan Judul Tradisi meugang ala pengantin dan tukang jamu.

 

You are here: Home News and Events Tradisi Meugang ala Pengantin dan Tukang Jamu