Asyiknya Menari ‘Likok Pulo’ di Solo

 

 

OLEH NATSUKO MIZUTANI, mahasiswi asal Jepang, peserta program Darmasiswa di UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Solo, Jawa Tengah

SAYA sedang berada di Solo, Jawa Tengah. Hadir ke sini dari Banda Aceh dalam rangka acara penutupan Program Darmasiswa Tahun Akademik 2018/2019 yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI)Solo. Peserta kegiatan ini mahasiswa dari seluruh dunia yang sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas seluruh Indonesia selama sepuluh bulan.

Program Darmasiswa adalah program tahunan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas di Indonesia.

Saya ikut Darmasiswa karena beberapa alasan. Pertama, ingin belajar bahasa Indonesia. Sebelumnya saya sudah belajar bahasa Indonesia dua tahun enam bulan di Jepang, dan setahun lagi saya belajar di Aceh saat ikut pertukaran pelajar kerja sama Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Bireuen.

Pada akhir program Darmasiswa, peserta disuruh tampilkan berbagai budaya daerah Indonesia. Kami yang mengikuti program ini di UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menampilkan tarian Aceh, likok pulo. Tarian tradisional Aceh ini kami tampilkan di hadapan perwakilan dari negara lain, peserta program Darmasiswa se-Indonesia, juga pejabat lainnya.

Tim tarian kami hanya empat orang, saya Natsuko Mizutani asal Jepang bersama Toyly Ashyev dari Turkmenistan (Asia Tengah) yang belajar di UIN Ar-Raniry, sedangkan Alagie Salieu Nankeyasal dari Gambia dan Nooreena Makeji asal Thailand belajar di Unsyiah. Walau hanya empat orang, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menarikan likok pulo.

Sebelum pementasan di Solo, kami berlatih tarian ini sejak Maret 2019. Latihan seminggu dua kali, dipandu seorang guru dari Prodi Sendratasik FKIP Unsyiah. Saking senangnya, pada bulan puasa lalu pun kami tetap latihan.

Saat tampil berbusana Aceh, saya memakai pakaian yang cukup sopan, pakai hijab, dibalut pakaian Aceh bersulam benang emas. Yang laki-lakinya memakai kopiah dan selipkan rencong di pingang. Gagah sekali mereka.

Saya sangat tertarik dan senang bisa belajar likok pulo, tarian Aceh yang sangat khas. Gerakannya unik sekali. Untuk memainkan tarian ini kita harus benar-benar fokus dan kuat fisik karena gerakannya tak boleh berhenti sebelum ada aba-aba dari syeh. Gerakannya cepat dan payah, apalagi saya dan teman masih agak kaku, tetapi saya sangat senang. Para penari duduk berlutut dengan sopan, berbanjar dengan sandaran bahu sejajar, gerakannya dimulai pelan, lama-lama begitu cepat, dan serentak.

Likok pulo ini banyak sekali gerakannya. Semua badan harus bergerak, seperti geleng kepala, tangan, badan, ada yang gerak ke atas, ke samping, juga seperti gerakan senam ke atas kepala

Bagi saya, bagian tersusah dari tarian ini adalah pada syairnya, karena harus diucapkan dalam bahasa Aceh. Sangat sulit lidah kami mengucapkan syair sesuai yang telah kami tulis di kertas.

Saat syair dimulai, rasanya semangat untuk bergerak langsung timbul, bersemangat melakukan berbagai gerakan, awal-awal lambat kemudian tiba-tiba cepat, dinamis, dan bersemangat sekali. Sangat asyik menarikannya. Saya tak bisa melupakan tarian ini.

Saat kami persembahkan tarian itu pada acara perpisahan di Solo, semua yang hadir bertepuk tangan. Penonton sangat senang dan suka tarian yang kami tampilkan. Pokoknya, saya asyik sekali menarikan tarian ini. Sangat berkesan. Tarian ini benar-benar tidak saya jumpai di negara lain.

Walau permainan dan gerakan kami masih janggal dan banyak salah-salah, kami harapkan orang Aceh maklum, karena kami latihan hanya beberapa minggu saja. Semoga satu waktu nanti saya dan kawan-kawan bisa belajar lebih mahir lagi dalam menarikan likok pulo.

Di Solo kami berjumpa kawan-kawan seluruh dunia. Meski kami belajar bahasa di universitas yang berbeda di Indonesia, tapi dengan adanya acara tersebut kami bisa mengenal satu sama lain.

Begitu juga dengan teman satu grup yang dari Aceh, walau belajar di fakultas berbeda, ada dari UIN-Ar Raniry dan Unsyiah, tetapi saat tampil membawa tarian kami kompak dan akrab, karena kami belajar dan latihan tarian secara bersama.

Sebelumnya, saat ikut kuliah di Umuslim Bireuen saya juga pernah belajar tarian saman (ratoh jaroe) dengan teman-teman di sanggar Umuslim. Tariannya juga sangat membutuhkan gerakan cepat, tapi mengasyikkan. Gerakan tarian ini harus seragam dan kompak, kalau tidak bakal bentrok gerakan sesama penari dan tariannya jadi tak bagus dipandang mata.

Selain tertarik pada tariannya, saya juga tertarik pada Aceh. Sudah empat kali saya ke Aceh. Pertama, saya datang belajar di Umuslim Matangglumpang Dua. Saya tahu Indonesia cuma Aceh saja. Waktu penutupan program Darmasiswa kemarin, itulah pertama kali saya keSolo. Saya sudah hampir dua tahun tinggal di Aceh. Ke Solo rasanya agak aneh, karena saya baru tahu bahwa Solo juga bagian dari Indonesia. Saya pikir, Indonesia itu hanya Aceh dan budaya Aceh saja. Pengalaman ke Solo kemarin rasanya saya seperti jalan-jalan ke luar negeri. Hehehe.

Bagi saya, itu sangat berharga dan menyenangkan karena saya semakin tahu tentang Indonesia, bertemu teman-teman berbagai negara, menampilkan tarian dan budaya dari daerah tempat mereka belajar selama di Indonesia.

Dalam waktu bersamaan merasa senang sekaligus sedih, karena akan berpisah dengan teman-teman dan kami akan pulang ke negara masing-masing. Saya kembali ke Jepang pada 15 Juli 2019. Rasanya sangat berat bagi saya meninggalkan Aceh. Aceh sangat terkesan bagi hidup saya, sulit melupakannya. Saya ingin berlama-lama di sini, saya mau kembali lagi ke sini, tapi tak tahu kapan

Aceh telah memberikan banyak ilmu dan kenangan bagi saya, banyak teman dan saudara saya di aceh. Arang aceh sangat baik dan ramah, semua senang dan sayang pada saya. Selama tinggal di Aceh saya dibantu oleh Kantor Pusat Layanan Internasional UIN Ar-Raniry dan Office International Affair (OIA) Unsyiah baik dari segi akademik maupun nonakademik. Begitu juga saat saya kuliah dua semester di Umuslim, saya dibantu Kantor Urusan Internasional Umuslim.

Terima kasih semuanya dan terima kasih Serambi Indonesia yang telah memuat tulisan saya. Saya akan kembali ke Jepang, mungkin nanti akan saya coba tulis lagi pengalaman saat saya di Jepang.

Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Kemendikbud RI, KBRI Tokyo, Osaka, Kantor Imigrasi Kelas I Banda Aceh, UIN Ar-Raniry, Unsyiah, dan Umuslim, dosen, ibu angkat, kawan-kawan, dan orang tua teman yang tidak bisa sebutkan satu per satu yang telah membantu dan menjadi teman baik dan orang tua angkat saya, serta mau mengajarkan berbagai hal dan ilmu kepada saya selama di Aceh.

Agustus mendatang dua orang teman saya dari Nagoya Gakuin University Jepang akan kuliah di Universitas Almuslim Bireuen selama setahun dalam program pertukaran pelajar. Saya mohon mereka dibantu, agar kawan saya juga sukses belajar dan betah seperti saya di Aceh. Saya berharap kita dapat berjumpa kembali di lain waktu. Teurimong gaseh, arigatou

 

Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com/2019/07/05/ dengam judul Asyiknya menari likok pulo di solo

 

 

You are here: Home News and Events Asyiknya Menari ‘Likok Pulo’ di Solo