Dana Desa Geliatkan Wisata Pantai Pangah

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Kecamatan Gandapura yang ibu kotanya Geurugok merupakan gerbang utama memasuki wilayah Kabupaten Bireuen dari arah timur. Geurugok salah satu kecamatan yang perkembangan kewirausahaannya lebih cepat dibandingkan beberapa kecamatan lainnya di Bireuen.

Di sini terdapat wisata kuliner terkenal, “sate Apaleh” yang sudah masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2019. Selain itu, satu lagi yang mulai mengeliat adalah wisata pantai, lokasinya tak terlalu jauh dari Pasar Geurugok, tepatnya di Gampong Ie Rhob.

Akhir pekan lalu, saya dan keluarga berlibur ke destinasi wisata tersebut, Pantai Pangah namanya. Saya tahu informasi lokasi wisata ini dari beberapa teman. Cerita mereka bikin saya penasaran sehingga walau tinggal puluhan kilometer dari lokasi, saya tetap berkunjung ke Pangah.

Hanya butuh waktu beberapa menit dari Geurugok menuju Pantai Pangah. Saat itu kondisi cuaca panas menyengat, tapi saya dan keluarga tetap semangat menuju destinasi wisata baru di Kabapaten Bireuen ini. Ruas jalannya berbeton dan sedikit berliku, hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat. Jika berpapasan, maka salah satu kendaraan harus mengalah, karena bersisian dengan tambak warga.

Tiba di gerbang Pantai Pangah, embusan angin laut sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami. Hawa panas tertepis seketika. Kami parkir kendaraan dengan pelayanan yang ramah dan baik, rasanya tak sebanding dengan harga tiket parkir yang tak seberapa. Keramahan di pantai ini langsung terasa di lini terdepan, yakni saat pengunjung memarkir kendaraan roda empat maupun roda dua karena juru parkirnya menyapa dan mengarahkan posisi parkir dengan ramah.

Menggeliatnya Pantai Pangah sebagai destinasi baru wisata pantai di wilayah Bireuen tidak terlepas dari kucuran dana desa. Pantai ini dikelola masyarakat Desa Ie Rhob dengan memanfaatkan dana desa melalui BUMDes. Menurut Keuchik Ie Rhop, Ahmad Banta, desa berpenduduk 247 jiwa itu dulunya merupakan desa terisolasi. Baru tahun 2015 mulai sedikit agak berkembang.

Awalnya Pantai Pangah hanyalah lahan tidur di bibir pantai yang penuh kotoran, baik sampah maupun kotoran binatang. Lalu tokoh masyarakat Desa Ie Rhob bermusyawarah. Lahirlah ide untuk memanfaatkan lahan tidur tersebut. Melihat potensi yang begitu bagus, hasil musyawarah desa itu mendapat dukungan dari Ismail Adam (Anggota DPRK Bireuen), Pemkab dan Dinas Pariwisata Bireuen. Selain itu, ada masukan pemikiran dari Tazbir Abdullah, pakar wisata nasional/mantan kepala dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Muspika Gandapura, perangkat desa, beberapa organisasi dan Lembaga Sosial Masyarakat serta tokoh lainnya juga memberi dukungan lahan tidur dijadikan lokasi wisata, bahkan mereka ikut terlibat mengerakkan dan melibatkan masyarakat dalam program ini “Alhasil, dengan dukungan penggunaan dana BUMDes kami mulai berbenah. Mustahil rasanya membangun semua ini dengan modal yang sangat kecil,” jelas Geuchiek Ahmad Banta.

Setelah mendapat suntikan dana desa, masyarakat gotong royong membersihkan lahan. Berkat kerja sama dan semangat kekompakanlah, keberadaan pantai ini makin mengeliat. Pantai yang menghadap Selat Malaka ini, pelan tapi pasti, telah meningkatkan taraf perekonomian masyarakat Desa Ie Rhob dan sekitarnya. Semua masyarakat terlibat dalam pengelolaan pantai ini. Sejak Pantai Pangah dibuka, di desa ini tak ada lagi warga yang menganggur, semua terlibat dalam pengelolaan pantai. “Hanya manula saja yang tinggal di rumah,” ujar Keuchik Ahmad Banta.

Kerja sama antarwarga, terutama para pemuda Desa Ie Rhob, telah menyulap tempat yang dulunya terkesan sebagai tempat “jen boh aneuk” ini kini berbanding terbalik keadaannya. Lokasi tersebut telah menjadi incaran warga untuk piknik. Setiap hari dikunjungi warga yang ingin bersantai, baik perorangan maupun kelompok. Hampir setiap minggu banyak instansi, dinas, dan komunitas menggelar acara outbound, kegiatan santai, dan sosial lainya di sini.

Begitu tiba di Pantai Pangah, pada gerbang sisi kiri dan kanannya, kita sudah disambut dengan beraneka ragam bentuk kreasi hewan seperti kuda laut, landak, dan badak dengan warna natural, tanpa dicat. Hasil kreasi dan inovasi masyarakat ini dibuat dari kayu sisa sampah yang terdampar di pinggir pantai. Dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menarik. Saya begitu kagum melihatnya. Yang membuatnya pastilah memiliki jiwa seni yang tinggi.

Spot ini tentu saja menjadi lokasi menarik bagi yang hobi berswafoto. Di sini juga disediakan bingkai foto besar bertuliskan Facebook yang di bawahnya tertera “Pantai Pangah, destinasi wisata keluarga, indah, nyaman, aman, dan islami. Sebagai tempat selfi, spot ini memberikan suatu daya tarik tersendiri sehingga banyak pengunjung yang berpose di sini.

Di Pantai Pangah juga berjejer warung makanan yang dikelola masyarakat dan tertata rapi. Bak gadis yang sedang bersolek, Pantai Pangah terus berbenah dengan berbagai fasilitas untuk memanjakan pengunjung agar betah dan nyaman menikmati liburan. Juga tersedia lokasi mandi dan tempat permainan anak-anak dengan sentuhan alam yang nyaman untuk balita, tapi harus tetap dalam pengawasan orang tua.

Keunikan lainnya, saya dapati saat ke toilet, ada beberapa pesan kreatif yang ditulis dalam bahasa menarik. Salah satunya “Ingat, ini misi rahasia, jangan tinggalkan jejak apa pun di toilet.” Menurut Pak Ahmad Banta, ide itu timbul saat ia berkunjung ke luar daerah. Waktu itu ia sempat membaca pesan yang mirip dengan yang kini ia cantumkan di toilet Pantai Pangah.

Untuk memberikan kesan natural, kepada pengunjung disuguhkan berbagai minuman panas yang airnya dimasak langsung di lokasi menggunakan kayu bakar atau tempurung kelapa. Di sini juga disediakan jasa penyewaan alat masak dan peralatan makan seperti piring, gelas, dan sendok yang dikelola oleh pengurus PKK gampong.

Uniknya lagi, demi kenyamanan pengunjung, pengelola tidak menyediakan aliran listrik di tempat wisata ini. Tujuannya, agar tak ada pengunjung yang menghidupkan musik sehingga membuat suasana bising dan masyarakat seputar pantai terganggu. Kalau ada kelompok yang ingin bikin acara di sini, mereka cukup membawa mik wireless saja.

Menurut Keuchik Ie Rhop, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama sejumlah pejabat provinsi dan Bireuen pernah berkunjung ke Pantai Pangah. “Di sini harus kita bangun pariwisata halal. Pendapatan yang diperoleh masuk ke kas gampong,” wejang Nova Iriansyah seperti dikutip Keuchik Ie Rhop.

Pantai Pangah memang pantas dikembangkan menjadi salah satu lokasi wisata syariah, lokasinya teduh, nyaman, dan jauh dari kebisingan. Hal lain yang sangat mengagumkan adalah dukungan masyarakat yang luar biasa terhadap usaha pariwisata di gampong tersebut. Semua warga, khususnya pemuda, terlibat aktif dalam pengelolaan pantai ini. Tidak ada lagi pengangguran di gampong ini, kecuali mereka yang malas saja.

Pantai dibuka pukul 08.00-18.00 WIB setiap hari, kecuali hari Jumat tutup total. Mari rekreasi ke Pantai Pangah, objek wisata bahari yang layak dinikmati bersama keluarga dan kerabat, juga pantas dicontoh oleh wilayah pesisir lainnya.

 

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Dana Desa Geliatkan Wisata Pantai Pangah, 31/07/2019/

 

You are here: Home News and Events Dana Desa Geliatkan Wisata Pantai Pangah