SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan

 

 OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen.

 ANAK adalah anugerah dan harta terindah yang Allah berikan kepada setiap manusia yang dikehendaki-Nya. Seorang ibu membutuhkan perjuangan selama sembilan bulan lebih dan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Namun, tak jarang juga ada orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. Anak adalah titipan Allah, ada yang terlahir normal, ada juga yang memiliki kekurangan secara fisik. Tapi walau  bagaimana pun kondisinya orang tua tetap harus bertanggung jawab terhadap anaknya, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai pendidikan yang harus ditempuhnya.

Dalam rangka memperingati Hari Anak, saya berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Terpadu Bireuen yang beralamat di Jalan Cot Ijue Tanoh Mirah, Desa Cot Ijue, dengan  ditemani seorang sahabat. Saya bertemu langsung kepala sekolah dan mewawancara beberapa anak yang saya jumpai, begitu juga dengan gurunya.

SLB Negeri Terpadu Bireuen dirikan berdasarkan SK Nomor 421∕002∕2017 tanggal 1 Mei  2017 di area seluas 13.600m2, membina  pendidikan tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. Kepala sekolah pertama di SLB ini adalah Abdullah SPd, kemudian dilanjutkan Fitriana Spd. Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bu Rahmi, staf administrasi, tercatat 92 orang murid di SLB ini, terdiri atas guru TK 4 orang, SD 55 orang, SMP  22 orang, dan guru SMA 11 orang, ditambah tenaga administrasi empat orang.

Jenis kecacatan (disabilitas) atau kelainan yang dialami murid-murid di SLB Negeri Terpadu Bireuen ini adalah tuli (tunarungu) dan keterbelakangan mental (tunagrahita). Anak dengan status tunagrahita pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan biasanya terlihat dari kelainan fisik dan perilaku abnormal sehari hari, Penyandang cacat fisik (tunadaksa) dan murid autis biasanya terlihat dari pola perilaku, aktivitas, dan interaksinya yang cenderung terbatas dan berulang-ulang. Sekolah ini juga menerima murid yang buta (tunanetra) alias kedua matanya tidak dapat melihat, namun sampai saat ini belum ada yang mendaftar.

Sesampainya saya di dalam pekarangan sekolah langsung disambut ramah oleh para guru. Suasana saat itu ramai, karena baru selesai proses belajar-mengajar. Anak-anak berlarian, guru sibuk mengarahkan mereka agar tenang dan duduk manis menunggu jemputan. Namun, mereka tetap dengan dunianya.

Berada bersama mereka seakan berada di dunia yang lain. Melihat tingkah dan kegembiraan mereka tanpa terasa butiran bening bercucuran membasahi pipi, alangkah bersyukurnya saya dan keluarga yang dikaruniai  beberapa kelebihan  fisik dibandingkan mereka.

Murid yang diterima di sekolah ini tanpa batasan usia. Hanya saat ikut perlombaan ditentukan usia pesertanya, bahkan ada murid yang lebih tua umurnya dibandingkan dengan guru.

Penanganan pendidikan di sekolah ini tentu jauh berbeda dengan sekolah umum lainnya, untuk satu murid atau paling banyak biasanya ditangani oleh seorang guru, sedangkan khusus untuk murid yang autis ditangani oleh satu orang guru.

Menjadi guru di SLB bukanlah hal yang mudah, hanya orang-orang yang memiliki cinta kasih, keikhlasan, dan kesabaran yang mampu menjadi guru bagi anak-anak yang memiliki kelainan, sebagaimana diungkapkan Ibu Fitriana, ”Dalam mendidik murid di sini sangat diperlukan rasa cinta, kasih sayang, kelembutan, dan kesabaran yang tinggi, sebagai modal utama.”

Seorang guru bagi anak-anak yang disabilitas, tidaklah cukup dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, sebagaimana diungkapkan Dek Ya. Guru berparas cantik ini mengatakan bahwa sebelum mulai mengajar dia selalu menyapa lebih dahulu muridnya dan mengajak mereka bicara atau dengan gerakan layaknya dengan anak sendiri. Ia tak memaksakan murid untuk memahami sesuatu. “Biarkan dia dengan aktivitasnya, kita hanya membimbing dan memperlihatkan dengan gerakan, apa yang harus dilakukan. Bila anak sudah jenuh, tak ingin lagi belajar kita harus berhenti. Pokoknya dalam mengajar kita harus banyak sabar,” ujarnya.

Guru yang mengajar di SLB Negeri Terpadu ini semua sarjana berasal dari bidang studi berbeda. Menurut kepala sekolah, mereka harus mengikuti pendidikan lagi lebih kurang dua tahun untuk mengambil bidang studi yang sesuai, yaitu Pendidikan Luar Biasa (PLB), sehingga tujuan pendidikan di sekolah ini tercapai. Bagi saya, guru yang mengajar di sini adalah pribadi yang memiliki kesabaran lebih dan keikhlasan yang sangat luar biasa.

Sejak berdiri SLB Negeri Terpadu Bireuen banyak prestasi yang diraih muridnya.  Tahun 2018 muridnya menjuarai berbagai perlombaan antarmurid disabilitas yang dilaksanakan di wilayah III  Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Juara I lomba melukis tingkat SMA diraih oleh Rahmad (tunarungu), juara I pantomim diraih Zulfajar (tunarungu), dan juara I MTQ Tingkat SMP diraih oleh Azirna (tunagrahita).

Sedangkan tahun 2019 murid SLB ini mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan yang  dimiliki bukanlah kesedihan dan penghalang untuk bersaing dalam berkarya dan berjuang meraih prestasi. Buktinya, ada yang meraih juara I pantomin (Zulfajar), juara I lomba lari (Zulfikri), juara I borce (Satriana), dan juara melukis (Rahmad), juara menyanyi (Morina), dan juara tari kreasi (Elvina). Yang membuat saya sangat kagum adalah prestasi murid bernama Munawarliza. Meski tak bisa mendengar, tapi mampu mematahkan harapan peserta lainnya dalam lomba desain grafis yang diadakan di wilayah III. Ia meraih sebagai juara II. Sedangkan di tingkat provinsi, Zulfikri juara harapan I lomba lari. 

Tanpa terasa waktu sudah pukul 11.15 WIB. Karena hari Jumat, saya dan teman yang setia menemani sejak awal, pun pamit. Sebelum meninggalkan lokasi, salah seorang murid tunadaksa menyapa saya dan mengatakan, “Ibu datang lagi ke sini ya, masih ada kami, bawa mainan ya.” Sontak hati saya terenyuh dan dengan suara berat diiringi butiran air mata yang tanp terasa menetes saya menjawab, “Insyaallah ibu akan datang lagi.”

Pada saat itu juga saya saksikan seorang ayah menjemput anaknya sambil memeluk dan mengusap kepala dan menggendong si buah hatinya sambil menaikkannya ke atas sepeda motor.

SLB Negeri Terpadu Bireuen ini memang belum memiliki lahan dan peralatan permainan yang memadai untuk anak. Sekolah ini masih perlu perhatian dari pemerintah dan pihak swasta untuk mewujudkan sebuah sekolah yang berstandar layak untuk mendidik anak penyandang disabilitas.

Kunjungan saya kali ini sangat berkesan. Banyak pelajaran yang saya dapat dan mungkin bermanfaat juga bagi yang lain. Rasa syukur yang tak terhingga atas segala karunia-Nya, maka tugas kitalah sebagai manusia yang dilahirkan tanpa cacat untuk mencintai mereka dengan tulus, memperhatikan hak-hak mereka tanpa diskriminasi. Sungguh,  di balik kekurangan dan berbagai keterbatasan dirinya, mereka memiliki nikmat kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia normal. Mari kita hargai dan tempatkan mereka dalam kehidupan sosial secara wajar, karena mereka juga titipan Allah untuk kita.

 

Artikel ini pernah tayang di Serambinews.com tanggal /08/08/2019/dengan judul SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan.

 

You are here: Home News and Events SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan