Fenomena Warkop Gampong di Era Milenial

 

OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

KEBIASAAN masyarakat Aceh minum kopi di warung kopi (warkop) sudah menjadi tradisi secara turun-temurun dan mengakar di kalangan masyarakat. Kalau kita berkeliling ke setiap gampong di Aceh, seakan tak ada gampong yang tidak ada warkop.
Hampir semua sudut gampong pasti ada warkop, minimal satu gampong punya satu bahkan lebih, meski dekorasi dan arsitekturnya berbentuk warkop sederhana atau tradisional.

Karena kondisi yang seperti itu sampai-sampai ada pendapat bahwa orang Aceh itu pemalas atau tak produktif, karena setiap waktu asyik nongkrong di warkop.
Ada juga pendapat warkop merupakan  tempat menggali ide dan mendapatkan berbagai informasi, ruang untuk bersilaturahmi, berdiskusi,  dan membahas sesuatu yang terkadang memang penting sambil meneguk kopi, sehingga banyak orang menjadikan warkop sebagai ruang publik yang multifungsi.
Bentuk warkop gampong di Aceh umumnya sederhana dan  tradisional, mulai dari fasilitas meja kursi hingga peralatan pengolahan saringan tradisionalnya. Tak terkecuali menu pendamping kopi, kue basah bikinan masyarakat kampung yang diolah secara tradisional, misalnya, pulut panggang, pisang goreng, boh rom-rom (klepon), timphan, kue mangkuk, dan berbagai kue basah tradisional lainnya.

Warkop gampong terdiri atas dapur kopi dengan pemanas bara api, peralatan saring kopi, peralatan minum, rak tempat kue, deretan bangku, atau kursi panjang terbuat dari bahan kayu dan bambu ala desa. Warnanya pun warna alami yang terlihat sudah kusam, hanya sebagian kecil warkop  gampong yang kursinya terbuat dari plastik. Sebagian warkop di gampong rata-rata punya pelanggan tetap.

Setiap hari pelanggan nongkrong hanya untuk menikmati secanggir kopi, kecuali ada pertandingan sepakbola, tentunya pelanggan menghabiskan waktunya ngopi sambil menonton televisisampai pertandingan usai. Kalau lagi ada turnamen bergengsi tingkat dunia semua warkop berlomba memasang pelbagai perangkat parabola untuk mempermudah menangkap siaran. Pemilik warkop tak lagi menghiraukan konsekuensi pengeluaran  warkop, yang penting siaran langsung bisa lancar dinikmati oleh pemirsa yang sekaligus pelanggan warkop.

Bagi mayoritas masyarakat Aceh, menonton televisi di warkop, khususnya pertandingan sepak bola sambil menikmati segelas kopi mempunyai keasyikan dan kenikmatan tersendiri,  sehingga tidak heran apabila ada pertandingan bola bergengsi semua warkop penuh dan harus menambah kursi ekstra.
Pemesan kopi juga beragam, ada yang pesan satu gelas duduk satu jam, ada juga pesan setengah gelas alias kopi pancung, lalu duduk berjam-jam, sesuai kondisi keuangan pemesan.

Dulu kebiasaan orang tua di gampong saat ke luar dari pekarangan rumahnya menuju ke sawah, ladang, bahkan kantor, selalu memilih rute yang ia bisa singgah di warkop. Ya, hanya untuk menikmati secangkir kopi sambil bercengkrama dengan temannya sebelum menuju lokasi kerja masing-masing. Kondisi yang saya ceritakan di atas umumnya merupakan secuil kondisi warkop-warkop di Aceh tahun 2000 ke bawah.

Sedangkan kondisi saat ini (tahun 2000 ke atas) atau pasca tsunami kondisi tersebut tentunya telah berubah total.  Seiring perubahan kondisi warkop di gampong sedikit banyaknya juga telah mengikuti perkembangan warkop di kota-kota yang bertumbuh bak jamur di musim hujan,baik di ibu kota kecamatan, kabupaten, maupun level provinsi.

Kondisi hari ini ada warkop gampong yang justru mengikuti tren atau gaya warkop kota. Mereka mulai mendesain warkopnya menjadi kafe yang lengkap dengan fasilitas wifi 24 jam, kursi sofa, dan sajian kopinya pun mengikuti era masa kini. Tak lupa pula dirancang minimal  satu spot menarik untuk selfie.
Kita sangat bangga dan berterima kasih pada pengusaha warkop yang telah membuka usaha kafe sesuai kondisi zaman. Ini menandakan pemilik warkop punya visi dan wawasan  enterpreneurship yang bagus.

Minimal mampu membaca situasi peluang bisnis yang menjanjikan. Usaha-usaha tersebut telah pula mewarnai pertumbuhan kuliner Aceh dan meningkatkan ekonomi masyarakat menengah ke bawah dan membuka lapangan pekerjaan. Usaha dan kemajuan yang dijalankan kafe atau warkop semi kafe telah mewarnai proses peningkatan ekonomi masyarakat dan mempermudah beberapa pihak untuk  memperlancar proses tugas dan pekerjaannya yang serba online, baik sebagai pekerja, mahasiswa, dan anggota masyarakat lainnya.

Namun, di balik keuntungan positif dari kehadiran warkop modern tersebut banyak juga yang salah dimanfaatkan, sehingga bisa menimbulkan kemudaratan bagi perkembangan generasi muda dan masyarakat secara umum. Betapa tidak, dengan sistem hotspot internet 24 jam, ada kawula muda telah menyalahgunakan fasilitas tersebut untuk enjoy dan nongkrong tanpa ada batasan waktu dan adab seorang anak yang hidup di negeri syariat.

Bahkan banyak pula anak muda yang nongkrong di kafe atau warkop semi kafe sambil main judi online. Mereka duduk di warkop dengan gaya setengah sopan, duduk  jongkok kaki ke atas tempat duduk, bahkan ada juga yang sambil tiduran di kursi panjang, tanpa menghiraukan lagi orang tua yang kadang singgah untuk minum kopi.

Ada juga warkop atau kafe modern di kota besar saat azan, kadang menutup rapat pintu  tokonya sampai satu nyamuk pun tidak bisa masuk ke dalam kafe, teryata di dalam atau restoran  penuh dengan manusia yang asyik berselancar dengan internet tanpa menghiraukan  azan, atau pun suara mengaji dari setiap corong mikrofon masjid dan meunasah.

Fenomena ini bukan tidak mungkin suatu saat juga akan menjalar ke warkop semi kafe yang ada di tingkat gampong. Kita tentunya tidak alergi dengan perkembangan teknologi dan juga tidak membenci usaha warkop atau kafe, tetapi dengan kondisi seperti ini kita juga tidak ingin generasi Aceh hilang peradaban, krisis moral dan akhlak.

Kalau hal ini tidak diantisipasi, kita sangat mengkhawatirkan krisis moral akan menjadi "bom waktu" baru bagi Aceh, selain narkoba di tingkat gampong.
Inilah fenomena yang harus kita sikapi hari ini. Dulu warkop gampong seakan begitu santun, sederhana, dan adem ayem, tutup saat kegiatan keagamaan, pelanggan para orang tua duduk berdiskusi sebagai tempat refreshing dengan hidangan secangkir kopi ditemani kepulanasap rokok daun nipah.

Untuk mengantisipasi diperlukan perhatian dan upaya preventif dini, membuat aturan dan regulasi, tentunya perlu keterlibatan semua pihak, baik penguasa, pengelola warkop dan masyarakat agar usaha kuliner berjalan lancar dan maju, upaya menyelamatkan masa depan generasi muda juga berjalan baik.
Kondisi hari ini tentunya peran aktif orang tua untuk selalu memantau dan mengawasi remaja milenial harus ditingkatkan, kalau tidak diantisipasidari sekarang, apa yang pernah disampaikan Prof Farid Wajdi, mantan rektor UIN Ar- Raniry. "Ini musibah yang lebih besar dari bom atom," katanya. Ini karena kekhawatirannya melihat generasi muda yang duduk di kafe siang dan malam, dan kurang produktif dan efektif dalam pemanfaatan waktu.


Artikel ini telah pernah tayang  di Serambinews.com dengan judul Fenomena Warkop Gampong di Era Milenial, hari Jumat, 3 Januari 2020.


You are here: Home News and Events Fenomena Warkop Gampong di Era Milenial