MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan

Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Matang–begitu nama singkatnya--sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka sebagai basis perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda, perjuangan yang dipimpin oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap dan didukung oleh tokoh-tokoh perjuangan, seperti Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk H Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk Ridwan, dan lain-lain.

Strategi yang ditempuh tokoh Peusangan (sebelum pemekaran) pada masa perjuangan melawan penjajah adalah dengan mendidirikan lembaga pendidikan yang disebut dengan Jami’atul Muslim pada 21 Jumadil Akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1929 Masehi. Lembaga pendidikan itulah yang merupakan cikal bakal Yayasan Almuslim Peusangan yang membawahi Universitas Almuslim, IAI Almuslim, Pesantren Almuslim, juga SMA dan MA Almuslim,

Jadi, perjuangan yang dipelopori oleh umara dan ulama Peusangan waktu itu, bukan dengan fisik, melainkan yang lebih utama adalah dengan ilmu pengetahun. Tak heran kalau Kota Matangglumpang Dua juga dikenal sebagai kota pelajar dan banyak tokoh lahir dari kecamatan ini.

Menurut cerita orang-orang tua dulu, pada masa kepemimpinan Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), setiap warga masyarakat diwajibkan menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, seperti pohon kelapa, boh giri atau jeruk bali, sawo, langsat, dan berbagai buah-buahan lainnya.

Setiap warga Peusangan yang pergi ke hari pekan (uroe ganto) di Matangglumpang, Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah--populer dengan julukan Ampon Chiek Peusangan--merazia setiap sepeda warga yang pergi ke hari pekan. Apabila warga tidak membawa hasil kebun dari kampungnya, mereka disuruh pulang lagi ke kampung. Pokoknya, setiap warga yang datang dari kampung harus ada tentengan buah-buahan atau hasil kebunnya yang dibawa ke pasar.

Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal mengapa buah-buahan seperti pisang, pinang, jeruk bali atau boh giri, belimbing wuluh (bahan baku asam sunti), dan beberapa jenis buah-buahan lainnya banyak tumbuh di Peusangan. Berbagai komoditas inilah yang telah membawa kemakmuran dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kecamatan Peusangan sehingga banyak warga berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dari menjual hasil kebunnya.

Berbagai tumbuhan, baik buah-buahan maupun tanaman keras lainnya yang tumbuh di masa lalu teryata boh giri-lah yang merupakan buah-buahan yang bertahan dan masih populer sampai sekarang.

Kini, kalau sedang musim jeruk bali setiap hari berton-ton buahnya diangkut ke Medan dan Pulau Jawa, apalagi kalau saat menjelang Imlek, hari raya orang Tionghoa. Mereka biasanya langsung membawa mobil tronton datang ke lokasi dan memesan pada pemilik kebun jeruk bali.

Jeruk bali atau boh giri berdasarkan kesepakatan bersama para pengusaha, boh giri bali disebut boh giri matang, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan “boh giri bali”. Buah-buahan ini telah menarik perhatian banyak orang dan sekarang menjadi oleh-oleh andalan bagi tamu-tamu yang datang dari luar daerah ke Peusangan.

Jeruk bali (Citrus maxima atau Citrus grandis) asal mulanya juga bukan dari bali, melainkan buah asli dari Asia Selatan dan Tenggara. Departemen Pertanian menyarankan sebutannya adalah “pomelo” sebagaimana yang dikenal di dunia internasional.

Dalam rangka mengisi hari libur, saya berkunjung ke salah satu desa penghasil boh giri, yakni Desa Pante Lhong. Saya sempat bersilaturahmi dengan Ibu Syarbaniah, petani boh giri tradisional.

Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka perlu mengikuti langkah-langkah penanaman sebagai berikut:

Bibit tanaman bukan berasal dari biji, tetapi dicangkok selama tiga bulan agar cepat tumbuh;

Setelah itu dipotong dan dipindahkan ke dalam polybag selama satu bulan;

 Siapkan lubang dengan kedalaman minimal 50 cm, lebar 50x50 cm;

Tanam dengan jarak 7 meter antar pohon;

Bila tumbuh dengan baik maka akan dapat berbuah paling cepat pada usia 1,5 tahun dan secara normal akan berbuah selama dua tahun;

Beri pupuk kompos atau urea putih mulai dari enam bulan pemelihraan dan pada saat mulai berbuah serta disesuaikan dengan besar rimbun pohonnya dengan kedalaman area lubang 10 sampai 15 cm.

Untuk menjaga agar buah yang dihasilkan bagus, maka buah yang pertama hanya kita pertahankan sebanyak tiga buah, berbuah kedua sebanyak enam buah, berbuah ketiga spuluh buah dan berikutnya baru boleh sebanyak-banyaknya.

Untuk memilih boh giri yang baik sebaiknya perlu diperhatikan berat buahnya, kemudian pegang bagian bawahnya terasa lembek serta kulitnya terasa kasar. Agar rasanya nikmat dan lezat sebaiknya setelah dipetik dibiarkan selama satu minggu atau minimal lima hari baru dikupas. Berat jeruk bali berkisar 1-2 kg per buah, dengan diameter 15-25 cm.

Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.

Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan

 

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 08/05/2019/ dengan judul Mencicipi Jeruk bali di bumi Peusangan

 

You are here: Home News and Events MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI