Rujak Manis Kuta Blang warisan pak Guru yang perlu di pertahankan

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen

 Kuta Blang merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Jaraknya ± 15 km dari ibu kota kabupaten dan dapat ditempuh dalam waktu ± 20 menit. Kecamatan Kuta Blang memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selain dari hasil pertanian, perkebunan, juga perdagangan berupa unit usaha home industry. Salah satunya adalah usaha kuliner.

Dalam rangka mengisi waktu di bulan Ramadhan tahun ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, Chairul Bariah, dan suaminya sepakat ngabuburit ke Kuta Blang dan singgah di salah satu usaha kuliner yang terkenal dan telah menjadi buah bibir masyarakat, baik yang tinggal di Bireuen maupun pendatang dari daerah lain. Kuliner dimaksud adalah rujak manis yang dalam bahasa Aceh disebut lincah. Rujak manis ini berbeda dengan rujakbiasa yang buah-buahannya dipotong-potong lalu dilumuri manisan campur kacang. Sedangkan rujak manis khas Kuta Blang ini buah-buahannya diparut atau dicincang halus. Cara mengonsumsinya dengan diminum, sisanya baru disendok untuk dikunyah dan ditelan.

Lokasi penjualan rujak manis tersebut hanya berkisar 10 meter dari ujung jembatan Kuta Blang ke arah kanan menuju daerah Peusangan Siblah Krueng. Berikut ini Chairul Bariah akan menukilkan tentang rujak manis Kuta Blang secara panjang lebar.

Sebelum puasa Ramadhan sempat kami perbincangkan dengan beberap kolega di kantor tentang resep rujak yang menggiurkan itu. Padahal, di Kuta Blang bahkan tempat lain di seputaran Bireuen banyak yang menjual rujak sejenis, tetapi rujak Pak Guru ini memang beda dan tetap jadi idola para penyuka lincah. Alhamdulillah, saya bertemu langsung dan berbincang dengan anak kandung pemilik usaharujak manis yang diberi label “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” ini. Namanya Muhammad Taufik (17). Dia menuturkan bahwa ayahnya sudah meninggal setahun lalu, tepatnya menjelang Ramadhan. Ibunya bernama Erlida adalah guru PNS di MIN Pulo Siron Kuta Blang yang dulu setia mendampingi sang suami berjualan rujak manis.

Sebagai anak tertua dan satu-satunya pria dari empat bersaudara, saat ini Taufiklah yang mengelola dan melanjutkan usaha keluarga tersebut. Bisnis rujak manis ini telah dimulai sejak tahun 1974. Lokasinya pun sama seperti sekarang, hanya saja sekarang kawasan ini sudah ditimbun sehingga terlihat lebih tinggi dari arah sungai. Saat saya tanya-tanya tentang ayahnya yang merintis usaha tersebut, tiba-tiba Taufik menunduk dan suaranya mulai parau dan matanya berkaca-kaca saat berkata, ”Saya rindu bersama ayah dan keluarga, namun semua tinggal kenangan.”

Tanpa sadar saya pun ikut menitikkan air mata. Nama usaha “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” itu ditabalkan karena semasa hidup si empunya usaha, yakni Pal Jakfar, merupakan seorang guru. Tepatnya guru PNS di SD Negeri 8 Kuta Blang. Seyogianya beliau akan pensiun dua tahun lagi. “Tapi sudah sepuluh tahun ayah sakit, sudah berobat di dalam dan luar negeri, namun Allah lebih sayang pada ayah dan memanggilnya untuk kembali. Kami ikhlas,” katanya sembari berdoa, “semoga ayah ditempatkan di surga-Nya.” Kali ini Muhammad Taufik tampak menyeka matanya yang mulai berair.

Dalam suasana perbincangan yang mengharukan, tiba-tiba pemuda yang masih duduk di kelas 2 MAN Peusangan ini bangkit dari duduknya dan berusaha tersenyum. Ia pun berkata lirih, “Hidup ini harus kita lanjutkan.” Akhirnya saya pun bersemangat untuk melanjutkan diskusi dengannya. Menurut Taufik, untuk meneruskan usaha tersebut dia sudah mendapatkan resep warisan dari almarhum ayahnya. Hal ini dilakukannya demi untuk menjaga kenikmatan dan kelezatan rasa rujak sesuai dengan olahan tatkala orang tuanya yang meracik.

Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat rujak manis ini adalah mentimun, nanas, mangga, sawo, embacang (Mangifera foetida), dan beberapa buah-buahan manis lainnya. Kemudian diramu sesuai resep peninggalan orang tuanya. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, buah-buahan yang dicincang sebagai bahan dasar rujak haruslah yang berkualitas. Misalnya mangga, haruslah mangga yang manis dan berwarna kuning. Begitu juga dengan nanas, sawo, dan buah lainnya. Seluruh bahan tersebut sebelum diolah dicuci bersih, lalu dikupas, dicincang, dan diletakkan pada wadah yang tersedia, kemudian dicampur dengan sari gula asli yang dicairkan, ditambah sedikit cabai rawit yang dihaluskan, lalu diaduk dengan air.

Untuk menjaga agar airnya jangan terlalu banyak dan lebih nikmat, dapat ditambahkan es batu atau hasil racikan tadi dimasukkan ke dalam kulkas. Menurut Taufik, pada hari biasa dia butuh 300 kg buah dan 50 kg gula pasir untuk menghasilkan rujak manis. Sedangkan pada bulan Ramadhan kalau cuaca panas menyengat dalam sehari dia bisa menghabiskan 150 kg gula pasir, timun satu ton untuk dua hari ditambah buah lainnya.

Dalam menjalankan usaha warisan tersebut pada bulan Ramadhan ini Taufik dibantu oleh lima karyawan yang mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB. Tapi kalau pada hari biasa pekerjanya cukup tiga orang saja dan mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB. Usaha ini pada hari biasa dibuka mulai pukul 10.00-18.00 WIB, sedangkan pada bulan Ramadhan dimulai setelah shalat Asar sampai menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.30 WIB.

Menurut Taufik, harga rujak tersebut per gelas adalah Rp 5.000. Sedangkan yang sudah dikemas dalam plastik harganya Rp 10.000. Harga ini bertahan sudah cukup lama walaupun harga bahan naik, apalagi pada bulan Ramadhan harga bahan mahal dan susah didapat, tapi sudah ada langganan atau pemasok dari seputaran Bireuen yang siap sedia menyuplai buah-buahan yang berkualitas kepada Taufik.

Usaha rujak manis ini juga menerima pesanan untuk acara pesta atau kenduri dengan harga satu dandang ukuran kecil Rp 1.000.000, yang sedang Rp 1.500.000, dan yang besar Rp 2.000.000. Rujak manis ini banyak juga dipesan oleh instansi pemerintah dan swasta. Menurut M Rifal, karyawan yang bekerja pada usaha rujak manis ini, omset yang diperoleh per hari, “Alhamdulillah, lumayan.” Pokoknya dari hasil penjualan rujak ini, sang pemilik usaha mampu membeli tanah, membangun rumah, dan mampu membayar gaji para karyawannya.

Di bawah pengelolaan putra sulung Pak Guru, rujak manis Kuta Blang terus memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cita rasa yang tak berbeda dengan racikan almarhum sang ayah. Semoga Muhammad Taufik dapat terus melanjutkan warisan kuliner yang telah sangat terkenal dan terus berinovasi dengan memperkenalkan produknya melalui media iklan dan berbagai varian produk lainnya, dengan harapan usaha ini mampu mengantarkan dirinya dan ketiga adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Menurut Taufik, usaha rujak manis Pak Guru Kuta Blang belum pernah membuka cabang di mana pun, walaupun sering kita lihat di tempat lain ada orang yang menempelkan spanduk atau poster dengan tulisan Rujak Manis Kuta Blang. “Tapi itu bukan cabang kami,” tegas Taufik. Ketika ditanya apa ada rencana buka cabang, Taufik menjawab, “Nantilah kita lihat dulu.”

Tangan Taufik terus mengaduk-aduk rujak dalam dandang besar, sedangkan karyawannya sibuk mengemasnya dalam plastik dan siap untuk di jual. “Doakan ya Bu semoga usaha ini bisa bertahan sehingga nanti saya bisa kembangkan usaha dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar karena bagi saya orang yang sukses adalah orang yang mampu membawa orang lain dalam suksesnya,” ujar Taufik.

Pada hari itu selain kami ada juga para pelanggan yang telah lama menunggu giliran untuk membeli rujak yang kaya vitamin C ini. Mereka hendak membeli rujak manis racikan Taufik. Selama bulan puasa ini banyak pula kendaraan umum yang membawa rombongan berhenti di sini, lalu para penumpang membeli rujak manis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Akhirnya saya pun tiba di rumah dan segera berwuduk untuk melaksanakan shalat Asar, kemudian memasak untuk mempersiapkan menu berbuka puasa bagi suami dan anak, setelah itu menghidangkannya di atas meja. Waktu yang ditunggu pun tiba, terdengar suara sirine dari meunasah pertanda waktu berbuka. Setelah berdoa, saya raih gelas berisi rujak manis yang dari tadi sudah menggoda untuk direguk.

Alhamdulillah, rujak manis Kuta Blang ternyata memang nikmat dan mampu meningkatkan stamina. Hilang sudah rasa lelah dan dahaga saya, serta bersemangat mengikuti shalat Tarawih. Pantas di mana pun berada rujak manis Kuta Balang tetap dicari pelanggan sehingga perlu dilestarikan. Ini salah satu kekayaan kuliner khas Aceh.

Cerita ini pernah tanyang di http//:Aceh Tribunnews tanggal 20/05/2019 dengan judul Ini rujak warisan pak guru.

You are here: Home News and Events Rujak Manis Kuta Blang warisan pak Guru yang perlu di pertahankan