
Dokumentasi foto Dirjen Dikti Kemdiktisaintek didampingi Rektor Universitas Almuslim mengunjungi lokasi Posko Satgas kolaborasi dan Posko Kesehatan pada Sabtu (6/12/2025).
Bireuen – Upaya Universitas Almuslim (Umuslim) dalam merespons bencana banjir besar yang melanda Aceh mendapatkan apresiasi dan perhatian langsung dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Setelah meninjau dapur umum untuk mahasiswa terdampak di Rusunawa Paya Cut, Dirjen Dikti Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng, melanjutkan agenda kunjungan ke sejumlah titik tanggap darurat yang dikoordinasikan oleh Umuslim.
Dirjen Dikti mengunjungi Posko Satgas Bencana Hidrometeorologi Aceh 2025 yang berlokasi di halaman Kampus MA Jangka. Posko ini merupakan pusat kegiatan Pos Umuslim Peduli, yang mengkoordinasikan distribusi bantuan, pendataan kebutuhan, serta mobilisasi relawan sejak awal bencana terjadi.
Universitas Almuslim tidak hanya bergerak secara mandiri, namun juga menjadi bagian dari jejaring kolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi di Aceh dalam mendirikan Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir Aceh 2025. Sejumlah perguruan tinggi membuka akses dan memberikan izin pendirian posko gabungan, di antaranya: Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Tengku Umar (UTU), dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL).
Walaupun beroperasi di beberapa titik regional, koordinasi pusat posko gabungan yang melibatkan Umuslim tetap dipusatkan di halaman Kampus MA Jangka. Dari lokasi ini, berbagai kegiatan kemanusiaan seperti pendataan korban, distribusi logistik, koordinasi relawan, hingga rencana evakuasi dilaksanakan secara terstruktur.
Ketua Satgas sekaligus Kepala LPPM Umuslim, Dr. Afkar, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa semalam Rektor Umuslim bersama Tim Satgas menerima langsung kunjungan Dirjen Dikti di posko utama.
“Beliau melihat langsung kesiapan posko dan menyampaikan apresiasi kepada relawan yang terus bertugas. Ini menjadi dorongan moral yang besar bagi tim,” ujar Dr. Afkar.
Dalam kunjungannya, Prof. Khairul Munadi menegaskan pentingnya kehadiran perguruan tinggi dalam situasi darurat.
“Kampus bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi kekuatan kemanusiaan. Dalam situasi bencana, perguruan tinggi harus hadir secara nyata, cepat, dan terkoordinasi,” ungkapnya.
Selain meninjau posko logistik, Dirjen Dikti Kemdiktisaintek juga mengunjungi Posko Kesehatan yang ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Peusangan Raya.
Posko medis ini berada di bawah naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen, Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim, Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Cabang Aceh, Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, RS Peusangan Raya, Puskesmas Peusangan, dan Klinik Kodim Bireuen.
Koordinasi posko diprakarsai oleh Ketua IDI Cabang Bireuen, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim, Dr. Zumirda, Sp.B, FISA, FINACS. Posko kesehatan ini telah beroperasi sejak 1 Desember 2025, menyediakan pelayanan medis bagi korban banjir, termasuk luka ringan, infeksi, keluhan pernapasan, hingga kondisi-kondisi yang memerlukan tindakan emergensi.
Dalam kunjungannya, Prof. Khairul berdialog dengan para tenaga medis dan mahasiswa kedokteran yang terlibat di lapangan. Ia menyampaikan apresiasi atas kerja cepat tim kesehatan.
“Tenaga medis, dokter, dan mahasiswa kedokteran berada di garis terdepan dalam bencana. Kehadiran posko ini membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat menggerakkan kekuatan profesi dan keahlian untuk membantu masyarakat,” ujarnya.
Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd, turut mendampingi Dirjen Dikti dalam kunjungan tersebut.
“Umuslim berkomitmen penuh untuk membantu masyarakat Aceh. Kolaborasi lintas lembaga ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tinggi mampu bersatu untuk kemanusiaan,” ungkap Rektor Marwan.
Dengan beroperasinya dapur umum, posko satgas, dan posko kesehatan, Universitas Almuslim menjadi salah satu pusat koordinasi penanganan bencana banjir Aceh 2025. Keberadaan Dirjen Dikti Kemdiktisaintek di lapangan tidak hanya memberikan dukungan moral bagi relawan, namun juga memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat terdampak.
Kunjungan ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, tenaga medis, peneliti, dan mahasiswa harus menjadi bagian dari kekuatan yang memastikan masyarakat tidak dibiarkan menghadapi bencana sendirian.
