Ramadhan Plus

 

DRS. SYARKAWI, M.ED

Kepala Bapel-KKM Universitas Almuslim Bireuen

Marhaban Ya Ramadhan! Setiap memasuki bulan Ramadhan ucapan ini hampir saban tahun menghiasi setiap halaman muka media di Aceh, bahkan dunia yang mayoritas penduduknya muslim, juga tidak ketinggalan berbagai baliho dan spanduk yang dipasang sepanjang jalan protokol baik yang dipasang panitia mesjid, pemerintah maupun oleh perusahaan swasta.

Hadirnya slogan tersebut tentunya berkaitan erat dari isi firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.(Q.S. Al-Baqarah:183).

Berdasarkan ayat di atas bahwa bagi umat Islam untuk meraih pangkat taqwa tidaklah mudah, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat diperoleh oleh seseorang, asalkan tunduk dan patuh pada “Amar ma’ruf dan nahi munkar”. Tentunya dalam konteks puasa, seseorang harus dilalui oleh suatu proses sehingga ia bisa meraih gelar “taqwa”. Proses yang dimaksudkan di sini ialah proses membuat perencanaan dalam mengisi dan mengatur waktu.

Sepuluh awal dari Ramadhan sebagai “rahmah”, maka pada fase ini kita diharapkan untuk menjadikan star awal Ramadhan ini untuk bisa berjalan mulus dan sukses demi untuk melempangkan jalan memasuki fase selanjutnya dengan sempurna. Apabila fase ini berjalan tidak tuntas tentunya untuk menjalankan pada fase kedua akan terjadi ketimpangan.

Ibarat mahasiswa yang sedang kuliah apabila ada mata kuliah semester satu ada yang tidak tuntas tentunya harus menyempatkan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang tertinggal, walaupun dia bisa melanjutkan ke semester selanjutnya, tetapi masih belum tuntas dan sempurna.

Lalu sepuluh di pertengahan sebagai “maghfirah” yaitu keampunan yang diberikan Allah merupakan suatu hal yang sangat diharapkan, karena tanpa keampunan-Nya, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hal ini tentunya kita harus benar-benar bertaubat kepada Allah swt sebagai “Taubatan Nashuha”.

Rahmad dan maghfirah dua hal yang sangat mulia disusuli dengan sepuluh akhir dari Ramadhan, yaitu “itqun minan naar”, yang sungguh luar biasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya bagi yang melaksanakan ibadah puasa dan mengisi Ramadhan ini dengan berbagai kebijakan. Pantaslah Allah menjuluki orang-orang seperti ini sebagai orang-oarang yang bertaqwa.

Ibadah-ibadah sunat yang sebelum ini jarang kita lakukan, maka pada kesempatan ini kita tekuni dengan setekun-tekunnya. Ibarat petani, maka sepuluh akhir dari Ramadhan merupakan panen raya yang penuh berkah. Ibarat bahtera besar, penumpang harus mengisinya dengan barang-barang berharga.

Ibarat orang di perantauan, akan membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Dan ibarat investor akan menginvestasikan harta kekayaannya, agar kelak mendapat keuntungan di hari nanti.

Oleh karena itu seorang mukmin sejati, di kesempatan yang mulia ini harus memperbanyak lagi membaca al-Quran, bacaan shalawat, zikir, tahmid, tasbih dan memperbanyak sedekah dan shalat tahajjud, dengan harapan memperoleh lailatul qadar. Karena Rasulullah saw sangat tekun menghidupkan malam-malam sepuluh akhir dari Ramadhan. Sayyidah Aisyah r.a pernah berkatan, “Rasulullah saw apabila telah masuk (sepuluh malam yang terakhir) beliau hidupkan malam-malam itu, membangunkan keluarganya dan mempererat (tidak mencampuri isteri-isterinya)” (H.R Bukhari dan muslim).

Berdasarkan hadist di atas menginspirasikan kita betapa Rasullullah saw yang sudah ada jaminan masuk syurga, akan tetapi begitu antusias menggunakan kesempatan malam-malam terakhir ini untuk bermunajad kepada Allah swt. Hal ini menyiratkan kepada kita secara filosofis betapa besar hikmah yang Allah anugerahkan kepada umat Muhammad saw. Dan betapa ruginya kita sekiranya tidak memanfaatkan kesempatan emas dalam kehidupan ini.

Ramadhan akan melambaikan tangannya meninggalkan kita. Jika kita masih diberikan umur panjang, mungkin tahun-tahum selanjutnya akan berjumpa lagi. Atau barangkali Ramadhan ini adalah Ramadhan pemungkas dan perpisahan dengan kita. Maka sisa hanya beberapa hari lagi, tidak ada jalan lain kecuali kita penuhi hari dan malamnya dengan mengabdi kepada Allah sembari merenungi dan mengevaluasi diri, mengintropeksi serta merefleksi apa dan sejauh mana ibadah-ibadah yang sudah kita lakukan, termasuk bila dosa-dosa apa yang pernah kita lakukan.

Lailatul Qadar

Jumbur ulama berpendapat bahwa lailatul qadar turun pada tanggal-tanggal ganjil setelah masuk pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 21,23,25,27 dan 29. Kecuali itu yang terbanyak pada 27 Ramadhan, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya “Barang siapa yang mencari (mengharapkan) lailatul qadar, maka carilah ia pada malam tanggal 27 (Ramadhan)”. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Umar).

Hikmah mengapa lailatul qadar tidak bisa ditentukan malamnya dengan pasti. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam pada bulan Ramadhan, mulai dari awal sampai akhir dapat tekun dan giat beribadah, dengan harapan ibadahnya itu bertepatan dengan lailatul qadar yaitu suatu malam yang sangat mulia dan agung dimana ibadahnya itu lebih baik daripada seribu malam (83 tahun 4 bulan).

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala sesuatu. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

Syawal tiba

Jika Ramadhan telah kita jalani dengan sukses dan sempurna, yaitu dengan menikmati “Rahmah” di sepuluh awal Ramadhan, dengan memperoleh “maghfirah” di sepuluh pertengahan dan dengan meraih “`itqun minan naar” serta dengan bertatahkan “taqwa”, maka memasuki 1 Syawal layaklah diberi ucapan “minal `aidin wal faizin”. Semoga termasuk (golongan) orang-orang yang kembali kepada fitrah (tanpa dosa) dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan.

Sehubungan dengan datangnya hari raya Idul Fitri, kita diwajibkan membayar zakat fitrah bagi dirinya, anak dan istrinya serta untuk orang-orang yang menjadi tanggungan kita. Dan bila mana telah tiba dan kita melaksanakan shalat Idul Fitri, dimana sebelumnya hendaklah mandi terlebih dahulu, kemudian berpakaian yang rapi dan memakai wangi-wangian serta agar makan-minum walau hanya sedikit.

Hal yang perlu diperhatikan dalam merayakan hari raya Idul Fitri, janganlah berlomba-lomba di dalam kemewahan. Pamer pakaian yang serba mewah dan mahal. Karena hari raya diperuntukkan kepada orang-orang yang bertambah taqwanya. Sebagaimana sabda Rasulullah “bukanlah Hari Raya itu untuk orang yang berpakaian baru, akan tetapi Hari Raya itu bagi orang yang taqwanya bertambah”.

Ramadhan plus

Idealnya orang yang berpuasa dan mendirikan (melaksanakan shalatnya pada malam lailatul qadar) karena keimanan yang teguh mengharapkan pahala dari Allah, dan mendapat keampunan-Nya, Allah menganugerahi taqwa. Sementara di hari fitri dengan kesucian dari noda dan dosa karena telah menjalani puasa, maka Allah memperuntukkan hari raya itu untuk orang-orang taqwanya semakin bertambah.

Ini artinya taqwa yang sudah diperoleh di bulan Ramadhan, memasuki bulan syawal, taqwa itu semakin kuat dan konsisten. Apalagi bila diiringi dengan puasa syawal maka Allah akan memberikan ganjaran yang banyak. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Barang siapa yang berpuasa pada bulan bulan Ramadhan kemudian diiringi puasa enam hari di bulan syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun”.(H.R. Muslim dan lainnya dari Abu Ayyub Al-Anshari).

Taqwa itu suatu yang sangat berharga dalam pandangan Allah, karena taraf dan derajat manusia ternyata terdapat pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Dan Allah sangat mengapresiasikan hamba-Nya.

Sungguh taqwa itu sesuatu yang sangat bernilai bagi seseorang dalam pandangan Allah. Karena taraf dan derajat manusia ternyata terletak pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Sebagaimana pengakuan Allah swt dengan firman-Nya” sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepadaNya.”(Q.S. Al-Hujarat:13).

Taqwa itu mengacu pada konsep/kaedah mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka siapa saja yang tunduk dan patuh kepada perintah dalam bentuk apapun dan sanggup meninggalkan berbagai bentuk larangan dan bahkan syubhat sekalipun mampu ditinggalkan, maka di situlah telah nilai esensial yang dimiliki. Taqwa di hati siapa pun, laki-laki atau perempuan, tua atau pun muda, yang mengarah kepada “ibadah mukaramun, Laa yaa’shunallaha fima amarahum wa yaf’aluna maa yu’maruun”.

 

Berita  ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 06/05/2019 di Rubrik OPINI dengan judul Ramadhan Plus .

 

 

 

Melihat dari dekat usaha garam Milhy yang ber SNI

 

 

 

Zulkifli,M.Kom, Dosen Universitas Almuslim, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna dan anggota FAMe Chapter Bireuen

Sore itu suhu terasa masih cukup panas, padahal jarum jam sudah hampir merapat pada angka 17.00 wib, suasana  kawasan rekreasi pantai Jangka tidak lagi ramai, hanya beberapa pelancong lokal seputaran kawasan tersebut yang sedang menikmati hembusan angin  laut serta suasana sunset diatas selat malaka sambil menikamati beberapa kuliner  seputaran pantai tersebut.

Matahari mulai bergerak meransek ke arah barat tetapi suhu masih cukup panas, seakan tidak bersahabat untuk mengurangi tensi panasnya, sehingga walau angin pantai terus berhembus, cucuran keringat semua orang  tetap saja mengalir seputaran kening tidak mau berhenti.

 Di atas langit ujung barat  suasana sunset  mulai meredup  untuk menyusup ke peraduan, saya bergegas bergerak  meninggalkan lokasi salah satu destinasi wisata pantai di kabupaten Bireuen itu.

Saya pulang mengambil rute  jalan melalui  arah barat, melewati beberapa desa, diperjalanan lebih kurang dua kilometer dari pantai Jangka, saya singgah bersilaturahmi ketempat usaha salah seorang alumni universitas almuslim Peusangan, saudari Qurrata‘Aini YS,SE, alumni DIII Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Universitas Almuslim, sekarang mengelola usaha garam merek MILHY.

Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan luasnya lebih kurang 800 meter persegi, bangunan beton yang  telah di sekat empat bagian  menjadi kantor, ruang produksi, penyimpanan dan ruang mesin pengolahan, saya disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik bangunan tersebut,  suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan, sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. 

Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal dari lahirnya usaha tersebut, menurutnya penataan ruang ini sesuai aturan dan syarat untuk menjadikan tempat usaha yang layak dan berstandar SNI, sambil Qurrata memperlihatkan sertifikat  SNI nomr 3556 -2010.

 Menurutnya  MILHY asal kata Milhon dalam bahasa Arab yang artinya Asin (Garam), Milhy  juga nama tabalan pada orang tuanya Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat Tanoh Anoe Jangka, gelar  Milhy ini  disandangkan oleh Jepang ketika kawasan tersebut dikuasai tentara Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang  usaha Tgk Yusuf  salah satu produksi garam yang bisa bertahan, sehingga dengan adanya usaha garam  beberapa masyarakat Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang saat itu, cerita Qurrata‘Aini bersemangat.

Menurut Qurrata‘Aini awalnya dia tidak pernah tau seluk beluk  produksi garam, sehingga usaha garam secara tradisionil warisan orang tuanya tahun 1990 sempat tidak berproduksi, padahal  tahun 1980  usaha orang tuanya  dengan  merk garam Bulan Bintang sudah maju dan  pemasarannya ke seluruh Aceh. Seiring perjalanan waktu awal  2006, usaha itu mulai dirintis kembali oleh Qurrata Aini yang merupakan anak bungsu Tgk Yusuf Milhy, dengan memanfaatkan beberapa petak tanah peninggalan orang tuanya.

Tanoh Anoe kecamatan Jangka sekitarnya merupakaan satu kawasan produksi garam rakyat, makanya tidak heran kalau melewati desa tersebut terlihat berjejer ratusan jambo sira tradisionil dengan dinding belahan bambu dan pelepah kelapa beratap rumbia berjejer bersisian sepanjang area tambak. Sore itu dengan hembusan angin laut yang begitu sejuk, penulis melihat secara dekat kesibukan warga seputar jambo sira dengan berbagai aktivitas, ada menurunkan kayu bakar, mengangkut air, mengumpulkan butir-butir bibit garam, memasak air dan juga sedang membakar kayu.

Yang lebih kentara terlihat dari kejauhan nampak jelas kepulan asap yang berasal dari pengolahan dengan rebusan bahan baku bibit garam menggunakan air laut/sumur bor keluar lewat celah-celah dinding bambu dan atap rumbia mengepul ke angkasa. 

Menurut Qurrata Aini, pondok garam produktif di kecamatan Jangka mencapai 200 lebih, yang pengolaannya masih secara tradisionil, dulu sebagian besar bahan baku bibit garam di pasok dari luar Aceh, hal ini untuk mencapai target kebutuhan. Tapi Alhamdulilalh sekarang melalui program Inovasi, produksi garam Milhy bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, kami sudah bisa memproduksi bahan baku sendiri dengan menggunakan Geomembran.

Menurut Qurrata Aini, metode Geomembran kawasan tersebut merupakan inovasi dirinya, awalnya beberapa tahun lalu terjadinya kelangkaan bibit garam, sehingga banyak petani garam yang meninggalkan usaha tersebut.

Mereka membiarkan pondok terbengkalai tidak terurus, banyak petani garam putus asa, karena kondisi tersebutlah dia memutar otak untuk tetap bertahan,  tidak membiarkan pondok garam terbengkalai, tetapi asap tetap mengepul dari pondok, sehingga dia mencoba berbagai cara agar bisa menghasilkan bibit garam.

Berbagai ilmu tentang garam dia pelajari dari berbagai sumber dan belajar pada orang tua sepuh yang pernah bergelut dengan pengolahan garam tradisionil, bahkan pihaknya pernah mengupayakan bibit dari pulau Jawa seperti Madura dan Banyuwangi, teryata hasilnya tetap nihil, karena bibit dari sana tidak cocok dengan topografi daerah kita, jelas Qurrata Aini

Karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia lakukan, dari pada jadi pengangguran, dia tetap bertahan untuk pekerjaan di pondok garam, dia coba dengan berbagai metode dan teknik inovasi  ala sendiri, “saya berpikiran jangan sampai tidak ada bibit, tidak bisa cari uang” ulas Qurrata Aini yang saat kuliah dikenal seorang mahasiswi yang  vokal.

 Akhirnya dia coba dengan sistem Geomembran, saat mencoba inovasi metode ini, dirinya sempat dianggap setengah gila oleh masyarakat, pokoknya semua meremehkan dan menyeleneh apa yang dia kerjakan. Menurutnya metode Geomembran yang dia praktekkan, perpaduan bahan peralatan modern seperti plastik dan  berkolaborasi dengan metode tradisionil yaitu melihat tanda-tanda alam, seperti arah mata angin, hembusan udara dan kualitas pencahayaan matahari.

Berbulan-bulan dia lakukan uji coba dengan memperhatikan kondisi alam seperti arah mata angin, arah mata hari, cuaca dan juga sampai membuat bangku sebagai mewaspadai terjadi banjir, semua yang dia uji coba merupakan pekerjaan yang tidak pernah dipraktekkan masyarakat saat itu.

Akhirnya uji coba tersebut sukses dan menghasilkan bibit yang berkualitas, tetapi selama satu tahun masyarakat  masih belum percaya dengan inovasi yang dia lakukan, akhirnya pada tahun kedua hasil uji coba tersebut baru masyarakat mengakui sistem Geomembran, bisa menghasilkan bibit garam  berkualitas dan harga lebih murah, sekarang banyak dari luar daerah yang menjadikan metode dan tempat saya sebagai tempat belajar, jelas Qurrata Aini ceplas ceplos.

Garam UD.Milhy diproduksi dalam tiga varian yaitu Milhy sira gampong beriodium (rendah Nacl), Milhy beriodium berstandar nasional dan Milhy garam non konsumsi (garam ini khusus untuk rendam kaki bagi penderita kebas dan kelelahan), garam beriodium adalah garam komsumsi yang memenuhi persyaratan SNI, BPOM,LPPOM yang ditetapkan dan telah diberikan zat iodium (KI03) dengan proses yodisasi, sekarang sedang dikampayekan penggunaannya untuk pencegahan tumbuh anak Stunting, rinci Qurrata Aini.

Garam produksi Milhy dipacking dalam berbagai  isi seperti  100, 200, 250,400 gram,1 kg dan  8 kg, jumlah tenaga kerja 18 orang yang tetap dan tidak tetap 35 orang, kalau perputaran cepat saat musim kebutuhan omsetnya bisa  mencapai 200-250 juta perbulan dan tenaga kerja juga bertambah, cerita Qurrata aini penuh semangat.

 Selain memproduksi sendiri garam, usaha Milhy juga menjadi ibu angkat dari ratusan petani garam tradisionil lainya seputaran Jangka, dimana hasil produk masyarakat di tampung oleh UD Milhy, kemudian pihaknya mengolah dan packing sesuai standar produksi usahanya, jelas Qurrata Aini.

Sekarang usaha garam Milhy mampu memproduksi garam beriodium 70.000-80.000 Kg/bulan, dengan peralatan memadai seperti mesin penghalus, cuci,oven, Iodisasi, hand sailler dan produksi garam Milhy telah mempunyai sertifikat Halal MPU Aceh : 14060000451214, dan sertifikat SNI 3556 -2010, BPOM RI MD 255301001021.

Usaha garam UD Milhy Jaya pernah mendapat piagam penghargaan UMKM naik kelas katagori Industri Pengolahan tahun 2017 kerjasama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Piagam penghargaan SIDDHAKARYA Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Aceh. Penghargaan Produktifitas SIDDAKARYA dengan klasifikasi “Good Performance”. Usaha garam Milhy  pernah dikunjungi artis nasional Marissa Haque, Darwati A.Gani serta beberapa  isteri dan pejabat baik tingkat Provinsi kabupaten/kota baik dari Provinsi Aceh maupun luar provinsi Aceh.

Ayo kita konsumsi garam beryodium untuk menghindarkan penyakit gondokan dan stunting....

 

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 06/05/2019/ dengan judul Melihat dari dekat usaha garam bebas najis.

 

 

 

 

 

 

 

Kerja Penyelengara Pemilu ibarat kerja Supermen tapi makan Supermie

 

Zulkifli,M.Kom, Akademisi  Universitas Almuslim dan Panitia seleksi (Pansel) KIP Bireuen Periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.

Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 14/PUU-XI/2013 kemudian diatur pada UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, pelaksanaannya dilaksanakan secara serentak antara pemilu legislatif  (pileg)dan pemilihan presiden (Pilpres),  teryata dalam pelaksanaannya di lapangan banyak menyisakan berbagai  persolaan,  hal ini karena terjadi jatuh korban jiwa yang disebabkan efek kelelahan saat menjalankan tugas sesuai amanah yang telah diberikan.

Ribuan   orang yang terlibat sebagai penyelenggaraan mulai dari KPPS dan PPS, pengawas  harus mendapat perawatan medis, dan ratusan telah meninggal dunia, korban tersebut selain dari kelompok penyelenggara juga dari pengawas dan intitusi keamanan juga banyak yang jatuh korban. 

Dengan kenyataan tersebut sekarang semua sudah angkat bicara termasuk hakim  Mahkamah Konstitusi (MK) yang  meloloskan penyetujuan putusan pelaksanaan pemilu serentak ini telah mengakui kekeliruannya.

Untuk kedepan pemilu serentak ini benar-benar harus di evaluasi, karena penyelenggaraan pemilu serentak telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah, baik  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pengawas, semua pekerjaan dan tanggung jawab mereka di lapangan selama ini luput dan tidak disadari oleh pembuat kebijakan  di tingkat atas.

Pengamatan saya di lapangan mulai tingkat PPK, PPS dan KPPS, Pengawas, mereka melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang luar biasa, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan sangat berat harus berjibaku siang malam, kenyataan hari ini sudah banyak dari mereka mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, banyak  jatuh korban harus mendapat penanganan medis, sedangkan  honor yang mereka terima sangat minim.

Jumlah Panitia Pemungutan Suara (PPS)  tiap desa 3 orang dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) tujuh orang dan ditambah anggota linmas, dengan honor yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tugas, rincian honor yang harus di potong pajak lagi, sudah minim dibeban pajak lagi, jumlahnya mungkin tidak etis saya sebutkan rincian disini.

Yang sangat menyedihkan, anggota linmas harus sabar menggurut dada,  ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, ketika berada di pintu masuk TPS,  mereka terlihat  seperti masyarakat biasa, padahal atribut bagi mereka sangat perlu untuk sebuah pengakuan, penghormatan dan membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring satu setiap TPS.

Mereka masih dianggap petugas pelengkap, padahal pengorbanan dan  perjuangan mereka demi tegaknya demokrasi di negeri ini, patut kita beri apresiasi tinggi, semoga ada sedikit perhatian  memberikan tambahan finansial ataupun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

Kita sangat sesalkan berbagai kejadian pada pemilu serentak  yang menimpa penegak demokrasi di lapangan, Memang awalnya  tujuan pelaksanaan pemilu  serentak ini bagus yaitu untuk penghematan, teryata telah memakan korban yang cukup banyak, sungguh jumlah korban yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negeri yang aman dan damai.

Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, tugas yang cukup berat ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran, bersikap adil dan integritas dalam menjalankan tugas.

Belum lagi dengan tugas perbaikan data dan terjadinya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akan menambah beban kerja, mereka bekerja tanpa pamrih dan penuh tangung jawab  tanpa mempersoalkan  honor yang diberikan, mereka benar-benar bekerja ala Superman tetapi makan Supermi (tanpa biaya poding). 

(Superman adalah suatu tokoh fiksi dalam sebuah cerita yang mempunyai kekuatan lebih untuk melaksanakan satu tugas dibandingkan kekuatan manusia biasa termasuk punya kekuatan untuk terbang), sedangkan Supermi adalah sejenis makanan ringan yang biasa dimakan sebagai makanan pelengkap, bukan sebagai makanan utama penambah asupan gizi. 

Maka sangat wajar saya tamsilkan kerja penyelenggara pemilu yang begitu berat, bahkan sudah diluar batas jam kerja harian, sedangkan honor yang mereka dapatkan sungguh sangat minim, berbeda jauh dengan beratnya tangung jawab tugas yang mereka kerjakan.

Kita acungi jempol atas  keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian yang wajar dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

Memang secara aturan honor dan insentif mereka semua disediakan oleh pemerintah pusat melalui KPU, tetapi pemerintah daerah juga jangan tutup mata bagi mereka yang telah berjibaku siang malam mensukseskan pesta demokrasi di daerah, karena kalau pemilu gagal di suatu daerah yang menjadi gagal bukan hanya pemerintah pusat tetapi yang paling utama adalah pemerintah daerah.

Jadi sangatlah wajar suatu daerah mengambil satu kebijakan untuk dapat mendukung dan mensukseskan pemilu diwilayah masing-masing, apapun yang mereka lakukan, apalagi di daerah pelosok bisa jadi taruhan nyawa bagi mereka, demi suksesnya pemilu dan nama baik daerah.

Hendaknya  pemerintah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota dapat memberikan dengan mengalokasikan sedikit tambahan honor atau insentif lain, sebagai penghargaan ucapan terima kasih  bagi pahlawan demokrasi ini.

Sekarang dengan kenyataan dilapangan mari kita buka hati, bagaimana caranya untuk dapat memberikan perhatian bagi mereka dan pemerintah harus dapat mengambil satu sikap dan kebijakan untuk membantu pahlawan demokrasi ini.

Saya sempat menanyakan pada beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan PPS di beberapa desa dalam kabupaten Bireuen, mereka mengakui beban kerja yang cukup berat dan butuh ketelitian dan fisik yang prima untuk bisa menjalankan tugas tersebut, mereka akui pemilu serentak ini sangat berat.

Kalau pemerintah tidak menambah dan memperhatikan tambahan sedikit honorarium ataupun dalam bentuk lainnya, berarti telah menyiksa mereka dengan memberikan honor minim dengan kerja yang cukup berat, hal ini terjadi karena banyaknya tambahan kerja dari pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan kerja pemilihan legislatif (pileg).

Mungkin pembuat kebijakan dalam menyusun UU pemilu  hanya berpedoman pada penyelenggara pileg saja, atau alasan efisiensi tanpa membayangkan tambahan kerja dari pemilihan presiden (pilpres), sehingga terjadinya persoalan seperti ini, Alhamdulillah sekarang sudah ada wacana dari untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu kedepan, semoga  akan lahir satu metode pemilu yang terbaik.

Menurut UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, ada sebelas point tugas kerja Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang harus dilaksanakan mulai dari pengumuman daftar pemilih mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh Tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah kerjanya, belum lagi melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU atau KIP Kabupaten/Kota.

Begitu juga dengan KPPS yang berjumlah tujuh orang setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dengan tujuh poin tugas yang juga tidak kalah berat mulai dari pendaftaran pemilih yang butuh  tingkat ketelitian dan rasa tanggung jawab tinggi, mereka harus berjibaku siang malam, karena sedikit mereka lengah terjadi kekeliruan dan pengisian data pemilih, serta saat hari H juga  tidak boleh sembarangan meninggalkan lokasi, karena untuk menghindari  munculnya kecurigaan, hujatan, saling tuduh dan ancaman dari masyarakat dan peserta pemilu.

Maka tidak heran mereka penyelenggara baik KPPS maupun PPS, Pengawas harus tidur di lokasi TPS bahkan ada yang sampai beberapa  hari di lokasi, menunggu selesainya semua proses perhitungan dan rekap suara di tingkat TPS dan mengantar sampai ke tingkat PPK, belum lagi perjuangan bagi yang lokasi TPS di daerah terisolir dengan insfrastruktur yang terbatas.

Kepada para caleg dan timses yang sudah mendapat berbagai ilmu dari pembekalan dan amunisi strategi  tentang  berbagai proses tahapan pemilu, berhentilah saling mengklaim bahwa para jagoannyalah yang menang,  berhentilah menghujat para penyelenggara dengan hinaan dan cacian yang tidak mendasar apabila tidak ada bukti yang cukup.

Mari kita hormati proses pelaksanaannya sesuai peraturan perundangan dengan kepastian hukum sampai proses penetapan akhir yang dilakukan institusi resmi, jangan lakukan hal yang dapat merugikan kita semua

Mari kita rawat demokrasi ini dalam bingkai persatuan dan persaudaraan yang penuh nuansa kekeluargaan, hilangkan semua perbedaan lambang dan warna partai, karena semua kita menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

Semoga semua kita jadi pemenang bukan pecundang, salut dan apresiasi atas kerja ikhlas penyelenggara mulai tingkat kecamatan, dan gampong, mari kita doakan dengan tulus  semoga kerja ikhlas mereka menjadi tambahan amal  pahala dan pengakuan dari masyarakat, sedangkan bagi  mereka yang telah gugur dalam mengawal demokrasi ini husnul khatimah...Aamiiin YRA.

 

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 29/04/2019/ dengan judul PPS dan KPPS Kerja Superman Makan Supermie.

 

Subcategories