Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik

 

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu sekolah.” Ya, waktu itu ada Pendidikan Guru Agama (PGA) Almuslim dan Pesantren Almuslim. Dulunya, Almuslim itu dikenal dan ditakuti serdadu Belanda, karena memiliki tokoh pejuang yang juga pendiri Almuslim, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Chik Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Ammad, dan sederet tokoh lainnya.

Sejarah awal Almuslim dimulai tahun 1929. Saat itu, ulama dan ulee balang di Peusangan mendirikan organisasi sosial bernama Jamiatul Muslim (saat ini namanya Yayasan Almuslim Peusangan). Yayasan ini tergolong unik, berbeda dengan yayasan lain di Indonesia bahkan dunia, yakni milik masyarakat Kecamatan Peusangan lama (sebelum pemekaran), setelah pemekaran jadi empat kecamatan: Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Jangka. Setiap lima tahun sekali para keuchik, imum gampong, dan imum mukim dalam empat kecamatan itu bermusyawarah memilih ketua yayasan.

Yayasan ini sempat hilang dalam peredaran, kemudian tahun ‘70-an atas inisiatif almarhum M. A. Jangka, saat itu Camat Peusangan, bersama beberapa tokoh pendidikan, pemerintahan, tokoh masyarakat, mereka bermusyawarah untuk menghidupkan kembali yayasan ini.

Pelan tapi pasti yayasan terus bergerak, dimulai dengan mendirikan beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah, kemudian 14 Zulkaidah 1406 H bertepatan dengan 1 Agustus 1985 didirikanlah Perguruan Tinggi Almuslim (PTA) yang membawahi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK), tetapi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang merupakan cikal bakal lahirnya  Institut Agama Islam (IAI) Almuslim sekarang kampusnya berlokasi di Paya Lipah Kecamatan Peusangan, jaraknya  lebih kurang 3 kilometer arah barat  dari kampus Universitas Almuslim, sedangkan lokasi gedung tua Almuslim sekarang telah menjadi kantor yayasan almuslim peusangan (YAP) dan pusat administrasi Pesantren Almuslim Peusangan.

Saya bergabung dengan Almuslim tahun 1992, setelah lulus SMEA Peusangan dan menjadi staf tata usaha. Saat itu, gedung kuliah sangat terbatas, masih semipermanen. Biro rektor dulunya berada di Gedung Sekretariat Pesantren Terpadu Almuslim sekarang. Gedung ini merupakan gedung tua yang direhab atas bantuan PT Arun NGL Co Lhokseumawe.

Gedung ini sangat kokoh karena dibangun dengan batu bata yang disusun mendatar. Beberapa kali gempa tidak ada yang retak. Gedung ini menjadi saksi bisu saat konflik berkecamuk di Aceh. Saat konflik pernah saya dan teman harus tiarap di lantai menghindari peluru karena terjadi baku tembak di seputaran kampus.

Gedung ini bersebelahan dengan Markas Koramil Peusangan, tentunya menjadi sasaran bom atau peluru pihak GAM. Kami yang sedang bekerja terkena imbasnya. Saya ingat waktu itu, laki-laki diminta berbaris di halaman gedung, sedangkan perempuan tetap berada di dalam ruangan.

Suasana sangat mencekam, kami tak bersuara, lutut kami gemetar. Air mata membasahi pipi mengenang suasana tersebut. Saat itu hanya doa yang yang terbetik di dalam hati, perasaan penuh tanda tanya: Masih adakah kesempatan untuk menghirup udara esok hari? Dengan hati gundah, akhirnya rekan-rekan yang diminta berbaris kembali ke ruangan, semua memiliki kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Gedung tua itu benar-benar jadi saksi bisu perjalanan proses pendidikan tinggi di Almuslim. Gedung tua ini juga berperan dalam sejarah berdirinya Kabupaten Bireuen, saat detik-detik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen perdana. Semua yang ikut dalam rapat tersebut tidur beralaskan tikar sederhana, menunggu hasil keputusan esok harinya.

Selain itu, banyak juga tamu luar negeri, pejabat tinggi, mulai dari pejabat pusat, provinsi, kabupaten, dan pimpinan proyek vital datang ke gedung tua ini dan dijamu di ruangan tersebut.

Pada 15 Januari 2003 Universitas Almuslim (Umuslim) lahir sebagai hasil peleburan beberapa sekolah tinggi dan akademi dalam lingkup Perguruan Tinggi Almuslim, diresmikan oleh Gubernur Aceh waktu itu, Ir Abdullah Puteh MSi. Saat peresmian, gedung tua itu merupakan gedung utama biro rektor dan area utama lokasi peresmian.

Saya ingat, setelah acara peresmian Umuslim, Gubernur Aceh melanjutkan perjalanan dinas ke Kecamatan Makmur. Eh, di dalam perjalanan tiba-tiba rombongan gubernur diserang pihak sipil bersenjata. Dalam rombongan ada Ibu Marlinda, istri Gubernur Abdullah Puteh dan istri Pak Amiruddin Idris (Rektor pertama Umuslim yang juga Wakil Bupati Bireuen). Saat rombongan kembali, istri rektor menceritakan kronologis kejadian, mereka diselamatkan aparat keamanan dan dipakaikan rompi antipeluru. Dalam kejadian itu sempat tertembak seorang perwira polisi. Suasananya sangat mencekam. Saya dan rekan-rekan mendengarnya saja merinding ketakutan.

Alhamdulilah, perjalanan Umuslim yang dimulai dari pahit getir semasa penjajahan Belanda dan diresmikan di tengah kondisi konflik, tetap bertekad bulat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tahun 2002, universitas mengalamai perkembangan signifikaan saat Rektor Umuslim, Amiruddin Idris menjabat Wakil Bupati Bireuen periode 2002-2007. Banyak bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, diberikan untuk Universitas Almuslim. Sejak saat itulah banyak gedung perkuliahan yang terbuat dari papan atau yang semipermanen berubah menjadi gedung permanen. Termasuk penambahan beberapa mebel dan lab. Kampus Umuslim pun mulai menampakkan wajah sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesungguhnya.

Saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh, baik PTN maupun PTS sempat lumpuh, banyak dosen dan mahasiswa meninggal. Nah, saat itu Umuslim ikut menampung mahasiswa yang selamat. Sampai-sampai jumlah mahasiswa tak sebanding dengan jumlah ruang kuliah dan kursi. Rektor Umuslim, H Amiruddin Idris lalu memohon bantuan kepada beberapa donatur untuk membantu Umuslim. Salah satu lembaga yang mengulurkan bantuan dari Italian Goverment, perwakilan negara Italia. Hasilnya, bisa dibangun gedung perkuliahan bertingkat, perumahan dosen, sarana ibadah, fasilitas laboratorium, dan pengembangan sumber daya manusia dengan memberikan beasiswa untuk lanjutan studi dosen.

Tahun 2007, tercatat sebagai tahun puncak perkembangan Umuslim. Banyak calon mahasiswa masuk dengan persaingan ketat, ditambah dengan adanya kepercayaan pemerintah pusat melalui Kementerian Dikti sebagai pelaksana Program Pendidikan Guru dalam Jabatan di Provinsi Aceh, sehingga mahasiswanya mencapai 20.000 orang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, puluhan program hibah dari Dikti pun berhasil dimenangkan.

Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, manajemen kampus berupaya mencari network penggalangan dana untuk membangun gedung baru. Lalu rektorat bersama yayasan bermusyawarah dengan keluarga Ampon Chiek Peusangan untuk memanfaatkan gedung bersejarah milik Ulee Balang Peusangan (rumoh geudong milik Ampon Chiek Peusangan) sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran. Dengan catatan gedung itu tidak boleh diubah bentuknya, tetap sebagai rumoh geudong. Kini kawasan ini dikenal sebagai Kampus Ampon Chik Peusangan, Universitas Almuslim yang berlokasi di depan Masjid Besar Peusangan.

Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi dan memperluas jalinan kerja sama untuk mengabdi mencerdaskan anak negeri, mengikuti berbagai regulasi yang terus bergulir sesuai kondisi. Sekarang, puluhan dosen sedang menyelesaikan studi S3 di dalam maupun luar negeri. Setiap tahun pula Kampus NGU Jepang mengirim mahasiswanya untuk belajar di Umuslim, begitu pula sebaliknya. Umuslim juga rutin mengirim mahasiswa PPL-KKM ke Thailand dan Malaysia.

Kesungguhan, jalinan kerja sama, dan kekompakan telah mengantarkan Umuslim menjadi Universitas Swasta Terbaik Se-Aceh Tahun 2018, sebagaimana ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIII Aceh. Alhamdulillah. Umuslim terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat Aceh dan bangsa.

 

Tulisan ini telah pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 11/7/2019/ dengan judul Gedung tua almuslim saksi bisu saat konflik.

Sate Apaleh’ dan Iringan Doa Anak Yatim

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen

SATAI (sate) adalah makanan khas Indonesia. Pencinta kuliner tentu tak asing lagi dengan makanan yang satu ini karena dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia dengan sensasi rasa yang berbeda. Kuliner yang satu ini kerap diberi nama sesuai daerah asal atau nama penjualnya. Itu sebab ada “sate padang”, “sate madura”, dan di Aceh ada “sate matang” dari Matangglumpang Dua, Bireuen.

Beberapa tahun belakangan populer pula satai/sate Apaleh Geurugok, Kabupaten Bireuen. Apalagi baru saja bulan Juni ini satai Apaleh masuk salah satu dari tujuh nominasi objek wisata Aceh yang berhak mendapat Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019. Selain satai Apaleh Geurugok yang masuk nominasi makanan tradisional, objek lainnya adalah Mangrove Forest Park di Kota Langsa masuk nominasi ekowisata dan Kerawang Gayo, Gayo Lues, masuk nominasi cendera mata. Selanjutnya Rabbani Wahed, Bireuen, masuk nominasi atraksi budaya, Kilometer Nol Kota Sabang masuk nominasi destinasi unik, Tensaran Bidin Bener Meriah masuk nominasi surga tersembunyi, dan Sabang Marine masuk nominasi festival pariwisata.

Nah, melalui tulisan ini saya coba untuk mengenal lebih dekat satai Apaleh sambil menikmatinya. Kebetulan, masih dalam suasana Syawal 1440 H, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Siang itu saya ajak sang tamu dan keluarga untuk menikmati sambil menelusuri sejarah satai di Matang.

Kami berangkat pukul 12.20 siang dari tempat tinggal saya di Matang menuju lokasi ± 20 menit. Udara saat itu sangat panas, sepanjang perjalanan banyak kendaraan berlalu lalang, karena masih dalam suasana arus balik Lebaran, terkadang laju kendaraan tersendat bahkan harus berhenti, karena dipenuhi kendaraan lainnya. Jadi, butuh kesabaran dan pengertian sebagai sesama pengguna jalan.

Tanpa terasa kami telah sampai di Geurugok pas waktu zuhur. Kami pun shalat di Masjid Taqwa Geurugok, letaknya berseberangan jalan dengan warung satai. Seusai shalat kami langsung menuju WarungSate Apaleh, karena bersamaan dengan waktu makan siang. Saking banyaknya pengunjung yang memadati warung tersebut, kami hampir tak kebagian tempat duduk dan parkir.

Penikmat satai Apaleh kebanyakan orang yang datang dari berbagai daerah, umumnya orang-orang yang melintasi di jalan Banda Aceh-Medan. Saat Lebaran 2-5 Idulfitri lalu, kemacetan lalu lintas di sekitar ini sampai 2 hingga 10 km panjangnya karena laju kendaraan di jalan terganggu saat pengendara ke luar dari parkir atau memarkir mobilnya di kiri dan kanan jalan yang di kedua sisi itu ada warung Apaleh. Belum pernah ada dalam sejarahnya di Aceh kuliner yang begitu banyak peminatnya mampu menyebabkan kemacetan kendaraan di jalan nasional sampai 10 km panjangnya, kecuali satai Apaleh. Ya begitulah hebatnya.

Tanpa perlu lama menunggu, pelayan akhirnya mempersilakan kami duduk di sebuah meja, tak jauh dari gerobak satai. Kami tak menolaknya, apalagi aroma satai yang sedang dibakar dengan asap yang mengepul sangat menggoda selera untuk segera menyantapnya.

Dua porsi satai yang masih berasap ditambah kuah soto, bumbu kacang, dan sedikit taburan bawang goreng dipadukan sedikit tetesan air cabai rawit dengan aroma yang khas disajikan kepada kami plus air timun dingin. Semua ini makin menggugah selera makan siang kami. ”Ini benar-benar nikmat,” ujar tamu saya, tanpa terasa satai yang dihidangkan di meja kami semua habis. Saya pun minta tambah satu porsi lagi. Ternyata tamu saya benar-benar menikmatinya.

Seusai makan saya biarkan tamu saya untuk berkeliling melihat dari dekat bagaimana cara mengolah satai matang. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Apaleh, sang pemilik kuliner tersebut. Dengan santun pelayan mengantarkan saya bertemu Apaleh.

Ini orang terpenting di balik kisah sukses bisnis satai di Geurugok. Soalnya nama satai yang populer dalam beberapa tahun terakhir ini diambil dari namanya selaku pemilik, yakni Muhammad Saleh. Orang kampungnya memanggil pria berpenampilan sederhana ini dengan Apaleh. Ia sudah dikaruniai sembilan orang anak, semuanya sedang menuntut ilmu di dayah/pesantren dalam Kabupaten Bireuen. Menurut Apaleh, awalnya dia mendapat ilmu cara bikin satai di Matangglumpang Dua pada usaha satai matang. Dulunya dia bekerja pada usaha satai ayah dari Tubaka (pemilik warung satai di Matangglumpang Dua), sampai beberapa tahun lamanya. Apaleh bekerja dan tinggal di Meunasah Dayah Matangglumpang Dua, tempat gudang satai orang tua Tubaka yang bernama Tu Ali.

Karena tinggal di situ, Apaleh belajar sambil bekerja. Dari ayah Tubakalah dia berguru sampai akhirnya punya “ilmu kanuragan” tentang satai dan cara berjualan. Setelah berguru dan bekerja beberapa tahun di usaha satai di Matangglumpang Dua, Apaleh yang merasa sudah mampu lalu mencoba untuk mandiri dan berusaha membuka usaha sendiri di kampungnya, Geurugok.

Awalnya Apaleh berjualan pada hari pekan (uroe gantoe), setiap hari Selasa. Saat itu orang yang membeli sangat terbatas, hanya pedagang yang berjualan pada hari pekan tersebut. “Sesekali ada juga pelajar yang pulang dari sekolah yang beli,” jelas Apaleh mengenang awal ia merintis usaha.

Menurut Apaleh, dia telah memulai usaha ± 20 tahun lalu. Di tengah perjalanan, usahanya mengalamai pasang surut. Apalagi pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan konflik berkecamuk gerobak satai yang ia kelola pernah dibakar aparat tanpa sebab yang jelas. Kejadian itu membuat dirinya dan masyarakat trauma, sehingga dia harus mengungsi ke tempat lain. Situasi saat itu memang sangat tidak menentu dan Apaleh sempat tak punya lokasi untuk berjualan lagi.

Selang beberapa tahun, Apaleh merintis kembali usahanya di sebuah warung di sisi jalan nasional Geurugok. Pelan tapi pasti ia terus bertahan walaupun pembelinya masih terbatas, Apaleh tetap sabar karena berjualan satai satu-satunya keahlian yang dia miliki setelah beberapa tahun berguru di Matangglumpang Dua.

Setelah peremajaan Pasar Geurugok, Apaleh pindah ke tempat baru. Alhamdulillah, dalam waktu setahun usahanya mulai berkembang. Awalnya satu gerobak, sekarang sudah lebih dari lima gerobak. Ia mempekerjakan 50 karyawan di warung dan 10 karyawan khusus bekerja di rumah sebagai juru masak bumbu dan menyiapkan potongan daging sapi. Penyembelihan sapi rata-rata dua ekor per hari dilakukan sendiri oleh Apaleh. Bahan baku daging dipotong-potong oleh karyawan, kemudian disucikan dan diolah dengan bumbu racikan khas Apaleh.

Karyawan, selain mendapat upah rutin harian juga mendapatkan bonus akhir tahun dari Apaleh. Dari keuntungan usahanya empat tahun yang lalu, Apaleh berhasil mendirikan balai pengajian dengan nama Darul Khairat Al-Aziziah yang berlokasi tak jauh dari rumah tinggalnya, Desa Paloh Me. Santrinya mayoritas anak yatim, jumlahnya mencapai 500 orang. Pengelolaan lembaga ini dia amanahkan kepada menantunya. Biaya pendidikan bagi para yatim digratiskan. Seluruh dana untuk operasional balai pengajian ditanggung Apaleh dari hasilnya berjualan satai.

Yang unik, karyawan yang kerja di warungnya harus mampu membaca Alquran dan wajib ikut pengajian setiap malam Jumat. Yang tidak hadir pengajian diberi sanksi, yakni tidak boleh bekerja selama tiga hari. Apabila tidak ikut pengajian selama tiga kali berturut-turut, maka langsung diberhentikan dari status karyawan.

“Karyawan juga ada yang mengajar di dayah tersebut. Khusus hari Jumat warung dibuka setelah shalat Jumat. Kalau ada acara muhadharah maka seluruh santri diberikan makan satai gratis,” ujarnya.

Apaleh justru merasa sangat terbantu dengan doa-doa para anak yatim tersebut sehingga usahanya sukses dan terus berkibar. “Keuntungan yang saya peroleh dari penjualan satai ini, antara lain, berkat doa anak-anak yatim yang saya asuh. Ini juga salah satu bekal saya menuju akhirat kelak,” ungkap Apaleh dengan mata berkaca-kaca.

“Kunci sukses lainnya adalah kepada karyawan saya tekankan agar melayani pelanggan dengan ramah, tulus, dan santun, serta selalu menjaga kebersihan,” jelas Apaleh.

Selesai makan di warung itu saya dan tamu saya sangat puas menikmati satai Apaleh. Semoga usaha satai yang menunjang operasional pendidikan 500 santri yatim ini semakin maju dan sedapatnya menjadi contoh bagi pengusaha yang lain.

Lolosnya kuliner andalan Matangglumpang Dua ini masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2019 untuk kategori makanan tradisional, semoga menjadi start awal untuk mempromosikan kuliner Aceh yang satu ini ke pentas nasional bahkan mancanegara. Selamat kepada Apaleh dan para karyawannya.

 

 

Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com tanggal /01/07/2019/ judul Sate Apaleh dan iringan doa anak yatim.

 

 

Asyiknya Menari ‘Likok Pulo’ di Solo

 

 

OLEH NATSUKO MIZUTANI, mahasiswi asal Jepang, peserta program Darmasiswa di UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Solo, Jawa Tengah

SAYA sedang berada di Solo, Jawa Tengah. Hadir ke sini dari Banda Aceh dalam rangka acara penutupan Program Darmasiswa Tahun Akademik 2018/2019 yang dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI)Solo. Peserta kegiatan ini mahasiswa dari seluruh dunia yang sudah belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas seluruh Indonesia selama sepuluh bulan.

Program Darmasiswa adalah program tahunan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas di Indonesia.

Saya ikut Darmasiswa karena beberapa alasan. Pertama, ingin belajar bahasa Indonesia. Sebelumnya saya sudah belajar bahasa Indonesia dua tahun enam bulan di Jepang, dan setahun lagi saya belajar di Aceh saat ikut pertukaran pelajar kerja sama Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Bireuen.

Pada akhir program Darmasiswa, peserta disuruh tampilkan berbagai budaya daerah Indonesia. Kami yang mengikuti program ini di UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menampilkan tarian Aceh, likok pulo. Tarian tradisional Aceh ini kami tampilkan di hadapan perwakilan dari negara lain, peserta program Darmasiswa se-Indonesia, juga pejabat lainnya.

Tim tarian kami hanya empat orang, saya Natsuko Mizutani asal Jepang bersama Toyly Ashyev dari Turkmenistan (Asia Tengah) yang belajar di UIN Ar-Raniry, sedangkan Alagie Salieu Nankeyasal dari Gambia dan Nooreena Makeji asal Thailand belajar di Unsyiah. Walau hanya empat orang, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menarikan likok pulo.

Sebelum pementasan di Solo, kami berlatih tarian ini sejak Maret 2019. Latihan seminggu dua kali, dipandu seorang guru dari Prodi Sendratasik FKIP Unsyiah. Saking senangnya, pada bulan puasa lalu pun kami tetap latihan.

Saat tampil berbusana Aceh, saya memakai pakaian yang cukup sopan, pakai hijab, dibalut pakaian Aceh bersulam benang emas. Yang laki-lakinya memakai kopiah dan selipkan rencong di pingang. Gagah sekali mereka.

Saya sangat tertarik dan senang bisa belajar likok pulo, tarian Aceh yang sangat khas. Gerakannya unik sekali. Untuk memainkan tarian ini kita harus benar-benar fokus dan kuat fisik karena gerakannya tak boleh berhenti sebelum ada aba-aba dari syeh. Gerakannya cepat dan payah, apalagi saya dan teman masih agak kaku, tetapi saya sangat senang. Para penari duduk berlutut dengan sopan, berbanjar dengan sandaran bahu sejajar, gerakannya dimulai pelan, lama-lama begitu cepat, dan serentak.

Likok pulo ini banyak sekali gerakannya. Semua badan harus bergerak, seperti geleng kepala, tangan, badan, ada yang gerak ke atas, ke samping, juga seperti gerakan senam ke atas kepala

Bagi saya, bagian tersusah dari tarian ini adalah pada syairnya, karena harus diucapkan dalam bahasa Aceh. Sangat sulit lidah kami mengucapkan syair sesuai yang telah kami tulis di kertas.

Saat syair dimulai, rasanya semangat untuk bergerak langsung timbul, bersemangat melakukan berbagai gerakan, awal-awal lambat kemudian tiba-tiba cepat, dinamis, dan bersemangat sekali. Sangat asyik menarikannya. Saya tak bisa melupakan tarian ini.

Saat kami persembahkan tarian itu pada acara perpisahan di Solo, semua yang hadir bertepuk tangan. Penonton sangat senang dan suka tarian yang kami tampilkan. Pokoknya, saya asyik sekali menarikan tarian ini. Sangat berkesan. Tarian ini benar-benar tidak saya jumpai di negara lain.

Walau permainan dan gerakan kami masih janggal dan banyak salah-salah, kami harapkan orang Aceh maklum, karena kami latihan hanya beberapa minggu saja. Semoga satu waktu nanti saya dan kawan-kawan bisa belajar lebih mahir lagi dalam menarikan likok pulo.

Di Solo kami berjumpa kawan-kawan seluruh dunia. Meski kami belajar bahasa di universitas yang berbeda di Indonesia, tapi dengan adanya acara tersebut kami bisa mengenal satu sama lain.

Begitu juga dengan teman satu grup yang dari Aceh, walau belajar di fakultas berbeda, ada dari UIN-Ar Raniry dan Unsyiah, tetapi saat tampil membawa tarian kami kompak dan akrab, karena kami belajar dan latihan tarian secara bersama.

Sebelumnya, saat ikut kuliah di Umuslim Bireuen saya juga pernah belajar tarian saman (ratoh jaroe) dengan teman-teman di sanggar Umuslim. Tariannya juga sangat membutuhkan gerakan cepat, tapi mengasyikkan. Gerakan tarian ini harus seragam dan kompak, kalau tidak bakal bentrok gerakan sesama penari dan tariannya jadi tak bagus dipandang mata.

Selain tertarik pada tariannya, saya juga tertarik pada Aceh. Sudah empat kali saya ke Aceh. Pertama, saya datang belajar di Umuslim Matangglumpang Dua. Saya tahu Indonesia cuma Aceh saja. Waktu penutupan program Darmasiswa kemarin, itulah pertama kali saya keSolo. Saya sudah hampir dua tahun tinggal di Aceh. Ke Solo rasanya agak aneh, karena saya baru tahu bahwa Solo juga bagian dari Indonesia. Saya pikir, Indonesia itu hanya Aceh dan budaya Aceh saja. Pengalaman ke Solo kemarin rasanya saya seperti jalan-jalan ke luar negeri. Hehehe.

Bagi saya, itu sangat berharga dan menyenangkan karena saya semakin tahu tentang Indonesia, bertemu teman-teman berbagai negara, menampilkan tarian dan budaya dari daerah tempat mereka belajar selama di Indonesia.

Dalam waktu bersamaan merasa senang sekaligus sedih, karena akan berpisah dengan teman-teman dan kami akan pulang ke negara masing-masing. Saya kembali ke Jepang pada 15 Juli 2019. Rasanya sangat berat bagi saya meninggalkan Aceh. Aceh sangat terkesan bagi hidup saya, sulit melupakannya. Saya ingin berlama-lama di sini, saya mau kembali lagi ke sini, tapi tak tahu kapan

Aceh telah memberikan banyak ilmu dan kenangan bagi saya, banyak teman dan saudara saya di aceh. Arang aceh sangat baik dan ramah, semua senang dan sayang pada saya. Selama tinggal di Aceh saya dibantu oleh Kantor Pusat Layanan Internasional UIN Ar-Raniry dan Office International Affair (OIA) Unsyiah baik dari segi akademik maupun nonakademik. Begitu juga saat saya kuliah dua semester di Umuslim, saya dibantu Kantor Urusan Internasional Umuslim.

Terima kasih semuanya dan terima kasih Serambi Indonesia yang telah memuat tulisan saya. Saya akan kembali ke Jepang, mungkin nanti akan saya coba tulis lagi pengalaman saat saya di Jepang.

Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Kemendikbud RI, KBRI Tokyo, Osaka, Kantor Imigrasi Kelas I Banda Aceh, UIN Ar-Raniry, Unsyiah, dan Umuslim, dosen, ibu angkat, kawan-kawan, dan orang tua teman yang tidak bisa sebutkan satu per satu yang telah membantu dan menjadi teman baik dan orang tua angkat saya, serta mau mengajarkan berbagai hal dan ilmu kepada saya selama di Aceh.

Agustus mendatang dua orang teman saya dari Nagoya Gakuin University Jepang akan kuliah di Universitas Almuslim Bireuen selama setahun dalam program pertukaran pelajar. Saya mohon mereka dibantu, agar kawan saya juga sukses belajar dan betah seperti saya di Aceh. Saya berharap kita dapat berjumpa kembali di lain waktu. Teurimong gaseh, arigatou

 

Cerita ini pernah tayang di  https://aceh.tribunnews.com/2019/07/05/ dengam judul Asyiknya menari likok pulo di solo

 

 

Subcategories