Fkip Umuslim menangkan dua hibah dari Kemenristekdikti

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim Peusangan berhasil memenangkan dua hibah dari  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), hibah tersebut yaitu  bidang program bantuan pembelajaran berpusat mahasiswa atau Student Center Learning (SCL) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS).

Kepastian berhasilnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim memenangkan hibah tersebut disampaikan Dekan FKIP Universitas Almuslim M.Taufiq,MPd, Jumat (14/5), berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Nomor: B/358/B2.1/PB.01.00/2019 tanggal 27 Mei 2019 dan Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019. 

Menurut M.Taufiq tujuan program hibah SCL, untuk meningkatkan kualitas dosen dalam mengajar, nantinya mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, kreativitas, literasi digital, problem solving, dan self directed learning.

Pada program hibah SCL berbasis TIK melibatkan 18 dosen dari 9 program studi dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim. 

Semua  dosen tersebut merupakan pengampu sembilan mata kuliah yang direncanakan pada program hibah tersebut. Kesembilan mata kuliah tersebut masih disampaikan melalui perkuliahan tatap muka, namun melalui program SCL berbasis TIK, mata kuliah tersebut akan disampaikan menggunakan pendekatan Blended Learning.

Nantinya dari program hibah ini  akan menghasilkan sembilan suntingan/kompilasi video aktivitas pembelajaran di kelas, implementasi mata kuliah pada sembilan  program studi yang memanfaatkan TIK menggunkan metode SCL dan nantinya akan adanya sembilan Artikel yang dipublikasikan pada jurnal Nasional.

M.Taufiq mengharapkan melalui hibah SCL berbasis TIK ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran dosen pada era Revolusi Industri 4.0. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi sosial seluruh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim, semoga kedepan  program hibah SCL berbasis TIK ini dapat diperluas pada program studi-program studi lain dalam lingkup Universtas Almuslim.

Menurut  M.Taufiq  bahwa yang menangkan hibah SCL berbasis TIK ini hanya 11 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, untuk pulau Sumatera hanya ada dua perguruan tinggi yang lolos, satu di Bengkulu dan satu Universitas Almuslim di Aceh, ini merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan ungkap M.Taufiq terharu.

Sebelumnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim juga telah ditetapkan sebagai pemenang Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS), hal ini sesuai surat Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019.

Menurut Dekan Fkip program Hibah PDS sistemnya  mengirimkan dosen untuk melaksanakan pembelajran di sekolah serta mengimplementasikannya di perguruan tinggi, sedangkan Hibah SCL berbasis TIK lebih menekakann pada peningkatan kemampuan dosen dalam melaksanakan pembelajaran pada era revolusi 4.0. 

Kegiatan SCL berbasis TIK sejalan dengan implementasi E-Learning di Universitas Almuslim yang telah dimulai pada semester ganjil tahun akademik 2016/2017 sesuai dengan SK Rektor Nomor 776/SK/Umuslim/PG.2016 tanggal 24 Juni 2016, jelasnya.(HUMAS)

 

Mahasiswi asal Jepang hadiri Open House di rumah Rektor Umuslim

Peusangan-Sudah menjadi rutinitas setiap lebaran, baik Idul Fitri dan Idul Adha,  Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen Dr H Amiruddin Idris SE MSi menggelar open house (menerima tamu) di kediamannya, Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang. Hari raya  Idul Fitri 1440 H/2019M, kegiatan open house  dilaksanakan Kamis (6/6/2019). 

Open House di rumah Rektor Umuslim tahun ini  terasa istimewa, karena juga hadir seorang mahasiswi asal Jepang Natsuko Mizutani  mahasiswi asal Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, yang pernah kuliah di Umuslim  hadir dengan balutan busana syariinya.

Di sela-sela menerima tamu  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi menjelaskan bahwa gadis Jepang tersebut merupakan salah satu mahasiswi dari program pertukaran mahasiswa kerjasama  Umuslim dengan NGU Jepang, dia sudah menyelesaikan program tersebut di Umuslim, sekarang sedang menempuh satu program di UIN Ar Raniry Banda Aceh, jelas Rektor Umuslim.

Rektor Umuslim H.Amiruddin Idris menyampaikan selamat berhari raya untuk seluruh civitas akademika dan masyarakat yang hadir "Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal fa izin, " ucap H Amiruddin Idris sambil menyalami tamunya satu persatu.

H.Amiruddin Idris didampinggi isteri Hj Nuryani Rachman tampak akrab dengan semua tamu yang hadir, menyampaikan terima kasih kepada tamu yang hadir. " Open house sudah menjadi agenda rutin setiap lebaran untuk menerima tamu dan meningkatkan kekeluargaan, kami memohon maaf apabila ada kekurangan dalam menyambut bapak dan ibu di tempat kami," ujar H.Amiruddin Idris yang sudah terpilih sebagai Anggota DPR Aceh pada Pemilu 2019.

Open house selain dihadiri civitas akademika  baik dekan, dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa juga turut hadir  Pembina Yayasan Almuslim dan juga anggota Komisi X DPR RI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Drs Anwar Idris, Pengurus Yayasan Almuslim Peusangan, sejumlah pejabat di lingkungannya Pemkab Bireuen serta ratusan masyarakat dari berbagai kecamatan. 

Kemudian Natsuko Mizutani ketika ditanyai pengalamannya menghadiri open house ini, merasa kagum  "Saya sangat menikmati acara lebaran di Aceh,di Jepang tidak ada silaturahmi  untuk bersama  seperti ini. Bahkan, di sini saya diajak sama ibuk Chairul Bariah (dosen umuslim) untuk bersama-sama ke acara ini, saya pakek hijab untuk menghormati masyarakat disini yang islam ujar Natsuko dengan bahasa Indonesia yang mulai lancar, ia juga sempat mencicipi beberapa makanan tradisionil Aceh seperti timphan dan pulut. Acara  Open house juga hadir Cut Zuhra, kontestan Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2019 memanfaatkan mudik lebaran turut hadir kediaman Rektor seraya menyuguhkan beberapa tembang nostalgia(HUMAS)

 

 

.

 

Tradisi Meugang ala Pengantin dan Tukang Jamu

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan.

Di Aceh ada satu tradisi yang tidak ada di tempat lain, yakni tradisi mak meugang atau sering disebut meugang saja. Yaitu, hari penyembelihan sapi atau kerbau dalam jumlah banyak untuk dimakan bersama keluarga jug dalam porsi yang banyak.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan dulu. Dalam setahun ada tiga kali masyarakat Aceh meugang, yaitu meugang puasa, meugang menjelang Hari Raya Idulfitri, dan menjelang Hari Raya Iduladha.

Di bumi Ampon Chiek Peusangan, Kota Matangglumpang Dua, Bireuen, mak meugang dilaksanakan dua hari. Hari pertama dinamakan meugang kecil, hari kedua dinamakan meugang rayeuk (besar). Saya seperti biasa membeli daging pada hari meugang pertama (kecil). Di pagi meugang kemarin, sekitar pukul 06.15 WIB cahaya di langit begitu cerah, saya dan suami menuju pasar tradisonal Kota Matangglumpang Dua untuk membeli daging sapi.

Meski masih hari meugang kecil, tetapi suasana kota menyambut Idulfitri sudah mulai menggeliat. Perjalanan ke pasar tidaklah terlalu jauh dari kediaman saya. Diiringi embusan angin pagi yang segar, kami terus melaju melewati beberapa toko dan warung kopi yang masih tutup. Namun, ada beberapa toko rempah yang sebagian karyawannya sedang bersiap-siap menunggu pelanggan. Karena hari ini meugang, tentunya akan banyak pembeli yang datang.

Saya mulai bergerilya dari arah barat ke timur mencari tempat yang pas di mana saya bisa membeli daging dengan kualitas bagus. Belum sempat membeli, di depan sebuah toko saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Herman bersama istrinya. Dia cerita bahwa sebagai pengantin baru ini untuk kedua kalinya dia ke pasar mencari daging karena dia harus mengasapi dua dapur, satu dapur orang tuanya, satu lagi dapur pengantin baru.

Sambil bergurau dengan istrinya, saya bertanya, “Apakah daging pengantin baru sudah masak? Kalau boleh, undang saya makan.” Dia pun tersipu malu.

“Bagaimana perasaan setelah menyerahkan daging meugang kepada mertua?” tanya saya untuk memecahkan suasana yang sedikit tegang. Kemudian Herman dengan malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya saat hendak ijab kabul dua bulan lalu, dia sudah galau, disergap perasaan takut dan gelisah. Terbayang dua bulan lagi menghadapi mak meugang. Dalam pikirannya sempat terbersit mampukah ia membeli daging meugang untuk mertua dan orang tua dengan penghasilan yang pas-pasan? Namun alhamdulillah, menurut Herman, dia mampu memenuhi kewajibannya hari ini dari hasil tabungan semasa lajang. “Biar sedikit gaji tapi berkat,” katanya. Bahkan uangnya pun cukup untuk membeli keperluan dapur sama dengan yang saya beli.

Nah, membeli daging meugang adalah tradisi di Aceh dan seakan menjadi keharusan untuk membawa pulang daging minimal 2 kg untuk sang mertua dan orang tua. Hal ini umumnya berlaku untuk yang berstatus menantu laki laki, walaupun sudah punya cucu, tapi kalau masih memiliki orang tua/mertua, maka ia wajib membeli daging di hari meugang, lengkap dengan bumbu dan bahan lainnya, sebagaimana disampaikan seorang kakek yang sedang membeli daging dan turut mendengarkan obrolan kami.

Karena masih harus membeli ikan dan lainnya, sahabat saya itu pun mohon diri. Kami berpisah. Kemudian saya lanjutkan gerilya pasar. Di luar dugaan, saya bertemu dengan seorang penjual jamu yang saya panggil “Bik Iyem”. Asalnya dari Jawa. Saya bertanya, apa sudah beli daging? “Belum,” jawabnya. Lalu saya tawarkan untuk jalan bersama, dia setuju. Sambil berjalan dia tuturkan bahwa membeli daging sapi di hari meugang juga tradisi bagi diri dan keluarganya, walaupun di kampungnya tradisi seperti ini tidak ada. “Karena kami pendatang, maka kami pun melaksanakan meugang sebagaimana orang Aceh. Kan tidak mungkin kalau keluarga saya hanya mencium wanginya masakan daging tetangga,” katanya tertawa

 

Membeli daging di hari meugang sudah lama dilakukan Bik Iyem. Ibaratnya dia bekerja selama sebelas bulan dalam setahun habis untuk satu bulan pada bulan Ramadhan. “Khusus bulan Ramadhan kami tidak mencari nafkah (tidak berjualan jamu), tetapi menggunakan tabungan untuk membeli daging di hari meugang, baik meugang puasa maupun meugang menyambut Idulfitri, karena menjelang Ramadhan kami juga ada mak meugang di rumah,” ungkapnya.

“Kalau ada dana lebih, kami pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga, tetapi ini sudah tiga tahun kami tidak pulang,” ungkap Bik Iyem dengan mata berkaca-kaca.

Setelah bercerita kami pun berhenti di salah satu pedagang daging sapi, kemudian kami lakukan penawaran harga, tetapi negoisasi tak mencapai kesepakatan. Akhirnya, kami cari lapak lain lagi, sampai daging dan harga yang kami inginkan tercapai. Akhirnya kami pun berpisah sambil menenteng belanjaan masing-masing.

Selanjutnya saya menyeberang jalan membeli bumbu karena lokasinya terpisah dari penjual daging. Di hari meugang tidak hanya ada penjual daging, tetapi penjual bumbu kering, bumbu basah siap saji, ikan, udang, dan beraneka ragam sayuran sebagai pelengkap untuk masak daging pun ada. Uniknya, di lokasi pasar meugang pun ada orang yang menjual pakaian, kantong plastik, bahkan berdagang obat (meukat ubat).

Masyarakat semakin siang semakin ramai yang datang, membuat saya harus berdesak-desakan. Pagi itu langit sedikit mendung, perlahan tapi pasti matahari mulai memancarkan sinarnya sehingga pedagang dan pembeli makin bersemangat. Tak terasa keringat saya bercucuran karena jalan setapak yang saya lewati lumayan jauh. Ditambah lagi posisi penjual dan pedagang daging di sisi jalan nasional, sehingga sulit untuk menyeberang ke lokasi parkir. Ada juga yang sembarangan parkir di sisi jalan.

Meugang di Aceh merupakan tradisi yang masih bertahan sampai hari ini. Semua masyarakat di Aceh baik penduduk asli maupun pendatang seakan wajib membeli daging sapi atau kerbau di hari meugang. Walaupun harga daging relatif mahal jika dibandingkan pada hari biasa, harganya rata-rata antara Rp 140.000-Rp 150.000, di hari meugang bahkan mencapai Rp 200.000, namun tidak menyurutkan niat masyarakat untuk membelinya.

Seharusnya dalam hukum ekonomi semakin banyak permintaan maka harga semakin turun atau stabil, tapi ternyata di hari meugang hukum itu tidak berlaku, bahkan harga kebutuhan pokok lainnya pun turut melonjak. Hal ini membuat sebagian kalangan bawah menjerit dan tak mampu berbuat apa-apa, sebagaimana diungkapan seorang ibu rumah tangga yang penghasilan suaminya pas-pasan dengan tanggungan lima orang anak.

“Ya, mau tak mau kami harus membelinya, walau terkadang ada juga tetangga dan keluarga yang membantu, tapi tidaklah cukup.” Dia juga mengeluh mengapa bahan pokok ikut naik harganya, bukankah seharusnya stabil atau lebih murah? Sejenak saya terdiam, lalu menjawab mungkin modal pedagang itu yang mahal, sehingga harga jualnya ikut mahal. Kemudian saya tinggalkan ibu itu yang sedang fokus memilih sayuran. Saya pun bersama suami pulang ke rumah.

Sesampai di rumah saya terpikir tradisi meugang ini memang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya yang unik, bahkan kalau perlu didaftarkan ke Unesco sebagai bentuk dari warisan budaya dunia tak benda, mengingat keunikan meugang hanya ada di Aceh. Selain itu perlu juga ada perhatian dan kebijakan dari pihak terkait dalam mengatur harga daging sehingga setiap warga dari golongan bawah dan menengah dapat menikmati daging meugang penuh kegembiraan, bukan justru dengan kegelisahan dan rasa waswas, seperti pengalaman yang dirasakan pengantin baru dan tukang jamu yang saya temui saat di pasar daging tadi.

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com/04/06/2019/ di rubrik Jurnalisme warga dengan Judul Tradisi meugang ala pengantin dan tukang jamu.

 

Subcategories