16 Mahasiswa Jepang tiba di Umuslim

 

Sebanyak enam belas mahasiswa dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang tiba di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Jumat(16/8). Kedatangan mereka  merupakan tindak lanjut perjanjian kerjasama yang sudah ditandatangani kedua Universitas beberapa tahun lalu.

 Menurut Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  saat  acara jamuan makan malam di geust house umuslim Jumat (17/8) malam, kehadiran mahasiswa NGU  merupakan angkatan ketiga, setelah angkatan sebelumnya sudah menyelesaikan studi baik di NGU Jepang maupun di Umuslim.

Sedangkan yang baru datang sebanyak 16 orang nantinya setelah mengikuti kursus intensif bahasa dan budaya Indonesia dan aceh selama dua minggu, sebagian  mereka  kembali ke Jepang, sisanyai akan menetap untuk kuliah di Umuslim selama satu tahun, papar Dr.H.Amiruddin Idris, SE,MSi.

"Umuslim juga akan mengirimkan mahasiswanya untuk mengikuti pertukaran dan kuliah di NGU Jepang" jelas H.Amiruddin Idris 

Pada kesempatan tersebut Rektor menyampaikan “Memuliakan tamu adalah bagian dari adat serta budaya Aceh yang sudah ada dari dahulu, kami menganggap tamu sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Almuslim, dengan pengertian segala keluhan, kesulitan dan permasalahan lainnya harus dapat kita sebagai orang tuanya di sini  menyelesaikannya," ujar Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si

Amiruddin Idris berharap kepada seluruh civitas akademika untuk dapat membina dan membimbing mereka seperti mahasiswa sendiri, sehingga mereka dapat menempuh pendidikan di Umuslim dengan aman dan nyaman.

“Mereka hadir ke Umuslim untuk menempuh pendidikan dan kita harus mengganggap mereka sebagai anak dan saudara kita. Mari kita beri bimbingan dan saling menjaga tata krama, meskipun mereka berasal dari negara yang mayoritas bukan muslim, akan tetapi mereka sangat menjaga tatakrama sesama,” ujar  Dr.H.Amiruddin Idris, SE,MSi.

Kemudian pada Sabtu (17/8/2019) mereka  mengikuti Upacara HUT RI ke-74 di Stadion Cot Gapu, Bireuen, seterusnya didampingi Drs Nurdin Abdurrahman, Direktur Hubungan Internasional dan Wakil rektor II Dra.Zahara,MPd menuju Meuligoe Bireuen dijamu makan siang bersama Forkopimda Bireuen. 

Adapun nama mereka adalah Kishi Airi, Tajiri Mei, Sasaki Masaki Miyuki, Ebuchi Naho, Ohba Aimi, Kato Chika, Chisaki Haruna Matsushima Mayu, Horie Mio, Aono Tatsuya, Takahera Koga, Muraki Kosuke, Muramatsu Yuki,  Morooka Daiki, Suzuki Ryoma, Ando Kazuma, Saeki Natsuko (dosen).(HUMAS)

 

Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak

 

 

OLEH : HALUS SATRIAWAN, Dosen Tetap Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Memanfaatkan liburan semester tahun ini saya pulang ke kampung halaman di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepulangan tahun ini terasa begitu istimewa bagi saya, karena sejak menjadi dosen di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, dan menetap dalam komunitas masyarakat Aceh hampir lebih kurang sepuluh tahun, sudah sangat jarang saya bisa menyaksikan berbagai atraksi budaya suku Sasak atau suku lainnya di kampung saya, Lombok.

Saat pulang kampung tahun ini saya bersama keluarga dapat menikmati kembali kekayaan budaya, salah satunya yang unik dan hampir punah adalah permainan tradisionil rakyat bernama peresean.

Peresean merupakan warisan  budaya  yang masih dipertahankan suku Sasak Lombok. Budaya ini merupakakan  jenis kesenian/olahraga tradisional. Sistem permainannya bertarung dengan rotan. Permainan ini hampir punah, karena tingkat risikonya yang tinggi. Peralatan utama dalam permainan ini adalah penjalin (tongkat pemukul terbuat dari rotan sepanjang 1,5 meter),  seperempat bagian dari ujungnya dilumuri aspal dan beling. Tujuannya untuk memberikan efek luka yang sangat perih pada tubuh yang terkena pukulan. Maklum, ini olahraga ekstrem.

Peralatan kedua adalah ende (perisai) yang terbuat dari kulit sapi/kerbau berbentuk persegi empat. Peserta peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pekembar. Para pepadu dalam permainan ini bertelanjang dada (tidak menggunakan baju apa pun), hanya mengenakan celana dibalut dengan penutup kain sarung songket khas Lombok. Kepalanya diikat dengan kain kecil bernama sapuk. Aturan mainnya, pepadu  hanya boleh memukul  bagian badan dari pinggang hingga kepala dengan penjalin, tidak boleh pukul pakai tangan atau khaki. Juga tak boleh memukul badan bagian pinggang ke bawah.

Tandingnya sebanyak lima ronde. Setiap ronde waktunya 2-3 menit. Seperti ronde permainan tinju, penentuan tidak mutlak harus lima ronde. Ada kalanay jumlah ronde disesuaikan dengan kesepakatan (musyawarah) bersama antarpanitia dan pekembar (wasit).  Selama permainan berlangsung, pemain diawasi oleh wasit. Dalam permainan ada dua wasit. Satu wasit yang melerai (pekembar tengah) dan wasit yang mengawasi dari pinggir arena disebut pekembar sedi. Pekembar sedi juga bertugas mencatat poin atau nilai yang diperoleh masing-masing pepadu.

Yang membuat permainan ini makin menarik ialah karena ada iringan musik khas, musik pengiring sebagai penyemangat bertarung. Alat musik yang digunakan berupa gendingan yang terdiri atas gong, sepasang kendang, rincik, simbal, suling, gamelan, dan kanjar. Semua alat musik itu dibunyikan sesuai alunan musik khas Lombok yang dapat menyemangati dan memicu adrenalin para pepadu untuk memenangkan pertarungan.

Selama pertandingan, musik pengiring tidak boleh berhenti. Hal ini untuk menjaga konsentrasi dan adrenalin para pepadu. Itulah yang membuat permainan pertarungan tradisi budaya Lombok mempunyai makna dan terdapat nilai patriotisme yang begitu mendalam dan mengandung filosofis yang kuat di dalamnya. Selain itu, di dalam peresean ada etika pemain yang disebut wirage, wirase, dan wirame.  Wirase mengajarkan bagaimana seorang pepadu  tak boleh melecehkan lawan mainnya. Wirage  mengajarkan sportivitas, sedangkan wirase mengajarkan unsur seni, yaitu keindahan gerak peresean tersebut.

Walaupun permainan ini  dikenal dengan tradisi pertarungan, tetapi setiap  selesai bertarung masing-masing pepadu wajib berangkulan dan saling memaafkan. Tak boleh ada dendam, seakan tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Hal ini menunjukkan persaudaraan, kekeluargaan, kerendahan hati, dan penuh kesabaran saling menghormati, itulah filosofi yang  sangat kental dicontohkan dalam permainan  ini.

Permainan peresean  hampir sama dengan geudue-geudue (gulat) di Pidie, permainan ini khusus untuk laki-laki. Kalau geudue-geude dua lawan satu dan tidak memakai alat (tangan kosong), sedangkan peresean satu lawan satu dan  menggunakan alat rotan dan perisai dari kulit kerbau.

Penonton yang menyaksikan permainan ini harus mempunyai adrenalin tinggi dan sport jantung yang kuat karena permainannya keras, saat permainan  berlangsung para pemain (pepadu) saling serang dengan menggunakan alat tarung tongkat rotan dan menangkis dengan menggunakan perisai yang terbuat dari kulit kerbau yang tebal, biasanya pepadu tangan kanan memegang tongkat rotan sedangkan tangan kiri memegang perisai.

Pertarungan dalam permainan peresean  akan berhenti ketika salah satu pepadu terluka hingga berdarah. Jika salah satu dari pepadu belum ada yang terluka, keduanya dianggap sama kuat, pertandingan dilanjutkan hingga melewati beberapa ronde sesuai kesepakatan.

Pemenang ditentukan berdasarkan hitungan bekas luka yang paling sedikit, di mana poin tertinggi akan diperoleh jika seorang pepadu berhasil memukul kepala lawannya. Apabila ada pepadu yang bocor kepalanya atau badannya agak parah lukanya, diobati pakai minyak obat tradisional dan permainan dihentikan, pepadu tersebut berarti sudah kalah knock out (KO). Menariknya, hadiah dari peresean ini  jika dihitung dari segi nilai ekonomi tidak seberapa, namun kebanggaan sebagai petarunglah yang menjadi nilai kepuasan bagi peserta.

Peresean  dilaksanakan di lapangan terbuka 20x20 meter secara melingkar atau petak empat. Batasnya dikelilingi penonton seperti batas penjual obat keliling kaki lima, waktu pelaksanaan sering setelah shalat Asar, karena pertandingan diyakini berlangsung sengit, apalagi kalau pemainnya sudah profesional, pasti ada petarung yang bisa melukai tubuh lawan hingga mengeluarkan darah di tubuh ataupun di kepalanya. Jadi, biar tak terlalu banyak darah keluar karena di terik matahari, waktu permainan ini ditentukan setelah asar sampai menjelang magrib.

Satu hal yang membuat tradisi peresean ini menjadi begitu seru dan menantang, para pepadu sama sekali tidak memiliki persiapan dan tidak mengetahui siapa lawan tarungnya. Saat  ada perlombaan sedang berlangsung, ada saja penonton yang ingin jadi  peserta dadakan dan itu dibolehkan.

Menurut sejarah, peresean merupakan satu tradisi permainan diyakini masyarakat sebagai ritual meminta hujan saat tiba musim kemarau panjang,  ada juga mengatakan salah satu bentuk latihan pemuda untuk melatih ketangkasan dan keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda.

Setelah masa penjajahan permainan ini terus dikembangkan menjadi satu tradisi di tengah masyarakat, dilakukan turun-temurun. Sekarang peresean telah menjadi salah satu  budaya suku Sasak. Dari sisi mistis, peresean  juga banyak dipercaya oleh masyarakat suku Sasak sebagai ajang adu ilmu kebal. Betapa tidak, dalam berbagai pertarungan, sering kali para pepadu saling menghantam kepala dan badan satu sama lain, tapi tidak setetes darah pun mengucur.

Dulu permainan ini digelar saat musim kemarau panjang dan tradisi ritual acara kerajaan, tapi sekarang sudah menjadi tradisi dan dipentaskan pada Festival Budaya Pariwisata di Pulau Lombok dan dalam rangka perlombaan menyambut HUT kemerdekaan RI di lapangan terbuka.

Permainan ini sering juga dilaksanakan di Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Kute Lombok Tengah yang menjadi andalan pemerintah setiap tahun. Permainan ini juga bisa kita jumpai di kawasan Lombok Timur (Sakra), Lombok Barat (Narmada dan Gerung), Lombok Utara (Tanjung), karena kawasan tersebut masyarakatnya masih sangat menjaga nilai tradisional dan memiliki padepokan khusus yang melatih para pepadu.

 

Artikel ini telah tayang di https://aceh.tribunnews.compada tanggal /2019/08/13/  dengan judul Peresean, Olahraga Ekstrem Suku Sasak, 

 

SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan

 

 OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kabupaten Bireuen.

 ANAK adalah anugerah dan harta terindah yang Allah berikan kepada setiap manusia yang dikehendaki-Nya. Seorang ibu membutuhkan perjuangan selama sembilan bulan lebih dan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Namun, tak jarang juga ada orang tua yang menyia-nyiakan anaknya. Anak adalah titipan Allah, ada yang terlahir normal, ada juga yang memiliki kekurangan secara fisik. Tapi walau  bagaimana pun kondisinya orang tua tetap harus bertanggung jawab terhadap anaknya, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai pendidikan yang harus ditempuhnya.

Dalam rangka memperingati Hari Anak, saya berkunjung ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Terpadu Bireuen yang beralamat di Jalan Cot Ijue Tanoh Mirah, Desa Cot Ijue, dengan  ditemani seorang sahabat. Saya bertemu langsung kepala sekolah dan mewawancara beberapa anak yang saya jumpai, begitu juga dengan gurunya.

SLB Negeri Terpadu Bireuen dirikan berdasarkan SK Nomor 421∕002∕2017 tanggal 1 Mei  2017 di area seluas 13.600m2, membina  pendidikan tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. Kepala sekolah pertama di SLB ini adalah Abdullah SPd, kemudian dilanjutkan Fitriana Spd. Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bu Rahmi, staf administrasi, tercatat 92 orang murid di SLB ini, terdiri atas guru TK 4 orang, SD 55 orang, SMP  22 orang, dan guru SMA 11 orang, ditambah tenaga administrasi empat orang.

Jenis kecacatan (disabilitas) atau kelainan yang dialami murid-murid di SLB Negeri Terpadu Bireuen ini adalah tuli (tunarungu) dan keterbelakangan mental (tunagrahita). Anak dengan status tunagrahita pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan biasanya terlihat dari kelainan fisik dan perilaku abnormal sehari hari, Penyandang cacat fisik (tunadaksa) dan murid autis biasanya terlihat dari pola perilaku, aktivitas, dan interaksinya yang cenderung terbatas dan berulang-ulang. Sekolah ini juga menerima murid yang buta (tunanetra) alias kedua matanya tidak dapat melihat, namun sampai saat ini belum ada yang mendaftar.

Sesampainya saya di dalam pekarangan sekolah langsung disambut ramah oleh para guru. Suasana saat itu ramai, karena baru selesai proses belajar-mengajar. Anak-anak berlarian, guru sibuk mengarahkan mereka agar tenang dan duduk manis menunggu jemputan. Namun, mereka tetap dengan dunianya.

Berada bersama mereka seakan berada di dunia yang lain. Melihat tingkah dan kegembiraan mereka tanpa terasa butiran bening bercucuran membasahi pipi, alangkah bersyukurnya saya dan keluarga yang dikaruniai  beberapa kelebihan  fisik dibandingkan mereka.

Murid yang diterima di sekolah ini tanpa batasan usia. Hanya saat ikut perlombaan ditentukan usia pesertanya, bahkan ada murid yang lebih tua umurnya dibandingkan dengan guru.

Penanganan pendidikan di sekolah ini tentu jauh berbeda dengan sekolah umum lainnya, untuk satu murid atau paling banyak biasanya ditangani oleh seorang guru, sedangkan khusus untuk murid yang autis ditangani oleh satu orang guru.

Menjadi guru di SLB bukanlah hal yang mudah, hanya orang-orang yang memiliki cinta kasih, keikhlasan, dan kesabaran yang mampu menjadi guru bagi anak-anak yang memiliki kelainan, sebagaimana diungkapkan Ibu Fitriana, ”Dalam mendidik murid di sini sangat diperlukan rasa cinta, kasih sayang, kelembutan, dan kesabaran yang tinggi, sebagai modal utama.”

Seorang guru bagi anak-anak yang disabilitas, tidaklah cukup dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah, sebagaimana diungkapkan Dek Ya. Guru berparas cantik ini mengatakan bahwa sebelum mulai mengajar dia selalu menyapa lebih dahulu muridnya dan mengajak mereka bicara atau dengan gerakan layaknya dengan anak sendiri. Ia tak memaksakan murid untuk memahami sesuatu. “Biarkan dia dengan aktivitasnya, kita hanya membimbing dan memperlihatkan dengan gerakan, apa yang harus dilakukan. Bila anak sudah jenuh, tak ingin lagi belajar kita harus berhenti. Pokoknya dalam mengajar kita harus banyak sabar,” ujarnya.

Guru yang mengajar di SLB Negeri Terpadu ini semua sarjana berasal dari bidang studi berbeda. Menurut kepala sekolah, mereka harus mengikuti pendidikan lagi lebih kurang dua tahun untuk mengambil bidang studi yang sesuai, yaitu Pendidikan Luar Biasa (PLB), sehingga tujuan pendidikan di sekolah ini tercapai. Bagi saya, guru yang mengajar di sini adalah pribadi yang memiliki kesabaran lebih dan keikhlasan yang sangat luar biasa.

Sejak berdiri SLB Negeri Terpadu Bireuen banyak prestasi yang diraih muridnya.  Tahun 2018 muridnya menjuarai berbagai perlombaan antarmurid disabilitas yang dilaksanakan di wilayah III  Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Juara I lomba melukis tingkat SMA diraih oleh Rahmad (tunarungu), juara I pantomim diraih Zulfajar (tunarungu), dan juara I MTQ Tingkat SMP diraih oleh Azirna (tunagrahita).

Sedangkan tahun 2019 murid SLB ini mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan yang  dimiliki bukanlah kesedihan dan penghalang untuk bersaing dalam berkarya dan berjuang meraih prestasi. Buktinya, ada yang meraih juara I pantomin (Zulfajar), juara I lomba lari (Zulfikri), juara I borce (Satriana), dan juara melukis (Rahmad), juara menyanyi (Morina), dan juara tari kreasi (Elvina). Yang membuat saya sangat kagum adalah prestasi murid bernama Munawarliza. Meski tak bisa mendengar, tapi mampu mematahkan harapan peserta lainnya dalam lomba desain grafis yang diadakan di wilayah III. Ia meraih sebagai juara II. Sedangkan di tingkat provinsi, Zulfikri juara harapan I lomba lari. 

Tanpa terasa waktu sudah pukul 11.15 WIB. Karena hari Jumat, saya dan teman yang setia menemani sejak awal, pun pamit. Sebelum meninggalkan lokasi, salah seorang murid tunadaksa menyapa saya dan mengatakan, “Ibu datang lagi ke sini ya, masih ada kami, bawa mainan ya.” Sontak hati saya terenyuh dan dengan suara berat diiringi butiran air mata yang tanp terasa menetes saya menjawab, “Insyaallah ibu akan datang lagi.”

Pada saat itu juga saya saksikan seorang ayah menjemput anaknya sambil memeluk dan mengusap kepala dan menggendong si buah hatinya sambil menaikkannya ke atas sepeda motor.

SLB Negeri Terpadu Bireuen ini memang belum memiliki lahan dan peralatan permainan yang memadai untuk anak. Sekolah ini masih perlu perhatian dari pemerintah dan pihak swasta untuk mewujudkan sebuah sekolah yang berstandar layak untuk mendidik anak penyandang disabilitas.

Kunjungan saya kali ini sangat berkesan. Banyak pelajaran yang saya dapat dan mungkin bermanfaat juga bagi yang lain. Rasa syukur yang tak terhingga atas segala karunia-Nya, maka tugas kitalah sebagai manusia yang dilahirkan tanpa cacat untuk mencintai mereka dengan tulus, memperhatikan hak-hak mereka tanpa diskriminasi. Sungguh,  di balik kekurangan dan berbagai keterbatasan dirinya, mereka memiliki nikmat kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh manusia normal. Mari kita hargai dan tempatkan mereka dalam kehidupan sosial secara wajar, karena mereka juga titipan Allah untuk kita.

 

Artikel ini pernah tayang di Serambinews.com tanggal /08/08/2019/dengan judul SLBN Terpadu Bireuen, Nikmat di Balik Kekurangan.

 

Subcategories