Mahasiswa umuslim ikuti pelatihan animasi di Bali

 

Peusangan-Sebanyak 5 (lima) orang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Umuslim lolos untuk  mengikuti pelatihan animasi di  Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali mulai tanggal 20 s/d 28 Juni 2019.

Menurut dosen pendamping T.  Rafli A. , M.Sn, peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah  seluruh Indonesia, meski semua biaya  di tangung pemerintah (gratis) namun untuk mengikutinya tetap melalui proses seleksi ketat peserta dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah angkatan ini, lima mahasiswa Umuslim berhasil lulus seleksi untuk mengikuti pelatihan  di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, papar T.  Rafli A. , M.Sn.

Menurut T.Rafli A, Balai Diklat Industri (BDI)  merupakan lembaga dibawah binaan Kementerian Industri dengan spesialisasi animasi, kerajinan dan barang seni, program pelaksanaan diklat berbasis spesialisasi dan kompetensi sesuai SKKNI serta Uji kompetensi dan sertifikasi. Pelatihan ini diadakan setiap tahun dengan kompetensi yang beragam khususnya yang berhubungan dengan animasi dan  Industri Creative.

Tujuan pelatihan  ini untuk membekali pengetahuan peserta dalam  upaya meminimalisir kesenjangan antara lulusan akademik dengan kebutuhan dunia industri. Peserta  di uji kompetensi  dilakukan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) nasional,  yang lulus  mendapatkan dua sertifikat, sertifikat pelatihan dan sertifikasi profesi  BNSP, bagi mahasiswa umuslim ini memiliki kaitan erat dengan matakuliah Animasi  papar T.Rafli A,M.Sn yang merupakan satu-satunya  instruktur yang berasal dari Aceh.

Diklat ini bekerjasama dengan studio animasi yang ada di Indonesia, Instruktur  berasal dari studio-animasi sepertistudio animasi Castle, Bamboomedia,Jitu, Nusa Edu, Invinite, 8 Mata. Adapun peserta dari Umuslim Muna Khalis, Alvin Khairi, Muhammad Naufal, Muhammad Ichsan dan  Hendra Saputra.(HUMAS)

 

 

 

 

 

Orang Aceh ramah-ramah

 

 OLEH Natsuko Mizutani, mahasiswi dari Nagoya Jepang, pernah mengikuti kuliah di Universitas Almuslim

 NAMA saya Natsuko Mizutani, umur 23 tahun, berasal dari Nagoya, Jepang. Saat ini saya ikut beasiswa Darmasiswa Pemerintah Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Sebelumnya tahun 2016/2017 saya ikut pertukaran mahasiswa di Universitas Almuslim (Umuslim) Matangglumpang Dua, Kabupaten Bireuen, selama dua semester.

Saya tahu Aceh ketika ikut study tour dengan rombongan mahasiswa Jepang ke Umuslim tahun 2015. Sepulang dari sana saya suka Aceh, ingin belajar budaya Aceh dan bahasa Indonesia.

Kekaguman saya terhadap Aceh akhirnya terwujud, karena adanya muhibah seni Umuslim mewakili Indonesia ke Jepang. Saat itu dilakukan perjanjian kerja sama (MoU) antara kampus tempat saya kuliah, Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang dengan Umuslim yang ditandatangani Rektor Umuslim, Dr Amiruddin Idris SE, MSi dan President Nagoya Gakuin University (NGU), Prof Hisao Kibune.

Setelah adanya kerja sama tersebut, tahun 2016 saya ikut pertukaran mahasiswa di Umuslim. Kami dua orang belajar di Umuslim selama dua semester, kemudian saya pulang ke Jepang dan terkenang-kenang karena telanjur jatuh cinta pada Aceh. Saya ingin segera kembali ke Aceh lagi. Keinginan itu terwujud. Tahun 2018 kebetulan ada Program Beasiswa Darmasiswa dari Pemerintah Indonesia di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Lalu saya ikut tes dan lulus, sehingga pada September 2018 saya kembali lagi ke Aceh dan belajar di UIN Ar-Raniry selama sepuluh bulan dan bulan Juli ini berakhir.

Jujur saja, sebelum tinggal di Aceh, saya sedikit takut terhadap Aceh dan Islam, karena di Jepang imej Islam sedikit tidak bagus. Saya khawatir tinggal di Aceh karena tidak banyak orang asing di sini. Tapi setelah tinggal di sini, saya terkejut karena sangat beda dengan yang saya dengar. Aceh malah sangat menyenangkan bagi saya. Orang Aceh baik dan ramah-ramah.

Perbedaan yang paling saya rasakan antara Aceh dengan Nagoya adalah di Aceh tak ada kereta api sebagai moda transportasi umum. Selama di Aceh kalau ingin ke mana-mana saya naik ojek yang disebut ‘Abang RBT’ atau sesekali saya minta diantar teman atau ibu angkat.

Saya juga sangat kagum pada kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di Jepang juga ada muslim dan masjid, tetapi tidak ada suara azan dan tidak banyak masjid besar. Di Jepang saya tidak biasa mendengar azan. Selama di Acehlah saya sering bangun cepat karena mendengar suara azan subuh, baik saat tinggal di rumah Ibu Chairul Bariah di Matangglumpang Dua maupun saat mondok di Asrama UIN Ar-Raniry saat ini.

Di Jepang makanan kami biasanya tidak pedas. Tapi makanan Aceh rata-rata pedas. Sewaktu saya baru tiba di Aceh, saya tidak lancar berbahasa Indonesia, tetapi saya sudah bisa bilang “Ini pedas?” dan “Jangan pedas ya.” Kedua kalimat pendek ini sangat penting bagi saya selama tinggal di Aceh. Kalau saya membeli nasi, cuma kata itu yang saya hafal.

Saya tertarik pda Islam dan saya berpuasa di sini. Pertama kali saya tidak mengerti kenapa orang muslim puasa sampai satu bulan? Puasa itu untuk apa? Saya heran kenapa teman-teman di Aceh sering bilang tidak sabar rasanya menunggu tibanya Ramadhan

Waktu pertama kali ikut Ramadhan tahun 2017, saya tinggal di rumah Bu Chairul Bariah, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Umuslim Bireuen. Beliaulah yang menjadi “okaasan” atau ibu angkat saya selama di Aceh. Beliau banyak mengajari saya tata cara berpuasa. Awalnya sulit, tapi lama-lama saya sudah terbiasa dengan puasa.

Saat puasa, momen yang paling saya tunggu-tunggu adalah waktu berbuka, karena pasti banyak hidangan yang disajikan di meja makan. Saya pun kadang bolak-balik ke meja makan. Tak sabar rasanya menuggu beduk berbunyi. Berbuka puasa bersama keluarga Bu Chairul rasanya menyenangkan sekali.

Ramadhan 2017, perkuliahan di Umuslim libur, sehingga tak mejadi kendala bagi saya berpuasa karena tidak ke mana-mana. Tetapi Ramadhan kali ini (2019) saya kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dalam Ramadhan pun tetap kuliah, sehingga sulit bagi saya menjalani puasa. Terkadang ingin minum karena haus.

Tahun 2019 udara di Aceh panas sekali, berbeda dengan tahun 2017, hal ini menjadi salah satu kendala saat saya berpuasa, karena saya tak dapat menahan haus dan konsentrasi belajar saya terganggu. Tapi kalau menahan lapar bagi saya tak masalah, cuma haus yang saya tidak tahan.

Saya juga sering menghadiri undangan buka puasa bersama yang dibuat teman-teman kuliah, tapi kalau lagi sakit saya tak puasa. Juga tak sanggup menghadiri undangan berbuka puasa.

Selama tinggal di Aceh, ada juga pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, ada cowok yang usil dan menganggu saya, tetapi lebih banyak yang menyenangkan dan membahagiakan, karena orang Aceh itu baik dan ramah-ramah. Apalagi saya sudah dua kali ikut Lebaran Idulfitri di rumah Ibu Chairul Bariah di Matangglumpang Dua.

Pada malam Lebaran saya memasukkan kue ke dalam toples. Ibu angkat memperlakukan saya seperti anggota keluarga lainnya. Untuk saya dijahit kan baju seragam keluarga, saya ikut berziarah ke makam orang tua ibu dan ayah angkat saya. Kemudian, saya juga bersilaturahmi ke rumah tetangga, bahkan ikut open house pada hari kedua Lebaran ke rumah Rektor Umuslim, Bapak Amiruddin Idris. Kemudian saya bertamu ke tempat saudara ibu dan ayah dari ibu angkat saya. Hebatnya lagi saya juga dapat THR dari beliau. Kalau di negara saya, kami hanya dapat salam tempel pada saat tahun baru saja. Di sini saya sangat senang, semua tetangga yang saya kunjungi sangat baik dan ramah saat menyambut saya.

Saya juga dibawa bertamu ke tempat keluarga Bu Chairul di Takengon sambil menikmati alam dan tempat wisata yang sangat menakjubkan. Alamnya sejuk dan indah sekali. Di Bireuen saya juga pernah pergi ke monumen perang antara Aceh dan tentara Jepang, yakni di Krueng Panjoe. Saya juga pergi ke gua Jepang di Kota Lhokseumawe. Saat berada di Banda Aceh, saya juga tamasya ke Lampuuk, Lhoknga, bahkan menyeberang ke Sabang.

Saat pergi kuliah di Umuslim dan UIN Ar-Raniry, saya pernah ditegur seseorang sambil marah, “Kenapa tidak pakai jilbab?” Saat itu saya diam saja tak tahu mau jawab apa. Saya merasa sedih, tetapi saya tahu 99% orang Aceh baik. Setelah mereka tahu saya bukan Islam, malah mereka sangat baik, menerima saya dan mau mengajari saya tentang Islam dan budaya Aceh.

Pada Juli nanti, saya harus kembali ke Jepang, tapi saya tidak pernah melupakan Aceh, karena telah menjadi kampung kedua saya. Suatu saat nanti saya pasti kembali lagi ke sini. Terima kasih untuk Rektor Umuslim Bapak Amiruddin Idris dan istrinya, orang tua angkat saya, Bu Chairul, dosen, karyawan, teman-teman baik di Umuslim maupun di UIN Ar-Raniry, juga orang tua teman saya yang telah memperlakukan saya seperti anak sendiri. Semuanya sangat baik. Kalau saya jalan di kampung banyak orang senyum dan memanggil nama saya, mulai orang tua sampai anak-anak. Mereka tampaknya sangat senang kalau berjumpa saya.

Waktu tinggal di Matangglumpang pun saya pernah dikasih kado ulang tahun oleh anak-anak, yaitu Dek Zahwa Aqilla Riva, umurnya baru 12 tahun, juga Dek Aulia Azwir. Ini sungguh pengalaman yang tidak bisa saya lupakan.

Saya sudah lama tidak berjumpa dengan orang tua kandung saya di Jepang, tetapi karena orang tua teman-teman saya di Aceh sangat baik, memperlakukan saya seperti anak sendiri, menampung saya menginap di rumahnya--baik di Matang maupun di Banda Aceh--saya serasa punya keluarga kandung di sini. Mereka juga mengajari saya bahasa Aceh, memasak masakan Aceh. Saya tak bisa makan pedas, tetapi suka masakan Aceh. Terima kasih semua masyarakat Aceh yang telah mengajari saya tentang budaya, bahasa, dan agama Islam.

Aceh sangat indah. Selama saya di Aceh banyak tempat wisata sudah saya kunjungi, misalnya di Takengon, Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Lhokseumawe. Saya akan cerita dan promosikan Aceh kepada teman-teman di Jepang, apalagi bulan Juni ini datang satu rombongan mahasiswa Jepang ke Kampus Umuslim Bireuen.

Terima kasih Aceh, masyarakatnya baik dan ramah-ramah. Selamat tinggal Aceh yang indah. Sayonara Aceh... sampai jumpa lagi

 

Cerita ini pernah tayang di  https://Aceh.tribunnews.com/tanggal 26/06/2019/ dengan judul orang Aceh baik dan ramah-ramah

 

 

 

 

 

 

Oeang Atjeh di Museum Uang Sumatra

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen

SAAT liburan Idulfitri di Kota Medan, saya sempatkan waktu untuk mengunjungi Museum Uang Sumatra yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 17, Medan Maimun, Sumatera Utara (Sumut). Ini merupakan museum uang satu-satunya di Pulau Sumatra. Di Indonesia hanya ada tiga museum uang. Pertama adalah Museum Uang Bank Sentral Republik Indonesia (Museum BI) di Jakarta, kedua Museum Uang Purbalingga di Jawa Tengah, dan ketiga Museum Uang Sumatra di Kota Medan.

Museum Uang Sumatra berada di lantai dua Gedung Juang ’45. Di dalam museum ini pengunjung akan dipandu oleh dua staf museum yang ramah, biasa dipanggil “Bang Dyo” (Dyo Adytia) dan “Bang Ichsan” (Ichsan Tarigan). Mereka akan menerangkan sejarah berdirinya museum maupun sejarah uang koin/logam dan uang kertas yang dikoleksi museum tersebut.

Dengan melihat koleksi uang yang lengkap, kita tidak menduga bahwa ternyata museum ini milik pribadi (bukan milik pemerintah), yakni milik seorang pengusaha bernama Safaruddin Barus. Ia seorang kolektor mata uang dan benda-benda sejarah. Ia menyewa ruang di lantai dua Gedung Juang milik Pemerintah Provinsi Sumut sejak tahun 2017 (berdiri 2 Mei 2017).

Sebagai kolektor mata uang, Safaruddin Barus mencari uang hingga ke pelosok Tanah Air dan ke sejumlah negara. Hasil temuan dan koleksinya dijual dan kalau di luar negeri dibeli dengan harga tinggi. Ia kemudian berpikir, bagaimana hobi dan bisnisnya ini tidak sekadar untuk kepentingan pribadi semata, tapi juga dapat menjadi ilmu bagi khayalak umum, terutama bagi generasi muda. Ia lalu menginisiasi pendirian museum.

Pengunjung yang datang ke museum ini belum begitu banyak, bahkan orang Medan sendiri pun banyak yang belum tahu bahwa di kotanya ada museum uang. Yang berkunjung ke sini umumnya orang dari luar Sumut. Bang Ichsan menceritakan, pada bulan Ramadhan lalu museum ini dikunjungi oleh sejarawan dari Universitas Gadjah Mada yang berencana akan menulis buku tentang sejarah mata uang (numismatika) Indonesia. Referensi literatur dan koleksi uang di museum ini akan menjadi salah satu rujukannya.

Bang Dyo dan Bang Ichsan senang dengan kedatangan saya. Menurut mereka, saya dosen pertama dari Aceh yang mengunjungi museum ini. Walaupun museum ini belum begitu dikenal, tapi mereka optimis, ke depannya besar kemungkinan museum ini akan menjadi salah satu ikon baru Kota Medan.

Museum ini dibuka setiap hari sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Malam hari juga buka dari pukul 20.00-22.00 WIB. Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, tapi cukup dengan membayar Rp10.000 sebagai pengganti suvenir berupa koin kuno Kesultanan Palembang yang dihadiahkan kepada setiap pengunjung. Saya mendapat hadiah dua koin Kesultanan Palembang (1659-1825).

Yang dikoleksi di museum ini adalah mesin cetak uang ORITA (Oeang Republik Indonesia Tapanoeli) dan sejumlah mata uang berbentuk koin dan kertas. Di sini juga tersedia sejumlah bahan bacaan. Mesin cetak uang ORITA digunakan di Sumut, khususnya di daerah Tapanuli pada masa Agresi Militer Belanda II (1948-1950).

Uang koin dan kertas yang dikoleksi museum mulai dari uang kuno zaman kerajaan di Nusantara, uang koin kuno dari sejumlah negara atau kerajaan (Kerajaan Inggris, Belanda, Malaka, Sri Lanka, Tiongkok, Turki, Serawak, dan beberapa negara atau kerajaan lainnya), beberapa alat tukar Kesultanan Deli, uang koin dan kertas masa Hindia Belanda, masa perjuangan kemerdekaan hingga uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Republik Indenesia.

Ada juga uang koin yang hanya dipergunakan sebatas di wilayah perkebunan saja. Uang koin ini disebut token yang dikeluarkan oleh pihak perkebunan Belanda.

Di antara bentuk uang, ada satu yang unik, yaitu uang kertas yang terbuat dari kain goni yang dikeluarkan oleh Kerajaan Buton di Sulawesi. Biasanya uang kertas terbuat dari bahan kapas agar tidak mudah rusak apabila terlipat, teremas, atau terendam air.

Saya mengamati secara khusus dan mencatat uang yang pernah beredar dan dikeluarkan oleh Aceh (Atjeh). Ada uang koin timah yang digunakan di Kerajaan Aceh mulai tahun 1524 hingga 1939. Koin jenis ini jarang ditemukan (langka) dan belum terdata sehingga perlu pengkajian lebih lanjut (termasuk tahun akhir penggunaannya).

Pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636) koin ini yang digunakan, tapi ada jenis baru yang ditemukan dan juga perlu pengkajian lebih lanjut.

Selain beredar koin timah, pada masa Sultan Aceh yang kedua, yaitu Sultan Salahuddin Syah (1530-1537) juga menggunakan koin berbahan emas dirham. Koin ini tercatat sebagai koin emas tertua yang digunakan Kerajaan Aceh.

Koin berbahan emas juga digunakan pada masa Sultanah Safiatuddin Tajul Alam Syah (Sultanah Kerajaan Aceh yang pertama) yang memerintah Aceh selama 35 tahun (1641-1675). Koin ini juga digunakan pada masa kepemimpinan sultanah ketiga, Sultanah Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688).

Kerajaan Aceh sempat mengeluarkan uang koin berbahan perak yang diadopsi dari orang Spanyol yang mengedarkan koin berbahan perak asal Spanyol di Aceh. Uang ini disebut dengan Ringgit Meriam atau Ringgit Spanyol.

Selain itu, ada koin Turki Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) yang berbahan emas, perak, dan tembaga. Penggunaan uang ini menjadi bukti sejarah adanya hubungan diplomatik dan perdagangan antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani.

Kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang paling banyak mengeluarkan uang koin berbahan emas. Saking banyaknya, apabila sekarang ditemukan dan dijual maka harganya terbilang murah. Uang koin emas Aceh termurah dibandingkan dengan uang koin emas dari kerajaan lain di Nusantara. Sampai sekarang, tidak hanya di sungai-sungai di Aceh, di Sungai Deli pun masih ada yang menemukan uang koin emas Kerajaan Aceh.

Selain uang koin, Aceh juga pernah mengeluarkan uang kertas pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang beribu kota di Bukit Tinggi. Tercatat uang emisi Atjeh tertanggal 1 Januari 1948 dengan nominal 25 rupiah, Uang Daerah Bukit Tinggi Penerbitan Daerah Khusus. Uang ini berbahan kertas tipis atau kertas tisu. Pada 1949 Aceh mengeluarkan uang dengan emisi Koeta-Radja tertanggal 1 Maret 1949 dengan nominal 250 rupiah(tanpa nomor seri), dan terbilang cukup langka. Uang ini berlaku untuk Sumut yang ditandatangani oleh Gubernur Sumatera Utara, Mr SM Amin

Sebelum Agresi Militer Belanda II, pada 15 September 1947 Aceh dengan emisi Koeta-Radja mengeluarkan uang kertas dengan nominal 50 Sen, 1 rupiah, dan 2 ½ (250) rupiah. Di samping itu ada juga Bon Contan Atjeh Timur dengan nominal Rp100 dan Rp250 yang dikeluarkan oleh Markas Pertahanan Atjeh Timur (Usman Adamy).

Warga Aceh yang berkunjung ke Medan atau yang memang tinggal di Kota Medan, saya kira, perlu menyempatkan waktu untuk mengunjungi museum penting ini. Di sini ia pasti akan mendapatkan banyak ilmu. Di sini kita bisa belajar tentang sejarah mata uang, bentuk ragam mata uang yang digunakan, dan secara khusus belajar tentang oeang Atjeh sebagai alat tukar sekaligus alat kekuatan ekonomi yang digunakan oleh Kerajaan Aceh

 

Tulisan ini pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com/22/06/2019/ dengan judul oeang atjeh di museum uang Sumatra

Subcategories