MENGUPAS JERUK BALI DI TANAH SERAMBI

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan

Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Matang–begitu nama singkatnya--sudah dikenal sebelum Indonesia merdeka sebagai basis perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda, perjuangan yang dipimpin oleh Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap dan didukung oleh tokoh-tokoh perjuangan, seperti Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk H Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk Ridwan, dan lain-lain.

Strategi yang ditempuh tokoh Peusangan (sebelum pemekaran) pada masa perjuangan melawan penjajah adalah dengan mendidirikan lembaga pendidikan yang disebut dengan Jami’atul Muslim pada 21 Jumadil Akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1929 Masehi. Lembaga pendidikan itulah yang merupakan cikal bakal Yayasan Almuslim Peusangan yang membawahi Universitas Almuslim, IAI Almuslim, Pesantren Almuslim, juga SMA dan MA Almuslim,

Jadi, perjuangan yang dipelopori oleh umara dan ulama Peusangan waktu itu, bukan dengan fisik, melainkan yang lebih utama adalah dengan ilmu pengetahun. Tak heran kalau Kota Matangglumpang Dua juga dikenal sebagai kota pelajar dan banyak tokoh lahir dari kecamatan ini.

Menurut cerita orang-orang tua dulu, pada masa kepemimpinan Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), setiap warga masyarakat diwajibkan menanam pohon buah-buahan di depan rumahnya, seperti pohon kelapa, boh giri atau jeruk bali, sawo, langsat, dan berbagai buah-buahan lainnya.

Setiap warga Peusangan yang pergi ke hari pekan (uroe ganto) di Matangglumpang, Tgk Chiek Muhammad Djohan Alamsyah--populer dengan julukan Ampon Chiek Peusangan--merazia setiap sepeda warga yang pergi ke hari pekan. Apabila warga tidak membawa hasil kebun dari kampungnya, mereka disuruh pulang lagi ke kampung. Pokoknya, setiap warga yang datang dari kampung harus ada tentengan buah-buahan atau hasil kebunnya yang dibawa ke pasar.

Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal mengapa buah-buahan seperti pisang, pinang, jeruk bali atau boh giri, belimbing wuluh (bahan baku asam sunti), dan beberapa jenis buah-buahan lainnya banyak tumbuh di Peusangan. Berbagai komoditas inilah yang telah membawa kemakmuran dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat Kecamatan Peusangan sehingga banyak warga berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai sukses dari menjual hasil kebunnya.

Berbagai tumbuhan, baik buah-buahan maupun tanaman keras lainnya yang tumbuh di masa lalu teryata boh giri-lah yang merupakan buah-buahan yang bertahan dan masih populer sampai sekarang.

Kini, kalau sedang musim jeruk bali setiap hari berton-ton buahnya diangkut ke Medan dan Pulau Jawa, apalagi kalau saat menjelang Imlek, hari raya orang Tionghoa. Mereka biasanya langsung membawa mobil tronton datang ke lokasi dan memesan pada pemilik kebun jeruk bali.

Jeruk bali atau boh giri berdasarkan kesepakatan bersama para pengusaha, boh giri bali disebut boh giri matang, tetapi masyarakat lebih mengenalnya dengan “boh giri bali”. Buah-buahan ini telah menarik perhatian banyak orang dan sekarang menjadi oleh-oleh andalan bagi tamu-tamu yang datang dari luar daerah ke Peusangan.

Jeruk bali (Citrus maxima atau Citrus grandis) asal mulanya juga bukan dari bali, melainkan buah asli dari Asia Selatan dan Tenggara. Departemen Pertanian menyarankan sebutannya adalah “pomelo” sebagaimana yang dikenal di dunia internasional.

Dalam rangka mengisi hari libur, saya berkunjung ke salah satu desa penghasil boh giri, yakni Desa Pante Lhong. Saya sempat bersilaturahmi dengan Ibu Syarbaniah, petani boh giri tradisional.

Menurutnya, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka perlu mengikuti langkah-langkah penanaman sebagai berikut:

Bibit tanaman bukan berasal dari biji, tetapi dicangkok selama tiga bulan agar cepat tumbuh;

Setelah itu dipotong dan dipindahkan ke dalam polybag selama satu bulan;

 Siapkan lubang dengan kedalaman minimal 50 cm, lebar 50x50 cm;

Tanam dengan jarak 7 meter antar pohon;

Bila tumbuh dengan baik maka akan dapat berbuah paling cepat pada usia 1,5 tahun dan secara normal akan berbuah selama dua tahun;

Beri pupuk kompos atau urea putih mulai dari enam bulan pemelihraan dan pada saat mulai berbuah serta disesuaikan dengan besar rimbun pohonnya dengan kedalaman area lubang 10 sampai 15 cm.

Untuk menjaga agar buah yang dihasilkan bagus, maka buah yang pertama hanya kita pertahankan sebanyak tiga buah, berbuah kedua sebanyak enam buah, berbuah ketiga spuluh buah dan berikutnya baru boleh sebanyak-banyaknya.

Untuk memilih boh giri yang baik sebaiknya perlu diperhatikan berat buahnya, kemudian pegang bagian bawahnya terasa lembek serta kulitnya terasa kasar. Agar rasanya nikmat dan lezat sebaiknya setelah dipetik dibiarkan selama satu minggu atau minimal lima hari baru dikupas. Berat jeruk bali berkisar 1-2 kg per buah, dengan diameter 15-25 cm.

Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.

Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan

 

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 08/05/2019/ dengan judul Mencicipi Jeruk bali di bumi Peusangan

 

Menikmati Akhir Pekan di Pantai Ujong Blang

Oleh : Yusrawati,SE.,MM Staff dan Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen

SEPERTI biasa pada setiap Minggu sore saya dan keluarga menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Kebetulan sore itu kami menuju Kota Lhokseumawe sambil mencari sedikit keperluan bahan sekolah untuk anak. Jarak tempuh antara tempat tinggal saya ke Lhokseumawe lebih kurang 30 menit.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 20 menit, sampailah kami di simpang Loskala. Simpang tersebut merupakan persimpangan menuju jalan alternatif yang dibangun untuk jalur menuju Kota Lhokseumawe dari arah barat. Kami sekeluarga sepakat untuk memilih jalur alternatif tersebut.

Memasuki jalan baru mulai dari simpang Loskala saya tercengang melihat ramainya warga yang mengambil rute tersebut. Saking padatnya lalu lalang kendaraan di jalur ini membuat kami harus mengendara dengat pelan dan sangat hati-hati.

Di sepanjang jalan sebelum sampai ke Ujong Blang, Kota Lhokseumawe, kami lihat berbagai jenis kendaraan dengan berbagai model dan seri berjalan saling mendahului, baik dari arah masuk maupun arah ke luar dari lokasi Ujong Blang. Banyak juga remaja yang mengendarai sepeda motor (sepmor) secara ugal-ugalan.

Di sepanjang pinggir jalan kami juga melihat padatnya parkiran kendaraan, baik itu kendaraan roda dua, roda tiga (becak), maupun roda empat. Semua dijejer di halaman pondok kuliner atau kafe yang dibangun berderet di sepanjang jalan menuju pantai Ujong Blang.

Ujong Blang merupakan salah satu pantai yang menjadi destinasi wisata andalan di bekas “kota gas” tersebut. Setiap hari minggu banyak pelancong dari luar daerah yang datang menikmati deburan ombak di sini.

Dari pusat Kota Lhokseumawe ke Ujong Blang butuh waktu hanyak belasan menit saja dengan berkendara. Langsung dapat kita nikamti lokasi yang nyaman untuk bersantai sambil menikmati pantai Selat Malaka.

Kami melihat betapa ramainya masyarakat yang duduk di atas tikar secara berkelompok, baik itu keluarga, maupun sesama kolega, sambil mencicipi makanan yang telah disiapkan dari rumah. Mereka dengan gembira menikmati riuhnya suasana ombak dan angin pantai pada sore itu. Tak jarang pula terlihat mereka memesan dan menikmati kuliner yang dijual di pondok-pondok yang berjejer rapi di sepanjang pantai Ujong Blang, mulai dari rujak, mi instan rebus atau goreng, hingga ikan bakar. Itulah kuliner khas pantai Ujong Blang ditambah kelapa muda yang sangat andal untuk mengusir dahaga.

Karena ramainya warga yang turun ke lau, lagi pula cuaca dan ombak pun sangat bersahabat, sehingga saya bersama anak ikut turun juga ke tepi pantai untuk sekadar melihat suasana dan menghabiskan waktu sambil menikmati hempasan ombak pantai pada sore itu.  

Dalam pikiran saya, ramainya warga yang berada di bibir pantai sore itu seperti adanya atraksi tarek pukat yang merupakan pekerjaan rutin nelayan setiap pagi di pantai ini. Tarek pukat adalah kebiasaan masyarakat nelayan untuk menangkap ikan dengan memakai jaring secara berkelompok. Biasanya tarek pukat dilakukan pada pagi hari, saat nelayan baru pulang melaut. Banyak masyarakat yang menyaksikan aktivitas tarek pukat tersebut dan menjadi tontonan yang menarik dan mengasyikkan.

Saat kami sedang menikmati semilir angin berembus ke tepi pantai dan nyanyian suara ombak yang bergelombang mendekati bebatuan yang tersusun rapi sebagai penahan ganasnya gelombang pantai tersebut agar tidak menggerus pemukiman penduduk, dari kejauhan beberapa boat kecil nelayan berwira-wiri dimanfaatkan beberapa pengunjung untuk memancing, sesekali tampak boat terhempas dengan deburan ombak setinggi lutut sehingga dari kejauhan boat seperti adegan jumping.

Saat berada di pinggir pantai saya melihat ke atas seputaran jalan, pondok atau kafe, terlihat begitu ramainya masyarakat yang datang ke pantai tersebut, rata-rata mereka pergi secara berkelompok bersama keluarga.

Yang herannya, makin sore masyarakat makin ramai yang datang, sehingga saya penasaran, ada apa? Kenapa makin mau terbenam matahari makin ramai orang yang datang, mereka ada yang hanya duduk termenung memandang ke laut lepas, ada yang asyik bercengrama sesama anggota kelompok, ada juga yang hanya untuk menemani anak-anaknya mandi laut, tetapi yang lebih banyak para remaja milenial yang asyik berselfi ria.

Karena penasaran saya sempat bertanya pada seorang pemilik kafe di jalan ke luar dari area pantai tersebut, “ Pak ada acara apa? Makin sore kok makin ramai saja orang yang datang , padahal matahari mulai terbenam.” 

Pemilik kafe itu menjelaskan bahwa ini merupakan kebiasaan masyarakat, tidak hanya masyarakat seputaran Lhokseumawe saja yang menghabiskan waktu sorenya di Pantai Ujong Blang, tapi banyak juga warrga dari daerah lain datang untuk mandi laut di Pantai Ujong Blang, apalagi pekan lalu itu mau memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, ada tradisi masyarakat kita pada minggu terakhir bulan Syakban banyak yang pergi santai untuk rekreasi bersama keluarga di pantai.

Setelah mendapat penjelasan dari bapak setengah baya itu barulah saya mengerti maksud orang tersebut hadir sampai sore ke pantai Ujong Nlang Lhokseumawe yang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Lhokseumawe. Selain menikmati pemandangan laut pada sore hari, di tengah hiruk pikuk ramainya masyarakat menikmati suasana pantai, saya juga melihat banyak warga yang memanfaatkan waktu membeli ikan segar yang banyak dijual oleh sejumlah nelayan di sepanjang jalan menuju lokasi pantai. Aktivitas jual beli ini terlihat sangat sibuk, melebihi suasana di pasar ikan sendiri. Para penjual juga begitu cekatan memainkan jurus mautnya merayu dan melayani calon pembeli yang datang dari beberapa desa di Kota seputaran Lhokseumawe.

Warga yang datang membeli ikan naik mobil umumnya lebih siap, karena mereka sudah mempersiapkan baskom atau timba plastik kecil sebagai wadah untuk menampung ikan segar yang dibeli. Apabila ada ikan yang sesuai selera dan cocok harga, mereka langsung bisa memanfaatkan baskom atau timba tersebut sebagai tempat ikan yang dibeli sehingga tidak mengotori mobilnya saat dibawa pula ke rumah. Rutinitas seperti itu terus berkelin dan dari pekan ke pekan.

 

 

Cerita ini pernah tanyang pada http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 7/5/2019 dengan judul Menikmati-akhir-pekan-di-pantai-ujong-blang

 

 

 

 

Ramadhan Plus

 

DRS. SYARKAWI, M.ED

Kepala Bapel-KKM Universitas Almuslim Bireuen

Marhaban Ya Ramadhan! Setiap memasuki bulan Ramadhan ucapan ini hampir saban tahun menghiasi setiap halaman muka media di Aceh, bahkan dunia yang mayoritas penduduknya muslim, juga tidak ketinggalan berbagai baliho dan spanduk yang dipasang sepanjang jalan protokol baik yang dipasang panitia mesjid, pemerintah maupun oleh perusahaan swasta.

Hadirnya slogan tersebut tentunya berkaitan erat dari isi firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.(Q.S. Al-Baqarah:183).

Berdasarkan ayat di atas bahwa bagi umat Islam untuk meraih pangkat taqwa tidaklah mudah, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat diperoleh oleh seseorang, asalkan tunduk dan patuh pada “Amar ma’ruf dan nahi munkar”. Tentunya dalam konteks puasa, seseorang harus dilalui oleh suatu proses sehingga ia bisa meraih gelar “taqwa”. Proses yang dimaksudkan di sini ialah proses membuat perencanaan dalam mengisi dan mengatur waktu.

Sepuluh awal dari Ramadhan sebagai “rahmah”, maka pada fase ini kita diharapkan untuk menjadikan star awal Ramadhan ini untuk bisa berjalan mulus dan sukses demi untuk melempangkan jalan memasuki fase selanjutnya dengan sempurna. Apabila fase ini berjalan tidak tuntas tentunya untuk menjalankan pada fase kedua akan terjadi ketimpangan.

Ibarat mahasiswa yang sedang kuliah apabila ada mata kuliah semester satu ada yang tidak tuntas tentunya harus menyempatkan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang tertinggal, walaupun dia bisa melanjutkan ke semester selanjutnya, tetapi masih belum tuntas dan sempurna.

Lalu sepuluh di pertengahan sebagai “maghfirah” yaitu keampunan yang diberikan Allah merupakan suatu hal yang sangat diharapkan, karena tanpa keampunan-Nya, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hal ini tentunya kita harus benar-benar bertaubat kepada Allah swt sebagai “Taubatan Nashuha”.

Rahmad dan maghfirah dua hal yang sangat mulia disusuli dengan sepuluh akhir dari Ramadhan, yaitu “itqun minan naar”, yang sungguh luar biasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya bagi yang melaksanakan ibadah puasa dan mengisi Ramadhan ini dengan berbagai kebijakan. Pantaslah Allah menjuluki orang-orang seperti ini sebagai orang-oarang yang bertaqwa.

Ibadah-ibadah sunat yang sebelum ini jarang kita lakukan, maka pada kesempatan ini kita tekuni dengan setekun-tekunnya. Ibarat petani, maka sepuluh akhir dari Ramadhan merupakan panen raya yang penuh berkah. Ibarat bahtera besar, penumpang harus mengisinya dengan barang-barang berharga.

Ibarat orang di perantauan, akan membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Dan ibarat investor akan menginvestasikan harta kekayaannya, agar kelak mendapat keuntungan di hari nanti.

Oleh karena itu seorang mukmin sejati, di kesempatan yang mulia ini harus memperbanyak lagi membaca al-Quran, bacaan shalawat, zikir, tahmid, tasbih dan memperbanyak sedekah dan shalat tahajjud, dengan harapan memperoleh lailatul qadar. Karena Rasulullah saw sangat tekun menghidupkan malam-malam sepuluh akhir dari Ramadhan. Sayyidah Aisyah r.a pernah berkatan, “Rasulullah saw apabila telah masuk (sepuluh malam yang terakhir) beliau hidupkan malam-malam itu, membangunkan keluarganya dan mempererat (tidak mencampuri isteri-isterinya)” (H.R Bukhari dan muslim).

Berdasarkan hadist di atas menginspirasikan kita betapa Rasullullah saw yang sudah ada jaminan masuk syurga, akan tetapi begitu antusias menggunakan kesempatan malam-malam terakhir ini untuk bermunajad kepada Allah swt. Hal ini menyiratkan kepada kita secara filosofis betapa besar hikmah yang Allah anugerahkan kepada umat Muhammad saw. Dan betapa ruginya kita sekiranya tidak memanfaatkan kesempatan emas dalam kehidupan ini.

Ramadhan akan melambaikan tangannya meninggalkan kita. Jika kita masih diberikan umur panjang, mungkin tahun-tahum selanjutnya akan berjumpa lagi. Atau barangkali Ramadhan ini adalah Ramadhan pemungkas dan perpisahan dengan kita. Maka sisa hanya beberapa hari lagi, tidak ada jalan lain kecuali kita penuhi hari dan malamnya dengan mengabdi kepada Allah sembari merenungi dan mengevaluasi diri, mengintropeksi serta merefleksi apa dan sejauh mana ibadah-ibadah yang sudah kita lakukan, termasuk bila dosa-dosa apa yang pernah kita lakukan.

Lailatul Qadar

Jumbur ulama berpendapat bahwa lailatul qadar turun pada tanggal-tanggal ganjil setelah masuk pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 21,23,25,27 dan 29. Kecuali itu yang terbanyak pada 27 Ramadhan, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya “Barang siapa yang mencari (mengharapkan) lailatul qadar, maka carilah ia pada malam tanggal 27 (Ramadhan)”. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Umar).

Hikmah mengapa lailatul qadar tidak bisa ditentukan malamnya dengan pasti. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam pada bulan Ramadhan, mulai dari awal sampai akhir dapat tekun dan giat beribadah, dengan harapan ibadahnya itu bertepatan dengan lailatul qadar yaitu suatu malam yang sangat mulia dan agung dimana ibadahnya itu lebih baik daripada seribu malam (83 tahun 4 bulan).

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala sesuatu. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.

Syawal tiba

Jika Ramadhan telah kita jalani dengan sukses dan sempurna, yaitu dengan menikmati “Rahmah” di sepuluh awal Ramadhan, dengan memperoleh “maghfirah” di sepuluh pertengahan dan dengan meraih “`itqun minan naar” serta dengan bertatahkan “taqwa”, maka memasuki 1 Syawal layaklah diberi ucapan “minal `aidin wal faizin”. Semoga termasuk (golongan) orang-orang yang kembali kepada fitrah (tanpa dosa) dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan.

Sehubungan dengan datangnya hari raya Idul Fitri, kita diwajibkan membayar zakat fitrah bagi dirinya, anak dan istrinya serta untuk orang-orang yang menjadi tanggungan kita. Dan bila mana telah tiba dan kita melaksanakan shalat Idul Fitri, dimana sebelumnya hendaklah mandi terlebih dahulu, kemudian berpakaian yang rapi dan memakai wangi-wangian serta agar makan-minum walau hanya sedikit.

Hal yang perlu diperhatikan dalam merayakan hari raya Idul Fitri, janganlah berlomba-lomba di dalam kemewahan. Pamer pakaian yang serba mewah dan mahal. Karena hari raya diperuntukkan kepada orang-orang yang bertambah taqwanya. Sebagaimana sabda Rasulullah “bukanlah Hari Raya itu untuk orang yang berpakaian baru, akan tetapi Hari Raya itu bagi orang yang taqwanya bertambah”.

Ramadhan plus

Idealnya orang yang berpuasa dan mendirikan (melaksanakan shalatnya pada malam lailatul qadar) karena keimanan yang teguh mengharapkan pahala dari Allah, dan mendapat keampunan-Nya, Allah menganugerahi taqwa. Sementara di hari fitri dengan kesucian dari noda dan dosa karena telah menjalani puasa, maka Allah memperuntukkan hari raya itu untuk orang-orang taqwanya semakin bertambah.

Ini artinya taqwa yang sudah diperoleh di bulan Ramadhan, memasuki bulan syawal, taqwa itu semakin kuat dan konsisten. Apalagi bila diiringi dengan puasa syawal maka Allah akan memberikan ganjaran yang banyak. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Barang siapa yang berpuasa pada bulan bulan Ramadhan kemudian diiringi puasa enam hari di bulan syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun”.(H.R. Muslim dan lainnya dari Abu Ayyub Al-Anshari).

Taqwa itu suatu yang sangat berharga dalam pandangan Allah, karena taraf dan derajat manusia ternyata terdapat pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Dan Allah sangat mengapresiasikan hamba-Nya.

Sungguh taqwa itu sesuatu yang sangat bernilai bagi seseorang dalam pandangan Allah. Karena taraf dan derajat manusia ternyata terletak pada tingkat ketaqwaan kepada Allah semata. Sebagaimana pengakuan Allah swt dengan firman-Nya” sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa kepadaNya.”(Q.S. Al-Hujarat:13).

Taqwa itu mengacu pada konsep/kaedah mengikuti semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka siapa saja yang tunduk dan patuh kepada perintah dalam bentuk apapun dan sanggup meninggalkan berbagai bentuk larangan dan bahkan syubhat sekalipun mampu ditinggalkan, maka di situlah telah nilai esensial yang dimiliki. Taqwa di hati siapa pun, laki-laki atau perempuan, tua atau pun muda, yang mengarah kepada “ibadah mukaramun, Laa yaa’shunallaha fima amarahum wa yaf’aluna maa yu’maruun”.

 

Berita  ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/ pada tanggal 06/05/2019 di Rubrik OPINI dengan judul Ramadhan Plus .

 

 

 

Subcategories