Universitas Almuslim - Universitas Almuslim

  • FKU Umuslim Berakhir, ini dia juaranya

     

    Peusangan- Penutupan kegiatan  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) berlangsung semarak  ditandai dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang dan diiringi nyanyian lagu perpisahan dan lambaian bendera peserta kegiatan seperti dari Bem,HMJ,UKM, mereka mengucapkan sayonara dan bersalaman penuh persahabatan.

    Festival Kebudayaan Umuslim (FKU), yang pembukaannya menampilkan berbagai kesenian termasuk tarian nusantara hasil koreografer mahasiswa umuslim, dimana tarian ini dimainkan seratusan mahasiswa yang berasal dari Universitas Almuslim,Universitas Pakuan Bogor dan mahasiswi dari Nagoya Gakuin university (NGU) Jepang, Selain melibatkan mahasiswa umuslim dan  beberapa  perguruan tinggi dan sekolah menengah atas seputaran kabupaten Bireuen, Festival Kebudayaan yang merupakan ajang tahunan tersebut  juga  ikut  hadir penyair nasional Fikar W.Eda dan pegiat seni Apa Kaoy.

    Wakil Rektor III Umuslim Ir.Saiful Hurry,MSi saat pidato penutupan menyampaikan apresiasi kepada panitia atas kesuksesan pelaksanaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) yang ke 3, pihaknya berharap untuk kedepan agar kegiatannya dapat ditingkatkan lagi baik bidang kreativitas maupun kualitasnya, dan pesertanya juga  lebih luas lagi, dengan mengundang peserta dari berbagai daerah dan perguruan tinggi yang lebih banyak lagi, harap Saiful Hurry

    Ketua Pema Andy Maulana bersyukur atas suksesnya FKU ini, ajang ini merupakan tempat terjalin silaturahmi antara seluruh civitas akademika, mahasiswa dan beberapa kampus lain.

    Adapun pemenang dalam kegiatan tersebut : Bidang Vokal Solo Pria, juara I, M.Iqbal ( F.Teknik umuslim),juara 2. Rizki Alkausar (SMA 1 Bireuen), 3.Rahmat (IAI Almuslim), Vokal Solo Wanita, juara I,  Mauliza Sari (SMA 1 Bireuen), juara 2 Azizah (Lhokseumawe), juara 3 Jauza (Lhokseumawe), Harapan I Cut Vita Aryana (Unimal Lhokseumawe), Harapan 2 Ocha Febri Riyanti (Kebidanan Umuslim).

    Kemudian bidang lomba Bola Sarung juara I Fakultas Ekonomi Umuslim, Juara 2 KSR-PMI, cabang Cakceng, tingkat SMA, Juara I Amanda Melani (SMA 2 Peusangan), Juara 2 Nuraida (SMK 1 Peusangan), Caceng mahasiswa, Juara I Intan Fajarna (Fisip), Juara 2 Mursyida (FKIP), Lomba Dodaidi mahasiswa Juara I Safira Amalia ( Unimal Lhokseumawe),Juara 2 Nurliza (EKP Umuslim), Dodaidi siswa Juara I Maulizar Sari (SMA I Bireuen), Juara 2 Liza Maiviza (MAN 3  Bireuen).

    Dilanjutkan dengan lomba  Stand peserta pameran kreativitas, Stand  terbaik diraih UKM Alaska, Stand terfavorit Fakultas Teknik , Duta mahasiswa Juara I Agam, Achdan ( Fisip umuslim), Inong Puja (Fisip), juara 2.Agam. M.Nizar (Teknik), Inong. Tiara (Fisip), Fotografi Juara I Salman, juara 2. Khaitami.

    Lomba opini Juara 1 Naila Zafira ( Fkip umuslim), Juara 2. Azzura (Fisip), Lomba Tarik tambang Putra, Juara I Bem Teknik, Juara 2.Bem Fisip, tarika tambang  Putri Juara I HMJ Bahasa Indonesia, Juara 2 HMJ EKP, Fashion show, Juara I TK juara I Izzatus safira (TK Ar Reza), Juara 2.Syahira (RA At Taqwa), Baca Puisi, mahasiswa Juara I Nurul Yana (Fkip), Juara 2 Syahrizal (Teknik), Baca Puisi, siswa Juara I Asmaul Husna (SMA I Bireuen), Juara 2.Saumi Naila (Pesantren Almuslim),permainan Congklak Mahasiswa Juara I Israimi (Fkip), Juara 2 Khairunnisak (Teknik), Congklak siswa Juara I Merry ( SMPS Ummul Ayman), Juara 2 Ikwani (MAN 7 Bireuen).(Humas)

     

     

     

     

  • Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik

     

     

    OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu sekolah.” Ya, waktu itu ada Pendidikan Guru Agama (PGA) Almuslim dan Pesantren Almuslim. Dulunya, Almuslim itu dikenal dan ditakuti serdadu Belanda, karena memiliki tokoh pejuang yang juga pendiri Almuslim, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Chik Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Ammad, dan sederet tokoh lainnya.

    Sejarah awal Almuslim dimulai tahun 1929. Saat itu, ulama dan ulee balang di Peusangan mendirikan organisasi sosial bernama Jamiatul Muslim (saat ini namanya Yayasan Almuslim Peusangan). Yayasan ini tergolong unik, berbeda dengan yayasan lain di Indonesia bahkan dunia, yakni milik masyarakat Kecamatan Peusangan lama (sebelum pemekaran), setelah pemekaran jadi empat kecamatan: Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Jangka. Setiap lima tahun sekali para keuchik, imum gampong, dan imum mukim dalam empat kecamatan itu bermusyawarah memilih ketua yayasan.

    Yayasan ini sempat hilang dalam peredaran, kemudian tahun ‘70-an atas inisiatif almarhum M. A. Jangka, saat itu Camat Peusangan, bersama beberapa tokoh pendidikan, pemerintahan, tokoh masyarakat, mereka bermusyawarah untuk menghidupkan kembali yayasan ini.

    Pelan tapi pasti yayasan terus bergerak, dimulai dengan mendirikan beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah, kemudian 14 Zulkaidah 1406 H bertepatan dengan 1 Agustus 1985 didirikanlah Perguruan Tinggi Almuslim (PTA) yang membawahi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK), tetapi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang merupakan cikal bakal lahirnya  Institut Agama Islam (IAI) Almuslim sekarang kampusnya berlokasi di Paya Lipah Kecamatan Peusangan, jaraknya  lebih kurang 3 kilometer arah barat  dari kampus Universitas Almuslim, sedangkan lokasi gedung tua Almuslim sekarang telah menjadi kantor yayasan almuslim peusangan (YAP) dan pusat administrasi Pesantren Almuslim Peusangan.

    Saya bergabung dengan Almuslim tahun 1992, setelah lulus SMEA Peusangan dan menjadi staf tata usaha. Saat itu, gedung kuliah sangat terbatas, masih semipermanen. Biro rektor dulunya berada di Gedung Sekretariat Pesantren Terpadu Almuslim sekarang. Gedung ini merupakan gedung tua yang direhab atas bantuan PT Arun NGL Co Lhokseumawe.

    Gedung ini sangat kokoh karena dibangun dengan batu bata yang disusun mendatar. Beberapa kali gempa tidak ada yang retak. Gedung ini menjadi saksi bisu saat konflik berkecamuk di Aceh. Saat konflik pernah saya dan teman harus tiarap di lantai menghindari peluru karena terjadi baku tembak di seputaran kampus.

    Gedung ini bersebelahan dengan Markas Koramil Peusangan, tentunya menjadi sasaran bom atau peluru pihak GAM. Kami yang sedang bekerja terkena imbasnya. Saya ingat waktu itu, laki-laki diminta berbaris di halaman gedung, sedangkan perempuan tetap berada di dalam ruangan.

    Suasana sangat mencekam, kami tak bersuara, lutut kami gemetar. Air mata membasahi pipi mengenang suasana tersebut. Saat itu hanya doa yang yang terbetik di dalam hati, perasaan penuh tanda tanya: Masih adakah kesempatan untuk menghirup udara esok hari? Dengan hati gundah, akhirnya rekan-rekan yang diminta berbaris kembali ke ruangan, semua memiliki kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Gedung tua itu benar-benar jadi saksi bisu perjalanan proses pendidikan tinggi di Almuslim. Gedung tua ini juga berperan dalam sejarah berdirinya Kabupaten Bireuen, saat detik-detik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen perdana. Semua yang ikut dalam rapat tersebut tidur beralaskan tikar sederhana, menunggu hasil keputusan esok harinya.

    Selain itu, banyak juga tamu luar negeri, pejabat tinggi, mulai dari pejabat pusat, provinsi, kabupaten, dan pimpinan proyek vital datang ke gedung tua ini dan dijamu di ruangan tersebut.

    Pada 15 Januari 2003 Universitas Almuslim (Umuslim) lahir sebagai hasil peleburan beberapa sekolah tinggi dan akademi dalam lingkup Perguruan Tinggi Almuslim, diresmikan oleh Gubernur Aceh waktu itu, Ir Abdullah Puteh MSi. Saat peresmian, gedung tua itu merupakan gedung utama biro rektor dan area utama lokasi peresmian.

    Saya ingat, setelah acara peresmian Umuslim, Gubernur Aceh melanjutkan perjalanan dinas ke Kecamatan Makmur. Eh, di dalam perjalanan tiba-tiba rombongan gubernur diserang pihak sipil bersenjata. Dalam rombongan ada Ibu Marlinda, istri Gubernur Abdullah Puteh dan istri Pak Amiruddin Idris (Rektor pertama Umuslim yang juga Wakil Bupati Bireuen). Saat rombongan kembali, istri rektor menceritakan kronologis kejadian, mereka diselamatkan aparat keamanan dan dipakaikan rompi antipeluru. Dalam kejadian itu sempat tertembak seorang perwira polisi. Suasananya sangat mencekam. Saya dan rekan-rekan mendengarnya saja merinding ketakutan.

    Alhamdulilah, perjalanan Umuslim yang dimulai dari pahit getir semasa penjajahan Belanda dan diresmikan di tengah kondisi konflik, tetap bertekad bulat mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Tahun 2002, universitas mengalamai perkembangan signifikaan saat Rektor Umuslim, Amiruddin Idris menjabat Wakil Bupati Bireuen periode 2002-2007. Banyak bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, diberikan untuk Universitas Almuslim. Sejak saat itulah banyak gedung perkuliahan yang terbuat dari papan atau yang semipermanen berubah menjadi gedung permanen. Termasuk penambahan beberapa mebel dan lab. Kampus Umuslim pun mulai menampakkan wajah sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesungguhnya.

    Saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, beberapa perguruan tinggi di Banda Aceh, baik PTN maupun PTS sempat lumpuh, banyak dosen dan mahasiswa meninggal. Nah, saat itu Umuslim ikut menampung mahasiswa yang selamat. Sampai-sampai jumlah mahasiswa tak sebanding dengan jumlah ruang kuliah dan kursi. Rektor Umuslim, H Amiruddin Idris lalu memohon bantuan kepada beberapa donatur untuk membantu Umuslim. Salah satu lembaga yang mengulurkan bantuan dari Italian Goverment, perwakilan negara Italia. Hasilnya, bisa dibangun gedung perkuliahan bertingkat, perumahan dosen, sarana ibadah, fasilitas laboratorium, dan pengembangan sumber daya manusia dengan memberikan beasiswa untuk lanjutan studi dosen.

    Tahun 2007, tercatat sebagai tahun puncak perkembangan Umuslim. Banyak calon mahasiswa masuk dengan persaingan ketat, ditambah dengan adanya kepercayaan pemerintah pusat melalui Kementerian Dikti sebagai pelaksana Program Pendidikan Guru dalam Jabatan di Provinsi Aceh, sehingga mahasiswanya mencapai 20.000 orang. Di tengah persaingan yang sangat kompetitif, puluhan program hibah dari Dikti pun berhasil dimenangkan.

    Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, manajemen kampus berupaya mencari network penggalangan dana untuk membangun gedung baru. Lalu rektorat bersama yayasan bermusyawarah dengan keluarga Ampon Chiek Peusangan untuk memanfaatkan gedung bersejarah milik Ulee Balang Peusangan (rumoh geudong milik Ampon Chiek Peusangan) sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran. Dengan catatan gedung itu tidak boleh diubah bentuknya, tetap sebagai rumoh geudong. Kini kawasan ini dikenal sebagai Kampus Ampon Chik Peusangan, Universitas Almuslim yang berlokasi di depan Masjid Besar Peusangan.

    Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi dan memperluas jalinan kerja sama untuk mengabdi mencerdaskan anak negeri, mengikuti berbagai regulasi yang terus bergulir sesuai kondisi. Sekarang, puluhan dosen sedang menyelesaikan studi S3 di dalam maupun luar negeri. Setiap tahun pula Kampus NGU Jepang mengirim mahasiswanya untuk belajar di Umuslim, begitu pula sebaliknya. Umuslim juga rutin mengirim mahasiswa PPL-KKM ke Thailand dan Malaysia.

    Kesungguhan, jalinan kerja sama, dan kekompakan telah mengantarkan Umuslim menjadi Universitas Swasta Terbaik Se-Aceh Tahun 2018, sebagaimana ditetapkan oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XIII Aceh. Alhamdulillah. Umuslim terus berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat Aceh dan bangsa.

     

    Tulisan ini telah pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 11/7/2019/ dengan judul Gedung tua almuslim saksi bisu saat konflik.

  • Guru dan santri dayah dilatih cara pembuatan pupuk organik

     

    Sejumlah dewan guru dan  santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Meureudu dilatih pengolahan tanah dan teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik, oleh tim pengabdian masyarakat dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen, berlokasi di desa Blang Awe Pidie Jaya,20 juli 2019.

    Ketua tim  pengabdian Dr. Halus Satriawan. Sp.,M.Si menyampaikan kegiatan pelatihan dilakukan  dosen Universitas Almuslim Peusangan, sebagai implementasi program Hibah yang didanai Kemenristekdikti melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun 2019.

    Menurutnya tujuan pelatihan  untuk memberikan Informasi dan pengetahuan praktis dan teknis kepada dewan guru dan santri tentang pengolahan tanah mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman (pengendalian gulma dan pemupukan) yang sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan ditanam, jelas alumni bidang ilmu tanah  IBP Bogor ini.

    Selain itu juga kami mengajarkan  dan praktik langsung teknologi pembuatan pupuk organik (kompos dan biourine) dari bahan limbah pertanian dan peternakan, serta metode pemberian pupuk yang baik.

    Menurut  ahli bidang ilmu pengolahan tanah Fakultas Pertanian (FP) Universitas Almuslim,  pelaksanaan pelatihan bagi guru dan santri ini, untuk memaksimalkan  pemanfaatan lahan pesantren bagi usaha budidaya pertanian, sehingga nantinya  dapat melatih kemampuan dan kemandirian santri dan guru dalam menyediakan kebutuhan pangan dan membantu dalam meningkatkan produktivitas mereka, papar Halus Satriawan putra kelahiran Lombok NTB ini.

    Kemudian Hakim Muttaqim, Mec.Dev.  anggota tim pengabdian menambahkan bahwa selain melatih  cara pengolahan tanah dan bidang pupuk kompos tim pengabdian juga memberikan pelatihan pengetahuan tentang sistem pemasaran atau tata niaga hasil pertanian kepada  dewan guru dan santri Dayah Sirajul Huda Al Aziziyah Meureudu Pidie Jaya.

    Harapannya dengan adanya pengetahuan ini kedepan diharapkan lembaga mitra mampu menciptakan sendiri pemasaran hasil panennya tanpa harus melalui jalur rentenir, terang  Hakim Muttaqim.

    Pimpinan Dayah Sirajul Huda Al-Aziziyah Meureudu kabupaten Pidie Jaya Tgk ikhwani, menyambut baik kegiatan pengabdian ini,kegiatan ini dapat menambah wawasan dan pengalaman dewan guru dan santri dalam bertani serta dalam hal pemasaran hasil pertanian, ujarnya(HUMAS UMUSLIM).

     

     

  • Halus Satriawan dan Sitti Zubaidah Raih Dosen Berprestasi Tingkat Aceh

     

     

    Dua orang dosen universitas almuslim (Umuslim) Peusangan Dr. Halus Satriawan,Sp.,MSi dan Dr.Ir.Sitti Zubaidah,S.Pt,S.Ag,MM,IPM berhasil meraih prestasi membanggakan dengan meraih predikat sebagai dosen berprestasi tingkat LLDikti Aceh, Informasi tersebut diperoleh berdasarkan pengumuman  yang dikeluarkan dan ditandatangani  Kepala LLDikti Aceh  Prof.Dr. Faisal, SH.,M.Hum, Senin (19/8).

    Kedua Dosen tersebut Dr. Halus Satriawan,Sp.,MSi sebagai Dosen berprestasi I bidang sains dan teknologi, sedangkan kedua Dr.Ir.Sitti Zubaidah,S.Pt,S.Ag,MM,IPM dosen berprestasi II bidang Sosial Humaniora.

    Sebagai informasi Halus Satriawan merupakan putra kelahiran Lombok  Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 11 Juni 1980 silam,  mulai mengabdi di Umuslim sejak tahun 2008. Proses pengabdian alumni pasca sarjana (S2) IPB Bogor dan S3 USU Medan ini di Kabupaten Bireuen, setelah Umuslim menerima lamarannya yang didaftar melalui online pada saat penerimaan dosen sebelas  tahun lalu.

    Riwayat pendidikan dosen tetap Umuslim ini dimulai tahun 1991 menamatkan Sekolah Dasar Negeri Batujai Lombok, kemudian menamatkan SMP pada tahun 1994, STM tamat tahun 1997, dan Sarjana Pertanian pada Universitas Mataram  pada tahun 2003,  semuanya itu di Nusa Tenggara Barat (NTB), kemudian hijrah ke pulau Jawa dan menyelesaikan Program Pasca sarjana(S2) Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007, dan program Doktor (S3) di USU Medan sekarang menjabat sebagai ketua LPPM Universitas Almuslim.

    Sedangkan Sitti Zubaidah, kelahiran  Tanjung Pura, 01 Agustus 1975, Riwayat pendidikannya Sarjana (S1) Peternakan Unsyiah,  Sarjana (S1) IAIN Ar-Raniry Tarbiyah/Bahasa Inggris, Magister (S2) Unsyiah Manajemen dan Program Doktor (S3) Universitas Brawijaya ( Unibraw) Malang, sekarang menjabat sebagai ketua prodi Peternakan fakultas pertanian universitas almuslim, sebelum mengabdi di umuslim alumni S3 Universitas Brawijaya Malang ini pernah  bekerja pada NGO FAO-UN.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris, SE.,MSi  mengucapkan syukur atas prestasi yang diraih dua dosen ini, keberhasilan ini semoga menjadi spirit bagi seluruh civitas akademika untuk mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi pengembangan Universitas di masa yang akan datang. (HUMAS).

     

     

  • Hari Kedua Umuslim wisuda 299 lulusan dan 34 orang raih Cumlaude

     

     

     

     

      Peusangan-Pelaksanaan rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana (S1) dan ahli madya  Universitas Almuslim, pada hari kedua  mewisuda sebanyak 299 lulusan dengan rincian 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP), Diploma III Kebidanan 44 lulusan dan  sebanyak 34 lulusan  meraih  prediket  cumlaude.

    Selain  prosesi wisuda lulusan Diploma III Kebidanan juga disumpah, Acara penyumpahan dipimpin Sekretaris Dinas Kesehatan Bireuen Dr.Irwan A.Gani berlangsung di Auditorium Akademic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Minggu (2/12/2018).

    Sebelum kata-kata sumpah di ucapkan oleh lulusan Diploma III Kebidanan, mereka terlebih dahulu di wisuda bersamaan dengan 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP). Jadi keselurahan yang di wisuda pada hari kedua sebanyak 299 orang dengan rincian, Diploma III Kebidanan 44 orang dan FKIP 255 orang, dari sejumlah lulusan tersebut sebanyak 34 orang  meraih  prediket lulusan  cumlaude

    Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE,M.Si  dalam pidatonya menyampaikan, sekarang di era revolusi industri 4.0, banyak regulasi yang menuntut guru dan bidan harus kompeten. Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Kebidanan.

    Para lulusan kependidikan  dan Kebidanan yang di wisuda hari ini, harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensi agar bisa menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0.

    Sekarang Guru setelah selesai S1, belum diakui sebagai guru, tetapi masih dituntut lagi untukmengikuti Program Profesi Guru (PPG), begitu juga  bagi lulusan Diploma III kebidanan, setelah tamat tidak langsung bisa bekerja tetapi mereka harus lulus Uji kompetensi untuk memperoleh STR.

    Sekarang Umuslim sedang berjuang untuk bisa menyelenggarakan Pelaksanaan PPG dimasa yang akan datang, sehingga lulusan siap menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0 ini, ujar Rektor Umuslim.

    Kepada lulusan jangan berputus asa, jangan hanya bermimpi jadi PNS, teruslah belajar meningkatkan kompetensi keahlian karena masih banyak peluang lain yang bisa saudara lakukan. Apapun dan dimanapun yang kita lakukan merupakan wujud dari pengabdian seorang lulusan, jelas  H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja kembali dari Pulau Andaman dan Nikobar India.

    Menurutnya menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi  seperti pengembangan Cyber university, penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal Teknologi Informasi, Kecerdasan buatan, sistem siber (Cyber System),  untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil.

    “Demikian pula bagi lulusan Diploma III Kebidanan, tidak boleh luput dari kemampuan keunggulan menguasai teknologi dan bahasa, hal ini karena perkembangan ilmu kedokteran yang begitu pesat dan tersebar cepat dengan berbagai penemuan baru,” ungkapnya.

    Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan Universitas Almuslim menghadapi Revolusi Industri 4.0.yaitu  program inovasi sistem pembelajaran pendidikan online learning (Cyber University).

    Program  Cyber University  nantinya diharapkan menjadi solusi bagi Universitas Almuslim dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital yang semakin berkembang.

    “Baru saja kampus ini menyelesaikan  program   Pendidikan Jarak Jauh dan Hibah Sistem Pembelajaran Daring Indonesia  (SPADA Indonesia) yang bertujuan untuk meningkatkan akses belajar mahasiswa dari dosen-dosen PTN dan PTS di seluruh Indonesia, dimana mahasiswa  mendapat pembelajaran secara Daring (online),” ungkap Rektor Universitas Almuslim.

    Hadir dan ikut memberikan  sambutan pada wisuda Umuslim hari kedua,  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan  Tinggi  (LLDiKTI) XIII Aceh, Prof Faisal A.Rani,SH,M.Hum dan ketua Pembina Yayasan Almuslim yang juga Anggota DPR RI, Drs Anwar Idris. Kemudian dilanjutkan dengan  orasi ilmiah disampaikan Prof Djufri, M.Si, Dekan FKIP Unsyiah dengan tema tantangan Guru masa depan..(HUMAS)

  • Histori Sumur tua, Jejak James Siegel di Aceh

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen tetap Universitas Almuslim( Umuslim), dan Anggota FAMe Chapter Bireuen.

    Profesor James Siegel, pria berkebangsaan Amerika Serikat kelahiran 10 Februari 1937, seorang Profesor Antropologi  dan Studi Asia dari Cornell University,  dikenal sangat dekat dengan   tokoh DI/TII dan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo  (1945-1953) Tgk Daud Beureueh di Beureunuen Pidie.

    Profesor,  jebolan Universitas California,  Amerika Serikat bersama isterinya Sandra wanita berkebangsaan Prancis, tahun 1962-1964, pernah  tinggal di Aceh, menetap dirumah almarhum Abdurrahman Basyah (ARMAS) di Gampong Lada Kecamatan Mutiara Timur Kabupaten Pidie.

    Minggu lalu penulis bersilaturahmi  dengan pemilik rumah Hj.Mariah binti Pardan (84),  walau sudah uzur nenek yang sudah mempunyai 28 cucu ini, ingatannya  masih kuat, penuh semangat bercerita berbagai kisah kehidupan  James Siegel selama menetap dirumahnya.

    Didampingi putra bungsunya, Amir Armas, Hj Mariah menceritakan  kisah James Siegel  tinggal  di rumah Aceh miliknya. Rumah tersebut mempunyai 12 tiang (tameh). Menurut Hj Mariah, rumahnya ditunjuk sebagai tempat tinggal Siegel atas arahan Abu Daud Buereueh, tokoh utama dalam pemberontakan DI/TII Aceh yang menjadi objek penelitian Siegel, tempat tinggal James Siegel, jaraknya lebih kurang satu kilo meter ke kediaman Abu Daud Buereueh jelas Amir Armas.

    Menurut Hj.Mariah penunjukan rumahnya sebagai tempat tinggal Jiem Seigel atas arahan Abu Daud Buereueh, saat menetap di gampong Lada Jiem Siegel didampingi (Alm) Prof Dr.Amin Aziz bertindak sebagai penterjemah, karena Jiem Siegel  masih kurang lancar bahasa Acehnya, Amin Azis  putra Aceh pakar bidang ekonomi Syariah yang sukses di Jakarta.

    Histori keberadaan pria Amerika menetap di rumah tersebut,  tersisa sebuah sumur tua, di bangun saat James Siegel menetap bersama istrinya, “sumur itu keluarga kami yang bangun, saat pembangunan Siegel turut membantu tukang angkut batu bata ”, cerita Amir Armas mengenang masa kecilnya.

    Cerita lain  juga disampaikan  anak kedua pemilik rumah yaitu  Ir.Hasbi Armas (61) (mantan Sekretaris partai Demokrat Aceh/pengurus Gapensi Aceh) sekarang menetap dirumah tersebut bersama orang tuanya, menurut Hasbi masyarakat memanggil James Siegel  dengan nama  “Teungku Puteh” ada juga menyebutnya Tgk Jiem.

    Penyebutan nama James Siegel berbau aceh oleh masyarakat, merupakan  penghormatan dan penerimaan masyarakat Aceh pada tamu yang datang dan menetap di lingkungan mereka, ini bagian dari adat dan sejarah Aceh yang menghormati dan memuliakan tamu, jelas Hasbi Armas.

    Masa itu sudah berlalu, warga yang pernah tahu dan  kenal sosok Prof. Siegel sudah banyak  almarhum,   bukti peninggalan pria  Amerika pernah berbaur tinggal dalam komunitas  masyarakat aceh ada satu sumur berukuran 4 x 3, dinding beton setinggi 1.80 m, mempunyai kedalaman 7 cincin sumur, di dinding bagian dalam tercoret tulisan James & Sandra Siegel, Nov,24,1963 dan  alamat Siegel di Amerika, sumur tersebut kini  berdiri kokoh di sudut sebelah kiri halaman rumah  Hj.Mariah  desa Gampong Lada Kecamatan Mutiara Timur, Pidie.

    Sedangkan rumah Aceh  penuh ukiran sudah di bongkar, lokasi pertapakan rumah Aceh  sudah dibangun rumah beton minimalis masa kini, sisa sumur tersebut mempunyai makna  mendalam bagi warga,  siapapun generasi tua yang pernah mengetahui sosok "Tengku Puteh"  melihat sumur tersebut langsung terbayang nostalgia masa lalu keberadaan Profesor asal Amerika tersebut.

    Saat tinggal di Gampong Lada,  Siegel  dekat dan    pandai bergaul  mengambil simpati masyarakat, memanggil nama orang kampung  sangat familiar, penuh kearifan lokal, bernuansa keacehan seperti Utoh Samad, Geuchik Rasyid, Imum Sabi, Chiek Mud, Toke Usuh, Mat Sehak,  Polem Husen, Tgk Thaleb, Apa Kaoy, Apa Don, Cupo Mariah, Cupo Bungsu, Cupo Minah, Cuma Syah, Cupo Baren, Mawa Sani dan nama aceh lainnya, setiap berjumpa orang kampung  dengan fasih dan akrab memanggil nama berbau ke acehan.

    Bukti lain James Siegel  pernah tinggal di desa tersebut tertulis dalam buku  karangannya dalam bahasa Inggris berjudul The Rope of God (Berpegang pada Tali Allah), setahu penulis buku itu tidak banyak beredar di Indonesia. Isi buku  menceritakan kehidupannya selama tinggal di Gampong Lada Beureunuen dan Aceh secara umum, juga berisi  informasi pemikirannya  tentang sejarah, politik, kehidupan keagamaan dan  adat istiadat  masyarakat Aceh serta pandangannya dari seorang warga asing.

    Warga desa generasi kelahiran 50-an kebawah,  masih sangat kental ingatan dan kenangan  kehidupan James Siegel, asal disingung cerita Siegel mereka langsung terbayang kenangan masa lalu, sambil bercerita bukti sumur tua  tersebut. 

    Seperti cerita seorang warga Apayeuk Don, bercerita  pribadi Jiem Siegel, "Jiem sangat  dekat dan berbaur dengan masyarakat kampung, “baik kerja udep dan kerja matee di gampong dia selalu hadir", jelasnya sambil menghisap rokok yang tinggal  setengah inci lagi.

    Jiem juga ikut bersama masyarakat  menghadiri kanduri maulid di meunasah tetangga, kebiasaan masyarakat, setiap ada kanduri maulid di kampung saling mengundang, berkunjung  antar desa, untuk mencicipi kanduri maulid di meunasahnya, istilah mereka untuk desa tetangga mengundang besan.

    Begitu juga kalau ada takziah orang meninggal desa tetangga "Tgk.Puteh" bersama masyarakat ikut melayat,  kalau ada gotong royong di sawah dan kanduri dia hadir berbaur dengan masyarakat jelasnya.

    Keakrabannya tidak hanya dengan orang tua, dia juga pandai bergaul dengan anak muda, pernah pagi (Subuh) dia pergi ke meunasah melihat anak muda tidur meunasah, Jiem Siegel menjumpai anak muda yang baru bangun tidur,  Jiem Siegel bertanya  “Peu na lumpou buklam” (ada mimpi apa tadi malam) siapa  yang menjawab ada mimpi dan menceritakan mimpinya, Jiem langsung memberikan  uang sekedar  minum kopi dan sarapan  pagi, tidak ada  yang tahu  misteri  pertanyaan mimpi tersebut, sehingga gara-gara dikasih uang bagi yang bermimpi, besoknya  semua  yang tidur di meunasah merekayasa dan melapor cerita mimpi  dengan tujuan mereka juga dapat uang ngopi pagi, cerita Rahmad Rasyid bersama Amir Armas kebetulan pernah juga keciprat uang mimpinya.

    James Siegel pernah  cukup lama meninggalkan Aceh,  saat konflik pernah datang  ke Aceh dan pasca gempa tsunami Siegel kembali mengunjungi rumah tersebut sambil melihat sumur yang telah menjadi sejarah kehidupannya bersama istri,   ini membuktikan kecintaannya  bagi masyarakat aceh, saat itu Siegel menanyakan warga  yang dia kenal, masih ada atau sudah meninggal, kalau masih ada, dia kunjungi bersilaturahmi sambil memberikan ala kadar bungong jarou, seperti kebiasaan orang aceh mengunjungi orang tua ataupun orang sakit, timpal Rosda Armas anak Hj Mariah yang sekarang menetap di Medan.

    Untuk masakan tidak begitu masalah bagi Siegel, sehari-hari dia menyukai roti, kentang, masakan Padang, masakan aceh lebih suka masakan  bebek panggang dan udang, jelas Cupo Bungsu yang pernah memasak makanan untuk Tgk Jiem.

    Selain kisah ini, tentunya banyak histori lain sekitar kita,  layak  diungkap, dilestarikan dan dibukukan. Sudah saatnya pemerintah, masyarakat dan pegiat sejarah  menggali, menginventarisir, berbagai bukti, kisah dan mewarisi kejadian masa lalu untuk kepentingan anak cucu di masa depan. (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.).

     

    Artikel ini pernah  tayang di serambinews.com pada tanggal /19/08/2019/.dengan judul Sumur Tua, Jejak James Siegel di Aceh, 

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • HMJ Agribisnis umuslim gelar pelatihan kepemimpinan

    Peusangan-Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan melaksanakan  kegiatan  Pelatihan Kepemimpinan dan Pengenalan Organisasi bagi mahasiswa prodi tersebut, bertempat di aula kampus timur Universitas Almuslim, Sabtu (15/12/ 2018).

    Menurut  ketua HMJ prodi Agribisnis Fakultas Pertanian  Universitas Almuslim Wahyu Umaya, bahwa kegiatan ini dilaksankan satu hari penuh, bertujuan untuk  menumbuhkan semangat dan keinginan berorganisasi  bagi mahasiswa.

    Kegiatan yang mengambil  tema " Membangun sikap tanggung jawab dan disiplin dalam berorganisasi, menghadirkan pemateri   alumni yang telah sukses dalam berorganisasi seperti kakanda  Saifanur Suryadi. SP dan Muhammad Razanur.SP, kedua mereka adalah alumni fakultas pertanian dan juga mantan Presiden dan pengurus oraganisasi Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Umuslim, jelas Wahyu.

    Ketua Program Studi Agribisnis Elfiana SP,.M.Si, mengucapkan terimakasih kepada HMJ, kami sangat mendukung kegiatan yang digelar HMJ dengan mengelar  kegiatan yang  bermanfaat bagi mahasiswa guna  meningkatkan kapasitas keilmuan khususnya bidang organisasi.(HUMAS)

    Foto : Ramadhan

  • India dan Umuslim tingkatkan Kerjasama Bidang Pendidikan

     

     

    Pemerintah India menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kerjasama bidang pendidikan dengan Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen, Hal itu dikatakan Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia dan Timor Leste, Pradeep Kumar Rawat, dalam pertemuan singkat dengan Rektor dan civitas akademika Umuslim, di Ruang Rapat  Ampon Chiek Peusangan, Matangglumpangdua, Rabu (7/8) Sore.

    Pada pertemuan tersebut Dubes Pradeep Kumar Rawat  didampingi Konsulat Jendral India di Medan yang berbicara dalam bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bahwa ada universitas swasta di India sedang menjajaki untuk melakukan kerjasama dengan universitas di Indonesia. 

    "Universitas di India melakukan pendekatan dengan Dubes India untuk Indonesia, agar dapat menghubungkan dengan universitas-universitas di Indonesia, seperti Universitas Almuslim ini," papar   Pradeep Kumar Rawat  

    Menurutnya  Pemerintah India banyak menawarkan program pendidikan dan pelatihan gratis bagi akademisi, pegawai negeri. Dan disarankan kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen untuk memanfaatkan program tersebut. 

    "Di India, program pelatihan banyak dimanfaatkan oleh pegawai pemerintah dan akademisi. Karena semua biayanya gratis," ungkapnya.

    Selain itu,  Dubes India untuk Indonesia ini juga menyampaikan bahwa biaya pendidikan dan biaya  kebutuhan hidup di India sangat murah. "Demikian juga masalah makanannya, antara Aceh dan India banyak kesamaan," jelasnya 

    Ia juga memastikan, program pertukaran mahasiswa antara Umuslim dengan universitas di India akan segera dilaksanakan. Pada kesempatan itu, Dubes India Pradeep Kumar kawat menyampaikan penghargaan kepada Umuslim yang telah menyambut kehadirannya di Kabupaten Bireuen. Meskipun menempuh perjalanan darat dari Banda Aceh terasa melelahkan, namun rasa lelah itu terbayar dengan menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan. 

    "Berjalan jauh dari Banda Aceh ke Bireuen seperti saya melakukan perjalanan di India," ungkapnya senang.

    Menurut Pradeep Kumar kawat  lagi, kehadirannya di Umuslim, untuk memenuhi janjinya dengan Rektor Umuslim Dr H Amiruddin Idris SE MSi beberapa waktu lalu. "Saya pernah menjanjikan untuk mengunjungi Universitas Almuslim. Hari ini sudah saya penuhi janjinya walaupun hanya sebentar," ungkapnya.

    Sebelumnya, saat penyambutan Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris, SE MSi menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Dubes India untuk Indonesia dan Timor Leste dan Konjen India di Medan yang telah mengunjungi Umuslim.  Dan umuslim merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi yang dikunjunginya dalam lawatan ke Aceh. Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim memperkenalkan secara singkat tentang perguruan tinggi yang dipimpinnya itu.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi  menyampaikan, bahwa Umuslim memiliki 6 orang dosen yang merupakan lulusan universitas di India. "Bahkan ada dosen yang menyelesaikan program doktoral di universitas di India," beber H.Amiruddin Idris. 

    Rektor yang juga penulis buku "Bireuen sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh" ini kepada Dubes India menyampaikan, bahwa ide Konektivitas Pengembangan Ekonomi tiga negara, Indonesia - India - Myanmar lahir di Umuslim. 

    Pihaknya sangat bersyukur karena gagasan yang dilahirkan oleh Universitas yang berada di kampung ini telah mendapat sambutan hangat Presiden Joko Widodo, kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Luar Negeri

    Drs Nurdin Abdulrahman, Bupati Bireuen periode 2007-2012  saat ini menjabat sebagai Direktur Hubungan Internasional Umuslim juga hadir dan menyampaikan gagasannya dalam bahasa inggris tentang kerjasama bidang pendidikan.

    Pada kesempatan tersebut hadir ketua pembina dan ketua yayasan Almuslim Peusangan,  dosen dan mahasiswa Prodi Hubungan Internasional dan mereka juga berkesempatan berbicara langsung dengan Dubes. (HUMAS)

     

  • Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta,

    CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua

    CERITA masa lalu sering tersembunyi di balik nama sebuah desa atau gampong, termasuk di Provinsi Aceh. Cerita rakyat berupa legenda atau kisah sebuah desa sering tidak tercatat dalam sejarah, tapi diakui secara turun-temurun oleh masyarakatnya. Ada tradisi bahkan ritual yang terkadang harus dilakukan. Jika tidak, maka akan terjadi sesuatu, ya sebutlah semacam bala atau tulah (kemalangan). Namun, banyak juga orang yang mengatakan bahwa itu adalah mitos, meski ada juga yang sebagian mengatakan itu justru kenyataan atau realita yang harus dipatuhi.

    Salah satu desa yang termasuk dalam cerita sejarah dan legenda adalah Gampong Lamkuta di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Desa Lamkuta dapat ditempuh ± 15 menit perjalanan dari ibu kota Kecamatan Peusangan, Matangglumpang Dua. Desa ini merupakan desa tertua di Kecamatan Jangka dengan jumlah penduduk hanya 300 jiwa.

    Asal mula nama Desa Lamkuta, yaitu dari kata “Lam” dan “Kuta”. Lam artinya di dalam (bahasa Aceh), sedangkan kuta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tempat berlindung. Begitu juga dalam bahasa Aceh, kuta bermakna kubu/pertahanan. Jadi, artinya tempat pertahanan atau berlindung dari serangan musuh.

    Sampai saat ini masih dapat kita lihat sisa zaman perang di Lamkuta, berupa gundukan tanah yang dulu dijadikan bunker atau tempat pertahanan perang di bawah tanah, karena pada zaman dulu semasa perang melawan Belanda dan Jepang Lamkuta menjadi pusat pertahanan perang di wilayah Bireuen, terutama di Peusangan. Bukti sejarah terjadinya “Perang Krueng Panjoe” yaitu perang Indonesia melawan Jepang pada 24 November 1945, dapat kita lihat di tugu dan prasasti yang terletak tidak terlalu jauh dari pinggir jalan nasional, tepatnya di Desa Meuse, Kecamatan Peusangan.

    Ada sebelas tokoh pemimpin yang namanya terukir pada prasasti tersebut yang ikut bertempur pada masa itu, yakni Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Ismail AR, Tgk H Mohd Thahir Mahmud, dan lain-lain. Ada juga para syuhada yang gugur dalam perang tersebut, di antaranya Mandor Basyah, Tgk H Cut Ben, Tgk H Krueng, dan lain-lain. Namun sayangnya, bukti sejarah tersebut belum terawat dengan baik.

    Menurut informasi yang saya dapat dari Munawir, Keuchik Lamkuta bahwa penduduk Lamkuta mayoritas bekerja sebagai petani, dengan latar belakang pendidikan rata-rata tingkat SLTA, dan SMP. Hanya beberapa orang saja yang sarjana. Pria yang baru berusia 35 tahun ini juga mengatakan, karena minimnya keahlian sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki terkadang menjadi kendala mengapa Desa Lamkuta lambat perkembangannya jika dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Jangka.

    Masyarakat Lamkuta hidupnya juga sederhana, tidak ada yang kaya, tetapi hidup berkecukupan. Namun, di balik itu ada juga cerita legenda yang dipercaya secara turun-temururn oleh masyarakat Lamkuta, sebagaimana dikisahkan salah seorang tokoh masyarakat bernama Nek Him, orang tertua di Lamkuta yang disampaikan oleh Tgk Nasruddin Ahmad berumur ± 70 tahun. Ia yang pernah menjadi mukim di Lamkuta Jangka menyebutkan bahwa Desa Lamkuta sudah ada sejak 1.300 tahun lalu. Dulunya desa ini bernama Meunasah Buloh, digagas oleh serombongan orang pedagang dari Gujarat, India yang datang melewati Selat Malaka dan mendarat di Kuala Jangka. Saat itu Desa Meunasah Buloh masih berupa hutan belantara yang banyak binatang buasnya, seperti harimau dan ular.

    Kepala rombongan itu bernama Ja Peucandu. Mereka membabat hutan belantara menjadi daerah permukiman. Ja Peucandu atau Raja Kecil adalah seorang tabib, di samping itu ia juga suka menangkap ikan di alue (anak sungai) dengan alat tradisional angkoi (jaring angkat). Lalu pada suatu malam, tepatnya 27 Ramadhan dia pergi ke alue untuk menangkap ikan. Namun, sampai menjelang sahur ikan tak juga didapat. Menjelang pulang naiklah seekor hewan mirip kura-kura tetapi berbelalai. Hewan ini dinamakan gajah sigeundiek. Ja Peucandu melepaskan kembali binatang itu ke alue sampai tujuh kali, namun ia naik lagi. Akhirnya, Ja Peucandu membawanya pulang dan disimpan di bawah belanga di atas para (tempat menyimpan perlengkapan memasak di dapur bagi orang Aceh).

    Keesokan malamnya Ja Peucandu pergi lagi ke alue dan ternyata kejadian yang aneh itu terulang kembali. Dia mendapati seekor gajah sigeundiek naik lagi ke jala kemudian dibawa pulang dan disimpan lagi di tempat yang sama. Pada Lebaran Idul Fitri ketiga Ja Peucandu teringat dengan sepasang gajah sigeundiek apakah masih hidup, lalu diberi makan berupa nasi putih dicampur dengan kelapa kukur. Esok harinya dia buka belanga dan alangkah terkejutnya begitu melihat kotoran binatang tersebut adalah butiran emas sebesar biji jagung dan hari ke hari semakin banyak, maka jadilah dia saudagar kaya dan mampu membangun istana pada masa itu di Lamkuta. Ia juga membangun rumah rakyat di perkampungan tersebut. Ja Peucandu juga membangun Masjid Jamik Lamkuta pada tahun 1830.

    Karena kekayaannya Ja Peucandu hidup tidak tenang, selalu waswas karena sering dikejar-kejar oleh penjahat atau orang-orang yang mengicar hartanya. Sebelum meninggalkan Desa Lamkuta dia bersumpah bahwa masyarakat Lamkuta tidak boleh ada yang kaya, karena akan mengalami hal seperti dirinya. Kemudian dia pergi meninggalkan Desa Lamkuta dengan menunggang seekor kuda putih didampingi oleh pengawalnya bernama Baja Banta dengan nama asli Basyar Mahedi. Dia membawa sepasang gajah sigeundiek dan satu peti emas, akhirnya Ja Peucandu bersama pengawalnya sampai di hutan rimba di ujung hulu sebuah sungai, kemudian gajah sigeundiek dibuang bersama dengan peti emas ke dalam sungai, maka sungai tersebut dikenal dengan nama “Krueng Meuh” yang terletak di Pante Karya, Kecamatan Peusangan, Siblah Krueng.

    Dari cerita legenda tersebut, dipercaya atau tidak, kehidupan masyarakat Desa Lamkuta pada kenyataannya memang sederhana, tidak ada rumah mewah yang berdiri kokoh di sana, tidak ada unit usaha yang megah. Walaupun Lamkuta menjadi daerah lintasan menuju Kecamatan Jangka, tapi perkembanganya tertinggal dibandingkan dengan desa di sekitarnya. Menurut Pak Munawir, bantuan dana desa hanya mampu digunakan untuk operasional pemerintahan seperti gaji perangkat desa, pembangunan fisik, sedangkan bidang pemberdayaan terasa sulit untuk dikembangkan, karena tenaga SDM yang memilki keahlian tidak ada. Kalaupun ada, mereka lebih memilih meninggalkan Desa Lamkuta untuk berkarier di daerah lain.

    Apakah ini ada hubungannya dengan sumpah masa lalu? Kita hanya mampu berusaha dan berdoa, tapi Allah jua yang menentukaan segalanya. Menjadi kaya bukanlah tujuan dalam hidup. Tapi engan kaya kita bisa banyak bersedekah dan bisa membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan.

     

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ja Pucandu dan Sepasang Gajah Sigeundiek di Lamkuta, https://aceh.tribunnews.com 31/12/2019/.   

     

  • Kampus Umuslim disemprot Disinfektan

     

    Sejumlah anggota Koramil 06 Peusangan Kodim 0111/ Bireuen melakukan penyemprotan lingkungan kampus Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Rabu (1/4).

    Menurut Danramil 06/Peusangan melalui Sertu Bambang Suhada,  penyemprotan cairan Disinfektan dilakukan anggota koramil 06 Peusangan bertujuan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona di lingkungan kampus, jelasnya.

    Penyemprotan tidak hanya dilakukan dilingkungan luar, tetapi semua ruangan kerja, ruang belajar, laboratorium kampus induk, timur, kampus Ampon Chik, geust house, asrama termasuk beberapa aula yang ada di lingkup kampus umuslim.
     
    Saat penyemprotan kondisi kampus memang lagi sepi, karena perkuliahan tatap muka sedang ditiadakan, mahasiswa mengikuti  kuliah sistem online, sedangkan karyawan dan staf cuma beberapa orang saja yang piket hadir.

    Menurut Plt Rektor Umuslim Dr.H.Hambali,SE,MPd, mahasiswa diliburkan sampai Mei, tetapi mahasiswa tetap harus mengikuti perkuliahan dan bimbingan oleh dosen melalui sistem online, sedangkan  perkantoran akademik tetap buka, karyawan dan staf yang hadir  sistem piket, jelasnya.

    Kepastian dibuka  kembali perkuliahan tatap muka, tergantung perkembangan dan pengumuman pemerintah, kita ikuti arahan dan kebijakan pemerintah melalui Lldikti XIII Aceh, jelas H.Hambali. (HUMAS)

  • Kemenristekdikti gelar Rakernas 2019, apa saja kegiatannya

     

     

    Peusangan-Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengawali tahun 2019 menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  bertempat di Gedung Soedarto, Universitas Diponegoro Semarang.

    Rakernas yang mengambil tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu"  berlangsung selama dua hari ( 3-4/1/ 2019).

    Rakernas 2019  dibuka secara resmi oleh Menristekdikti Mohamad Nasir, dihadiri Sekretaris Daerah Jawa Tengah serta diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.

    Rakernas 2019 Kemenristekdikti menjadi Momentum   Mempersiapkan SDM Millenial, Memformulasikan  Regulasi di Era Disrupsi, menciptakan Inovasi untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus kerja Pemerintah di tahun 2019.

    Presiden Joko Widodo mengatakan SDM di Indonesia harus mampu menghadapi dan memanfaatkan peluang dari perubahan dunia dan perkembangan teknologi yang berubah begitu cepatnya. Dengan demikian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia utamanya SDM di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat membuka acara menyampaiakan bahwa Rakernas 2019 menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan Kemenristekdikti untuk mempersiapkan diri secara matang dalam menghadapi era disrupsi yang berdampak pada bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi.

    “ Mencermati situasi di atas, pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyiapkan diri? Jawabannya adalah kita harus melakukan self disruption. Kita harus melakukan transformasi dengan mendisrupsi diri sendiri,” ujar Menristekdikti Mohamad Nasir.

    Kemudian tambah Kemenristekdikti Menteri Mohamad Nasir lagi bahwa saat ini Pemerintah menginginkan agar Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi lebih terbuka, fleksibel dan bermutu. Untuk itu, kita harus membuat ekosistem riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat dan industri.

    Menteri Nasir menambahkan bahwa dalam menghadapi disruptive innovation dalam bidang industri dan pendidikan tinggi, Kemenristekdikti akan mengurangi atau memangkas regulasi bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang menghambat mereka menyesuaikan diri dengan disruptive innovation. Salah satu regulasi tersebut terkait kewajiban membayar Pajak Penghasilan (PPh) bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) serta terkait program studi.

    "Kalau PTNBH disuruh bayar PPh pasal 25 (Undang-Undang Pajak Penghasilan), problemnya ada di mahasiswa lagi. Saya sudah lapor ke Menkeu. Beliau akan tinjau kembali," ungkap Menristekdikti.

    PTNBH yang memiliki otonomi dalam mengembangkan program studi diharapkan  Menteri Nasir tidak diberatkan dengan pajak yang seharusnya dibayarkan oleh orang pribadi yang memiliki usaha dan badan usaha (perusahaan). Diharapkan PTNBH dapat alokasikan anggaran lebih banyak untuk fasilitas pembelajaran.

    "PTNBH termasuk Perguruan Tinggi Negeri, ditugasi Pemerintah meningkatkan mutu dengan sistem pembelajaran yang dilakukan secara mandiri, tapi kalau ini dikenakan Pajak sebagai Penghasilan, padahal dana yang diterima dari masyarakat, ini masalah," ungkap Menteri Nasir.

    Selain pengurangan regulasi dalam perpajakan bagi PTNBH, Menteri Nasir juga memudahkan pendirian program studi yang dibutuhkan oleh industri, walaupun program studi tersebut belum ada dalam Keputusan Menristekdikti Nomor 257/M/KPT/2017 tentang daftar nama atau nomenklatur program studi yang dapat dibuka pada perguruan tinggi di Indonesia.

    "Dulu kalau tidak ada di (daftar) nomenklatur, prodi tidak bisa dibuka. Sekarang jika tidak ada dalam daftar itu, perguruan tinggi akan membuka prodi sesuai kondisi real, silahkan. Yang penting demand-nya ada. Industri yang gunakan ada. Contoh prodi yang akan dibuka itu jurusan tentang kopi, silakan saja. Ini di Sulawesi Selatan. Di Aceh juga akan ada yang buka Prodi Kopi," ungkap Menteri Nasir.

    Dengan kemudahan membuka program studi baru, Menteri Nasir berharap perguruan tinggi negeri dan swasta mencari potensi daerah yang dapat dipelajari sehingga potensi tersebut dapat dikomersialkan lebih baik.

    Ketua Umum Rakernas 2019, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Ainun Na’im menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Rektor Undip dan seluruh Panitia Rakernas 2019 yang telah bekerja keras dan bersinergi sehingga acara dapat berlangsung dengan baik.

    Ainun menyatakan bahwa Rakernas 2019 merupakan penyelenggaraan Rakernas ke 5 sejak lahirnya Kemenristekdikti di tahun 2014,  tema yang diangkat pada setiap Rakernas disesuaikan dengan tantangan riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang selalu berkembang dari tahun ke tahun.

    Ainun menambahkan bahwa tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu" sesuai dengan tantangan yang dihadapi di era Revolusi Industri 4.0. Iptek dan inovasi membutuhkan keterbukaan dan fleksibilitas yang tinggi untuk memicu kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

    Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama merasa bangga dan menyambut baik penyelenggaraan Rakernas 2019 dan  Universitas Dipenogoro (Undip) sebagai tuan rumah. Rektor Undip berharap agar Rakernas 2019 dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan strategis di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. dan pihaknya  dalam penyelenggaraan Rakernas 2019 telah diimplementasikan berbagai inovasi.

    “ Dalam pelaksanaan Rakernas 2019 kita memakai konsep ramah lingkungan diantaranya ‘paperless’ dan ‘plasticless’. Semua materi rakernas tersedia dalam format digital, tidak dicetak,” tutur Rektor Undip.

    Dalam kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono berharap hasil dari Rakernas turut mengembangkan perguruan tinggi dan riset di Jawa Tengah.

    "Saya harapkan dari forum ini akan menghasilkan berbagai rekomendasi yang kita jadikan dasar penyusunan strategi kebijakan tidak hanya lingkup Kemenristekdikti saja, tapi juga (bagi) Pemerintah Provinsi," ungkap Sri Puryono.

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam Rakernas 2019 akan dilakukan evaluasi pelaksanaan program dan anggaran pada tahun 2018, serta outlook program dan anggaran tahun 2019. Selain itu akan disusun rekomendasi langkah-langkah strategis Kemenristekdikti dalam menghadapi tantangan terkait pengembangan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang terbuka, fleksibel, dan bermutu serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

    Rakernas 2019 juga akan menjadi wadah pembahasan isu-isu strategis seperti program studi inovatif, pengembangan distance learning (open university), pengembangan teaching factory atau teaching industry pada perguruan tinggi, pengembangan sumber daya manusia Indonesia pada Revolusi Industri 4.0, pendidikan tinggi vokasi, penguatan institusi riset dan inovasi di Indonesia, perusahaan pemula (startup), serta isu strategis lainnya.

    Ajang ini juga dimeriahkan oleh pameran produk hasil riset maupun inovasi perguruan tinggi dan LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti. Menristekdikti, Kepala LPNK dan jajaran Eselon I dan II Kemenristekdikti berkesempatan mengunjungi ‘stand’ pameran usai pembukaan Rakernas 2019. Beberapa benda pamer yang hadir di pameran ini antara lain BPPT Lock (Unit Pelindung Beton di Pesisir Pantai), Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue (BPPT), Sepatu Pengaman Sepatu Boot ber-SNI (BSN), Sensor Tanah Longsor (LIPI), D'Ozone (Filter Udara) dari Undip, Dompet Tuna Netra, Chemcar (Alat Penghemat Bahan Bakar),  Inkubator UNNES, Varietas Padi Unggul (UNSOED); Alat Rehabilitasi Medis Pasien Post Stroke, Produk Implan Bone Filler, Baterai Lithium dari UNS; Laser Gesek (Friction Welding), CNC untuk Industri Kreatif dari POLINES, Program SBMPTN & SNMPTN (LTMPT), Program Bela Negara (Kemenhan), Pendidikan Anti Korupsi dan program unit utama lainnya di lingkungan Kemenristekdikti.

    Pada Rakernas 2019 ini juga juga dilakukan Peluncuran Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pada Jumat, 4 Januari 2019, pemberian Penghargaan Anugerah Humas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) 2018, dan penghargaan Peringkat LAPOR pada PTN dan LLDikti.

     

    Sumber: Siaran PersKemenristekdikti Nomor  : 2/SP/HM/BKKP/I/2019 

    Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

  • Kerja Penyelengara Pemilu ibarat kerja Supermen tapi makan Supermie

     

    Zulkifli,M.Kom, Akademisi  Universitas Almuslim dan Panitia seleksi (Pansel) KIP Bireuen Periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.

    Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 14/PUU-XI/2013 kemudian diatur pada UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, pelaksanaannya dilaksanakan secara serentak antara pemilu legislatif  (pileg)dan pemilihan presiden (Pilpres),  teryata dalam pelaksanaannya di lapangan banyak menyisakan berbagai  persolaan,  hal ini karena terjadi jatuh korban jiwa yang disebabkan efek kelelahan saat menjalankan tugas sesuai amanah yang telah diberikan.

    Ribuan   orang yang terlibat sebagai penyelenggaraan mulai dari KPPS dan PPS, pengawas  harus mendapat perawatan medis, dan ratusan telah meninggal dunia, korban tersebut selain dari kelompok penyelenggara juga dari pengawas dan intitusi keamanan juga banyak yang jatuh korban. 

    Dengan kenyataan tersebut sekarang semua sudah angkat bicara termasuk hakim  Mahkamah Konstitusi (MK) yang  meloloskan penyetujuan putusan pelaksanaan pemilu serentak ini telah mengakui kekeliruannya.

    Untuk kedepan pemilu serentak ini benar-benar harus di evaluasi, karena penyelenggaraan pemilu serentak telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah, baik  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pengawas, semua pekerjaan dan tanggung jawab mereka di lapangan selama ini luput dan tidak disadari oleh pembuat kebijakan  di tingkat atas.

    Pengamatan saya di lapangan mulai tingkat PPK, PPS dan KPPS, Pengawas, mereka melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang luar biasa, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan sangat berat harus berjibaku siang malam, kenyataan hari ini sudah banyak dari mereka mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, banyak  jatuh korban harus mendapat penanganan medis, sedangkan  honor yang mereka terima sangat minim.

    Jumlah Panitia Pemungutan Suara (PPS)  tiap desa 3 orang dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) tujuh orang dan ditambah anggota linmas, dengan honor yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tugas, rincian honor yang harus di potong pajak lagi, sudah minim dibeban pajak lagi, jumlahnya mungkin tidak etis saya sebutkan rincian disini.

    Yang sangat menyedihkan, anggota linmas harus sabar menggurut dada,  ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, ketika berada di pintu masuk TPS,  mereka terlihat  seperti masyarakat biasa, padahal atribut bagi mereka sangat perlu untuk sebuah pengakuan, penghormatan dan membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring satu setiap TPS.

    Mereka masih dianggap petugas pelengkap, padahal pengorbanan dan  perjuangan mereka demi tegaknya demokrasi di negeri ini, patut kita beri apresiasi tinggi, semoga ada sedikit perhatian  memberikan tambahan finansial ataupun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

    Kita sangat sesalkan berbagai kejadian pada pemilu serentak  yang menimpa penegak demokrasi di lapangan, Memang awalnya  tujuan pelaksanaan pemilu  serentak ini bagus yaitu untuk penghematan, teryata telah memakan korban yang cukup banyak, sungguh jumlah korban yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negeri yang aman dan damai.

    Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, tugas yang cukup berat ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran, bersikap adil dan integritas dalam menjalankan tugas.

    Belum lagi dengan tugas perbaikan data dan terjadinya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akan menambah beban kerja, mereka bekerja tanpa pamrih dan penuh tangung jawab  tanpa mempersoalkan  honor yang diberikan, mereka benar-benar bekerja ala Superman tetapi makan Supermi (tanpa biaya poding). 

    (Superman adalah suatu tokoh fiksi dalam sebuah cerita yang mempunyai kekuatan lebih untuk melaksanakan satu tugas dibandingkan kekuatan manusia biasa termasuk punya kekuatan untuk terbang), sedangkan Supermi adalah sejenis makanan ringan yang biasa dimakan sebagai makanan pelengkap, bukan sebagai makanan utama penambah asupan gizi. 

    Maka sangat wajar saya tamsilkan kerja penyelenggara pemilu yang begitu berat, bahkan sudah diluar batas jam kerja harian, sedangkan honor yang mereka dapatkan sungguh sangat minim, berbeda jauh dengan beratnya tangung jawab tugas yang mereka kerjakan.

    Kita acungi jempol atas  keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian yang wajar dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

    Memang secara aturan honor dan insentif mereka semua disediakan oleh pemerintah pusat melalui KPU, tetapi pemerintah daerah juga jangan tutup mata bagi mereka yang telah berjibaku siang malam mensukseskan pesta demokrasi di daerah, karena kalau pemilu gagal di suatu daerah yang menjadi gagal bukan hanya pemerintah pusat tetapi yang paling utama adalah pemerintah daerah.

    Jadi sangatlah wajar suatu daerah mengambil satu kebijakan untuk dapat mendukung dan mensukseskan pemilu diwilayah masing-masing, apapun yang mereka lakukan, apalagi di daerah pelosok bisa jadi taruhan nyawa bagi mereka, demi suksesnya pemilu dan nama baik daerah.

    Hendaknya  pemerintah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota dapat memberikan dengan mengalokasikan sedikit tambahan honor atau insentif lain, sebagai penghargaan ucapan terima kasih  bagi pahlawan demokrasi ini.

    Sekarang dengan kenyataan dilapangan mari kita buka hati, bagaimana caranya untuk dapat memberikan perhatian bagi mereka dan pemerintah harus dapat mengambil satu sikap dan kebijakan untuk membantu pahlawan demokrasi ini.

    Saya sempat menanyakan pada beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan PPS di beberapa desa dalam kabupaten Bireuen, mereka mengakui beban kerja yang cukup berat dan butuh ketelitian dan fisik yang prima untuk bisa menjalankan tugas tersebut, mereka akui pemilu serentak ini sangat berat.

    Kalau pemerintah tidak menambah dan memperhatikan tambahan sedikit honorarium ataupun dalam bentuk lainnya, berarti telah menyiksa mereka dengan memberikan honor minim dengan kerja yang cukup berat, hal ini terjadi karena banyaknya tambahan kerja dari pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan kerja pemilihan legislatif (pileg).

    Mungkin pembuat kebijakan dalam menyusun UU pemilu  hanya berpedoman pada penyelenggara pileg saja, atau alasan efisiensi tanpa membayangkan tambahan kerja dari pemilihan presiden (pilpres), sehingga terjadinya persoalan seperti ini, Alhamdulillah sekarang sudah ada wacana dari untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu kedepan, semoga  akan lahir satu metode pemilu yang terbaik.

    Menurut UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, ada sebelas point tugas kerja Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang harus dilaksanakan mulai dari pengumuman daftar pemilih mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh Tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah kerjanya, belum lagi melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU atau KIP Kabupaten/Kota.

    Begitu juga dengan KPPS yang berjumlah tujuh orang setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dengan tujuh poin tugas yang juga tidak kalah berat mulai dari pendaftaran pemilih yang butuh  tingkat ketelitian dan rasa tanggung jawab tinggi, mereka harus berjibaku siang malam, karena sedikit mereka lengah terjadi kekeliruan dan pengisian data pemilih, serta saat hari H juga  tidak boleh sembarangan meninggalkan lokasi, karena untuk menghindari  munculnya kecurigaan, hujatan, saling tuduh dan ancaman dari masyarakat dan peserta pemilu.

    Maka tidak heran mereka penyelenggara baik KPPS maupun PPS, Pengawas harus tidur di lokasi TPS bahkan ada yang sampai beberapa  hari di lokasi, menunggu selesainya semua proses perhitungan dan rekap suara di tingkat TPS dan mengantar sampai ke tingkat PPK, belum lagi perjuangan bagi yang lokasi TPS di daerah terisolir dengan insfrastruktur yang terbatas.

    Kepada para caleg dan timses yang sudah mendapat berbagai ilmu dari pembekalan dan amunisi strategi  tentang  berbagai proses tahapan pemilu, berhentilah saling mengklaim bahwa para jagoannyalah yang menang,  berhentilah menghujat para penyelenggara dengan hinaan dan cacian yang tidak mendasar apabila tidak ada bukti yang cukup.

    Mari kita hormati proses pelaksanaannya sesuai peraturan perundangan dengan kepastian hukum sampai proses penetapan akhir yang dilakukan institusi resmi, jangan lakukan hal yang dapat merugikan kita semua

    Mari kita rawat demokrasi ini dalam bingkai persatuan dan persaudaraan yang penuh nuansa kekeluargaan, hilangkan semua perbedaan lambang dan warna partai, karena semua kita menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

    Semoga semua kita jadi pemenang bukan pecundang, salut dan apresiasi atas kerja ikhlas penyelenggara mulai tingkat kecamatan, dan gampong, mari kita doakan dengan tulus  semoga kerja ikhlas mereka menjadi tambahan amal  pahala dan pengakuan dari masyarakat, sedangkan bagi  mereka yang telah gugur dalam mengawal demokrasi ini husnul khatimah...Aamiiin YRA.

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 29/04/2019/ dengan judul PPS dan KPPS Kerja Superman Makan Supermie.

     

  • Kisah Nafsul Mahasiswa Umuslim Bercerita dari Negeri Sakura Jepang

     

    Seorang mahasiswi program studi bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen bernama Nafsul Muthmainnah.

    Ia merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi baru duduk semester enam sekarang berada di Jepang. Nafsul yang lahir 2 Mei 1999 lalu.
    Anak pertama dari dua bersaudara buah hati dari almarhum Marhaban dan T Asmara warga Pante Peusangan, Jangka mencatat beberapa prestasi.

    Sejak semester pertama kuliah, Nafsul mulai memperdalam bahasa Inggris dan mengikuti berbagai perlombaan.
    Menurut Kabag Humas Umuslim, Zulkifli M Kom  mengatakan, Nafsul sedang berada di Jepang bersama sejumlah mahasiswa Umuslim lainnya mengikuti program pertukaran mahasiswa antara Umuslim dan Nagoya Gakuin Universiti, Jepang.

    Melalui pesan Watshap Nafsul menceritakan pengalamannya yang sudah beberapa bulan di Jepang.

    Adapun coretan pengalamannya antara lain, ia senang bisa ke Jepang yang dikirim kampus melalui program pertukaran mahasiswa, karena ia bisa bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan hebat, Perjalanan tersebut tulis Nafsul bisa menambah teman, pengalaman dan pengetahuan juga menambah motivasi dalam kuliah dan meniti karier kehidupan.

    Di Jepang ia bertemu dan bergabung dan belajar dengan orang Korea, Kanada, Swedia, Amerika, Afrika, Filipina dan teman-teman dari berbagai negara di dunia lainnya, tulis Nafsul Muthmainnah.

    Sebelum berangkat ke Jepang, kata Zulkifli M Kom, Nafsul merupakan mahasiswi yang kreatif dan mengikuti berbagai perlombaan dan meraih juara terutama sekali dalam perlombaan debat bahasa Inggris.

    Catatan singkat, prestasi yang diraih Nafsul meraih juara satu dalam
    menulis cerpen dalam lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) tingkat provinsi tahun 2018.

    Kemudian, meraih juara tiga dalam kegiatan lomba bahasa Inggris tingkat nasional atau National Universiti Debating Champinonship (NUDC) di Aceh tahun 2018 dan menjadi peserta lomba yang sama di Malang tahun 2018.

    Kemudian meraih juara dua lomba debat bahasa Inggris (NUDC) tingkat provinsi tahun 2019, juara dua mahasiswa berprestasi LLDikti WilayahXIII Aceh tahun 2019 dan menduduki rangking ke 32 debat bahasa Inggris tingkat nasional di Surabaya tahun 2019 lalu.

    “Sejak beberapa waktu lalu ia menjadi mahasiswa sebagai peserta pertukaran pemuda dengan Jepang,” ujar Zulkifli M Kom.

    Nafsul dalam pesan WA mengatakan, berbagai kesuksesan yang diraih selama ini tentu bukan didapat begitu saja tetapi butuh kesabaran dankeseriusan, belajar dan dukungan teman-teman serta dosen.

    Dengan berbagai kekurangan tidak menghambat bagi dirinya untuk berprestasi.“Nafsul merupakan mahasiswi tim pendebat kunci dalam tim debat bahasaInggris Umuslim saat ini,” ujar Zulkfili.


    https://aceh.tribunnews.com/amp/2020/02/17/kisah-nafsul-mahasiswa-umuslim-bireuen-bercerita-dari-negeri-sakura-jepang-ini-sederet-prestasinya

  • Kisah Peneliti Indonesia pertama mendarat di Kepulauan Andaman & Nicobar India

    OLEH T CUT MAHMUD AZIZ, MA, Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Port Blair, India 

    KM (Kapal Motor) Aceh Millenium yang berangkat dari Pelabuhan Malahayati dengan mengangkut sampel komoditas dan produk Aceh tiba dan bersandar di Pelabuhan Port Blair, ibu kota kepulauanAndaman dan Nikobar di India pada 4 Januari 2018.

    Bersandarnya kapal ini merupakan momentum awal perjalanan ekspedisi perdana dalam merintis kembali hubungan kerja sama Aceh-India. Kapal yang terdiri atas satu nakhoda dan enam anak buah kapal ini menjadi titik awal terbangunnya konektivitas perdagangan barang antara Aceh dan Andaman & Nikobar.

    Terbangunnya konektivitas kerja sama ini tidak lepas dari hasil kajian dan penelitian yang dilaksanakan Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Bahkan satu bulan lalu Rektor Umuslim, Dr Amiruddin Idris MSi bersama mantan rektor Unimal, Prof Dr Apridar diundang ke India atas fasilitasi penuh oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemenlu) RI.

    Keberangkatan KM Aceh Millenium dengan kapasitas 150 ton difasilitasi oleh Kemenlu RI untuk mengangkut komoditas dan produk Aceh untuk dipamerkan di Port Blair, mulai dari furnitur, kopi, kelapa, rempah-rempah, minyak nabati, kue khas Aceh, souvenir, batu split, semen, kayu hingga pasir. Semua komoditas ini di bawah koordinasi Kadin Aceh. Kedatangan KM ini disambut oleh Wakil Kepala Perwakilan RI untuk India dan Bhutan, Fientje M Suebu, bersama perwakilan Pemerintah Kepulauan Andaman & Nicobar, dan KadinAndaman & Nikobar (ACCI).

    Dua hari kemudian hadir duta besar LBBP RI untuk India dan Bhutan, Sidharto Reza Suryodipuro dalam acara pameran di Port Blair. Sebelum pengiriman sampel komoditas produk Aceh ke India, BPPK Kemenlu RI di bawah arahan Dr Siswo Pramono (Kepala BPPK Kemlu) dan Dr Arifi Saiman (Kepala Pusat P2K2 Aspasaf BPPK Kemlu) membentuk tim Market Intelligence terdiri atas tiga peneliti, yaitu Teuku Cut Mahmud Aziz MA (Umuslim), Dr Ichsan (Unimal), dan Dr Muzailin Affan (Universitas Syiah Kuala) yang bertugas mengkaji peluang kerja sama perdagangan dan jasa antara Aceh dan kepulauan Andaman-Nikobar dan Chennai.

    Secara geografis Aceh dan Kepulauan Andaman & Nikobar berdekatan, sekitar 749 km atau 465 mil jaraknya jika dibandingkan dengan jarak dari kepulauan tersebut ke India daratan seperti Chennai atau Kalkuta, yakni 1.363 km atau 847 mil. Kepulauan ini berada di bagian utara Aceh, timur India, barat Malaysia, selatan Myanmar, dan berada di tengah Samudra Hindia.

    Ada sekitar 570 pulau di kepulauan tersebut. Baru 38 pulau yang berpenghuni. Dapat dibayangkan, 95% komoditas dan produk bagi penduduk di kepulauan didatangkan dari Chennai yang mengakibatkan tingginya biaya angkut, terutama untuk material konstruksi.

    Berhubung Aceh dekat dengan kepulauan tersebut maka Aceh harus dapat memanfaatkan peluang dan India menjadi pasar sangat menjanjikan bagi Aceh. Kepulauan Andaman & Nikobar berpenduduk sekitar 400.000 jiwa. Nama “Nikobar” memang populer di Aceh karena sering menjadi lokasi terdamparnya nelayan Aceh, lalu ditahan berbulan-bulan dan dipulangkan ke Indonesia melalui Port Blair.

    Tim peneliti berangkat dari Kuala Lumpur menuju Chennai, lalu dari Chennai dengan penerbangan domestik menuju Port Blair. Banyak pilihan pesawat menuju Port Blair. Waktu tempuhnya sekitar dua jam. Ketika pesawat hendak mendarat di Bandara Internasional Port Blair, Veer Savarkar terlihat di bawah hamparan pulau-pulau dengan hutan yang lebat, pasir putih dan perairan yang mengitarinya berwarna hijau muda. Luar biasa indahnya.

    Ketika turun dari pesawat kami disambut petugas bandara yang sudah tahu rencana kedatangan kami. Wajah petugas bandara ada yang seperti orang Mongol. Kami dipersilakan duduk dan ditanyai paspor. Mereka begitu ramah dan sudah tahu rencana kedatangan delegasi Indonesia ke Port Blair dalam rangka membuka konektivitas antara Aceh dan Andaman-Nikobar.

    Selama di Port Blair, tim melakukan observasi lapangan dengan mengunjungi pasar tradisional seperti Sunday Market, pasar buah, dan pelabuhan.

    Cita rasa makanan di Port Blair sama dengan di Aceh. Cocok dengan lidah kita, berbeda jika saya bandingkan dengan makanan di New Delhi, bumbu karinya terasa lebih keras. Mencari masjid dan restoran halal tak begitu sulit karena di sini banyak penduduk muslim. Pelayan restoran mengenakan tutup kepala. Ini menandakan bahwa restoran dan kota ini telah memenuhi standar internasional yang siap menjadi kota turis. Harga makanannya terjangkau seperti harga di Aceh.

    Penduduknya ramah, wajahnya banyak yang seperti orang Aceh. Kotanya terbilang bersih. Menariknya, kami tak pernah melihat orang merokok. Suasana kotanya seperti di Sabang, banyak bangunan tua dan pohon-pohon besar nan rindang, dan penduduknya agak padat. Aktivitas ekonomi dinamis hingga larut malam, harga barang relatif murah, khususnya kain dan pakaian. Jauh lebih murah apabila dibandingkan di Indonesia. Berada di sini seperti berada di Aceh tetapi sulit kami temukan atau memang tak ada warung kopi di sini seperti di Aceh, minuman kopi tidak begitu populer, umumnya mereka minum teh dan susu.

    Dari Port Blair, kami lanjutkan perjalanan ke Maldive-nya India, yaitu Pulau Havelock. Kami naik feri yang jauh lebih bagus dan besar dibandingkan dengan feri dari Pelabuhan Ulee Lheue-Balohan, Sabang. Pemiliknya seorang pengusaha ACCI, biaya tiketnya (pp) sekitar satu juta rupiah per orang. Waktu tempuh ke Pelabuhan Havelock sekitar dua jam 30 menit.

    Penumpang umumnya turis domestik dari India daratan. Setiba di Pelabuhan Havelock, kami terkesima melihat banyak sekali ikan ukuran besar di bawah jembatan. Kalau di Aceh ikan-ikan itu mungkin sudah dipancing karena konsumsi ikan di Aceh terbilang tinggi, berbeda dengan di India, mereka lebih suka daging kambing dan ayam.

    Di Havelock kami kunjungi Pantai Kalapather dan Radhanagar. Di depan pintu masuk Kalapather banyak kios souvenir pernak-pernik yang terbuat dari kerang laut dan mutiara, juga baju bertuliskan Havelock. Harga mutiara terbilang murah, mulai Rp 50.000-Rp 200.000. Paling murah mutiara putih, lalu yang warnanya agak merah jambu. Di sini ada delapan titik keramaian. Kami menginap di Arpita Penthouse, daerah yang paling ramai penginapannya.

    Dalam diskusi dengan tourism agent kami mendapat informasi bahwa kunjungan turis di Havelock setiap hari mencapai 3.000-an orang. Sepanjang jalan banyak sekali penginapan dan hotel besar yang sedang dibangun. Sekitar 20% area di sini dipakai untuk kegiatan pariwisata, sedangkan sisanya tetap dijadikan lingkungan alami dengan hutan-hutan lebat. Di sepanjang jalan kami lihat banyak sekali pohon pinang dan kelapa, terasa seperti suasana di Bireuen dan Aceh Utara.

    Sebelum kembali ke Port Blair, kami berbincang sambil melihat-lihat buku tamu penginapan. Tertera deretan nama, negara, dan tanda tangan dari warga negara yang berlibur di Havelock. Banyak dari Eropa dan Amerika, bahkan dari Israel. Ketika kami tanya “Apakah sudah ada sebelumnya turis atau peneliti dari Indonesia?” Pemilik penginapan menjawab,”Andalah yang pertama.”

    Ini merupakan kesempatan langka dan menjadi pengalaman sangat berharga bagi kami, karena untuk menuju kemari membutuhkan izin yang ketat. Selain pengurusan visa, kami harus mengisi formulir izin khusus untuk dapat masuk ke Andaman dan Nikobar

    Saking tak mudahnya, Duta Besar Amerika atau kalangan Kedubes Amerika di India hingga saat ini belum diizinkan masuk ke sana, sedangkan Indonesia dapat masuk. Ini semua tak terlepas dari hubungan diplomasi Indonesia dengan India yang terjalin sangat baik.

    Dari Havelock kami kembali ke Port Blair dari Port Blair kami lanjutkan perjalanan ke Chennai.

    Di sini kami mengadakan pertemuan dan mewawancarai beberapa pengusaha dan General Manager Chennai Airport. Chennai, kota terbesar keempat di India, tertata rapi, relatif bersih dengan penduduk yang ramah. Suasana kotanya seperti Kota Makassar di Sulawesi Selatan.

    Sedangkan yang dapat diimpor dari Andaman & Nikobar dan Chennai ke Aceh, antara lain, bahan tekstil dan pakaian juga produk laut seperti ikan tuna, udang, kepiting, lobster, dan mutiara. Hasil observasi dan wawancara di Sunday Market, Port Blair, bahwasanya masyarakat kepulauan ini tak banyak mengonsumsi ikan, khususnya tuna, padahal perairan Teluk Benggala terkenal dengan potensi ikan tunanya.

    Barang yang diekspor ke Port Blair dapat dilanjutkan dengan mengirim barang tersebut ke Chennai. Ini dapat menjadi pasar yang potensial bagi Aceh dan Sumatra pada umumnya untuk masuk ke mainland.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 10/02/2019/kisah-peneliti-pertama-mendarat-di-andaman.

     

     

  • KKM Umuslim Angkatan XVIII Tahap II 2020 di Bener Meriah

     

    Pelaksanaan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) angkatan XVIII tahap II (Semester Pendek Tahun Akademik 2019/2020)  Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, akan dilaksanakan di kabupaten Bener Meriah, demikian disampaikan Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed, Kamis, (2/1/2020).

    Menurutnya pelaksanaan pengabdian tersebut direncanakan selama 30 hari, mulai tanggal 29 Januari s/d 27 Februari 2020,  Pendaftaran dimulai  tanggal 06 sd. 17 Januari 2020 melalui www.siakad.umuslim.ac.id/akademik atau melalui Portal KRS Online yang baru, jelas  Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed.

    Untuk kelancaran pelaksanaan pembekalan peserta dilaksanakan tangga 21- 22 Januari 2020 di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan Universitas Almuslim.

    Pengumuman lokasi Gampong penempatan peserta KKM dapat dilihat  pada tanggal 27 Januari 2020,.
    Persyaratan dan hal lain yang belum jelas dapat dilihat pada pengumuman resmi yang telah dikeluarkan Rektor Universitas Almuslim, ungkap Drs.Syarkawi,M.Ed.(HUMAS)

     

     

    Ket Foto :Kepala Badan pelaksana  KKM umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed

  • KKM Umuslim angkatan XVVIII di Bener Meriah

    Mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) akan melaksanakan  Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) angkatan XVIII tahap II  tahun akademik 2019/2020 di Bener Meriah.

    Menurut laporan  Kepala Badan Pelaksana (Bapel)  KKM Umuslim, Drs Syarkawi, ME.d, peserta KKM yang akan ditempatkan di kabupaten Bener Meriah tahun ini berjumlah 191 orang dengan rincian 66 laki-laki dan 125 Perempuan.

    Pelaksanaan KKM akan berlangsung selama satu bulan penuh mulai tanggal 29 Januari s/d 27 Februari 2020, sebelum diterjunkan ke lokasi kkm, peserta harus mengikuti pembekalan selama dua hari. Pembekalan peserta dilakukan selama dua hari bertempat  di Auditorium Academik Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Senin-selasa (21-22/1).

    Adapun rincian peserta  dari Fakultas Pertanian 10 orang, FKIP 64, Fakultas Teknik 27, Fisipol 13, Fakultas Ekonomi 36, Fikom 41 orang. Lokasi penempatan di dua  kecamatan yaitu Timang Gajah dan kecamatan Bukit, masing-masing kecamatan akan ditempatkan peserta pada 16 desa, satu desa ditempatkan 6 sampai 7 mahasiswa berbagai program studi dan 1 dosen PPL, rinci Drs.Syarkawi,M.Ed.

    Acara pembekalan dibuka  secara resmi wakil rektor bidang Akademik Umuslim Dr H Hambali,SE.,MPd pada kesempatan tersebut mengharapkan peserta KKM agar dapat mengikuti pembekalan dengan serius.

    Menurut H.Hambali pembekalan wajib diikuti setiap peserta yang akan melaksanakan KKM, karena merupakan sarana untuk menambah ilmu yang berhubungan dengan masayarakat dan program kkm, Kepada peserta kkm juga diharapakan agar peserta dapat memberikan pengabdian dan yang terbaik bagi masyarakat, berikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan menjaga nama baik kampus dan keluarga di  lokasi pengabdian, harap H.Hambali.

    Pembukaan pembekalan dihadiri wakil rektor, dekan, dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan juga perwakialn kantor Badan statistik Bireuen.(HUMAS)

  • Kusentuh Langit Di Puncak Pantan Terong

    Oleh : Chairul Bariah, Ka.Biro umum dan administrasi Keuagan Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

     Malam itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda sore itu hujan bakal mengguyur kota di kediamanku. Suara petir kuat tampak membelah langit diujung sana. Langsung aku bergegas menutupi pintu dan jendela rumah. Padahal, aku ada janji bersama keluarga untuk mengajak mereka jalan-jalan melihat pameran di lapangan kota Bireuen. Tapi itu mustahil, dikarenakan hujan turun begitu lebat. Sehingga, aku putuskan untuk tetap dirumah bersama keluarga. Suami dan anak-anakku mencoba membunuh rasa sepi dengan menikmati hiburan di televisi.

     Sementara aku mencoba berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden di jendela kamarku. Iya, bagiku hujan itu adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah SWT. Hujan yang begitu deras dan langit pun tertutup dengan awan hitam. Mengingatkan karena besok subuh, aku merencanakan melakukan perjalanan rekreasiku bersama keluarga kecilku ke kota dingin Takengon.

    Rencana kepergian ke kota dingin takengon tersebut, memang sudah kami rencanakan tiga hari lalu, akhirnya anakku yang nomor dua,  pagi buta tersebut bangunnya sangat cepat, karena angan-angannya ingin rekreasi ke Aceh Tengah, padahal malam itu hujan begitu deras menguyur daerah kediaman kami di Matangglumpang dua, perasaanku  rasanya sangat senang karena bisa berlibur dengan seluruh keluarga ke daerah yang pernah aku tinggalkna puluhan tahun lalu.

    Bun.. bundaaa...!!! iya nak, bunda koq bengong sendiri dikamar? Ayo bun, kita pergi. Bunda kan udah janji mau ajak kami jalan-jalan. Aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku menjawab, tapi kan masih hujan nak? Terus anakku menjawab dengan nada manja, tapi hujan udah berhenti bunda. Emang bunda tidak lihat kalau hujan sudah berhenti? lalu aku penasaran dan melihat keluar dari jendela ternyata benar kalau hujan sudah reda. Astaghfirullah memang benar bahwa hujan sudah berhenti. 

    Akhirnya, tanpa basa-basi langsung aku dan anakku bergegas menuju mobil yang didalamnya ada suami dan anakku yang pertama yang sudah menunggu sejak 30 menit lalu. 

    Pagi itu pukul 06.00 WIB  setelah shalat subuh, aku awali perjalanan bersama keluarga menuju kota dingin Takengon. Jalan yang penuh liku dan menajak terkadang tersendat karena ada tanah yang longsor dari sisi jalan. Namun, rintangan tersebut tidak mematahkan semangatku dan keluarga untuk sampai di kota ini.

    Secuil kenangan yang tak pernah terlupakan di kota penghasil kopi itu. Di kota itu banyak menyimpan cerita tentang kisah hidupku. Satu hal yang cukup kuat hubungan aku dengan  kota Takengon adalah di dalam tubuhku mengalir darah keturunan Gayo. Sebab, ibu dari ayah ku adalah asli Gayo dari kampung Wih Lah Kecamatan Pegasing.  Masa kecilku sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Paya Tumpi yang saat ini bernama SDN 3 Kebayakan Aceh Tengah. Kemudian, aku hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun hingga kembali lagi ke kota kelahiranku Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. 

    Seiring perjalanan waktu, sekarang aku berkeluarga dengan seorang pria Aceh garis keturunan Yaman Timur Tengah yang sangat baik dan menjadi suamiku, hingga aku dikaruniai 2 (dua) orang Arjuna.

    Udara yang segar dengan hawa sejuk mulai terasa ketika aku sampai di gapura Selamat Datang di kota Takengon pada pukul 08.00 WIB. Aku dan keluarga berhenti sejenak di daerah yang dinamai Singah Mata. Di sana kami sekeluarga mengambil foto dengan latar belakang Danau Lut Tawar dengan panorama sisi pengunungan yang masih diselimuti kabut putih.  

    Setelahnya, kami menuju ke sebuah desa yang tak jauh dari lokasi Singah Mata yakni desa Paya Tumpi Baru. Di desa inilah masa kecilku pernah tinggal. Aroma khas Kopi Paya Tumpi menyambut kedatangan sekeluarga kami di rumah saudara kandungku yang hidup bersahaja. Usai menyeruput kopi beberapa saat, aku dan keluarga melanjutkan perjalanan berwisata menuju sebuah lokasi puncak bukit dengan keindahan alam yang luar biasa. Aku sudah beberapa kali ke sana, tapi kali ini berasa berbeda sebab keluarga kecilku ikut serta. 

    Pantan Terong itulah lokasi puncak bukit yang kami tuju.  Di puncak itu kita dapat melihat Danau Lut Tawar yang di apit oleh pegunungan. Sungguh memamerkan kebesaran Tuhan. Sebelum mencapai Pantan Terong di kaki bukit, ada satu desa yang dilalui yakni Desa Daling Kecamatan Bebesen. Salah satu anakku sempat berkata, “Bunda, kita bisa pegang langit ya diatas sana”, ucapnya. Tersontak aku dan keluarga yang lainnya langsung tertawa sehingga cukup membuat suasana dingin menjadi hangat.  

    Sekedar ilustrasi, jarak menuju Pantan Terong ± 7 km dapat ditempuh selama 20 menit dari kota Takengon menuju Pantan Terong melewati jalan aspal hotmik cukup bagus dan lebar namun jalannya berliku dan menanjak, dibutuhkan nyali dan skil pengemudi. Untungnya sopir yang mengedarai kendaraan kami cukup berpengalaman. Di sepanjang  jalan hamparan kebun kopi warga menambah indahnya panorama alam yang asri.

    Akhirnya lelahku terbayarkan ketika sampai di puncak bukit Pantan Terong yang merupakan puncak bukit tertinggi yang berpenghuni dalam kawasan kota Takengon sebagai tempat destinasi wisata dengan ketinggian ± 1.830 meter di atas permukaan laut. Pemandangannya begitu menakjubkan dengan udaranya yang begitu dingin. Di bagian sisi barat mata memandang bentangan Danua Lut Tawar, hamparan sawah-sawah dan kubah Mesjid Agung Ruhama di tengah kota Takengon yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah.  Di bagian sebelah selatan terdapat lapangan pacuan kuda Belang Bebangka dimana tempat pacuan kuda tradisional sering diadakan. 

    Sementara itu, di sebelah Utara panorama alam Kabupaten Bener Meriah dengan Gunung berapi Burni Telong yang begitu megah dan landasan pacu bandara Rembele, tak ada kata yang lain selain mengucap kebesaran Allah, segala puji untuk mu ya Allah tanah ini begitu indah engkau ciptakan, menjadi berkah dan sumber kehidupan warga dataran tinggi Gayo. Persis seperti yang tertuang dalam Al-qur’an pada ayat Ar-rahman, Nikmat mana lagi yang tidak kau syukuri.

    Sedikit mengupas sejarah diciptakannya lokasi wisata Pantan Terong. Pantan Terong dalam bahasa Gayo bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya Puncak atau Bukit Terong. Pada dulunya puncak tersebut banyak di tumbuhi tanaman jenis terong untuk sayuran sehingga masyarakat di sini menyebutnya bukit dengan tanaman terong atau Pantan Terong. Pada Tahun 2002  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia 17 Agustus, Bupati Aceh Tengah pada waktu itu,  Bapak Drs. Mustafa M. Tamy, MM meresmikan lokasi tersebut sebagai titik awal pembagunan wisata di Aceh Tengah dan diprakarsai oleh Ibu Hj. Nilawati Mustafa M. Tamy. 

    Diresmikan dengan nama puncak Al Kahfi, namun dalam perjalananya warga di Aceh Tengah lebih mengenal lokasi tersebut dengan sebutan  Bukit Terong atau Puncak Terong dan akhirnya hingga saat ini lokasi tersebut di kukuhkan penamaanya dengan sebutan Pantan Terong dalam bahas Gayo. Lokasi itu di resmikan sebagai destinasi Wisata Alam dan juga Agroewisata. Selain menyuguhkan pemandangan alam, di bagian timur Pantan Terong merupakan areal pertanian, di tempat itu terdapat puluhan hektar hamparan lahan perkebunan holtikultura tempat bercocok tanaman segala jenis sayur-sayuran yang berkualitas, seperti Kentang, Kol, Bawang dan sebagainya. 

    Berdiri di Puncak Al Kahfi atau Pantan Terong mengingatkan aku pada tempat wisata kebun raya Cibodas Jawa Barat yang memiliki hamparan kebun teh yang luas bergelombang dan  berbukit bukit dengan ketinggian 1.275 meter dari permukaan laut,  suhu udara di sana hampir sama dengan di Pantan Terong yakni antara 17 – 27 derajat Celsius. Bagi saudara-saudara dan teman-teman ku yang ingin berwisata ke Pantan Terong sebaiknya memakai baju yang tebal atau membawa jaket karena udara di tempat itu benar-benar dingin. Tak jarang juga sering datangnya kabut walau di siang hari. Bagi yang belum terbiasa dan berlama-lama di tempat itu akan merasakan kaku untuk bergerak  karena dingginya suhu udara di kawasan tersebut.

    Berada di puncak Pantan Terong dapat menghilangkan penat dan melupakan aktivitas kantor yang melelahkan, udara yang segar, pemandangan yang indah mampu membangkitkan semangat hidup kita, lokasi wisata ini memang berbeda jika di bandingkan dengan tempat wisata lainnya, karena semuanya masih alami, kita pun dapat menyempatkan diri untuk membeli sayur-sayuran segar langsung ke lahannya. Lain lagi bicara kopi, memang Gayo tempatnya untuk menikmati secangkir kopi asli Arabika, daerah ini memang sudah sangat terkenal sebagai daerah penghasil kopi arabika.

    Udara dingin dalam gulungan kabut  berisi air embun langsung menyentuh kulit, terkadang bila di pagi hari di bawah jam 10.00 WIB, kita tak menyangka saat kita berbicara, asap keluar dari dalam mulut kita, itu yang kita alami saat berada di puncak Pantan Terong, bahkan terasa kitapun dapat menyentuh  awan di langit  saat berada Pantan Terong yang sedang diselimuti kabut.

    Keindahan Pantan Terong membuat aku dan keluarga enggan beranjak, namun karena waktu makan siang telah tiba kamipun meninggalkan Pantan Terong dengan mengukir kenangan yang tak terlupakan.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com di rubrik jurnalisme warga tanggal 12/14/2019/04/ dengan judul Menyentuh-langit-di-puncak-pantan-terong

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Lab Mipa Umuslim fasilitasi LKS SMK

     

    Laboratorium MIPA Universitas Almuslim memfasilitasi kegiatan LKS (Lomba Keterampilan Siswa) bidang lomba Post Harvest SMK Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2019 yang diadakan di Kabupaten Bireuen, (10-11/9/2019).

    Kepala UPT Laboratorium MIPA Umuslim, drh. Yusrizal Akmal, M.Si didampingi staf Fatma Zuhra, M.Pd, Selasa (10/0/2019) menjelaskan, kegiatan yang dilakukan di Laboratorium MIPA Umuslim meliputi Analisa kadar air metode Gravimetri dan analisa karbohidrat metode Luff Schoorl terhadap produk pangan (tepung umbi-umbian) yang dihasilkan oleh siswa SMK se-Aceh.

    Aspek penilaian dari penjurian yang dilakukan di Laboratorium MIPA Umuslim  pengujian Proksimat terhadap produk pangan. “Pengujian berupa analisa kadar air dan analisa karbohidrat Lomba bidang Post Harvest Technology ini mendatangkan tim juri yang berpengalman seperti  Ir. Lily Mariana Salman, M.Si  dari PPPPTK Pertanian Cianjur, Rindhira Humairani Z, S.Pi., M.Si, dosen program studi budidaya perairan Universitas Almuslim Bireuen dan beberapa tim juri dari Provinsi Aceh,” sebutnya.(HUMAS)

     

  • LDK se aceh gelar silaturahmi di Umuslim

     

    Ratusan mahasiswa dari bebrbagai kampus di aceh berkumpul di Universitas Almuslim dalam rangka mengikuti  Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) Aceh KE XII yang berlangsung selama tiga hari, (21-23/11/2019)

    Menurut Ketua panitia Muhammad Kausar FSLDKD (Forum Silahturrahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah) merupakan salah satu bentuk forum koordinasi dan silaturahim LDK seluruh aceh.

    Tujuan kegiatan  sebagai sarana merumuskan kebijakan tahunan Fsldkd dan sebagai sarana komunikasi dari silaturahim pengurus lembaga dakwah kampus se Aceh. 

    Acara forum silaturrahim lembaga dakwah kampus daerah (FSLDKD) ke 12 tahun ini diikuti 15 LDK se Aceh dan Universitas Almuslim sebagai tuan rumah. Acara ini dilaksanakan 2 tahun sekali, dan berbeda-beda tuan rumahnya, tahun 2014 di Langsa, 2017 di Kutacane, jelas  Muhammad Kausar.

    Acara  dirangkaikan dengan seminar tentang pemuda dan UMKM dibuka rektor umuslim yang diwakili wakil rektor bidang kemahasiswaan  Dr.Ir.Saiful Hurri,MSi, pada kesempatan tersebut menyambut baik acara ini, mengharapkan semua pihak untuk bisa menjadikan umuslim sebagai lokasi berbagai kegiatan karena menurutnya umuslim sudah mempunyai beberapa sarana representatif untuk mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan.

    Turut menyampaiakn sambutan ketua LDK Formada umuslim Agus Meriza pada kesempatan tersebut menyampaikan agar dapat menjadikan forum ini sebagai forum komunikasi dan silaturahmi antar peserta dari seluruh aceh.

    Sedangkan Ketua Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) Aceh, Andika  menjelaskan tentang keberadaan forum yang menurutnya forum ini  berfungsi  sebagai sarana komunikasi dan silaturahim pengurus Lembaga Dakwah Kampus se Aceh dalam membentuk karakter mahasiswa dan memperkuat dakwah serta sarana syiar pengamalan syariat islam dikalangan mahasiswa dan generasai muda secara umum.

    Kegiatan ini diikuti sekitar  700 peserta seminar dan 100 orang sebagai peserta Musyawarah daerah dari 15 Lembaga dakwah kampus (LDK) dari berbagai kampus di Aceh dan diisi  berbagai kegiatan seperti  Musyawarah Besar FSLDKD,  sekolah LDK, sarasehan LDK, seminar kemuslimahan, seminar fundraising, fieldtrif, aksi solidaritas, closing ceremony dan perlombaan antar LDK, jelas Muhammad Kausar.

    Tema FSLDK 12, kemajuan Islam di Tangan Pemuda, ada pun rangkaian kegiatan  berupa Musyawarah Daerah, talk show  diisi pemateri Dr. Tgk. Amri, LC, MA dan  pelatihan UMKM oleh pimpinan  Bank Aceh Bireuen Hendra Supardi S.Hi, MSM serta Sherly Annavita Rahmi, M.SIPh, selain  juga digelar aneka lomba Antar LDK, Sarasehan antar LDK, Aksi Solidaritas, serta PMLDK.

    Acara pembukaan dihadiri wakil rektor,dekan, pimpinan bank aceh syariah Bireuen dan Matangglumpang dua, perwakilan LDK se Aceh, ormawa dan mahasiswa dalam lingkup Umuslim.(HUMAS)

     

  • Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua.

    Oleh: Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah tengah Provinsi Aceh. Topografi daerahnya berbukit dan berhawa dingin. Bahkan danau terbesar Aceh, yakni Danau Lut Tawar, terdapat di sini.

    Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kabupaten ini juga memiliki banyak objek wisata. Ada tempat wisata yang dikelola pemerintah, banyak pula yang dikelola masyarakat, baik secara berkelompok maupun personal. Mereka menyulap berbagai potensi alam di seputaran hutan, kebun, aliran sungai, bahkan sawah untuk dijadikan objek wisata menarik, objek yang memberikan sejuta kenangan bagi pengunjung yang suka swafoto. Jadi, tidak mengherankan jika banyak masyarakat luar daerah, termasuk wisatawan asing yang mendatangi objek-objek wisata di seantero Aceh Tengah ini.

    Dalam rangka mengisi liburan Idulfitri 1440 Hijriah, walau udara begitu dingin, tidak menghalangi niat saya dan rombongan bergerak menuju ke daerah yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju penuh hati-hati, karena jalan sedikit licin akibat guyuran hujan malam hari. Dalam balutan kabut di sepanjang jalan, setiba di tikungan Enang-Enang mobil yang kami kendarai berhenti sejenak, karena ada bus yang mogok, tapi hanya sebentar karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang saat itu.

    Tujuan saya ke Takengon kali ini adalah selain kunjungan silaturahmi ke rumah kakak dan saudara, juga ingin memanfaatkan waktu libur dan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata Gua Putri Pukes. Nah, selain punya banyak objek wisata alam, Aceh Tengah ternyata juga punya legenda cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan kepada generasi penerus.

    Ke lokasi wisata ini saya membawa rombongan dari Pulau Jawa dan wisatawan dari Jepang. Saya ditemani Idrus Saputra, salah seorang anggota keluarga yang juga menjabat Ama Reje (Kades) Paya Tumpi Baru.

    Objek wisata Gua Putri Pukes yang kami tuju berada di pinggir Danau Lut Tawar di Kecamatan Kebayakan, berjarak ± 2 km dari Kota Takengon, dapat ditempuh dalam waktu lima menit. Sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan indah pinggir danau yang membuat tanpa sadar kami sudah tiba di lokasi Gua Putri Pukes. Apalagi karena masih pagi, udara saat itu terasa sangat dingin.

    Saat kami tiba di lokasi parkir, pengunjung masih belum terlalu ramai. Beberapa pedagang tampak sedang membuka lapak dagangannya di areal parkir. Ini membuat Ama Reje Desa Paya Tumpi Baru yang ikut dalam rombongan saya bereaksi. Ia tak membiarkan pedagang berjualan di tempat yang dilarang. Apalagi pedagang tersebut menggelar dagangannya justru tepat di bawah pamplet yang bertuliskan dilarang berdagang di tempat parkir. Ame Reje Idrus Saputra langsung menegur pedagang tersebut agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengelola bahwa di lokasi parkir tidak dibenarkan berjualan. Tanpa perlawanan, beberapa pedagang itu akhirnya pindah dari lokasi tersebut.

    Saya dan rombongan bergegas naik ke pintu gua yang berukuran ± 1,5 meter sehingga butuh kesabaran dan kehati-hatian saat masuk. Kami disambut petugas merangkap pemandu wisata. Sebelum masuk gua kami membayar retribusi masuk. Menurut petugas, biaya tersebut dipungut untuk membiayai pemeliharaan objek wisata legenda tersebut.

    Saat tiba di dalam gua badan terasa dingin, suasana gelap, dan sesekali air menetes di atas kepala dan pundak. Saya kaget, seakan ada suasana mistis di dalam gua ini. Pemandu wisata mengajak kami terus berjalan masuk lebih dalam menuju patung batu Putri Pukes. Wah, menakjubkan!

    Tiba di depan patung Putri Pukes, pemandu wisata bercerita, konon Putri Pukes adalah gadis rupawan anak seorang raja di Kampung Nosar. Ia mencintai seorang pangeran dari kerajaan lain di Bener Meriah. Sejoli ini gigih memperjuangkan cintanya dan meminta restu kepada kedua orang tua mereka untuk dinikahkan.

    Awalnya orang tua Putri Pukes menolak lamaran pangeran, apalagi Putri Pukes adalah anak tunggal seorang raja yang sulit mendapatkan keturunan dan tak lama lagi akan dibawa pergi jauh oleh seorang pangeran bernama Mude Suara ke kerajaaannya. Namun, karena sayang dan cinta kepada putrinya, akhirnya orang tua Pukes menyetujui pernikahan putrinya dengan Pangeran Mude Suara.

    Setelah menikah, sebagaimana biasa, seorang perempuan harus ikut ke tempat suaminya, sesuai dengan adat Gayo sistem juelen, yaitu pihak istri tinggal bersama suami selamanya. Begitu juga dengan Putri Pukes, sambil berurai air mata, dia memohon izin kepada kedua orang tuanya untuk ikut ke kerajaan suaminya.

    Konon pada zaman dahulu saat antar pengantin tidak boleh bergandengan, makanya sang Pangeran lebih dulu pergi, baru sang Putri menyusul. Dengan perasaan sedih, kedua orang tua melepas kepergian putri tersayang. Ayah ibunya berpesan agar saat sudah ke luar dari kerajaan ini, jangan pernah sekalipun teringat ke kampung halaman dan menoleh ke belakang.

    Akhirnya sang Putri berangkat, diantar oleh pengawalnya. Dalam bahasa Gayo, momen ini disebut “munenes” atau bahasa Aceh “intat dara baro”. Ia pergi dengan membawa perlengkapan rumah tangga yang telah disiapkan oleh keluarga Putri Pukes seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, cawan, periuk, dan lain-lain

    Acara munenes bagi pengantin baru di Gayo biasanya berlangsung meriah dan haru, tapi sangat berbeda dengan suasana hati sang Putri yang dirundung kesedihan. Sepanjang perjalanan Pukes terus teringat orang tua yang sangat ia rindukan. Kemudian, tanpa sengaja ia menoleh ke belakang. Tiba-tiba datanglah badai, petir, dan hujan yang sangat lebat. Rombongan Putri Pukes terpaksa berteduh di sebuah gua. Sang putri yang kedinginan, berdiri di sudut gua untuk menjaga suhu badannya agar tetap hangat. Tapi secara perlahan sang putri merasakan tubuhnya dingin dan mengeras, dia sangat terkejut dan menangis saat sebagian tubuhnya, lalu seluruhnya berubah menjadi batu. Pada saat itulah timbul penyesalan di hatinya karena tidak mengindahkan pesan orang tuanya. Berkali-kali pengawal memanggil sang Putri, tapi tak ada jawaban. Ketika dilihat di sudut gua ternyata Putri Pukes sudah membatu.

    Menurut pemandu wisata, tak terlalu jauh dari lokasi Putri Pukes menjadi batu, ada jalan yang dilalui oleh pangeran. Dulu kabarnya jalan ini bisa tembus ke Aceh Jaya. Di lokasi itulah kemudian pangeran yang mendengar cerita bahwa sang kekasihnya telah menjadi batu, berdoa agar menjadi batu juga. Akhirnya, kisah cinta Putri Pukes dan sang Pangeran Mude Suara berakhir tragis. Keduanya menjadi batu, bahkan perlengkapan rumah tangga yang dibawa saat itu ikut menjadi batu. Para pengawal Putri Pukes yang selamat dari kejadian itulah yang menceritakan kembali legenda ini kepada masyarakat. Kisahnya bergulir secara turun-temurun.

    Setelah selesai mendengar penjelasan pemandu dan melihat-lihat kondisi di dalam gua, pemandu wisata menuntun kami ke luar dari gua, apalagi saat itu sudah banyak pengunjung lain yang antre di depan pintu masuk untuk melihat patung batu Putri Pukes.

    Suasana gelap di dalam gua membuat saya sedikit pusing setiba di luar gua. Di luar ternyata sinar matahari yang pagi tadi bersembunyi di balik awan, telah memperlihatkan diri seutuhnya. Saya dan rombongan pun meninggalkan lokasi dengan membawa hikmah dan kenangan.

    Hikmah yang dapat dipetik dari cerita legenda Putri Pukes ini adalah bahwa amanah atau pesan orang tua harus dipatuhi, karena ada tuah, sakti, atau keramatnya. Kalau dilanggar, bisa fatal akibatnya. Selain itu, menjunjung tinggi adat istiadat adalah kewajiban bagi masyarakat, baik masyarakat setempat maupun pendatang, sebagaimana kata pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

    Pengembangan objek wisata merupakan salah satu cara pemerintah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang gencar, saya optimis objek wisata Gua Putri Pukes ini akan bisa meningkatkan income masyarakat sekitar lokasi objek wisata.

    Bukankah di tempat lain, misalnya di Suliki, Padang, legenda Malin Kundang menjadi batu mampu menyedot banyak wisatawan? Demikian pula legenda atau cerita rakyat yang populer di Jawa Tengah, yakni tentang Rara Jonggrang. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang Putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya. Nah, kalau Jawa Tengah punya Rara Jonggrang, Aceh justru punya Putri Pukes dalam varian dan alur cerita yang berbeda. Tapi sama-sama menarik. Nah, datanglah segera ke guanya untuk bertemu sang Putri.

     

     Artikel ini  pernah  tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 21/06/2019 dengan judul Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua.