Universitas Almuslim - University

  • Hari Kedua Umuslim wisuda 299 lulusan dan 34 orang raih Cumlaude

     

     

     

     

      Peusangan-Pelaksanaan rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana (S1) dan ahli madya  Universitas Almuslim, pada hari kedua  mewisuda sebanyak 299 lulusan dengan rincian 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP), Diploma III Kebidanan 44 lulusan dan  sebanyak 34 lulusan  meraih  prediket  cumlaude.

    Selain  prosesi wisuda lulusan Diploma III Kebidanan juga disumpah, Acara penyumpahan dipimpin Sekretaris Dinas Kesehatan Bireuen Dr.Irwan A.Gani berlangsung di Auditorium Akademic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, Minggu (2/12/2018).

    Sebelum kata-kata sumpah di ucapkan oleh lulusan Diploma III Kebidanan, mereka terlebih dahulu di wisuda bersamaan dengan 255 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan (FKIP). Jadi keselurahan yang di wisuda pada hari kedua sebanyak 299 orang dengan rincian, Diploma III Kebidanan 44 orang dan FKIP 255 orang, dari sejumlah lulusan tersebut sebanyak 34 orang  meraih  prediket lulusan  cumlaude

    Pada kesempatan tersebut Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE,M.Si  dalam pidatonya menyampaikan, sekarang di era revolusi industri 4.0, banyak regulasi yang menuntut guru dan bidan harus kompeten. Hal itu tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Kebidanan.

    Para lulusan kependidikan  dan Kebidanan yang di wisuda hari ini, harus terus belajar untuk meningkatkan kompetensi agar bisa menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0.

    Sekarang Guru setelah selesai S1, belum diakui sebagai guru, tetapi masih dituntut lagi untukmengikuti Program Profesi Guru (PPG), begitu juga  bagi lulusan Diploma III kebidanan, setelah tamat tidak langsung bisa bekerja tetapi mereka harus lulus Uji kompetensi untuk memperoleh STR.

    Sekarang Umuslim sedang berjuang untuk bisa menyelenggarakan Pelaksanaan PPG dimasa yang akan datang, sehingga lulusan siap menghadapi peserta didik generasi milenial di era Revolusi 4.0 ini, ujar Rektor Umuslim.

    Kepada lulusan jangan berputus asa, jangan hanya bermimpi jadi PNS, teruslah belajar meningkatkan kompetensi keahlian karena masih banyak peluang lain yang bisa saudara lakukan. Apapun dan dimanapun yang kita lakukan merupakan wujud dari pengabdian seorang lulusan, jelas  H.Amiruddin Idris,SE.,MSi yang baru saja kembali dari Pulau Andaman dan Nikobar India.

    Menurutnya menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0, Universitas Almuslim terus melakukan berbagai inovasi  seperti pengembangan Cyber university, penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal Teknologi Informasi, Kecerdasan buatan, sistem siber (Cyber System),  untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil.

    “Demikian pula bagi lulusan Diploma III Kebidanan, tidak boleh luput dari kemampuan keunggulan menguasai teknologi dan bahasa, hal ini karena perkembangan ilmu kedokteran yang begitu pesat dan tersebar cepat dengan berbagai penemuan baru,” ungkapnya.

    Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan Universitas Almuslim menghadapi Revolusi Industri 4.0.yaitu  program inovasi sistem pembelajaran pendidikan online learning (Cyber University).

    Program  Cyber University  nantinya diharapkan menjadi solusi bagi Universitas Almuslim dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital yang semakin berkembang.

    “Baru saja kampus ini menyelesaikan  program   Pendidikan Jarak Jauh dan Hibah Sistem Pembelajaran Daring Indonesia  (SPADA Indonesia) yang bertujuan untuk meningkatkan akses belajar mahasiswa dari dosen-dosen PTN dan PTS di seluruh Indonesia, dimana mahasiswa  mendapat pembelajaran secara Daring (online),” ungkap Rektor Universitas Almuslim.

    Hadir dan ikut memberikan  sambutan pada wisuda Umuslim hari kedua,  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan  Tinggi  (LLDiKTI) XIII Aceh, Prof Faisal A.Rani,SH,M.Hum dan ketua Pembina Yayasan Almuslim yang juga Anggota DPR RI, Drs Anwar Idris. Kemudian dilanjutkan dengan  orasi ilmiah disampaikan Prof Djufri, M.Si, Dekan FKIP Unsyiah dengan tema tantangan Guru masa depan..(HUMAS)

  • HMJ Agribisnis umuslim gelar pelatihan kepemimpinan

    Peusangan-Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan melaksanakan  kegiatan  Pelatihan Kepemimpinan dan Pengenalan Organisasi bagi mahasiswa prodi tersebut, bertempat di aula kampus timur Universitas Almuslim, Sabtu (15/12/ 2018).

    Menurut  ketua HMJ prodi Agribisnis Fakultas Pertanian  Universitas Almuslim Wahyu Umaya, bahwa kegiatan ini dilaksankan satu hari penuh, bertujuan untuk  menumbuhkan semangat dan keinginan berorganisasi  bagi mahasiswa.

    Kegiatan yang mengambil  tema " Membangun sikap tanggung jawab dan disiplin dalam berorganisasi, menghadirkan pemateri   alumni yang telah sukses dalam berorganisasi seperti kakanda  Saifanur Suryadi. SP dan Muhammad Razanur.SP, kedua mereka adalah alumni fakultas pertanian dan juga mantan Presiden dan pengurus oraganisasi Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Umuslim, jelas Wahyu.

    Ketua Program Studi Agribisnis Elfiana SP,.M.Si, mengucapkan terimakasih kepada HMJ, kami sangat mendukung kegiatan yang digelar HMJ dengan mengelar  kegiatan yang  bermanfaat bagi mahasiswa guna  meningkatkan kapasitas keilmuan khususnya bidang organisasi.(HUMAS)

    Foto : Ramadhan

  • Kemenristekdikti gelar Rakernas 2019, apa saja kegiatannya

     

     

    Peusangan-Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengawali tahun 2019 menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas)  bertempat di Gedung Soedarto, Universitas Diponegoro Semarang.

    Rakernas yang mengambil tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu"  berlangsung selama dua hari ( 3-4/1/ 2019).

    Rakernas 2019  dibuka secara resmi oleh Menristekdikti Mohamad Nasir, dihadiri Sekretaris Daerah Jawa Tengah serta diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.

    Rakernas 2019 Kemenristekdikti menjadi Momentum   Mempersiapkan SDM Millenial, Memformulasikan  Regulasi di Era Disrupsi, menciptakan Inovasi untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus kerja Pemerintah di tahun 2019.

    Presiden Joko Widodo mengatakan SDM di Indonesia harus mampu menghadapi dan memanfaatkan peluang dari perubahan dunia dan perkembangan teknologi yang berubah begitu cepatnya. Dengan demikian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia utamanya SDM di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat membuka acara menyampaiakan bahwa Rakernas 2019 menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan Kemenristekdikti untuk mempersiapkan diri secara matang dalam menghadapi era disrupsi yang berdampak pada bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi.

    “ Mencermati situasi di atas, pertanyaannya adalah bagaimana kita harus menyiapkan diri? Jawabannya adalah kita harus melakukan self disruption. Kita harus melakukan transformasi dengan mendisrupsi diri sendiri,” ujar Menristekdikti Mohamad Nasir.

    Kemudian tambah Kemenristekdikti Menteri Mohamad Nasir lagi bahwa saat ini Pemerintah menginginkan agar Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi lebih terbuka, fleksibel dan bermutu. Untuk itu, kita harus membuat ekosistem riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat dan industri.

    Menteri Nasir menambahkan bahwa dalam menghadapi disruptive innovation dalam bidang industri dan pendidikan tinggi, Kemenristekdikti akan mengurangi atau memangkas regulasi bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang menghambat mereka menyesuaikan diri dengan disruptive innovation. Salah satu regulasi tersebut terkait kewajiban membayar Pajak Penghasilan (PPh) bagi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) serta terkait program studi.

    "Kalau PTNBH disuruh bayar PPh pasal 25 (Undang-Undang Pajak Penghasilan), problemnya ada di mahasiswa lagi. Saya sudah lapor ke Menkeu. Beliau akan tinjau kembali," ungkap Menristekdikti.

    PTNBH yang memiliki otonomi dalam mengembangkan program studi diharapkan  Menteri Nasir tidak diberatkan dengan pajak yang seharusnya dibayarkan oleh orang pribadi yang memiliki usaha dan badan usaha (perusahaan). Diharapkan PTNBH dapat alokasikan anggaran lebih banyak untuk fasilitas pembelajaran.

    "PTNBH termasuk Perguruan Tinggi Negeri, ditugasi Pemerintah meningkatkan mutu dengan sistem pembelajaran yang dilakukan secara mandiri, tapi kalau ini dikenakan Pajak sebagai Penghasilan, padahal dana yang diterima dari masyarakat, ini masalah," ungkap Menteri Nasir.

    Selain pengurangan regulasi dalam perpajakan bagi PTNBH, Menteri Nasir juga memudahkan pendirian program studi yang dibutuhkan oleh industri, walaupun program studi tersebut belum ada dalam Keputusan Menristekdikti Nomor 257/M/KPT/2017 tentang daftar nama atau nomenklatur program studi yang dapat dibuka pada perguruan tinggi di Indonesia.

    "Dulu kalau tidak ada di (daftar) nomenklatur, prodi tidak bisa dibuka. Sekarang jika tidak ada dalam daftar itu, perguruan tinggi akan membuka prodi sesuai kondisi real, silahkan. Yang penting demand-nya ada. Industri yang gunakan ada. Contoh prodi yang akan dibuka itu jurusan tentang kopi, silakan saja. Ini di Sulawesi Selatan. Di Aceh juga akan ada yang buka Prodi Kopi," ungkap Menteri Nasir.

    Dengan kemudahan membuka program studi baru, Menteri Nasir berharap perguruan tinggi negeri dan swasta mencari potensi daerah yang dapat dipelajari sehingga potensi tersebut dapat dikomersialkan lebih baik.

    Ketua Umum Rakernas 2019, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Ainun Na’im menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Rektor Undip dan seluruh Panitia Rakernas 2019 yang telah bekerja keras dan bersinergi sehingga acara dapat berlangsung dengan baik.

    Ainun menyatakan bahwa Rakernas 2019 merupakan penyelenggaraan Rakernas ke 5 sejak lahirnya Kemenristekdikti di tahun 2014,  tema yang diangkat pada setiap Rakernas disesuaikan dengan tantangan riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang selalu berkembang dari tahun ke tahun.

    Ainun menambahkan bahwa tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu" sesuai dengan tantangan yang dihadapi di era Revolusi Industri 4.0. Iptek dan inovasi membutuhkan keterbukaan dan fleksibilitas yang tinggi untuk memicu kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

    Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama merasa bangga dan menyambut baik penyelenggaraan Rakernas 2019 dan  Universitas Dipenogoro (Undip) sebagai tuan rumah. Rektor Undip berharap agar Rakernas 2019 dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan strategis di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. dan pihaknya  dalam penyelenggaraan Rakernas 2019 telah diimplementasikan berbagai inovasi.

    “ Dalam pelaksanaan Rakernas 2019 kita memakai konsep ramah lingkungan diantaranya ‘paperless’ dan ‘plasticless’. Semua materi rakernas tersedia dalam format digital, tidak dicetak,” tutur Rektor Undip.

    Dalam kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono berharap hasil dari Rakernas turut mengembangkan perguruan tinggi dan riset di Jawa Tengah.

    "Saya harapkan dari forum ini akan menghasilkan berbagai rekomendasi yang kita jadikan dasar penyusunan strategi kebijakan tidak hanya lingkup Kemenristekdikti saja, tapi juga (bagi) Pemerintah Provinsi," ungkap Sri Puryono.

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam Rakernas 2019 akan dilakukan evaluasi pelaksanaan program dan anggaran pada tahun 2018, serta outlook program dan anggaran tahun 2019. Selain itu akan disusun rekomendasi langkah-langkah strategis Kemenristekdikti dalam menghadapi tantangan terkait pengembangan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang terbuka, fleksibel, dan bermutu serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

    Rakernas 2019 juga akan menjadi wadah pembahasan isu-isu strategis seperti program studi inovatif, pengembangan distance learning (open university), pengembangan teaching factory atau teaching industry pada perguruan tinggi, pengembangan sumber daya manusia Indonesia pada Revolusi Industri 4.0, pendidikan tinggi vokasi, penguatan institusi riset dan inovasi di Indonesia, perusahaan pemula (startup), serta isu strategis lainnya.

    Ajang ini juga dimeriahkan oleh pameran produk hasil riset maupun inovasi perguruan tinggi dan LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti. Menristekdikti, Kepala LPNK dan jajaran Eselon I dan II Kemenristekdikti berkesempatan mengunjungi ‘stand’ pameran usai pembukaan Rakernas 2019. Beberapa benda pamer yang hadir di pameran ini antara lain BPPT Lock (Unit Pelindung Beton di Pesisir Pantai), Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue (BPPT), Sepatu Pengaman Sepatu Boot ber-SNI (BSN), Sensor Tanah Longsor (LIPI), D'Ozone (Filter Udara) dari Undip, Dompet Tuna Netra, Chemcar (Alat Penghemat Bahan Bakar),  Inkubator UNNES, Varietas Padi Unggul (UNSOED); Alat Rehabilitasi Medis Pasien Post Stroke, Produk Implan Bone Filler, Baterai Lithium dari UNS; Laser Gesek (Friction Welding), CNC untuk Industri Kreatif dari POLINES, Program SBMPTN & SNMPTN (LTMPT), Program Bela Negara (Kemenhan), Pendidikan Anti Korupsi dan program unit utama lainnya di lingkungan Kemenristekdikti.

    Pada Rakernas 2019 ini juga juga dilakukan Peluncuran Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pada Jumat, 4 Januari 2019, pemberian Penghargaan Anugerah Humas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) 2018, dan penghargaan Peringkat LAPOR pada PTN dan LLDikti.

     

    Sumber: Siaran PersKemenristekdikti Nomor  : 2/SP/HM/BKKP/I/2019 

    Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

  • Kerja Penyelengara Pemilu ibarat kerja Supermen tapi makan Supermie

     

    Zulkifli,M.Kom, Akademisi  Universitas Almuslim dan Panitia seleksi (Pansel) KIP Bireuen Periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023.

    Penyelenggaraan Pemilu 2019 yang merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 14/PUU-XI/2013 kemudian diatur pada UU nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu, pelaksanaannya dilaksanakan secara serentak antara pemilu legislatif  (pileg)dan pemilihan presiden (Pilpres),  teryata dalam pelaksanaannya di lapangan banyak menyisakan berbagai  persolaan,  hal ini karena terjadi jatuh korban jiwa yang disebabkan efek kelelahan saat menjalankan tugas sesuai amanah yang telah diberikan.

    Ribuan   orang yang terlibat sebagai penyelenggaraan mulai dari KPPS dan PPS, pengawas  harus mendapat perawatan medis, dan ratusan telah meninggal dunia, korban tersebut selain dari kelompok penyelenggara juga dari pengawas dan intitusi keamanan juga banyak yang jatuh korban. 

    Dengan kenyataan tersebut sekarang semua sudah angkat bicara termasuk hakim  Mahkamah Konstitusi (MK) yang  meloloskan penyetujuan putusan pelaksanaan pemilu serentak ini telah mengakui kekeliruannya.

    Untuk kedepan pemilu serentak ini benar-benar harus di evaluasi, karena penyelenggaraan pemilu serentak telah menambah beban kerja yang cukup berat bagi penyelenggara pemilu di tingkat bawah, baik  Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan  Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pengawas, semua pekerjaan dan tanggung jawab mereka di lapangan selama ini luput dan tidak disadari oleh pembuat kebijakan  di tingkat atas.

    Pengamatan saya di lapangan mulai tingkat PPK, PPS dan KPPS, Pengawas, mereka melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik yang luar biasa, bekerja dengan penuh tanggung jawab dan sangat berat harus berjibaku siang malam, kenyataan hari ini sudah banyak dari mereka mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, banyak  jatuh korban harus mendapat penanganan medis, sedangkan  honor yang mereka terima sangat minim.

    Jumlah Panitia Pemungutan Suara (PPS)  tiap desa 3 orang dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) tujuh orang dan ditambah anggota linmas, dengan honor yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tugas, rincian honor yang harus di potong pajak lagi, sudah minim dibeban pajak lagi, jumlahnya mungkin tidak etis saya sebutkan rincian disini.

    Yang sangat menyedihkan, anggota linmas harus sabar menggurut dada,  ada daerah yang tidak menyediakan atribut linmas, ketika berada di pintu masuk TPS,  mereka terlihat  seperti masyarakat biasa, padahal atribut bagi mereka sangat perlu untuk sebuah pengakuan, penghormatan dan membedakan mereka sebagai pengawal keamanan pada ring satu setiap TPS.

    Mereka masih dianggap petugas pelengkap, padahal pengorbanan dan  perjuangan mereka demi tegaknya demokrasi di negeri ini, patut kita beri apresiasi tinggi, semoga ada sedikit perhatian  memberikan tambahan finansial ataupun perhatian kesejahteraan lain dari bantuan pemerintah daerah.

    Kita sangat sesalkan berbagai kejadian pada pemilu serentak  yang menimpa penegak demokrasi di lapangan, Memang awalnya  tujuan pelaksanaan pemilu  serentak ini bagus yaitu untuk penghematan, teryata telah memakan korban yang cukup banyak, sungguh jumlah korban yang sangat besar untuk sebuah pelaksanaan demokrasi di negeri yang aman dan damai.

    Dengan jumlah personil yang sangat terbatas, tugas yang cukup berat ditambah ancaman dan rayuan dari para caleg nakal agar mau berbuat curang merupakan tantangan yang cukup besar bagi penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan dan desa dalam mempertahankan semangat kejujuran, bersikap adil dan integritas dalam menjalankan tugas.

    Belum lagi dengan tugas perbaikan data dan terjadinya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akan menambah beban kerja, mereka bekerja tanpa pamrih dan penuh tangung jawab  tanpa mempersoalkan  honor yang diberikan, mereka benar-benar bekerja ala Superman tetapi makan Supermi (tanpa biaya poding). 

    (Superman adalah suatu tokoh fiksi dalam sebuah cerita yang mempunyai kekuatan lebih untuk melaksanakan satu tugas dibandingkan kekuatan manusia biasa termasuk punya kekuatan untuk terbang), sedangkan Supermi adalah sejenis makanan ringan yang biasa dimakan sebagai makanan pelengkap, bukan sebagai makanan utama penambah asupan gizi. 

    Maka sangat wajar saya tamsilkan kerja penyelenggara pemilu yang begitu berat, bahkan sudah diluar batas jam kerja harian, sedangkan honor yang mereka dapatkan sungguh sangat minim, berbeda jauh dengan beratnya tangung jawab tugas yang mereka kerjakan.

    Kita acungi jempol atas  keikhlasan dan pengabdian yang telah ditunjukkan oleh pengawal demokrasi ini, walaupun belum mendapat perhatian yang wajar dari pemerintah baik pusat maupun daerah.

    Memang secara aturan honor dan insentif mereka semua disediakan oleh pemerintah pusat melalui KPU, tetapi pemerintah daerah juga jangan tutup mata bagi mereka yang telah berjibaku siang malam mensukseskan pesta demokrasi di daerah, karena kalau pemilu gagal di suatu daerah yang menjadi gagal bukan hanya pemerintah pusat tetapi yang paling utama adalah pemerintah daerah.

    Jadi sangatlah wajar suatu daerah mengambil satu kebijakan untuk dapat mendukung dan mensukseskan pemilu diwilayah masing-masing, apapun yang mereka lakukan, apalagi di daerah pelosok bisa jadi taruhan nyawa bagi mereka, demi suksesnya pemilu dan nama baik daerah.

    Hendaknya  pemerintah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota dapat memberikan dengan mengalokasikan sedikit tambahan honor atau insentif lain, sebagai penghargaan ucapan terima kasih  bagi pahlawan demokrasi ini.

    Sekarang dengan kenyataan dilapangan mari kita buka hati, bagaimana caranya untuk dapat memberikan perhatian bagi mereka dan pemerintah harus dapat mengambil satu sikap dan kebijakan untuk membantu pahlawan demokrasi ini.

    Saya sempat menanyakan pada beberapa Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan PPS di beberapa desa dalam kabupaten Bireuen, mereka mengakui beban kerja yang cukup berat dan butuh ketelitian dan fisik yang prima untuk bisa menjalankan tugas tersebut, mereka akui pemilu serentak ini sangat berat.

    Kalau pemerintah tidak menambah dan memperhatikan tambahan sedikit honorarium ataupun dalam bentuk lainnya, berarti telah menyiksa mereka dengan memberikan honor minim dengan kerja yang cukup berat, hal ini terjadi karena banyaknya tambahan kerja dari pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) yang bersamaan dengan kerja pemilihan legislatif (pileg).

    Mungkin pembuat kebijakan dalam menyusun UU pemilu  hanya berpedoman pada penyelenggara pileg saja, atau alasan efisiensi tanpa membayangkan tambahan kerja dari pemilihan presiden (pilpres), sehingga terjadinya persoalan seperti ini, Alhamdulillah sekarang sudah ada wacana dari untuk mengevaluasi pelaksanaan pemilu kedepan, semoga  akan lahir satu metode pemilu yang terbaik.

    Menurut UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, ada sebelas point tugas kerja Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang harus dilaksanakan mulai dari pengumuman daftar pemilih mengumpulkan hasil penghitungan suara dari seluruh Tempat pemungutan suara (TPS) di wilayah kerjanya, belum lagi melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh KPU atau KIP Kabupaten/Kota.

    Begitu juga dengan KPPS yang berjumlah tujuh orang setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dengan tujuh poin tugas yang juga tidak kalah berat mulai dari pendaftaran pemilih yang butuh  tingkat ketelitian dan rasa tanggung jawab tinggi, mereka harus berjibaku siang malam, karena sedikit mereka lengah terjadi kekeliruan dan pengisian data pemilih, serta saat hari H juga  tidak boleh sembarangan meninggalkan lokasi, karena untuk menghindari  munculnya kecurigaan, hujatan, saling tuduh dan ancaman dari masyarakat dan peserta pemilu.

    Maka tidak heran mereka penyelenggara baik KPPS maupun PPS, Pengawas harus tidur di lokasi TPS bahkan ada yang sampai beberapa  hari di lokasi, menunggu selesainya semua proses perhitungan dan rekap suara di tingkat TPS dan mengantar sampai ke tingkat PPK, belum lagi perjuangan bagi yang lokasi TPS di daerah terisolir dengan insfrastruktur yang terbatas.

    Kepada para caleg dan timses yang sudah mendapat berbagai ilmu dari pembekalan dan amunisi strategi  tentang  berbagai proses tahapan pemilu, berhentilah saling mengklaim bahwa para jagoannyalah yang menang,  berhentilah menghujat para penyelenggara dengan hinaan dan cacian yang tidak mendasar apabila tidak ada bukti yang cukup.

    Mari kita hormati proses pelaksanaannya sesuai peraturan perundangan dengan kepastian hukum sampai proses penetapan akhir yang dilakukan institusi resmi, jangan lakukan hal yang dapat merugikan kita semua

    Mari kita rawat demokrasi ini dalam bingkai persatuan dan persaudaraan yang penuh nuansa kekeluargaan, hilangkan semua perbedaan lambang dan warna partai, karena semua kita menjunjung nilai-nilai demokrasi. 

    Semoga semua kita jadi pemenang bukan pecundang, salut dan apresiasi atas kerja ikhlas penyelenggara mulai tingkat kecamatan, dan gampong, mari kita doakan dengan tulus  semoga kerja ikhlas mereka menjadi tambahan amal  pahala dan pengakuan dari masyarakat, sedangkan bagi  mereka yang telah gugur dalam mengawal demokrasi ini husnul khatimah...Aamiiin YRA.

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 29/04/2019/ dengan judul PPS dan KPPS Kerja Superman Makan Supermie.

     

  • Kisah Peneliti Indonesia pertama mendarat di Kepulauan Andaman & Nicobar India

    OLEH T CUT MAHMUD AZIZ, MA, Dosen Prodi Hubungan Internasional, FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Port Blair, India 

    KM (Kapal Motor) Aceh Millenium yang berangkat dari Pelabuhan Malahayati dengan mengangkut sampel komoditas dan produk Aceh tiba dan bersandar di Pelabuhan Port Blair, ibu kota kepulauanAndaman dan Nikobar di India pada 4 Januari 2018.

    Bersandarnya kapal ini merupakan momentum awal perjalanan ekspedisi perdana dalam merintis kembali hubungan kerja sama Aceh-India. Kapal yang terdiri atas satu nakhoda dan enam anak buah kapal ini menjadi titik awal terbangunnya konektivitas perdagangan barang antara Aceh dan Andaman & Nikobar.

    Terbangunnya konektivitas kerja sama ini tidak lepas dari hasil kajian dan penelitian yang dilaksanakan Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Bahkan satu bulan lalu Rektor Umuslim, Dr Amiruddin Idris MSi bersama mantan rektor Unimal, Prof Dr Apridar diundang ke India atas fasilitasi penuh oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemenlu) RI.

    Keberangkatan KM Aceh Millenium dengan kapasitas 150 ton difasilitasi oleh Kemenlu RI untuk mengangkut komoditas dan produk Aceh untuk dipamerkan di Port Blair, mulai dari furnitur, kopi, kelapa, rempah-rempah, minyak nabati, kue khas Aceh, souvenir, batu split, semen, kayu hingga pasir. Semua komoditas ini di bawah koordinasi Kadin Aceh. Kedatangan KM ini disambut oleh Wakil Kepala Perwakilan RI untuk India dan Bhutan, Fientje M Suebu, bersama perwakilan Pemerintah Kepulauan Andaman & Nicobar, dan KadinAndaman & Nikobar (ACCI).

    Dua hari kemudian hadir duta besar LBBP RI untuk India dan Bhutan, Sidharto Reza Suryodipuro dalam acara pameran di Port Blair. Sebelum pengiriman sampel komoditas produk Aceh ke India, BPPK Kemenlu RI di bawah arahan Dr Siswo Pramono (Kepala BPPK Kemlu) dan Dr Arifi Saiman (Kepala Pusat P2K2 Aspasaf BPPK Kemlu) membentuk tim Market Intelligence terdiri atas tiga peneliti, yaitu Teuku Cut Mahmud Aziz MA (Umuslim), Dr Ichsan (Unimal), dan Dr Muzailin Affan (Universitas Syiah Kuala) yang bertugas mengkaji peluang kerja sama perdagangan dan jasa antara Aceh dan kepulauan Andaman-Nikobar dan Chennai.

    Secara geografis Aceh dan Kepulauan Andaman & Nikobar berdekatan, sekitar 749 km atau 465 mil jaraknya jika dibandingkan dengan jarak dari kepulauan tersebut ke India daratan seperti Chennai atau Kalkuta, yakni 1.363 km atau 847 mil. Kepulauan ini berada di bagian utara Aceh, timur India, barat Malaysia, selatan Myanmar, dan berada di tengah Samudra Hindia.

    Ada sekitar 570 pulau di kepulauan tersebut. Baru 38 pulau yang berpenghuni. Dapat dibayangkan, 95% komoditas dan produk bagi penduduk di kepulauan didatangkan dari Chennai yang mengakibatkan tingginya biaya angkut, terutama untuk material konstruksi.

    Berhubung Aceh dekat dengan kepulauan tersebut maka Aceh harus dapat memanfaatkan peluang dan India menjadi pasar sangat menjanjikan bagi Aceh. Kepulauan Andaman & Nikobar berpenduduk sekitar 400.000 jiwa. Nama “Nikobar” memang populer di Aceh karena sering menjadi lokasi terdamparnya nelayan Aceh, lalu ditahan berbulan-bulan dan dipulangkan ke Indonesia melalui Port Blair.

    Tim peneliti berangkat dari Kuala Lumpur menuju Chennai, lalu dari Chennai dengan penerbangan domestik menuju Port Blair. Banyak pilihan pesawat menuju Port Blair. Waktu tempuhnya sekitar dua jam. Ketika pesawat hendak mendarat di Bandara Internasional Port Blair, Veer Savarkar terlihat di bawah hamparan pulau-pulau dengan hutan yang lebat, pasir putih dan perairan yang mengitarinya berwarna hijau muda. Luar biasa indahnya.

    Ketika turun dari pesawat kami disambut petugas bandara yang sudah tahu rencana kedatangan kami. Wajah petugas bandara ada yang seperti orang Mongol. Kami dipersilakan duduk dan ditanyai paspor. Mereka begitu ramah dan sudah tahu rencana kedatangan delegasi Indonesia ke Port Blair dalam rangka membuka konektivitas antara Aceh dan Andaman-Nikobar.

    Selama di Port Blair, tim melakukan observasi lapangan dengan mengunjungi pasar tradisional seperti Sunday Market, pasar buah, dan pelabuhan.

    Cita rasa makanan di Port Blair sama dengan di Aceh. Cocok dengan lidah kita, berbeda jika saya bandingkan dengan makanan di New Delhi, bumbu karinya terasa lebih keras. Mencari masjid dan restoran halal tak begitu sulit karena di sini banyak penduduk muslim. Pelayan restoran mengenakan tutup kepala. Ini menandakan bahwa restoran dan kota ini telah memenuhi standar internasional yang siap menjadi kota turis. Harga makanannya terjangkau seperti harga di Aceh.

    Penduduknya ramah, wajahnya banyak yang seperti orang Aceh. Kotanya terbilang bersih. Menariknya, kami tak pernah melihat orang merokok. Suasana kotanya seperti di Sabang, banyak bangunan tua dan pohon-pohon besar nan rindang, dan penduduknya agak padat. Aktivitas ekonomi dinamis hingga larut malam, harga barang relatif murah, khususnya kain dan pakaian. Jauh lebih murah apabila dibandingkan di Indonesia. Berada di sini seperti berada di Aceh tetapi sulit kami temukan atau memang tak ada warung kopi di sini seperti di Aceh, minuman kopi tidak begitu populer, umumnya mereka minum teh dan susu.

    Dari Port Blair, kami lanjutkan perjalanan ke Maldive-nya India, yaitu Pulau Havelock. Kami naik feri yang jauh lebih bagus dan besar dibandingkan dengan feri dari Pelabuhan Ulee Lheue-Balohan, Sabang. Pemiliknya seorang pengusaha ACCI, biaya tiketnya (pp) sekitar satu juta rupiah per orang. Waktu tempuh ke Pelabuhan Havelock sekitar dua jam 30 menit.

    Penumpang umumnya turis domestik dari India daratan. Setiba di Pelabuhan Havelock, kami terkesima melihat banyak sekali ikan ukuran besar di bawah jembatan. Kalau di Aceh ikan-ikan itu mungkin sudah dipancing karena konsumsi ikan di Aceh terbilang tinggi, berbeda dengan di India, mereka lebih suka daging kambing dan ayam.

    Di Havelock kami kunjungi Pantai Kalapather dan Radhanagar. Di depan pintu masuk Kalapather banyak kios souvenir pernak-pernik yang terbuat dari kerang laut dan mutiara, juga baju bertuliskan Havelock. Harga mutiara terbilang murah, mulai Rp 50.000-Rp 200.000. Paling murah mutiara putih, lalu yang warnanya agak merah jambu. Di sini ada delapan titik keramaian. Kami menginap di Arpita Penthouse, daerah yang paling ramai penginapannya.

    Dalam diskusi dengan tourism agent kami mendapat informasi bahwa kunjungan turis di Havelock setiap hari mencapai 3.000-an orang. Sepanjang jalan banyak sekali penginapan dan hotel besar yang sedang dibangun. Sekitar 20% area di sini dipakai untuk kegiatan pariwisata, sedangkan sisanya tetap dijadikan lingkungan alami dengan hutan-hutan lebat. Di sepanjang jalan kami lihat banyak sekali pohon pinang dan kelapa, terasa seperti suasana di Bireuen dan Aceh Utara.

    Sebelum kembali ke Port Blair, kami berbincang sambil melihat-lihat buku tamu penginapan. Tertera deretan nama, negara, dan tanda tangan dari warga negara yang berlibur di Havelock. Banyak dari Eropa dan Amerika, bahkan dari Israel. Ketika kami tanya “Apakah sudah ada sebelumnya turis atau peneliti dari Indonesia?” Pemilik penginapan menjawab,”Andalah yang pertama.”

    Ini merupakan kesempatan langka dan menjadi pengalaman sangat berharga bagi kami, karena untuk menuju kemari membutuhkan izin yang ketat. Selain pengurusan visa, kami harus mengisi formulir izin khusus untuk dapat masuk ke Andaman dan Nikobar

    Saking tak mudahnya, Duta Besar Amerika atau kalangan Kedubes Amerika di India hingga saat ini belum diizinkan masuk ke sana, sedangkan Indonesia dapat masuk. Ini semua tak terlepas dari hubungan diplomasi Indonesia dengan India yang terjalin sangat baik.

    Dari Havelock kami kembali ke Port Blair dari Port Blair kami lanjutkan perjalanan ke Chennai.

    Di sini kami mengadakan pertemuan dan mewawancarai beberapa pengusaha dan General Manager Chennai Airport. Chennai, kota terbesar keempat di India, tertata rapi, relatif bersih dengan penduduk yang ramah. Suasana kotanya seperti Kota Makassar di Sulawesi Selatan.

    Sedangkan yang dapat diimpor dari Andaman & Nikobar dan Chennai ke Aceh, antara lain, bahan tekstil dan pakaian juga produk laut seperti ikan tuna, udang, kepiting, lobster, dan mutiara. Hasil observasi dan wawancara di Sunday Market, Port Blair, bahwasanya masyarakat kepulauan ini tak banyak mengonsumsi ikan, khususnya tuna, padahal perairan Teluk Benggala terkenal dengan potensi ikan tunanya.

    Barang yang diekspor ke Port Blair dapat dilanjutkan dengan mengirim barang tersebut ke Chennai. Ini dapat menjadi pasar yang potensial bagi Aceh dan Sumatra pada umumnya untuk masuk ke mainland.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 10/02/2019/kisah-peneliti-pertama-mendarat-di-andaman.

     

     

  • Kusentuh Langit Di Puncak Pantan Terong

    Oleh : Chairul Bariah, Ka.Biro umum dan administrasi Keuagan Universitas Almuslim Peusangan-Bireuen

     Malam itu terdengar suara gemuruh dari langit, pertanda sore itu hujan bakal mengguyur kota di kediamanku. Suara petir kuat tampak membelah langit diujung sana. Langsung aku bergegas menutupi pintu dan jendela rumah. Padahal, aku ada janji bersama keluarga untuk mengajak mereka jalan-jalan melihat pameran di lapangan kota Bireuen. Tapi itu mustahil, dikarenakan hujan turun begitu lebat. Sehingga, aku putuskan untuk tetap dirumah bersama keluarga. Suami dan anak-anakku mencoba membunuh rasa sepi dengan menikmati hiburan di televisi.

     Sementara aku mencoba berjalan ke arah jendela dan membuka kain gorden di jendela kamarku. Iya, bagiku hujan itu adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah SWT. Hujan yang begitu deras dan langit pun tertutup dengan awan hitam. Mengingatkan karena besok subuh, aku merencanakan melakukan perjalanan rekreasiku bersama keluarga kecilku ke kota dingin Takengon.

    Rencana kepergian ke kota dingin takengon tersebut, memang sudah kami rencanakan tiga hari lalu, akhirnya anakku yang nomor dua,  pagi buta tersebut bangunnya sangat cepat, karena angan-angannya ingin rekreasi ke Aceh Tengah, padahal malam itu hujan begitu deras menguyur daerah kediaman kami di Matangglumpang dua, perasaanku  rasanya sangat senang karena bisa berlibur dengan seluruh keluarga ke daerah yang pernah aku tinggalkna puluhan tahun lalu.

    Bun.. bundaaa...!!! iya nak, bunda koq bengong sendiri dikamar? Ayo bun, kita pergi. Bunda kan udah janji mau ajak kami jalan-jalan. Aku terkejut dan langsung berdiri dari tempat dudukku. Lalu aku menjawab, tapi kan masih hujan nak? Terus anakku menjawab dengan nada manja, tapi hujan udah berhenti bunda. Emang bunda tidak lihat kalau hujan sudah berhenti? lalu aku penasaran dan melihat keluar dari jendela ternyata benar kalau hujan sudah reda. Astaghfirullah memang benar bahwa hujan sudah berhenti. 

    Akhirnya, tanpa basa-basi langsung aku dan anakku bergegas menuju mobil yang didalamnya ada suami dan anakku yang pertama yang sudah menunggu sejak 30 menit lalu. 

    Pagi itu pukul 06.00 WIB  setelah shalat subuh, aku awali perjalanan bersama keluarga menuju kota dingin Takengon. Jalan yang penuh liku dan menajak terkadang tersendat karena ada tanah yang longsor dari sisi jalan. Namun, rintangan tersebut tidak mematahkan semangatku dan keluarga untuk sampai di kota ini.

    Secuil kenangan yang tak pernah terlupakan di kota penghasil kopi itu. Di kota itu banyak menyimpan cerita tentang kisah hidupku. Satu hal yang cukup kuat hubungan aku dengan  kota Takengon adalah di dalam tubuhku mengalir darah keturunan Gayo. Sebab, ibu dari ayah ku adalah asli Gayo dari kampung Wih Lah Kecamatan Pegasing.  Masa kecilku sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Paya Tumpi yang saat ini bernama SDN 3 Kebayakan Aceh Tengah. Kemudian, aku hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun hingga kembali lagi ke kota kelahiranku Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. 

    Seiring perjalanan waktu, sekarang aku berkeluarga dengan seorang pria Aceh garis keturunan Yaman Timur Tengah yang sangat baik dan menjadi suamiku, hingga aku dikaruniai 2 (dua) orang Arjuna.

    Udara yang segar dengan hawa sejuk mulai terasa ketika aku sampai di gapura Selamat Datang di kota Takengon pada pukul 08.00 WIB. Aku dan keluarga berhenti sejenak di daerah yang dinamai Singah Mata. Di sana kami sekeluarga mengambil foto dengan latar belakang Danau Lut Tawar dengan panorama sisi pengunungan yang masih diselimuti kabut putih.  

    Setelahnya, kami menuju ke sebuah desa yang tak jauh dari lokasi Singah Mata yakni desa Paya Tumpi Baru. Di desa inilah masa kecilku pernah tinggal. Aroma khas Kopi Paya Tumpi menyambut kedatangan sekeluarga kami di rumah saudara kandungku yang hidup bersahaja. Usai menyeruput kopi beberapa saat, aku dan keluarga melanjutkan perjalanan berwisata menuju sebuah lokasi puncak bukit dengan keindahan alam yang luar biasa. Aku sudah beberapa kali ke sana, tapi kali ini berasa berbeda sebab keluarga kecilku ikut serta. 

    Pantan Terong itulah lokasi puncak bukit yang kami tuju.  Di puncak itu kita dapat melihat Danau Lut Tawar yang di apit oleh pegunungan. Sungguh memamerkan kebesaran Tuhan. Sebelum mencapai Pantan Terong di kaki bukit, ada satu desa yang dilalui yakni Desa Daling Kecamatan Bebesen. Salah satu anakku sempat berkata, “Bunda, kita bisa pegang langit ya diatas sana”, ucapnya. Tersontak aku dan keluarga yang lainnya langsung tertawa sehingga cukup membuat suasana dingin menjadi hangat.  

    Sekedar ilustrasi, jarak menuju Pantan Terong ± 7 km dapat ditempuh selama 20 menit dari kota Takengon menuju Pantan Terong melewati jalan aspal hotmik cukup bagus dan lebar namun jalannya berliku dan menanjak, dibutuhkan nyali dan skil pengemudi. Untungnya sopir yang mengedarai kendaraan kami cukup berpengalaman. Di sepanjang  jalan hamparan kebun kopi warga menambah indahnya panorama alam yang asri.

    Akhirnya lelahku terbayarkan ketika sampai di puncak bukit Pantan Terong yang merupakan puncak bukit tertinggi yang berpenghuni dalam kawasan kota Takengon sebagai tempat destinasi wisata dengan ketinggian ± 1.830 meter di atas permukaan laut. Pemandangannya begitu menakjubkan dengan udaranya yang begitu dingin. Di bagian sisi barat mata memandang bentangan Danua Lut Tawar, hamparan sawah-sawah dan kubah Mesjid Agung Ruhama di tengah kota Takengon yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Aceh Tengah.  Di bagian sebelah selatan terdapat lapangan pacuan kuda Belang Bebangka dimana tempat pacuan kuda tradisional sering diadakan. 

    Sementara itu, di sebelah Utara panorama alam Kabupaten Bener Meriah dengan Gunung berapi Burni Telong yang begitu megah dan landasan pacu bandara Rembele, tak ada kata yang lain selain mengucap kebesaran Allah, segala puji untuk mu ya Allah tanah ini begitu indah engkau ciptakan, menjadi berkah dan sumber kehidupan warga dataran tinggi Gayo. Persis seperti yang tertuang dalam Al-qur’an pada ayat Ar-rahman, Nikmat mana lagi yang tidak kau syukuri.

    Sedikit mengupas sejarah diciptakannya lokasi wisata Pantan Terong. Pantan Terong dalam bahasa Gayo bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya Puncak atau Bukit Terong. Pada dulunya puncak tersebut banyak di tumbuhi tanaman jenis terong untuk sayuran sehingga masyarakat di sini menyebutnya bukit dengan tanaman terong atau Pantan Terong. Pada Tahun 2002  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia 17 Agustus, Bupati Aceh Tengah pada waktu itu,  Bapak Drs. Mustafa M. Tamy, MM meresmikan lokasi tersebut sebagai titik awal pembagunan wisata di Aceh Tengah dan diprakarsai oleh Ibu Hj. Nilawati Mustafa M. Tamy. 

    Diresmikan dengan nama puncak Al Kahfi, namun dalam perjalananya warga di Aceh Tengah lebih mengenal lokasi tersebut dengan sebutan  Bukit Terong atau Puncak Terong dan akhirnya hingga saat ini lokasi tersebut di kukuhkan penamaanya dengan sebutan Pantan Terong dalam bahas Gayo. Lokasi itu di resmikan sebagai destinasi Wisata Alam dan juga Agroewisata. Selain menyuguhkan pemandangan alam, di bagian timur Pantan Terong merupakan areal pertanian, di tempat itu terdapat puluhan hektar hamparan lahan perkebunan holtikultura tempat bercocok tanaman segala jenis sayur-sayuran yang berkualitas, seperti Kentang, Kol, Bawang dan sebagainya. 

    Berdiri di Puncak Al Kahfi atau Pantan Terong mengingatkan aku pada tempat wisata kebun raya Cibodas Jawa Barat yang memiliki hamparan kebun teh yang luas bergelombang dan  berbukit bukit dengan ketinggian 1.275 meter dari permukaan laut,  suhu udara di sana hampir sama dengan di Pantan Terong yakni antara 17 – 27 derajat Celsius. Bagi saudara-saudara dan teman-teman ku yang ingin berwisata ke Pantan Terong sebaiknya memakai baju yang tebal atau membawa jaket karena udara di tempat itu benar-benar dingin. Tak jarang juga sering datangnya kabut walau di siang hari. Bagi yang belum terbiasa dan berlama-lama di tempat itu akan merasakan kaku untuk bergerak  karena dingginya suhu udara di kawasan tersebut.

    Berada di puncak Pantan Terong dapat menghilangkan penat dan melupakan aktivitas kantor yang melelahkan, udara yang segar, pemandangan yang indah mampu membangkitkan semangat hidup kita, lokasi wisata ini memang berbeda jika di bandingkan dengan tempat wisata lainnya, karena semuanya masih alami, kita pun dapat menyempatkan diri untuk membeli sayur-sayuran segar langsung ke lahannya. Lain lagi bicara kopi, memang Gayo tempatnya untuk menikmati secangkir kopi asli Arabika, daerah ini memang sudah sangat terkenal sebagai daerah penghasil kopi arabika.

    Udara dingin dalam gulungan kabut  berisi air embun langsung menyentuh kulit, terkadang bila di pagi hari di bawah jam 10.00 WIB, kita tak menyangka saat kita berbicara, asap keluar dari dalam mulut kita, itu yang kita alami saat berada di puncak Pantan Terong, bahkan terasa kitapun dapat menyentuh  awan di langit  saat berada Pantan Terong yang sedang diselimuti kabut.

    Keindahan Pantan Terong membuat aku dan keluarga enggan beranjak, namun karena waktu makan siang telah tiba kamipun meninggalkan Pantan Terong dengan mengukir kenangan yang tak terlupakan.

     

    Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com di rubrik jurnalisme warga tanggal 12/14/2019/04/ dengan judul Menyentuh-langit-di-puncak-pantan-terong

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua.

    Oleh: Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

    Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah tengah Provinsi Aceh. Topografi daerahnya berbukit dan berhawa dingin. Bahkan danau terbesar Aceh, yakni Danau Lut Tawar, terdapat di sini.

    Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kabupaten ini juga memiliki banyak objek wisata. Ada tempat wisata yang dikelola pemerintah, banyak pula yang dikelola masyarakat, baik secara berkelompok maupun personal. Mereka menyulap berbagai potensi alam di seputaran hutan, kebun, aliran sungai, bahkan sawah untuk dijadikan objek wisata menarik, objek yang memberikan sejuta kenangan bagi pengunjung yang suka swafoto. Jadi, tidak mengherankan jika banyak masyarakat luar daerah, termasuk wisatawan asing yang mendatangi objek-objek wisata di seantero Aceh Tengah ini.

    Dalam rangka mengisi liburan Idulfitri 1440 Hijriah, walau udara begitu dingin, tidak menghalangi niat saya dan rombongan bergerak menuju ke daerah yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju penuh hati-hati, karena jalan sedikit licin akibat guyuran hujan malam hari. Dalam balutan kabut di sepanjang jalan, setiba di tikungan Enang-Enang mobil yang kami kendarai berhenti sejenak, karena ada bus yang mogok, tapi hanya sebentar karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang saat itu.

    Tujuan saya ke Takengon kali ini adalah selain kunjungan silaturahmi ke rumah kakak dan saudara, juga ingin memanfaatkan waktu libur dan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata Gua Putri Pukes. Nah, selain punya banyak objek wisata alam, Aceh Tengah ternyata juga punya legenda cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan kepada generasi penerus.

    Ke lokasi wisata ini saya membawa rombongan dari Pulau Jawa dan wisatawan dari Jepang. Saya ditemani Idrus Saputra, salah seorang anggota keluarga yang juga menjabat Ama Reje (Kades) Paya Tumpi Baru.

    Objek wisata Gua Putri Pukes yang kami tuju berada di pinggir Danau Lut Tawar di Kecamatan Kebayakan, berjarak ± 2 km dari Kota Takengon, dapat ditempuh dalam waktu lima menit. Sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan indah pinggir danau yang membuat tanpa sadar kami sudah tiba di lokasi Gua Putri Pukes. Apalagi karena masih pagi, udara saat itu terasa sangat dingin.

    Saat kami tiba di lokasi parkir, pengunjung masih belum terlalu ramai. Beberapa pedagang tampak sedang membuka lapak dagangannya di areal parkir. Ini membuat Ama Reje Desa Paya Tumpi Baru yang ikut dalam rombongan saya bereaksi. Ia tak membiarkan pedagang berjualan di tempat yang dilarang. Apalagi pedagang tersebut menggelar dagangannya justru tepat di bawah pamplet yang bertuliskan dilarang berdagang di tempat parkir. Ame Reje Idrus Saputra langsung menegur pedagang tersebut agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengelola bahwa di lokasi parkir tidak dibenarkan berjualan. Tanpa perlawanan, beberapa pedagang itu akhirnya pindah dari lokasi tersebut.

    Saya dan rombongan bergegas naik ke pintu gua yang berukuran ± 1,5 meter sehingga butuh kesabaran dan kehati-hatian saat masuk. Kami disambut petugas merangkap pemandu wisata. Sebelum masuk gua kami membayar retribusi masuk. Menurut petugas, biaya tersebut dipungut untuk membiayai pemeliharaan objek wisata legenda tersebut.

    Saat tiba di dalam gua badan terasa dingin, suasana gelap, dan sesekali air menetes di atas kepala dan pundak. Saya kaget, seakan ada suasana mistis di dalam gua ini. Pemandu wisata mengajak kami terus berjalan masuk lebih dalam menuju patung batu Putri Pukes. Wah, menakjubkan!

    Tiba di depan patung Putri Pukes, pemandu wisata bercerita, konon Putri Pukes adalah gadis rupawan anak seorang raja di Kampung Nosar. Ia mencintai seorang pangeran dari kerajaan lain di Bener Meriah. Sejoli ini gigih memperjuangkan cintanya dan meminta restu kepada kedua orang tua mereka untuk dinikahkan.

    Awalnya orang tua Putri Pukes menolak lamaran pangeran, apalagi Putri Pukes adalah anak tunggal seorang raja yang sulit mendapatkan keturunan dan tak lama lagi akan dibawa pergi jauh oleh seorang pangeran bernama Mude Suara ke kerajaaannya. Namun, karena sayang dan cinta kepada putrinya, akhirnya orang tua Pukes menyetujui pernikahan putrinya dengan Pangeran Mude Suara.

    Setelah menikah, sebagaimana biasa, seorang perempuan harus ikut ke tempat suaminya, sesuai dengan adat Gayo sistem juelen, yaitu pihak istri tinggal bersama suami selamanya. Begitu juga dengan Putri Pukes, sambil berurai air mata, dia memohon izin kepada kedua orang tuanya untuk ikut ke kerajaan suaminya.

    Konon pada zaman dahulu saat antar pengantin tidak boleh bergandengan, makanya sang Pangeran lebih dulu pergi, baru sang Putri menyusul. Dengan perasaan sedih, kedua orang tua melepas kepergian putri tersayang. Ayah ibunya berpesan agar saat sudah ke luar dari kerajaan ini, jangan pernah sekalipun teringat ke kampung halaman dan menoleh ke belakang.

    Akhirnya sang Putri berangkat, diantar oleh pengawalnya. Dalam bahasa Gayo, momen ini disebut “munenes” atau bahasa Aceh “intat dara baro”. Ia pergi dengan membawa perlengkapan rumah tangga yang telah disiapkan oleh keluarga Putri Pukes seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, cawan, periuk, dan lain-lain

    Acara munenes bagi pengantin baru di Gayo biasanya berlangsung meriah dan haru, tapi sangat berbeda dengan suasana hati sang Putri yang dirundung kesedihan. Sepanjang perjalanan Pukes terus teringat orang tua yang sangat ia rindukan. Kemudian, tanpa sengaja ia menoleh ke belakang. Tiba-tiba datanglah badai, petir, dan hujan yang sangat lebat. Rombongan Putri Pukes terpaksa berteduh di sebuah gua. Sang putri yang kedinginan, berdiri di sudut gua untuk menjaga suhu badannya agar tetap hangat. Tapi secara perlahan sang putri merasakan tubuhnya dingin dan mengeras, dia sangat terkejut dan menangis saat sebagian tubuhnya, lalu seluruhnya berubah menjadi batu. Pada saat itulah timbul penyesalan di hatinya karena tidak mengindahkan pesan orang tuanya. Berkali-kali pengawal memanggil sang Putri, tapi tak ada jawaban. Ketika dilihat di sudut gua ternyata Putri Pukes sudah membatu.

    Menurut pemandu wisata, tak terlalu jauh dari lokasi Putri Pukes menjadi batu, ada jalan yang dilalui oleh pangeran. Dulu kabarnya jalan ini bisa tembus ke Aceh Jaya. Di lokasi itulah kemudian pangeran yang mendengar cerita bahwa sang kekasihnya telah menjadi batu, berdoa agar menjadi batu juga. Akhirnya, kisah cinta Putri Pukes dan sang Pangeran Mude Suara berakhir tragis. Keduanya menjadi batu, bahkan perlengkapan rumah tangga yang dibawa saat itu ikut menjadi batu. Para pengawal Putri Pukes yang selamat dari kejadian itulah yang menceritakan kembali legenda ini kepada masyarakat. Kisahnya bergulir secara turun-temurun.

    Setelah selesai mendengar penjelasan pemandu dan melihat-lihat kondisi di dalam gua, pemandu wisata menuntun kami ke luar dari gua, apalagi saat itu sudah banyak pengunjung lain yang antre di depan pintu masuk untuk melihat patung batu Putri Pukes.

    Suasana gelap di dalam gua membuat saya sedikit pusing setiba di luar gua. Di luar ternyata sinar matahari yang pagi tadi bersembunyi di balik awan, telah memperlihatkan diri seutuhnya. Saya dan rombongan pun meninggalkan lokasi dengan membawa hikmah dan kenangan.

    Hikmah yang dapat dipetik dari cerita legenda Putri Pukes ini adalah bahwa amanah atau pesan orang tua harus dipatuhi, karena ada tuah, sakti, atau keramatnya. Kalau dilanggar, bisa fatal akibatnya. Selain itu, menjunjung tinggi adat istiadat adalah kewajiban bagi masyarakat, baik masyarakat setempat maupun pendatang, sebagaimana kata pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

    Pengembangan objek wisata merupakan salah satu cara pemerintah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang gencar, saya optimis objek wisata Gua Putri Pukes ini akan bisa meningkatkan income masyarakat sekitar lokasi objek wisata.

    Bukankah di tempat lain, misalnya di Suliki, Padang, legenda Malin Kundang menjadi batu mampu menyedot banyak wisatawan? Demikian pula legenda atau cerita rakyat yang populer di Jawa Tengah, yakni tentang Rara Jonggrang. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang Putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya. Nah, kalau Jawa Tengah punya Rara Jonggrang, Aceh justru punya Putri Pukes dalam varian dan alur cerita yang berbeda. Tapi sama-sama menarik. Nah, datanglah segera ke guanya untuk bertemu sang Putri.

     

     Artikel ini  pernah  tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 21/06/2019 dengan judul Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua. 

     

  • Lulusan Kebidanan ikut Ukom

     

    Peusangan-Program Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim kembali ditunjuk oleh Kemenristek Dikti melalui Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) sebagai lokasi pelaksanaan ujian Uji Kompetensi Nasional (TUK)  tenaga kesehatan Bidan atau sering disebut dengan ujian kompetensi (Ukom).

    Pelaksanaan Uji kompetensi (Ukom)  Bidan di Bireuen diikuti sebanyak  89  peserta yang berasal dari lulusan Diploma III Kebidanan Almuslim  63 orang  dan  26 orang dari Akademi Kebidanan Munawarah Bireuen, ujian berlangsung  di kampus Diploma III Kebidanan umuslim, Sabtu (9/3/2019).

    Direktur III Kebidanan Umuslim Nurhidayati, MPh menyampaikan bahwa ujian Ukom ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran dan diatur dalam Permenristekdikti No 12 tahun 2016 dan bagi yang lulus akan diberikan Surat tanda Registrasi (STR) sebagai pengakuan kompetensi profesi.

    Tambah Nurhidayati lagi bahwa  pihaknya mengucapkan terimakasih kepada Kemenristek Dikti melalui Dirjen Belmawa atas dipilihnya kampus Kebidanan Umuslim sebagai lokasi pelaksanaan ujian kompetensi bagi lulusan kebidanan, pelaksanaan ujian berlangsung aman dan lancar, diawasi langsung pengawas dari pusat  yang hadir   Evi Nurakhiriyanti  dari Akbid Gema Nusantara Bekasi Jawa Barati(HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa D III Kebidanan ikuti pembekalan etika profesi

     

     

    Peusangan-Sejumlah  mahasiswa Diploma III Kebidanan Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Kabupaten Bireuen  mengikuti  pelatihan dan pembekalan tentang etika profesi dalam pelayanan kebidanan, yang berlangsung  di Kampus Ampon Chiek Peusangan, Bireuen, selama dua hari, Kamis dan Jumat (1/2).

    Menurut Direktur D III Kebidanan Nurhidayati MPH  bahwa  peserta pelatihan merupakan mahasiswa tingkat III (semester 6),  tujuan kegiatan ini untuk membekali para mahasiswa dalam mempersiapkan dirinya menjadi bidan yang beretika, profesional, taat hukum dan menjunjung tinggi sumpah profesi dalam menjalani profesinya sebagai bidan.

    Selain itu menurut Nurhidayati pelatihan ini  juga sebagai persiapan bagi lulusan untuk mempersiapkan dirinya mengikuti uji kompetensi yang merupakan salah satu  syarat dalam mendapatkan Surat Tanda Registrasi Bidan (STR).

    Adapun materi yang diajarkan dalam pembekalan tersebut antara lain  etika profesi kebidanan, kebijakan tentang uji kompetensi nasional, dan beberapa materi lainnya yang berkaitan dengan etika profesi.

    Para pemateri, antara lain Elly Safri SSiT MKM, Nurhayati MPH, Siti Rahmah SSt MKes, Anna Malia SSt MKen, Sri Raudhati SsiT MKM, selain mahasiswa peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah dosen.(HUMAS)

     

     

  • Mahasiswa KKM gelar aneka lomba

    Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Peusangan  Angkatan XVII 2019  yang melaksanakan pengabdiannya di kabupaten Bireuen melakukan berbagai kegiatan.

    Mengakhiri pengabdian  di desa mereka melaksanakan berbagai program yang melibatkan masyarakat desa, seperti reiboisasi di pantai wisata Panggah, kemudian di Kecamatan Peudada mereka juga melaksankan MTQ anak-anak dan berbagai program pendidikan lainnya. Kegiatan yang digelar di kecamatan masing-masing ini berlangsung dari tanggal (11-14/3/2019).

    Seperti dilaporkan koordinator dosen DPL KKM di Kecamatan Peudada Riyadhul Fajri M,Kom bahwa banyak kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa  melibatkan para pelajar dan masyarakat, mereka banyak arahkan program ke bidang Pendidikan seperti MTQ dan berbagai bimbingan pedampingan dan bimbingan anak sekolah lainnya,  jelas Riyadhul Fajri.

    Kegiatan MTQ tingkat anak-anak yang dibuka Sekcam Peudada Maksalmina melibatkan unsur pemuda mendapat dukungan dan bantuan dari masyarakat. Seperti apa yang disampaiakan  keuchik Neubok Naleung kecamatan Peudada Nasruddin  mewakili dari 16 desa lokasi penempatan KKM, menurutnya pihaknya sangat berterimakasih kepada mahasiswa KKM Universitas Almuslim, dengan adanya mahasiswa kkm membuat kegiatan  walau programnya sederhana tapi sangat terbantu masyarakat  dalam memotivasi dan   meningkatkan  mental anak dalam mengikuti pendidikan  di setiap  desa, ungkapnya.(HUMAS).

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim gelar Pekan Kebudayaan

     

     

     

    Peusangan - Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Universitas Almuslim  mengadakan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) yang akan di laksanakan halaman  depan gedung aula MA Jangka kampus Universitas Almuslim, tanggal 6-11 November 2018.

    Menurut Presiden mahasiswa (Pema) Universitas Almuslim  Andi Maulana,Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) merupakan  kegiatan tahunan mahasiswa dan   tahun ini merupakan   kegiatan FKU yang ke-3 ini dilaksanakan.

    Menurutnya tujuan kegiatan ini  untuk menumbuhkan dan meningkatkan  kreativitas  mahasiswa sebagai salah satu mata rantai pengembangan kehidupan yang berbudaya,  juga  untuk mempererat  hubungan silaturahmi,  kerja sama dan semangat kekeluargaan  antar mahasiswa di Universitas Almuslim, baik  bidang akademis dan kreativitas mahasiswa.

    Apalagi mahasiswa  Universitas Almuslim berasal dari berbagai suku,  budaya yang ada di Indonesia, selain itu menurut panitia  kegiatan ini juga sebagai ajang untuk  menambah kegiatan ekstrakulikuler kemahasiswaan di perguruan tinggi melalui pembinaan minat, bakat, dan kemampuan mahasiswa di bidang seni, budaya dan sosial jelas Andi Maulana 

    Kegiatan  Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3 ini mendapat dukungan penuh Rektor umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, mengambil  tema "Memperkuat Ragam Budaya Tanoh Rencong di Universitas Almuslim", jelas  Presiden Mahasiswa Universitas Almuslim  Andi Maulana.

    Ketua panitia Muhammad Daud menambahkan kegiatan festival kebudayaan umuslim ke-3 tahun 2018, memperlombakan 15 item perlombaan antara lain menulis opini, membaca puisi, fotografi, dodaidi (peuratep aneuk), fashion show TK, duta mahasiswa, vokal solo, stand kreativitas, panggung bersama, permainan tradisional seperti congklak, cakceng, bola sarung dan tarik tambang, peserta yg akan ikut serta dalam kegiatan ini adalah mahasiswa dan pelajar.

  • Mahasiswa Umuslim Ikut Asean Youth Assembly (AYA) di Surabaya

     

     Peusangan-Muhammad Achdan Tharis, mahasiswa Program Studi  Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Almuslim (FISIP Umuslim) terpilih mengikuti pertemuan Asean youth Assembly (AYA) 2019 di Surabaya.

    Asean Youth Assembly adalah sebuah wadah tempat berkumpulnya pemuda-pemuda Asean yang dilaksanakan oleh AMSA (Asean Muslim Student Association). Program yang  bertemakan “Creating the Virtuos Asean with Youth’s Wisdom”, dilaksanakan di Surabaya tepatnya di Greensa Inn Sunan Ampel Sidoarjo, 26-29 April 2019. 

    Asean Youth Assembly merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh AMSA. Acara ini dilakukan dengan tujuan untuk menerima ide-ide serta aspirasi dari pemuda Asean di era millenial, juga membentuk pemuda Asean yang berbudi pekerti luhur untuk lebih sadar akan isu yang terjadidi Asean, memiliki sifat kepemimpinan dan pembuat keputusan yang baik, serta mampu untuk berpikir kritis dalam membuat regulasi yang bertujuan nantinya dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, khususnya di negara Asean. Sesuai dengan amanah presiden AMSA, ide-ide dan regulasi yang dibuat oleh pemuda Asean nantinya akan diajukan kepada organisasi pemerintah dan non-pemerintah seperti kemenlu, kemenpora, serta LSM hingga akhirnya diterima dan direvisi oleh Asean sendiri.

    Kegiatan yang dihadiri oleh 50 peserta dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi  yang tergabung dalam  Negara ASEAN seperti  Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam berlangsung penuh nuansa persahabatan.

    Menurut laporan Muhammad Achdan Tharis,  acara diawali dengan kegiatan seminar dalam bidang lingkungan, pendidikan, ekonomi, politik, kepemimpinan, Public Speaking, dan beberapa isu global lainnya. seminar ini  disampaikan oleh beberapa narasumber utama dari berbagai organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah, seperti WWF, Kementrian LuarNegeri (Kemenlu), Kementrian Pemudadan Olahraga (Kemenpora) dan beberapa aktivis lainnya yang berasal dari berbagai negara  di ASEAN. 

    Dengan seminar ini dimaksudkan untuk membekali pemuda-pemuda ASEAN khususnya yang menjadi delegasi acara ini untuk lebih sadar akan masalah atau isu yang terjadi di Asean serta lebih kritis dalam mengambil keputusan dan melakukan advokasi regulasi nantinya di negara masing-masing.

     Dalam pertemuan tersebut juga diisi dengan kegiatan diskusi antar delegasi, yang telah dilakukan  pembagian divisi diskusi oleh Presiden AMSA dalam 5 kelompok divisi. Kelima kelompok ini disesuaikan dengan tujuan Asean Chapter, yaitu Welfare (Kesejahteraan), Economy (Ekonomi), Education (Pendidikan), Security (Keamanan), dan Dakwah dengan isu Humanity (Kemanusiaan). 

    Achdan Tharis yang merupakan  mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Almuslim,  merasa sangat beruntung, karena  untuk mengikuti kegiatan ini tidaklah mudah karena harus mengikuti seleksi yang dilakukan oleh panitia penyelenggara. “Saya beruntung dapat terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia di Event Internasional ini,” ungkap  Achdan terharu. 

    “Saya sangat senang dan bahagia bisa terpilih mengikuti program ini, karena saya banyak mendapatkan pengalaman dan bisa bertemu dengan banyak tokoh baik nasional maupun asean,semoga apa yang saya dapatkan bisa saya implementasikan bagi orang banyak, khususnya di Aceh,” ungkap Achdan

    Hari terakhir pertemuan  para delegasi yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dalam negara Asean dibawa mengunjungi berbagai museum dan beberapa tempat wisata dan bersejarah di seputaran kota Surabaya.(HUMAS)

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim ikuti kuliah umum tentang Migas

     

    Peusangan-Ratusan mahasiswa Universitas Almuslim Peusangan Bireuen mengikuti  kuliah umum tentang pengenalan industri hulu minyak dan gas bumi serta sosialisasi tentang perkembangan ekspolarasi dan operasional migas yang disampaiakan sejumlah pemateri  berlangsung di Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan kampus Umuslim, Rabu(10/7).

    Acara dibuka Bupati Bireuen diwakili Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Bireuen Ir. Ibrahim Ahmad M.Si,  menghadirkan sejumlah pemateri seperti Yanin Kholison (SKK Migas Sumbangut), Achar Rasyidi (Badan Pengelola Migas Aceh), Awalus Shadeq (Premier Oil Natuna BV), Fauzan Arief (Exploration Team Leader Pemier Oil),  Adelina Novianti (Repsol Company) dan perwakilan  perusahaan Mubadala Petroleum.

     Bupati Bireuen yang diwakili asisten II dalam sambutannya menyatakan, masyarakat Bireun sangat terbuka dengan kehadiran para investor yang masuk ke Kabupaten Bireuen, jika perusahaan menemukan cadangan minyak dan gas agar perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam kegiatan hulu migas, ujar Ir.Ibrahim,MSi.

    Acara yang  dipandu T.Cut Mahmud Aziz dosen prodi Hubungan Internasional Umuslim berlangsung atraktif, karena pemateri banyak mengupas tentang berbagai peran lembaga satuan kerja khusus minyak dan gas bumi (SKK Migas) dan Badan Pengelola Migas aceh (BPMA), serta penjelasan  perkembangan ekspolarasi dan operasional perusahaan minyak dan gas di wilayah Provinsi aceh oleh beberapa perusahaan yang telah mendapat izin dari pemerintah.

    Menurut Yanin Kholison perwakilan Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) Wilayah Sumbagut, saat ini ada tiga perusahaan internasional yakni Repsol, Premier Oil dan Mubadala Petroleum yang berinvestasi di bidang hulu minyak dan gas (Migas) di lepas pantai Bireun, Pidie Jaya, dan Pidie, Provinsi Aceh. 

    "Ketiga perusahaan internasional tersebut nantinya akan berinvestasi tepatnya di wilayah kerja Andaman I, II, dan III pada perairan Selat Malaka, selain itu, Repsol juga telah selesai melakukan seismic 3D di Andaman III dan rencanya di tahun 2020 akan segera melakukan pengeboran. Sementara Premier Oil dan Mubadala masih dalam tahap joint study di Wilayah Kerja Andaman I dan Andaman II." jelas perwakilan SKK Migas.

    Kemudian Humas BPMA, Achyar Rasyidi  menyampaikan bahwa kegiatan hulu migas akan berkontribusi pada penciptaan multiefek ekonomi bagi masyarakat Bireuen. "Hadirnya tiga perusahaan internasional yaitu Mubadala Petroleum, Repsol, dan Premier Oil akan membuka lapangan kerja baru," papar Achyar.

    Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengucapkan terima kasih dan memberikan apreasiasi untuk BPMA dan SKK Migas  yang mempercayakan Universitas Almuslim mengadakan kegiatan sosialisasi  berbagai ilmu dan memberi pencerahan tentang berbagai hal  berkaitan dengan minyak dan gas di Aceh kepada mahasiswa umuslim.

     Rektor Universitas Almuslim, Dr. Amiruddin Idris, SE, M.Si berharap agar kegiatan kerja sama dengan universitas seperti ini bisa secara kontinyu dilakukan agar pihak kampus mendapatkan wawasan tentang kegiatan hulu migas di Aceh, harap H.Amiruddin Idris.

    Pencerahan ini sangat penting bagi  mahasiswa karena persoalan tenaga kerja yang bergabung pada perusahan miyak dan gas tidak hanya harus berasal dari jurusan perminyakan saja tetapi juga dibutuhkan dari berbagai disiplin ilmu  lain seperti bahasa inggris,hukum,ekonomi, teknik dan humaniora lainnya

    Acara yang berlangsung satu hari ini  turut dihadiri sejumlah dosen dalam lingkup universitas almuslim, dikahiri penyerahan cendera mata dari rektor Umuslim berupa plakat dan buku Bireuen segitiga emas ekonomi Aceh kepada pemateri.(HUMAS)

     

     

     

     

  • Mahasiswa umuslim ikuti pelatihan animasi di Bali

     

    Peusangan-Sebanyak 5 (lima) orang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Umuslim lolos untuk  mengikuti pelatihan animasi di  Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Bali mulai tanggal 20 s/d 28 Juni 2019.

    Menurut dosen pendamping T.  Rafli A. , M.Sn, peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah  seluruh Indonesia, meski semua biaya  di tangung pemerintah (gratis) namun untuk mengikutinya tetap melalui proses seleksi ketat peserta dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah angkatan ini, lima mahasiswa Umuslim berhasil lulus seleksi untuk mengikuti pelatihan  di Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, papar T.  Rafli A. , M.Sn.

    Menurut T.Rafli A, Balai Diklat Industri (BDI)  merupakan lembaga dibawah binaan Kementerian Industri dengan spesialisasi animasi, kerajinan dan barang seni, program pelaksanaan diklat berbasis spesialisasi dan kompetensi sesuai SKKNI serta Uji kompetensi dan sertifikasi. Pelatihan ini diadakan setiap tahun dengan kompetensi yang beragam khususnya yang berhubungan dengan animasi dan  Industri Creative.

    Tujuan pelatihan  ini untuk membekali pengetahuan peserta dalam  upaya meminimalisir kesenjangan antara lulusan akademik dengan kebutuhan dunia industri. Peserta  di uji kompetensi  dilakukan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) nasional,  yang lulus  mendapatkan dua sertifikat, sertifikat pelatihan dan sertifikasi profesi  BNSP, bagi mahasiswa umuslim ini memiliki kaitan erat dengan matakuliah Animasi  papar T.Rafli A,M.Sn yang merupakan satu-satunya  instruktur yang berasal dari Aceh.

    Diklat ini bekerjasama dengan studio animasi yang ada di Indonesia, Instruktur  berasal dari studio-animasi sepertistudio animasi Castle, Bamboomedia,Jitu, Nusa Edu, Invinite, 8 Mata. Adapun peserta dari Umuslim Muna Khalis, Alvin Khairi, Muhammad Naufal, Muhammad Ichsan dan  Hendra Saputra.(HUMAS)

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim KKM di Tiga Kecamatan

    Peusangan-Sebanyak 240 mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim)  diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen untuk melaksanakan pengabdian yang dikemas dalam program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di tiga Kecamatan yaitu Peudada, Peusangan Selatan dan Gandapura.

    Proses penempatan dimulai dengan penyerahan peserta dari Umuslim yang diwakili  Wakil Rektor III Umuslim, Ir Saiful Huri,MSi kepada pemerintah kabupaten Bireuen  diwakili Sekda Ir Zulkifli,Sp, selanjutnya, diserahkan kepada  camat di tiga  lokasi penempatan yaitu (Peudada, Peusangan Selatan dan Gandapura),prosesi penyerahan berlangsung  dilapangan kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten, Cot Gapu Bireuen, Kamis (7/2/2019).

    Sekda Bireuen Ir.Zulkifli, Sp dalam sambutannya mengharapkan mahasiswa yang ditempatkan di desa agar dapat mentaati segala aturan dan menghargai setiap kearifan lokal yang berlaku di gampong.

    Pemerintah Bireuen menyambut baik kehadiran adik-adik mahasiswa KKM dan diharap para camat agar dapat mengarahkan, membimbing  dan mensosialisasikan ke desa penempatan.

    Setiba di desa lakukan orientasi mengenali desa dan seluruh perangkat desa serta potensi  jumlah penduduk serta potensi lainnya yang dimiliki desa, kalau ada hal-hal yang potensial agar dapat  dikoordinasi dengan dosen pembimbing lapangan dan perangkat desa guna dikembangkan jadi peluang usaha bagi masyarakat.

    "Saya harap, adik-adik mahasiswa dapat menjadi katalisator atau punya daya ungkit dan mengerakkan serta memotivasi agar gampong bisa berbuat lebih banyak yang sesuai dengan kebutuhan," harap Sekda Bireuen Ir.Zulkifli,Sp.

    Rektor Umuslim, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si pada kesempatan tersebut diwakili Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ir. H. Saiful Hurri, Msi dalam sambutannya mengatakan bahwa program ini merupakan satu kewajiban bagi mahasiswa sebelum menyelesaikan studinya di kampus Universitas Almuslim.

    Menurutnya  tolak ukur keberhasilan kegiatan KKM ini, diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada beberapa hal diantaranya, pendewasaan mahasiswa calon pemimpin dan pengabdi di masyarakat, tercipta dan meningkatnya jiwa pengabdian ilmu dan partisipasi aktif mahasiswa serta dosen dalam membangun desa (gampong), selain itu, menambah pengalaman ilmu nyata di masyarakat, sehingga terjadi penguatan kemampuan intelektualnya.

    Kepada para mahasiswa peserta KKM, diharapkan agar dapat ber adaptasi dengan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan ini  sesuai  agenda dan program   yang  telah  direncanakan, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya,” ungkap Rektor Umuslim.

    Sementara itu Ketua Badan Pelaksana (Bapel) KKM Umuslim, Drs. Syarkawi, M.Ed dalam keterangannya menjelaskan bahwa peserta KKM Angkatan XVII Tahap II ini berjumlah 240 orang, mereka berasal dari enam Fakultas, yakni Fakutas Pertanian (FP) sejumlah 19 orang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sejumlah 97 orang, Fakultas Teknik (FT) sejumlah 19 orang, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 23 orang, Fakultas Ekonomi (FE) sejumlah 48 orang dan Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) sejumlah 34 orang.

    Tambah kepala Bapel KKM  lagi, mereka akan mengabdi  selama 37 (tiga puluh tujuh) hari, terhitung mulai tanggal 7 Februari hingga 15 Maret 2019 di 48 gampong (desa) dalam tiga kecamatan, setiap gampong ditempatkan lima mahasiswa dan didampingi  12 orang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), setiap DPL  akan mensupervisi empat gampong.

    Para peserta KKM tersebut menjelang akhir program KKM ini atau paling telat satu minggu sebelum berakhir, akan dilakukan Monev (monitoring dan evaluasi) oleh pimpinan Rektorat dan Dekanat Universitas Almuslim,” jelas Drs.Syarkawi,M.Ed.(HUMAS)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Mahasiswa Umuslim Promosi Aceh pada World Travellers Café 2019 di Nagoya Jepang

    Peusangan-Dua orang mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen yang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa antara Universitas Almuslim dan Gakuin University Jepang (NGU) turut  berpartisipasi mempromosikan Indonesia khususnya Aceh di Negara Jepang.

    Kedua mahasiswa tersebut adalah Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional (HI) Fisip dan  Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan  Bahasa Inggris Fkip Universitas Almuslim Peusangan Bireuen.

    Kehadiran kedua mahasiswa Universitas Almuslim di negeri matahari terbit tersebut, dalam rangka menindak lanjuti implementasi perjanjian kerjasama (MoU) yang telah ditandatangani oleh Prof . Hisao Kibune President Nagoya Gakuin University (NGU) dan Dr. H.Amiruddin Idris,SE.,MSi selaku rektor Universitas Almuslim beberapa waktu lalu. 

    Menurut informasi yang disampaikan Bilal Paranov dari Jepang, kegiatan World Travellers Café2019 (WTC 2019)  dilaksanakan  oleh International Affairs of Nagoya Gakuin University Jepang (NGU) merupakan kegiatan akbar bulanan. Kegiatan WTC ini bertujuan mengajak masyarakat dunia  yang hadir untuk mengenal lebih dekat tentang budaya, wisata serta hal yang jarang diketahui tentang suatu Negara. Pembicara di WTC tersebut  dari mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di dunia. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan tahun ini tepatnya di bulan April 2019, bertepatan dengan masuknya ajaran baru kalender akademik Jepang.

    Sebuah kehormatan, NGU memilih Indonesia, yang diwakili oleh Universitas Almuslim Aceh sebagai negara pertama yang mempersentasikan di WTC 2019. Untuk sesion pertama kegiatan di ikuti mahasiswa dari Indonesia, Filipina, Thailand, China, Kanada dan beberapa negara lainnya, sedangkan yang belum berkesempatan pada sesion ini  akan ikut persentasinya pada WTC 2019 selanjutnya.

    Sebagai perwakilan Indonesia dari Universitas Almuslim, Bilal Paranov mahasiswa prodi Hubungan Internasional FISIP dan Alfurqan Ismail mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, mereka berdua  hadir dengan menggunakan baju batik motif pinto Aceh, tambah semaraknya kegiatan presentasi dari Aceh karena ikut bergabungnya salah satu putra asli Jepang  yang  kuliah di NGU,  pernah kuliah selama satu semester di Umuslim Peusangan Bireuen yaitu Iwatsuki Shunichi, dia juga  hadir dengan memakai baju batik. 

    Menurut Bilal Paranov seminggu sebelum acara dimulai, mereka  sudah berkoordinasi dengan International Affairs of NGU untuk menyediakan cemilan khas Indonesia. Pertama kami sempat kewalahan mencari makanan khas Indonesia khususnya Aceh, akhirnya kami menemukan pisang sale dan kue gring di salah satu toka serba Indonesia di Kota Nagoya, Jepang. 

    Saat persentasi tersebut panitia juga menyediakan kopi gayo secara gratis kepada penonton yang tersedia di coffee machine. Penonton yang hadir sungguh diluar ekspektasi saya, hampir 500 penonton memenuhi Global Links International Center. Mereka terdiri dari mahasiswa, dosen, pengusaha dan masyarakat umum yang tertarik mengenal lebih dekat tentang bumi nusantara.

    Dalam presentasi harus menggunakan bahasa Jepang, meskipun begitu kami sedikit mencampuradukkan dengan bahasa Inggris. Slide awal dimulai dengan menjelaskan letak geografis Indonesia, diikuti dengan budaya dan wisata. 

    Jujur saja, 80% isi presentasi saya yaitu tentang budaya, makanan dan wisata yang terdapat di Provinsi Aceh. Penonton sangat terkesima dan sumringah saat kami menjelaskan tentang pesta pernikahan di Aceh dan berbagai kanduri di Aceh.

    Di akhir presentasi kami sempat  memutar video ‘The Light of Aceh.” yang ditutup dengan standing ovation dari seluruh penonton yang hadir. Tujuan saya menampilakn budaya Aceh adalah untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara wisata halal terbaik di dunia, dan Aceh menjadi sampel yang baik untuk wisata halal tersebut, tulis Bilal Paranov melalui messenggernya.

    Setelah presentasi banyak penonton yang menghampiri kami untuk memuji cita rasa pisang sale dan kopi Gayo, bahkan beberapa diantaranya ingin memesan baju batik khas Aceh, alasannya, sangat artistik. 

    Tak hanya itu, mahasiswa Internasional dari Kanada dan Amerika juga berencana untuk liburan ke Sabang akhir tahun ini, mereka tertarik karena slide presentasi keindahan Sabang dan biaya yang terjangkau untuk liburan ke Indonesia. Sungguh pengalaman yang sangat berharga, sudah tugas kita bersama untuk mempromosikan tanah air tercinta, Indonesia.(HUMAS)

     

  • Mahasiswa Umuslim tanam pohon di Pantai Pangah

     

    Peusangan-Mahasiswa Universitas Almuslim (Umuslim) yang sedang melaksanakan pengabdian dalam program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM)  di kecamatan Gandapura, Senin (4/3/2019) melakukan program “Reboisasi” di daerah wisata pantai Pangah desa Ie Rhob kecamatan Gandapura.

    Menurut  perwakilan mahasiswa KKM kecamatan Gandapura bahwa program ini dirintis oleh mahasiswa yang dipadukan dengan program kecamatan, harapannya  dengan adanya kegiatan reboisasi ini kondisi pantai pangah akan lebih rindang dan hijau semoga pantai ini dapat  berkembang dan menjadi destinasi lokasi wisata pantai yang maju kedepannya.

    Acara reboisasi ini dibuka ketua Yayasan Almuslim Peusangan H.Yusri Abdullah,S.sos, pada kesempatan tersebut  mengharapkan agar tumbuhan yang ditanam ini dapat bermanfaat kepada kita dan sampai kepada anak cucu" harap H. Yusri Abdullah,S.sos

    Secara terpisah Kepala Bapel KKM Umuslim Drs.Syarkawi,M.Ed menyambut baik program yang dilakukan mahasiswa yang sedang melaksanakan pengabdian di kecamatan Gandapura, harapannya semoga apa yang telah dilaksanakan  mahasiswa dapat di jaga dan kembangkan lagi oleh masyarakat setempat, harapnya.

     Kegiatan ini dihadiri oleh  Kapolsek Gandapura, Babinsa koramil Gandapura, perwakilan Camat Gandapura,  Yayasan Almuslim, dan Geuchik desa yang ada penempatan mahasiswa KKM, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta anggota pramuka dari kecamatan Gandapura.(HUMAS)

     

     

  • Mahasiswi asal Jepang hadiri Open House di rumah Rektor Umuslim

    Peusangan-Sudah menjadi rutinitas setiap lebaran, baik Idul Fitri dan Idul Adha,  Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen Dr H Amiruddin Idris SE MSi menggelar open house (menerima tamu) di kediamannya, Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang. Hari raya  Idul Fitri 1440 H/2019M, kegiatan open house  dilaksanakan Kamis (6/6/2019). 

    Open House di rumah Rektor Umuslim tahun ini  terasa istimewa, karena juga hadir seorang mahasiswi asal Jepang Natsuko Mizutani  mahasiswi asal Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, yang pernah kuliah di Umuslim  hadir dengan balutan busana syariinya.

    Di sela-sela menerima tamu  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi menjelaskan bahwa gadis Jepang tersebut merupakan salah satu mahasiswi dari program pertukaran mahasiswa kerjasama  Umuslim dengan NGU Jepang, dia sudah menyelesaikan program tersebut di Umuslim, sekarang sedang menempuh satu program di UIN Ar Raniry Banda Aceh, jelas Rektor Umuslim.

    Rektor Umuslim H.Amiruddin Idris menyampaikan selamat berhari raya untuk seluruh civitas akademika dan masyarakat yang hadir "Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal fa izin, " ucap H Amiruddin Idris sambil menyalami tamunya satu persatu.

    H.Amiruddin Idris didampinggi isteri Hj Nuryani Rachman tampak akrab dengan semua tamu yang hadir, menyampaikan terima kasih kepada tamu yang hadir. " Open house sudah menjadi agenda rutin setiap lebaran untuk menerima tamu dan meningkatkan kekeluargaan, kami memohon maaf apabila ada kekurangan dalam menyambut bapak dan ibu di tempat kami," ujar H.Amiruddin Idris yang sudah terpilih sebagai Anggota DPR Aceh pada Pemilu 2019.

    Open house selain dihadiri civitas akademika  baik dekan, dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa juga turut hadir  Pembina Yayasan Almuslim dan juga anggota Komisi X DPR RI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Drs Anwar Idris, Pengurus Yayasan Almuslim Peusangan, sejumlah pejabat di lingkungannya Pemkab Bireuen serta ratusan masyarakat dari berbagai kecamatan. 

    Kemudian Natsuko Mizutani ketika ditanyai pengalamannya menghadiri open house ini, merasa kagum  "Saya sangat menikmati acara lebaran di Aceh,di Jepang tidak ada silaturahmi  untuk bersama  seperti ini. Bahkan, di sini saya diajak sama ibuk Chairul Bariah (dosen umuslim) untuk bersama-sama ke acara ini, saya pakek hijab untuk menghormati masyarakat disini yang islam ujar Natsuko dengan bahasa Indonesia yang mulai lancar, ia juga sempat mencicipi beberapa makanan tradisionil Aceh seperti timphan dan pulut. Acara  Open house juga hadir Cut Zuhra, kontestan Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2019 memanfaatkan mudik lebaran turut hadir kediaman Rektor seraya menyuguhkan beberapa tembang nostalgia(HUMAS)

     

     

    .

     

  • Mahasiswi Jepang senang menari tarian Aceh

     

    Peusangan- Kisae Fukushima (20)  seorang mahasiswi   dari Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, saat ini sedang kuliah di Universitas Almuslim berhasil menarik perhatian dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

    Betapa tidak, gadis yang berasal dari negeri matahari terbit ini, berhasil memainkan perannya sebagai Ratu, saat  pementasan permainan tarian nusantara, tarian tersebut merupakan  tarian persembahan  dalam  memeriahkan pembukaan Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3 yang berlangsung di kampus universitas almuslim, Senin (6/11/2018).

    Dalam tarian tersebut Kisae Fukushima bertindak sebagai Ratu, dengan memakai pakaian adat Aceh yang berwarna merah dipadu dengan kain sarung dan sulaman kuning keemasan membalut setiap jengkal tubuhnya, teryata  sukses  memainkan perannya sebagai pemain utama,  putri jepang ini   sanggup mengikuti pelunturan  lenggokan tubuh dan gerakan tanganya yang  gemulai, bersamaan hentakan  kaki terus bergerak  dengan berbagai ritme gerakan sesuai tabuhan rapai sebagai  iringan musik pengiring.

    Kisae Fukushima, si putri dari negeri olah raga SUMO ini,  mempunyai postur tubuh dengan tinggi yang ideal untuk ukuran seorang penari,  mampu menyeimbangkan  gerakan lenturan tubuh dan goyangan kepala, sehingga berhasil menyeimbangkan persamaan    gerakan kecepatan,   satu tangan dengan tangan lainnya dan hentakan berirama seratusan  pasang kaki dengan kaki lainya dalam satu barisan.

    Dengan kemampuannya menyeimbangkan setiap langkah dalam kebersamaan, mampu untuk  memainkan setiap gerakan pada tarian nusantara tersebut,  membuat  putri Jepang yang selalu menyunggingkan senyuman lewat bibir tipisnya , nampak menonjol dalam setiap gerakan, ditambah balutan pakaian aceh yang memancarkan aura keberanian, sehingga membuat  penonton kagum  dan terkesima dengan penampilannya.

    Keberadaan  mahasiswa dari Jepang  pada Festival Kebudayaan Umuslim (FKU) ke-3, Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi, menjelaskan bahwa mahasiswa Jepang tersebut berjumlah  dua orang, mereka hadir  dalam rangka  mengikuti   kuliah program pertukaran mahasiswa yang merupakan  implementasi dari kerjasama (MoU)  yang telah ditandatangani pihak Universitas Almuslim dengan  NGU Jepang    beberapa tahun lalu. 

    Usai penampilannya Kisae Fukushima menuturkan, rasa senang dan bahagianya bisa menari dengan tarian Aceh dan Nusantara , “Saya sangat senang bisa sukses menari tadi” ungkap Kisae Fukushima didampinggi temannya Natsuko Mizutani yang merupakan alumni angkatan pertama program pertukaran mahasiswa Umuslim dengan NGU, kebetulan juga ikut hadir menyaksikan FKU ke-3.

    “ Pertama ikut latihan saya sangat khawatir,apalagi selama ini saya belum pernah menari tarian Aceh,  karena gerakan tarian Aceh sangat susah, kecepatan dan kebersamaannya tinggi  sekali, apalagi dalam tarian tersebut saya menjadi ratu, yang gerakan tubuh harus  bergerak dengan gerakan tari Guel yang merupakan  kunci dari penampilan tarian tersebut, ujar gadis Jepang  tersenyum sambil menunduk kepala.

    “Tetapi saya  kerja keras dan rajin latihan selama satu bulan di kampus, akhirnya berkat arahan kak Maulida sebagai pelatih, kebersamaan teman-teman, saya bisa tampil dengan baik, saya sangat tertarik tarian ini, dan akan terus belajar untuk bisa semuanya, baik gerakan, melenturkan  gerakan badan, kecepatan hentakan tangan dan kaki, permainan tarian aceh gerakan dinamis dan sangat kompak sekali”  cerita Kisae Fukushima dengan gaya bahasa Jepangnya yang masih kental.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada, dosen, teman-teman dan panitia yang sudah mengajak saya ikut menari” saya senang dan bahagia sekali , apalagi bisa  memakai pakaian adat Aceh, ujar gadis berkulit putih bersih ini. (Humas)

     

     

  • Melihat dari dekat usaha garam Milhy yang ber SNI

     

     

     

    Zulkifli,M.Kom, Dosen Universitas Almuslim, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna dan anggota FAMe Chapter Bireuen

    Sore itu suhu terasa masih cukup panas, padahal jarum jam sudah hampir merapat pada angka 17.00 wib, suasana  kawasan rekreasi pantai Jangka tidak lagi ramai, hanya beberapa pelancong lokal seputaran kawasan tersebut yang sedang menikmati hembusan angin  laut serta suasana sunset diatas selat malaka sambil menikamati beberapa kuliner  seputaran pantai tersebut.

    Matahari mulai bergerak meransek ke arah barat tetapi suhu masih cukup panas, seakan tidak bersahabat untuk mengurangi tensi panasnya, sehingga walau angin pantai terus berhembus, cucuran keringat semua orang  tetap saja mengalir seputaran kening tidak mau berhenti.

     Di atas langit ujung barat  suasana sunset  mulai meredup  untuk menyusup ke peraduan, saya bergegas bergerak  meninggalkan lokasi salah satu destinasi wisata pantai di kabupaten Bireuen itu.

    Saya pulang mengambil rute  jalan melalui  arah barat, melewati beberapa desa, diperjalanan lebih kurang dua kilometer dari pantai Jangka, saya singgah bersilaturahmi ketempat usaha salah seorang alumni universitas almuslim Peusangan, saudari Qurrata‘Aini YS,SE, alumni DIII Manajemen Informatika Komputer (MIK) dan Fakultas Ekonomi (S1) Universitas Almuslim, sekarang mengelola usaha garam merek MILHY.

    Kira-kira lima menit perjalanan, saya berhenti di sebuah bangunan luasnya lebih kurang 800 meter persegi, bangunan beton yang  telah di sekat empat bagian  menjadi kantor, ruang produksi, penyimpanan dan ruang mesin pengolahan, saya disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik bangunan tersebut,  suasana perjumpaan kami begitu akrab dan penuh persahabatan, sebelumnya kami juga sudah saling kenal, baik di kampus maupun pada acara kemasyarakatan lainnya. 

    Mengawali pembicaraan silaturahmi sore itu Qurrata‘Aini menceritakan kisah awal dari lahirnya usaha tersebut, menurutnya penataan ruang ini sesuai aturan dan syarat untuk menjadikan tempat usaha yang layak dan berstandar SNI, sambil Qurrata memperlihatkan sertifikat  SNI nomr 3556 -2010.

     Menurutnya  MILHY asal kata Milhon dalam bahasa Arab yang artinya Asin (Garam), Milhy  juga nama tabalan pada orang tuanya Tgk Yusuf Milhy, pemilik usaha garam rakyat Tanoh Anoe Jangka, gelar  Milhy ini  disandangkan oleh Jepang ketika kawasan tersebut dikuasai tentara Jepang.

    Pada masa pendudukan Jepang  usaha Tgk Yusuf  salah satu produksi garam yang bisa bertahan, sehingga dengan adanya usaha garam  beberapa masyarakat Tanoh Anoe Jangka bisa membeli pakaian pada Jepang saat itu, cerita Qurrata‘Aini bersemangat.

    Menurut Qurrata‘Aini awalnya dia tidak pernah tau seluk beluk  produksi garam, sehingga usaha garam secara tradisionil warisan orang tuanya tahun 1990 sempat tidak berproduksi, padahal  tahun 1980  usaha orang tuanya  dengan  merk garam Bulan Bintang sudah maju dan  pemasarannya ke seluruh Aceh. Seiring perjalanan waktu awal  2006, usaha itu mulai dirintis kembali oleh Qurrata Aini yang merupakan anak bungsu Tgk Yusuf Milhy, dengan memanfaatkan beberapa petak tanah peninggalan orang tuanya.

    Tanoh Anoe kecamatan Jangka sekitarnya merupakaan satu kawasan produksi garam rakyat, makanya tidak heran kalau melewati desa tersebut terlihat berjejer ratusan jambo sira tradisionil dengan dinding belahan bambu dan pelepah kelapa beratap rumbia berjejer bersisian sepanjang area tambak. Sore itu dengan hembusan angin laut yang begitu sejuk, penulis melihat secara dekat kesibukan warga seputar jambo sira dengan berbagai aktivitas, ada menurunkan kayu bakar, mengangkut air, mengumpulkan butir-butir bibit garam, memasak air dan juga sedang membakar kayu.

    Yang lebih kentara terlihat dari kejauhan nampak jelas kepulan asap yang berasal dari pengolahan dengan rebusan bahan baku bibit garam menggunakan air laut/sumur bor keluar lewat celah-celah dinding bambu dan atap rumbia mengepul ke angkasa. 

    Menurut Qurrata Aini, pondok garam produktif di kecamatan Jangka mencapai 200 lebih, yang pengolaannya masih secara tradisionil, dulu sebagian besar bahan baku bibit garam di pasok dari luar Aceh, hal ini untuk mencapai target kebutuhan. Tapi Alhamdulilalh sekarang melalui program Inovasi, produksi garam Milhy bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, kami sudah bisa memproduksi bahan baku sendiri dengan menggunakan Geomembran.

    Menurut Qurrata Aini, metode Geomembran kawasan tersebut merupakan inovasi dirinya, awalnya beberapa tahun lalu terjadinya kelangkaan bibit garam, sehingga banyak petani garam yang meninggalkan usaha tersebut.

    Mereka membiarkan pondok terbengkalai tidak terurus, banyak petani garam putus asa, karena kondisi tersebutlah dia memutar otak untuk tetap bertahan,  tidak membiarkan pondok garam terbengkalai, tetapi asap tetap mengepul dari pondok, sehingga dia mencoba berbagai cara agar bisa menghasilkan bibit garam.

    Berbagai ilmu tentang garam dia pelajari dari berbagai sumber dan belajar pada orang tua sepuh yang pernah bergelut dengan pengolahan garam tradisionil, bahkan pihaknya pernah mengupayakan bibit dari pulau Jawa seperti Madura dan Banyuwangi, teryata hasilnya tetap nihil, karena bibit dari sana tidak cocok dengan topografi daerah kita, jelas Qurrata Aini

    Karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia lakukan, dari pada jadi pengangguran, dia tetap bertahan untuk pekerjaan di pondok garam, dia coba dengan berbagai metode dan teknik inovasi  ala sendiri, “saya berpikiran jangan sampai tidak ada bibit, tidak bisa cari uang” ulas Qurrata Aini yang saat kuliah dikenal seorang mahasiswi yang  vokal.

     Akhirnya dia coba dengan sistem Geomembran, saat mencoba inovasi metode ini, dirinya sempat dianggap setengah gila oleh masyarakat, pokoknya semua meremehkan dan menyeleneh apa yang dia kerjakan. Menurutnya metode Geomembran yang dia praktekkan, perpaduan bahan peralatan modern seperti plastik dan  berkolaborasi dengan metode tradisionil yaitu melihat tanda-tanda alam, seperti arah mata angin, hembusan udara dan kualitas pencahayaan matahari.

    Berbulan-bulan dia lakukan uji coba dengan memperhatikan kondisi alam seperti arah mata angin, arah mata hari, cuaca dan juga sampai membuat bangku sebagai mewaspadai terjadi banjir, semua yang dia uji coba merupakan pekerjaan yang tidak pernah dipraktekkan masyarakat saat itu.

    Akhirnya uji coba tersebut sukses dan menghasilkan bibit yang berkualitas, tetapi selama satu tahun masyarakat  masih belum percaya dengan inovasi yang dia lakukan, akhirnya pada tahun kedua hasil uji coba tersebut baru masyarakat mengakui sistem Geomembran, bisa menghasilkan bibit garam  berkualitas dan harga lebih murah, sekarang banyak dari luar daerah yang menjadikan metode dan tempat saya sebagai tempat belajar, jelas Qurrata Aini ceplas ceplos.

    Garam UD.Milhy diproduksi dalam tiga varian yaitu Milhy sira gampong beriodium (rendah Nacl), Milhy beriodium berstandar nasional dan Milhy garam non konsumsi (garam ini khusus untuk rendam kaki bagi penderita kebas dan kelelahan), garam beriodium adalah garam komsumsi yang memenuhi persyaratan SNI, BPOM,LPPOM yang ditetapkan dan telah diberikan zat iodium (KI03) dengan proses yodisasi, sekarang sedang dikampayekan penggunaannya untuk pencegahan tumbuh anak Stunting, rinci Qurrata Aini.

    Garam produksi Milhy dipacking dalam berbagai  isi seperti  100, 200, 250,400 gram,1 kg dan  8 kg, jumlah tenaga kerja 18 orang yang tetap dan tidak tetap 35 orang, kalau perputaran cepat saat musim kebutuhan omsetnya bisa  mencapai 200-250 juta perbulan dan tenaga kerja juga bertambah, cerita Qurrata aini penuh semangat.

     Selain memproduksi sendiri garam, usaha Milhy juga menjadi ibu angkat dari ratusan petani garam tradisionil lainya seputaran Jangka, dimana hasil produk masyarakat di tampung oleh UD Milhy, kemudian pihaknya mengolah dan packing sesuai standar produksi usahanya, jelas Qurrata Aini.

    Sekarang usaha garam Milhy mampu memproduksi garam beriodium 70.000-80.000 Kg/bulan, dengan peralatan memadai seperti mesin penghalus, cuci,oven, Iodisasi, hand sailler dan produksi garam Milhy telah mempunyai sertifikat Halal MPU Aceh : 14060000451214, dan sertifikat SNI 3556 -2010, BPOM RI MD 255301001021.

    Usaha garam UD Milhy Jaya pernah mendapat piagam penghargaan UMKM naik kelas katagori Industri Pengolahan tahun 2017 kerjasama Plut KUMKM Aceh dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Aceh. Piagam penghargaan SIDDHAKARYA Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Aceh. Penghargaan Produktifitas SIDDAKARYA dengan klasifikasi “Good Performance”. Usaha garam Milhy  pernah dikunjungi artis nasional Marissa Haque, Darwati A.Gani serta beberapa  isteri dan pejabat baik tingkat Provinsi kabupaten/kota baik dari Provinsi Aceh maupun luar provinsi Aceh.

    Ayo kita konsumsi garam beryodium untuk menghindarkan penyakit gondokan dan stunting....

     

    Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com tanggal 06/05/2019/ dengan judul Melihat dari dekat usaha garam bebas najis.