Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Sale di Lhokseumawe

 

OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim 

Pada awal Lebaran Idulfitri yang lalu, tiba-tiba ke handphone saya masuk satu pesan WhatsApp (WA) dari teman kuliah semasa di Medan dulu. Isinya dia ucapkan selamat Idulfitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin. Kemudian, di akhir kalimatnya ia tambahi pesan: Kalau ke Medan jangan lupa oleh-oleh pisang sale Lhokseumawe ya?

Membaca pesan tersebut saya langsung terkenang pada nostalgia puluhan tahun lalu, karena sejak menyelesaikan kuliah kami jarang bertemu, padahal sebelumnya saya sering menghadiahinya pisang salai, orang Aceh menyebutkan pisang sale, lalu dengan penuh kegembiraan saya jawab permohonan teman saya tadi dengan “Insyaallah”.

Sahabat saya tadi teringat pada oleh-oleh pisang salai Lhokseumawe, tapi sebetulnya bukan produk Lhokseumawe, melainkan produk Lhok Nibong di Aceh Timur. Semasa kuliah dulu, saat saya kembali ke Medan sepulang liburan dari Aceh, sebagai oleh-oleh untuk teman sering saya bawa pisang salai yang saya beli di Lhokseumawe. Tapi sekali lagi, pisang yang diasapi ini diproduksi di Lhok Nibong, bukan di Lhokseumawe.

Pisang salai merupakan salah satu cemilan khas Aceh. Warnanya cokelat dan agak kehitaman karena diproses dengan cara dijemur setelah dikupas, lalu diasapi. Bahan baku untuk membuat cemilan ini adalah pisang, bercita rasa manis, legit, dan aman untuk konsumsi.

Setelah beberapa hari menerima pesan WA, sambil bersilaturahmi ke Bireuen, saya mencari pisang salai di seputaran terminal bus, karena dulu selain di Lhokseumawe, saya juga sering beli pisang salai di Bireuen. Setelah bertanya ke sejumlah kios, ternyata barangnya tak ada, karena semua kios tidak lagi menjual pisang salai. Yang banyak dijual justru keripik pisang, keripik ubi, atau keripik sukun made in Bireuen.

Kemudian saya coba ke tempat jualan keripik arah timur Kota Bireuen seputaran Stadion Cot Gapu, hasilnya sama. Lalu, ada warga yang mengarahkan saya ke tempat jualan keripik arah barat Kota Bireuen, eh, hasilnya juga sama. Tak ada lagi orang berjualan pisang salai di Kota Keripik dan Kota Satai ini.

Informasi dari seorang pedagang, sejak konflik bersenjata di Aceh tahun ‘90-an, sudah jarang ada pemasok pisang salai ke kedai mereka.

Saya juga teringat cerita seorang teman pada Ramadhan lalu yang mencari pisang salai di Bireuen untuk oleh-oleh tamunya dari Jakarta. Lelah dia cari tetapi pisang yang diinginkan tetap tak ada, sehingga terpaksa dia pesan ke Lhok Nibong, Aceh Timur, baru ada.

Saya pun akhirnya coba menghubungi seorang saudara di Lhokseumawe untuk mencari pisang salai, karena dulu kota di Lhokseumawe, khususnya di kawasan terminal, sangat banyak orang yang berjualan pisang salai. Ternyata di bekas kota petrodolar tersebut hanya dua orang yang penjual pisang salai, tapi tak jadi kami beli karena kualitasnya kurang legit. Stoknya juga agak terbatas, mungkin sisa produksi beberapa minggu lalu, sebelum Lebaran.

Padahal dulu, saat jaya-jayanya perusahaan gas, geliat terminal Kota Lhokseumawe begitu semarak dengan penjual pisang salai. Pokoknya, kalau kita naik bus malam, saat tiba di Terminal Lhokseumawe, walaupun pencahayaan lampu terminal agak remang-remang, tetapi kita langsung tahu bahwa kita sudah tiba di Terminal Lhokseumawe, karena di terminal itu begitu ramai dan semaraknya suara penjaja pisang salai.

Tanpa menghiraukan risiko, mereka menenteng pisang salai di tangan, berebut bergantungan naik ke bus. Pemandangan ini persis sama dengan penjaja makanan ringan kalau kita naik kereta api di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dan beberapa terminal di Pulau Jawa.

Sesampai di dalam bus, mereka sangat cekatan menjajakan cemilan khas Lhok Nibong itu kepada penumpang. Dari mulut mereka tak henti-hentinya keluar teriakan, “Sale...sale..sale...ambil satu dua ribu, kalau ambil tiga cukup lima ribe.”

Bahkan di dalam bus terkadang lebih banyak penjaja makanan daripada penumpang, pokoknya kegaduhan dalam bus, begitu semarak dengan banyaknya pedagang pisang sale menjajakan jualannya, kadang suara  tawaran penjual pisang sale beriringan dengan tangisan  bayi dalam pelukan ibunya, kalah jauh dengan suara penjaja ranub..ranub, telor puyuh dan aqua. 

Itulah sepenggal nostalgia yang pernah terjadi di Terminal Lhoksemawe tentang begitu semaraknya suasana dengan tingkah polah dan gaya para pedagang pisang salai.

Suasana seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi di Terminal Lhokseumawe, tetapi juga di Terminal Bireuen, Lhoksukon, dan Pantonlabu, tetapi di tiga terminal tersebut jumlah pedagangnya agak sedikit dibandingkan di Terminal Lhokseumawe.

Namun, nostalgia kesemarakan celoteh penjaja pisang salai di terminal, kini hanya tinggal kenangan, suasana masa lalu mulai redup, seiring dengan redupnya api gas alam LNG Arun serta hilangnya sentuhan embusan pembinaan bara api pengasapan di sentra produksi Lhok Nibong.

Awal meredupnya kiprah penjaja pisang salai di terminal bus–seperti saya singgung di awal tadi--dimulai pada saat Aceh dilanda konflik. Saat itu masyarakat mulai jarang memanfaatkan bus malam untuk perjalanan jauh. Bersamaan dengan kondisi itu pula pasokan pisang salai dari sentranya di Lhok Nibong dan Pantonlabu berkurang, hal ini karena kawasan sentra pisang salai merupakan kawasan yang eskalasi konfliknya tinggi. Kawasannya termasuk ke dalam kategori “daerah merah” konflik.

Padahal , era ‘80-an pisang salai terkenal sebagai salah satu oleh-oleh khas, baik bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh. Selain dijual dalam bentuk curah (dalam bentuk kiloan) pisang salai juga ada yang di-packing dengan desain kotak yang menarik dan dijual sampai ke Banda Aceh.

Sekarang malah sudah ada produksi pisang salai di Banda Aceh, tapi rasa dan legitnya tentu beda dengan produksi tradisional di Lhok Nibong, tempat awal mula produksi cemilan ini.

Selain alasan konflik, saya tak tahu persis kenapa oleh-oleh hasil produksi penduduk yang mendiami aliran Krueng Arakundo ini bisa menghilang di beberapa kawasan, seperti di Terminal Bireuen, Lhokseumawe, dan kota kecamatan lainnya? Kalau benar semata-mata konflik penyebabnya, mestinya pisang salai kini sudah banyak lagi diperdagangkan karena Aceh sudah damai sejak 14 tahun lalu

Nah, perlu ditelisik apakah penyebab langkanya pisang salai kini di pasaran karena bahan bakunya tak ada lagi ataupun tenaga ahlinya sudah uzur, sedangkan generasi muda tidak tertarik menekuni usaha ini? Atau bisa jadi biaya produksinya terlalu tinggi karena prosesnya memakan waktu lama sehingga tidak sesuai dengan omset penjualan?

Pemerintah, melalui instansi terkait, perlu melakukan pembinaan kontinyu terhadap home industry yang pernah tenar namanya ini sebagai penghasil oleh-oleh khas daerah. 

Sangat disayangkan di saat orang sedang semangatnya memproduksi, dan mentradisikan berbagai makanan tradisionil sebagai oleh-oleh  khas daerah,  disaat itu pula pisang sale Lhok Nibong  yang pernah mencuhu dan berasap keluar daerah  semakin sulit di dapat di pasaran.

Sudah selayaknya kita produksi kembali pisang salai dalam jumlah besar, karena jenis makanan ini sudah langka, susah didapat di pasar, sedangkan peminatnya saya yakin masih banyak. Oleh karenanya, warisan ini perlu dilestarikan, produsen pisang salai perlu diberdayakan, dan produksinya jangan sampai hilang di pasaran.

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sepenggal lagu yang pernah populer dinyanyikan anak-anak pada era ‘80-an dulu: Pisang sale, hai Cut, mangat-mangat. Saboh tapajoh meurasa troe pruet....

Akhirnya, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin

 

Cerita ini pernah tanyang di https://aceh.tribunnews.com tanggal 17/06/2019/dengan judul Redupnya celoteh penjaja pisang salai di Lhokseumawe

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You are here: Home News and Events Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Sale di Lhokseumawe