Peneliti adakan FGD tentang pilkada dan politik uang

Peusangan-Peneliti mengelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pilkada, Politik Uang, dan Korupsi: Solusi Alternatif Model Penyelesaian”, Kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bekerjasama dengan Fisipol Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, bertempat di Ruang Seminar Ampon Chiek, Universitas Almuslim, Rabu, 24 April 2019. 

Focus Group Discussion (FGD) menghadirkan  narasumber  Shaumil Hadi, S.Sos., MA (Dosen Fisipol Umuslim), Dr. Effendi Hasan, MA (Dosen Fisipol Unsyiah) dan Dr. Mukhtaruddin, SH., MH (Kabag Risalah dan Hukum Sekretariat DPRK Bireuen yang juga mantan Ketua KIP Bireuen) serta Drs. Arif Andepa (Wakil Ketua DPRK Kab. Bireuen.

Shaummil Hadi, S.Sos, M.A,  akademisi Fisip umuslim, dalam paprannya menekankan tentang pentingnya penguatan kelembagaan pemilu terutama pada peran panitia pengawas pemilu dalam mencegah terjadinya politik uang.  Kemudian Dr. Efendi Hasan ketua tim peneliti dari Fisip unsyiah, menyampaikan tujuan penyelenggaraan FGD ini adalah untuk mengkaji lebih jauh persoalan-persoalan terkait maraknya pengunaan politik uang dalam kontestasi pilkada di Provinsi Aceh dan apa upaya bersama yang dapat dilakukan dalam mencegah dan mengatasi perilaku politik uang ini. “Politik uang adalah sumber dari korupsi di pemerintahan,” katanya.  Kemudian pemateri Dr. Mukhtarudin,SH,MH mantan ketua KIP Bireuen  menambahkan bahwa perilaku politik uang di Indonesia, sudah sangat mengkhawatirkan dan dapat merusak demokrasi. “Sayangnya masyarakat sudah membuat ijtihad sendiri bahwa politik uang itu dapat dibenarkan,” paparnya

Sedangkan Drs. Arif Andepa  Wakil Ketua DPRK Kabupaten Bireuen, memberikan apresiasi kegiatan FGD ini. Menurutnya, pemahaman masyarakat tentang bahaya politik uang itu masih sangat rendah, karenanya perlu ditingkatkan lagi. Menurutnya, masyarakat masih menganggap politik uang itu adalah hal biasa. Padahal dengan perilaku ini kita sedang membatasi calon-calon yang memiliki kompetensi untuk duduk di kursi dewan ataupun pimpinan daerah. “Saya khawatir nanti ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan bidang pemerintahan tetapi miskin akan kalah dengan orang-orang yang memiliki modal. Mereka yang punya modal, maju ke pentas politik dengan uang bukan dengan kemampuan,” papar pegiat seni ini.

Tambah  Arief Andepa lagi maraknya money politics (politik uang) yang diduga dimainkan sejumlah oknum calon legislatif (caleg) di Kabupaten Bireuen untuk meraih suara pada Pemilu 2019 ini, telah merusak tatanan demokrasi kita. Ini juga akan berdampak buruk terhadap kinerja mereka nanti ketika duduk sebagai anggota dewan.

Kegiatan berlangsung setengah hari, para peserta melakukan diskusi dan memberi masukan tentang model solusi seperti apa yang dapat dilakukan dalam mencegah dan mengatasi perilaku politik uang dalam pilkada ini. Diskusi berlangsung  menarik, peserta sangat antusias memberikan masukan terkait solusi pencegahan money polititik ke depan yang telah merusak sendi-sendi demokrasi, peserta berasal dari beragam kalangan, seperti organisasi kepemudaan, wartawan, perwakilan tim sukses, LSM Gasak Bireun, perwakilan LSM lainnya di Bireuen, pengamat, praktisi politik,  akademisi, perwakilan mahasiswa dan BEM dari Universitas Almuslim. 

Dari FGD ini berkembang beberapa tawaran solusi mulai dari penguatan institusi agama melalui dakwah, pembentukan tim independen, hingga perlunya penguatan regulasi di tingkat lokal.

Alhamdulilalh acara berlangsung sukses, ini merupakan rangkaian awal perintisan kerjasama antara Fisip Unsyiah dengan Fisip Umuslim, baik dalam bidang pendidikan dan penelitian, khususnya di bidang sosial dan politik, ungkap Rahmad,M.AP. (HUMAS)

 

 

 

 

 

 

 

 

You are here: Home News and Events Peneliti adakan FGD tentang pilkada dan politik uang