Mahasiswi asal Jepang hadiri Open House di rumah Rektor Umuslim

Peusangan-Sudah menjadi rutinitas setiap lebaran, baik Idul Fitri dan Idul Adha,  Rektor Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen Dr H Amiruddin Idris SE MSi menggelar open house (menerima tamu) di kediamannya, Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang. Hari raya  Idul Fitri 1440 H/2019M, kegiatan open house  dilaksanakan Kamis (6/6/2019). 

Open House di rumah Rektor Umuslim tahun ini  terasa istimewa, karena juga hadir seorang mahasiswi asal Jepang Natsuko Mizutani  mahasiswi asal Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, yang pernah kuliah di Umuslim  hadir dengan balutan busana syariinya.

Di sela-sela menerima tamu  Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE MSi menjelaskan bahwa gadis Jepang tersebut merupakan salah satu mahasiswi dari program pertukaran mahasiswa kerjasama  Umuslim dengan NGU Jepang, dia sudah menyelesaikan program tersebut di Umuslim, sekarang sedang menempuh satu program di UIN Ar Raniry Banda Aceh, jelas Rektor Umuslim.

Rektor Umuslim H.Amiruddin Idris menyampaikan selamat berhari raya untuk seluruh civitas akademika dan masyarakat yang hadir "Saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal fa izin, " ucap H Amiruddin Idris sambil menyalami tamunya satu persatu.

H.Amiruddin Idris didampinggi isteri Hj Nuryani Rachman tampak akrab dengan semua tamu yang hadir, menyampaikan terima kasih kepada tamu yang hadir. " Open house sudah menjadi agenda rutin setiap lebaran untuk menerima tamu dan meningkatkan kekeluargaan, kami memohon maaf apabila ada kekurangan dalam menyambut bapak dan ibu di tempat kami," ujar H.Amiruddin Idris yang sudah terpilih sebagai Anggota DPR Aceh pada Pemilu 2019.

Open house selain dihadiri civitas akademika  baik dekan, dosen, tenaga kependidikan, karyawan, mahasiswa juga turut hadir  Pembina Yayasan Almuslim dan juga anggota Komisi X DPR RI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Drs Anwar Idris, Pengurus Yayasan Almuslim Peusangan, sejumlah pejabat di lingkungannya Pemkab Bireuen serta ratusan masyarakat dari berbagai kecamatan. 

Kemudian Natsuko Mizutani ketika ditanyai pengalamannya menghadiri open house ini, merasa kagum  "Saya sangat menikmati acara lebaran di Aceh,di Jepang tidak ada silaturahmi  untuk bersama  seperti ini. Bahkan, di sini saya diajak sama ibuk Chairul Bariah (dosen umuslim) untuk bersama-sama ke acara ini, saya pakek hijab untuk menghormati masyarakat disini yang islam ujar Natsuko dengan bahasa Indonesia yang mulai lancar, ia juga sempat mencicipi beberapa makanan tradisionil Aceh seperti timphan dan pulut. Acara  Open house juga hadir Cut Zuhra, kontestan Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2019 memanfaatkan mudik lebaran turut hadir kediaman Rektor seraya menyuguhkan beberapa tembang nostalgia(HUMAS)

 

 

.

 

Tradisi Meugang ala Pengantin dan Tukang Jamu

 

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan.

Di Aceh ada satu tradisi yang tidak ada di tempat lain, yakni tradisi mak meugang atau sering disebut meugang saja. Yaitu, hari penyembelihan sapi atau kerbau dalam jumlah banyak untuk dimakan bersama keluarga jug dalam porsi yang banyak.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan dulu. Dalam setahun ada tiga kali masyarakat Aceh meugang, yaitu meugang puasa, meugang menjelang Hari Raya Idulfitri, dan menjelang Hari Raya Iduladha.

Di bumi Ampon Chiek Peusangan, Kota Matangglumpang Dua, Bireuen, mak meugang dilaksanakan dua hari. Hari pertama dinamakan meugang kecil, hari kedua dinamakan meugang rayeuk (besar). Saya seperti biasa membeli daging pada hari meugang pertama (kecil). Di pagi meugang kemarin, sekitar pukul 06.15 WIB cahaya di langit begitu cerah, saya dan suami menuju pasar tradisonal Kota Matangglumpang Dua untuk membeli daging sapi.

Meski masih hari meugang kecil, tetapi suasana kota menyambut Idulfitri sudah mulai menggeliat. Perjalanan ke pasar tidaklah terlalu jauh dari kediaman saya. Diiringi embusan angin pagi yang segar, kami terus melaju melewati beberapa toko dan warung kopi yang masih tutup. Namun, ada beberapa toko rempah yang sebagian karyawannya sedang bersiap-siap menunggu pelanggan. Karena hari ini meugang, tentunya akan banyak pembeli yang datang.

Saya mulai bergerilya dari arah barat ke timur mencari tempat yang pas di mana saya bisa membeli daging dengan kualitas bagus. Belum sempat membeli, di depan sebuah toko saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Herman bersama istrinya. Dia cerita bahwa sebagai pengantin baru ini untuk kedua kalinya dia ke pasar mencari daging karena dia harus mengasapi dua dapur, satu dapur orang tuanya, satu lagi dapur pengantin baru.

Sambil bergurau dengan istrinya, saya bertanya, “Apakah daging pengantin baru sudah masak? Kalau boleh, undang saya makan.” Dia pun tersipu malu.

“Bagaimana perasaan setelah menyerahkan daging meugang kepada mertua?” tanya saya untuk memecahkan suasana yang sedikit tegang. Kemudian Herman dengan malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya saat hendak ijab kabul dua bulan lalu, dia sudah galau, disergap perasaan takut dan gelisah. Terbayang dua bulan lagi menghadapi mak meugang. Dalam pikirannya sempat terbersit mampukah ia membeli daging meugang untuk mertua dan orang tua dengan penghasilan yang pas-pasan? Namun alhamdulillah, menurut Herman, dia mampu memenuhi kewajibannya hari ini dari hasil tabungan semasa lajang. “Biar sedikit gaji tapi berkat,” katanya. Bahkan uangnya pun cukup untuk membeli keperluan dapur sama dengan yang saya beli.

Nah, membeli daging meugang adalah tradisi di Aceh dan seakan menjadi keharusan untuk membawa pulang daging minimal 2 kg untuk sang mertua dan orang tua. Hal ini umumnya berlaku untuk yang berstatus menantu laki laki, walaupun sudah punya cucu, tapi kalau masih memiliki orang tua/mertua, maka ia wajib membeli daging di hari meugang, lengkap dengan bumbu dan bahan lainnya, sebagaimana disampaikan seorang kakek yang sedang membeli daging dan turut mendengarkan obrolan kami.

Karena masih harus membeli ikan dan lainnya, sahabat saya itu pun mohon diri. Kami berpisah. Kemudian saya lanjutkan gerilya pasar. Di luar dugaan, saya bertemu dengan seorang penjual jamu yang saya panggil “Bik Iyem”. Asalnya dari Jawa. Saya bertanya, apa sudah beli daging? “Belum,” jawabnya. Lalu saya tawarkan untuk jalan bersama, dia setuju. Sambil berjalan dia tuturkan bahwa membeli daging sapi di hari meugang juga tradisi bagi diri dan keluarganya, walaupun di kampungnya tradisi seperti ini tidak ada. “Karena kami pendatang, maka kami pun melaksanakan meugang sebagaimana orang Aceh. Kan tidak mungkin kalau keluarga saya hanya mencium wanginya masakan daging tetangga,” katanya tertawa

 

Membeli daging di hari meugang sudah lama dilakukan Bik Iyem. Ibaratnya dia bekerja selama sebelas bulan dalam setahun habis untuk satu bulan pada bulan Ramadhan. “Khusus bulan Ramadhan kami tidak mencari nafkah (tidak berjualan jamu), tetapi menggunakan tabungan untuk membeli daging di hari meugang, baik meugang puasa maupun meugang menyambut Idulfitri, karena menjelang Ramadhan kami juga ada mak meugang di rumah,” ungkapnya.

“Kalau ada dana lebih, kami pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga, tetapi ini sudah tiga tahun kami tidak pulang,” ungkap Bik Iyem dengan mata berkaca-kaca.

Setelah bercerita kami pun berhenti di salah satu pedagang daging sapi, kemudian kami lakukan penawaran harga, tetapi negoisasi tak mencapai kesepakatan. Akhirnya, kami cari lapak lain lagi, sampai daging dan harga yang kami inginkan tercapai. Akhirnya kami pun berpisah sambil menenteng belanjaan masing-masing.

Selanjutnya saya menyeberang jalan membeli bumbu karena lokasinya terpisah dari penjual daging. Di hari meugang tidak hanya ada penjual daging, tetapi penjual bumbu kering, bumbu basah siap saji, ikan, udang, dan beraneka ragam sayuran sebagai pelengkap untuk masak daging pun ada. Uniknya, di lokasi pasar meugang pun ada orang yang menjual pakaian, kantong plastik, bahkan berdagang obat (meukat ubat).

Masyarakat semakin siang semakin ramai yang datang, membuat saya harus berdesak-desakan. Pagi itu langit sedikit mendung, perlahan tapi pasti matahari mulai memancarkan sinarnya sehingga pedagang dan pembeli makin bersemangat. Tak terasa keringat saya bercucuran karena jalan setapak yang saya lewati lumayan jauh. Ditambah lagi posisi penjual dan pedagang daging di sisi jalan nasional, sehingga sulit untuk menyeberang ke lokasi parkir. Ada juga yang sembarangan parkir di sisi jalan.

Meugang di Aceh merupakan tradisi yang masih bertahan sampai hari ini. Semua masyarakat di Aceh baik penduduk asli maupun pendatang seakan wajib membeli daging sapi atau kerbau di hari meugang. Walaupun harga daging relatif mahal jika dibandingkan pada hari biasa, harganya rata-rata antara Rp 140.000-Rp 150.000, di hari meugang bahkan mencapai Rp 200.000, namun tidak menyurutkan niat masyarakat untuk membelinya.

Seharusnya dalam hukum ekonomi semakin banyak permintaan maka harga semakin turun atau stabil, tapi ternyata di hari meugang hukum itu tidak berlaku, bahkan harga kebutuhan pokok lainnya pun turut melonjak. Hal ini membuat sebagian kalangan bawah menjerit dan tak mampu berbuat apa-apa, sebagaimana diungkapan seorang ibu rumah tangga yang penghasilan suaminya pas-pasan dengan tanggungan lima orang anak.

“Ya, mau tak mau kami harus membelinya, walau terkadang ada juga tetangga dan keluarga yang membantu, tapi tidaklah cukup.” Dia juga mengeluh mengapa bahan pokok ikut naik harganya, bukankah seharusnya stabil atau lebih murah? Sejenak saya terdiam, lalu menjawab mungkin modal pedagang itu yang mahal, sehingga harga jualnya ikut mahal. Kemudian saya tinggalkan ibu itu yang sedang fokus memilih sayuran. Saya pun bersama suami pulang ke rumah.

Sesampai di rumah saya terpikir tradisi meugang ini memang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya yang unik, bahkan kalau perlu didaftarkan ke Unesco sebagai bentuk dari warisan budaya dunia tak benda, mengingat keunikan meugang hanya ada di Aceh. Selain itu perlu juga ada perhatian dan kebijakan dari pihak terkait dalam mengatur harga daging sehingga setiap warga dari golongan bawah dan menengah dapat menikmati daging meugang penuh kegembiraan, bukan justru dengan kegelisahan dan rasa waswas, seperti pengalaman yang dirasakan pengantin baru dan tukang jamu yang saya temui saat di pasar daging tadi.

Cerita ini pernah tanyang di http://aceh.tribunnews.com/04/06/2019/ di rubrik Jurnalisme warga dengan Judul Tradisi meugang ala pengantin dan tukang jamu.

 

Sambai Oen Peugaga, Penganan Khas Bulan Puasa

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

SETIAP daerah di Indonesia memiliki beragam jenis penganan khas dan unik yang dapat dinikmati ketika berbuka puasa. Malah ada penganan yang hanya muncul saat bulan puasa. Seperti di Aceh, salah satu penganan khas dan unik adalah sambai oen peugaga (sambal daun pegagan) dan hanya dibuat atau dijual pada bulan puasa. Walaupun namanya sambal (sambai) tapi hidangannya seperti urap sayur yang diaduk dengan kelapa parut atau giling. Keunikannya, sambai ini diracik dari aneka dedaunan yang berjumlah 44 jenis dedaunan.

Di Aceh pegagan (Centella asiatica alias gotu kola) dikenal dengan sebutan peugaga, sandanan (Papua), semanggen (Indramayu, Cirebon), daun kaki kuda (Melayu), antanan (Sunda), piduh (Bali), daun tungke (Bugis), pagaga (Makassar), jalukap (Banjar), ampagaga (Batak), dan gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang (Jawa).

Pegagan adalah jenis tanaman liar yang banyak tumbuh di pematang sawah atau kebun, bahkan di tepi jalan atau di tempat-tempat yang lembab atau sejuk. Tumbuhan dataran rendah ini banyak ditemui di negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur. Sejak ribuan atau ratusan tahun lalu, di Tiongkok, India, dan Indonesia tanaman ini telah digunakan sebagai bahan utama ramuan obat tradisional dengan khasiat menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti melancarkan aliran darah, mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan daya ingat, menghilangkan atau menyamarkan stretch marks di kulit, kesehatan mental, penyakit sendi, mengobati alzheimer, dan mencegah hipertensi. Tanaman obat ini kaya akan beta karoten, asam lemak, asam amino, asam asiatik, dan lain sebagainya (Informasi yang termuat dalam Hellosehat.com, Liputan6.com, dan Setyawati, Titiek dkk., 2015).

Selain untuk pengobatan, tanaman ini juga digunakan sebagai bahan utama produk perawatan kulit, kapsul klorofil, dan produk teh. Kalau kita buka Bukalapak.com, di sana tertera pegagan dijual seharga Rp40.000 per kg. Harga ini terbilang tinggi yang berarti memiliki prospek secara ekonomi dan berpotensi untuk dibudidayakan secara besar-besaran.

Di Aceh, sambai oen peugaga selalu dicari pada saat bulan Ramadhan tiba. Namun, tidak mudah untuk menemukan tempat atau gerobak dadakan yang menjamur di bulan puasa yang menjual sambai ini. Hanya ada di tempat-tempat tertentu, seperti kalau di Banda Aceh dijual di Pasar Peunayong, di Jalan Tgk Pulo di Baroh di Gampong Baro (dekat Garuda dan Masjid Raya Baiturahman), di Ulee Kareng, di Lamteumen di dekat Ditlantas Polda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

Dalam amatan saya, jumlah orang yang menjualnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Saya mengetahui ini karena penganan ini salah satu makanan favorit saya. Ketika berada di Banda Aceh, setiap sore saya membelinya untuk kudapan berbuka.

Saya teringat pada tahun 90-an, untuk membantu orang tua membuat sambai oen peugaga, saya mencari peugaga di pekarangan rumah dan juga di sela-sela rerumputan pada tanah lapang di sekitar rumah yang berada di Lorong II Gampong Lamlagang, Banda Aceh. Pada saat itu masih mudah untuk menemukan tanaman ini. Tapi sekarang, walaupun tanah lapangnya masih ada, tapi tanaman ini sudah tak ada lagi. Walaupun ia tumbuh liar, tapi tidak mudah untuk menemukan di tempat atau gampong lainnya.

Demikian juga di Matang Glumpang Dua, Bireuen, tempat saya bertugas, setiap akan berbuka puasa saya selalu mencari sambai oen peugaga. Setidaknya ada tiga lokasi yang menjual sambai ini, yaitu di jalan dekat pasar tradisional Matang, di pasar baru dekat terminal, dan di perempatan lampu merah Kota Matang Glumpang Dua, jalan yang menuju Jangka. Matang Glumpang Dua merupakan ibu kota Kecamatan Peusangan. Di kota kecamatan inilah tempat lahirnya universitas swasta terbaik di Aceh, yaitu Universitas Almuslim dan juga tempat lahirnya salah satu kuliner legendaris Aceh, yaitu satai matang.

Di Matangglumpang Dua orang menyebut sambai oen peugaga dengan sebutan sambai peugaga atau sambai oen. Bahan racikan sambai terdiri atas daun pegagan (bahan utama), daun jeruk purut, daun serai, rebung kala, bunga pepaya, daun jarak (lawah), daun sigeuntot, daun pucuk jambu muda, daun tapak liman, daun mengkudu, daun pucuk mangga, daun kemangi, beberapa kelopak bunga, daun ubi-ubian, dan beberapa daun lainnya.

Sebelum dicincang dan diiris halus, daun-daun ini dicuci terlebih dahulu, kemudian diuapkan. Jika salah mengolahnya maka aroma daun akan tercium kurang sedap. Akibatnya, sambai yang dibuat juga akan terasa tidak gurih dan lezat. Yang mengolahnya juga harus sabar karena pengirisan dilakukan secara manual. Kalau tergesa-gesa, hasil irisan akan kasar dan terlihat tidak menarik.

Irisan dedaunan ini, lalu diaduk dengan kelapa parut atau giling atau juga kelapa gongseng dan ditambah dengan asam sunti, udang, dan kacang goreng yang telah dihaluskan. Kemudian dicampur dengan rajangan cabai rawit atau cabai merah atau hijau dan bawang merah. Dapat dibayangkan, dengan ragam racikan seperti ini, jika kita mencicipinya maka rasanya akan terasa lezat dan gurih. Keharuman daun-daunnya juga dapat kita rasakan.

Dalam dialog dengan Kak Era, penjual gado-gado dan pecel, termasuk sambai peugaga di perempatan lampu merah Matangglumpang Dua, ia mengatakan bahwa tidak setiap hari ia menjual sambai ini. Karena daun peugaga belum tentu ada setiap hari di pasar baru. Kalau ada maka baru ia beli dan buat. Kalau dijual, pasti laku karena setiap hari pasti ada yang membeli. Yang membeli kalangan lanjut usia atau orang tua. Anak-anak muda sudah tidak mau makan penganan ini.

Penjual sambai oen peugaga yang lain adalah Ibu Salbiah Usman, asal Gampong Bugak Blang, yang utamanya menjual beragam bumbu dapur di jalan dekat pasar tradisional Matang. Ia mengatakan hal yang sama bahwa yang suka makan penganan ini adalah kalangan orang tua. Anak-anak muda tak begitu suka, mungkin karena aroma atau rasanya.

Saya tanya ke Ibu Salbiah, “Apakah racikan sambai yang Ibu buat lengkap dengan 44 dedaunan?”

Ia jawab, “Pada hari pertama hingga empat hari puasa, daunnya lengkap hingga 44. Tapi setelah itu tidak lagi. Karena tidak semua orang suka. Ada yang tidak suka dengan aroma atau rasanya. Sekarang kalau diracik sekitar 4-5 dedaunan saja.”

Karena penasaran, saya tanya lagi,”Mengapa sampai 44 dedaunan?” Ia lalu jelaskan,”Orang tua saya dulu juga ngomong 44 jumlah daun. Saya tidak tahu mengapa. Itu sudah dari sananya, dari warisan indatu.”

Ditambahkan lagi, “Allah memberi keistimewaan di bulan Ramadhan. Segala daun kayu yang kita makan tidak akan mabuk. Kalau kita makan di luar bulan puasa, bisa mabuk. Karena di antara 44 dedaunan ini, banyak yang tidak cocok. Ada daun yang kalau dicampur dengan daun yang lain, jika dimakan, maka orang akan mabuk. Tapi di bulan Ramadhan, kita tidak akan mabuk. Semua bisa dimakan. Daun yang berjumlah 44, diibaratkan kira-kira sebanyak itu dedaunan yang bisa dimakan manusia.”

Di samping itu ia katakan, “Dedaunan yang kita makan ini adalah daun-daun muda. Daun-daun ini akan bertasbih untuk orang yang memakannya. Kita akan dimuliakan.” Apa yang dikatakan Ibu Salbiah saat ini telah menjadi fakta ilmiah bahwa tumbuhan juga bertasbih dan bersujud kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Isra ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Dalam sehari, sambai peugaga milik Ibu Salbiah laku 40 hingga 50 bungkus. Per bungkusnya dihargai Rp 5.000. Di balik kekhasan dan keunikannya, tentu ada simbol dan makna budaya yang perlu untuk dikaji lebih lanjut

 

Cerita ini pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com/2019/06/03/ dengan judul Sambai oen peugaga penganan khas bulan puasa

Umuslim kembali kirim mahasiswa ke Thailand

Peusangan-Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen kembali mengirimkan mahasiswanya untuk melaksakanakan program praktek lapangan kuliah kerja mahasiswa (PPL-KKM) di sejumlah provinsi di Thailand Selatan, pelepasan keberangkatan mahasiswa angkatan IV program PPL-KKM ini dilakukan dalam satu upacara yang berlangsung di kampus Ampoen Chik Peusangan Universitas Almuslim, Senin (3/6).

Pengiriman kembali mahasiswa ke negeri gajah putih tersebut setelah  sukses  mengirimkan mahasiswa tiga angkatan sebelumnya, mereka nantinya akan melakukan pengabdian di  sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren yang ada di berbagai  provinsi di Thailand Selatan.

Rektor Umuslim yang diwakili wakil rektor III Dr.Ir. Saiful Hurri, M.Si, dalam arahannya menyampaikan, kepercayaan yang diberikan untuk umuslim ini berdasarkan  penilaian tim dari badan alumni Internasional Thailand, dimana mahasiswa  kita yang telah kita kirim sebelumnya  dianggap sukses selama melaksanakan pengabdian di luar negeri, maka kepada peserta diharapkan agar dapat menjaga nama baik dan kepercayaan ini.   Kepada wali mahasiswa, apabila ingin berkunjung ke Thailand Selatan untuk menjenguk anaknya dibenarkan tetapi harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan kantor urusan Internasional (KUI) universitas almuslim, Jelas Saiful Hurry.

Pada kesempatan tersebut sekretaris Kantor Urusan Internasional (KUI) Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A melaporkan perkembangan pelaksanaan program KKN-PPL. Mahasiswa yang mengikuti program ini adalah Angkatan ke-IV ada dua gelombang, gelombang I akan berada di Thailand selama 4 bulan (Juni-Oktober) dengan jumlah mahasiswa sebanyak 5 orang, akan berangkat pada 11 Juni 2019. Sedangkan Gelombang II selama 2 bulan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 7 orang, akan berangkat 20 hari setelah tanggal 11 Juni, jelasnya. Acara pelepasan turut dihadiri sejumlah orang tua dan wali mahasiswa, dosen, kepala PPL-Fkip dan staf Kantor Urusan Internasional (KUI) umuslim.(HUMAS)

 

 

 

 

 

Subcategories

You are here: Home News and Events