Catatan Gadis Yahudi yang Lahir di Banda Aceh

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim.

SEBAGAI peneliti yang pernah bergelut dalam kajian Sejarah Yahudi di Indonesia, saya ingin mengisahkan cerita melalui satu catatan harian seorang anak Yahudi bernama Clara Bolchover Nisse yang lahir di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Ia bersama orang tuanya menetap di Desa Blower (sekarang Gampong Sukaramai), Banda Aceh. Pamannya, Adolf/Adolphe Bolchover adalah orang yang menghibahkan tanahnya untuk lokasi perkuburan Yahudi di Kerkoff. Catatan harian ini diberikan kepada saya oleh keluarga besar Bolchover di Inggris yang khusus datang ke Banda Aceh. Arsip ini saya simpan sebagai bagian dari draf buku yang sedang saya tulis tentang Sejarah Yahudi di Aceh.

Catatan harian ini ditulis dalam bahasa Inggris. Dari catatan ini setidaknya memberikan gambaran tentang situasi Kota Banda Aceh di masa Hindia Belanda sebelum 1912. Catatan ini saya terjemahkan yang petikannya sebagai berikut:

Pertama, izinkan saya (Clara Bolchover Nisse) memberi Anda gambaran di mana saya dilahirkan. Koetaradja berada di timur laut dari Pulau Sumatra dan diperintah oleh Belanda yang memiliki garnisun di kota dengan sejumlah fasilitas medis dan bisnis. Gubernur pulau itu tinggal di sana dan sejumlah pemilik kebun karet dan kelapa mempekerjakan orang Cina. Orang Melayu sebagian besar merawat tanah mereka yang kecil untuk menanam sereal atau tanaman biji-bijian dan sayuran dan suka memancing di sungai dan laut. Semua rumah dan bangunan berada di atas panggung sehingga air tak membanjiri mereka ketika musim hujan.

Karena berada sedikit di arah utara khatulistiwa maka keadaan lingkungan terasa sangat panas dan lembab. Di Krueng Aceh banyak buaya, termasuk yang berukuran besar. Para wanita yang mencuci pakaian di pinggir sungai haruslah ekstrahati-hati. Banyak juga ular berukuran besar seperti boa pembelit (boa-constrictor), laba-laba, dan kalajengking yang menakutkan. Harimau berukuran besar berkembang biak di sana, tapi singa tak ada. Ayah saya datang ke Sumatra untuk bergabung dengan dua saudara lelakinya terkait dengan apa yang dikenal sebagai Skema Kolonisasi Belanda (mengikuti program naturalisasi). Ia datang dari Rumania dan tak mengikutsertakan ibu saya untuk bergabung dengannya sampai dia berhasil mencari nafkah dari hasil perkebunan kelapa, tidak termasuk usaha pengolahan limbah kelapa.

Ibuku tak terlalu senang ketika datang ke Koetaradja. Dia merasa menderita karena sering terkena biang keringat dan tak pernah dalam kondisi sehat. Saya memiliki saudara kembar dan dua saudara laki-laki. Kami dilahirkan berselang tiga tahun. Ada “Ayah” (sebutan untuk orang yang menjaga kami) dan dia adalah orang-orang yang berhati lembut.

Orang yang saya ingat sebagian besar adalah: 1) Juru masak kami, orang Cina yang biasa mengamuk setiap enam bulan sekali sambil berlarian, mengayun-ayunkan pisau dapur ukuran besar; 2) Sebuah keluarga Spanyol yang memelihara kuda yang mereka datangkan dari pulau terluar. Saya anak yang nakal dan memberanikan diri naik ke atas kuda tanpa seizin pemiliknya. Setelah naik di atasnya, kuda itu mengempaskan saya ke tumpukan sampah. Lengan dan lutut saya terluka; 3) Seorang pria besar bernama Kugelman, suaranya sangat keras yang membuat kami sedikit takut, tapi berhasil menghibur kami dengan memberi kami banyak permen dan hadiah.

Tentu saja ada banyak kejadian yang masih kami ingat. Misalnya, ketika kami menemukan buaya dan ular air di beranda rumah setelah hujan deras dan angin kencang. Di musim hujan, kami pun berkeliling menggunakan perahu untuk mengunjungi teman dan tetangga kami.

Ketika saya berusia lima tahun, ibu saya meninggal dan diputuskan bahwa kami harus pindah ke biara (Sekolah Jesuit) di Kota Penang, Malaya. Jaraknya sekitar 300 mil dari Koetaradja, melintasi laut, dan butuh waktu tiga hari dengan kapal untuk tiba di sana. Semuanya dalam kondisi bingung dan ketika kami turun dari kapal, kami dijemput dengan becak dan dibawa ke biara yang berada di ujung Quay St. Itu adalah bangunan ukuran besar dan ada 400 anak yang tinggal di sana. Kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah anak-anak orang Eropa dan Cina yang memiliki orang tua yang mampu membayar. Ada sekitar 50 orang jumlah kami, sedangkan siswa laki-laki tinggal bersama para biarawan di biara terdekat.

Kelompok kedua adalah golongan peranakan (berdarah campuran), sedangkan kelompok terbesar adalah anak-anak pribumi yang ditempatkan di gedung terpisah. Kami memiliki sedikit komunikasi dengan mereka. Mereka tidak dibenarkan berbicara dengan kami dan kalau ketahuan akan dihukum.

Para biarawati cukup baik kepada kami, kecuali ada beberapa yang kurang ramah. Salah satunya yang mengajari kami bermain piano dan untuk setiap nada salah yang kami mainkan, ia mengetuk jari pada sendi kami dengan tongkat yang tajam. Namanya Sister Josephine dan kami membencinya. Kami menjulukinya “Sister Pin” karena dia sangat kurus dan memiliki dagu dan hidung yang panjang. Ada juga hukuman lain, dihukum dengan berlutut di lantai batu selama beberapa jam tanpa memalingkan kepala dari dinding. Ada pun sanksi lain yang tak begitu kami pedulikan adalah enam cambukan di setiap pipi dan tangan. Paling tidak, lebih dari itu, kami menunjukkan bekas luka kepada teman-teman kami.

Kami semua mengenakan pakaian katun yang sama seperti baju tidur yang diikatkan di pergelangan kaki, tangan, dan leher. Dan ketika ke luar rumah, kami harus mengenakan topi jerami kerucut yang lebar seperti yang dikenakan para pekerja. Semua ini untuk mencegah sengatan matahari. Pada hari Minggu kami harus pergi ke gereja, karena itu kami memiliki gaun berenda putih dan topi yang cantik. Dan kami diizinkan bermain di halaman yang memiliki air pancur. Air pancur ini mengingatkan saya--setiap Jumat pagi dini hari--semua anak dari ketiga ordo harus antre. Kami semua mendekati sebuah meja di mana seorang biarawati menahan hidung kami dan yang lain menuangkan sesendok minyak kastor (minyak jarak). Ugh! Tapi kami semua berusaha menahan napas dan setelah itu berlari ke air pancur untuk meminum airnya. Bau minyaknya membuat kami mual.

Halaman biara dalam keadaan tertutup dan berada di dekat pantai. Kami terkadang diizinkan main ke pantai, tapi jarang yang berani mandi di sana. Soalnya, masih begitu banyak hiu pemangsa manusia di perairan dan ada beberapa kejadian mengerikan yang dialami anak laki-laki yang berenang terlalu ke tengah.

Ayah saya biasanya datang setiap tiga bulan sekali untuk menjenguk kami. Kami sangat senang ketika ayah mengunjungi kami karena kami bisa menginap bersamanya di Raffles Hotel yang memiliki taman-taman yang indah.

Nah, demikianlah isi catatan Clara Bolchover Nisse (Nisse, nama suaminya). Ia meninggal 28 tahun lalu di Inggris, sedangkan ibunya Deborah Bolchover meninggal di Koetaradja tahun 1908 dan dikebumikan di Kerkoff. Demikian juga Adolf Bolchover yang meninggal tahun 1897 juga dikebumikan di Kerkoff.

Keluarga besarnya menyampaikan terima kasih karena saya telah berhasil meyakinkan mereka untuk memugar kuburan keluarga Bolchover di Kerkoff. Mereka juga baru tahu bahwa nama Bolchover menjadi cikal bakal nama Gampong Blower (Belowor) di Banda Aceh. Mereka mengatakan jika suatu saat mengunjungi Inggris, silakan menghubungi dan menginap di rumah mereka. “Kamu punya rumah di sana. Rumah kami juga rumah kamu,” demikian kira-kira ungkapannya. Saya menyampaikan terima kasih atas perhatian mereka dan semoga suatu saat bisa bertemu dengan keluarga yang punya kenangan dengan Aceh ini

 

Cerita ini sudah pernah tayang di http://aceh.tribunnews.com pada tanggal 28/05/2019/ dengan judul Catatan gadis yahudi yang lahir di Banda Aceh.

Rujak Manis Kuta Blang warisan pak Guru yang perlu di pertahankan

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen

 Kuta Blang merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Jaraknya ± 15 km dari ibu kota kabupaten dan dapat ditempuh dalam waktu ± 20 menit. Kecamatan Kuta Blang memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selain dari hasil pertanian, perkebunan, juga perdagangan berupa unit usaha home industry. Salah satunya adalah usaha kuliner.

Dalam rangka mengisi waktu di bulan Ramadhan tahun ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, Chairul Bariah, dan suaminya sepakat ngabuburit ke Kuta Blang dan singgah di salah satu usaha kuliner yang terkenal dan telah menjadi buah bibir masyarakat, baik yang tinggal di Bireuen maupun pendatang dari daerah lain. Kuliner dimaksud adalah rujak manis yang dalam bahasa Aceh disebut lincah. Rujak manis ini berbeda dengan rujakbiasa yang buah-buahannya dipotong-potong lalu dilumuri manisan campur kacang. Sedangkan rujak manis khas Kuta Blang ini buah-buahannya diparut atau dicincang halus. Cara mengonsumsinya dengan diminum, sisanya baru disendok untuk dikunyah dan ditelan.

Lokasi penjualan rujak manis tersebut hanya berkisar 10 meter dari ujung jembatan Kuta Blang ke arah kanan menuju daerah Peusangan Siblah Krueng. Berikut ini Chairul Bariah akan menukilkan tentang rujak manis Kuta Blang secara panjang lebar.

Sebelum puasa Ramadhan sempat kami perbincangkan dengan beberap kolega di kantor tentang resep rujak yang menggiurkan itu. Padahal, di Kuta Blang bahkan tempat lain di seputaran Bireuen banyak yang menjual rujak sejenis, tetapi rujak Pak Guru ini memang beda dan tetap jadi idola para penyuka lincah. Alhamdulillah, saya bertemu langsung dan berbincang dengan anak kandung pemilik usaharujak manis yang diberi label “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” ini. Namanya Muhammad Taufik (17). Dia menuturkan bahwa ayahnya sudah meninggal setahun lalu, tepatnya menjelang Ramadhan. Ibunya bernama Erlida adalah guru PNS di MIN Pulo Siron Kuta Blang yang dulu setia mendampingi sang suami berjualan rujak manis.

Sebagai anak tertua dan satu-satunya pria dari empat bersaudara, saat ini Taufiklah yang mengelola dan melanjutkan usaha keluarga tersebut. Bisnis rujak manis ini telah dimulai sejak tahun 1974. Lokasinya pun sama seperti sekarang, hanya saja sekarang kawasan ini sudah ditimbun sehingga terlihat lebih tinggi dari arah sungai. Saat saya tanya-tanya tentang ayahnya yang merintis usaha tersebut, tiba-tiba Taufik menunduk dan suaranya mulai parau dan matanya berkaca-kaca saat berkata, ”Saya rindu bersama ayah dan keluarga, namun semua tinggal kenangan.”

Tanpa sadar saya pun ikut menitikkan air mata. Nama usaha “Rujak Manis Pak Guru Kuta Blang” itu ditabalkan karena semasa hidup si empunya usaha, yakni Pal Jakfar, merupakan seorang guru. Tepatnya guru PNS di SD Negeri 8 Kuta Blang. Seyogianya beliau akan pensiun dua tahun lagi. “Tapi sudah sepuluh tahun ayah sakit, sudah berobat di dalam dan luar negeri, namun Allah lebih sayang pada ayah dan memanggilnya untuk kembali. Kami ikhlas,” katanya sembari berdoa, “semoga ayah ditempatkan di surga-Nya.” Kali ini Muhammad Taufik tampak menyeka matanya yang mulai berair.

Dalam suasana perbincangan yang mengharukan, tiba-tiba pemuda yang masih duduk di kelas 2 MAN Peusangan ini bangkit dari duduknya dan berusaha tersenyum. Ia pun berkata lirih, “Hidup ini harus kita lanjutkan.” Akhirnya saya pun bersemangat untuk melanjutkan diskusi dengannya. Menurut Taufik, untuk meneruskan usaha tersebut dia sudah mendapatkan resep warisan dari almarhum ayahnya. Hal ini dilakukannya demi untuk menjaga kenikmatan dan kelezatan rasa rujak sesuai dengan olahan tatkala orang tuanya yang meracik.

Bahan dasar yang diperlukan untuk membuat rujak manis ini adalah mentimun, nanas, mangga, sawo, embacang (Mangifera foetida), dan beberapa buah-buahan manis lainnya. Kemudian diramu sesuai resep peninggalan orang tuanya. Untuk mendapatkan rasa yang lezat, buah-buahan yang dicincang sebagai bahan dasar rujak haruslah yang berkualitas. Misalnya mangga, haruslah mangga yang manis dan berwarna kuning. Begitu juga dengan nanas, sawo, dan buah lainnya. Seluruh bahan tersebut sebelum diolah dicuci bersih, lalu dikupas, dicincang, dan diletakkan pada wadah yang tersedia, kemudian dicampur dengan sari gula asli yang dicairkan, ditambah sedikit cabai rawit yang dihaluskan, lalu diaduk dengan air.

Untuk menjaga agar airnya jangan terlalu banyak dan lebih nikmat, dapat ditambahkan es batu atau hasil racikan tadi dimasukkan ke dalam kulkas. Menurut Taufik, pada hari biasa dia butuh 300 kg buah dan 50 kg gula pasir untuk menghasilkan rujak manis. Sedangkan pada bulan Ramadhan kalau cuaca panas menyengat dalam sehari dia bisa menghabiskan 150 kg gula pasir, timun satu ton untuk dua hari ditambah buah lainnya.

Dalam menjalankan usaha warisan tersebut pada bulan Ramadhan ini Taufik dibantu oleh lima karyawan yang mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB. Tapi kalau pada hari biasa pekerjanya cukup tiga orang saja dan mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB. Usaha ini pada hari biasa dibuka mulai pukul 10.00-18.00 WIB, sedangkan pada bulan Ramadhan dimulai setelah shalat Asar sampai menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.30 WIB.

Menurut Taufik, harga rujak tersebut per gelas adalah Rp 5.000. Sedangkan yang sudah dikemas dalam plastik harganya Rp 10.000. Harga ini bertahan sudah cukup lama walaupun harga bahan naik, apalagi pada bulan Ramadhan harga bahan mahal dan susah didapat, tapi sudah ada langganan atau pemasok dari seputaran Bireuen yang siap sedia menyuplai buah-buahan yang berkualitas kepada Taufik.

Usaha rujak manis ini juga menerima pesanan untuk acara pesta atau kenduri dengan harga satu dandang ukuran kecil Rp 1.000.000, yang sedang Rp 1.500.000, dan yang besar Rp 2.000.000. Rujak manis ini banyak juga dipesan oleh instansi pemerintah dan swasta. Menurut M Rifal, karyawan yang bekerja pada usaha rujak manis ini, omset yang diperoleh per hari, “Alhamdulillah, lumayan.” Pokoknya dari hasil penjualan rujak ini, sang pemilik usaha mampu membeli tanah, membangun rumah, dan mampu membayar gaji para karyawannya.

Di bawah pengelolaan putra sulung Pak Guru, rujak manis Kuta Blang terus memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cita rasa yang tak berbeda dengan racikan almarhum sang ayah. Semoga Muhammad Taufik dapat terus melanjutkan warisan kuliner yang telah sangat terkenal dan terus berinovasi dengan memperkenalkan produknya melalui media iklan dan berbagai varian produk lainnya, dengan harapan usaha ini mampu mengantarkan dirinya dan ketiga adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Menurut Taufik, usaha rujak manis Pak Guru Kuta Blang belum pernah membuka cabang di mana pun, walaupun sering kita lihat di tempat lain ada orang yang menempelkan spanduk atau poster dengan tulisan Rujak Manis Kuta Blang. “Tapi itu bukan cabang kami,” tegas Taufik. Ketika ditanya apa ada rencana buka cabang, Taufik menjawab, “Nantilah kita lihat dulu.”

Tangan Taufik terus mengaduk-aduk rujak dalam dandang besar, sedangkan karyawannya sibuk mengemasnya dalam plastik dan siap untuk di jual. “Doakan ya Bu semoga usaha ini bisa bertahan sehingga nanti saya bisa kembangkan usaha dan bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar karena bagi saya orang yang sukses adalah orang yang mampu membawa orang lain dalam suksesnya,” ujar Taufik.

Pada hari itu selain kami ada juga para pelanggan yang telah lama menunggu giliran untuk membeli rujak yang kaya vitamin C ini. Mereka hendak membeli rujak manis racikan Taufik. Selama bulan puasa ini banyak pula kendaraan umum yang membawa rombongan berhenti di sini, lalu para penumpang membeli rujak manis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Akhirnya saya pun tiba di rumah dan segera berwuduk untuk melaksanakan shalat Asar, kemudian memasak untuk mempersiapkan menu berbuka puasa bagi suami dan anak, setelah itu menghidangkannya di atas meja. Waktu yang ditunggu pun tiba, terdengar suara sirine dari meunasah pertanda waktu berbuka. Setelah berdoa, saya raih gelas berisi rujak manis yang dari tadi sudah menggoda untuk direguk.

Alhamdulillah, rujak manis Kuta Blang ternyata memang nikmat dan mampu meningkatkan stamina. Hilang sudah rasa lelah dan dahaga saya, serta bersemangat mengikuti shalat Tarawih. Pantas di mana pun berada rujak manis Kuta Balang tetap dicari pelanggan sehingga perlu dilestarikan. Ini salah satu kekayaan kuliner khas Aceh.

Cerita ini pernah tanyang di http//:Aceh Tribunnews tanggal 20/05/2019 dengan judul Ini rujak warisan pak guru.

Fisip umuslim gelar buka puasa bersama

 Peusangan-Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (Fisip) Universitas Almuslim (Umuslim) mengelar acara buka puasa bersama sekaligus silaturahmi, yang di gelar kampus timur, Senin, (20/5)

Menurut ketua Bem Fisip Husnul Fuadi, kegiatan ini dalam rangka mempererat silaturahmi antara rektorat, dekanat, mahasiswa dan alumni, Insya Allah bulan depan kami juga akan mengelar beberapa kegiatan lain dalam rangka promosi fakultas Ilmu sosial dan politik kepada adik-adik SMA dan masyarakat secara umum ujarnya.

Pada kesempatan tersebut mewakili Alumni disampaikan Munazir Nurdin atau lebih populer  "Boh Manok" mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya acara silaturahmi ini, semoga dengan  jumlah alumni yang sudah sukses di Fisip akan dapat memajukan fakultas ini kedepan, ungkap anggota DPRK Bireuen terpilih ini.

 Turut menyampaikan sambutan Rektor Umuslim Dr.H.Amiruddin Idris,SE.,MSi mengukapkan  rasa bahagia atas silaturahmi dalam bentuk buka puasa bersama yang di gelar mahasiswa Fisip, semoga kebersamaan dan kekeluargaan ini dapat mempererat  ukhuwah diantara civitas akademika umuslim. 

Walaupun kita berada di kampung tetapi dengan kekompakan semua pihak baik rektorat, dekanat, alumni dan mahasiswa akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa bagi kampus  dalam menata pengembangan kampus dimasa yang akan datang, papar H.Amiruddin Idris.

Hadir  dalam buka puasa tersebut Ketua Yayasan, Rektor, wakil rektor, dosen alumni, mahasiswa dan  tokoh masyarakat seputaran kampus, acara buka bersama diakhiri dengan menyantap kuah belangong dan shalat magrib berjamaah.

Sehari sebelumnya Fakultas Ekonomi Umuslim juga  menggelar acara serupa, yang  dihadiri  Civitas Akademika,  dosen, alumni , ormawa dan mahasiswa.(HUMAS)

 

Penerima beasiswa Bidik Misi Umuslim , bagi Paket Sembako Untuk Fakir Miskin.

 

Peusangan-Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Kabupaten Bireuen yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Bidikmisi (IKAMB) Umuslim membagikan seratusan sembako gratis untuk kaum dhuafa dan fakir miskin di seputaran Kabupaten Bireuen, Sabtu (18/05/2018).

Ketua panitia, Fandy mengatakan "satu paket sembako tersebut bernilai seharga Rp80 ribu. Berasal dari donatur yang ingin bersedekah, baik dari mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dan juga ada dari donatur lainnya. Masing-masing donatur memberikan sumbangan seikhlas mungkin".

Salah seorang penerima   ibu Ani, nengucapkan syukur "Alhamdulillah, atas pembagian sembako gratis ini dan sangat bermanfaat bagi kami yang kurang mampu ini. Jika membeli,  tidak sanggup sebanyak ini,"ungkapnya terharu, sambil mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa.

Menurut ketua IKAMB, Sarah Savana dirinya mengucapkan terima kasih atas kekompakan dan kebersamaan teman-teman penerima beasiswa bidik misi sehingga aksi sosial ini berjalan sukses, kalau selama ini kami menerima beasiswa, Alhamdulillah di bulan ramadhan ini kami sudah bisa sedikit berbagi dengan masyarakat kurang mampu lainnya, semoga kegiatan akan terus berlanjut, ini merupakan agenda  pertama yang dilaksanakan oleh IKAMB" ujar Sarah Savana(HUMAS)

 

Subcategories

You are here: Home News and Events