Oeang Atjeh di Museum Uang Sumatra

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen

SAAT liburan Idulfitri di Kota Medan, saya sempatkan waktu untuk mengunjungi Museum Uang Sumatra yang terletak di Jalan Pemuda Nomor 17, Medan Maimun, Sumatera Utara (Sumut). Ini merupakan museum uang satu-satunya di Pulau Sumatra. Di Indonesia hanya ada tiga museum uang. Pertama adalah Museum Uang Bank Sentral Republik Indonesia (Museum BI) di Jakarta, kedua Museum Uang Purbalingga di Jawa Tengah, dan ketiga Museum Uang Sumatra di Kota Medan.

Museum Uang Sumatra berada di lantai dua Gedung Juang ’45. Di dalam museum ini pengunjung akan dipandu oleh dua staf museum yang ramah, biasa dipanggil “Bang Dyo” (Dyo Adytia) dan “Bang Ichsan” (Ichsan Tarigan). Mereka akan menerangkan sejarah berdirinya museum maupun sejarah uang koin/logam dan uang kertas yang dikoleksi museum tersebut.

Dengan melihat koleksi uang yang lengkap, kita tidak menduga bahwa ternyata museum ini milik pribadi (bukan milik pemerintah), yakni milik seorang pengusaha bernama Safaruddin Barus. Ia seorang kolektor mata uang dan benda-benda sejarah. Ia menyewa ruang di lantai dua Gedung Juang milik Pemerintah Provinsi Sumut sejak tahun 2017 (berdiri 2 Mei 2017).

Sebagai kolektor mata uang, Safaruddin Barus mencari uang hingga ke pelosok Tanah Air dan ke sejumlah negara. Hasil temuan dan koleksinya dijual dan kalau di luar negeri dibeli dengan harga tinggi. Ia kemudian berpikir, bagaimana hobi dan bisnisnya ini tidak sekadar untuk kepentingan pribadi semata, tapi juga dapat menjadi ilmu bagi khayalak umum, terutama bagi generasi muda. Ia lalu menginisiasi pendirian museum.

Pengunjung yang datang ke museum ini belum begitu banyak, bahkan orang Medan sendiri pun banyak yang belum tahu bahwa di kotanya ada museum uang. Yang berkunjung ke sini umumnya orang dari luar Sumut. Bang Ichsan menceritakan, pada bulan Ramadhan lalu museum ini dikunjungi oleh sejarawan dari Universitas Gadjah Mada yang berencana akan menulis buku tentang sejarah mata uang (numismatika) Indonesia. Referensi literatur dan koleksi uang di museum ini akan menjadi salah satu rujukannya.

Bang Dyo dan Bang Ichsan senang dengan kedatangan saya. Menurut mereka, saya dosen pertama dari Aceh yang mengunjungi museum ini. Walaupun museum ini belum begitu dikenal, tapi mereka optimis, ke depannya besar kemungkinan museum ini akan menjadi salah satu ikon baru Kota Medan.

Museum ini dibuka setiap hari sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Malam hari juga buka dari pukul 20.00-22.00 WIB. Pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, tapi cukup dengan membayar Rp10.000 sebagai pengganti suvenir berupa koin kuno Kesultanan Palembang yang dihadiahkan kepada setiap pengunjung. Saya mendapat hadiah dua koin Kesultanan Palembang (1659-1825).

Yang dikoleksi di museum ini adalah mesin cetak uang ORITA (Oeang Republik Indonesia Tapanoeli) dan sejumlah mata uang berbentuk koin dan kertas. Di sini juga tersedia sejumlah bahan bacaan. Mesin cetak uang ORITA digunakan di Sumut, khususnya di daerah Tapanuli pada masa Agresi Militer Belanda II (1948-1950).

Uang koin dan kertas yang dikoleksi museum mulai dari uang kuno zaman kerajaan di Nusantara, uang koin kuno dari sejumlah negara atau kerajaan (Kerajaan Inggris, Belanda, Malaka, Sri Lanka, Tiongkok, Turki, Serawak, dan beberapa negara atau kerajaan lainnya), beberapa alat tukar Kesultanan Deli, uang koin dan kertas masa Hindia Belanda, masa perjuangan kemerdekaan hingga uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Republik Indenesia.

Ada juga uang koin yang hanya dipergunakan sebatas di wilayah perkebunan saja. Uang koin ini disebut token yang dikeluarkan oleh pihak perkebunan Belanda.

Di antara bentuk uang, ada satu yang unik, yaitu uang kertas yang terbuat dari kain goni yang dikeluarkan oleh Kerajaan Buton di Sulawesi. Biasanya uang kertas terbuat dari bahan kapas agar tidak mudah rusak apabila terlipat, teremas, atau terendam air.

Saya mengamati secara khusus dan mencatat uang yang pernah beredar dan dikeluarkan oleh Aceh (Atjeh). Ada uang koin timah yang digunakan di Kerajaan Aceh mulai tahun 1524 hingga 1939. Koin jenis ini jarang ditemukan (langka) dan belum terdata sehingga perlu pengkajian lebih lanjut (termasuk tahun akhir penggunaannya).

Pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636) koin ini yang digunakan, tapi ada jenis baru yang ditemukan dan juga perlu pengkajian lebih lanjut.

Selain beredar koin timah, pada masa Sultan Aceh yang kedua, yaitu Sultan Salahuddin Syah (1530-1537) juga menggunakan koin berbahan emas dirham. Koin ini tercatat sebagai koin emas tertua yang digunakan Kerajaan Aceh.

Koin berbahan emas juga digunakan pada masa Sultanah Safiatuddin Tajul Alam Syah (Sultanah Kerajaan Aceh yang pertama) yang memerintah Aceh selama 35 tahun (1641-1675). Koin ini juga digunakan pada masa kepemimpinan sultanah ketiga, Sultanah Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688).

Kerajaan Aceh sempat mengeluarkan uang koin berbahan perak yang diadopsi dari orang Spanyol yang mengedarkan koin berbahan perak asal Spanyol di Aceh. Uang ini disebut dengan Ringgit Meriam atau Ringgit Spanyol.

Selain itu, ada koin Turki Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) yang berbahan emas, perak, dan tembaga. Penggunaan uang ini menjadi bukti sejarah adanya hubungan diplomatik dan perdagangan antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Turki Utsmani.

Kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang paling banyak mengeluarkan uang koin berbahan emas. Saking banyaknya, apabila sekarang ditemukan dan dijual maka harganya terbilang murah. Uang koin emas Aceh termurah dibandingkan dengan uang koin emas dari kerajaan lain di Nusantara. Sampai sekarang, tidak hanya di sungai-sungai di Aceh, di Sungai Deli pun masih ada yang menemukan uang koin emas Kerajaan Aceh.

Selain uang koin, Aceh juga pernah mengeluarkan uang kertas pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang beribu kota di Bukit Tinggi. Tercatat uang emisi Atjeh tertanggal 1 Januari 1948 dengan nominal 25 rupiah, Uang Daerah Bukit Tinggi Penerbitan Daerah Khusus. Uang ini berbahan kertas tipis atau kertas tisu. Pada 1949 Aceh mengeluarkan uang dengan emisi Koeta-Radja tertanggal 1 Maret 1949 dengan nominal 250 rupiah(tanpa nomor seri), dan terbilang cukup langka. Uang ini berlaku untuk Sumut yang ditandatangani oleh Gubernur Sumatera Utara, Mr SM Amin

Sebelum Agresi Militer Belanda II, pada 15 September 1947 Aceh dengan emisi Koeta-Radja mengeluarkan uang kertas dengan nominal 50 Sen, 1 rupiah, dan 2 ½ (250) rupiah. Di samping itu ada juga Bon Contan Atjeh Timur dengan nominal Rp100 dan Rp250 yang dikeluarkan oleh Markas Pertahanan Atjeh Timur (Usman Adamy).

Warga Aceh yang berkunjung ke Medan atau yang memang tinggal di Kota Medan, saya kira, perlu menyempatkan waktu untuk mengunjungi museum penting ini. Di sini ia pasti akan mendapatkan banyak ilmu. Di sini kita bisa belajar tentang sejarah mata uang, bentuk ragam mata uang yang digunakan, dan secara khusus belajar tentang oeang Atjeh sebagai alat tukar sekaligus alat kekuatan ekonomi yang digunakan oleh Kerajaan Aceh

 

Tulisan ini pernah tayang di https://Aceh.tribunnews.com/22/06/2019/ dengan judul oeang atjeh di museum uang Sumatra

Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua.

Oleh: Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen.

Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah tengah Provinsi Aceh. Topografi daerahnya berbukit dan berhawa dingin. Bahkan danau terbesar Aceh, yakni Danau Lut Tawar, terdapat di sini.

Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kabupaten ini juga memiliki banyak objek wisata. Ada tempat wisata yang dikelola pemerintah, banyak pula yang dikelola masyarakat, baik secara berkelompok maupun personal. Mereka menyulap berbagai potensi alam di seputaran hutan, kebun, aliran sungai, bahkan sawah untuk dijadikan objek wisata menarik, objek yang memberikan sejuta kenangan bagi pengunjung yang suka swafoto. Jadi, tidak mengherankan jika banyak masyarakat luar daerah, termasuk wisatawan asing yang mendatangi objek-objek wisata di seantero Aceh Tengah ini.

Dalam rangka mengisi liburan Idulfitri 1440 Hijriah, walau udara begitu dingin, tidak menghalangi niat saya dan rombongan bergerak menuju ke daerah yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju penuh hati-hati, karena jalan sedikit licin akibat guyuran hujan malam hari. Dalam balutan kabut di sepanjang jalan, setiba di tikungan Enang-Enang mobil yang kami kendarai berhenti sejenak, karena ada bus yang mogok, tapi hanya sebentar karena belum banyak kendaraan yang berlalu lalang saat itu.

Tujuan saya ke Takengon kali ini adalah selain kunjungan silaturahmi ke rumah kakak dan saudara, juga ingin memanfaatkan waktu libur dan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata Gua Putri Pukes. Nah, selain punya banyak objek wisata alam, Aceh Tengah ternyata juga punya legenda cerita rakyat yang secara turun-temurun disampaikan kepada generasi penerus.

Ke lokasi wisata ini saya membawa rombongan dari Pulau Jawa dan wisatawan dari Jepang. Saya ditemani Idrus Saputra, salah seorang anggota keluarga yang juga menjabat Ama Reje (Kades) Paya Tumpi Baru.

Objek wisata Gua Putri Pukes yang kami tuju berada di pinggir Danau Lut Tawar di Kecamatan Kebayakan, berjarak ± 2 km dari Kota Takengon, dapat ditempuh dalam waktu lima menit. Sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan indah pinggir danau yang membuat tanpa sadar kami sudah tiba di lokasi Gua Putri Pukes. Apalagi karena masih pagi, udara saat itu terasa sangat dingin.

Saat kami tiba di lokasi parkir, pengunjung masih belum terlalu ramai. Beberapa pedagang tampak sedang membuka lapak dagangannya di areal parkir. Ini membuat Ama Reje Desa Paya Tumpi Baru yang ikut dalam rombongan saya bereaksi. Ia tak membiarkan pedagang berjualan di tempat yang dilarang. Apalagi pedagang tersebut menggelar dagangannya justru tepat di bawah pamplet yang bertuliskan dilarang berdagang di tempat parkir. Ame Reje Idrus Saputra langsung menegur pedagang tersebut agar mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengelola bahwa di lokasi parkir tidak dibenarkan berjualan. Tanpa perlawanan, beberapa pedagang itu akhirnya pindah dari lokasi tersebut.

Saya dan rombongan bergegas naik ke pintu gua yang berukuran ± 1,5 meter sehingga butuh kesabaran dan kehati-hatian saat masuk. Kami disambut petugas merangkap pemandu wisata. Sebelum masuk gua kami membayar retribusi masuk. Menurut petugas, biaya tersebut dipungut untuk membiayai pemeliharaan objek wisata legenda tersebut.

Saat tiba di dalam gua badan terasa dingin, suasana gelap, dan sesekali air menetes di atas kepala dan pundak. Saya kaget, seakan ada suasana mistis di dalam gua ini. Pemandu wisata mengajak kami terus berjalan masuk lebih dalam menuju patung batu Putri Pukes. Wah, menakjubkan!

Tiba di depan patung Putri Pukes, pemandu wisata bercerita, konon Putri Pukes adalah gadis rupawan anak seorang raja di Kampung Nosar. Ia mencintai seorang pangeran dari kerajaan lain di Bener Meriah. Sejoli ini gigih memperjuangkan cintanya dan meminta restu kepada kedua orang tua mereka untuk dinikahkan.

Awalnya orang tua Putri Pukes menolak lamaran pangeran, apalagi Putri Pukes adalah anak tunggal seorang raja yang sulit mendapatkan keturunan dan tak lama lagi akan dibawa pergi jauh oleh seorang pangeran bernama Mude Suara ke kerajaaannya. Namun, karena sayang dan cinta kepada putrinya, akhirnya orang tua Pukes menyetujui pernikahan putrinya dengan Pangeran Mude Suara.

Setelah menikah, sebagaimana biasa, seorang perempuan harus ikut ke tempat suaminya, sesuai dengan adat Gayo sistem juelen, yaitu pihak istri tinggal bersama suami selamanya. Begitu juga dengan Putri Pukes, sambil berurai air mata, dia memohon izin kepada kedua orang tuanya untuk ikut ke kerajaan suaminya.

Konon pada zaman dahulu saat antar pengantin tidak boleh bergandengan, makanya sang Pangeran lebih dulu pergi, baru sang Putri menyusul. Dengan perasaan sedih, kedua orang tua melepas kepergian putri tersayang. Ayah ibunya berpesan agar saat sudah ke luar dari kerajaan ini, jangan pernah sekalipun teringat ke kampung halaman dan menoleh ke belakang.

Akhirnya sang Putri berangkat, diantar oleh pengawalnya. Dalam bahasa Gayo, momen ini disebut “munenes” atau bahasa Aceh “intat dara baro”. Ia pergi dengan membawa perlengkapan rumah tangga yang telah disiapkan oleh keluarga Putri Pukes seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, cawan, periuk, dan lain-lain

Acara munenes bagi pengantin baru di Gayo biasanya berlangsung meriah dan haru, tapi sangat berbeda dengan suasana hati sang Putri yang dirundung kesedihan. Sepanjang perjalanan Pukes terus teringat orang tua yang sangat ia rindukan. Kemudian, tanpa sengaja ia menoleh ke belakang. Tiba-tiba datanglah badai, petir, dan hujan yang sangat lebat. Rombongan Putri Pukes terpaksa berteduh di sebuah gua. Sang putri yang kedinginan, berdiri di sudut gua untuk menjaga suhu badannya agar tetap hangat. Tapi secara perlahan sang putri merasakan tubuhnya dingin dan mengeras, dia sangat terkejut dan menangis saat sebagian tubuhnya, lalu seluruhnya berubah menjadi batu. Pada saat itulah timbul penyesalan di hatinya karena tidak mengindahkan pesan orang tuanya. Berkali-kali pengawal memanggil sang Putri, tapi tak ada jawaban. Ketika dilihat di sudut gua ternyata Putri Pukes sudah membatu.

Menurut pemandu wisata, tak terlalu jauh dari lokasi Putri Pukes menjadi batu, ada jalan yang dilalui oleh pangeran. Dulu kabarnya jalan ini bisa tembus ke Aceh Jaya. Di lokasi itulah kemudian pangeran yang mendengar cerita bahwa sang kekasihnya telah menjadi batu, berdoa agar menjadi batu juga. Akhirnya, kisah cinta Putri Pukes dan sang Pangeran Mude Suara berakhir tragis. Keduanya menjadi batu, bahkan perlengkapan rumah tangga yang dibawa saat itu ikut menjadi batu. Para pengawal Putri Pukes yang selamat dari kejadian itulah yang menceritakan kembali legenda ini kepada masyarakat. Kisahnya bergulir secara turun-temurun.

Setelah selesai mendengar penjelasan pemandu dan melihat-lihat kondisi di dalam gua, pemandu wisata menuntun kami ke luar dari gua, apalagi saat itu sudah banyak pengunjung lain yang antre di depan pintu masuk untuk melihat patung batu Putri Pukes.

Suasana gelap di dalam gua membuat saya sedikit pusing setiba di luar gua. Di luar ternyata sinar matahari yang pagi tadi bersembunyi di balik awan, telah memperlihatkan diri seutuhnya. Saya dan rombongan pun meninggalkan lokasi dengan membawa hikmah dan kenangan.

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita legenda Putri Pukes ini adalah bahwa amanah atau pesan orang tua harus dipatuhi, karena ada tuah, sakti, atau keramatnya. Kalau dilanggar, bisa fatal akibatnya. Selain itu, menjunjung tinggi adat istiadat adalah kewajiban bagi masyarakat, baik masyarakat setempat maupun pendatang, sebagaimana kata pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Pengembangan objek wisata merupakan salah satu cara pemerintah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan pengelolaan yang baik dan promosi yang gencar, saya optimis objek wisata Gua Putri Pukes ini akan bisa meningkatkan income masyarakat sekitar lokasi objek wisata.

Bukankah di tempat lain, misalnya di Suliki, Padang, legenda Malin Kundang menjadi batu mampu menyedot banyak wisatawan? Demikian pula legenda atau cerita rakyat yang populer di Jawa Tengah, yakni tentang Rara Jonggrang. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang Putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya. Nah, kalau Jawa Tengah punya Rara Jonggrang, Aceh justru punya Putri Pukes dalam varian dan alur cerita yang berbeda. Tapi sama-sama menarik. Nah, datanglah segera ke guanya untuk bertemu sang Putri.

 

 Artikel ini  pernah  tayang di https://Aceh.tribunnews.com tanggal 21/06/2019 dengan judul Legenda Putri Pukes, Bukti Tuahnya Pesan Orang Tua. 

 

Redupnya Celoteh Penjaja Pisang Sale di Lhokseumawe

 

OLEH ZULKIFLI, M.Kom, Dosen Universitas Almuslim 

Pada awal Lebaran Idulfitri yang lalu, tiba-tiba ke handphone saya masuk satu pesan WhatsApp (WA) dari teman kuliah semasa di Medan dulu. Isinya dia ucapkan selamat Idulfitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin. Kemudian, di akhir kalimatnya ia tambahi pesan: Kalau ke Medan jangan lupa oleh-oleh pisang sale Lhokseumawe ya?

Membaca pesan tersebut saya langsung terkenang pada nostalgia puluhan tahun lalu, karena sejak menyelesaikan kuliah kami jarang bertemu, padahal sebelumnya saya sering menghadiahinya pisang salai, orang Aceh menyebutkan pisang sale, lalu dengan penuh kegembiraan saya jawab permohonan teman saya tadi dengan “Insyaallah”.

Sahabat saya tadi teringat pada oleh-oleh pisang salai Lhokseumawe, tapi sebetulnya bukan produk Lhokseumawe, melainkan produk Lhok Nibong di Aceh Timur. Semasa kuliah dulu, saat saya kembali ke Medan sepulang liburan dari Aceh, sebagai oleh-oleh untuk teman sering saya bawa pisang salai yang saya beli di Lhokseumawe. Tapi sekali lagi, pisang yang diasapi ini diproduksi di Lhok Nibong, bukan di Lhokseumawe.

Pisang salai merupakan salah satu cemilan khas Aceh. Warnanya cokelat dan agak kehitaman karena diproses dengan cara dijemur setelah dikupas, lalu diasapi. Bahan baku untuk membuat cemilan ini adalah pisang, bercita rasa manis, legit, dan aman untuk konsumsi.

Setelah beberapa hari menerima pesan WA, sambil bersilaturahmi ke Bireuen, saya mencari pisang salai di seputaran terminal bus, karena dulu selain di Lhokseumawe, saya juga sering beli pisang salai di Bireuen. Setelah bertanya ke sejumlah kios, ternyata barangnya tak ada, karena semua kios tidak lagi menjual pisang salai. Yang banyak dijual justru keripik pisang, keripik ubi, atau keripik sukun made in Bireuen.

Kemudian saya coba ke tempat jualan keripik arah timur Kota Bireuen seputaran Stadion Cot Gapu, hasilnya sama. Lalu, ada warga yang mengarahkan saya ke tempat jualan keripik arah barat Kota Bireuen, eh, hasilnya juga sama. Tak ada lagi orang berjualan pisang salai di Kota Keripik dan Kota Satai ini.

Informasi dari seorang pedagang, sejak konflik bersenjata di Aceh tahun ‘90-an, sudah jarang ada pemasok pisang salai ke kedai mereka.

Saya juga teringat cerita seorang teman pada Ramadhan lalu yang mencari pisang salai di Bireuen untuk oleh-oleh tamunya dari Jakarta. Lelah dia cari tetapi pisang yang diinginkan tetap tak ada, sehingga terpaksa dia pesan ke Lhok Nibong, Aceh Timur, baru ada.

Saya pun akhirnya coba menghubungi seorang saudara di Lhokseumawe untuk mencari pisang salai, karena dulu kota di Lhokseumawe, khususnya di kawasan terminal, sangat banyak orang yang berjualan pisang salai. Ternyata di bekas kota petrodolar tersebut hanya dua orang yang penjual pisang salai, tapi tak jadi kami beli karena kualitasnya kurang legit. Stoknya juga agak terbatas, mungkin sisa produksi beberapa minggu lalu, sebelum Lebaran.

Padahal dulu, saat jaya-jayanya perusahaan gas, geliat terminal Kota Lhokseumawe begitu semarak dengan penjual pisang salai. Pokoknya, kalau kita naik bus malam, saat tiba di Terminal Lhokseumawe, walaupun pencahayaan lampu terminal agak remang-remang, tetapi kita langsung tahu bahwa kita sudah tiba di Terminal Lhokseumawe, karena di terminal itu begitu ramai dan semaraknya suara penjaja pisang salai.

Tanpa menghiraukan risiko, mereka menenteng pisang salai di tangan, berebut bergantungan naik ke bus. Pemandangan ini persis sama dengan penjaja makanan ringan kalau kita naik kereta api di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dan beberapa terminal di Pulau Jawa.

Sesampai di dalam bus, mereka sangat cekatan menjajakan cemilan khas Lhok Nibong itu kepada penumpang. Dari mulut mereka tak henti-hentinya keluar teriakan, “Sale...sale..sale...ambil satu dua ribu, kalau ambil tiga cukup lima ribe.”

Bahkan di dalam bus terkadang lebih banyak penjaja makanan daripada penumpang, pokoknya kegaduhan dalam bus, begitu semarak dengan banyaknya pedagang pisang sale menjajakan jualannya, kadang suara  tawaran penjual pisang sale beriringan dengan tangisan  bayi dalam pelukan ibunya, kalah jauh dengan suara penjaja ranub..ranub, telor puyuh dan aqua. 

Itulah sepenggal nostalgia yang pernah terjadi di Terminal Lhoksemawe tentang begitu semaraknya suasana dengan tingkah polah dan gaya para pedagang pisang salai.

Suasana seperti itu sebenarnya bukan hanya terjadi di Terminal Lhokseumawe, tetapi juga di Terminal Bireuen, Lhoksukon, dan Pantonlabu, tetapi di tiga terminal tersebut jumlah pedagangnya agak sedikit dibandingkan di Terminal Lhokseumawe.

Namun, nostalgia kesemarakan celoteh penjaja pisang salai di terminal, kini hanya tinggal kenangan, suasana masa lalu mulai redup, seiring dengan redupnya api gas alam LNG Arun serta hilangnya sentuhan embusan pembinaan bara api pengasapan di sentra produksi Lhok Nibong.

Awal meredupnya kiprah penjaja pisang salai di terminal bus–seperti saya singgung di awal tadi--dimulai pada saat Aceh dilanda konflik. Saat itu masyarakat mulai jarang memanfaatkan bus malam untuk perjalanan jauh. Bersamaan dengan kondisi itu pula pasokan pisang salai dari sentranya di Lhok Nibong dan Pantonlabu berkurang, hal ini karena kawasan sentra pisang salai merupakan kawasan yang eskalasi konfliknya tinggi. Kawasannya termasuk ke dalam kategori “daerah merah” konflik.

Padahal , era ‘80-an pisang salai terkenal sebagai salah satu oleh-oleh khas, baik bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh. Selain dijual dalam bentuk curah (dalam bentuk kiloan) pisang salai juga ada yang di-packing dengan desain kotak yang menarik dan dijual sampai ke Banda Aceh.

Sekarang malah sudah ada produksi pisang salai di Banda Aceh, tapi rasa dan legitnya tentu beda dengan produksi tradisional di Lhok Nibong, tempat awal mula produksi cemilan ini.

Selain alasan konflik, saya tak tahu persis kenapa oleh-oleh hasil produksi penduduk yang mendiami aliran Krueng Arakundo ini bisa menghilang di beberapa kawasan, seperti di Terminal Bireuen, Lhokseumawe, dan kota kecamatan lainnya? Kalau benar semata-mata konflik penyebabnya, mestinya pisang salai kini sudah banyak lagi diperdagangkan karena Aceh sudah damai sejak 14 tahun lalu

Nah, perlu ditelisik apakah penyebab langkanya pisang salai kini di pasaran karena bahan bakunya tak ada lagi ataupun tenaga ahlinya sudah uzur, sedangkan generasi muda tidak tertarik menekuni usaha ini? Atau bisa jadi biaya produksinya terlalu tinggi karena prosesnya memakan waktu lama sehingga tidak sesuai dengan omset penjualan?

Pemerintah, melalui instansi terkait, perlu melakukan pembinaan kontinyu terhadap home industry yang pernah tenar namanya ini sebagai penghasil oleh-oleh khas daerah. 

Sangat disayangkan di saat orang sedang semangatnya memproduksi, dan mentradisikan berbagai makanan tradisionil sebagai oleh-oleh  khas daerah,  disaat itu pula pisang sale Lhok Nibong  yang pernah mencuhu dan berasap keluar daerah  semakin sulit di dapat di pasaran.

Sudah selayaknya kita produksi kembali pisang salai dalam jumlah besar, karena jenis makanan ini sudah langka, susah didapat di pasar, sedangkan peminatnya saya yakin masih banyak. Oleh karenanya, warisan ini perlu dilestarikan, produsen pisang salai perlu diberdayakan, dan produksinya jangan sampai hilang di pasaran.

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sepenggal lagu yang pernah populer dinyanyikan anak-anak pada era ‘80-an dulu: Pisang sale, hai Cut, mangat-mangat. Saboh tapajoh meurasa troe pruet....

Akhirnya, selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin

 

Cerita ini pernah tanyang di https://aceh.tribunnews.com tanggal 17/06/2019/dengan judul Redupnya celoteh penjaja pisang salai di Lhokseumawe

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fkip Umuslim menangkan dua hibah dari Kemenristekdikti

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim Peusangan berhasil memenangkan dua hibah dari  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), hibah tersebut yaitu  bidang program bantuan pembelajaran berpusat mahasiswa atau Student Center Learning (SCL) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS).

Kepastian berhasilnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim memenangkan hibah tersebut disampaikan Dekan FKIP Universitas Almuslim M.Taufiq,MPd, Jumat (14/5), berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Nomor: B/358/B2.1/PB.01.00/2019 tanggal 27 Mei 2019 dan Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019. 

Menurut M.Taufiq tujuan program hibah SCL, untuk meningkatkan kualitas dosen dalam mengajar, nantinya mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, kreativitas, literasi digital, problem solving, dan self directed learning.

Pada program hibah SCL berbasis TIK melibatkan 18 dosen dari 9 program studi dalam lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim. 

Semua  dosen tersebut merupakan pengampu sembilan mata kuliah yang direncanakan pada program hibah tersebut. Kesembilan mata kuliah tersebut masih disampaikan melalui perkuliahan tatap muka, namun melalui program SCL berbasis TIK, mata kuliah tersebut akan disampaikan menggunakan pendekatan Blended Learning.

Nantinya dari program hibah ini  akan menghasilkan sembilan suntingan/kompilasi video aktivitas pembelajaran di kelas, implementasi mata kuliah pada sembilan  program studi yang memanfaatkan TIK menggunkan metode SCL dan nantinya akan adanya sembilan Artikel yang dipublikasikan pada jurnal Nasional.

M.Taufiq mengharapkan melalui hibah SCL berbasis TIK ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran dosen pada era Revolusi Industri 4.0. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi sosial seluruh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim, semoga kedepan  program hibah SCL berbasis TIK ini dapat diperluas pada program studi-program studi lain dalam lingkup Universtas Almuslim.

Menurut  M.Taufiq  bahwa yang menangkan hibah SCL berbasis TIK ini hanya 11 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, untuk pulau Sumatera hanya ada dua perguruan tinggi yang lolos, satu di Bengkulu dan satu Universitas Almuslim di Aceh, ini merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan ungkap M.Taufiq terharu.

Sebelumnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Fkip) Universitas Almuslim juga telah ditetapkan sebagai pemenang Hibah Penugasan Dosen di Sekolah (PDS), hal ini sesuai surat Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  Nomor B/464/B2.1/BP.01.01/2019 tanggal 15 Mei 2019.

Menurut Dekan Fkip program Hibah PDS sistemnya  mengirimkan dosen untuk melaksanakan pembelajran di sekolah serta mengimplementasikannya di perguruan tinggi, sedangkan Hibah SCL berbasis TIK lebih menekakann pada peningkatan kemampuan dosen dalam melaksanakan pembelajaran pada era revolusi 4.0. 

Kegiatan SCL berbasis TIK sejalan dengan implementasi E-Learning di Universitas Almuslim yang telah dimulai pada semester ganjil tahun akademik 2016/2017 sesuai dengan SK Rektor Nomor 776/SK/Umuslim/PG.2016 tanggal 24 Juni 2016, jelasnya.(HUMAS)

 

Subcategories

You are here: Home News and Events