Dokumentasi foto bersama Tim PkM Universitas Almuslim dengan pengungsi Desa Samuti Aman.
Bireuen – Universitas Almuslim kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap persoalan kemanusiaan melalui pelaksanaan Program Pendidikan Darurat bagi anak-anak pengungsi terdampak banjir bandang di Kabupaten Bireuen. Setelah sebelumnya menyasar Desa Raya Dagang dan Desa Blang Mee, kali ini Desa Samuti Aman menjadi lokasi ketiga implementasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Pendidikan Darurat Universitas Almuslim.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (22/12) tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Tim PkM Pendidikan Darurat Universitas Almuslim, Dr. Silvi Listia Dewi, M.Pd., bersama tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa lintas program studi. Kehadiran tim PkM disambut antusias oleh masyarakat setempat, khususnya anak-anak pengungsi yang selama beberapa waktu terakhir kehilangan akses terhadap layanan pendidikan formal.
Pelaksanaan pendidikan darurat ini dilatarbelakangi oleh dampak banjir bandang hidrometeorologi yang melanda wilayah Kabupaten Bireuen pada November lalu. Bencana tersebut menyebabkan ratusan rumah warga rusak bahkan hanyut, sementara sejumlah fasilitas umum, termasuk bangunan sekolah, terendam lumpur dan tidak dapat difungsikan. Akibatnya, proses belajar mengajar terhenti dan anak-anak terpaksa berada di pengungsian tanpa kepastian kelanjutan pendidikan.
Dalam situasi tersebut, kehadiran Universitas Almuslim melalui program pendidikan darurat menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya bagi pemenuhan hak dasar anak untuk tetap memperoleh pendidikan meskipun berada dalam kondisi darurat.
Pada kegiatan di Desa Samuti Aman, tim PkM menyerahkan berbagai perlengkapan pendukung pembelajaran, antara lain meja lipat, tas sekolah, alat tulis, sepatu boots, serta tikar besar yang digunakan sebagai alas belajar. Selain itu, tim juga menyediakan tenda belajar sebagai ruang alternatif pembelajaran, tablet sebagai sarana pendukung pembelajaran digital, serta genset guna menjamin ketersediaan listrik dan penerangan, terutama pada sore hingga malam hari.
Fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan adaptif terhadap keterbatasan ruang di lokasi pengungsian. Melalui pendekatan ini, anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar secara terstruktur, sekaligus merasakan suasana belajar yang menyenangkan meski berada dalam situasi krisis.
Program Pendidikan Darurat Universitas Almuslim merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana yang akan terus berlanjut hingga akhir Desember. Seluruh kegiatan ini didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Geuchik Desa Samuti Aman, Muhammad Wali, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian yang ditunjukkan oleh Universitas Almuslim. Ia menilai kehadiran tim PkM memberikan dampak positif, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi masyarakat desa secara keseluruhan.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan Universitas Almuslim. Anak-anak di desa kami sangat membutuhkan dukungan agar tetap bisa belajar meski dalam kondisi darurat. Kehadiran tim PkM menjadi penyemangat dan harapan baru bagi masyarakat,” ujar Muhammad Wali.
Sementara itu, dalam sambutannya kepada anak-anak pengungsi, Dr. Silvi Listia Dewi, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak fundamental setiap anak yang tidak boleh terhenti oleh kondisi apa pun, termasuk bencana alam.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa anak-anak tetap memiliki ruang belajar, meskipun berada dalam keterbatasan. Pendidikan darurat bukan semata tentang penyediaan fasilitas, tetapi juga tentang menjaga semangat belajar, membangun rasa percaya diri, dan menanamkan harapan akan masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Silvi menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan darurat yang diterapkan Universitas Almuslim tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikososial anak. Melalui aktivitas belajar yang interaktif dan menyenangkan, anak-anak diharapkan mampu mengurangi tekanan psikologis akibat bencana sekaligus kembali merasakan rutinitas positif dalam kehidupan mereka.
Program di Desa Samuti Aman menjadi kelanjutan dari kegiatan serupa yang telah dilaksanakan di Desa Raya Dagang dan Desa Blang Mee. Di kedua desa tersebut, tim PkM juga memberikan bantuan sarana belajar serta pendampingan intensif kepada anak-anak pengungsi. Konsistensi pelaksanaan program ini mencerminkan komitmen Universitas Almuslim dalam menjadikan pendidikan darurat sebagai pilar pemulihan pascabencana.
Dalam konteks Kabupaten Bireuen, pendidikan darurat memiliki peran strategis sebagai jembatan yang menjaga kesinambungan proses belajar anak-anak di tengah situasi krisis. Melalui program ini, Universitas Almuslim berharap anak-anak pengungsi tetap memiliki akses pendidikan yang layak, sekaligus menumbuhkan optimisme dan ketahanan diri dalam menghadapi masa sulit.
“Kami ingin anak-anak tetap merasa bahwa mereka tidak sendirian. Ada banyak pihak yang peduli dan siap mendukung mereka. Pendidikan adalah jembatan menuju masa depan, dan kami berkomitmen untuk menjaga jembatan itu tetap kokoh,” tutup Dr. Silvi.
Kegiatan Pendidikan Darurat di Desa Samuti Aman menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai agen kemanusiaan yang hadir langsung di tengah masyarakat. Dengan dukungan Kemdiktisaintek, Universitas Almuslim terus menyalakan harapan dan memastikan bahwa hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap terjaga, bahkan di tengah kondisi darurat.
