
Dokumentasi foto Tim PkM Universitas Almuslim melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis AR di Desa Samuti Aman, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen.
Bireuen – Desa Samuti Aman, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, menjadi ruang harapan baru bagi anak-anak pengungsian yang terdampak banjir bandang akhir tahun ini. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi darurat, Universitas Almuslim (Umuslim) menghadirkan inovasi pembelajaran digital berbasis Augmented Reality (AR) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada Selasa (30/12/2025). Kehadiran teknologi edukatif ini berhasil mengubah suasana cemas menjadi keceriaan, serta menumbuhkan kembali semangat belajar anak-anak di lokasi pengungsian.
Kegiatan pendidikan darurat tersebut dirancang tidak hanya sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari pemulihan psikososial anak. Salah satu aktivitas yang paling menarik perhatian adalah pembelajaran sains tentang metamorfosis kupu-kupu. Anak-anak pengungsian dibagikan lembaran gambar yang menggambarkan tahapan metamorfosis, mulai dari ulat, kepompong, hingga kupu-kupu dewasa. Dengan penuh antusias, mereka mewarnai setiap tahapan tersebut sesuai imajinasi masing-masing.
Hasil gambar yang telah diwarnai kemudian dipindai menggunakan perangkat digital dan diproyeksikan melalui teknologi AR. Seketika, gambar statis yang mereka buat berubah menjadi animasi interaktif yang tampak hidup di layar. Proses metamorfosis kupu-kupu ditampilkan secara visual dan dinamis, membuat anak-anak bersorak gembira menyaksikan karya mereka bergerak seolah nyata. Pembelajaran sains pun hadir sebagai pengalaman menyenangkan yang memadukan unsur bermain, kreativitas, dan teknologi.
Selain memberikan pengalaman belajar yang interaktif, materi metamorfosis kupu-kupu juga disampaikan dengan pendekatan nilai dan makna. Tim PkM Universitas Almuslim menjelaskan bahwa perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu merupakan simbol ketangguhan dan harapan. Anak-anak diajak memahami bahwa setiap makhluk harus melewati fase sulit sebelum mencapai keindahan dan kebebasan. Pesan ini disampaikan sebagai refleksi bahwa mereka pun mampu bangkit, tumbuh lebih kuat, dan tetap memiliki masa depan cerah meskipun sedang berada dalam situasi bencana.
Antusiasme anak-anak terlihat jelas dari ekspresi dan respons mereka selama kegiatan berlangsung. Salah seorang anak pengungsi mengungkapkan kegembiraannya saat melihat gambar yang ia warnai dapat bergerak melalui teknologi AR. “Kami senang sekali melihat kupu-kupu dari gambar kami bisa bergerak. Rasanya seperti nyata,” ujarnya dengan wajah penuh senyum.
Salah satu anggota tim PkM Universitas Almuslim menyampaikan bahwa penggunaan AR dalam pembelajaran membuat anak-anak lebih mudah memahami materi. “Belajar dengan AR membuat anak-anak merasa bahwa pengetahuan bukan sekadar hafalan, melainkan pengalaman yang bisa mereka lihat dan rasakan,” ungkapnya.
Selain pembelajaran berbasis teknologi digital, kegiatan pendidikan darurat di Desa Samuti Aman juga menekankan pemahaman tentang hak dan kewajiban anak. Dalam suasana pengungsian, anak-anak diajak menyadari bahwa kondisi darurat tidak menghilangkan hak mereka untuk belajar, bermain, dan merasa aman. Melalui cerita bergambar dan permainan peran, tim PkM mengenalkan konsep hak anak secara sederhana, seperti hak memperoleh kasih sayang, hak untuk berpendapat, serta hak mendapatkan pendidikan.
Di sisi lain, anak-anak juga diberikan pemahaman mengenai kewajiban, antara lain menghormati orang tua, saling membantu antar sesama, dan menjaga kebersihan lingkungan. Aspek kebersihan menjadi perhatian khusus mengingat kondisi pengungsian yang rawan terhadap penyebaran penyakit. Tim PkM menekankan bahwa menjaga kebersihan merupakan langkah penting yang tidak boleh diabaikan meskipun berada dalam keterbatasan fasilitas. Anak-anak diajak memahami bahwa lingkungan yang bersih adalah benteng awal untuk menjaga kesehatan bersama.
Kegiatan pendidikan darurat tersebut juga diperkaya dengan pembelajaran keagamaan. Anak-anak mengikuti sesi mengaji yang difokuskan pada pemahaman hukum qalqalah serta cara membaca huruf-huruf qalqalah dengan benar. Pembelajaran ini dipandu langsung oleh Muhammad Haikal. Selain meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, kegiatan mengaji juga berperan dalam menumbuhkan ketenangan batin dan memperkuat spiritualitas anak-anak di tengah situasi sulit.
Seluruh rangkaian kegiatan pendidikan darurat ini dilaksanakan oleh tim PkM Universitas Almuslim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Tim dosen yang terlibat antara lain Dr. Silvi Listia Dewi, S.Pd., M.Pd., Dr. Sari Rizki, M.Psi., Misnar, MA, dan Rahma, M.Pd. Mereka didampingi oleh mahasiswa Universitas Almuslim, yakni Luqmanul Hakim, Dela Dwi Agustin, Haikal Al Munzammil, Muhammad Haikal, Rezka Fitrah, Ahmad Ridha Firnanda, dan Irfani.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa tersebut menciptakan suasana belajar yang hangat dan humanis. Anak-anak tidak hanya menerima materi pembelajaran, tetapi juga merasakan perhatian, pendampingan, dan interaksi yang penuh empati. Kehadiran mahasiswa sebagai pendamping turut memperkuat kedekatan emosional dengan anak-anak pengungsian.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang mendukung pelaksanaan pendidikan darurat berbasis inovasi digital. Dukungan hibah tersebut memungkinkan Universitas Almuslim menghadirkan sarana pembelajaran yang sederhana namun bermakna, sehingga anak-anak tetap dapat belajar secara kreatif meskipun berada dalam kondisi darurat.
Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., dalam keterangannya menegaskan bahwa pendidikan darurat berbasis digital merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan kualitas pembelajaran bagi anak-anak terdampak bencana. Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti AR tidak hanya berfungsi sebagai media edukatif, tetapi juga mampu membangkitkan motivasi, kreativitas, dan rasa percaya diri anak.
“Teknologi seperti AR bukan hanya sarana edukatif, tetapi juga media pembelajaran yang mampu membangkitkan motivasi dan kreativitas anak-anak. Dengan dukungan hibah Kemdiktisaintek, Universitas Almuslim berkomitmen menghadirkan pendidikan darurat yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada masa depan,” ujar Dr. Marwan.
Melalui pendekatan pembelajaran digital, anak-anak pengungsian di Desa Samuti Aman kini memiliki ruang belajar yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak lagi hanya menjadi pendengar pasif, tetapi aktif berinteraksi dengan teknologi, bermain peran, dan mengekspresikan diri melalui gambar dan cerita. Keceriaan yang terpancar dari wajah mereka menjadi bukti bahwa pendidikan darurat bukan sekadar kegiatan pengisi waktu, melainkan bagian penting dari proses pemulihan psikologis dan sosial pascabencana.
Menutup kegiatan tersebut, Dr. Silvi Listia Dewi menegaskan pentingnya pendidikan darurat yang mampu membangkitkan semangat anak-anak. “Pendidikan darurat harus mampu membangkitkan semangat. Anak-anak yang terbiasa belajar dalam kondisi sulit akan tumbuh lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan,” ujarnya.
