Universitas Almuslim Pasang PLTS Hibrid, Pulihkan Listrik Pascabanjir di Bireuen

BIREUEN — Pascabanjir hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 menyebabkan sejumlah wilayah terisolasi dan kehilangan akses listrik serta komunikasi. Salah satunya adalah Dusun Bivak, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli. Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Almuslim melalui tim Pengabdian memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid untuk membantu pemulihan warga.(14/01/26)


Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat tanggap bencana yang dilaksanakan langsung di lapangan yang diketua Prof. Halus Satriawan, SP., M.Si dengan anggota tim Dr. imam Muslem, M.Kom, Dr. Muhammad Yanis, MT, Khairunnisak, M.Pd, serta Ir. Richard Mareno, MT bersama relawan Meutuah Project dan masyarakat setempat. Sebelum pemasangan, tim terlebih dahulu melakukan koordinasi lintas pihak guna memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan riil warga.


Menurut Halus Satriawan inisiatif melakukan pengabdian di desa tersebut setelah melihat kondisi masyarakat pasca banjir, mereka sangat terisolir dan pada malam hari sangat mencekam, cerita Prof. Dr. Halus Satriawan, SP. Dosen FT Umuslim sekaligus Dekan Fakultas Teknik, Dr. Muhammad Yanis, mengatakan bahwa komunikasi intensif dilakukan dengan Meutuah Project, relawan yang lebih dulu menembus wilayah terisolasi. Langkah ini penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.


“Selama beberapa hari setelah bencana, wilayah ini sama sekali tidak mendapatkan aliran listrik. Masyarakat kekurangan penerangan, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar listrik, dan kehilangan akses komunikasi. Karena itu, kami memasang solar panel sebagai sumber energi mandiri sekaligus mengaktifkan jaringan Starlink yang sebelumnya merupakan bantuan donatur dan ditempatkan di meunasah,” ujarnya.


Sementara itu, dosen Fikom  yang terlibat langsung dalam perakitan sistem, Dr. Imam Muslim, menjelaskan bahwa PLTS yang dipasang memiliki kapasitas sekitar 3.000 Watt peak (Wp). Sistem ini dirancang untuk menopang kebutuhan listrik fasilitas bersama warga.


“Energi dari panel surya ini berfungsi menjaga stabilitas listrik di meunasah dan dapur umum. Saat listrik utama padam, sistem ini menjadi cadangan yang sangat vital bagi warga,” jelasnya.
Selain menyediakan penerangan, keberadaan listrik mandiri dan jaringan komunikasi turut mendukung aktivitas sosial serta koordinasi warga selama masa pemulihan pascabencana.


Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, menyampaikan bahwa program ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak bencana secara cepat dan berkelanjutan.


“Perguruan tinggi tidak boleh berjarak dengan masyarakat. Melalui pengabdian ini, Universitas Almuslim berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar hadir sebagai solusi, terutama dalam situasi krisis,” tegasnya.


Pemasangan PLTS hibrid ini diharapkan tidak hanya membantu pemulihan darurat, tetapi juga menjadi langkah awal menuju ketahanan energi masyarakat di wilayah rawan bencana.(Muzammil)