Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Bagikan Nasi Sahur untuk Pengungsi Banjir di Depan Kantor Bupati Bireuen

Salah satu foto pengungsi yang menerima nasi sahur dari dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim.

Bireuen – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh kalangan akademisi di Kabupaten Bireuen. Di tengah suasana dini hari bulan suci Ramadan, seorang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Syarifah Maihani, S.E., M.M, menyalurkan sedekah berupa nasi sahur kepada warga yang menjadi korban banjir dan saat ini mengungsi di tenda darurat di depan Kantor Bupati Bireuen.

Kegiatan berbagi tersebut berlangsung secara sederhana namun sarat makna. Nasi sahur dibagikan langsung kepada para pengungsi yang telah beberapa hari bertahan di lokasi tersebut setelah rumah mereka terdampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Syarifah Maihani, S.E., M.M,

Para pengungsi yang menerima bantuan terlihat menyambut dengan penuh rasa syukur. Bagi mereka, bantuan tersebut sangat berarti, terutama di tengah kondisi sulit akibat bencana yang memaksa mereka meninggalkan rumah dan menjalani kehidupan sementara di tenda pengungsian.

Syarifah Maihani mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperbanyak amal kebaikan. Menurutnya, berbagi kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan merupakan salah satu nilai penting yang diajarkan dalam bulan penuh berkah ini.

“Ini hanya bentuk kepedulian kecil. Tidak ada yang istimewa, hanya ingin berbagi sedikit rezeki untuk saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujarnya.

Ia juga berharap bantuan sederhana tersebut dapat memberikan manfaat bagi para pengungsi, terutama untuk memenuhi kebutuhan sahur mereka saat menjalankan ibadah puasa.

Aksi sosial yang dilakukan oleh Syarifah Maihani ini pun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk turut berbagi dan saling membantu, khususnya di bulan Ramadan yang dikenal sebagai momentum memperkuat nilai-nilai solidaritas, empati, dan kebersamaan.

Melalui langkah-langkah kecil namun penuh ketulusan seperti ini, semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah masyarakat diharapkan terus tumbuh, sehingga para korban bencana dapat merasakan dukungan moral dan bantuan nyata dari berbagai kalangan.