
Bireuen – 24 Juni 2026, Universitas Almuslim kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sarasehan Karya Sastra Klasik Aceh yang merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula MA Jangka Universitas Almuslim dan dihadiri akademisi, budayawan, sastrawan, mahasiswa, serta pegiat seni dari berbagai daerah.
Sarasehan menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai eksistensi sastra klasik Aceh di tengah perkembangan zaman. Berbagai pandangan disampaikan untuk memperkuat pemahaman bahwa karya sastra klasik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber nilai, pengetahuan, dan identitas masyarakat Aceh yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

Diskusi dipandu oleh Muhammad Deputra sebagai moderator dengan menghadirkan narasumber yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan sastra dan kebudayaan Aceh, di antaranya Tengku Afif dan Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Bireuen, Syeh Mulyadi.
Dalam pemaparannya, Tengku Afif menjelaskan bahwa sastra klasik Aceh tumbuh dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Aceh dan berkembang melalui tradisi tulis maupun lisan. Menurutnya, hikayat, surat-surat kerajaan, serta berbagai bentuk sastra lainnya menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat Aceh pada masa lampau sekaligus menjadi sumber pembelajaran yang tetap relevan hingga saat ini.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang dinilai dapat menjadi alat bantu dalam proses kreatif, namun tidak dapat menggantikan kemampuan berpikir, pengalaman, serta nilai-nilai budaya yang dimiliki manusia.
Sementara itu, Syeh Mulyadi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan. Menurutnya, keberadaan ruang-ruang diskusi seperti sarasehan merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem sastra dan kebudayaan Aceh.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Almuslim menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini karena sejalan dengan upaya kampus dalam mendukung pelestarian budaya lokal melalui kegiatan akademik, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa dalam forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai kekayaan sastra dan sejarah kebudayaan Aceh.

Melalui penyelenggaraan Sarasehan Karya Sastra Klasik Aceh, Universitas Almuslim berharap lahir berbagai gagasan dan kolaborasi yang mampu memperkuat pelestarian sastra daerah sekaligus meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap khazanah budaya Aceh sebagai bagian dari identitas bangsa.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 yang mempertemukan penyair, budayawan, dan akademisi dari berbagai wilayah untuk mempererat jejaring sastra, memperkaya khazanah kebudayaan, serta memperkuat posisi sastra sebagai media pembangun peradaban.*Humas_Umuslim
