Dekan FKIP Umuslim Paparkan Kunci Mendidik Anak Melalui Seminar Parenting di Kuta Baro

Bireuen – Dekan FKIP Universitas Almuslim, Dr. Sari Rizki, M.Psi, mengajak para orang tua untuk membangun generasi yang unggul dengan menerapkan pola asuh yang penuh cinta, keteladanan, dan komunikasi yang sehat sejak usia dini. Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Seminar Parenting yang digelar TP-PKK Gampong Kuta Baro di Meunasah Gampong Kuta Baro, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Rabu (8/7/2026).

Mengangkat tema “Mendidik dengan Cinta, Membimbing dengan Keteladanan, Membangun Generasi Hebat dari Rumah”, seminar tersebut diikuti oleh puluhan ibu-ibu dan orang tua di Gampong Kuta Baro. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

Dalam paparannya, Dr. Sari Rizki yang juga dikenal sebagai Trainer Parenting dan Koordinator APPAUDI Wilayah Kabupaten Bireuen menegaskan bahwa pendidikan pertama dan paling berpengaruh bagi seorang anak bukanlah di sekolah, melainkan di lingkungan keluarga.

Menurutnya, rumah merupakan tempat pertama anak belajar mengenal kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, etika, serta cara berinteraksi dengan lingkungan. Oleh sebab itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan sekaligus pendamping terbaik bagi tumbuh kembang anak.

“Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi lebih banyak dari apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam bersikap, bertutur kata, maupun mengambil keputusan di hadapan anak,” ujarnya.

Dr. Sari menjelaskan bahwa masa golden age, yakni sejak anak berusia 0 hingga 8 tahun, merupakan periode yang sangat menentukan bagi perkembangan otak dan pembentukan karakter. Pada fase tersebut, kemampuan anak dalam menyerap informasi berkembang sangat pesat sehingga pengalaman yang diberikan orang tua akan membentuk pola pikir, kebiasaan, serta perilaku anak hingga dewasa.

Ia menekankan bahwa keberhasilan mendidik anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan anak memiliki karakter yang baik, empati, tanggung jawab, serta kecerdasan emosional yang kuat.

“Belajar parenting sesungguhnya adalah belajar membangun kebiasaan. Anak akan tumbuh sesuai dengan lingkungan yang setiap hari mereka rasakan. Jika rumah dipenuhi kasih sayang, komunikasi yang baik, dan keteladanan, maka nilai-nilai itu pula yang akan tertanam dalam diri anak,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sari juga memperkenalkan konsep lima bahasa kasih (love language) yang dapat diterapkan orang tua dalam mendidik anak agar hubungan emosional dalam keluarga semakin erat.

Love language pertama adalah kata-kata afirmasi, yakni memberikan pujian, penghargaan, dan kalimat positif kepada anak. Menurutnya, apresiasi sederhana mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membuat anak merasa dihargai.

Selanjutnya adalah sentuhan fisik, seperti memeluk, merangkul, mengusap kepala, atau menggenggam tangan anak. Sentuhan yang diberikan dengan penuh kasih diyakini mampu memberikan rasa aman, mengurangi kecemasan, dan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Bahasa kasih ketiga adalah waktu berkualitas, yaitu menyediakan waktu khusus untuk bermain, berdiskusi, atau sekadar mendengarkan cerita anak tanpa terganggu oleh telepon genggam maupun pekerjaan. Kehadiran orang tua secara utuh dinilai jauh lebih berharga dibandingkan hadiah yang bernilai tinggi.

Kemudian, menerima hadiah juga menjadi salah satu bentuk bahasa kasih. Namun, Dr. Sari menegaskan bahwa hadiah bukan diukur dari harga atau kemewahannya, melainkan sebagai simbol perhatian dan ungkapan kasih sayang kepada anak.

Sementara itu, bahasa kasih kelima adalah tindakan pelayanan, yaitu menunjukkan cinta melalui tindakan nyata seperti membantu anak menyelesaikan kesulitan, menyiapkan makanan kesukaannya, atau memberikan bantuan ketika mereka membutuhkan.

Menurutnya, setiap anak memiliki bahasa kasih yang dominan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengenali kebutuhan emosional masing-masing anak agar komunikasi yang terbangun menjadi lebih efektif dan hubungan dalam keluarga semakin harmonis.

Selain membahas pola asuh, Dr. Sari juga menyoroti tantangan orang tua di era digital. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan risiko apabila anak menggunakan gawai tanpa pendampingan.

Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk tidak hanya membatasi penggunaan perangkat digital, tetapi juga aktif mendampingi anak, membangun komunikasi terbuka, serta menciptakan aktivitas bersama di rumah agar anak tidak bergantung pada gawai sebagai sumber hiburan utama.

Ia menilai pengasuhan yang efektif bukan berarti selalu memenuhi semua keinginan anak, melainkan mampu menghadirkan keseimbangan antara kasih sayang, disiplin, dan keteladanan.

“Anak membutuhkan cinta, tetapi mereka juga membutuhkan aturan. Ketika keduanya berjalan seimbang, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat,” katanya.

Seminar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang dipenuhi berbagai pertanyaan dari peserta. Para orang tua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam mendidik anak, mulai dari penggunaan gawai, membangun kebiasaan positif, hingga cara berkomunikasi yang efektif sesuai usia anak.

Kegiatan yang diselenggarakan di bawah binaan TP-PKK Gampong Kuta Baro tersebut dibuka oleh Geuchik Gampong Kuta Baro, Junaidi. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi terselenggaranya seminar tersebut sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pola asuh yang tepat dalam mencetak generasi yang berkualitas.

Turut hadir dalam kegiatan itu perwakilan TP-PKK Kecamatan Kuala, Sekretaris Gampong Kuta Baro Kasmiati, Bendahara Gampong Kuta Baro, Tgk. Imum Gampong Kuta Baro Zakaria yang memimpin doa, jajaran pengurus TP-PKK Gampong Kuta Baro, serta para ibu yang mengikuti seminar dengan penuh antusias.

Melalui seminar ini, Dr. Sari Rizki berharap semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa membangun generasi hebat tidak dimulai dari fasilitas yang mewah, melainkan dari rumah yang dipenuhi kasih sayang, komunikasi yang baik, serta keteladanan yang diberikan setiap hari oleh kedua orang tua.■Humas_Umuslim