
Banda Aceh – Rektor Universitas Almuslim, Dr. Marwan, M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan Workshop Penyusunan Rencana Kerja Sama Perguruan Tinggi melalui Kemitraan Luar Negeri yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIII di Aula Lantai 5 Gedung LLDIKTI Wilayah XIII, Banda Aceh, Selasa (11/8/2026).
Workshop tersebut merupakan kegiatan yang ditujukan kepada perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah XIII sebagai upaya mendorong penguatan perencanaan dan pengembangan kemitraan luar negeri. Universitas Almuslim menjadi salah satu perguruan tinggi yang diundang dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan tersebut, Rektor Universitas Almuslim menyampaikan materi bertajuk “Strategi Universitas Almuslim dalam membangun Kerja Sama Internasional”. Berdasarkan agenda resmi kegiatan, Dr. Marwan mendapatkan sesi khusus untuk berbagi pengalaman dan strategi yang selama ini dikembangkan Universitas Almuslim dalam membangun dan mengimplementasikan jejaring kerja sama internasional.
Dalam pemaparannya, Dr. Marwan menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi dimulai dari dalam kampus terlebih dahulu. “Sebelum kampus menuju global, kita harus membangun internasionalisasi di internal kampus terlebih dahulu. Seluruh unsur kampus harus memiliki pemahaman, kesiapan, dan semangat yang sama untuk menuju internasionalisasi,” ungkap Dr. Marwan.
Menurutnya, internasionalisasi internal menjadi fondasi penting agar kerja sama luar negeri tidak berhenti pada hubungan kelembagaan secara formal. Perguruan tinggi perlu menyiapkan sumber daya manusia, meningkatkan kemampuan komunikasi internasional, membangun budaya kolaborasi, serta mendorong fakultas, program studi, dosen dan mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program internasional.

Kerja Sama Internasional Tidak Boleh Berhenti pada MoU
Rektor Universitas Almuslim juga menekankan bahwa keberhasilan kerja sama internasional tidak dapat diukur hanya dari banyaknya Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani. Bagi Universitas Almuslim, penandatanganan MoU merupakan pintu masuk untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret. Karena itu, setiap kerja sama perlu ditindaklanjuti melalui MoA, Implementation Arrangement (IA), serta berbagai program nyata yang melibatkan fakultas, program studi, dosen, mahasiswa, mitra internasional, dan masyarakat.
“MoU bukanlah tujuan akhir dari sebuah kerja sama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kesepakatan tersebut dapat diimplementasikan menjadi kegiatan nyata, memberikan manfaat bagi mahasiswa dan dosen, serta menghadirkan dampak bagi masyarakat,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Universitas Almuslim dalam membangun jejaring internasional. Kerja sama diarahkan tidak hanya pada aktivitas seremonial, tetapi dikembangkan menuju berbagai bentuk implementasi yang dapat memperkuat kapasitas institusi, memberikan pengalaman internasional kepada sivitas akademika, sekaligus memperluas kontribusi universitas kepada masyarakat.

Dari Membangun Jaringan hingga Menghasilkan Dampak
Dr. Marwan turut menjelaskan tahapan yang selama ini dikembangkan Universitas Almuslim dalam membangun kerja sama internasional. Proses tersebut dimulai dengan membangun komunikasi dan kepercayaan dengan calon mitra internasional, mengidentifikasi bidang yang dapat dikerjasamakan, membangun kesepakatan kelembagaan, kemudian menerjemahkannya ke dalam program-program yang dapat diimplementasikan.
Universitas juga mendorong keterlibatan fakultas dan program studi agar hubungan internasional tidak hanya terpusat pada tingkat universitas. Dengan demikian, kerja sama dapat berkembang menjadi aktivitas akademik maupun nonakademik yang lebih luas, termasuk pertukaran mahasiswa, mobilitas akademik, program internasional, pengabdian kepada masyarakat, hingga kegiatan sosial dan kemanusiaan bersama mitra luar negeri.
Hal tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Universitas Almuslim untuk menjalankan internasionalisasi yang tidak sekadar berorientasi pada reputasi institusi, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Didampingi Ketua Kantor Urusan Internasional
Dalam kegiatan tersebut, Rektor Universitas Almuslim turut didampingi oleh Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Almuslim, Risky Novialdi, S.IP., M.HI.
Risky Novialdi menjelaskan bahwa strategi internasionalisasi Universitas Almuslim selama ini diarahkan pada prinsip “from agreement to implementation, and from implementation to impact.” Dengan pendekatan tersebut, kerja sama internasional tidak berhenti setelah dokumen ditandatangani, tetapi harus terus dikawal hingga menghasilkan program bersama.
Menurutnya, Kantor Urusan Internasional berperan sebagai penghubung antara pimpinan universitas, fakultas dan program studi dengan mitra internasional, mulai dari proses komunikasi awal, penjajakan kerja sama, penyusunan dokumen, hingga koordinasi implementasi dan evaluasi program.
“Target kita bukan sekadar menambah jumlah mitra internasional. Yang ingin dibangun adalah mitra yang aktif, program yang berjalan, mahasiswa dan dosen yang memperoleh manfaat, serta kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Risky.

Umuslim Dorong Internasionalisasi yang Berdampak
Kehadiran Rektor Universitas Almuslim sebagai narasumber dalam workshop tersebut menjadi kesempatan untuk membagikan pengalaman institusi dalam mengembangkan kerja sama luar negeri sekaligus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi lain di Aceh.
Workshop LLDIKTI Wilayah XIII sendiri menghadirkan sejumlah materi yang berkaitan dengan penguatan daya saing global, mulai dari kesiapan talenta Indonesia memasuki pasar kerja internasional, penguatan generasi muda Aceh berdaya saing global, penguatan kemitraan dan kompetensi lulusan, hingga strategi kerja sama internasional Universitas Almuslim.
Melalui semangat tersebut, Universitas Almuslim terus mendorong transformasi dari kampus yang memiliki kerja sama internasional menjadi kampus yang mampu mengimplementasikan kerja sama internasional secara berkelanjutan dan berdampak.
Bagi Universitas Almuslim, internasionalisasi bukan hanya tentang membawa nama universitas ke tingkat global, tetapi juga tentang bagaimana jejaring global dapat memberikan manfaat nyata di tingkat lokal—bagi mahasiswa, dosen, institusi, dan terutama masyarakat.■Humas_Umuslim
