Kepala Pusat Bahasa Universitas Almuslim Bekali Agam Inong Bireuen Wawasan Pariwisata Halal dan Bahasa Inggris

BIREUEN – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Bireuen terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata melalui pembekalan bagi para finalis Agam Inong Bireuen. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya mampu mempromosikan destinasi wisata, tetapi juga menjadi representasi Kabupaten Bireuen yang profesional, komunikatif, dan berdaya saing di era pariwisata global.


Kegiatan tersebut diketuai oleh Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disporapar Kabupaten Bireuen, Ira Safira, S.E., M.M.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Agam Inong memiliki posisi strategis sebagai wajah Kabupaten Bireuen di hadapan wisatawan. Oleh karena itu, para finalis perlu dibekali tidak hanya dengan pengetahuan mengenai potensi wisata daerah, tetapi juga kemampuan komunikasi, etika pelayanan, dan pemahaman terhadap konsep pariwisata halal yang menjadi identitas Aceh.


Sebagai narasumber, Disporapar menghadirkan Misnar, M.A., Kepala Pusat Bahasa Universitas Almuslim sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Melalui materi bertajuk “Pariwisata Halal Aceh: Dari Regulasi Menuju Kemitraan Strategis”, ia mengajak peserta memahami konsep pariwisata halal secara komprehensif sekaligus meluruskan berbagai persepsi yang masih berkembang di masyarakat.


Dalam pemaparannya, Misnar menjelaskan bahwa pariwisata halal bukanlah wisata religi semata maupun wisata yang hanya diperuntukkan bagi wisatawan Muslim. Menurutnya, pariwisata halal merupakan sistem pelayanan wisata yang menyediakan fasilitas, layanan, dan pengalaman perjalanan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam tanpa mengurangi kenyamanan seluruh wisatawan. Konsep tersebut dapat diterapkan pada berbagai jenis destinasi, mulai dari wisata alam, budaya, sejarah, bahari, hingga wisata kuliner.


“Pariwisata halal bukan membatasi wisatawan, tetapi memastikan setiap pengunjung memperoleh layanan yang nyaman, aman, dan menghargai nilai-nilai lokal,” ujar Misnar.


Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang menganggap wisata halal identik dengan kunjungan ke masjid atau hanya ditujukan bagi wisatawan Muslim. Padahal, esensi wisata halal adalah memberikan rasa nyaman kepada seluruh wisatawan melalui penyediaan layanan halal, fasilitas ibadah, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Aceh.


Selain membahas konsep dasar pariwisata halal, Misnar juga menekankan pentingnya kemitraan dalam pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah bertugas menyediakan regulasi dan infrastruktur, industri menghadirkan layanan wisata yang berkualitas, sedangkan perguruan tinggi berkontribusi melalui pendidikan, pelatihan, penelitian, dan inovasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Sinergi tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun destinasi wisata halal yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan daya saing daerah.


Pembekalan juga menyoroti pentingnya pelayanan prima (hospitality) sebagai salah satu faktor penentu kepuasan wisatawan. Misnar mengingatkan bahwa setiap interaksi yang dilakukan Agam Inong akan membentuk citra Kabupaten Bireuen di mata pengunjung. Oleh karena itu, sikap ramah, sopan, responsif, jujur, serta kemampuan menghargai perbedaan budaya menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap duta wisata.

Pelayanan yang baik tidak hanya menciptakan pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung dan merekomendasikan Bireuen kepada orang lain.


Materi berikutnya membahas pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional di sektor pariwisata. Dalam era globalisasi, kemampuan berbahasa Inggris tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah, melainkan sebagai kebutuhan bagi seorang duta wisata. Dengan kemampuan tersebut, Agam Inong diharapkan mampu memperkenalkan destinasi wisata, menjelaskan budaya lokal, memberikan informasi mengenai fasilitas halal, serta berkomunikasi secara percaya diri dengan wisatawan mancanegara.

Peserta juga berkesempatan mempraktikkan berbagai ungkapan sederhana dalam bahasa Inggris yang umum digunakan saat menyambut, memberikan informasi, menawarkan bantuan, hingga mengarahkan wisatawan selama berada di Bireuen.


Suasana pembekalan berlangsung interaktif. Para finalis tampak antusias berdiskusi mengenai tantangan pengembangan pariwisata halal di Aceh, strategi membangun citra positif destinasi wisata, serta peran generasi muda dalam mempromosikan Bireuen melalui komunikasi yang efektif dan pemanfaatan media digital.


Melalui kegiatan ini, Disporapar Kabupaten Bireuen berharap para Agam Inong tidak hanya menjadi ikon promosi wisata, tetapi juga mampu berperan sebagai duta budaya, duta pelayanan, dan duta pariwisata halal yang memiliki wawasan luas, kemampuan komunikasi yang baik, serta komitmen untuk memperkenalkan potensi Kabupaten Bireuen kepada masyarakat nasional maupun internasional.

Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Universitas Almuslim ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia pariwisata sekaligus mendukung terwujudnya Bireuen sebagai destinasi wisata halal yang ramah, berkualitas, dan berdaya saing.■Humas_Umuslim