DOSEN UMUSLIM SOROTI DINAMIKA INTERAKSI SISWA PEKERJA SMAN 1 PEUSANGAN

Beban Ganda dan Stigma Sosial: Studi Kasus Perundungan Pada Siswa Pekerja di SMA Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen, Indonesia

BIREUEN,  5  Agustus 2026 _ Tim akademisi dari Universitas Almuslim (Umuslim) Aceh yang terdiri atas Zahriyanti, Musrizal, Ikhwani, dan M. Ikbal menyoroti secara mendalam potret buram dinamika interaksi siswa pekerja di SMA Negeri 1 Peusangan, Bireuen. Sorotan tersebut dituangkan melalui hasil kajian ilmiah terbaru dari empat dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan yang dipublikasikan dalam jurnal Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan.


Dalam penelitian bertajuk “Double Burden and Social Stigma: A Case Study of Bullying Among Working Students at State Senior High School 1 Peusangan, Bireuen, Indonesia” tersebut, tim ini membedah realitas sosial yang dihadapi para pelajar kurang mampu saat berinteraksi di lingkungan sekolah.


Melalui pendekatan riset kualitatif di SMAN 1 Peusangan,  akademisi dari Universitas Almuslim menemukan bahwa dinamika interaksi siswa pekerja dengan lingkungan sekolahnya diwarnai oleh tekanan berat. Siswa yang harus melakoni pekerjaan fisik demi membantu ekonomi keluarga kerap menerima perlakuan diskriminatif dari rekan sebayanya.


“Dinamika interaksi siswa pekerja di SMAN 1 Peusangan menunjukkan kerentanan tinggi terhadap tindakan perundungan (bullying), mulai dari penghinaan verbal, intimidasi fisik, hingga pengucilan sosial,” jelas tim akademisi Aceh dalam laporan temuan mereka.


Lebih lanjut, Zahriyanti dan rekan-rekan mengungkap bahwa perlakuan tidak menyenangkan dalam interaksi sehari-hari tersebut acap kali dinormalisasi sebagai “candaan antar-teman biasa”. Pandangan ini membuat kepekaan pihak sekolah menjadi tumpul dan memperlambat respons penanganan terhadap korban.


Tim akademisi menegaskan, potret buram interaksi sosial yang dialami siswa pekerja di Peusangan bukan sekadar masalah pertemanan atau konflik individu semata. Hal ini merupakan cerminan dari ketimpangan sosial-ekonomi yang lebih luas dan masuk ke dalam ekosistem pendidikan lokal.


Atas temuan ini, tim akademisi mendesak pihak sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten Bireuen untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif. Langkah konkret diperlukan untuk membangun empati di antara para pelajar agar menciptakan lingkungan interaksi yang aman, adil, dan kondusif bagi seluruh siswa tanpa memandang latar belakang ekonomi. ■Humas_Umuslim